Postingan

Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi

Gambar
Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi Muhasabah tentang Takabbur, Ujub, dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah ironi yang sering luput dari kesadaran kita. Seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun mempelajari cara menyembuhkan tubuh manusia, tetapi belum tentu pernah belajar bagaimana menyembuhkan hatinya sendiri. Belakangan publik kembali digemparkan oleh percakapan di ruang digital yang menyeret tenaga kesehatan dan pasien pengguna layanan jaminan kesehatan. Kata-kata yang dianggap merendahkan memantik amarah luas, dan wajar bila hal semacam itu layak dikritisi karena profesionalitas memang harus dijaga. Namun setelah kemarahan itu reda, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang: mengapa manusia bisa sampai merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya? Perilaku merendahkan orang lain dapat berakar pada penyakit hati seperti merasa diri lebih tinggi, senang ...

Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih

Gambar
Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih Antara Fatwa MUI, Muhammadiyah, NU, Lajnah Daimah, dan Standar AAOIFI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Menabung emas kini tidak lagi identik dengan menyimpan logam mulia di brankas rumah. Cukup dengan aplikasi di ponsel, seseorang bisa memiliki emas mulai dari pecahan gram terkecil, memantau harganya secara real time, dan mencairkannya kapan saja. Kemudahan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar bagi umat Islam: apakah kepemilikan emas semacam ini sah menurut syariat? Judul "emas digital" sering membuat pembaca mengira persoalannya ada pada medium digitalnya. Padahal bukan itu inti khilafnya. Emas dan perak sejak masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah ditetapkan sebagai komoditas ribawi yang memiliki aturan pertukaran ketat, dan seluruh perdebatan fatwa modern sebenarnya berputar pada satu persoalan inti: qabdh , yaitu serah terima secara syar'i. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai fatwa, mela...

Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri

Gambar
Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri Refleksi Kemerdekaan Sejati di Balik Gemuruh HUT ke-81 RI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita marah ketika negeri ini dijajah bangsa lain, tetapi sering tidak marah ketika hidup kita dijajah oleh kebiasaan yang kita pelihara sendiri. Bendera berkibar di setiap sudut jalan, namun sebagian jiwa justru berkibar mengikuti arah dorongan nafsunya. Dahulu penjajah datang membawa senjata. Hari ini penjajah datang dalam wujud yang lebih halus: ego yang tak pernah kenyang, gengsi yang tak pernah puas, layar yang tak pernah padam, dan keinginan yang tak pernah berkata cukup. Ironinya, kemerdekaan yang diraih dengan darah para syuhada bisa kehilangan maknanya ketika manusia justru kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri. Musuh paling dekat bukan selalu yang berada di luar pagar negeri, melainkan yang bersembunyi di dalam dada. Kemerdekaan Republik Indonesia adalah pembebasan dari penjajahan fisik, dari tanah yang dirampas dan kedaulatan yang direnggut p...

Merawat Kemerdekaan, Menguatkan Keislaman, Meneguhkan Keindonesiaan

Gambar
  Merawat Kemerdekaan, Menguatkan Keislaman, Meneguhkan Keindonesiaan Kontribusi Nyata untuk Umat dan Bangsa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade. Namun mengapa sebagian dari kita masih mudah dijajah oleh kebencian, hoaks, korupsi, dan hawa nafsu sendiri? Penjajah kolonial memang telah lama pergi, tetapi belum tentu setiap jiwa benar-benar merdeka. Realitas bangsa hari ini memperlihatkan retakan sosial yang perlu segera dipulihkan: polarisasi yang mudah tersulut narasi pemecah belah, ujaran kebencian yang menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, fanatisme kelompok yang mengoyak ukhuwah, hingga krisis integritas di ruang publik. Sebagian generasi muda pun lebih akrab dengan tren digital yang cepat berganti daripada memahami sejarah bangsanya sendiri. Maka pantas direnungkan: apa arti merdeka jika hati masih diperbudak hawa nafsu, kebencian, dan kepentingan sempit? Jejak Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan...

Bangkai pada Malam Hari

Gambar
Bangkai pada Malam Hari Jangan Sampai Hati Menjadi Bangkai Ketika Malam Berlalu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ungkapan jiifatun billail ("bangkai pada malam hari") dikenal dalam sejumlah riwayat yang diperselisihkan statusnya, serta dalam atsar para salaf, sebagai metafora bagi manusia yang tenggelam dalam kelalaian sementara seluruh energinya habis untuk urusan dunia. Tetapi mari kita luruskan tesisnya sejak awal, bukan "jangan menjadi bangkai pada malam hari," melainkan jangan sampai hati menjadi bangkai ketika malam berlalu . Ada orang yang tidur di malam hari tetapi hatinya hidup bersama Allah. Ada pula orang yang terjaga sepanjang malam tetapi hatinya tertidur dari Allah. "Bangkai malam" bukanlah label untuk manusia, melainkan metafora yang harus kita kritisi maknanya. Malam yang Menyingkap Kehidupan Hati Al-Qur'an memberikan gambaran yang mendalam tentang malam orang-orang beriman. Allah berfirman: وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُ...

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti

Gambar
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti membedakan mana yang berat dan mana yang ringan, dan mulai melihat semuanya sebagai jalan pulang Oleh: Abdullah Madura Ada satu kegelisahan yang mungkin pernah singgah di hati kita masing-masing, meski jarang diucapkan. Kegelisahan itu berbunyi begini: mengapa rasanya lebih mudah mengeluh saat susah, dan lebih mudah lupa saat senang? Dua keadaan yang seharusnya melahirkan dua respons yang mulia, sabar dan syukur, justru sering kita balik. Kita bersabar dengan setengah hati saat lapang, dan kita menuntut penjelasan dari Allah saat sempit. Barangkali di situlah letak penyakit zaman ini, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa kebahagiaan harus datang instan, dan penderitaan harus segera dijelaskan sebabnya. Rasulullah ﷺ, jauh sebelum istilah instant gratification lahir, sudah menyampaikan sebuah kalimat yang jika direnungkan pelan-pelan, mampu membongkar seluruh kegelisahan itu. عَجَبًا لِأَمْ...

Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup

Gambar
Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup Setelah Pulang dan Menjaga Diri, Bagaimana Membebaskan Hati dari Keterikatan kepada Dunia? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di zaman yang serba cukup, tetapi manusia semakin sulit merasa cukup. Lemari lebih penuh, pilihan lebih luas, informasi tanpa batas—namun ketenangan justru terasa semakin jauh. Ini bukan semata soal kekurangan barang. Ini tentang hati yang terus didorong untuk menginginkan sesuatu yang baru, bahkan ketika yang lama belum benar-benar selesai dinikmati. Setelah Pulang, Ada Satu Penyakit yang Tersisa Jika taubat adalah kesadaran untuk kembali kepada Allah, dan wara' adalah usaha menjaga langkah agar tidak kembali tersesat, maka zuhud adalah babak berikutnya. Wara' bertanya, "Apa yang harus kuhindari agar tidak kembali tersesat?" Zuhud mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: "Apa yang tidak boleh menguasai hatiku, sekalipun ia halal?" Sebab prob...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...