Postingan

Kedaulatan Data di Era AI: Masihkah Kita Benar-Benar Merdeka?

Gambar
Kedaulatan Data di Era AI: Masihkah Kita Benar-Benar Merdeka? Merenungi Makna Kemerdekaan Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Hanya Berada di Tangan Penguasa Tanah dan Senjata Oleh: Nuraini Persadani Merdeka, Tetapi Siapa yang Menguasai Kita? Kita tidak lagi dijajah dengan senjata. Tidak ada lagi pasukan asing yang menduduki tanah air, tidak ada lagi kerja paksa, tidak ada lagi tanam paksa. Kita telah merdeka—setidaknya begitu yang kita rayakan setiap 17 Agustus. Namun coba tengok ke dalam saku kita sendiri: setiap hari kita menyerahkan wajah, suara, lokasi, kebiasaan, bahkan lintasan pikiran kita kepada berbagai platform digital. Kita mengetik di mesin pencari yang mencatat setiap kata. Kita berbicara dengan asisten virtual yang merekam suara kita. Semua itu kita lakukan dengan sukarela. Tanpa paksaan. Tanpa todongan senjata. Hanya dengan satu ketukan kecil bertuliskan "I Agree" atau "Accept All Cookies." Maka izinkan kami men...

Malam Terakhir Para Kekasih Allah

Gambar
Malam Terakhir Para Kekasih Allah Ketika Ilmu Berubah Menjadi Kesiapan Menghadap Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan kepada diri sendiri: seandainya malam ini adalah malam terakhir, dengan hati seperti apa kita akan menghadap Allah? Pertanyaan ini bukan lahir dari ketakutan yang melumpuhkan, melainkan dari satu kesadaran yang ingin kita jadikan poros seluruh tulisan ini: Malam terakhir seorang hamba sebenarnya tidak dimulai ketika ia terbaring di ranjang kematian. Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika hatinya mulai belajar pulang kepada Allah. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn. "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)." (QS. Āl...

Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia

Gambar
Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia Merawat Kemerdekaan Bukan dengan Seremoni, tapi dengan Kebersamaan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di era yang katanya paling terhubung sepanjang sejarah manusia. Grup WhatsApp memuat ratusan anggota, komunitas tumbuh dalam hitungan hari, crowdfunding bisa mengumpulkan dana ratusan juta hanya dalam semalam. Tetapi di balik keramaian digital itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: benarkah kita benar-benar bersama, atau sekadar berada di ruang yang sama? Banyak orang menginginkan perubahan, tetapi menunggu "orang lain" yang memulai lebih dulu. Banyak yang bersimpati pada persoalan bangsa, tetapi belum tentu bersedia turun tangan. Maka pertanyaannya bukan apakah Indonesia kekurangan orang baik — melainkan apakah kita kekurangan orang yang mau bergerak bersama. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti di pagi hari sebelum 17 Agustus. Ia adalah cara sebuah bangsa menjaga dirinya tetap utuh. ...

KH. Shaleh Darat: Ketika Ilmu Tidak Berhenti di Kepala

Gambar
KH. Shaleh Darat: Ketika Ilmu Tidak Berhenti di Kepala Ketika Perjalanan Ilmu Menjadi Perjalanan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada orang yang belajar agar dikenal sebagai orang berilmu. Ada pula yang belajar karena sadar bahwa dirinya adalah orang yang tidak tahu. Dan ada orang-orang yang perjalanan ilmunya justru mengajarkan kepada kita bahwa semakin dalam seseorang mengenal ilmu, semakin besar pula tuntutan untuk merendahkan hati di hadapan Allah. Di antara mereka adalah KH. Muhammad Shaleh bin Umar as-Samarani, yang lebih dikenal sebagai Syekh Shaleh Darat. Beliau lahir sekitar tahun 1820 M di Kedung Cumpleng, Mayong, Jepara, putra dari Kiai Umar—sosok kepercayaan Pangeran Diponegoro yang berjuang di Jawa bagian utara. Jika sang ayah mengangkat senjata melawan penjajah, sang putra memilih jalan juang yang berbeda: menyucikan zaman lewat ilmu, tulisan, dan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Beliau kelak menetap di kawasan pesisir utara Semarang bernama "Darat"—derm...

Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi

Gambar
Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi Muhasabah tentang Takabbur, Ujub, dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah ironi yang sering luput dari kesadaran kita. Seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun mempelajari cara menyembuhkan tubuh manusia, tetapi belum tentu pernah belajar bagaimana menyembuhkan hatinya sendiri. Belakangan publik kembali digemparkan oleh percakapan di ruang digital yang menyeret tenaga kesehatan dan pasien pengguna layanan jaminan kesehatan. Kata-kata yang dianggap merendahkan memantik amarah luas, dan wajar bila hal semacam itu layak dikritisi karena profesionalitas memang harus dijaga. Namun setelah kemarahan itu reda, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang: mengapa manusia bisa sampai merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya? Perilaku merendahkan orang lain dapat berakar pada penyakit hati seperti merasa diri lebih tinggi, senang ...

Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih

Gambar
Investasi Emas Digital: Menelaah Qabdh sebagai Inti Persoalan Fikih Antara Fatwa MUI, Muhammadiyah, NU, Lajnah Daimah, dan Standar AAOIFI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Menabung emas kini tidak lagi identik dengan menyimpan logam mulia di brankas rumah. Cukup dengan aplikasi di ponsel, seseorang bisa memiliki emas mulai dari pecahan gram terkecil, memantau harganya secara real time, dan mencairkannya kapan saja. Kemudahan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar bagi umat Islam: apakah kepemilikan emas semacam ini sah menurut syariat? Judul "emas digital" sering membuat pembaca mengira persoalannya ada pada medium digitalnya. Padahal bukan itu inti khilafnya. Emas dan perak sejak masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah ditetapkan sebagai komoditas ribawi yang memiliki aturan pertukaran ketat, dan seluruh perdebatan fatwa modern sebenarnya berputar pada satu persoalan inti: qabdh , yaitu serah terima secara syar'i. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai fatwa, mela...

Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri

Gambar
Ketika Penjajah Itu Bernama Diri Sendiri Refleksi Kemerdekaan Sejati di Balik Gemuruh HUT ke-81 RI Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita marah ketika negeri ini dijajah bangsa lain, tetapi sering tidak marah ketika hidup kita dijajah oleh kebiasaan yang kita pelihara sendiri. Bendera berkibar di setiap sudut jalan, namun sebagian jiwa justru berkibar mengikuti arah dorongan nafsunya. Dahulu penjajah datang membawa senjata. Hari ini penjajah datang dalam wujud yang lebih halus: ego yang tak pernah kenyang, gengsi yang tak pernah puas, layar yang tak pernah padam, dan keinginan yang tak pernah berkata cukup. Ironinya, kemerdekaan yang diraih dengan darah para syuhada bisa kehilangan maknanya ketika manusia justru kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri. Musuh paling dekat bukan selalu yang berada di luar pagar negeri, melainkan yang bersembunyi di dalam dada. Kemerdekaan Republik Indonesia adalah pembebasan dari penjajahan fisik, dari tanah yang dirampas dan kedaulatan yang direnggut p...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...