Tubuhnya Dicambuk — Tapi Imannya Tak Pernah Retak
Tubuhnya Dicambuk — Tapi Imannya Tak Pernah Retak Oleh: Nuraini Persadani Ada ujian yang datang dalam bentuk kemiskinan. Ada yang datang dalam bentuk kehilangan. Ada yang datang dalam bentuk sakit yang berkepanjangan. Tapi ada satu jenis ujian yang lebih berat dari semuanya: ketika yang menekan bukan nasib, tapi manusia. Ketika yang memaksa bukan keadaan, tapi kekuasaan. Ketika yang mengancam bukan penyakit, tapi pedang. Imam Ahmad ibn Hanbal menghadapi ujian jenis itu — bukan sehari, bukan sebulan, tapi hampir tiga puluh tahun. Dan ia melewatinya dengan sesuatu yang tidak semua orang punya: keyakinan bahwa kebenaran tidak berubah hanya karena penguasa menginginkannya berubah. Inilah kisahnya. Bukan untuk dikagumi dari jauh, tapi untuk direnungkan dari dalam — dari bagian hati kita yang paling jujur. Al-Mihnah: Fitnah Terbesar yang Pernah Mengguncang Umat Pada tahun 218 H, Khalifah Al-Ma'mun — seorang penguasa yang cerdas namun terjerumus dalam pemikiran Mu'ta...