Postingan

Ikhlas yang Sulit Diukur

Ikhlas yang Sulit Diukur Mengapa Kita Tidak Pernah Yakin dengan Niat Kita Oleh Nuraini Persadani Ada sebuah pertanyaan yang mungkin pernah mengusik kita di saat-saat paling sunyi — setelah shalat tahajud, setelah memberi sedekah, setelah menyampaikan ceramah yang disambut hangat: Apakah ini benar-benar ikhlas? Atau ada sesuatu yang lain di sana — serpihan halus dari keinginan untuk dipuji, untuk dikenang, untuk merasa lebih baik dari orang lain? Paradoksnya semakin kita mencoba "memastikan" keikhlasan kita, semakin kita justru kehilangan jejaknya. Ikhlas ( الإخلاص ) terasa seperti bayangan — semakin dikejar, semakin kabur. Dan di situlah terletak keganjilan sekaligus keindahan tema ini: ia menantang kita untuk jujur kepada diri sendiri di hadapan Dzat yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Artikel ini tidak bertujuan membuat kita semakin cemas. Sebaliknya, ia mengajak kita memahami bahwa ikhlas bukanlah perasaan yang bisa dipastikan keberadaannya — melain...

Jangan Sampai Niat Suci Berakhir Duka: Panduan Aman Memilih Travel Umroh

Jangan Sampai Niat Suci Berakhir Duka: Panduan Aman Memilih Travel Umroh Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah April 2026 Ada yang lebih menyayat dari kehilangan uang. Yaitu kehilangan mimpi yang sudah bertahun-tahun dipelihara dengan sabar. Begitulah yang dialami lebih dari 63.000 calon jemaah First Travel pada 2017. Mereka bukan orang kaya yang iseng berlibur ke Tanah Suci. Mereka adalah ibu-ibu yang menabung dari hasil dagang. Bapak-bapak yang memotong uang jajan. Pasangan muda yang menyisihkan dari gaji pertama. Semua terkumpul dalam satu harapan: Ya Allah, izinkan kami berwudhu di depan Ka'bah-Mu. Harapan itu dirampas. Bukan oleh takdir — tapi oleh keserakahan manusia yang menjadikan niat suci sebagai komoditas penipuan. Dan kasus seperti ini terus berulang. Setiap tahun. Hingga hari ini. Daftar Panjang yang Mestinya Sudah Cukup sebagai Peringatan Berikut adalah sebagian kasus penipuan umroh yang telah tercatat dalam sejarah:...

"Indonesia Cerah": Narasi Optimisme Prabowo sebagai Strategi Komunikasi Politik

"Indonesia Cerah": Narasi Optimisme Prabowo sebagai Strategi Komunikasi Politik Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah 10 April 2026 Dua peristiwa dalam rentang 24 jam — Taklimat Rapat Kerja Kabinet Merah Putih (8 April 2026) dan peresmian pabrik VKTR di Magelang (9 April 2026) — menegaskan satu tema besar yang menjadi tulang punggung komunikasi politik Presiden Prabowo Subianto: optimisme nasional . Frasa yang paling diingat publik bukan data anggaran, bukan angka pertumbuhan, melainkan sebuah kalimat sederhana yang langsung menghunjam ke ruang persepsi: "Bagi saya, Indonesia gelap enggak ada. Indonesia cerah di saat banyak negara susah." Dan satu kalimat lagi yang tak kalah tajam: "Yang bilang Indonesia gelap… mungkin matanya yang kurang bagus, ya. Matanya dan hatinya…" Dua kalimat itu bukan sekadar ekspresi spontan. Ia adalah kerangka naratif yang dirancang — sadar atau tidak — untuk membentuk perseps...

Hari ke-41: Benang yang Hampir Putus

Hari ke-41: Benang yang Hampir Putus Reportase Konflik AS–Israel–Iran | 9 April 2026 Oleh: Nuraini Persadani | Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Gencatan senjata yang diumumkan kemarin belum genap 24 jam, namun sudah berada di tepi jurang. Lebanon berduka: 254 nyawa melayang dalam satu hari — hari paling mematikan sejak perang ini dimulai. Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai peringatan. Dan dunia menunggu apakah meja negosiasi di Islamabad akan mampu menyelamatkan apa yang tersisa dari kesepakatan rapuh ini. Lebanon: 254 Tewas, Hari Berkabung Nasional Tepat beberapa jam setelah Trump mengumumkan ceasefire AS–Iran pada 8 April, Angkatan Udara Israel melancarkan Operation Eternal Darkness — serangan udara paling dahsyat sejak konflik ini dimulai. Lebih dari 100 target dihantam dalam waktu 10 menit: kawasan Beirut selatan, Lembah Bekaa, Nabatieh, Tyre, dan berbagai titik di selatan Lebanon. Akibatnya: setidaknya 254 orang tewas dan lebih dari 1.165 lainny...

Futur: Ketika Jiwa Lelah Beribadah

Gambar
Futur: Ketika Jiwa Lelah Beribadah Antara Lemah Iman atau Burnout Spiritual? Telaah Turots dan Psikologi Modern Oleh: Nuraini Persadani Ada satu momen yang hampir pernah dialami setiap orang yang serius menekuni jalan ibadah — momen ketika sajadah terasa berat, mushaf terasa jauh, dan dzikir terasa seperti pengulangan kata tanpa jiwa. Bukan karena ia tidak percaya kepada Allah. Bukan karena imannya runtuh. Melainkan karena jiwanya kelelahan . Kondisi ini dalam khazanah Islam dikenal dengan satu kata yang singkat namun berat: futur . Ironisnya, kondisi ini sering disalahpahami — bahkan oleh pelakunya sendiri. Ada yang menyimpulkannya sebagai tanda kemunafikan. Ada yang menjadikannya pintu masuk rasa bersalah yang berkepanjangan. Padahal para ulama salaf telah membahasnya dengan sangat jernih, jauh sebelum psikologi modern menemukan istilah burnout . Futur dalam Pandangan Ulama Salaf Apa Itu Futur? Kata futur ( فُتُور ) secara bahasa berasal dari akar kata fatara-yaf...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya