Postingan

Dua Sayap Menuju Falāḥ

Gambar
Dua Sayap Menuju Falāḥ Ketika Takut dan Harap Menjadi Kompas Spiritual Menuju Falāḥ dan Al-Fawz Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada dua perasaan yang selalu hadir dalam hati setiap manusia, meski sering tidak disadari asalnya. Satu membuatnya berhati-hati. Satu lagi membuatnya tetap melangkah. Yang pertama menahan agar tidak jatuh terlalu jauh. Yang kedua mendorong agar tidak berhenti terlalu cepat. Islam menyebut keduanya khauf dan raja'—takut dan harap. Namun keduanya bukan tujuan pada dirinya sendiri. Keduanya adalah instrumen yang mengarahkan hati menuju falāḥ, yaitu keberhasilan hidup yang utuh menurut Al-Qur'an: memperoleh seluruh kebaikan dan terlindungi dari segala keburukan, baik di dunia maupun di akhirat. Dari falāḥ inilah perjalanan bermuara pada al-fawz, kemenangan hakiki di sisi Allah. Khauf menjaga arah agar tidak menyimpang. Raja' memberi tenaga agar tidak berhenti di tengah jalan. Jika dibaca melalui perspektif maqāṣid syariah, khauf dapat dipahami seba...

Fragmen Kehidupan Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Dari Lorong Madrasah Menuju Penyucian Jiwa

Gambar
Fragmen Kehidupan Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Dari Lorong Madrasah Menuju Penyucian Jiwa Kisah seorang anak penjaga madrasah yang tumbuh menjadi dokter jiwa umat Oleh: Nuraini Persadani Seorang anak kecil tumbuh di lorong-lorong sebuah madrasah di Damaskus. Hari-harinya diwarnai suara guru yang mengajar, lembaran kitab yang dibuka satu demi satu, dan para penuntut ilmu yang datang silih berganti dari berbagai penjuru kota. Tidak ada yang menyangka, anak penjaga madrasah itu kelak menjadi salah satu ulama yang paling banyak menghidupkan hati kaum muslimin, bahkan hingga berabad-abad sesudahnya. Namanya sesungguhnya bukan nama keluarga sebagaimana banyak dikira. "Qayyim" adalah sebutan bagi pengelola sebuah madrasah, dan ayah beliau adalah pengelola Madrasah al-Jauziyah. Dari sanalah, Muhammad bin Abi Bakar dikenal sebagai anak sang Qayyim, hingga masyhur namanya sebagai Ibnu Qayyim al-Jauziyah—lahir pada tahun 691 Hijriah, bernapas sejak kecil di tengah aroma kitab dan ...

Perpres 111/2025: Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Dicantumkan dalam Analisis Ancaman Nonmiliter Negara

Gambar
Perpres 111/2025: Ketika "Penyebaran Budaya LGBTQ" Dicantumkan dalam Analisis Ancaman Nonmiliter Negara Polemik unggahan Pride Month di sebuah kampus negeri membuat publik kembali membaca ulang satu lampiran peraturan yang telah berlaku sejak akhir tahun lalu Oleh: Nuraini Persadani Sebuah unggahan bertema Pride Month dari unit kegiatan mahasiswa di salah satu kampus negeri memicu perdebatan luas di media sosial. Di tengah polemik tersebut, perhatian publik kembali tertuju pada Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Beleid ini sebenarnya bukan produk baru. Presiden Prabowo Subianto telah menandatanganinya sejak 24 Oktober 2025. Yang membuatnya ramai diperbincangkan belakangan adalah isi lampirannya yang kembali disorot: penyebaran budaya LGBTQ tercantum sebagai salah satu contoh ancaman nonmiliter dalam dimensi sosial-budaya. Apa Sebenarnya Perpres Nomor 111 Tahun 2025? Perpres ini berjudul lengkap Kebijakan Umum Pertahanan...

Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri

Gambar
Ketika Sebuah Berita Menjadi Cermin Diri Dari Polemik LGBT menuju Muhasabah tentang Syahwat, Zina, dan Jalan Taubat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada kalanya sebuah berita tidak berhenti sebagai informasi. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan keadaan hati kita sendiri. Polemik mengenai LGBT yang kembali mencuat beberapa waktu terakhir adalah salah satunya. Sebuah video pesta di sebuah tempat hiburan malam di Karawang menyebar cepat di linimasa. Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah akun media sosial memanipulasi foto keluarga untuk mempromosikan gagasan tentang pengasuhan anak oleh pasangan sesama jenis. Dua peristiwa yang berbeda bentuk, namun oleh banyak pihak dibaca sebagai satu tanda yang sama: sesuatu yang dahulu disembunyikan, kini tampil terang-terangan. Majelis Ulama Indonesia meresponsnya dengan tegas. Berlandaskan Fatwa Nomor 57 Tahun 2014, MUI menegaskan bahwa perilaku lesbian, gay, dan sodomi adalah keharaman yang termasuk kategori jarimah , sebuah pelanggaran yan...

Rumah: Madrasah Pertama Tauhid

Gambar
Rumah: Madrasah Pertama Tauhid Mengapa fondasi keimanan seorang anak jauh lebih banyak dibangun oleh suasana rumah daripada banyaknya ceramah yang ia dengar Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Dalam tulisan-tulisan sebelumnya kita telah melihat bahwa seluruh perbaikan seorang hamba bermula dari tauhid, bahwa keluarga adalah ruang tazkiyah pertama, dan bahwa orang tua adalah murabbi sebelum ia menjadi pengajar. Kini pertanyaannya bergeser satu langkah lebih dekat: di manakah semua itu, untuk pertama kalinya, benar-benar dijalankan? Jawabannya sederhana, namun jarang direnungkan sedalam yang seharusnya: di rumah. Seorang bayi mendengar adzan sebelum ia mengerti apa artinya. Ia merasakan tangan ibunya yang gemetar ketika berdoa, jauh sebelum ia bisa mengucap satu huruf pun. Ia dibisikkan doa di telinganya menjelang tidur, dibacakan basmalah setiap kali disusui, dan tanpa disadarinya, ia sedang direkam oleh sesuatu yang jauh lebih dalam dari ingatan: fitrahnya sendiri. Bayangkan rumah sebaga...

Mengapa Shalat Belum Mengubah Hidup Kita? Menyingkap Shalat, Tazkiyah, Falāḥ, dan Fawz

Gambar
Mengapa Shalat Belum Mengubah Hidup Kita? Menyingkap Shalat, Tazkiyah, Falāḥ, dan Fawz Sebuah renungan tentang manusia, bukan sekadar tentang ibadah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak pernah dalam sejarah manusia ada begitu banyak alat untuk menghemat waktu. Namun tidak pernah pula manusia merasa sesibuk hari ini. Tidak pernah ada begitu banyak teknologi komunikasi yang menjembatani jarak. Namun kesepian justru menjadi epidemi yang dibicarakan di mana-mana. Tidak pernah ada begitu banyak kelas motivasi yang mengajarkan cara meraih sukses. Namun kecemasan tetap menjadi teman setia yang menemani hari demi hari. Di tengah semua ironi itu, jutaan Muslim tetap menunaikan shalat lima kali sehari. Mereka berdiri, membaca, ruku', sujud — berulang, konsisten, sering sejak kanak-kanak. Lalu mengapa hidup belum juga berubah? Mungkin masalahnya bukan karena kita tidak shalat. Mungkin masalahnya karena kita memahami shalat hanya sebagai kewajiban yang harus digugurkan, bukan sebagai d...

Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"?

Gambar
Mengapa Allah Tidak Berfirman "Qad Aflaha Man Shalla"? Rahasia Mengapa Tazkiyah Menjadi Tujuan Seluruh Ibadah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu kalimat dalam Al-Qur'an yang, bila direnungkan dengan tenang, dapat mengguncang cara kita memandang seluruh ibadah yang kita kerjakan selama ini. Kalimat itu sederhana, hanya empat kata, namun di baliknya tersimpan isyarat besar tentang apa yang sesungguhnya Allah cari dari setiap sujud, setiap puasa, setiap zakat yang kita keluarkan. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا Qad aflaha man zakkāhā "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams: 9) Bayangkan sejenak jika ayat itu berbunyi qad aflaha man shalla , "sungguh beruntung orang yang shalat." Tentu tidak ada yang merasa janggal. Bukankah shalat memang rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, tiang yang menyangga seluruh bangunan agama? Namun justru karena Allah tidak memilih redaksi itu, kita diajak merenungkan sesuatu yang jau...

Menjaga Hati Sebelum Menjaga Negeri

Gambar
Menjaga Hati Sebelum Menjaga Negeri Refleksi Hari Bhayangkara tentang Amanah dan Tazkiyatun Nafs Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap bangsa memerlukan penjaga. Mereka berdiri di garis depan menjaga keamanan, ketertiban, dan rasa tenteram masyarakat. Karena itulah setiap 1 Juli bangsa Indonesia memperingati Hari Bhayangkara sebagai penghormatan atas amanah besar tersebut. Namun di balik seragam, pangkat, dan simbol-simbol pengabdian, tersimpan satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapakah yang menjaga seorang penjaga? Aturan dapat mengawasi tindakan. Teknologi dapat merekam perilaku. Atasan dapat mengevaluasi kinerja, dan masyarakat dapat memberi penilaian lewat berbagai kanal yang kini begitu cepat dan terbuka. Tetapi ketika seseorang berada sendirian, di ruang gelap tanpa kamera, di hadapan godaan yang tidak akan pernah diketahui siapa pun, hanya ada satu penjaga yang tetap hidup di dalam dirinya. Bukan seragam, bukan jabatan, melainkan hati yang bertakwa. Peradaban tidak r...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...