Postingan

Sulitnya Bener tur Pener

Gambar
Sulitnya Bener tur Pener Ketika Pembela Kebenaran Lupa Memeriksa Hatinya Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada kalimat Rasulullah ﷺ yang pada pendengaran pertama terasa ganjil. Beliau memerintahkan kita menolong saudara, baik ketika ia dizalimi maupun ketika ia berbuat zalim. انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا "Tolonglah saudaramu, baik ketika ia berbuat zalim maupun ketika ia dizalimi." (HR. Bukhari, no. 2444). Para sahabat pun bertanya. Menolong yang dizalimi mudah dipahami. Tetapi bagaimana mungkin menolong orang yang justru sedang berbuat zalim? Rasulullah ﷺ menjawab bahwa pertolongan itu adalah dengan mencegahnya melakukan kezaliman. Menarik. Ternyata menolong saudara tidak selalu berarti berdiri di belakangnya. Ada kalanya justru harus berdiri di hadapannya, menghentikan langkahnya, bahkan mengatakan bahwa apa yang sedang dilakukannya itu salah. Itulah pertolongan yang sesungguhnya. Namun, perkara ini tidak selalu mudah. Apalagi jika yang harus kita k...

Toga Bukan Topeng

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS] Toga Bukan Topeng Gelar Mengundang Hormat, Substansi Menjaga Wibawa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Toga hanya dikenakan beberapa jam. Gelarnya bisa menyertai nama bertahun-tahun. Namun, ketika persoalan datang, kain itu tak bisa ikut berpikir. Allah Swt. berfirman: وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui." (QS Al-Isra': 36) Ilmu menuntut kejujuran dan kehati-hatian. Pengakuan akademis semestinya memperbesar tanggung jawab itu, bukan menjadi alasan untuk merasa serba tahu. Toga Itu Pengakuan Toga menandai pencapaian akademis, bukan jaminan kecakapan menghadapi segala persoalan. Dunia kerja kerap menghadirkan tantangan yang tidak sepenuhnya dipelajari di bangku kuliah. Dalam kenyataan, banyak orang bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan kuliahnya. Itu tidak otomatis berarti kegagalan, melainkan bagian dari kenyataan dunia kerja. Bahkan mereka yang bekerja sesuai bidangnya t...

Mesra, tapi Sadis

Gambar
[ TazkiyatunNafs ] Mesra, tapi Sadis Ketika Rayuan yang Memanjakan Menjadi Taruhan Akhirat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tatapan mesra. Kerling mata manja. Senyum menggoda. Bujuk rayu yang memanjakan angan-angan. Tak ada ancaman. Tak ada paksaan. Semuanya terasa indah. Bahkan seseorang bisa mengira sedang menemukan kebahagiaan. Begitulah salah satu cara setan memperdaya manusia. Ia tidak selalu datang membawa ketakutan. Kadang justru menawarkan sesuatu yang sangat diinginkan. Ia tidak selalu meminta manusia membenci kebaikan. Cukup membuatnya begitu mencintai sesuatu hingga rela mengorbankan kebaikan yang selama ini dijaga. Allah Swt. mengingatkan: يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا "Setan menjanjikan dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka." (QS. An-Nisa': 120) Rayuannya mesra. Akibatnya bisa begitu sadis. Ketika Iman Mulai Ditawar Al-...

Semilir, Semakin ke Hilir

Gambar
[TAZKIYATUN NAFS] Semilir, Semakin ke Hilir Ketika Dunia Terasa Nyaman, tetapi Hati Kehilangan Ruh Juang Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Semilir, semakin ke hilir. Ruh juang memudar, lalu buyar.   Angin bertiup pelan. Air mengalir tenang. Tidak ada gelombang yang mengguncang. Perahu melaju tanpa perlu banyak didayung. Nyaman sekali. Tahu-tahu sudah jauh dari hulu. Begitulah perjalanan hidup. Tidak selalu badai kesulitan yang membuat seseorang kehilangan arah. Kadang justru angin semilir yang membawa kenyamanan. Dahulu, ketika hidup serba terbatas, seseorang begitu gigih berjuang. Waktunya tercurah. Tenaganya terkuras. Hartanya pun tak jarang ikut dikorbankan. Kini keadaan berubah. Kehidupan lebih lapang. Hasil perjuangan mulai terlihat. Kesibukan tidak lagi seberat dahulu. Tetapi ada sesuatu yang diam-diam ikut berubah. Peringatan yang Sudah Lama Didengar Allah mengingatkan: فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ...

Geger Imam Mahdi

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] Geger Imam Mahdi Ketika Klaim Kesalehan Mengalahkan Akal Sehat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Umur bisa diperpanjang. Dosa bisa ditebus. Keselamatan akhirat bisa dijamin. Syaratnya, bayar. Konon, yang menawarkan semua itu mengaku sebagai Imam Mahdi. Gegerlah Bangkalan. Seorang pria berinisial FF dilaporkan ke Polres Bangkalan, Jawa Timur, pada 21 Oktober 2026. Ia diduga menggunakan klaim sebagai Imam Mahdi untuk meminta uang kepada pengikutnya. Seorang pelapor mengaku mengalami kerugian hingga Rp1,3 miliar. Perkaranya masih dalam proses hukum. Namun, klaim keagamaannya telah mendapat tanggapan tegas dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH M Cholil Nafis. Yang menggelisahkan bukan semata munculnya seseorang yang mengaku Imam Mahdi, melainkan bagaimana klaim semacam itu bisa dipercaya, diikuti, bahkan dibayar dengan harta yang tidak sedikit. Padahal, umur dan ajal bukan wilayah kekuasaan manusia. Keselamatan akhirat pun bukan komodit...

Lanang Tenan

Gambar
[ REFLEKSI ] Lanang Tenan Memantaskan Diri, Merawat Tradisi ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Mereka masih muda. Belum punya negara merdeka. Belum punya pemerintahan sendiri. Bahkan belum tahu apakah cita-cita yang diperjuangkan akan terwujud semasa hidup. Tetapi mereka berani bersumpah. 28 Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul, melampaui sekat kedaerahan, lalu menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tujuh belas tahun kemudian, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Begitulah watak perintis. Menanam sesuatu yang hasilnya belum tentu sempat dinikmati sendiri. Nandur ora kudu ngundhuh. Orang Jawa mengenal ungkapan lanang tenan . Bukan semata soal kegagahan seorang lelaki, melainkan ketangguhan watak. Berani memikul tanggung jawab, teguh memegang prinsip, dan tidak mudah menyerah ketika keadaan belum berpihak. Lanang tenan kuwi sing wani mikul, dudu mung wani umuk. Watak demikian diperluka...

Gerimis, Kok Kuyup?

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] Gerimis, Kok Kuyup? Ketika Kesalahan Kecil Tak Lagi Terasa Salah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ “Waspadalah terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh.” (HR Ahmad) Hujan deras membuat orang segera mencari tempat berteduh. Gerimis justru membuat orang menunda. Merasa belum perlu. Mengira sebentar lagi juga reda. Tahu-tahu kuyup. “Lho, kok teles?” “Gerimis, Pak.” “Lha, kok ora ngiyup?” “Kirain cuma sebentar.” Begitulah. Sesuatu yang kecil sering kehilangan daya ancamnya, bukan karena tidak berbahaya, melainkan karena terlalu mudah diremehkan. Manusia pandai sekali menyiapkan istilah untuk mengecilkan kesalahannya sendiri. “Cuma terlambat sedikit.” “Cuma pinjam sebentar.” “Bukan ghibah, cuma cerita.” “Bukan bohong, hanya tidak menjelaskan semuanya.” Dan bila alasan mulai kehabisan tenaga, masih ada jurus pamungkas: “Lha, wong liyane yo podo.” Selesai. Hati mendapat pembelaan. Kesalahan mendapat tempat yang nyaman. ...

AI, Sakdet Saknyet

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] AI, Sakdet Saknyet Ketika Kecepatan Menjawab Mendahului Ketelitian Ilmu Tsaqif Rasyid Dai فَتَبَيَّنُوا "Maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6) "Wis takon AI?" "Wis. Sakdet saknyet." "Wis dipriksa maneh?" "Lha jawabane wis masuk akal, kok!" Begitulah kita hari ini. Minta AI memperbaiki satu kalimat, malah dikasih ceramah panjang. Kita jengkel. "Wis, cukup! Aku mung takon sakmenir." Tapi ketika AI menyodorkan jawaban yang sejalan dengan pendapat kita, lengkap dengan dalil, nama kitab, bahkan nomor halaman, kita manggut-manggut. "Nah, iki! Cocok!" Tak ada yang bertanya: benarkah kitab itu ada? Benarkah halamannya demikian? Yang masuk akal belum tentu benar. Yang meyakinkan belum tentu terverifikasi. Yang cocok dengan selera belum tentu cocok dengan kenyataan. Untuk urusan sederhana, cepat itu nikmat. Tetapi untuk urusan agama, ilmu, dan keputusan yang menyangkut or...

Militansi yang Matang

Gambar
[ TazkiyatunNafs ] Militansi yang Matang Teguh dalam Prinsip, Lentur dalam Ikhtiar ✒️ Tsaqif Rasyid Dai وَاصْدِمْهُ أَوَّلَ وَهْلَةٍ لَا تَكْتَرِثْ "Seranglah sejak kesempatan pertama. Jangan terlalu memedulikan apa pun." Gercep. Sikat. Ojo pikir jero. Gagah kedengarannya. Ada rintangan, tabrak. Ada tantangan, terjang. Urusan akibat, pikir belakangan. Seolah keberanian baru dianggap sempurna jika seseorang tidak sempat mempertimbangkan risiko. Tetapi Ibnu Khaldun justru mengkritik anjuran dalam bait syair tersebut. Dalam Al-Muqaddimah , beliau mempertanyakan keberanian yang mendahului pertimbangan. Bukan keberanian menyerang yang keliru, melainkan tindakan yang diambil sebelum keadaan dipahami. Beliau kemudian menghadirkan pesan Umar bin Khattab tentang sosok pemimpin yang dibutuhkan dalam peperangan: الرَّجُلُ الْمَكِيثُ الَّذِي يَعْرِفُ الْفُرْصَةَ وَالْكَفَّ Orang yang matang pertimbangannya, yang mengetahui kapan mengambil kesempatan dan kapan haru...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...