Menjadi Wasathiyah: Jalan Tengah yang Membebaskan, Bukan Jalan Tengah yang Lemah
Menjadi Wasathiyah: Jalan Tengah yang Membebaskan, Bukan Jalan Tengah yang Lemah Ada sebuah kesakitan yang tidak banyak orang berani akui. Kesakitan itu bukan karena kita tidak beragama — justru karena kita terlalu keras beragama dengan cara yang salah. Kita bangun malam demi malam, air mata membasahi sajadah, tetapi hati tidak juga menjadi tenang. Kita hafal hukum-hukum halal dan haram sampai ke detail yang paling rinci, tetapi jiwa kita tetap kering seperti tanah yang retak di musim kemarau panjang. Kita mengulang istighfar ribuan kali, tetapi merasa dosa yang sama terus kembali dalam siklus yang melelahkan — bertobat, jatuh, bertobat lagi, jatuh lagi — hingga kita tidak yakin lagi apakah tobat kita pernah benar-benar diterima. Ini bukan kelemahan iman. Ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar: kita telah salah memahami di mana jalan itu sesungguhnya berada. Kita telah diajarkan untuk memilih antara dua tepi jalan yang berbahaya. Di tepi pertama: legalisme kering ya...