Postingan

Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja?

Gambar
Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja? Tentang rasa aman, ego yang ingin menang, keterikatan yang memudar, dan keluarga yang belajar memilih apa yang lebih dekat kepada ridha Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ada rumah yang mudah dikenali sedang tidak baik-baik saja. Suara meninggi, ayah dan ibu saling mendiamkan, sementara anak belajar membaca suasana sebelum berani meminta sesuatu. Tetapi ada pula rumah yang tampaknya tenang. Anak pulang sekolah, makan, lalu berjam-jam bersama gawainya. Selama tugas selesai dan tidak mengganggu, keadaan terasa aman. Sing penting anteng. Ibu mempunyai komunitas, arisan, pertemanan, atau kegiatan sosial yang membuatnya bersemangat. Ayah pun demikian. Setelah penat bekerja, ada kawan kantor, hobi, kopi, perjalanan, atau sesekali healing . Tidak ada yang dengan sendirinya salah pada semua itu. Masalahnya mungkin baru terasa ketika setiap orang mempunyai tempat untuk merasa hidup, tetapi perlahan kehilangan kegembiraa...

Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati?

Gambar
Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati? Tentang mendengarkan Al-Qur'an, menjaga niat, dan musabaqah yang justru berlanjut ketika panggung telah sepi Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada banyak pintu untuk memasuki sebuah arena MTQ. Ada pintu bagi peserta, panitia, dewan hakim, tamu, dan pengunjung. Orang-orang datang dari berbagai arah, sebagian bersama keluarga, sebagian mencari tempat duduk terbaik, sementara dari kejauhan suara seorang qari mulai terdengar melalui pengeras suara. Ayat-ayat Allah mengalun. Sebagian orang menghentikan langkah, ada yang memejamkan mata, berbisik Masya Allah , atau mengangkat telepon genggam untuk merekam beberapa bagian yang terasa indah. Keindahan suara memang bagian dari pesona tilawah. Tajwid dijaga, makhraj diperhatikan, hafalan dipelihara, dan melalui musabaqah seperti ini umat menunjukkan bahwa Al-Qur'an masih memiliki tempat istimewa dalam kehidupan bersama. Namun di tengah keramaian itu ada sebuah pertanyaan y...

Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan

Gambar
Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan Belajar melepaskan peran, menemukan ruang pengabdian baru, dan tetap beramal ketika nama kita tak lagi dicari Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Matahari terbenam setiap sore bukan karena ia kalah oleh malam. Ia terbenam, lalu bulan mendapat giliran bersinar dan bintang-bintang memperoleh ruang untuk tampak. Esok pagi matahari terbit kembali, bukan sebagai pemenang yang merebut panggung, melainkan sebagai bagian dari pergiliran yang telah ditetapkan sejak semula. Kehidupan manusia mengikuti pola yang serupa, meskipun kita jarang menyadarinya ketika masih berada di titik terang. وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia...” (QS. Ali 'Imran: 140) Ayat ini hadir dalam rangkaian ayat tentang Perang Uhud. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pergiliran: ada masa menang dan kalah, lapang dan sempit, berada di depan lalu memberi tempat kepada yang lain. Masal...

Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu

Gambar
Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu Berdamai dengan sejarah hidup tanpa membenarkan kesalahan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ada masa ketika seseorang melihat kembali perjalanan hidupnya dan merasa asing terhadap dirinya sendiri. Dahulu ia begitu yakin dengan pilihan, lingkungan, bacaan, atau jalan perjuangannya. Bertahun-tahun ia berjalan di sana dengan sungguh-sungguh. Kemudian ilmu bertambah, pengalaman meluas, dan beberapa hal yang dahulu tidak terlihat mulai tampak. Ada pandangan yang harus dikoreksi, sikap yang disesali, bahkan keputusan yang seandainya mungkin ingin ditarik kembali. Lalu muncul pertanyaan: “Kalau ternyata ada yang salah dalam jalan hidupku dahulu, apakah seluruh masa itu juga harus kubenci?” Pertanyaan seperti ini tidak hanya muncul pada orang yang meninggalkan sebuah kelompok atau mengubah pandangan keagamaan. Ia bisa hadir pada orang yang pernah tenggelam dalam maksiat, dahulu keras kepada keluarganya, berlebihan dala...

Singa dan Kucing: Ketika Metafora Membentuk Cara Kita Membaca JI

Gambar
Singa dan Kucing: Ketika Metafora Membentuk Cara Kita Membaca JI Catatan atas artikel “JI: Dari Singa Gurun Pasir Menjadi Kucing Peliharaan” Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Artikel “JI: Dari Singa Gurun Pasir Menjadi Kucing Peliharaan” menarik bukan hanya karena kronologi sejarah yang disajikannya, tetapi terutama karena metafora yang dipilih untuk menggambarkan perubahan Jamaah Islamiyah (JI). Singa dan kucing bukan sekadar hiasan bahasa. Metafora membawa penilaian. Singa menghadirkan citra keberanian, kekuatan, kemandirian, bahkan keliaran. Sebaliknya, kucing peliharaan memberi kesan jinak, domestik, terkendali, dan bergantung pada pemiliknya. Ketika keduanya ditempatkan pada dua fase perjalanan sebuah kelompok, pembaca dapat diarahkan pada kesan: dahulu perkasa, sekarang jinak; dahulu independen, sekarang terkendali; dahulu melawan, sekarang menyesuaikan diri. Di sinilah persoalannya menjadi lebih luas daripada sekadar sejarah sebuah organisasi. Kita perlu membedakan antara kritik te...

Memaafkan Tanpa Harus Kembali

Gambar
Memaafkan Tanpa Harus Kembali Ketika hati telah berdamai, meski hubungan tak lagi seperti dulu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak semua yang pernah dekat akan tetap dekat. Ada persahabatan yang bertahan sampai usia senja. Ada yang berubah karena jarak dan kesibukan. Ada pula hubungan yang tumbuh begitu dalam—bermula dari organisasi, majelis, pekerjaan, atau perjuangan bersama—hingga akhirnya terasa seperti keluarga sendiri. Bertahun-tahun duduk di meja yang sama, menghadapi kesulitan yang sama, membangun sesuatu dari nol. Keluarga saling mengenal. Orang yang dahulu hanya disebut teman, perlahan menjadi sedulur . Tetapi perjalanan manusia tidak selalu bergerak ke arah yang sama. Pengalaman berubah. Bacaan bertambah. Lingkungan berganti. Seseorang sampai pada cara pandang baru, sementara yang lain tetap meyakini jalan yang selama ini ditempuh masih layak dipertahankan. Tidak selalu ada pertengkaran. Kadang hanya jarak yang perlahan tumbuh. Lalu suatu hari kita berkata: "Aku sudah ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...