Postingan

Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia

Gambar
Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia Merawat Kemerdekaan Bukan dengan Seremoni, tapi dengan Kebersamaan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di era yang katanya paling terhubung sepanjang sejarah manusia. Grup WhatsApp memuat ratusan anggota, komunitas tumbuh dalam hitungan hari, crowdfunding bisa mengumpulkan dana ratusan juta hanya dalam semalam. Tetapi di balik keramaian digital itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: benarkah kita benar-benar bersama, atau sekadar berada di ruang yang sama? Banyak orang menginginkan perubahan, tetapi menunggu "orang lain" yang memulai lebih dulu. Banyak yang bersimpati pada persoalan bangsa, tetapi belum tentu bersedia turun tangan. Maka pertanyaannya bukan apakah Indonesia kekurangan orang baik — melainkan apakah kita kekurangan orang yang mau bergerak bersama. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti di pagi hari sebelum 17 Agustus. Ia adalah cara sebuah bangsa menjaga dirinya tetap utuh. ...

KH. Shaleh Darat: Ketika Ilmu Tidak Berhenti di Kepala

Gambar
KH. Shaleh Darat: Ketika Ilmu Tidak Berhenti di Kepala Ketika Perjalanan Ilmu Menjadi Perjalanan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada orang yang belajar agar dikenal sebagai orang berilmu. Ada pula yang belajar karena sadar bahwa dirinya adalah orang yang tidak tahu. Dan ada orang-orang yang perjalanan ilmunya justru mengajarkan kepada kita bahwa semakin dalam seseorang mengenal ilmu, semakin besar pula tuntutan untuk merendahkan hati di hadapan Allah. Di antara mereka adalah KH. Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani, yang lebih dikenal sebagai Syekh Shaleh Darat. Beliau lahir sekitar tahun 1820 M di Kedung Cumpleng, Mayong, Jepara, putra dari Kiai Umar—sosok kepercayaan Pangeran Diponegoro yang berjuang di Jawa bagian utara. Jika sang ayah mengangkat senjata melawan penjajah, sang putra memilih jalan juang yang berbeda: menyucikan zaman lewat ilmu, tulisan, dan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Beliau kelak menetap di kawasan pesisir utara Semarang bernama "Darat"—derm...

Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi

Gambar
Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi Muhasabah tentang Takabbur, Ujub, dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah ironi yang sering luput dari kesadaran kita. Seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun mempelajari cara menyembuhkan tubuh manusia, tetapi belum tentu pernah belajar bagaimana menyembuhkan hatinya sendiri. Belakangan publik kembali digemparkan oleh percakapan di ruang digital yang menyeret tenaga kesehatan dan pasien pengguna layanan jaminan kesehatan. Kata-kata yang dianggap merendahkan memantik amarah luas, dan wajar bila hal semacam itu layak dikritisi karena profesionalitas memang harus dijaga. Namun setelah kemarahan itu reda, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang: mengapa manusia bisa sampai merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya? Perilaku merendahkan orang lain dapat berakar pada penyakit hati seperti merasa diri lebih tinggi, senang ...

Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih

Gambar
Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih Antara Fatwa MUI, Muhammadiyah, NU, Lajnah Daimah, dan Standar AAOIFI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Menabung emas kini tidak lagi identik dengan menyimpan logam mulia di brankas rumah. Cukup dengan aplikasi di ponsel, seseorang bisa memiliki emas mulai dari pecahan gram terkecil, memantau harganya secara real time, dan mencairkannya kapan saja. Kemudahan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar bagi umat Islam: apakah kepemilikan emas semacam ini sah menurut syariat? Judul "emas digital" sering membuat pembaca mengira persoalannya ada pada medium digitalnya. Padahal bukan itu inti khilafnya. Emas dan perak sejak masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah ditetapkan sebagai komoditas ribawi yang memiliki aturan pertukaran ketat, dan seluruh perdebatan fatwa modern sebenarnya berputar pada satu persoalan inti: qabdh , yaitu serah terima secara syar'i. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai fatwa, mela...

Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri

Gambar
Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri Refleksi Kemerdekaan Sejati di Balik Gemuruh HUT ke-81 RI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita marah ketika negeri ini dijajah bangsa lain, tetapi sering tidak marah ketika hidup kita dijajah oleh kebiasaan yang kita pelihara sendiri. Bendera berkibar di setiap sudut jalan, namun sebagian jiwa justru berkibar mengikuti arah dorongan nafsunya. Dahulu penjajah datang membawa senjata. Hari ini penjajah datang dalam wujud yang lebih halus: ego yang tak pernah kenyang, gengsi yang tak pernah puas, layar yang tak pernah padam, dan keinginan yang tak pernah berkata cukup. Ironinya, kemerdekaan yang diraih dengan darah para syuhada bisa kehilangan maknanya ketika manusia justru kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri. Musuh paling dekat bukan selalu yang berada di luar pagar negeri, melainkan yang bersembunyi di dalam dada. Kemerdekaan Republik Indonesia adalah pembebasan dari penjajahan fisik, dari tanah yang dirampas dan kedaulatan yang direnggut p...

Merawat Kemerdekaan, Menguatkan Keislaman, Meneguhkan Keindonesiaan

Gambar
  Merawat Kemerdekaan, Menguatkan Keislaman, Meneguhkan Keindonesiaan Kontribusi Nyata untuk Umat dan Bangsa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade. Namun mengapa sebagian dari kita masih mudah dijajah oleh kebencian, hoaks, korupsi, dan hawa nafsu sendiri? Penjajah kolonial memang telah lama pergi, tetapi belum tentu setiap jiwa benar-benar merdeka. Realitas bangsa hari ini memperlihatkan retakan sosial yang perlu segera dipulihkan: polarisasi yang mudah tersulut narasi pemecah belah, ujaran kebencian yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, fanatisme kelompok yang mengoyak ukhuwah, hingga krisis integritas di ruang publik. Sebagian generasi muda pun lebih akrab dengan tren digital yang cepat berganti daripada memahami sejarah bangsanya sendiri. Maka pantas direnungkan: apa arti merdeka jika hati masih diperbudak hawa nafsu, kebencian, dan kepentingan sempit? Jejak Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan...

Bangkai pada Malam Hari

Gambar
Bangkai pada Malam Hari Jangan Sampai Hati Menjadi Bangkai Ketika Malam Berlalu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ungkapan jiifatun billail ("bangkai pada malam hari") dikenal dalam sejumlah riwayat yang diperselisihkan statusnya, serta dalam atsar para salaf, sebagai metafora bagi manusia yang tenggelam dalam kelalaian sementara seluruh energinya habis untuk urusan dunia. Tetapi mari kita luruskan tesisnya sejak awal, bukan "jangan menjadi bangkai pada malam hari," melainkan jangan sampai hati menjadi bangkai ketika malam berlalu . Ada orang yang tidur di malam hari tetapi hatinya hidup bersama Allah. Ada pula orang yang terjaga sepanjang malam tetapi hatinya tertidur dari Allah. "Bangkai malam" bukanlah label untuk manusia, melainkan metafora yang harus kita kritisi maknanya. Malam yang Menyingkap Kehidupan Hati Al-Qur'an memberikan gambaran yang mendalam tentang malam orang-orang beriman. Allah berfirman: وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...