Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti membedakan mana yang berat dan mana yang ringan, dan mulai melihat semuanya sebagai jalan pulang Oleh: Abdullah Madura Ada satu kegelisahan yang mungkin pernah singgah di hati kita masing-masing, meski jarang diucapkan. Kegelisahan itu berbunyi begini: mengapa rasanya lebih mudah mengeluh saat susah, dan lebih mudah lupa saat senang? Dua keadaan yang seharusnya melahirkan dua respons yang mulia, sabar dan syukur, justru sering kita balik. Kita bersabar dengan setengah hati saat lapang, dan kita menuntut penjelasan dari Allah saat sempit. Barangkali di situlah letak penyakit zaman ini, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa kebahagiaan harus datang instan, dan penderitaan harus segera dijelaskan sebabnya. Rasulullah ﷺ, jauh sebelum istilah instant gratification lahir, sudah menyampaikan sebuah kalimat yang jika direnungkan pelan-pelan, mampu membongkar seluruh kegelisahan itu. عَجَبًا لِأَمْ...