Perang Iran–Israel–AS: Reportase Komprehensif Hari ke-28 (28 Maret 2026)

Perang Iran–Israel–AS: Reportase Komprehensif Hari ke-28 (28 Maret 2026)

Laporan ini disusun berdasarkan sumber-sumber media arus utama global — Al Jazeera, CNN, NBC News, Reuters/AP, The Times of Israel, Fox News, NPR, Council on Foreign Relations, dan Wikipedia — dengan pendekatan berimbang dan obyektif. Data masih berkembang seiring situasi yang bergerak sangat cepat.


I. Latar Belakang: Bagaimana Perang Ini Pecah

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara mendadak secara terkoordinasi ke berbagai lokasi militer, fasilitas nuklir, dan pusat kepemimpinan di seluruh Iran, dalam operasi yang diberi nama Operation Epic Fury. Serangan hari pertama menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat senior lainnya — sebuah peristiwa yang mengguncang lanskap geopolitik kawasan secara fundamental.

Konteks langsung yang mendahului serangan ini mencakup: kegagalan negosiasi nuklir tidak langsung antara Washington dan Tehran di Jenewa pada pertengahan Februari 2026; melemahnya jaringan proksi Iran pasca kampanye militer Israel 2023–2025; serta gelombang protes besar di dalam Iran awal 2026 yang diredam dengan kekerasan oleh pemerintah. Menurut House of Commons Library, Amerika Serikat menyatakan bertindak berdasarkan hak membela diri sesuai Piagam PBB, dengan tujuan yang diumumkan secara resmi: pergantian rezim dan pembongkaran program nuklir serta rudal balistik Iran.

Iran membalas dengan gelombang serangan misil dan drone ke Israel, pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan, serta infrastruktur negara-negara Arab sekutu AS — termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania.


II. Situasi Militer: Hari ke-28

Korban dan Kerusakan di Iran

Berdasarkan data terkini per 28 Maret 2026:

  • Palang Merah Iran melaporkan lebih dari 1.900 orang tewas dan lebih dari 20.000 lainnya cedera sejak 28 Februari.
  • LSM HRANA mendokumentasikan 3.114 kematian hingga 17 Maret, terdiri dari 1.354 warga sipil, 1.138 personel militer, dan 622 yang belum terklasifikasi.
  • Lebih dari 92.600 unit hunian warga sipil dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan AS–Israel, menurut Palang Merah Iran.
  • Sekitar 120 situs bersejarah Iran telah mengalami kerusakan akibat serangan udara gabungan, menurut laporan media Iran per 27 Maret.
  • Dua pabrik baja besar Iran mengalami kerusakan signifikan akibat serangan udara AS–Israel.
  • Israel mengklaim telah menetralisasi sekitar 92% kapal besar Angkatan Laut Iran, dan merusak lebih dari 60% peluncur rudal Iran — dari sekitar 470 peluncur, kurang dari 180 yang masih berfungsi.
  • Militer Iran memperkirakan antara 3.000 hingga 4.000 prajurit dan komandannya telah gugur, sementara Hengaw Organization for Human Rights memperkirakan angka yang lebih tinggi: lebih dari 5.300 personel militer tewas per 18 Maret.

Serangan Balik Iran ke Israel dan Kawasan

Iran terus melancarkan serangan misil dan drone ke wilayah Israel. Per 27 Maret, sebanyak 78.109 sirene peringatan serangan udara telah berbunyi di seluruh Israel sejak perang dimulai. Di Israel, setidaknya 15 orang dilaporkan tewas akibat serangan Iran. Serangan rudal Iran menghantam kawasan Tel Aviv pada malam 27 Maret, menyebabkan beberapa titik terdampak di kawasan Givatayim, meski tanpa korban jiwa dilaporkan saat itu.

Kelompok Houthi dari Yaman turut bergabung dalam perang pada 28 Maret, melancarkan serangan misil balistik ke arah Israel sehingga memicu sirene udara di Beersheba.

Hezbollah dari Lebanon selatan juga terus melancarkan serangan, meski pemerintah Lebanon secara resmi melarang aktivitas militer Hezbollah. Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 1.142 orang dan melukai 3.315 lainnya sejak 2 Maret. Setidaknya 10 personel militer AS cedera dalam serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi.

IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) menyatakan telah menghalau tiga kapal yang mencoba melintas Selat Hormuz, dan menegaskan bahwa jalur itu tertutup bagi kapal-kapal yang menuju atau berangkat dari pelabuhan yang terkait dengan "musuh-musuh" Iran. Pelabuhan Shuwaikh Kuwait, salah satu pelabuhan komersial utama negara itu, diserang drone pada 27 Maret tanpa korban jiwa.

Postur Militer AS dan Israel

Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan sebagian besar armada kapal besar Iran telah dilumpuhkan. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan bahwa serangan IDF di Iran akan "meningkat dan meluas" karena Iran terus meluncurkan misil ke populasi sipil Israel. AS mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 tentara tambahan ke Timur Tengah, sementara setidaknya 1.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 AS dilaporkan akan segera bergerak ke kawasan.


