Benteng Keselamatan Umat Islam

Benteng Keselamatan Umat Islam

Oleh Abdullah Madura

Di antara semua yang ditakutkan manusia sepanjang sejarahnya — kelaparan, penyakit, perang, kematian — ada satu ketakutan yang melampaui semua itu. Sesuatu yang begitu besar, begitu nyata dalam keyakinan seorang mukmin, sehingga ia menjadi ukuran tertinggi dari keberuntungan dan kemalangan seseorang.

Neraka.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan kepada kita bahwa ada satu amalan yang — jika dilakukan dengan benar, dengan tulus, karena Allah semata — akan menjauhkan kita dari neraka itu dengan jarak yang tidak bisa kita bayangkan:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

"Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun."

(HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu)

Satu hari. Dua puluh empat jam menahan lapar, menahan dahaga, menahan syahwat. Dan balasannya adalah jarak tujuh puluh tahun dari neraka.

Jarak yang tidak bisa diukur dengan satuan dunia mana pun. Jarak yang hanya bisa dipahami dengan satu cara: dengan menyadari betapa Maha Murah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mau sedikit saja bersabar untuk-Nya.

Fi Sabilillah — Lebih Luas dari yang Kita Kira

Bukan Hanya di Medan Perang

Frasa fi sabilillahفِي سَبِيلِ اللَّه — di jalan Allah — sering dipersempit maknanya dalam benak banyak orang. Sebagian memahaminya secara khusus sebagai konteks jihad di medan perang — puasa yang dilakukan oleh seorang tentara di sela-sela pertempuran. Dan memang ada ulama yang memegang penafsiran ini.

Tapi banyak ulama yang lebih besar memberikan pemaknaan yang jauh lebih luas. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

الصَّوْمُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَشْمَلُ كُلَّ صِيَامٍ أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّهِ وَالتَّقَرُّبُ إِلَيْهِ، سَوَاءٌ كَانَ فَرِيضَةً أَوْ نَافِلَةً

"Puasa di jalan Allah mencakup setiap puasa yang ditujukan untuk wajah Allah dan pendekatan diri kepada-Nya, baik puasa wajib maupun sunnah."

Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim

Artinya, setiap kali kita berpuasa — Ramadhan, Senin-Kamis, ayyamul bidh, hari Arafah, puasa Asyura, puasa Syawal — dengan niat yang tulus karena Allah, dengan hati yang menghadap kepada-Nya, dengan kesadaran bahwa ini adalah bentuk ketaatan kepada-Nya — maka puasa itu adalah fi sabilillah. Dan janji dalam hadits ini berlaku untuknya.

Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan. Ia berarti bahwa setiap hari puasa yang kita jalani — bahkan puasa sunnah yang tampak biasa-biasa saja — adalah hari yang Allah gunakan untuk menjauhkan kita dari neraka dengan jarak yang tidak bisa kita hitung.

Puasa adalah Perisai

Hadits ini tidak berdiri sendiri. Ia dikuatkan oleh hadits lain yang terkenal:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ

"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah berbuat gaduh."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Junnahجُنَّة — perisai. Dalam bahasa Arab, junnah adalah perisai yang digunakan seorang prajurit untuk melindungi dirinya dari serangan musuh. Ia adalah penghalang antara diri dan bahaya.

Puasa adalah perisai — tidak hanya di dunia dari godaan syahwat dan amarah, tapi juga di akhirat dari panasnya neraka. Dua perlindungan sekaligus dalam satu ibadah. Inilah yang membuat puasa bukan sekadar ritual penggugur kewajiban, tapi sebuah sistem perlindungan yang Allah rancang dengan sangat sempurna untuk hamba-hamba-Nya yang mau menggunakannya.

Wajah yang Dijauhkan — Kemuliaan yang Dijaga

Mengapa Wajah, Bukan Tubuh?

Ada detail dalam hadits ini yang sangat layak untuk kita renungkan: Rasulullah tidak mengatakan "Allah akan menjauhkan tubuhnya dari neraka." Tapi "Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka."

Mengapa wajah?

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan dengan indah:

خَصَّ الْوَجْهَ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُ أَشْرَفُ أَعْضَاءِ الْبَدَنِ وَأَكْرَمُهَا، فَإِذَا سَلِمَ الْوَجْهُ مِنَ النَّارِ كَانَ ذَلِكَ كِنَايَةً عَنْ سَلَامَةِ الْبَدَنِ كُلِّهِ وَكَمَالِ الْكَرَامَةِ

"Wajah disebutkan secara khusus karena ia adalah anggota badan yang paling mulia dan paling terhormat. Apabila wajah selamat dari neraka, itu adalah kiasan dari selamatnya seluruh tubuh dan sempurnanya kemuliaan."

Ibnu Rajab al-Hanbali, Fath al-Bari

Wajah adalah tempat identitas seseorang paling terlihat. Ia adalah yang pertama kali dikenali, yang pertama kali dilihat, yang menanggung nama dan martabat seseorang. Dalam tradisi Arab, menghina wajah seseorang adalah penghinaan paling besar. Memuliakan wajah seseorang adalah kemuliaan yang paling sempurna.

Maka ketika Allah berjanji menjauhkan wajah orang yang berpuasa dari neraka, Ia sedang menyatakan sesuatu yang sangat agung: bahwa Ia akan menjaga kehormatan orang itu secara total dan sempurna di akhirat. Bahwa orang yang berpuasa karena-Nya tidak akan menanggung kehinaan api neraka — bukan di seluruh tubuhnya, dan terutama tidak di wajahnya yang paling mulia.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam."

(QS. Al-Isra': 70)

Allah yang memuliakan manusia di dunia, juga yang menjaga kemuliaan itu di akhirat — bagi mereka yang mau merawat kemuliaan itu dengan ketaatan kepada-Nya. Dan puasa adalah salah satu cara merawatnya yang paling kuat.

Tujuh Puluh Tahun — Bahasa Kemurahan yang Tak Terbatas

Angka yang Bukan Angka Biasa

Angka tujuh puluh — sab'iinaسَبْعِينَ — dalam bahasa Arab klasik bukan selalu angka matematis yang harus dipahami secara harfiah. Ia sering digunakan untuk menunjukkan jumlah yang sangat banyak, jarak yang sangat jauh, ukuran yang sangat besar — melampaui apa yang bisa dihitung atau diukur secara biasa.

Al-Qur'an sendiri menggunakan pola yang sama. Allah berfirman:

إِن تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ

"Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka."

(QS. At-Taubah: 80)

"Tujuh puluh kali" di sini bukan berarti jika Nabi beristighfar tujuh puluh satu kali maka mereka diampuni. Ia berarti: sebanyak apa pun kamu beristighfar untuk mereka, tidak akan ada pengampunan. Tujuh puluh adalah cara bahasa Arab mengekspresikan sesuatu yang tak terbatas.

Maka "tujuh puluh tahun" dalam hadits puasa ini adalah cara Allah mengatakan kepada kita: jarak yang akan Aku berikan antara wajahmu dan neraka adalah jarak yang tidak bisa kamu bayangkan. Jauh sekali. Jauh melebihi apapun yang bisa dihitung di dunia ini.

Dan ini adalah tanda kemurahan Allah yang tidak ada batasnya. Allah berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."

(QS. Al-A'raf: 156)

Rahmat yang meliputi segala sesuatu — inilah yang berdiri di balik janji tujuh puluh tahun itu. Bukan kalkulasi yang ketat dan pelit. Tapi kemurahan yang meluap, yang memberikan kepada hamba yang berpuasa satu hari jauh lebih banyak dari yang pernah ia bayangkan bisa ia dapatkan dari satu hari itu.

Orientasi Akhirat — Investasi yang Paling Menguntungkan

Keberuntungan Sejati Menurut Allah

Di zaman kita, kata "beruntung" hampir selalu dihubungkan dengan keberhasilan duniawi: bisnis yang berkembang, karier yang menanjak, rumah yang luas, rekening yang tebal. Kita hidup dalam budaya yang mengukur keberuntungan dengan hal-hal yang bisa dilihat, dihitung, dan ditampilkan.

Tapi Allah mendefinisikan keberuntungan dengan cara yang sangat berbeda:

فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Maka barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya."

(QS. Ali Imran: 185)

Faqad faaza — sungguh ia telah beruntung. Bukan orang yang paling banyak hartanya. Bukan orang yang paling tinggi jabatannya. Tapi orang yang zuhziha 'anin-nari — yang dijauhkan dari neraka.

Dan perhatikan kata yang digunakan Allah: zuhzihaزُحْزِحَ — dijauhkan, ditarik menjauh. Kata ini mengandung gambaran seseorang yang hampir tergelincir ke tepi jurang, lalu ditarik menjauh oleh tangan yang kuat. Ada bahaya yang nyata, ada ancaman yang real — dan Allah yang menarik hamba-Nya yang berpuasa menjauh dari bahaya itu.

