Postingan

Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh

Gambar
Popularitas yang Menakutkan Orang Saleh Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026 Di zaman ketika manusia lebih takut dilupakan daripada takut kehilangan dirinya sendiri, ada satu perlombaan yang terasa makin sunyi sekaligus melelahkan: perlombaan untuk terlihat. Semua serba dihitung — berapa followers , berapa likes , berapa banyak yang mengenal nama kita. Ada istilah yang kini menjadi kecemasan tersendiri: fear of irrelevance — ketakutan tidak relevan, ketakutan tidak diperhatikan, ketakutan senyap di tengah keramaian. Tetapi ada tiga tokoh dalam sejarah Islam yang justru takut pada hal yang sebaliknya. Mereka takut menjadi terkenal . Bukan karena rendah diri atau anti sosial — melainkan karena mereka memahami sesuatu yang sangat dalam: bahwa popularitas bisa menjadi racun yang masuk secara samar ke dalam hati, perlahan menggeser niat, nyaris tanpa terasa. Tiga tokoh itu adalah Umar bin Abdul Aziz ( عمر بن عبد العزيز ), Imam an-Nawawi ( يحي...

Dosa Jari di Smartphone

Gambar
Dosa Jari di Smartphone Ghibah, Scroll, dan Jejak Digital yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Sabtu, 30 Dzulqa'dah 1447 H / 17 Mei 2026 Sebagian dosa hari ini tidak lagi diucapkan. Ia diketik. Tidak lagi dibisikkan. Ia di- forward . Tidak lagi terjadi di majelis. Ia hidup di grup WhatsApp, kolom komentar, reels , dan story . Allah ﷻ berfirman: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun 'atīd "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS Qāf: 18) Jika ucapan lisan dicatat, bagaimana dengan tulisan, komentar, emoji sinis, dan tombol share ? Para fuqaha telah menegaskan satu kaidah: الْكِتَابُ كَالْخِطَابِ Al-kitābu kal-khiṭāb "Tulisan kedudukannya seperti ucapan langsung." (Kaidah fikih, digunakan para fuqaha dalam bab muamalah, iqrar, dan akad) Kaidah ini bukan berarti setiap tulisan ot...

Trump, Iran, dan Papan Catur yang Tidak Pernah Diam: Membaca Langkah Geopolitik Washington di Tengah Bara Timur Tengah

Trump, Iran, dan Papan Catur yang Tidak Pernah Diam: Membaca Langkah Geopolitik Washington di Tengah Bara Timur Tengah Oleh: Nuraini Persadani Ahad, 30 Dzulqa'dah 1447 H / 17 Mei 2026 M Ketika Donald Trump kembali ke Gedung Putih untuk periode keduanya, banyak pengamat sudah menduga: Timur Tengah tidak akan tenang. Namun tak banyak yang memperkirakan bahwa dalam waktu singkat, kawasan itu akan berubah menjadi medan perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran — konflik yang hingga kini telah menelan puluhan nyawa, mengguncang harga minyak dunia, dan menempatkan Selat Hormuz sebagai titik paling kritis dalam peta energi global. Laporan ini mencoba memetakan langkah-langkah geopolitik Trump dalam konflik Iran-Israel-AS — dari ultimatum nuklir di Maret 2025 hingga ceasefire yang Trump sendiri gambarkan sebagai "on massive life support" di Mei 2026. Kami menulisnya dengan memisahkan apa yang tampak terjadi di lapangan dari cara kami membacanya secara st...

Ketika Was-Was dalam Salat: Dilawan atau Diikuti?

Gambar
Ketika Was-Was dalam Salat: Dilawan atau Diikuti? Fikih Keraguan dan Tipuan yang Menguras Ketenangan Ibadah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Persadani.org | Ahad, 30 Dzulqa'dah 1447 H / 17 Mei 2026 Dua Wajah yang Sekilas Mirip Ada orang yang menjaga salatnya karena takut kepada Allah — dan dari ketakutan itu lahir ketenangan, kedisiplinan, dan kedekatan. Ada pula yang tersiksa dalam salatnya karena rasa takut yang tak lagi dituntun ilmu — dan dari ketakutan itu lahir pengulangan tanpa ujung, kelelahan jiwa, dan ibadah yang kehilangan nikmatnya. Sekilas, keduanya tampak sama: sama-sama serius, sama-sama tidak mau ceroboh. Padakin keduanya sangat berbeda. Dan syariat Islam ternyata sudah membedakan keduanya dengan sangat jelas. Artikel ini hadir untuk satu pertanyaan sederhana namun penting: ketika keraguan datang dalam salat — dilawan atau diikuti? Ini Saya Banget Takbir sudah diucapkan. Tangan sudah bersedekap. Lalu tiba-tiba muncul bisikan: "Sudah takbir belum...

Wudhu yang Sering Salah Tanpa Disadari

Gambar
Wudhu yang Sering Salah Tanpa Disadari Kesalahan Kecil yang Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah dan Menjauhkan Ketenangan Hati Oleh : Tsaqif Rasyid Dai  Kita berwudhu hampir setiap hari. Lima kali, bahkan lebih. Namun pernahkah kita berhenti dan bertanya: mengapa hati tetap berat setelah wudhu? Mengapa salat tetap terasa jauh, padahal wajah sudah dibasuh dan kaki sudah disiram air? Masalahnya mungkin bukan pada sah tidaknya wudhu kita. Tapi pada hal-hal kecil yang sudah lama kita lakukan tanpa sadar — yang perlahan mengikis kesempurnaan ibadah sekaligus menjauhkan ketenangan hati. Catatan penting sebelum membaca: Tidak semua kesalahan berikut membatalkan wudhu. Sebagian berkaitan dengan kesempurnaan, kekhusyukan, dan adab batin yang sering terlupakan. Namun justru di situlah sering tersembunyi sebab mengapa salat terasa kosong dan hati tetap gelisah. Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Mā'idah: 6: مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya