Postingan

Bolehkah Ambisi Menjadi Kaya?

Gambar
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 23 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H Bolehkah Ambisi Menjadi Kaya? Membedah Himmah , Hirsh , dan Thama' dalam Timbangan Islam Ada dua jenis Muslim yang sama-sama gelisah, namun karena alasan yang berlawanan. Yang pertama: ia bercita-cita tinggi, ingin sukses secara finansial, ingin mandiri, ingin punya kemampuan membantu orang banyak — tetapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. "Apakah menginginkan kekayaan itu tidak zuhud? Apakah aku terlalu mencintai dunia?" Yang kedua: ia mengejar uang siang dan malam, menjadikan kerja keras sebagai identitas, meminjam ayat-ayat Al-Qur'an untuk membenarkan ambisinya — dan berkata lantang, "Kan Islam tidak melarang kaya." Keduanya memerlukan jawaban yang jujur. Bukan sekadar pembenaran, bukan pula penyempitan yang membuat Islam tampak anti-kemajuan. Maka pertanyaan ini layak diajuka...

Adzan Masih Sama. Mengapa Hati Kita Berubah?

Gambar
Atlas Hati Muslim Modern — Seri 1 Adzan Masih Sama. Mengapa Hati Kita Berubah? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Adzan selesai. Video tetap berjalan. Jempol tetap bergerak. Rumah kembali biasa saja. Dan anehnya — tidak ada sesuatu yang terasa salah. Padahal mungkin — entah kapan — hati kita pernah lebih mudah bergerak. Dan hampir semua dari kita pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali. Bukan hanya saat sedang sibuk luar biasa. Tapi berulang — sampai pada titik di mana "sebentar lagi" terasa seperti jawaban yang wajar atas panggilan Allah. Tulisan ini bukan untuk menghakimi. Ini untuk duduk bersama dan bertanya jujur kepada diri sendiri: sejak kapan adzan tidak lagi menggerakkan hati kita? Sesuatu yang Tampak Kecil Nabi ﷺ bersabda: إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ Idzā sami'tum al-mu'adzdzina faqūlū mitsla mā yaqūl. "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan." (HR. Muslim no. 384, Ki...

Fitrah Bukan Takdir Instan

Gambar
Fitrah Bukan Takdir Instan Meluruskan cara pandang tentang potensi anak antara fitrah ikhtiar dan tarbiyah dalam perspektif Islam Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Rubrik Tarbiyah & Parenting Islam | Persadani.org Tidak sedikit anak kehilangan keberanian mencoba — bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu cepat dipercaya bahwa dirinya "memang bukan bakatnya". Dan yang menanamkan keyakinan itu, seringkali, adalah orang-orang yang paling mencintainya. "Anak saya cocoknya apa, ya?" Pertanyaan itu muncul di mana-mana — di grup WhatsApp orang tua, di ruang konsultasi sekolah, di seminar parenting yang penuh sesak. Orang tua hari ini tidak kekurangan kegelisahan. Mereka takut anak salah jurusan. Takut membuang waktu untuk hal yang bukan "bidangnya". Takut masa depan anak kandas karena satu keputusan yang salah di usia dini. Dari kegelisahan itulah muncul kecenderungan yang semakin umum: mencari jawaban instan tentang siapa anak kita. Tes potensi, peme...

Mengapa Nabi Daud Tetap Bekerja? Hikmah Kerja Halal dan Bahaya Mental Instan Menurut Islam

Gambar
Mengapa Nabi Daud Tetap Bekerja? Hikmah Kerja Halal dan Bahaya Mental Instan Menurut Islam Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Turats Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | Kamis, 4 Dzulhijjah 1447 H / 21 Mei 2026 Kita hidup di zaman yang mengagungkan hasil, tetapi membenci proses. Semakin cepat seseorang kaya, semakin ia dikagumi. Semakin singkat jalan yang ditempuh menuju kemakmuran, semakin dianggap cerdas. Dan di antara kita sendiri, entah disadari atau tidak, ada sebuah godaan yang terus berbisik: mengapa harus melalui proses panjang jika ada jalan yang lebih pendek? Ada orang yang sebenarnya tidak malas. Ia hanya lelah. Sudah lama berjuang, tetapi pintu tidak kunjung terbuka. Ada yang tidak anti proses—ia hanya terlalu sering menyaksikan orang lain naik dengan cara yang tidak bersih, lalu bertanya-tanya apakah kejujuran benar-benar masih ada gunanya. Dan di saat seperti itu, jalan pintas mulai tampak masuk akal. Bahkan terasa seperti pilihan yang bijak. Anehnya, seoran...

Kita Hanya Melihat Potongan Cerita

Gambar
Kita Hanya Melihat Potongan Cerita Hikmah Ulama Salaf untuk Era Cancel Culture dan Komentar Media Sosial Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026 Pernah merasa marah setelah menonton satu video 30 detik? Kita melihat seseorang berbicara — lalu langsung tahu: dia salah. Dia sesat. Dia tidak paham agama. Kita mengetik komentar dengan keyakinan penuh, dengan perasaan bahwa kita sedang membela kebenaran. Padahal kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi lima menit sebelum video itu dimulai. Tidak tahu konteksnya. Tidak tahu perjalanan hidup orang itu. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Ini bukan cerita tentang orang lain. Ini cerita tentang kita semua — termasuk penulis artikel ini. Mungkin masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu. Bukan kurangnya orang yang mau bersuara. Masalah terbesarnya adalah terlalu cepatnya rasa yakin. Terlalu mudahnya kita merasa sudah cukup tahu untuk menghakimi. Para ulama menyebut penyakit ini dengan ber...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya