Postingan

Bolehkah Menunda Salat karena Sibuk?

Gambar
Persadani.org  ·  Kajian Fiqih & Tazkiyatun Nafs Bolehkah Menunda Salat karena Sibuk? Hukum Menunda Salat karena Kerja, Kuliah, dan Produktivitas Modern Oleh Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | 29 Mei 2026  ·  12 Dzulhijjah 1447 H Meeting belum selesai. Deadline tinggal sejam. Grup kantor tidak berhenti berbunyi. Azan berkumandang—dan dalam hati terlintas: nanti dulu. Sebagian orang tidak sedang sengaja meremehkan salat. Mereka justru sedang berusaha bertahan: mengejar target, menjaga pekerjaan agar tidak hilang, menyelesaikan studi, memenuhi tanggung jawab keluarga. Itu semua nyata. Dan bukan kesalahan semata. Problemnya menjadi rumit ketika kondisi itu perlahan berubah—dari situasi mendesak yang kadang terjadi, menjadi kebiasaan yang tidak lagi disadari. Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia a...

Utang Kecil yang Diremehkan

Gambar
Utang Kecil yang Diremehkan ‣ Mengapa Islam Sangat Serius Membahas Hak Sesama Manusia Oleh Tsaqif Rasyid Dai persadani.org — 29 Mei 2026 / 12 Dzulhijjah 1447 H Dosa yang tampak ringan di dunia, tetapi sangat berat di akhirat. Ada yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi Ada hal-hal kecil yang anehnya tidak pernah benar-benar pergi. Bukan karena nilainya besar. Tetapi karena hati — sehalus apapun ia — diam-diam tahu: ada yang belum selesai. Barangkali kita pernah mengalaminya. Ada pinjaman kecil yang suatu hari kita lupa kembalikan. Atau memang kita ingat — hanya saja selalu ada alasan untuk menundanya. "Nanti saja." "Sebentar lagi." "Dia juga belum nagih." Dan anehnya, semakin lama, hal kecil itu justru semakin sulit dilupakan. Bukan utangnya yang berat. Tetapi rasa "punya tanggungan" itulah yang menjadi beban — diam-diam menguras ketenangan yang sulit dijelaskan. Ada kegelisahan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Dan mun...

Motivasi Bekerja Secara Profesional dalam Islam: Dalil, Psikologi Modern, dan Teladan Salaf

Gambar
Motivasi Bekerja Secara Profesional dalam Islam: Dalil, Psikologi Modern, dan Teladan Salaf Bagaimana Islam memandang profesionalisme kerja? Simak dalil Al-Qur'an, hadits, teladan salaf, psikologi modern, dan kebiasaan praktis membangun etos kerja profesional seorang Muslim. Ada sebuah cerita yang mungkin tidak terdengar heroik, tetapi menyimpan pelajaran yang dalam. Seorang tukang bangunan bekerja di sebuah proyek renovasi masjid. Ia mengerjakan bagian dinding yang berada di sudut tersembunyi — tidak akan terlihat oleh siapa pun setelah selesai dicat. Rekannya menyarankan, "Sudah, asal rata saja. Toh tidak kelihatan." Ia menolak. Ia ratakan, ia haluskan, ia kerjakan seperti bagian dinding yang paling tampak. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab pelan: "Yang melihat itu bukan hanya tamu masjid. Allah melihat." Itulah etos kerja Muslim yang sesungguhnya. Bukan bekerja karena diawasi atasan. Bukan profesional karena takut sanksi. Melainkan profesional k...

Makna Idul Adha: Ketika Takbir Berhenti, Ujian Sebenarnya Baru Dimulai

Gambar
Kajian Idul Adha  ·  Persadani.org Makna Idul Adha: Ketika Takbir Berhenti, Ujian Sebenarnya Baru Dimulai Idul Adha bukan puncak spiritualitas. Ia adalah titik transisi. Tsaqif Rasyid Dai  ·  Persadani.org Pagi Idul Adha selalu terasa istimewa. Takbir menggema sejak subuh. Masjid penuh sesak. Orang-orang saling memeluk di halaman. Grup keluarga ramai dengan ucapan dan foto kurban. Ada kegembiraan kolektif yang sulit dilukiskan — campuran kekhidmatan, kebersamaan, dan rasa syukur yang terasa nyata di dada. Tetapi dua atau tiga hari kemudian, hidup kembali seperti semula. Jalanan kembali biasa. Masjid kembali sepi. Percakapan hari raya perlahan menghilang. Dan kita — kita kembali ke rutinitas yang sama, dengan beban yang sama, dengan godaan yang sama. Maka pertanyaannya bukan seberapa khidmat pagi Idul Adha itu. Pertanyaannya adalah: apa yang tersisa setelah gema takbir berhenti? Ketika Semangat Tidak Lagi Ditopang Suasana Dalam psikologi perila...

Ketika Takbir Tak Lagi Membuat Mata Berkaca

Gambar
Ketika Takbir Tak Lagi Membuat Mata Berkaca Mengapa takbir yang dahulu membuat hati bergetar kini terasa biasa? Menyusuri makna kekhusyukan, kerasnya hati, dan pelajaran ruhani di balik gema Idul Adha. oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 10 Dzulhijjah 1447 H Suara takbir membumbung tinggi, menyentuh lapisan awan, menggema di antara menara dan jalanan yang baru terjaga. Ia menggetarkan langit. Tapi mengapa, justru di dalam dada kita, suaranya seperti tersesat di lorong yang sunyi? Lidah kita fasih mengucap, tubuh kita berdiri tegak, namun hati… hati kita hanya menunduk. Tak ikut bersujud. Tak ikut bergetar. Kita telah mahir merangkai gerakan ibadah, tapi pelan-pelan lupa merangkai rasa. Shalat menjadi jadwal, zikir menjadi hitungan, puasa sekadar pergantian kalender. Semua berjalan rapi, seperti jam dinding yang tak pernah lupa waktu, tapi tak pernah juga bertanya: "Untuk siapa semua ini?" Allah sendiri berfirman dengan nada rindu yang menegur lembut: ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya