Postingan

Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati

Gambar
Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati Mengapa Konflik Sesama Muslim Sering Berasal dari Penyakit Hati? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Hampir setiap orang pernah kecewa kepada saudara seiman. Ada yang dulu begitu akrab, lalu perlahan menjauh tanpa sebab yang jelas. Ada yang dulu berjuang bersama dalam satu barisan dakwah, lalu diam-diam saling curiga. Ada pula yang semula saling mendoakan dalam sujud, kemudian saling membicarakan di belakang punggung. Pertanyaannya bukan siapa yang salah, melainkan lebih dalam dari itu: apakah yang sebenarnya rusak — ukhuwahnya, atau hati kita? Ukhuwah imaniyyah adalah ikatan ruhani yang Allah tumbuhkan di antara orang-orang beriman karena kesamaan akidah, yang kemudian melahirkan hak, tanggung jawab, dan kasih sayang sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Ia bukan sekadar hubungan sosial yang lahir dari nasab atau kepentingan. Para ulama tazkiyah memandangnya dari dua sisi yang berjalan bersamaan: ukhuwah adalah buah da...

Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup?

Gambar
Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup? Ledakan emosi sesaat mengingatkan kita bahwa perubahan pemikiran belum tentu perubahan jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Sebuah cekcok kecil antar-pedagang di Dadaha, Tasikmalaya, berubah menjadi peristiwa yang mengejutkan banyak pihak. Bukan karena ada jaringan yang bergerak, bukan pula karena ada niat teror yang direncanakan. Tanpa bermaksud memastikan kondisi batin pelaku, sebab hanya Allah yang mengetahui isi hati seorang hamba, peristiwa ini tetap memberi ruang bagi kita untuk merefleksikan satu hal penting, yaitu betapa rapuhnya hati manusia ketika harga dirinya merasa terluka. Banyak yang mengira bahwa perubahan keyakinan sudah cukup untuk menjamin perubahan perilaku. Padahal antara ilmu dan amal, antara akidah dan akhlak, ada satu ruang yang sering terlewat, yaitu jiwa itu sendiri. Seseorang bisa saja sudah benar pemikirannya, namun nafsnya belum tentu ikut berubah. Di sinilah letak pentingnya tazki...

Al-Fawz al-'Aẓīm: Ketika Allah Menyatakan Perjalanan Itu Berhasil

Gambar
Al-Fawz al-'Aẓīm: Ketika Allah Menyatakan Perjalanan Itu Berhasil Penutup Fase Pertama — Muhasabah Menuju Kemenangan yang Agung Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap perjalanan memiliki tujuan. Dan setiap perjalanan sejati selalu bermuara pada satu tempat: pulang. Sejak awal kita tidak sedang mengumpulkan ilmu demi ilmu atau amal demi amal. Kita sedang menempuh jalan pulang kepada Allah. Ilmu adalah petunjuk jalannya, sedangkan amal adalah bekal perjalanannya. Karena itu, setiap pembahasan dalam fase pertama sesungguhnya bukanlah persinggahan yang berdiri sendiri, melainkan langkah-langkah yang saling menyambung menuju satu arah yang sama. Kita memulai safar ini dengan memahami bahwa setiap manusia memikul amanah sebagai khalifah di bumi. Dari sana kita mengenali rintangan yang menghadang di sepanjang jalan: hawa nafsu, bisikan setan, dan tipuan dunia yang membelokkan arah. Setelah itu kita belajar bahwa perjalanan kembali ini tidak mungkin ditempuh tanpa tazkiyah, penyucian jiwa...

Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna: Tadabbur Penutup Surah Al-Hasyr Ayat 22–24

Gambar
Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna: Tadabbur Penutup Surah Al-Hasyr Ayat 22–24 Ketika Sebelas Nama Allah Menjadi Cermin bagi Hati yang Sedang Bertanya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Surah Al-Hasyr membuka kisahnya dengan kejatuhan Bani Nadhir yang merasa bentengnya tak tertembus, lalu mengalir melalui adab berbagi harta, keteladanan Muhajirin dan Anshar, hingga sampai pada satu ayat yang mengguncang: gunung yang kokoh akan tunduk dan hancur bila Al-Qur'an diturunkan kepadanya, karena takut kepada Allah (ayat 21). Setelah gambaran itu, surah ini tidak berhenti. Ia justru bertanya balik kepada pembacanya: jika gunung saja gentar mengenal kebesaran Allah, siapakah Allah yang membuat gunung gentar itu? Pertanyaan itu tidak dijawab dengan definisi, melainkan dengan perkenalan. Allah memperkenalkan diri-Nya melalui nama-nama-Nya sendiri pada ayat 22–24—sebelas Asmaul Husna yang ditutupkan pada surah ini bukan sekadar daftar, melainkan jalan ma'rifatullah. Sebagian mufasir memandang ...

Siapakah yang Mau Meminjamkan kepada Allah?

Gambar
Siapakah yang Mau Meminjamkan kepada Allah? Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 245 tentang Qardhan Hasan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu pertanyaan dalam Al-Qur'an yang begitu lembut, namun menembus relung hati paling dalam. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berinfak dengan kalimat perintah. Allah justru bertanya, seolah mengetuk pintu jiwa satu per satu. Mengapa Allah memilih bertanya, padahal Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi? Mengapa Dia menggunakan bahasa "pinjaman", seolah-olah membutuhkan sesuatu dari hamba-Nya? Di situlah letak keindahan sekaligus kedalaman ayat ini. مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakannya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Baq...

Merencanakan Tanpa Diperbudak Rencana

Gambar
Merencanakan Tanpa Diperbudak Rencana Tiga Fase Ikhtiar, Tawakal, dan Ridha dalam Kehidupan Seorang Mukmin Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Islam tidak pernah mempertentangkan perencanaan dengan tawakal. Yang ditolak bukanlah rencana itu sendiri, melainkan hati yang diperbudak oleh rencana, seolah keberhasilan sepenuhnya berada di tangan sendiri dan kegagalan berarti dunia telah berakhir. Untuk memahami keseimbangan ini, ada baiknya kita melihat kehidupan seorang mukmin dalam tiga fase yang sederhana: sebelum sebuah takdir terwujud, saat takdir itu nyata di hadapan kita, dan sesudah takdir itu berlalu. Ketiga fase ini menuntut adab yang berbeda terhadap Allah, terhadap ikhtiar, dan terhadap diri sendiri, namun semuanya bermuara pada satu tujuan yang sama. Fase Pertama: Sebelum Takdir Terwujud Pada fase ini, seorang mukmin diperintahkan untuk bersungguh-sungguh: meluruskan niat, bermusyawarah, menyusun rencana, dan menempuh sebab-sebab terbaik. Ketika Rasulullah ﷺ hendak berhijrah ke...

Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi

Gambar
Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi Mendidik Hati Sebelum Mengejar Hasil Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada pertanyaan yang nyaris otomatis terlontar dari lisan orang tua begitu anak pulang sekolah: "Nilainya berapa?" "Ranking berapa?" Pertanyaan itu tidak salah, dan tidak ada yang keliru dari kepedulian orang tua terhadap capaian anaknya. Namun jika pertanyaan tentang nilai jauh lebih sering terdengar daripada penghargaan terhadap proses dan syukur, anak dapat menangkap kesan bahwa prestasi adalah syarat utama untuk memperoleh penerimaan. Dari kesan kecil yang berulang inilah, tanpa disadari, prestasi mulai menempati ruang yang seharusnya diisi oleh syukur. Jarang sekali kita mendengar orang tua bertanya di penghujung hari, "Apa yang kamu syukuri hari ini?" Padahal pertanyaan sederhana itu jauh lebih dekat kepada cara Allah mendidik manusia. Islam memulai pendidikan bukan dari target pencapaian, melainkan dari pembentukan orientasi hati. Sebab tauhi...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...