Postingan

Ketika Atasan Tidak Melihat: Amanah Kerja dalam Timbangan Allah

Gambar
Ketika Atasan Tidak Melihat: Amanah Kerja dalam Timbangan Allah Amanah yang Tidak Terlihat Manusia, Tetapi Selalu Tercatat di Sisi Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Laporan harian belum dibuka. Tangan lebih sibuk menggulir layar media sosial. Ketika langkah atasan terdengar mendekat, tiba-tiba layar berganti ke lembar kerja — seolah dari tadi sibuk bekerja. Skenario ini terasa familiar bagi banyak orang. Dan mungkin, di suatu sudut hati, terselip pertanyaan yang belum berani dijawab dengan jujur: Apakah gaji yang saya terima setiap bulan ini masih halal? Dalam Islam, hubungan antara pekerja dan pemberi kerja bukan sekadar kontrak duniawi yang selesai saat tanda tangan di atas kertas. Ia adalah amanah — sebuah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala, di tempat di mana tidak ada manipulasi absensi dan tidak ada laporan yang bisa diperindah. Perintah yang Bukan Sekadar Anjuran Allah Ta'ala menurunkan fir...

Mengapa Salat Belum Mengubah Akhlak Kita?

Gambar
Mengapa Salat Belum Mengubah Akhlak Kita? Ketika Fikih Bertemu Tazkiyatun Nafs di Hadapan QS. Al-'Ankabut: 45 Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 2 Muharram 1448 H / 18 Juni 2026 Ada orang yang tidak pernah meninggalkan salat berjamaah, tetapi masih sulit memaafkan saudaranya. Ada yang menjaga shaf pertama di masjid, tetapi mudah marah kepada keluarganya di rumah. Ada yang hafal banyak doa dan bacaan salat, tetapi hatinya tetap gelisah ketika kehilangan pujian manusia. Fenomena ini bukan untuk meremehkan salat. Justru karena salat begitu agung, kita bertanya dengan penuh kejujuran: mengapa pengaruh yang dijanjikan Al-Qur'an belum sepenuhnya tampak dalam diri kita? Di sinilah muncul pertanyaan yang sesungguhnya bukan tentang keraguan terhadap Islam, melainkan tentang kerinduan yang dalam: Jika salat adalah tiang agama, mengapa ia belum mengubah akhlak? Pertanyaan ini layak dijawab dengan jujur dan serius. Sebab di satu sisi, kita tidak boleh meremehkan salat hanya karena mel...

Halāwatul Īmān: Ketika Iman Tidak Lagi Sekadar Diyakini, Tetapi Dirasakan

Gambar
Halāwatul Īmān: Ketika Iman Tidak Lagi Sekadar Diyakini, Tetapi Dirasakan Menemukan Tiga Kunci Hati yang Diajarkan Nabi ﷺ untuk Merasakan Manisnya Iman Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Iman yang dirasakan hati menghadirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. (Foto cover: Ilustrasi Halāwatul Īmān) Ada sebuah paradoks yang jarang kita bicarakan secara terbuka: mengapa sebagian orang yang semakin banyak ilmu agamanya justru semakin kering secara spiritual? Mereka hafal dalil-dalilnya, memahami hukum-hukumnya, mampu menjelaskannya kepada orang lain — namun ada kekosongan yang tetap tersisa setiap kali mereka menutup mushaf atau selesai shalat. Dan di sisi lain, ada orang yang mungkin tidak sebanyak itu ilmunya, namun bangun sebelum fajar dengan hati yang ringan. Ia membentangkan sajadah bukan karena terpaksa, tetapi karena memang rindu. Ia menangis saat membaca Al-Qur'an. Ia tetap teguh meski dunia menawarkan harga yang sangat tinggi untuk ia tinggalkan imannya. Apa...

Ayat Kursi dan Terapi Orientasi Hati: Ketika Mengenal Allah Menjadi Obat yang Tidak Bisa Diresepkan Dokter

Gambar
Ayat Kursi dan Terapi Orientasi Hati: Ketika Mengenal Allah Menjadi Obat yang Tidak Bisa Diresepkan Dokter Sebuah Pembacaan Tazkiyatun Nufus atas Ayat Paling Agung dalam Al-Qur'an — untuk Jiwa yang Lelah di Tengah Dunia yang Tidak Pernah Berhenti Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Pukul sebelas malam. Laptopnya sudah ditutup sejak tiga jam lalu. Tetapi ia masih duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang tidak sedang menampilkan apapun yang penting. Pekerjaannya selesai. Anak-anaknya sudah tidur. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan malam ini — atau begitulah seharusnya. Yang ia rasakan bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Bukan juga kelelahan fisik yang bisa diselesaikan dengan tidur lebih awal. Itu adalah sesuatu yang lebih halus dan lebih dalam: semacam kekosongan yang tidak punya nama, yang hadir justru ketika semua urusan sudah beres. Ia meletakkan ponsel. Berbaring. Dan pikirannya — alih-alih ikut beristirahat — justru mulai bekerja lebih keras. Ini bukan cerita tentang...

Al-Ḥārith al-Muḥāsibī: Imam Muhasabah dan Penjaga Hati dalam Tradisi Islam Klasik

Gambar
Al-Ḥārith al-Muḥāsibī: Imam Muhasabah dan Penjaga Hati dalam Tradisi Islam Klasik Dari Basrah ke Baghdad, Seorang yang Bergulat dengan Hatinya Sendiri dan Mewariskannya kepada Peradaban Oleh: Nuraini Persadani Ada ulama yang terkenal karena fatwanya. Ada yang dikenang karena kekuasaannya. Namun ada seorang ulama yang dikenang bukan karena satu pun dari itu — melainkan karena keberaniannya mengadili dirinya sendiri setiap malam, dalam kegelapan yang ia pilih sendiri. Ia adalah Al-Ḥārith bin Asad al-Muḥāsibī . Para penulis tasawuf klasik sering menggambarkannya sebagai "penjaga hati" dan "dokter penyakit batin" — bukan sekadar julukan sastra, melainkan cerminan dari seluruh orientasi hidupnya. Fondasi yang ia letakkan kemudian dikembangkan oleh Imam Al-Junaid dan disistematisasikan secara luas oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin . Catatan redaksi: Sebagian fragmen dalam artikel ini berasal dari kitab-kitab manaqib dan tabaqat yang ditulis untuk me...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya