Postingan

Geger Imam Mahdi

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] Geger Imam Mahdi Ketika Klaim Kesalehan Mengalahkan Akal Sehat Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Umur bisa diperpanjang. Dosa bisa ditebus. Keselamatan akhirat bisa dijamin. Syaratnya, bayar. Konon, yang menawarkan semua itu mengaku sebagai Imam Mahdi. Gegerlah Bangkalan. Seorang pria berinisial FF dilaporkan ke Polres Bangkalan, Jawa Timur, pada 21 Oktober 2026. Ia diduga menggunakan klaim sebagai Imam Mahdi untuk meminta uang kepada pengikutnya. Seorang pelapor mengaku mengalami kerugian hingga Rp1,3 miliar. Perkaranya masih dalam proses hukum. Namun, klaim keagamaannya telah mendapat tanggapan tegas dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH M Cholil Nafis. Yang menggelisahkan bukan semata munculnya seseorang yang mengaku Imam Mahdi, melainkan bagaimana klaim semacam itu bisa dipercaya, diikuti, bahkan dibayar dengan harta yang tidak sedikit. Padahal, umur dan ajal bukan wilayah kekuasaan manusia. Keselamatan akhirat pun bukan komodit...

Lanang Tenan

Gambar
[ REFLEKSI ] Lanang Tenan Memantaskan Diri, Merawat Tradisi ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Mereka masih muda. Belum punya negara merdeka. Belum punya pemerintahan sendiri. Bahkan belum tahu apakah cita-cita yang diperjuangkan akan terwujud semasa hidup. Tetapi mereka berani bersumpah. 28 Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul, melampaui sekat kedaerahan, lalu menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tujuh belas tahun kemudian, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Begitulah watak perintis. Menanam sesuatu yang hasilnya belum tentu sempat dinikmati sendiri. Nandur ora kudu ngundhuh. Orang Jawa mengenal ungkapan lanang tenan . Bukan semata soal kegagahan seorang lelaki, melainkan ketangguhan watak. Berani memikul tanggung jawab, teguh memegang prinsip, dan tidak mudah menyerah ketika keadaan belum berpihak. Lanang tenan kuwi sing wani mikul, dudu mung wani umuk. Watak demikian diperluka...

Gerimis, Kok Kuyup?

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] Gerimis, Kok Kuyup? Ketika Kesalahan Kecil Tak Lagi Terasa Salah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ “Waspadalah terhadap dosa-dosa yang dianggap remeh.” (HR Ahmad) Hujan deras membuat orang segera mencari tempat berteduh. Gerimis justru membuat orang menunda. Merasa belum perlu. Mengira sebentar lagi juga reda. Tahu-tahu kuyup. “Lho, kok teles?” “Gerimis, Pak.” “Lha, kok ora ngiyup?” “Kirain cuma sebentar.” Begitulah. Sesuatu yang kecil sering kehilangan daya ancamnya, bukan karena tidak berbahaya, melainkan karena terlalu mudah diremehkan. Manusia pandai sekali menyiapkan istilah untuk mengecilkan kesalahannya sendiri. “Cuma terlambat sedikit.” “Cuma pinjam sebentar.” “Bukan ghibah, cuma cerita.” “Bukan bohong, hanya tidak menjelaskan semuanya.” Dan bila alasan mulai kehabisan tenaga, masih ada jurus pamungkas: “Lha, wong liyane yo podo.” Selesai. Hati mendapat pembelaan. Kesalahan mendapat tempat yang nyaman. ...

AI, Sakdet Saknyet

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] AI, Sakdet Saknyet Ketika Kecepatan Menjawab Mendahului Ketelitian Ilmu Tsaqif Rasyid Dai فَتَبَيَّنُوا "Maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6) "Wis takon AI?" "Wis. Sakdet saknyet." "Wis dipriksa maneh?" "Lha jawabane wis masuk akal, kok!" Begitulah kita hari ini. Minta AI memperbaiki satu kalimat, malah dikasih ceramah panjang. Kita jengkel. "Wis, cukup! Aku mung takon sakmenir." Tapi ketika AI menyodorkan jawaban yang sejalan dengan pendapat kita, lengkap dengan dalil, nama kitab, bahkan nomor halaman, kita manggut-manggut. "Nah, iki! Cocok!" Tak ada yang bertanya: benarkah kitab itu ada? Benarkah halamannya demikian? Yang masuk akal belum tentu benar. Yang meyakinkan belum tentu terverifikasi. Yang cocok dengan selera belum tentu cocok dengan kenyataan. Untuk urusan sederhana, cepat itu nikmat. Tetapi untuk urusan agama, ilmu, dan keputusan yang menyangkut or...

Militansi yang Matang

Gambar
[ TazkiyatunNafs ] Militansi yang Matang Teguh dalam Prinsip, Lentur dalam Ikhtiar ✒️ Tsaqif Rasyid Dai وَاصْدِمْهُ أَوَّلَ وَهْلَةٍ لَا تَكْتَرِثْ "Seranglah sejak kesempatan pertama. Jangan terlalu memedulikan apa pun." Gercep. Sikat. Ojo pikir jero. Gagah kedengarannya. Ada rintangan, tabrak. Ada tantangan, terjang. Urusan akibat, pikir belakangan. Seolah keberanian baru dianggap sempurna jika seseorang tidak sempat mempertimbangkan risiko. Tetapi Ibnu Khaldun justru mengkritik anjuran dalam bait syair tersebut. Dalam Al-Muqaddimah , beliau mempertanyakan keberanian yang mendahului pertimbangan. Bukan keberanian menyerang yang keliru, melainkan tindakan yang diambil sebelum keadaan dipahami. Beliau kemudian menghadirkan pesan Umar bin Khattab tentang sosok pemimpin yang dibutuhkan dalam peperangan: الرَّجُلُ الْمَكِيثُ الَّذِي يَعْرِفُ الْفُرْصَةَ وَالْكَفَّ Orang yang matang pertimbangannya, yang mengetahui kapan mengambil kesempatan dan kapan haru...

Cetho Welo-Welo

Gambar
Cetho Welo-Welo Ketika Amanah yang Jelas Mendadak Menjadi Samar ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Ada yang menarik dalam kehidupan organisasi nirlaba. Kesepakatan dibuat bersama, aturan disusun, tanggung jawab dibagi. Semua mengangguk. Semua memahami. Cetho welo-welo. Namun, ketika tiba saatnya menjalankan, sesuatu yang semula jelas mendadak memerlukan penafsiran. Laporan pekerjaan dianggap mengurangi keikhlasan. Pertanggungjawaban keuangan dianggap cukup dengan saling percaya. Bahkan, dana yang telah ditentukan peruntukannya masih bisa diusulkan untuk membiayai kegiatan lain, selama mengatasnamakan kebaikan. Rupanya, kewajiban yang sebenarnya sudah jelas dapat dibuat lentur ketika berbenturan dengan kepentingan atau kenyamanan sendiri. Tidak ada penolakan terang-terangan. Kesepakatan tetap disetujui, rapat tetap dihadiri, nasihat tentang amanah tetap disampaikan. Hanya pelaksanaannya yang tak kunjung sesuai keputusan. Mangkir alus. Dalam sebuah lembaga pengabdian, laporan pekerjaan ...

JIHAD ORA JAHAT

Gambar
JIHAD ORA JAHAT Refleksi Resolusi Jihad di Hari Santri Oleh Tsaqif Rasyid Dai   Tidak setiap kemarahan atas nama agama adalah jihad. Tidak setiap keberanian menghadapi kemungkaran berarti sedang membela kebenaran. Sebab, keberanian tanpa ilmu dapat berubah menjadi kecerobohan, sementara semangat tanpa hikmah justru bisa melahirkan kerusakan. Allah mengingatkan: قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ Katakanlah, "Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan dasar ilmu yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik." (QS Yusuf: 108) Bashirah menuntut kejernihan ilmu, ketepatan membaca keadaan, dan kesadaran terhadap akibat suatu tindakan. Kebenaran yang diperjuangkan harus ditempuh dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan cara pandang inilah kita patut membaca kembali Resolusi Jihad 22 Ok...

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

Gambar
Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe Tentang kesediaan mengambil bagian, menjaga niat, dan belajar tidak merasa paling berjasa. ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Pekerjaan itu sudah disepakati untuk disengkuyung bareng. Semua mengangguk. Semua merasa ikut bertanggung jawab. Namun, ketika ditanyakan siapa yang akan mengerjakan, seseorang menjawab dengan tenang. “Wis, paling wis ono sing nekel.” Legalah semua. Rupanya, dalam gotong royong ada satu hal yang bisa dibagi rata tanpa perlu bekerja: keyakinan bahwa orang lain pasti sudah mengerjakannya. Biasanya yang dimaksud adalah Fulan. Orang yang dikenal prigel , cekatan, dan hampir selalu bisa diandalkan. Bahkan sebelum dimintai tolong, pundaknya sudah lebih dahulu kebagian beban. Nyengkuyung bareng, ojo njagakake. Dalam psikologi sosial, dikenal fenomena diffusion of responsibility , ketika tanggung jawab yang dipikul bersama justru membuat seseorang merasa tidak perlu segera mengambil bagian karena menganggap orang lain akan menger...

PRIGEL, MIKUL DHUWUR, MENDHEM JERO

Gambar
PRIGEL, MIKUL DHUWUR, MENDHEM JERO Ketika kecakapan menjadi jalan syukur dan pengabdian ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Ada risiko tersendiri menjadi orang prigel . Semakin banyak yang bisa dikerjakan, semakin banyak pula pekerjaan yang datang. Mulanya seseorang hanya membawa keluhan. Meminta pendapat. Mencari jalan keluar. Setelah mendapat saran, wajahnya berbinar. “Wah, bagus itu! Kalau begitu, sekalian njenengan saja yang membuatkan, nggih?” Selesai. Yang semula dimintai nasihat, sekarang mendapat pekerjaan. Yang mengusulkan perbaikan, kebagian melaksanakan sekaligus menuntaskan. Mikul dhuwur, mendhem jero. Pekerjaan orang lain ikut dipikul. Lelahnya dipendam sendiri. Apalagi kalau orang prigel tadi memiliki DPT tinggi. Bukan daftar pemilih tetap, melainkan Daya Pekewuh Tinggi . Sulit menolak permintaan, terlebih ketika tahu bahwa melalui tangannya persoalan itu bisa diselesaikan. Di beberapa tempat, mengusulkan perbaikan memang membawa risiko tambahan pekerjaan. Ti...

Oleh-olehe Ndi?

Gambar
Oleh-olehe Ndi? Jos Gandos, Implementasinya Menyusul ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Belum juga sempat melepas sepatu, pertanyaan itu sudah menyambar. “Oleh-olehe ndi?” Pertanyaan khas orang rumah ketika seseorang baru pulang bepergian. Bisa dari luar kota, menghadiri undangan, atau sekadar mampir ke tempat wisata. Tidak selalu sungguh-sungguh meminta sesuatu. Kadang hanya menggoda. Tetapi kalau benar-benar membawa oleh-oleh, tentu lebih menyenangkan. Rupanya pertanyaan serupa juga berlaku bagi mereka yang baru pulang dari pelatihan, seminar, studi banding, atau kegiatan peningkatan kapasitas. “Piye pelatihane?” “Wah, apik tenan! Jos gandos!” “Materinya?” “Luar biasa. Narasumbernya hebat. Banyak ilmu baru. Sangat menginspirasi.” “Terus, oleh-olehe ndi?” “Kesel.” Hehehe. Jawaban pendek. Jujur. Sekaligus nyesek. Berangkat pagi, pulang sore. Duduk berjam-jam, mendengarkan materi, mencatat, berdiskusi, sesekali bertepuk tangan. Tidak lupa foto bersama. Pulang membawa sertifika...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...