Postingan

Ngelak, Nglunjak

Gambar
Ngelak, Nglunjak Ketika Keinginan yang Baik Lupa Berhenti ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Awalnya sederhana. Orang tua hanya ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik tanpa kehilangan ruh Islam. Maka dipilihlah sekolah Islam. Harapannya tidak berlebihan: anak tetap belajar matematika, sains, bahasa, dan teknologi, tetapi pada saat yang sama tidak asing dengan Al-Qur’an, shalat, adab, dan lingkungan yang menjaga. Lalu anak mulai lancar membaca Al-Qur’an. Muncul harapan baru: kalau bisa sekalian hafal beberapa juz. Hafalan mulai berjalan, lalu target bertambah: akademiknya juga harus bagus. Setelah itu bahasa Inggris, bahasa Arab, olimpiade, organisasi, kemandirian, percaya diri, prestasi. Semuanya baik. Justru di situlah persoalannya. Sesuatu bisa menjadi berat bukan karena ia buruk, tetapi karena semua yang baik ingin dikumpulkan sekaligus pada satu anak. Orang Jawa punya ungkapan yang lugas: dikei ati, ngrogoh rempelo . Diberi hati, malah merogoh ampela. Awalnya hanya satu keinginan. ...

Wis Menep

Gambar
Wis Menep Ketika yang benar belum tentu yang paling tepat dilakukan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Dulu, salah satu kesulitan orang adalah mencari jawaban. Hari ini, kesulitannya bisa jadi justru karena terlalu banyak jawaban. Satu persoalan dapat mempertemukan kita dengan puluhan potongan ceramah, fatwa, tulisan, dan pendapat hanya dalam beberapa menit. Tinggal mengetik kata kunci, lalu layar menyodorkan banyak pilihan. Kebingungannya pun berubah. Ia tidak lagi sekadar "Apa dalilnya?" , tetapi "Dari sekian banyak dalil dan pendapat yang saya temukan, mana yang harus saya ikuti?" Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Ketika pilihan semakin banyak, belum tentu ilmu yang menjadi pemenang. Bisa jadi justru ego. Jawaban yang sesuai dengan keinginan terasa lebih masuk akal. Pendapat yang membenarkan keputusan kita terasa lebih kuat. Sementara nasihat yang menuntut kita mundur, kehilangan keuntungan, mengubah sikap, atau mengakui kekeliruan terasa lebih berat diteri...

Cakra Manggilingan

Gambar
Cakra Manggilingan Tentang amanah yang datang, kuasa yang menguji, dan adab ketika giliran berpindah ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Siang itu sebuah pelantikan berlangsung di lingkungan pendidikan tempat kami berkhidmat. Kepala sekolah berganti, mudir pun berganti. Ada yang menyerahkan amanah, ada yang mulai memikulnya. Ada satu bagian yang membuat hadirin sempat riuh. Mudir yang baru dilantik membuka perkataannya dengan kalimat istirja': إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un", sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Kalimat itu begitu lekat dengan kabar kematian dan musibah sehingga terdengar ganjil bila diucapkan dalam sebuah pelantikan. Bukankah hari itu seseorang justru sedang memperoleh kepercayaan baru? Sang mudir lalu membawa hadirin kepada kisah Umar bin Abdul Aziz. Dalam Al-Bidāyah wa an-Nihāyah , Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika Umar menyadari kekhalifahan benar-benar jatuh ke...

Ojo Sembrono

Gambar
Ojo Sembrono Berani Saja Tidak Cukup ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Ada orang yang dahulu kita jauhi karena kita menganggapnya berada di seberang jalan. Kita berdebat dengannya, mencurigai pilihannya, bahkan mungkin pernah memberinya sebutan yang tidak menyenangkan: “musuh bebuyutan.” Bertahun-tahun kemudian, kita justru duduk semeja dengannya. Bukan karena ayat-ayat Allah telah berubah. Bukan pula karena yang dahulu haram tiba-tiba menjadi halal. Dalil yang kita baca boleh jadi masih sama. Kitab yang kita buka pun masih kitab yang sama. Tetapi ada sesuatu yang berubah: cara kita melihat. Yang dahulu tampak hitam-putih ternyata mempunyai rincian yang belum kita ketahui. Yang kita kira ketegasan, setelah perjalanan panjang kadang terlihat sebagai ketergesa-gesaan. Yang pernah kita sebut keberanian, setelah direnungkan kembali, sebagian mungkin hanyalah semangat yang belum cukup mengenal ukuran. Tidak mudah mengakui perubahan semacam itu. Mengoreksi orang lain membutuhk...

Sing Penting Slamet

Gambar
Sing Penting Slamet Kalau bersyukur karena kita selamat memang diajarkan, lalu mengapa satu “Alhamdulillah” membuat Sari as-Saqathi beristighfar tiga puluh tahun? ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Ada kabar kecelakaan besar. Sebelum tahu persis apa yang terjadi, kita buru-buru mencari nama para korban. “Bukan keluarga kita, kan?” Bukan. Dada yang semula tegang perlahan longgar. Alhamdulillah. Di tempat lain, sebuah perusahaan mengumumkan pengurangan pegawai. Kabar menyebar, orang mulai mencari tahu siapa yang terkena. Ketika nama kita tidak ada dalam daftar itu, sekali lagi muncul rasa lega: Alhamdulillah. Ada rasa ayem ketika ternyata musibah tidak mengenai kita atau orang-orang yang kita cintai. Secara psikologis, itu sangat manusiawi. Pikiran kita secara spontan menilai seberapa dekat sebuah ancaman terhadap diri sendiri. Ketika diketahui bahwa keluarga aman dan bahaya tidak sampai kepada kita, ketegangan pun menurun. Persoalannya barangkali bukan pada munculnya rasa lega...

Ketika Siwak Masuk ke Dalam Pasta Gigi

Gambar
Ketika Siwak Masuk ke Dalam Pasta Gigi Tentang menggosok gigi, sunnah Rasulullah ﷺ, dan kebiasaan kecil yang tetap harus diperjuangkan di setiap zaman ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Ada satu keadaan yang hanya terasa ketika kita duduk cukup dekat dengan seseorang. Dalam sebuah majelis kecil, guru menerangkan ilmu, murid menyimak hampir tanpa jarak. Kata-kata yang baik berpindah dari satu orang kepada yang lain. Tetapi pada jarak sedekat itu, terkadang ada sesuatu yang ikut sampai bersama kata-kata: napas yang kurang nyaman. Kita mungkin pernah merasakannya dari orang lain. Tetapi justru di situlah persoalannya: bau mulut orang lain mudah kita kenali, sementara bau mulut sendiri hampir selalu luput dari kita. Bisa jadi, pada kesempatan lain, kitalah yang berada di posisi sebaliknya—berbicara dengan nyaman, sementara orang di hadapan kita diam-diam merasa kurang nyaman. Barangkali karena itulah membersihkan mulut bukan perkara yang sepenuhnya pribadi. Ada orang lain yang ikut...

Watake Kekeh: Antara Keteguhan dan Keangkuhan

Gambar
Watake Kekeh : Antara Keteguhan dan Keangkuhan Tentang keberanian untuk berubah, keteguhan mempertahankan kebenaran, dan keengganan mengakui kesalahan. ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Ada orang yang keras pendiriannya karena tidak ingin kehilangan kebenaran. Ada pula yang sama kerasnya karena tidak sanggup kehilangan muka. Keduanya mungkin sama-sama menolak untuk menyerah. Namun, yang satu sedang menjaga imannya, sementara yang lain barangkali hanya sedang melindungi harga dirinya. Orang Jawa menyebutnya watake kekeh . Sebuah ungkapan yang tidak selalu bernada celaan. Dalam keadaan tertentu, watak semacam ini justru diperlukan. Tanpanya, seseorang mungkin terlalu mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, terlalu cepat meninggalkan prinsip ketika kehilangan dukungan, atau terlalu gampang menukar keyakinan demi memperoleh penerimaan. Tetapi watak yang sama juga bisa menjadi penjara. Seseorang begitu lama mempertahankan pendiriannya hingga tak lagi mampu membedakan antara kebenara...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...