Hadits yang kita renungkan ini adalah manifestasi konkret dari zuhziha itu. Setiap hari puasa yang dilakukan karena Allah adalah satu hari di mana Allah menarik kita makin jauh dari tepi jurang — tujuh puluh tahun jauhnya.

Pengorbanan Kecil, Konsekuensi yang Luar Biasa

Ini adalah salah satu pelajaran terpenting dalam pendidikan ruhani Islam: bahwa tidak ada pengorbanan yang "kecil" di hadapan Allah, jika dilakukan dengan keikhlasan yang benar.

Satu hari menahan lapar. Bagi sebagian orang ini terasa ringan, bagi sebagian lain terasa berat. Ada yang berpuasa di tengah aktivitas padat dan panas terik. Ada yang berpuasa dalam kondisi tubuh yang tidak sepenuhnya prima. Ada yang berpuasa dengan perut yang sudah kosong sejak semalam karena keterbatasan rezeki.

Tapi bagi Allah, semua itu — dengan segala beratnya masing-masing, dengan segala ketulusannya masing-masing — menghasilkan satu hal yang sama: jarak tujuh puluh tahun dari neraka.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

"Jagalah dirimu dari api neraka meskipun hanya dengan separuh kurma."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Separuh kurma. Setengah buah yang nilainya tidak ada seberapa di dunia ini. Tapi ia bisa menjadi perisai dari neraka. Bayangkan berapa besar nilai satu hari penuh berpuasa karena Allah, dibandingkan dengan separuh kurma itu.

Islam adalah agama yang sangat serius tentang hal ini: bahwa tidak ada amal baik yang terlalu kecil untuk diabaikan, dan tidak ada pengorbanan yang terlalu kecil untuk diabaikan oleh Allah. Ia mencatat semuanya. Ia membalas semuanya. Dan balasan-Nya selalu jauh melebihi apa yang kita berikan.

Puasa — Latihan Kesabaran yang Paling Menyeluruh

Setengah dari Kesabaran

Allah berfirman dengan janji yang sangat langsung:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 153)

Innallaha ma'ash-shaabirin — Allah bersama orang-orang yang sabar. Ini bukan pernyataan pasif. Ini adalah pernyataan kebersamaan yang aktif: Allah beserta, Allah menyertai, Allah mendampingi orang-orang yang sabar dalam setiap langkah perjuangan mereka.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menjelaskan hubungan antara puasa dan kesabaran dengan cara yang sangat mengena:

الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ، لِأَنَّ الصَّبْرَ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ: صَبْرٌ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ، وَصَبْرٌ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَصَبْرٌ عَلَى أَقْدَارِ اللَّهِ. وَالصِّيَامُ يَجْمَعُ النَّوْعَيْنِ الْأَوَّلَيْنِ

"Puasa adalah setengah dari kesabaran. Karena kesabaran ada tiga macam: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat kepada Allah, dan sabar atas takdir Allah. Dan puasa menggabungkan dua macam pertama sekaligus."

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin

Dua jenis kesabaran sekaligus dalam satu ibadah. Sabar dalam menjalankan ketaatan — menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga maghrib, menjaga shalat, menjaga lisan, menjaga perilaku. Dan sabar dari maksiat — menahan diri dari semua yang Allah larang, termasuk yang paling mendasar sekalipun seperti makan dan minum.

Inilah mengapa puasa adalah ibadah yang sangat efektif dalam membangun karakter. Ia bukan hanya melatih satu aspek jiwa. Ia melatih dua sekaligus — aktif dan pasif, melakukan kebaikan dan menghindari keburukan — dalam satu latihan yang berulang setiap harinya.

Ketahanan Jiwa yang Terbentuk dari Dapur Puasa

Orang yang terbiasa berpuasa — yang sudah berulang kali merasakan lapar dan dahaga tapi tetap tegak, yang sudah berulang kali digoda oleh makanan yang ada di depannya tapi tetap menahan diri — adalah orang yang sedang membangun sesuatu yang sangat berharga di dalam jiwanya: ketahanan.

Ketahanan untuk menghadapi godaan yang lebih besar. Ketahanan untuk menahan amarah ketika diprovokasi. Ketahanan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika jalan yang menyimpang tampak lebih mudah dan lebih menyenangkan. Ketahanan untuk tidak menyerah ketika hidup terasa berat dan tidak adil.

Semua itu adalah hasil sampingan dari puasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran — hadiah yang tidak disebutkan dalam hadits ini tapi dirasakan oleh siapa pun yang sungguh-sungguh menjalani puasa dengan baik.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya."

