Postingan

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

Gambar
10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati Tazkiyatun Nufus di Balik Amal-Amal Dzulhijjah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Rasulullah ﷺ bersabda: مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ. قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ "Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini — yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah." Para sahabat bertanya: "Tidak juga jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab: "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun." (HR. Al-Bukhari, no. 969 — dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma) Hadits ini telah didengar oleh banyak orang. Dibacakan di mimbar-mimbar, diunggah di berbagai platform, dijadikan pembuka ceramah. Namun ada satu...

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Gambar
Hati yang Hidup dan Hati yang Mati Ketika yang Lelah Bukan Hidupmu — Tapi Hatimu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kajian Tazkiyatunufus — Persadani Bismillahirrahmanirrahim. Pernahkah Anda merasa aneh dengan diri sendiri? Kajian agama tetap dihadiri. Konten Islami masih dibagikan. Shalat masih dikerjakan. Tapi entah sejak kapan — hati ini terasa kosong. Dosa yang dulu membuat menangis, kini terasa biasa. Nasihat yang dulu menggugah, kini hanya lewat begitu saja di telinga. Kita tertawa, bekerja, bahkan hadir di majelis ilmu — tetapi diam-diam ada sesuatu yang terasa mati di dalam dada. Ada orang yang pernah mengeluh kepada seorang ustadz: "Saya masih salat, Ustadz. Masih ngaji. Tapi hati saya seperti mati. Saya tidak tahu kenapa." Dan mungkin, lebih banyak dari kita yang diam-diam pernah merasakan hal yang sama — hanya tidak pernah mengucapkannya. Jangan-jangan, yang sedang lelah bukan hidup kita. Tapi hati kita. Inilah tema yang sudah para ulama bicarakan se...

Salat Cepat, Apakah Tetap Sah?

Gambar
Salat Cepat, Apakah Tetap Sah? Ketika Gerakan Ada, Tapi Hati dan Thuma'ninah Hilang Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Takbir. Rukuk. Sujud. Salam. Tiga menit. Selesai. Tapi setelah itu, marah tetap meledak. Mata tetap liar. Hati tetap gelisah. Yang berubah hanya waktu — bukan jiwa. Lalu muncul pertanyaan yang jarang berani kita tanyakan kepada diri sendiri: Apakah salat yang sudah selesai itu benar-benar kita lakukan? Bukan soal sah atau tidak dalam catatan fiqih. Tapi soal: apakah ada sesuatu yang berubah dalam diri kita setelah berdiri, membungkuk, dan bersujud di hadapan Allah? Sah Belum Tentu Sempurna Dalam mazhab Syafi'i, salat dinyatakan sah bila syarat dan rukunnya terpenuhi. Ada sembilan syarat sah yang harus dipenuhi sebelum dan selama salat: Islam, berakal, tamyiz, suci dari hadas kecil dan besar, suci badan dan pakaian dan tempat dari najis, menutup aurat, masuk waktu, menghadap kiblat, dan mengetahui kefardu...

Belajarlah Mencintai Tanpa Menghitung

Gambar
Belajarlah Mencintai Tanpa Menghitung Tadabbur QS Al-Insān Ayat 8–9 — oleh Tsaqif Rasyid Dai Ketika Cinta Berubah Menjadi Transaksi Pernahkah kita merasa lelah setelah berbuat baik? Bukan lelah karena banyak memberi. Tapi lelah karena merasa tidak dibalas. Tidak dihargai. Tidak diingat. Kita hidup di zaman ketika kebaikan sering diam-diam menagih. Ketika perhatian diberikan sambil menunggu balasan. Ketika sedekah butuh saksi. Ketika pertolongan berharap catatan di buku besar sosial — suatu hari nanti dikembalikan. Psikologi menyebut ini transactional relationship : hubungan berbasis untung-rugi, di mana setiap kebaikan adalah investasi yang menunggu imbal hasil. Dan ketika imbal hasil itu tidak datang, yang tersisa adalah kecewa. Kita tidak selalu kecewa karena kurang dicintai. Kita kecewa karena ekspektasi kita tidak dibayar. Lalu Al-Qur'an datang dengan dua ayat yang begitu sunyi, begitu dalam — seolah berbisik kepada jiwa yang lelah menghitung: وَيُطْعِمُون...

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM Dari Digitalisasi hingga Menolak IMF: Strategi Kemandirian Ekonomi Rakyat Oleh: Nuraini Persadani | Persadani.org — Media Analitik Islam Wasathiyah Rabu, 13 Mei 2026  |  25 Dzulqa'dah 1447 H  |  ⏱ Estimasi baca: 8–10 menit 📌 Ringkasan Eksekutif APBN 2026 menempatkan UMKM sebagai fondasi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Dengan total alokasi Rp181,8 triliun untuk pilar Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM — ditambah target penyaluran KUR Rp320 triliun — pemerintah membangun ekosistem yang menopang 65 juta lebih pelaku usaha kecil. Bersamaan dengan itu, Indonesia mengambil keputusan berani: menolak tawaran pinjaman IMF senilai US$25–30 miliar , memilih kemandirian fiskal berbasis sumber daya domestik. Ini bukan kebijakan tambal sulam — ini adalah arsitektur ekonomi kerakyatan yang dirancang sistematis. UMKM Bukan Pelengkap — Melainkan Fondasi Ada angka yang perlu diingat sebelu...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya