Postingan

Watake Kekeh: Antara Keteguhan dan Keangkuhan

Gambar
Watake Kekeh : Antara Keteguhan dan Keangkuhan Tentang keberanian untuk berubah, keteguhan mempertahankan kebenaran, dan keengganan mengakui kesalahan. ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Ada orang yang keras pendiriannya karena tidak ingin kehilangan kebenaran. Ada pula yang sama kerasnya karena tidak sanggup kehilangan muka. Keduanya mungkin sama-sama menolak untuk menyerah. Namun, yang satu sedang menjaga imannya, sementara yang lain barangkali hanya sedang melindungi harga dirinya. Orang Jawa menyebutnya watake kekeh . Sebuah ungkapan yang tidak selalu bernada celaan. Dalam keadaan tertentu, watak semacam ini justru diperlukan. Tanpanya, seseorang mungkin terlalu mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, terlalu cepat meninggalkan prinsip ketika kehilangan dukungan, atau terlalu gampang menukar keyakinan demi memperoleh penerimaan. Tetapi watak yang sama juga bisa menjadi penjara. Seseorang begitu lama mempertahankan pendiriannya hingga tak lagi mampu membedakan antara kebenara...

Becik Ketitik, Olo Ketoro

Gambar
  Becik Ketitik, Olo Ketoro Ketika kebaikan dilupakan dan kesalahan terus dikenang ✒️ Tsaqif Rasyid Dai  🌐 persadani.org   Ada orang yang bertahun-tahun menerima kebaikan dari seseorang. Ia pernah ditolong ketika kesulitan, didampingi ketika menghadapi persoalan, bahkan menikmati hasil dari pengorbanan yang tidak sedikit. Namun, karena satu perbuatan yang dianggap tercela, seluruh penilaiannya berubah. Kebaikan yang dahulu begitu berarti seolah tidak pernah terjadi. Ada pula seseorang yang setiap bulan menyisihkan sebagian rezekinya untuk memberikan santunan uang dan beras kepada keluarga yang membutuhkan. Semula bantuan itu diterima dengan penuh rasa syukur. Namun, setelah berlangsung bertahun-tahun, pemberian yang semula merupakan kemurahan hati perlahan dianggap sebagai kewajiban. Ketika suatu bulan bantuan belum datang, penerimanya menagih seolah sedang menagih utang. Dua peristiwa yang berbeda, tetapi memperlihatkan persoalan batin yang serupa: manusia dapat begitu ...

Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan

Gambar
Ojo Dumeh: Sebab Hari-Hari Itu Dipergilirkan Pagi itu ia masih duduk sebagai seorang pejabat tinggi negara. Di hadapannya ada mikrofon, berkas-berkas, dan orang-orang yang mendengarkan penjelasannya. Di tengah rapat, sebuah kabar datang. Ia meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian, jabatan itu telah beralih kepada orang lain. Begitulah dunia memperlihatkan wataknya. Kadang ia tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menunjukkan betapa dekat jarak antara “sedang menjabat” dan “pernah menjabat”, antara orang yang ditunggu kedatangannya dan orang yang kursinya telah ditempati penggantinya. Orang Jawa mempunyai pitutur sederhana untuk keadaan semacam ini: ojo dumeh . Jangan mentang-mentang. Bukan berarti jangan menjadi kaya, pemimpin, orang berilmu, atau menikmati keberhasilan. Ojo dumeh adalah peringatan agar sesuatu yang sedang berada dalam genggaman tidak membuat kita lupa bahwa ia dapat berpindah. Jangan karena hari ini berkuasa lalu merasa akan selalu berkuasa, karena har...

“Nanti”: Kata Pendek yang Diam-Diam Menghabiskan Umur

Gambar
  “Nanti”: Kata Pendek yang Diam-Diam Menghabiskan Umur Dari “mengko disik” menuju taswīf: tentang kebaikan yang kita setujui, tetapi terus kita tunda ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Orang Jawa akrab dengan ungkapan, “Sabar yo, mengko disik.” Tenang dulu, nanti saja. Tidak ada yang salah dengan mengko . Ada perkara yang memang lebih baik ditunda: jawaban ketika marah, keputusan ketika pikiran keruh, atau tindakan yang masih memerlukan pertimbangan. Tidak semua ketergesaan adalah kebaikan, sebagaimana tidak semua penundaan merupakan kelalaian. Namun, mengko juga dapat menjadi tempat yang sangat nyaman untuk menyimpan sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu harus dilakukan. Mengko sowan, mengko njaluk ngapura, mengko ngaji maneh, mengko nek wis longgar. Nanti mengunjungi orang tua, nanti meminta maaf, nanti mengaji lagi, nanti kalau sudah longgar. Kita tidak menolak semua kebaikan itu. Kita menyetujuinya, bahkan mungkin sungguh-sungguh berniat melakukannya. Hanya saja, bukan...

Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja?

Gambar
Sing Penting Anteng: Benarkah Rumah Kita Baik-Baik Saja? Tentang rasa aman, ego yang ingin menang, keterikatan yang memudar, dan keluarga yang belajar memilih apa yang lebih dekat kepada ridha Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ada rumah yang mudah dikenali sedang tidak baik-baik saja. Suara meninggi, ayah dan ibu saling mendiamkan, sementara anak belajar membaca suasana sebelum berani meminta sesuatu. Tetapi ada pula rumah yang tampaknya tenang. Anak pulang sekolah, makan, lalu berjam-jam bersama gawainya. Selama tugas selesai dan tidak mengganggu, keadaan terasa aman. Sing penting anteng. Ibu mempunyai komunitas, arisan, pertemanan, atau kegiatan sosial yang membuatnya bersemangat. Ayah pun demikian. Setelah penat bekerja, ada kawan kantor, hobi, kopi, perjalanan, atau sesekali healing . Tidak ada yang dengan sendirinya salah pada semua itu. Masalahnya mungkin baru terasa ketika setiap orang mempunyai tempat untuk merasa hidup, tetapi perlahan kehilangan kegembiraa...

Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati?

Gambar
Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati? Tentang mendengarkan Al-Qur'an, menjaga niat, dan musabaqah yang justru berlanjut ketika panggung telah sepi Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada banyak pintu untuk memasuki sebuah arena MTQ. Ada pintu bagi peserta, panitia, dewan hakim, tamu, dan pengunjung. Orang-orang datang dari berbagai arah, sebagian bersama keluarga, sebagian mencari tempat duduk terbaik, sementara dari kejauhan suara seorang qari mulai terdengar melalui pengeras suara. Ayat-ayat Allah mengalun. Sebagian orang menghentikan langkah, ada yang memejamkan mata, berbisik Masya Allah , atau mengangkat telepon genggam untuk merekam beberapa bagian yang terasa indah. Keindahan suara memang bagian dari pesona tilawah. Tajwid dijaga, makhraj diperhatikan, hafalan dipelihara, dan melalui musabaqah seperti ini umat menunjukkan bahwa Al-Qur'an masih memiliki tempat istimewa dalam kehidupan bersama. Namun di tengah keramaian itu ada sebuah pertanyaan y...

Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan

Gambar
Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan Belajar melepaskan peran, menemukan ruang pengabdian baru, dan tetap beramal ketika nama kita tak lagi dicari Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Matahari terbenam setiap sore bukan karena ia kalah oleh malam. Ia terbenam, lalu bulan mendapat giliran bersinar dan bintang-bintang memperoleh ruang untuk tampak. Esok pagi matahari terbit kembali, bukan sebagai pemenang yang merebut panggung, melainkan sebagai bagian dari pergiliran yang telah ditetapkan sejak semula. Kehidupan manusia mengikuti pola yang serupa, meskipun kita jarang menyadarinya ketika masih berada di titik terang. وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia...” (QS. Ali 'Imran: 140) Ayat ini hadir dalam rangkaian ayat tentang Perang Uhud. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pergiliran: ada masa menang dan kalah, lapang dan sempit, berada di depan lalu memberi tempat kepada yang lain. Masal...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...