Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-24–25: Trump Tunda Ultimatum 5 Hari, Klaim Negosiasi — Iran Bantah Ada Dialog, Serangan Terus Berlanjut

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-24–25: Trump Tunda Ultimatum 5 Hari, Klaim Negosiasi — Iran Bantah Ada Dialog, Serangan Terus Berlanjut

Reportase | Selasa, 24 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NPR, NBC News, PBS NewsHour, CBS News, Washington Post, Newsweek, AP, Wikipedia

Dalam pembalikan arah paling dramatis sejak perang dimulai 24 hari lalu, Presiden Trump pada Senin 23 Maret — beberapa jam sebelum batas waktu ultimatum 48 jamnya berakhir — mengumumkan penangguhan selama 5 hari atas ancaman serangan terhadap pembangkit listrik Iran. Trump mengklaim AS dan Iran telah mengadakan "percakapan yang sangat baik dan produktif" serta mencapai "kesepakatan besar di hampir semua poin." Ia menyebut utusan-utusannya Steve Witkoff dan Jared Kushner telah terlibat dalam pembicaraan hingga Minggu malam. Harga minyak Brent langsung anjlok lebih dari 10 persen dalam beberapa menit. Namun Iran langsung membantah keras: Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan "tidak ada dialog antara Tehran dan Washington" — dan serangan ke Israel, Lebanon, dan kawasan tetap berlanjut. Netanyahu menegaskan Israel akan terus menyerang Iran dan Lebanon terlepas dari apapun pembicaraan yang sedang berlangsung.

"I am pleased to report that the United States of America, and the country of Iran, have had, over the last two days, VERY GOOD AND PRODUCTIVE CONVERSATIONS REGARDING A COMPLETE AND TOTAL RESOLUTION OF OUR HOSTILITIES IN THE MIDDLE EAST. I have instructed the Department of War to postpone any and all military strikes against Iranian power plants and energy infrastructure for a five day period, subject to the success of the ongoing meetings and discussions." — Presiden Donald Trump, Truth Social, Senin 23 Maret 2026

Trump Tunda Ultimatum 5 Hari: "Hampir Semua Poin Sudah Disepakati"

Trump melakukan pembalikan arah yang mengejutkan dunia: beberapa jam sebelum deadline 48 jamnya berakhir, ia memposting pengumuman penangguhan di Truth Social, memerintahkan "Departemen Perang" untuk menunda seluruh serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari. Ia menyebut ini "tunduk pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung."

Dalam pernyataan terpisah kepada wartawan dan Fox Business Network, Trump mengklaim: Iran yang menghubunginya lebih dulu untuk meminta pembicaraan, bukan sebaliknya. Ia menyebut Iran "sangat ingin membuat kesepakatan" dan menyatakan kesepakatan bisa terjadi dalam lima hari. Trump juga mengungkap untuk pertama kalinya secara publik kondisi yang ia inginkan: Iran menghentikan pengayaan uranium untuk program nuklirnya, dan AS memindahkan uranium yang telah diperkaya yang sudah ada di negara itu.

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan pembagian kontrol Selat Hormuz bersama Iran: "Mungkin saya, mungkin saya dan ayatullah, siapapun ayatullahnya, siapapun ayatullah berikutnya." Ia juga menyatakan bahwa menurutnya "suatu bentuk pergantian rezim, pergantian rezim yang sangat serius" sudah efektif terjadi — mengingat begitu banyak pejabat senior Iran yang telah terbunuh dalam perang ini.

Pasar global bereaksi positif dan dramatis. Harga minyak Brent anjlok lebih dari 10 persen dalam hitungan menit setelah pengumuman — dari sekitar 114 dolar menjadi di bawah 102 dolar per barel. Saham-saham global menguat. IEA menyambut baik langkah ini namun menegaskan Hormuz harus segera dibuka sebagai syarat stabilisasi pasar energi jangka panjang.

Iran Bantah Keras: "Tidak Ada Dialog" — Ini Operasi Psikologis Trump

Iran merespons klaim Trump dengan penolakan keras dan menyeluruh dari berbagai tingkatan kepemimpinan:

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan Tehran tidak melakukan pembicaraan dengan Washington, dan posisi Iran tentang Selat Hormuz serta kondisi untuk mengakhiri konflik tidak berubah. Ia mengakui menerima "pesan dari beberapa negara sahabat" yang menyampaikan minat AS untuk bernegosiasi — namun menegaskan tidak ada dialog langsung maupun tidak langsung yang terjadi.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di X: "Tidak ada negosiasi dengan AS" dan menuduh Washington menyebarkan "berita palsu" untuk memengaruhi pasar keuangan dan minyak.

