Postingan

Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi

Gambar
Menumbuhkan Syukur Sebelum Prestasi Mendidik Hati Sebelum Mengejar Hasil Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada pertanyaan yang nyaris otomatis terlontar dari lisan orang tua begitu anak pulang sekolah: "Nilainya berapa?" "Ranking berapa?" Pertanyaan itu tidak salah, dan tidak ada yang keliru dari kepedulian orang tua terhadap capaian anaknya. Namun jika pertanyaan tentang nilai jauh lebih sering terdengar daripada penghargaan terhadap proses dan syukur, anak dapat menangkap kesan bahwa prestasi adalah syarat utama untuk memperoleh penerimaan. Dari kesan kecil yang berulang inilah, tanpa disadari, prestasi mulai menempati ruang yang seharusnya diisi oleh syukur. Jarang sekali kita mendengar orang tua bertanya di penghujung hari, "Apa yang kamu syukuri hari ini?" Padahal pertanyaan sederhana itu jauh lebih dekat kepada cara Allah mendidik manusia. Islam memulai pendidikan bukan dari target pencapaian, melainkan dari pembentukan orientasi hati. Sebab tauhi...

Ketika Hati Tak Lagi Membutuhkan Penonton

Gambar
Ketika Hati Tak Lagi Membutuhkan Penonton Membaca Kisah Mohamed Salah dari Perspektif Tazkiyatun Nafs: Tentang Tajrīd at-Tauḥīd dan Kemerdekaan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bayangkan menjadi seorang Muslim yang setiap pekan berdiri di hadapan puluhan ribu penonton, di negeri yang budaya sepak bolanya identik dengan bir, pesta, dan ejekan tribun. Dalam situasi seperti itu, banyak orang mungkin memilih menyimpan identitas agamanya rapat-rapat. Mohamed Salah justru melakukan kebalikannya. Ia tetap shalat, tetap berpuasa, dan tetap bersujud setelah mencetak gol. Pertanyaannya bukan mengapa ia berani, tetapi mengapa ia tampak tidak merasa perlu menjadi orang lain. Banyak yang membaca kisah ini sebagai kemenangan toleransi, atau keberhasilan melawan Islamofobia. Semua itu benar pada tempatnya. Namun para ulama tazkiyatun nafs mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: kepada siapa sebenarnya hati seseorang bergantung. Mereka menyebut keadaan ketika hati telah bersih dari keter...

Seni Menghadirkan Hati Bersama Allah

Gambar
Dzikir Hudhur al-Qalb: Seni Menghadirkan Hati Bersama Allah Bagaimana Kualitas Kehadiran Hati Menyempurnakan Dzikir, Bukan Sekadar Kuantitas Lafaz Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bismillahirrahmanirrahim. Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan, padahal ia menentukan kualitas jutaan dzikir yang kita ucapkan sepanjang usia: ke mana perginya hati saat lisan sedang berdzikir? Banyak orang menghitung dzikirnya dengan jari, tasbih, atau aplikasi digital — seratus kali, seribu kali, sepuluh ribu kali. Syariat sendiri banyak menetapkan bilangan dzikir tertentu, dan itu memiliki keutamaannya sendiri. Namun al-Qur'an dan hadits juga mengajarkan sesuatu yang lebih halus: bahwa kuantitas lafaz memiliki keutamaan tersendiri, sementara kualitas kehadiran hati menjadi salah satu unsur utama dalam menyempurnakan dzikir itu. Inilah yang dalam khazanah ulama disebut hudhur al-qalb — kehadiran hati dalam dzikir. Artikel ini disusun sebagai rujukan komprehensif: memuat dalil Al-Qur'an dan hadi...

Membangun Jiwa: Mengurai Lapisan Tersembunyi dalam Diri Manusia

Gambar
Membangun Jiwa: Mengurai Lapisan Tersembunyi dalam Diri Manusia Antara Ruh yang Ditiupkan dan Jiwa yang Dipahat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Mengapa seseorang yang tahu persis bahaya sebuah kebiasaan tetap saja mengulanginya setiap hari? Mengapa orang yang dikenal saleh, yang rajin shalat malam dan fasih membaca Al-Qur'an, masih bisa dikuasai amarah dalam hitungan detik? Mengapa ada hari-hari ketika hati ingin sekali bersujud, tetapi tubuh terasa seberat batu untuk sekadar bangkit dari kasur? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sebenarnya menyingkap sesuatu yang jarang disadari: manusia tidak pernah benar-benar tunggal. Ada lebih dari satu "kehendak" yang bekerja di dalam diri, saling tarik, kadang saling berperang. Dan jauh sebelum psikologi modern mencoba memetakan fenomena ini, para ulama turats sudah menyusun peta yang jauh lebih dalam. Selama ini banyak yang mengira dirinya hanya terdiri dari tubuh dan pikiran. Padahal dalam khazanah Islam klasik, manusia dibang...

Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh

Gambar
Sorak Gol, Sunyi di Saf Subuh Bukan Tentang Sepak Bola, tetapi Tentang Siapa yang Menjadi Pusat Cinta Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Di berbagai belahan dunia, malam berubah menjadi pesta. Mata enggan terpejam karena satu pertandingan yang telah dinanti empat tahun lamanya. Sorak sorai memenuhi ruang keluarga, grup WhatsApp ramai oleh prediksi skor, dan lini masa media sosial dipenuhi euforia gol demi gol. Namun di saat yang sama, ada saf Subuh yang perlahan kehilangan jamaahnya, satu demi satu, tanpa ada yang benar-benar menyadarinya sebagai kehilangan. Kita hafal jadwal kick-off, tetapi lupa jadwal perjumpaan dengan Rabb kita. Maka pantas kita bertanya pada diri sendiri: sebenarnya yang sedang kalah itu siapa? Tim favorit kita, atau hati kita sendiri? Barangkali inilah persoalan sesungguhnya yang dihadapi manusia modern. Bukan kekurangan waktu, sebab dalam sehari kita masih sempat menonton, membalas pesan, dan menikmati hiburan berjam-jam lamanya. Yang sebenarnya terjadi adalah k...

Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh

Gambar
Saat Hati Tidak Lagi Mudah Tersentuh Ketika tawa semakin keras, tetapi hati semakin sunyi Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu keluhan yang belakangan sering terdengar, meski jarang diucapkan secara terbuka: hati terasa keras, sulit menangis, berat diajak berdzikir, namun begitu ringan tertawa. Ayat dibaca, namun tidak lagi bergetar. Nasihat didengar, namun tidak lagi membekas. Padahal dahulu, sedikit teguran saja sudah cukup membuat air mata jatuh. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang gejala ini jauh sebelum kita mengenalnya. Dari Abu Hurairah, beliau bersabda: لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ Lā tuktsirūḍ-ḍaḥika, fa inna katsrataḍ-ḍaḥiki tumītul-qalb. "Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR. Ibnu Majah, no. 4193; dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani) Sejak awal perlu dipahami: yang mematikan hati bukanlah tawa itu sendiri. Yang mematikan hati adalah ghaflah, kelalaian kepada Allah....

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...