Postingan

Sebelum Anak Belajar Membaca, Ia Sedang Membaca Kita

Gambar
Sebelum Anak Belajar Membaca, Ia Sedang Membaca Kita Orang Tua: Murabbi Sebelum Menjadi Pengajar Oleh: Tsaqif Rasyid Dai "Sebelum anak membaca Al-Qur'an, ia lebih dahulu membaca ayahnya. Sebelum anak memahami doa, ia lebih dahulu memahami bagaimana ibunya berdoa." Ada seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan bekal untuk anaknya yang masih kelas dua sekolah dasar. Anak itu tidak pernah tahu berapa waktu yang habis untuk menggoreng telur atau memotong buah. Yang ia tahu hanya satu hal: ketika ia membuka kotak bekal di sekolah, selalu ada tulisan kecil di dalam tutupnya. Kadang hanya satu kalimat. Kadang hanya gambar matahari yang digambar tergesa-gesa. Bertahun-tahun kemudian, ketika anak itu dewasa dan punya anak sendiri, ia masih menyimpan beberapa tulisan itu di laci kamarnya. Bukan karena kalimatnya dalam. Tetapi karena di balik tulisan itu ia tahu: di pagi hari yang paling sibuk, ibunya sempat berhenti sejenak — dan memikirkannya. Anak tidak mengingat b...

Keluarga sebagai Ruang Tazkiyah

Gambar
Keluarga sebagai Ruang Tazkiyah Tauhid: Tempat Semua Perbaikan Dimulai — Bagian I Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada kegelisahan yang diam-diam menghuni banyak rumah tangga zaman ini. Kebutuhan materi terpenuhi, teknologi serba hadir — namun hati terasa jauh, ketenangan sulit datang, dan keluarga tak jarang menjadi medan yang melelahkan, bukan tempat yang memulihkan. Persoalan keluarga yang sesungguhnya bukan soal kurangnya uang atau kurangnya kata-kata yang tepat. Akarnya lebih dalam: hati yang belum benar-benar mengenal Allah dan berpulang kepada-Nya. Dan inilah yang kerap terlupakan: Allah tidak menciptakan manusia untuk sekadar membentuk keluarga yang harmonis atau meraih kebahagiaan duniawi. Ada tujuan yang jauh lebih besar: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ Wa mā khalaqtul jinna wal insa illā liya'budūn. "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) Keluarga dalam Isla...

Tazkiyatun Nafs Bersama Nabi Ayyub

Gambar
Tazkiyatun Nafs Bersama Nabi Ayyub Ketika Allah Mendidik Jiwa Melalui Kehilangan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Hampir seluruh kecemasan manusia modern berakar pada satu ketakutan yang sama: kehilangan. Kehilangan pekerjaan, kehilangan kesehatan, kehilangan orang yang paling dicintai, kehilangan citra diri yang telah dibangun bertahun-tahun. Kita mengira kehilangan adalah akhir dari segalanya. Padahal Al-Qur'an memperkenalkan kepada kita seorang nabi yang kehilangan hampir segalanya — harta, anak-anak, kesehatan, dan hampir seluruh manusia di sekelilingnya — namun tidak kehilangan satu hal yang paling penting: Allah. Dialah Nabi Ayyub alaihis salam . Dan kisah beliau bukan sekadar biografi seorang nabi yang sabar. Ia adalah cermin bagi setiap jiwa yang pernah merasakan kehilangan — cermin yang bila kita berani menatapnya dengan jujur, akan memperlihatkan satu pertanyaan yang paling dalam: kepada siapa sesungguhnya hati ini bergantung? Di antara hikmah terbesar dari kehilangan ...

Mengapa Al-Qur'an Memilih Kata Falāḥ, Bukan Najāḥ atau Fawz?

Gambar
Mengapa Al-Qur'an Memilih Kata Falāḥ , Bukan Najāḥ atau Fawz ? Rahasia mengapa Al-Qur'an tidak mengajarkan kita sekadar sukses, tetapi mengajarkan hidup yang benar-benar bertumbuh Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Najāḥ mengejar target. Falāḥ membentuk manusia. Fawz adalah buah yang Allah anugerahkan kepada manusia yang hidup dalam falāḥ . Di zaman ketika nilai seseorang sering diukur dari angka: angka gaji, angka pengikut, angka omzet, angka prestasi. Semua orang ingin successful . Semua orang berlomba menaiki tangga yang lebih tinggi, tanpa sempat bertanya — tangga itu bersandar di dinding yang mana. Gajinya naik. Followers bertambah. Jabatan meningkat. Namun tidur tetap gelisah. Rumah makin besar, hati makin sempit. Lalu muncul satu pertanyaan yang mengusik: Mengapa Al-Qur'an hampir tidak pernah menjadikan "kesuksesan" sebagai tujuan utama? Mengapa Al-Qur'an justru berulang kali memakai satu kata yang berbeda — kata yang terasa asing di teling...

Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs

Gambar
Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs Ketika Allah Bersumpah dengan Waktu, Ia Sedang Memperingatkan Kita tentang Diri Kita Sendiri Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak ada manusia yang bangkrut seketika. Kerugian terbesar selalu terjadi sedikit demi sedikit — tanpa kita sadari, tanpa terasa, tanpa suara. Demikian pula umur. Ia tidak pergi dalam satu malam. Ia pergi setiap hari, setetes demi setetes, bersama waktu yang terus mengalir dan tidak pernah menunggu. Setiap pagi kita membuka mata. Tapi jarang menyadari bahwa yang sebenarnya berkurang bukan hanya tanggal di kalender. Yang berkurang adalah jatah hidup kita. Dan pertanyaan yang paling mendesak bukan "apa yang akan kulakukan hari ini?" melainkan "apakah hari ini, aku semakin dekat kepada Allah — atau semakin jauh?" Ada sebuah surah dalam Al-Qur'an yang hanya terdiri dari tiga ayat, namun cukup untuk membuat seorang imam besar berkata bahwa seandainya Allah tid...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya