Postingan

Ketika Rasulullah ﷺ Disakiti: Bagaimana Luka Tidak Meracuni Hati?

Gambar
Ketika Rasulullah ﷺ Disakiti: Bagaimana Luka Tidak Meracuni Hati? Belajar dari Sirah Nabi ﷺ tentang Marah, Memaafkan, dan Menjaga Jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Pernahkah engkau merasa satu luka lama diam-diam mengubah caramu memandang orang lain? Bukan luka fisik, tapi luka yang lebih dalam — dikhianati, dihina, difitnah, diperlakukan tidak adil oleh orang yang seharusnya menyayangimu. Tanpa disadari, luka itu bisa menjelma menjadi sesuatu yang lain: kecurigaan yang mengeras, kemarahan yang tak pernah benar-benar reda, atau bahkan kezaliman baru yang lahir dari kezaliman lama yang belum sembuh. Berapa banyak orang yang dulu adalah korban, kini tumbuh menjadi pelaku dengan wajah berbeda? Maka pertanyaannya menjadi penting: bagaimana seseorang bisa terus-menerus disakiti, namun tidak membiarkan luka itu mengambil alih kendali atas akhlaknya? Untuk pertanyaan sebesar ini, ada satu pribadi dalam sejarah manusia yang mengalami hampir seluruh bentuk luka itu sekaligus, dan tetap menj...

Ketika Azan Berkumandang: Ke Mana Hati Kita Berlari Lebih Dahulu?

Gambar
Ketika Azan Berkumandang: Ke Mana Hati Kita Berlari Lebih Dahulu? Membaca Kembali QS. Al-Jumu'ah 9–11 di Tengah Kafilah Notifikasi yang Tak Pernah Berhenti Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Azan sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi dalam beberapa menit itu, hati kita sering kali memperlihatkan siapa yang paling ia dahulukan. Ada yang badannya sudah melangkah ke masjid, tapi pikirannya masih tertinggal di meja kerja. Ada yang duduk paling depan shaf, tapi hatinya masih membalas chat yang belum sempat terjawab. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9) Para mufasir menj...

Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta?

Gambar
Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta? Ketika Kesalehan Pribadi Berubah Menjadi Rahmat bagi Sesama Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri, padahal jawabannya menentukan mutu keberagamaan kita: bukan "seberapa saleh saya?", melainkan "seberapa banyak rahmat yang mengalir melalui kesalehan saya?" Perlu segera diluruskan agar tidak terjebak kesalahpahaman: ini bukan berarti kesalehan seseorang hanya bernilai jika orang lain merasa nyaman dengannya. Ada orang yang menjalankan kebenaran secara benar tetapi tetap tidak disukai — Nabi ﷺ sendiri ditentang, dicaci, bahkan diperangi oleh sebagian kaumnya. Maka ukuran yang lebih tepat adalah: kesalehan yang benar tidak selalu membuat kita disukai semua orang, tetapi semestinya membuat kita semakin sulit berbuat zalim kepada siapa pun. Kata "semestinya" penting di sini, sebab tazkiyah adalah proses, bukan klaim kesempurnaan. Pertanyaan ini mengantarkan ...

Mutatharrif di Dalam Diri

Gambar
Mutatharrif di Dalam Diri Mengenali Benih Ekstremisme sebelum Menuding Orang Lain Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah ironi dalam pembicaraan tentang ekstremisme. Kita begitu mudah mengenali ekstremisme ketika ia muncul pada orang lain, tetapi begitu sulit mengenalinya ketika ia tumbuh dalam diri sendiri. Ketika seseorang keras kepada kelompok lain, kita menyebutnya fanatik. Ketika ia mudah menuduh sesat, kita menyebutnya ekstremis. Ketika ia membenarkan kekerasan, kita menyebutnya radikal. Tetapi ketika kita melakukan sesuatu yang serupa terhadap orang yang berbeda dengan kita, kita sering memberinya nama yang lebih terhormat: ketegasan, perjuangan, pembelaan agama, menjaga kemurnian ajaran, atau membela kelompok. Di sinilah tazkiyatun nufus mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: sebelum memperbaiki dunia di luar diri, manusia perlu belajar membaca apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. Yang universal adalah kemungkinan penyimpangan manusia ketika sesuatu yang dian...

Kedaulatan Data di Era AI: Masihkah Kita Benar-Benar Merdeka?

Gambar
Kedaulatan Data di Era AI: Masihkah Kita Benar-Benar Merdeka? Merenungi Makna Kemerdekaan Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Hanya Berada di Tangan Penguasa Tanah dan Senjata Oleh: Nuraini Persadani Merdeka, Tetapi Siapa yang Menguasai Kita? Kita tidak lagi dijajah dengan senjata. Tidak ada lagi pasukan asing yang menduduki tanah air, tidak ada lagi kerja paksa, tidak ada lagi tanam paksa. Kita telah merdeka—setidaknya begitu yang kita rayakan setiap 17 Agustus. Namun coba tengok ke dalam saku kita sendiri: setiap hari kita menyerahkan wajah, suara, lokasi, kebiasaan, bahkan lintasan pikiran kita kepada berbagai platform digital. Kita mengetik di mesin pencari yang mencatat setiap kata. Kita berbicara dengan asisten virtual yang merekam suara kita. Semua itu kita lakukan dengan sukarela. Tanpa paksaan. Tanpa todongan senjata. Hanya dengan satu ketukan kecil bertuliskan "I Agree" atau "Accept All Cookies." Maka izinkan kami men...

Malam Terakhir Para Kekasih Allah

Gambar
Malam Terakhir Para Kekasih Allah Ketika Ilmu Berubah Menjadi Kesiapan Menghadap Allah Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada satu pertanyaan yang jarang berani kita ajukan kepada diri sendiri: seandainya malam ini adalah malam terakhir, dengan hati seperti apa kita akan menghadap Allah? Pertanyaan ini bukan lahir dari ketakutan yang melumpuhkan, melainkan dari satu kesadaran yang ingin kita jadikan poros seluruh tulisan ini: Malam terakhir seorang hamba sebenarnya tidak dimulai ketika ia terbaring di ranjang kematian. Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika hatinya mulai belajar pulang kepada Allah. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn. "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim)." (QS. Āl...

Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia

Gambar
Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia Merawat Kemerdekaan Bukan dengan Seremoni, tapi dengan Kebersamaan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di era yang katanya paling terhubung sepanjang sejarah manusia. Grup WhatsApp memuat ratusan anggota, komunitas tumbuh dalam hitungan hari, crowdfunding bisa mengumpulkan dana ratusan juta hanya dalam semalam. Tetapi di balik keramaian digital itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: benarkah kita benar-benar bersama, atau sekadar berada di ruang yang sama? Banyak orang menginginkan perubahan, tetapi menunggu "orang lain" yang memulai lebih dulu. Banyak yang bersimpati pada persoalan bangsa, tetapi belum tentu bersedia turun tangan. Maka pertanyaannya bukan apakah Indonesia kekurangan orang baik — melainkan apakah kita kekurangan orang yang mau bergerak bersama. Gotong royong bukan sekadar kerja bakti di pagi hari sebelum 17 Agustus. Ia adalah cara sebuah bangsa menjaga dirinya tetap utuh. ...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...