Postingan

Mengapa Emosi Sering Mengalahkan Iman?

Gambar
Mengapa Emosi Sering Mengalahkan Iman? Memahami Konflik antara Hati, Akal, dan Hawa Nafsu dalam Diri Manusia Oleh : Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 7 Juni 2026 — 21 Dzulhijjah 1447 H Kita tahu marah berlebihan itu salah. Namun tetap marah. Kita tahu iri hati merusak. Namun tetap iri. Kita tahu Allah mengatur segalanya. Namun tetap cemas berlebihan. Kita tahu dunia ini sementara. Namun kehilangan sedikit saja sudah bisa membuat hati gelisah berhari-hari. Jika iman sudah mengetahui kebenaran — mengapa emosi sering memenangkan pertarungan? Inilah salah satu pertanyaan paling jujur yang bisa diajukan seorang mukmin kepada dirinya sendiri. Bukan pertanyaan yang melemahkan iman, melainkan pertanyaan yang membuka pintu pemahaman yang lebih dalam tentang jiwa manusia. Dan tazkiyatun nafs — ilmu penyucian jiwa yang diwariskan para ulama selama berabad-abad — menjawabnya dengan cara yang tidak sederhana, tetapi sangat menyentuh. Ketika Pengetahuan Tidak Cukup Kit...

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa

Gambar
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا لّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 6 Juni 2026 - 20 Dzulhijjah 1447 H Prolog: Ketika Tombak Sudah Terlanjur Meluncur Pagi itu, di tanah Juhainah, pertempuran berlangsung singkat. Pasukan kaum muslimin menyerang di waktu fajar dan berhasil memukul mundur musuh. Usamah bin Zaid — sahabat mulia, putra dari Zaid bin Haritsah yang dijuluki hibbu Rasulillah , kekasih Rasulullah ﷺ — mengejar seorang prajurit musuh bersama seorang sahabat Anshar. Ketika sudah terkepung, ketika tidak ada jalan lagi, laki-laki itu mengucapkan: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Sahabat Anshar itu menghentikan langkahnya. Namun tombak Usamah terlanjur meluncur. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya dengan nada yang sangat berat: أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ أَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ؟ Aqataltahu ba'da an qāla lā ilāha illallāh? "Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan...

Adab kepada Allah: Fondasi yang Hilang dari Hati Kita

Gambar
Adab kepada Allah: Fondasi yang Hilang dari Hati Kita Memahami Makna, Pilar, dan Cara Membangun Adab Hati kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali, Ibnu Qayyim, Ibnu Rajab, Al-Muhasibi, dan Ibnu Atha'illah Oleh : Tsaqif Rasyid Dai | persadani.org | 6 Juni 2026 - 20 Dzulhijjah 1447 H Ada orang yang salatnya tidak pernah bolong. Puasanya sempurna. Sedekahnya rutin. Tapi ketika musibah datang — usahanya bangkrut, anaknya sakit, rencananya gagal — yang pertama keluar dari bibirnya adalah: "Kenapa aku? Padahal aku sudah banyak beribadah." Ada pula orang yang hafalan Qur'annya banyak, ilmunya dalam, ceramahnya menyentuh hati banyak orang. Tapi ketika sendirian, tanpa kamera, tanpa jamaah — hatinya hampa. Dzikirnya terasa basa-basi. Ibadahnya terasa seperti rutinitas yang berat. Kita tidak perlu menunjuk siapapun. Kita cukup bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku termasuk salah satunya? Para ulama — dari Al-Ghazali hingga Ibnu Atha'illah, dari Al-Muhasibi hin...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...