Postingan

Perang Iran-AS Memasuki Malam ke-11: Hormuz Bergejolak, Pickaxe Mountain Terancam, Indonesia Waspada

Gambar
Perang Iran-AS Memasuki Malam ke-11: Hormuz Bergejolak, Pickaxe Mountain Terancam, Indonesia Waspada Eskalasi di Timur Tengah Menguji Pasar Energi Global dan Ketahanan Ekonomi Indonesia Oleh: Nuraini Persadani Konflik bersenjata yang bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 kembali memasuki fase yang semakin tegang. Menurut laporan sejumlah kantor berita internasional, serangkaian serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah target militer di Iran telah memasuki malam ke-11 secara berturut-turut hingga Selasa, 21 Juli 2026. Ledakan dilaporkan terdengar di Teheran, Tabriz di barat laut Iran, hingga sejumlah wilayah di bagian selatan negara tersebut. Perlu dicatat, perkembangan terbaru dalam beberapa hari terakhir terutama berpusat pada konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Israel tetap menjadi bagian penting dalam dimensi awal dan regional konflik ini, tetapi eskalasi militer terbaru lebih banyak ditandai...

Pulang: Catatan tentang Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Gambar
Pulang: Catatan tentang Pintu yang Tak Pernah Tertutup Bagaimana sebuah hati terbangun, memutar arah, dan menemukan jalan kembali kepada Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Mengapa ada orang yang menangis semalaman karena satu kesalahan kecil, sementara yang lain bisa melakukan dosa yang jauh lebih besar tanpa merasa apa-apa? Coba diamkan pertanyaan itu sejenak sebelum membaca lebih jauh. Bukan soal besar-kecilnya dosa. Sebab kalau soal ukuran, seharusnya semakin besar dosa, semakin besar pula penyesalan. Kenyataannya tidak selalu begitu. Ada yang terus menunda taubat karena merasa "nanti saja, masih ada waktu". Ada yang dosanya sudah menjadi kebiasaan, hingga hati berhenti memberi sinyal bahwa ada yang salah. Dan ada yang justru berubah total dalam semalam, seolah seseorang menyalakan lampu di ruangan yang sudah lama gelap. Para ulama, jauh sebelum psikologi modern lahir, ternyata sudah menaruh perhatian besar pada perbedaan ini. d أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَ...

Tadabbur QS. Hūd Ayat 6: Ketika Batin Berhenti Dihantui Kecemasan Rezeki

Gambar
Tadabbur QS. Hūd Ayat 6: Ketika Batin Berhenti Dihantui Kecemasan Rezeki Menyelami Jaminan Allah atas Rezeki dalam Perspektif Tazkiyatun Nufus Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak sedikit manusia kehilangan tidur bukan karena tidak memiliki rezeki, tetapi karena takut kehabisan rezeki. Padahal jauh sebelum rasa takut itu lahir, Allah telah lebih dahulu menuliskan sebuah janji yang menenteramkan dalam Surah Hūd. وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustawda'ahā, kullun fī kitābin mubīn. "Tidak ada satu pun makhluk yang melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata." (QS. Hūd: 6) Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan kelua...

Imam Al-Ghazali dan Transformasi Diri: Ketika Puncak Keberhasilan Justru Melahirkan Pergulatan Batin

Gambar
Imam Al-Ghazali dan Transformasi Diri: Ketika Puncak Keberhasilan Justru Melahirkan Pergulatan Batin Belajar dari Hujjatul Islam tentang Perubahan yang Bermula dari Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu kisah dalam sejarah Islam yang selalu menggugah kesadaran setiap kali dibaca ulang: seorang ulama besar, guru paling terpandang di zamannya, mengalami keguncangan batin yang dahsyat ketika berada di puncak kejayaannya. Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi, ulama besar yang kemudian dikenal sepanjang sejarah dengan gelar Hujjatul Islam —Pembela Agung Islam. Kisah hidupnya mengajarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian kita hari ini: bahwa keberhasilan lahiriah tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan batin, dan bahwa transformasi sejati seorang hamba tidak dimulai dari perubahan status atau pekerjaan, melainkan dari perubahan hati. Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ "...

Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati

Gambar
Ukhuwah yang Diuji: Ketika Persaudaraan Menjadi Cermin Kebersihan Hati Mengapa Konflik Sesama Muslim Sering Berasal dari Penyakit Hati? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Hampir setiap orang pernah kecewa kepada saudara seiman. Ada yang dulu begitu akrab, lalu perlahan menjauh tanpa sebab yang jelas. Ada yang dulu berjuang bersama dalam satu barisan dakwah, lalu diam-diam saling curiga. Ada pula yang semula saling mendoakan dalam sujud, kemudian saling membicarakan di belakang punggung. Pertanyaannya bukan siapa yang salah, melainkan lebih dalam dari itu: apakah yang sebenarnya rusak — ukhuwahnya, atau hati kita? Ukhuwah imaniyyah adalah ikatan ruhani yang Allah tumbuhkan di antara orang-orang beriman karena kesamaan akidah, yang kemudian melahirkan hak, tanggung jawab, dan kasih sayang sebagai bagian dari ibadah kepada-Nya. Ia bukan sekadar hubungan sosial yang lahir dari nasab atau kepentingan. Para ulama tazkiyah memandangnya dari dua sisi yang berjalan bersamaan: ukhuwah adalah buah da...

Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup?

Gambar
Dadaha dan Pelajaran Tazkiyatun Nafs: Mengapa Perubahan Ideologi Belum Cukup? Ledakan emosi sesaat mengingatkan kita bahwa perubahan pemikiran belum tentu perubahan jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Sebuah cekcok kecil antar-pedagang di Dadaha, Tasikmalaya, berubah menjadi peristiwa yang mengejutkan banyak pihak. Bukan karena ada jaringan yang bergerak, bukan pula karena ada niat teror yang direncanakan. Tanpa bermaksud memastikan kondisi batin pelaku, sebab hanya Allah yang mengetahui isi hati seorang hamba, peristiwa ini tetap memberi ruang bagi kita untuk merefleksikan satu hal penting, yaitu betapa rapuhnya hati manusia ketika harga dirinya merasa terluka. Banyak yang mengira bahwa perubahan keyakinan sudah cukup untuk menjamin perubahan perilaku. Padahal antara ilmu dan amal, antara akidah dan akhlak, ada satu ruang yang sering terlewat, yaitu jiwa itu sendiri. Seseorang bisa saja sudah benar pemikirannya, namun nafsnya belum tentu ikut berubah. Di sinilah letak pentingnya tazki...

Al-Fawz al-'Aẓīm: Ketika Allah Menyatakan Perjalanan Itu Berhasil

Gambar
Al-Fawz al-'Aẓīm: Ketika Allah Menyatakan Perjalanan Itu Berhasil Penutup Fase Pertama — Muhasabah Menuju Kemenangan yang Agung Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap perjalanan memiliki tujuan. Dan setiap perjalanan sejati selalu bermuara pada satu tempat: pulang. Sejak awal kita tidak sedang mengumpulkan ilmu demi ilmu atau amal demi amal. Kita sedang menempuh jalan pulang kepada Allah. Ilmu adalah petunjuk jalannya, sedangkan amal adalah bekal perjalanannya. Karena itu, setiap pembahasan dalam fase pertama sesungguhnya bukanlah persinggahan yang berdiri sendiri, melainkan langkah-langkah yang saling menyambung menuju satu arah yang sama. Kita memulai safar ini dengan memahami bahwa setiap manusia memikul amanah sebagai khalifah di bumi. Dari sana kita mengenali rintangan yang menghadang di sepanjang jalan: hawa nafsu, bisikan setan, dan tipuan dunia yang membelokkan arah. Setelah itu kita belajar bahwa perjalanan kembali ini tidak mungkin ditempuh tanpa tazkiyah, penyucian jiwa...

Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna: Tadabbur Penutup Surah Al-Hasyr Ayat 22–24

Gambar
Mengenal Allah Melalui Asmaul Husna: Tadabbur Penutup Surah Al-Hasyr Ayat 22–24 Ketika Sebelas Nama Allah Menjadi Cermin bagi Hati yang Sedang Bertanya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Surah Al-Hasyr membuka kisahnya dengan kejatuhan Bani Nadhir yang merasa bentengnya tak tertembus, lalu mengalir melalui adab berbagi harta, keteladanan Muhajirin dan Anshar, hingga sampai pada satu ayat yang mengguncang: gunung yang kokoh akan tunduk dan hancur bila Al-Qur'an diturunkan kepadanya, karena takut kepada Allah (ayat 21). Setelah gambaran itu, surah ini tidak berhenti. Ia justru bertanya balik kepada pembacanya: jika gunung saja gentar mengenal kebesaran Allah, siapakah Allah yang membuat gunung gentar itu? Pertanyaan itu tidak dijawab dengan definisi, melainkan dengan perkenalan. Allah memperkenalkan diri-Nya melalui nama-nama-Nya sendiri pada ayat 22–24—sebelas Asmaul Husna yang ditutupkan pada surah ini bukan sekadar daftar, melainkan jalan ma'rifatullah. Sebagian mufasir memandang ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...