Penasihat militer senior Supreme Leader Mohsen Rezaei menyatakan perang akan berlanjut hingga Iran menerima kompensasi penuh atas kerusakan yang dideritanya, seluruh sanksi ekonomi dicabut, dan jaminan hukum internasional untuk mencegah campur tangan AS diperoleh. Ia menambahkan: jika Trump menyerang infrastruktur Iran, "tidak akan lagi mata dibalas mata, melainkan mata dibalas kepala, tangan, dan kaki — Amerika akan lumpuh."

Surat kabar resmi Iran IRAN menyatakan klaim Trump merupakan bagian dari upaya untuk "menurunkan harga energi dan membeli waktu untuk rencana militernya." Pejabat Iran mengakui telah menerima pesan dari negara-negara sahabat yang meneruskan tawaran AS — Pakistan dan Oman disebut sebagai kemungkinan mediator — namun menegaskan belum ada tanggapan atau keterlibatan dari pihak Iran.

Siapa yang Berbicara dengan Siapa? Ambiguitas Mediasi

Di balik kontradiksi klaim Trump dan penolakan Iran, sejumlah fakta yang lebih kompleks perlahan terungkap:

Pakistan muncul sebagai mediator yang paling aktif. CNN melaporkan bahwa Islamabad — yang memiliki hubungan baik dengan Iran sekaligus menjadi mitra strategis baru Trump — sedang berupaya memposisikan diri sebagai perantara. PM Pakistan Shehbaz Sharif berbicara langsung dengan Pezeshkian pada Senin dan menyatakan solidaritas Pakistan dengan Iran. Trump sendiri memiliki hubungan dekat dengan kepala militer Pakistan Jenderal Asim Munir, yang disebutnya sebagai "field marshal favoritnya."

Turki juga aktif: Menlu Turki Hakan Fidan bertemu Araghchi, dengan laporan pertemuan yang digelar di Ankara. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berkomunikasi dengan pejabat-pejabat Teluk dan Eropa.

Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan Selat Hormuz "secara fisik terbuka" namun kapal-kapal menghindarinya karena Iran menembakkan rudal dan drone ke arah kapal yang mencoba melintas. Pernyataan ini — yang pertama kali disampaikan secara publik — menggeser narasi dari "blokade aktif" ke "keengganan akibat ancaman" dan memberi ruang bagi penyelesaian teknis yang tidak mengharuskan Iran mengakui telah memblokir selat.

Juru bicara militer Iran sendiri menyatakan Iran memiliki "kendali penuh" atas Teluk Persia, Selat Hormuz, dan perairan di lepas Oman — dan bahwa Iran tidak perlu menabur ranjau untuk menegaskan posisinya. Pernyataan ini mengkonfirmasi posisi Iran: bukan blokade formal, tapi kekuasaan militer de facto yang membuat kapal-kapal tidak berani melintas tanpa izin Tehran.

Hormuz: 9.000 Target AS, Ranjau Baru, dan Kapal China Melintas

CENTCOM mengumumkan pada Senin bahwa sejak perang dimulai, pasukan AS telah menyerang lebih dari 9.000 target Iran — termasuk lebih dari 140 kapal perang Iran yang dihancurkan atau dinetralkan — dan melancarkan lebih dari 9.000 sorti tempur. Angka-angka ini merupakan yang paling besar dalam sejarah operasi militer AS sejak Perang Teluk 1991.

CBS News mengungkap bahwa intelijen AS menyimpulkan Iran kini memiliki setidaknya selusin ranjau bawah laut di Selat Hormuz — menggunakan tipe Maham 3 dan Maham 7 Limpet Mine buatan Iran. Pejabat AS lain menyatakan jumlahnya mungkin kurang dari selusin. IRGC secara terpisah memperingatkan: jika Iran diserang lebih lanjut, mereka akan menebar ranjau di jalur laut Teluk secara lebih luas, yang secara efektif akan memblokir lalu lintas maritim melampaui selat yang sempit.

Sementara itu, kapal berlayar pertama melintas Selat Hormuz pada Senin: seorang pelaut China di kapal berbendera Panama melaporkan kepada NPR bahwa kapalnya — yang mengangkut metanol industri — berhasil melintas dengan selamat. China, sebagai mitra strategis Iran dan pembeli minyak terbesar kawasan, memang termasuk dalam kategori negara yang diberi selective passage oleh Iran. India, Turki, dan beberapa negara "netral" lain juga melaporkan kapal-kapal mereka diizinkan melintas.

Serangan Militer Terus Berlanjut: IDF Hancurkan Markas Besar IRGC di Teheran

Meski Trump mengumumkan penangguhan dan mengklaim pembicaraan produktif, serangan militer dari kedua belah pihak sama sekali tidak berhenti. IDF menyatakan telah melancarkan "gelombang serangan berskala luas" terhadap infrastruktur rezim Iran di Teheran pada Senin — termasuk salah satu markas besar utama IRGC bersama beberapa bangunan militer lainnya. Beberapa ledakan terdengar di seluruh ibu kota Iran saat pengumuman penundaan Trump sedang beredar di media global.

Netanyahu menegaskan: ia telah berbicara dengan Trump, dan Trump menyatakan ada "peluang" untuk memanfaatkan keunggulan di medan perang menjadi sebuah kesepakatan yang mewujudkan tujuan-tujuan perang. Namun Netanyahu memastikan: "Israel akan terus menyerang Iran dan Lebanon." Presiden Israel Isaac Herzog menyatakan Israel harus memastikan "kedalaman strategis di dalam Lebanon" dan menciptakan "zona pertahanan depan yang jelas dan bermakna" di sana. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich melangkah lebih jauh: menyerukan Israel agar memperluas perbatasannya dengan Lebanon hingga ke Sungai Litani.

Iran juga terus menyerang. Gelombang rudal dan drone Iran kembali menargetkan Israel, Kuwait, UEA, dan fasilitas AS di kawasan sepanjang Senin. Iran mengancam akan menargetkan situs pariwisata di seluruh dunia jika eskalasi berlanjut — sebuah ancaman baru yang mengindikasikan perluasan strategi tekanan Iran melampaui kawasan Timur Tengah.

Uni Eropa dan China Desak Meja Perundingan

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan di Canberra, Australia, bahwa "sudah saatnya pergi ke meja perundingan dan mengakhiri permusuhan" di Iran. "Situasinya kritis bagi pasokan energi di seluruh dunia. Kita semua merasakan dampaknya pada harga gas dan minyak, bisnis, dan masyarakat kita," katanya bersama PM Australia Anthony Albanese. Kepala kebijakan luar negeri EU Kaja Kallas menyambut baik keputusan Trump sebagai "langkah yang diperlukan menuju de-eskalasi."

Menlu China Wang Yi menyatakan AS dan Israel harus "segera menghentikan tindakan militer mereka" untuk membuka jalan bagi gencatan senjata. Dalam komentar yang mengindikasikan frustrasi Beijing terhadap Iran, Wang secara tidak langsung mengkritik taktik Iran — termasuk penutupan Hormuz dan serangan ke negara-negara tetangga — dengan menyebut hal-hal ini telah "mempersulit diplomasi" China sambil meningkatkan taruhan ekonomi bagi seluruh dunia.

Pakistan: Mediator Baru yang Kunci — Mengapa Islamabad Penting

Pakistan muncul sebagai aktor diplomasi yang paling penting dalam minggu ketiga dan keempat perang ini. Islamabad memiliki kombinasi unik yang tidak dimiliki negara lain: hubungan dekat dengan Iran (berbagi perbatasan panjang dan ikatan budaya), hubungan dengan AS yang sedang membaik pesat di bawah Trump (hubungan Jenderal Munir dengan Trump yang sangat personal), dan kepentingan langsung untuk mengakhiri perang karena Pakistan sendiri mengalami kelangkaan bahan bakar akibat gangguan Hormuz.

CNN melaporkan bahwa utusan-utusan AS Witkoff dan Kushner terlibat dalam pembicaraan Minggu malam yang kemungkinan dimediasi melalui saluran Pakistan dan/atau Oman. Trump menyatakan Iran yang meminta pembicaraan, sementara Iran menyatakan menerima pesan dari "negara-negara sahabat." Kedua klaim ini bisa jadi merupakan dua sisi dari kenyataan yang sama: Iran menyampaikan kondisi melalui mediator, dan AS menyebutnya sebagai permintaan negosiasi langsung.

