Postingan

Kita Hanya Melihat Potongan Cerita

Gambar
Kita Hanya Melihat Potongan Cerita Hikmah Ulama Salaf untuk Era Cancel Culture dan Komentar Media Sosial Oleh Nuraini Persadani  |  1 Dzulhijjah 1447 H / 18 Mei 2026 Pernah merasa marah setelah menonton satu video 30 detik? Kita melihat seseorang berbicara — lalu langsung tahu: dia salah. Dia sesat. Dia tidak paham agama. Kita mengetik komentar dengan keyakinan penuh, dengan perasaan bahwa kita sedang membela kebenaran. Padahal kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi lima menit sebelum video itu dimulai. Tidak tahu konteksnya. Tidak tahu perjalanan hidup orang itu. Tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Ini bukan cerita tentang orang lain. Ini cerita tentang kita semua — termasuk penulis artikel ini. Mungkin masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya ilmu. Bukan kurangnya orang yang mau bersuara. Masalah terbesarnya adalah terlalu cepatnya rasa yakin. Terlalu mudahnya kita merasa sudah cukup tahu untuk menghakimi. Para ulama menyebut penyakit ini dengan ber...

حبُّ المحمدة: Syahwat Tersembunyi Ahli Ibadah dalam Hadits Tiga Golongan Pertama Penghuni Neraka

Gambar
حبُّ المحمدة: Syahwat Tersembunyi Ahli Ibadah dalam Hadits Tiga Golongan Pertama Penghuni Neraka Oleh: Tsaqif Rasyid Dai | Persadani.org | 3 Dzulhijjah 1447 H / 20 Mei 2026 Ada hadits yang tidak mungkin dibaca dengan tenang. Bukan karena temanya asing. Justru sebaliknya — karena temanya terlalu dekat dengan keseharian kita sebagai orang yang mencoba beragama dengan sungguh-sungguh. Di zaman media sosial, hampir semua orang hidup di bawah tatapan manusia. Kita menghitung respons: siapa melihat, siapa menyukai, siapa memuji, siapa mengakui. Bahkan amal agama perlahan ikut masuk ke logika performa — kajian diukur berapa views, sedekah diposting, tilawah dibagikan, dakwah dihitung engagement-nya. Dalam suasana seperti ini, ada satu hadits yang terasa semakin mengerikan untuk dibaca. Karena ia tidak berbicara tentang orang-orang yang meninggalkan agama. Ia berbicara tentang orang-orang yang sangat giat beragama — dan justru karena kegiatannya itu, mereka celaka. Hadits itu ...

Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10

Gambar
Tazkiyatun Nafs dalam Tafsir QS. Asy-Syams 9–10 Kajian Tafsir, Diksi Qur'ani, dan Perspektif Ulama tentang Penyucian Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai 2 Dzulhijjah 1447 H / 19 Mei 2026 Mengapa ada orang yang sangat cerdas, memiliki segalanya — karir gemilang, harta berlimpah, nama yang dihormati — namun hatinya tak pernah benar-benar tenang? Dan mengapa ada yang hidupnya sederhana, jauh dari gemerlapnya dunia, tetapi wajahnya memancarkan kedamaian yang sulit dijelaskan? Mengapa manusia bisa jatuh bukan karena kekurangan ilmu, bukan karena miskin pengalaman, bukan karena tak cukup usaha — tetapi karena ia kehilangan dirinya sendiri? Al-Qur'an menjawab semua itu dalam dua ayat yang pendek namun luar biasa padat: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Qad aflaḥa man zakkāhā. Wa qad khāba man dassāhā. "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9–10) Dua kalima...

Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu

Gambar
Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu Oleh: Abdullah Madura Seorang arab badui. Tidak ada yang mengenalnya. Kitab-kitab sejarah tidak satu pun yang menyebutkan namanya. Bahkan seluruh sahabat Nabi ﷺ tidak ada yang mengenal identitasnya. Orang Takwa yang Tersembunyi Ada tipe manusia yang ketika hadir tidak ada yang menyapa, ketika pergi tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Orang Jawa berkata: "Yen ono ora nambah jumlah, yen ora ono ora ngurangi jumlah." Ketika hilang tidak ada yang mencari. Bahkan ketika wafat pun tidak banyak yang mengetahui. Namun ia adalah orang shaleh yang tersembunyi. Datang tidak dikenal, pergi tidak dicari. Namun namanya harum di hadapan penduduk langit — atqiyaul akhfiya . Ia ibarat lentera yang menerangi gelapnya fitnah kehidupan dunia. Itulah gambaran arab badui dalam kisah ini. Ibnu Athaillah Al-Iskandari berkata: "Awal perjalanan menuju Allah adalah benarnya niat." Artinya, segal...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya