Postingan

Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs

Gambar
Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs Ketika Allah Bersumpah dengan Waktu, Ia Sedang Memperingatkan Kita tentang Diri Kita Sendiri Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak ada manusia yang bangkrut seketika. Kerugian terbesar selalu terjadi sedikit demi sedikit — tanpa kita sadari, tanpa terasa, tanpa suara. Demikian pula umur. Ia tidak pergi dalam satu malam. Ia pergi setiap hari, setetes demi setetes, bersama waktu yang terus mengalir dan tidak pernah menunggu. Setiap pagi kita membuka mata. Tapi jarang menyadari bahwa yang sebenarnya berkurang bukan hanya tanggal di kalender. Yang berkurang adalah jatah hidup kita. Dan pertanyaan yang paling mendesak bukan "apa yang akan kulakukan hari ini?" melainkan "apakah hari ini, aku semakin dekat kepada Allah — atau semakin jauh?" Ada sebuah surah dalam Al-Qur'an yang hanya terdiri dari tiga ayat, namun cukup untuk membuat seorang imam besar berkata bahwa seandainya Allah tid...

Tawakal di Era Overthinking

Gambar
Tawakal di Era Overthinking Mengapa Semakin Banyak Pilihan Hidup, Semakin Sedikit Ketenangan Jiwa? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita bisa melacak pesawat yang sedang terbang ribuan kilometer di atas laut. Kita memiliki teknologi untuk memprediksi cuaca tujuh hari ke depan. Kita bisa memantau investasi setiap detik, mengukur detak jantung lewat jam tangan, dan merencanakan karier sejak bangku kuliah. Namun kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pekan depan. Kita tidak bisa menjamin bahwa yang kita rencanakan hari ini akan berjalan seperti yang kita bayangkan. Dan ketika semua layar akhirnya dimatikan, sering kali kita berhadapan dengan satu hal yang tidak bisa ikut dimatikan: kecemasan kita sendiri. Inilah paradoks zaman kita. Semakin banyak yang bisa dikendalikan, semakin banyak pula yang ingin kita kendalikan. Dan semakin banyak yang ingin kita kendalikan, semakin gelisah hati kita jadinya. Ini bukan kesimpulan seorang filsuf modern. Ini adalah jawaban Nabi ﷺ yang suda...

Adam Selamat karena Mengakui Kesalahan, Iblis Binasa karena Mempertahankan Harga Diri

Gambar
Adam Selamat karena Mengakui Kesalahan, Iblis Binasa karena Mempertahankan Harga Diri Pelajaran Tazkiyatun Nafs dari Hari Asyura dan Perjalanan Taubat Nabi Adam 'Alaihissalam Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah hari dalam kalender Islam yang menyimpan rahasia besar tentang jiwa manusia. Bukan rahasia tentang mukjizat yang menggetarkan, bukan pula tentang kemenangan yang mengagumkan. Rahasia itu jauh lebih personal, jauh lebih dekat dengan luka-luka yang kita sembunyikan dalam hati: hari ketika Allah menerima taubat Nabi Adam. Hari itu adalah Asyura, sepuluh Muharram. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Asyura adalah hari ketika tobat Nabi Adam diterima oleh Allah. Dalam sebuah riwayat juga disebutkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: هَذَا يَوْمٌ تَابَ اللَّهُ فِيهِ عَلَى قَوْمٍ، فَاجْعَلُوهُ صَلَاةً وَصَوْمًا "Ini adalah hari Allah menerima tobat suatu kaum. Maka jadikanlah hari itu sebagai hari salat dan puasa." (Hari yang dim...

Ketika Musuh Terbesar Tinggal di Dalam Dada

Gambar
Ketika Musuh Terbesar Tinggal di Dalam Dada Peta Jalan Mujahadah dari Al-Muhasibi hingga Ibnu Qayyim Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah pertanyaan yang terasa sederhana namun mengguncang jika direnungkan sungguh-sungguh: sudah berapa lama kita mengetahui bahwa marah itu merusak, ghibah itu haram, riya' itu membatalkan amal — namun masih terus melakukannya? Masalah utama manusia bukan kekurangan ilmu. Masalahnya adalah kekalahan dari diri sendiri. Inilah yang para ulama tazkiyatun nafs sebut sebagai medan perjuangan paling nyata: mujahadah an-nafs . Bukan pertempuran di medan fisik. Bukan debat di forum-forum. Melainkan pertarungan sunyi yang berlangsung di dalam dada, setiap hari, setiap saat. Perlu dicatat sejak awal: ungkapan populer yang sering beredar, "jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu," berasal dari riwayat yang diperselisihkan dan dinilai lemah oleh banyak ahli hadits. Namun makna pentingnya tetap didukung oleh banyak nash yang shahih — di antaran...

Ketika Ego Memakai Jubah Agama

Gambar
Ketika Ego Memakai Jubah Agama Jejak Dzul Khuwaishirah hingga Ekstremisme Modern: Sebuah Tinjauan Tazkiyatun Nufus Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Selasa, 7 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 M Tidak ada seorang Khawarij yang bangun pagi lalu berkata dalam hatinya, "Hari ini aku ingin keluar dari Islam yang benar." Tidak ada seorang pelaku kekerasan atas nama agama yang terbangun di penghujung malam lalu membatin, "Hari ini aku akan menjadi musuh kaum muslimin." Sebaliknya, hampir semuanya bangun dengan satu keyakinan yang terasa suci: aku sedang membela agama Allah. Banyak bentuk ekstremisme keagamaan modern memperlihatkan pola psikologis dan spiritual yang sangat mirip dengan pola yang pernah diperingatkan Nabi ﷺ dalam fenomena Khawarij — meski tidak semua kekerasan atas nama agama identik satu sama lain secara hukum dan latar belakangnya. Di sinilah letak tragedi terbesar yang pernah menimpa umat ini. Bukan ketika seorang muslim meninggalkan agamanya secara terang-t...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya