Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah
Dari Sabar Menuju Ridha: Meniti Hati di Hadapan Takdir Allah Mengapa takdir yang pahit kadang menjadi jalan paling lembut Allah membentuk hati manusia Oleh: Nuraini Persadani | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ada luka yang tidak mudah diucapkan. Ada doa yang terasa lama dijawab. Ada kehilangan yang membuat hati bertanya pelan-pelan, di sudut malam yang sunyi: "Mengapa harus aku? Mengapa harus sekarang?" Pada titik itulah, hampir setiap manusia akhirnya bertemu dengan satu kata: sabar . Kata yang mudah diucapkan, namun berat untuk dihayati. Kata yang sering diberikan sebagai nasihat, padahal yang memberi pun tidak tahu betapa sulitnya menanggungnya. Namun dalam perjalanan ruhani Islam, sabar ternyata bukan puncak. Di atas sabar, ada maqam yang lebih sunyi, lebih lapang, sekaligus lebih agung: ridha kepada Allah . Dua kata yang sederhana, tetapi mengandung samudra kedalaman yang para ulama butuh kitab-kitab tebal untuk menguraikannya. Apakah sabar ber...