Ketika Takbir Tak Lagi Membuat Mata Berkaca
Ketika Takbir Tak Lagi Membuat Mata Berkaca Mengapa takbir yang dahulu membuat hati bergetar kini terasa biasa? Menyusuri makna kekhusyukan, kerasnya hati, dan pelajaran ruhani di balik gema Idul Adha. oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 10 Dzulhijjah 1447 H Suara takbir membumbung tinggi, menyentuh lapisan awan, menggema di antara menara dan jalanan yang baru terjaga. Ia menggetarkan langit. Tapi mengapa, justru di dalam dada kita, suaranya seperti tersesat di lorong yang sunyi? Lidah kita fasih mengucap, tubuh kita berdiri tegak, namun hati… hati kita hanya menunduk. Tak ikut bersujud. Tak ikut bergetar. Kita telah mahir merangkai gerakan ibadah, tapi pelan-pelan lupa merangkai rasa. Shalat menjadi jadwal, zikir menjadi hitungan, puasa sekadar pergantian kalender. Semua berjalan rapi, seperti jam dinding yang tak pernah lupa waktu, tapi tak pernah juga bertanya: "Untuk siapa semua ini?" Allah sendiri berfirman dengan nada rindu yang menegur lembut: ...