Postingan

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti

Gambar
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti membedakan mana yang berat dan mana yang ringan, dan mulai melihat semuanya sebagai jalan pulang Oleh: Abdullah Madura Ada satu kegelisahan yang mungkin pernah singgah di hati kita masing-masing, meski jarang diucapkan. Kegelisahan itu berbunyi begini: mengapa rasanya lebih mudah mengeluh saat susah, dan lebih mudah lupa saat senang? Dua keadaan yang seharusnya melahirkan dua respons yang mulia, sabar dan syukur, justru sering kita balik. Kita bersabar dengan setengah hati saat lapang, dan kita menuntut penjelasan dari Allah saat sempit. Barangkali di situlah letak penyakit zaman ini, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa kebahagiaan harus datang instan, dan penderitaan harus segera dijelaskan sebabnya. Rasulullah ﷺ, jauh sebelum istilah instant gratification lahir, sudah menyampaikan sebuah kalimat yang jika direnungkan pelan-pelan, mampu membongkar seluruh kegelisahan itu. عَجَبًا لِأَمْ...

Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup

Gambar
Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup Setelah Pulang dan Menjaga Diri, Bagaimana Membebaskan Hati dari Keterikatan kepada Dunia? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di zaman yang serba cukup, tetapi manusia semakin sulit merasa cukup. Lemari lebih penuh, pilihan lebih luas, informasi tanpa batas—namun ketenangan justru terasa semakin jauh. Ini bukan semata soal kekurangan barang. Ini tentang hati yang terus didorong untuk menginginkan sesuatu yang baru, bahkan ketika yang lama belum benar-benar selesai dinikmati. Setelah Pulang, Ada Satu Penyakit yang Tersisa Jika taubat adalah kesadaran untuk kembali kepada Allah, dan wara' adalah usaha menjaga langkah agar tidak kembali tersesat, maka zuhud adalah babak berikutnya. Wara' bertanya, "Apa yang harus kuhindari agar tidak kembali tersesat?" Zuhud mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: "Apa yang tidak boleh menguasai hatiku, sekalipun ia halal?" Sebab prob...

Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia

Gambar
Syekh Nawawi al-Bantani: Ketika Ilmu dari Tanara Menjadi Cahaya bagi Dunia Bagaimana seorang ulama Nusantara membangun warisan ilmu yang menghubungkan Tanara, Haramain, dan pesantren — serta apa makna ilmu bagi Muslim zaman digital Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada nama-nama ulama yang dikenang karena khutbahnya. Ada yang dikenang karena keberaniannya. Ada pula yang dikenang karena kitab-kitab yang terus dibaca, bahkan ketika penulisnya telah lama meninggalkan dunia. Syekh Nawawi al-Bantani termasuk dalam golongan yang terakhir. Namun kisahnya bukan sekadar kisah tentang seorang penulis kitab yang produktif. Ia adalah kisah tentang perjalanan ilmu: dari Tanara menuju Makkah, dari seorang murid menjadi guru, dari seorang penuntut ilmu Nusantara menjadi bagian dari jaringan keilmuan Islam yang lebih luas. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ "Allah akan meninggikan orang-orang yang berima...

Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah?

Gambar
Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah? Jalan Pulang dari Kebisingan Dunia Menuju Khashyah, Muhasabah, dan Kelembutan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bismillahirrahmanirrahim. Kita hidup di zaman ketika manusia tidak kehilangan air mata. Kita masih menangis karena kehilangan, tersentuh oleh kisah, terharu oleh video, bahkan larut dalam drama yang hanya berlangsung beberapa menit di layar. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: kapan terakhir kali air mata kita jatuh karena takut kepada Allah? Kita sesungguhnya tidak perlu belajar bagaimana cara menangis. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana menghidupkan kembali hati. Manusia modern barangkali tidak kekurangan air mata. Ia kekurangan ruang batin untuk merasakan Allah. Ibnu Qayyim rahimahullah membedakan berbagai jenis tangisan: tangisan kasih sayang, tangisan takut dan pengagungan, tangisan cinta dan kerinduan, tangisan kegembiraan, tangisan kesedihan, hingga tangisan yang tidak lahir da...

Ketika Hati Meminta Petunjuk: Memahami Hidayah Al-Qur'an

Gambar
Ketika Hati Meminta Petunjuk: Memahami Hidayah Al-Qur'an Antara Mengetahui Kebenaran, Menerimanya, Menyucikan Jiwa, dan Istiqamah di Atasnya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap kali seorang mukmin berdiri dalam shalat dan membaca Surah Al-Fatihah, ada satu permohonan yang tidak pernah absen: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. "Tunjukilah kami jalan yang lurus." Permohonan ini diulang berkali-kali dalam sehari, bahkan oleh orang yang telah beriman. Mengapa seorang mukmin masih terus meminta hidayah, padahal ia telah mengenal Islam, telah mengucapkan syahadat, dan telah mengetahui jalan yang harus ditempuh? Karena hidayah bukan sesuatu yang cukup ditemukan sekali, lalu selesai. Hidayah adalah karunia yang harus dicari, diterima, dijaga, dipelihara, dan terus dimohonkan agar Allah meneguhkan hati di atasnya hingga akhir hayat. Dalam perjalanan seorang hamba, hidayah bukan sekadar mengetahui mana...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya