Marah karena Allah: Antara Ghirah Iman dan Tipu Daya Nafsu
Marah karena Allah: Antara Ghirah Iman dan Tipu Daya Nafsu Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah "Kesempurnaan seorang hamba adalah ketika ia marah karena Allah dan ridha karena Allah." — Ibn Qayyim al-Jauziyyah , Madārij as-Sālikīn Ada sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, namun menyimpan kedalaman yang luar biasa: Apakah kita benar-benar marah karena Allah, atau sesungguhnya kita marah karena diri kita sendiri, lalu membungkusnya dengan jubah agama? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia adalah cermin yang harus diarahkan ke dalam dada, bukan ke luar. Sebab dalam sejarah umat manusia — dan lebih-lebih dalam pusaran media sosial hari ini — tidak sedikit kemarahan yang diklaim atas nama Allah, namun sebenarnya bersumber dari ego yang terluka, status yang terancam, atau identitas komunal yang merasa direndahkan. Islam tidak melarang marah. Islam justru menjadikan marah sebagai bagian dari fitrah yang mulia — jika ditempatkan denga...