Data Perang Komprehensif per Hari Ke-24–25

Dimensi Status per 24 Maret 2026
Ultimatum Trump Ditunda 5 hari; serangan ke pembangkit listrik Iran ditangguhkan; batas waktu baru: Sabtu 28 Maret 2026
Posisi Iran Bantah ada dialog; minta kompensasi penuh + sanksi dicabut + jaminan internasional sebagai syarat damai; ancam tutup Hormuz permanen jika pembangkit diserang
Mediasi Pakistan dan Oman sebagai perantara; Witkoff dan Kushner terlibat sejak Minggu; Iran akui terima "pesan dari negara sahabat"
Militer AS 9.000+ target Iran diserang; 140+ kapal perang Iran dihancurkan; 9.000+ sorti tempur; ranjau Maham 3 & 7 Iran dikonfirmasi di Hormuz
Hormuz Kapal China, India, Pakistan melintas aman; CENTCOM: "fisik terbuka" tapi kapal Barat takut; Iran: "kendali penuh" tanpa perlu ranjau tambahan
Harga minyak Brent anjlok 10%+ setelah pengumuman Trump → $100–102/barel; WTI menembus $100 pertama kali sejak 2022; Goldman Sachs: masih rawan volatilitas
Korban Iran 3.200+ tewas (kelompok hak asasi, 24 hari); termasuk 214+ anak-anak; 68 orang ditangkap atas tuduhan memantau dan mengirim video kerusakan ke luar negeri
Lebanon 1.021+ tewas; Herzog: Israel perlu "kedalaman strategis" di Lebanon; Smotrich: perbatasan harus sampai Sungai Litani
NATO NATO tarik misi penasehat keamanan dari Irak setelah serangan Iran ke pangkalan Eropa; Kallas: penundaan Trump "langkah menuju de-eskalasi"
Diplomatik EU desak meja perundingan; China desak hentikan serangan; Pakistan posisikan diri sebagai mediator; Iran ancam situs wisata dunia sebagai target baru

Analisis: Off-Ramp Pertama yang Nyata — Tapi Jauh dari Pasti

Untuk pertama kalinya sejak 28 Februari, ada sesuatu yang bisa disebut sebagai off-ramp — jalan keluar — yang nyata dari perang ini. Bukan gencatan senjata, bukan negosiasi formal, namun sebuah jeda: Trump tidak menyerang pembangkit listrik Iran pada hari yang dijanjikannya, dan mengklaim ada pembicaraan yang produktif. Pasar global merespons dengan kepercayaan — atau setidaknya kelegaan sementara.

Namun tiga hambatan besar tetap menghadang. Pertama, Iran secara resmi membantah seluruh klaim Trump tentang adanya dialog — yang berarti dasar negosiasi yang Trump bangun di atas pernyataan-pernyataannya belum memiliki mitra yang mengakuinya. Kedua, Netanyahu menegaskan Israel akan terus menyerang Iran dan Lebanon — sementara perang yang terus berjalan tidak kondusif untuk pembicaraan apapun. Ketiga, kondisi Iran untuk berdamai — kompensasi penuh, pencabutan sanksi, jaminan internasional — sangat jauh dari posisi AS yang masih menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya.

Sebagaimana dikatakan analis Al Jazeera Osama Bin Javaid: "Trump, yang menyatakan perang ini secara sepihak tanpa dasar hukum, bisa mengakhirinya secara sepihak tanpa syarat apapun. Pertanyaannya adalah apakah ia mau, dan apakah Iran percaya bahwa ia mau."

Lima hari ke depan — antara 24 dan 28 Maret 2026 — adalah jendela yang paling kritis sejak perang dimulai. Dunia menunggu.

"No country will be immune to the effects of this crisis if it continues to go in this direction." — Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), kepada PBB, 23 Maret 2026

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera, CNN Live Updates, NPR, NBC News, PBS NewsHour, CBS News, Washington Post, Newsweek, dan AP per Selasa, 24 Maret 2026, pagi WIB. Angka korban dan kondisi lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.

Artikel Populer

Rahasia Psikologis Tradisi Halal Bihalal

Puasa Syawal: Membentuk Ketahanan Spiritual dan Mentalitas Ibadah Sepanjang Hayat

Kaidah yang Sering Disalahpahami: Hukm al-Hakim Yarfa'ul Khilaf dan Batas Penerapannya dalam Penentuan Hari Raya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya