Postingan

Penjara Melahirkan Tafsir Mendunia

Penjara Melahirkan Tafsir Mendunia Nuraini Persadani | Persadani.org 4 Mei 2026 / 17 Dzulqa'dah 1447 H Dinding sel itu dingin. Cahaya masuk hanya melalui celah sempit di dekat langit-langit — cukup untuk membedakan siang dan malam, tidak cukup untuk menghangatkan tulang. Di sinilah, di dalam sebuah kamar tahanan di Sukabumi, seorang lelaki berusia lima puluh enam tahun duduk bersila dengan secarik kertas di pangkuannya dan pena di tangannya. Di luar, dunia sedang bergolak. Angin politik bertiup kencang. Tuduhan dilayangkan tanpa sidang, nama-nama dicatat tanpa pembuktian. Tetapi di dalam sel itu, lelaki ini memilih untuk menulis — bukan surat protes, bukan petisi, bukan curahan kemarahan. Ia menulis tafsir Al-Qur'an. Lelaki itu adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Dunia mengenalnya sebagai Buya Hamka . Pada Februari 1964, Hamka ditangkap atas tuduhan subversif — tuduhan yang tidak pernah dibuktikan di hadapan pengadilan mana pun. Ia dimasukkan ke dalam taha...

Tarbiyah yang Hilang di Balik Ranking

Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Kadang kita lupa, bahwa anak-anak itu bukan angka yang berjalan. Mereka bukan lembaran rapor yang bisa diurutkan dari satu hingga tiga puluh. Mereka adalah napas yang dititipkan langit, adalah doa yang dipanjatkan ibu dengan air mata, adalah janji yang dipegang teguh oleh seorang ayah yang berharap anaknya menjadi manusia yang baik. Namun di suatu sudut ruang kelas, di balik papan peringkat yang tergantung angkuh, kita perlahan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kita kehilangan tarbiyah itu sendiri. Tarbiyah, yang seharusnya menjadi tanah subur tempat karakter tumbuh, perlahan tergantikan oleh lomba lari yang tak pernah benar-benar kita sadari. Anak-anak diajar mengejar angka, bukan makna. Mereka dilatih menjadi yang pertama, bukan menjadi yang terbaik. Dan tanpa terasa, kita sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai masyarakat, ikut memalingkan wajah dari pertanyaan paling penting: apakah mereka bahagia? Apakah mereka tahu makna kebaikan? Apakah me...

Akar Sebelum Sayap

Tarbiyatul Aulad · Parenting Islami Akar Sebelum Sayap Tentang Pilihan, Batas, dan Tanggung Jawab Kita sebagai Orang Tua Oleh Nuraini Persadani  |  17 Dzulqa'dah 1447 H / 4 Mei 2026 Ada sebuah niat baik yang diam-diam menyimpan jebakan. Banyak dari kita — para orang tua hari ini — ingin berbeda dari generasi sebelumnya. Tidak mau terlalu keras. Tidak mau terlalu mengekang. Maka kita pun memberi anak banyak pilihan sejak mereka kecil. "Mau makan apa?" "Mau belajar atau tidak?" "Mau sekolah ini atau itu?" Niatnya indah: supaya anak tumbuh mandiri, percaya diri, dan merasa dihargai. Namun ada yang sering terlewat dari niat yang baik itu. Tidak semua pilihan itu membebaskan. Sebagian justru membebani. Dan anak yang terlalu dini dibebani dengan pilihan yang terlalu berat, bukan tumbuh menjadi mandiri — melainkan tumbuh dalam kebingungan. ✦   ✦   ✦ Islam telah mengajarkan sebuah prinsip yang agung jauh sebelum psikologi ...

Memberi yang Kita Cintai: Ketika Pengorbanan Menjadi Bukti Iman

Memberi yang Kita Cintai: Ketika Pengorbanan Menjadi Bukti Iman Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ada sebuah pertanyaan sederhana yang jika kita renungkan dengan jujur, bisa menggetarkan kesadaran kita tentang hakikat memberi. Pernahkah kita memilih apa yang akan kita sedekahkan? Apa yang kita keluarkan dari kulkas, dari lemari, dari dompet kita? Benda yang mana yang kita pilih untuk diberikan kepada orang lain? Dalam banyak kesempatan — tanpa kita sadari — kita memberi dari sisa. Buah yang sudah mulai layu. Baju yang sudah tidak lagi kita pakai karena sudah terlalu usang. Makanan yang hampir mendekati masa simpannya. Uang receh yang tersisa di kantong. Dan kita merasa sudah berbuat baik. Kita merasa sudah berinfak. Kita merasa sudah menunaikan sesuatu. Padahal ada pertanyaan yang lebih dalam, yang Al-Qur'an ajukan kepada kita jauh sebelum kita sempat merasa puas: لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُ...

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ada sebuah doa yang sangat pendek, namun mengandung pengakuan terdalam yang bisa diucapkan seorang hamba. Doa yang tidak bisa dilafalkan dengan santai, karena begitu sungguh-sungguh diucapkan, ia mengguncang kesadaran tentang betapa rapuhnya kita. Doa itu berbunyi: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ "Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik" — Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. HR. At-Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, no. 12107 — dishahihkan oleh Al-Albani Nabi ﷺ membaca doa ini dengan sangat sering — bahkan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah bertanya mengapa beliau begitu banyak memanjatkan permohonan ini. Jawaban Rasulullah ﷺ menggetarkan: "Wahai Ummu Salamah, tidaklah ada seorang anak Adam melainkan hatinya berada di antara d...

Tutur Kata yang Baik: Sedekah Termurah yang Paling Sering Kita Lupakan

Tutur Kata yang Baik: Sedekah Termurah yang Paling Sering Kita Lupakan Oleh: Abdullah Madura Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا "Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia." QS. Al-Baqarah: 83 Betapa banyak rumah tangga yang retak bukan karena kekurangan harta. Betapa banyak persahabatan yang putus bukan karena pengkhianatan besar. Betapa banyak murid yang berhenti bukan karena kurang cerdas. Semuanya — runtuh karena kehabisan kata-kata yang lembut. Dan sebaliknya: betapa banyak peradaban yang lahir karena satu kalimat yang tepat, diucapkan oleh orang yang tepat, di waktu yang tepat. Tutur kata yang baik bukan sekadar sopan santun. Ia adalah makanan bagi ruhani , penawar bagi penyakit jiwa, dan — bila kita pahami dengan benar — ia adalah salah satu bentuk sedekah paling murah sekaligus paling berdampak yang tersedia bagi kita setiap hari. Nikmat yang Sering Tak Disyukuri: Bisa Berbicara Allah subhanahu wa ta'al...

Empat Puluh Tahun: Antara Puncak Dunia dan Awal Pulang

Empat Puluh Tahun: Antara Puncak Dunia dan Awal Pulang Oleh :  Tsaqif Rasyid Dai  Angka itu datang bukan sebagai penanda keberhasilan, melainkan sebagai jeda. Dunia telah memberi kita panggung, nama, dan tempat yang layak, tapi di balik tirai pencapaian yang telah kita raih, ada cahaya yang perlahan menyingkap apa yang selama ini terlewatkan. Sebelum sempat kita menyusun alasan, pertanyaannya telah mengetuk pelan: “Untuk apa semua ini?” Dulu kita berlari. Mengejar sesuatu yang terlihat jelas: pencapaian, pengakuan, keamanan. Kini kita mulai berhenti sejenak, bukan karena lelah semata, tapi karena sadar—bahwa ada sesuatu yang belum tersentuh: jiwa. Usia Empat Puluh: Isyarat Kedewasaan Allah menyebut fase ini secara khusus: “Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa: ‘Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu…’” (QS. Al-Ahqaf: 15) Ayat ini bukan sekadar angka. Ia adalah isyarat bahwa pada titik ini, manusia sehar...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...