(HR. Bukhari)

Puasa yang sesungguhnya bukan hanya menahan perut. Ia menahan seluruh jiwa — dari dusta, dari kecurangan, dari amarah yang tidak terkendali, dari perbuatan yang merusak diri dan orang lain. Dan orang yang mampu menahan seluruh jiwa itu adalah orang yang sedang membangun benteng yang jauh lebih kokoh dari sekadar menahan lapar.

Puasa Sunnah — Investasi Keselamatan yang Terbuka Sepanjang Tahun

Pintu yang Tidak Pernah Ditutup

Salah satu keindahan hadits ini adalah bahwa ia tidak membatasi puasa yang dimaksud pada Ramadhan saja. Ia berbicara tentang "satu hari berpuasa di jalan Allah" — tanpa menyebut bulan atau waktu tertentu. Artinya, janji ini berlaku untuk setiap hari puasa yang dilakukan karena Allah, kapan pun dan di mana pun.

Ini berarti ada pintu keselamatan yang terbuka sepanjang tahun. Puasa Senin-Kamis yang dilakukan secara rutin setiap minggu. Puasa tiga hari di pertengahan setiap bulan — ayyamul bidhأَيَّامُ الْبِيض — hari-hari putih. Puasa hari Arafah yang menghapus dosa dua tahun. Puasa Asyura yang menghapus dosa setahun. Puasa enam hari Syawal yang nilainya seperti puasa setahun penuh.

Setiap hari puasa itu adalah satu hari di mana Allah menjauhkan wajah kita dari neraka sejauh tujuh puluh tahun. Bayangkan seseorang yang berpuasa Senin-Kamis setiap minggu selama hidupnya — berapa jauh jarak yang sudah Allah berikan antara wajahnya dan neraka?

Ini adalah investasi yang tidak ada tandingannya di dunia ini. Tidak ada saham yang memberikan return seperti ini. Tidak ada deposito yang menghasilkan bunga seperti ini. Tidak ada properti yang nilainya setinggi ini. Satu hari menahan lapar — dan Allah membalasnya dengan jarak tujuh puluh tahun dari neraka.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka dengan (harga) bahwa bagi mereka adalah surga."

(QS. At-Taubah: 111)

Allah yang membeli dari kita. Allah yang membayar. Dan harga yang Ia bayarkan — surga dan keselamatan dari neraka — tidak sebanding dengan apa pun yang pernah kita berikan. Puasa satu hari adalah salah satu bagian dari transaksi agung itu.

Penutup: Benteng yang Kita Bangun Sendiri, Hari demi Hari

Benteng tidak dibangun dalam sehari. Ia dibangun batu demi batu, lapisan demi lapisan, dengan kerja yang sabar dan tekun. Dan benteng yang dibangun dengan cara seperti itu adalah benteng yang paling kokoh — yang tidak mudah diruntuhkan oleh angin badai apa pun.

Puasa adalah batu-batu yang kita gunakan untuk membangun benteng keselamatan kita di akhirat. Setiap hari puasa adalah satu batu yang Allah tempatkan — dengan kekuatan dan ketepatan yang jauh melebihi kemampuan kita sendiri — pada jarak tujuh puluh tahun dari neraka.

Satu hari. Satu batu. Tujuh puluh tahun jauhnya dari api.

Maka bagi siapa pun yang masih diberi kesempatan untuk berpuasa — baik di Ramadhan maupun di hari-hari sunnah di luar Ramadhan — jangan pernah meremehkan satu hari itu. Jangan pernah berpikir bahwa satu hari saja tidak berarti apa-apa. Jangan pernah menunda dengan alasan nanti saja, besok saja, bulan depan saja.

Karena setiap hari yang berlalu adalah satu hari yang tidak akan kembali. Dan setiap hari puasa yang terlewat adalah satu tujuh puluh tahun jarak yang tidak ter-bangun.

Semoga Allah memberi kita taufiq untuk memanfaatkan setiap kesempatan puasa dengan sebaik-baiknya. Semoga setiap hari puasa yang pernah kita jalani — dengan segala kekurangannya, dengan segala perjuangannya — menjadi batu yang Allah tempatkan pada jarak yang sangat jauh dari neraka-Nya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Wallahu a'lam bish-shawab

Artikel Populer

Rahasia Psikologis Tradisi Halal Bihalal

Puasa Syawal: Membentuk Ketahanan Spiritual dan Mentalitas Ibadah Sepanjang Hayat

Kaidah yang Sering Disalahpahami: Hukm al-Hakim Yarfa'ul Khilaf dan Batas Penerapannya dalam Penentuan Hari Raya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya