Postingan

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

Gambar
Nandur Ora Kudu Ngundhuh Tentang jiwa perintis, warisan kebaikan, dan kerelaan tidak ikut memanen ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Orang-orang dahulu menanam pohon jati. Mereka tahu, pohon itu memerlukan waktu puluhan tahun sebelum kayunya matang dan layak dimanfaatkan. Bisa jadi ketika pohon tersebut siap ditebang, orang yang menanamnya sudah tiada. Yang menikmati justru anak cucunya. Tetapi mereka tetap menanam. Merawat. Menjaga. Tidak setiap pagi menggali tanah untuk memastikan seberapa jauh akarnya berkembang. Ada cara pandang yang menarik di sana. Mereka bekerja untuk masa depan yang belum tentu menjadi bagian dari hidupnya sendiri. Tidak semua yang ditanam harus dipanen oleh tangan yang sama. Tidak semua perjuangan harus berakhir dengan menyaksikan keberhasilan. Nandur ora kudu ngundhuh. Kalimat sederhana. Tetapi tidak selalu mudah dijalani. Apalagi ketika seseorang telah mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk merintis sekolah, pesantren, yayasan, organisasi dakwah, atau pekerjaan s...

Blingsatan

Gambar
Blingsatan Ketika cita-cita berlari lebih cepat daripada jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ia terlihat sangat sibuk. Bicara soal perubahan besar, target tinggi, lompatan jauh. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dimulai. Tetapi orang lain yang melihat dari luar bisa bertanya: sebenarnya ia sedang maju, atau hanya berlari di tempat? Blingsatan sering menyamar sebagai produktivitas. Banyak yang dimulai. Sedikit yang selesai. Lebih sedikit lagi yang benar-benar tuntas. Niatnya sebenarnya baik. Cita-citanya tinggi. Kadang malah keduwuren . Ia ingin sesuatu menjadi lebih baik, lebih maju, lebih tertata, lebih bermanfaat. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Yang belum cukup terdidik justru jiwanya untuk menanggung jarak antara ingin dan menjadi . Cara pertama baru berjalan sebentar, hasilnya belum kelihatan. Mulai melirik cara kedua. Cara kedua belum matang, sudah kepincut cara ketiga. Yang pertama belum selesai, yang kedua belum sempat diuji, yang ketiga sudah membuatnya ...

Kumingsun

Gambar
Kumingsun Ketika “aku” berdiri terlalu tinggi di belakang pengalaman, ilmu, dan jabatan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ada satu kalimat yang terdengar biasa dalam banyak percakapan: “Dari dulu caranya memang begini.” Tidak selalu diucapkan dengan suara tinggi. Bisa jadi yang mengatakannya memang telah puluhan tahun menggeluti pekerjaan itu, pernah melewati persoalan yang tidak diketahui orang-orang baru, pernah mencoba jalan yang ternyata buntu, dan pernah menyelesaikan masalah yang tidak tercatat dalam laporan. Pengalaman seperti itu tentu berharga. Masalahnya bukan pada kata dulu atau lamanya seseorang bekerja. Masalah mulai muncul ketika pengalaman tidak lagi diletakkan sebagai bahan pertimbangan, tetapi berubah menjadi palang pintu: karena aku lebih lama, maka percakapan selesai. Orang Jawa mengenal satu kata yang terasa dekat dengan keadaan itu: kumingsun . Berasal dari ingsun —aku. Namun kumingsun bukan sekadar keberadaan “aku”. Ia menggambarkan keakuan yang membesar, ...

Dolane Kurang Adoh

Gambar
Dolane Kurang Adoh Tentang khilaf, nyinyir, dan hati yang belum menep dalam ilmu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Beberapa hari ini saya mengikuti keramaian setelah terbit buku Ustadz Adi Hidayat tentang Syaikh Al-Albani, Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits . Ada yang membahas bukunya, ada yang membantah, ada yang membela Al-Albani, ada pula yang membela Ustadz Adi Hidayat. Itu biasa. Yang menarik justru ketika perdebatan mulai bergeser dari argumentasi menjadi sindiran, dari membahas pendapat menjadi membahas orang. Lalu muncul satu hal yang sangat akrab di media sosial: nyinyir . Melihat beberapa komentar, saya malah teringat ungkapan sederhana yang kadang dipakai orang Jawa ketika melihat seseorang terlalu cepat bicara tentang sesuatu yang belum banyak ia kenal: “Dolane kurang adoh.” Bukan berarti kurang piknik. Kadang yang kurang jauh bukan perjalanan kakinya, tetapi perjalanan pikirannya. Pernah Gumun Saya pernah berada di fase itu. Pernah mendengar seorang ustadz m...

Ngelak, Nglunjak

Gambar
Ngelak, Nglunjak Ketika Keinginan yang Baik Lupa Berhenti ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Awalnya sederhana. Orang tua hanya ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik tanpa kehilangan ruh Islam. Maka dipilihlah sekolah Islam. Harapannya tidak berlebihan: anak tetap belajar matematika, sains, bahasa, dan teknologi, tetapi pada saat yang sama tidak asing dengan Al-Qur’an, shalat, adab, dan lingkungan yang menjaga. Lalu anak mulai lancar membaca Al-Qur’an. Muncul harapan baru: kalau bisa sekalian hafal beberapa juz. Hafalan mulai berjalan, lalu target bertambah: akademiknya juga harus bagus. Setelah itu bahasa Inggris, bahasa Arab, olimpiade, organisasi, kemandirian, percaya diri, prestasi. Semuanya baik. Justru di situlah persoalannya. Sesuatu bisa menjadi berat bukan karena ia buruk, tetapi karena semua yang baik ingin dikumpulkan sekaligus pada satu anak. Orang Jawa punya ungkapan yang lugas: dikei ati, ngrogoh rempelo . Diberi hati, malah merogoh ampela. Awalnya hanya satu keinginan. ...

Wis Menep

Gambar
Wis Menep Ketika yang benar belum tentu yang paling tepat dilakukan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Dulu, salah satu kesulitan orang adalah mencari jawaban. Hari ini, kesulitannya bisa jadi justru karena terlalu banyak jawaban. Satu persoalan dapat mempertemukan kita dengan puluhan potongan ceramah, fatwa, tulisan, dan pendapat hanya dalam beberapa menit. Tinggal mengetik kata kunci, lalu layar menyodorkan banyak pilihan. Kebingungannya pun berubah. Ia tidak lagi sekadar "Apa dalilnya?" , tetapi "Dari sekian banyak dalil dan pendapat yang saya temukan, mana yang harus saya ikuti?" Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Ketika pilihan semakin banyak, belum tentu ilmu yang menjadi pemenang. Bisa jadi justru ego. Jawaban yang sesuai dengan keinginan terasa lebih masuk akal. Pendapat yang membenarkan keputusan kita terasa lebih kuat. Sementara nasihat yang menuntut kita mundur, kehilangan keuntungan, mengubah sikap, atau mengakui kekeliruan terasa lebih berat diteri...

Cakra Manggilingan

Gambar
Cakra Manggilingan Tentang amanah yang datang, kuasa yang menguji, dan adab ketika giliran berpindah ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Siang itu sebuah pelantikan berlangsung di lingkungan pendidikan tempat kami berkhidmat. Kepala sekolah berganti, mudir pun berganti. Ada yang menyerahkan amanah, ada yang mulai memikulnya. Ada satu bagian yang membuat hadirin sempat riuh. Mudir yang baru dilantik membuka perkataannya dengan kalimat istirja': إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un", sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Kalimat itu begitu lekat dengan kabar kematian dan musibah sehingga terdengar ganjil bila diucapkan dalam sebuah pelantikan. Bukankah hari itu seseorang justru sedang memperoleh kepercayaan baru? Sang mudir lalu membawa hadirin kepada kisah Umar bin Abdul Aziz. Dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah , Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika Umar menyadari kekhalifahan benar-benar jatuh ke...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...