III. Krisis Selat Hormuz: Pusat Guncangan Global

Sejak 4 Maret 2026, IRGC secara resmi mengumumkan Selat Hormuz tertutup. Ini adalah krisis maritim terbesar dalam sejarah perdagangan energi global. Selat selebar 34 km di titik tersempitnya ini biasanya dilintasi sekitar 20 juta barel minyak per hari — setara 20% perdagangan minyak maritim global — dan seperlima perdagangan LNG dunia.

Brent Crude melonjak dari sekitar $65 sebelum perang hingga sempat menyentuh $120 per barel setelah penutupan selat, sebelum agak mereda ke kisaran $100. Direktur IEA Fatih Birol menyebut situasi ini lebih parah dari dua krisis energi 1970-an digabung sekaligus.

Dampak lanjutan yang diidentifikasi para analis dari CFR, World Economic Forum, dan Dallas Fed antara lain:

  • Pengurangan pasokan minyak global hingga 10 juta barel per hari, dengan proyeksi penurunan PDB global secara tahunan sekitar 2,9 poin persentase.
  • Harga gas di Eropa hampir dua kali lipat, menekan negara-negara yang cadangan gasnya sudah sangat rendah pasca musim dingin 2025–2026.
  • Harga pupuk melonjak hingga 40% sejak awal konflik, mengancam rantai pasokan pangan global karena sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melintas Selat Hormuz.
  • Korea Selatan mengaktifkan program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won (~$68 miliar) akibat volatilitas harga energi.
  • Harga bensin di AS mencapai rata-rata $4 per galon, naik sekitar 80 sen dibanding sebulan sebelumnya.
  • Pada 19 Maret, AS memulai operasi militer untuk membuka kembali selat itu.

Iran saat ini memberlakukan rezim selektif: hanya kapal berbendera India, Pakistan, dan China yang diizinkan melintas — mencerminkan kalkulasi diplomatik Tehran yang cermat dalam memanfaatkan tekanan ekonomi tanpa memutus hubungan dengan mitra non-Barat.


IV. Diplomasi di Tengah Gempuran: Upaya Menghentikan Perang

Rencana Gencatan Senjata 15 Poin AS

Utusan Presiden Trump, Steve Witkoff, mengkonfirmasi bahwa AS telah menyampaikan kepada Iran sebuah "15-point action list" — kerangka untuk kesepakatan damai — melalui Pakistan sebagai perantara. Poin-poin itu mencakup gencatan senjata satu bulan sementara kedua pihak merundingkan syarat-syarat mengakhiri perang. Iran merespons dengan lima syarat balasan, termasuk reparasi perang dan pengakuan hak Iran atas Selat Hormuz.

Presiden Trump pada 27 Maret mengumumkan penundaan 10 hari atas serangan yang direncanakan terhadap infrastruktur energi Iran, dengan batas waktu baru: 6 April 2026 pukul 20.00 waktu Pantai Timur (00.00 GMT 7 April). Trump menyatakan perundingan berjalan "sangat baik." Namun Iran membantah keras sedang berunding dengan AS, dengan juru bicara militer Iran Ebrahim Zolfaqari menyindir: "Apakah tingkat pergumulan batinmu sudah sampai tahap kamu [Trump] bernegosiasi dengan dirimu sendiri?"

Pakistan: Mediator Tak Terduga

Pakistan muncul sebagai mediator utama yang mengejutkan banyak pengamat. Menurut AP, pejabat Pakistan mengkonfirmasi bahwa pesan-pesan AS disampaikan ke Iran dan respons Iran disampaikan kembali ke Washington. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menulis di media sosial bahwa "pembicaraan tidak langsung AS–Iran sedang berlangsung melalui pesan yang disampaikan Pakistan," dengan Turki dan Mesir juga memberikan dukungan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan Islamabad "siap dan merasa terhormat menjadi tuan rumah pembicaraan yang bermakna dan konklusif." Latar belakang Pakistan sebagai mediator mencakup rekam jejak diplomasi tingkat tinggi sejak Perjanjian Jenewa 1988 (penarikan Soviet dari Afghanistan) hingga fasilitasi perundingan Taliban–AS yang berujung pada Perjanjian Doha 2020.

Laporan penting dari The Diplomat menyebut Pakistan berhasil membujuk AS agar Israel menghapus Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dari daftar target pembunuhan — sebuah langkah yang dinilai krusial untuk menjaga ruang bagi diplomasi.

Landasan bagi upaya diplomatik ini diletakkan di Riyadh pekan lalu, ketika Arab Saudi menyelenggarakan pertemuan darurat para menteri luar negeri dari 12 negara Arab dan Islam, termasuk Pakistan dan Turki.

Respons Internasional

NATO bersikap tidak terlibat secara militer. Trump menyatakan "sangat kecewa" dengan respons NATO, menyebut aliansi itu "harimau kertas." Sekretaris Negara Marco Rubio menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri G7 di Perancis pada 27–28 Maret, namun menghadapi penolakan hampir semua anggota G7 terhadap strategi AS. PM Inggris Keir Starmer pada 28 Februari, bersama pemimpin Perancis dan Jerman, mengutuk serangan balik Iran namun menyatakan "tidak percaya pada pergantian rezim dari langit."


V. Aspek Kemanusiaan dan Hukum Internasional

Kepala delegasi Palang Merah Iran untuk PBB melaporkan bahwa paramedis yang menyelamatkan korban dari reruntuhan menemukan jenazah anggota keluarga mereka sendiri. Di Lebanon, setidaknya 620.000 perempuan dan anak perempuan terpaksa mengungsi akibat serangan Israel, menurut UN Women. Bayi-bayi baru lahir di pengungsian Lebanon menghadapi kekurangan obat-obatan yang memadai.

Iran menuduh AS melakukan kejahatan perang atas serangan terhadap sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran selatan, pada hari pertama perang, yang menurut Tehran menewaskan lebih dari 175 siswa dan guru. PBB menyerukan AS menyelesaikan penyelidikan atas serangan itu "sesegera mungkin."

Investigasi oleh Bellingcat menemukan ranjau darat buatan AS jenis BLU-91/B di desa Jamal Abad dekat Shiraz, Iran — memicu pertanyaan hukum internasional meski ranjau anti-tank tidak dilarang oleh Perjanjian Ottawa 1997. Para pakar hukum internasional yang diwawancarai Al Jazeera — termasuk mantan jaksa ICC Geoffrey Nice — menyebut ketiga pihak berperang (AS, Israel, dan Iran) berpotensi melanggar hukum humaniter internasional.


VI. Dinamika Internal Iran: Sistem yang Terluka namun Bertahan

Seminggu setelah Khamenei terbunuh, Mojtaba Khamenei — putra kedua pemimpin tertinggi yang wafat — dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Trump menyebut keputusan itu "kesalahan besar." Pada 17 Maret, Israel membunuh Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Meski demikian, menurut Reuters dan Al Jazeera, sistem pemerintahan Iran tetap berfungsi. Dibentuk dari revolusi 1979 dengan struktur kelembagaan berlapis, Iran mempertahankan kemampuan strategis dan operasionalnya meski kehilangan banyak figur seniornya. IRGC kini menjadi kekuatan dominan pasca wafatnya Khamenei senior. Debat internal tentang apakah Iran perlu mengejar senjata nuklir semakin menguat di kalangan garis keras — sebuah perkembangan yang dikhawatirkan para analis Barat.

Direktur eksekutif Quincy Institute Trita Parsi mencatat bahwa, secara paradoks, perang ini justru telah memberi Iran semacam "de facto sanctions relief" — sebab negara-negara non-Barat kini lebih leluasa berhubungan dengan Tehran tanpa mengkhawatirkan sanksi AS.


VII. Ke Mana Arah Konflik Ini?

Per hari ke-28, konflik ini berada di persimpangan antara eskalasi lebih lanjut dan kemungkinan de-eskalasi bertahap. AS memperkirakan perang mungkin berlanjut melampaui proyeksi awal 4–6 minggu. Batas waktu baru 6 April atas ancaman serangan infrastruktur energi Iran menjadi titik kritis berikutnya.

Analis Quincy Institute Trita Parsi memperingatkan: Pakistan memiliki posisi yang baik untuk memajukan diplomasi, "namun pada akhirnya konflik harus matang untuk mediasi. Belum tampaknya ia sudah cukup matang, namun penting memulai diplomasi sebelum momen kematangan itu tiba."

"Iran, untuk bagiannya, mungkin juga berupaya mengenakan biaya yang cukup guna memperkuat deterensi jangka panjang, dan belum jelas apakah ia percaya tujuan ini telah tercapai." — Analis dikutip Al Jazeera

Empat variabel penentu yang akan membentuk arah konflik ini:

Variabel Status Terkini (28 Maret 2026)
Negosiasi AS–Iran Tidak langsung, melalui Pakistan; Iran bantah berunding; batas waktu 6 April
Selat Hormuz De facto tertutup; AS aktif coba buka; sebagian kapal non-Barat diizinkan
Postur militer Iran Terluka parah namun operasional; IRGC dominan; potensi nuklir menguat
Tekanan internasional NATO tidak terlibat; G7 menentang strategi AS; Pakistan–Turki–Mesir mediasi aktif

Catatan Redaksi

Reportase ini disusun dengan mengacu pada sumber-sumber berimbang dari berbagai spektrum editorial: Al Jazeera, CNN, NBC News, NPR, The Times of Israel, Fox News, AP, Reuters, Council on Foreign Relations, World Economic Forum, House of Commons Library (UK), dan Wikipedia yang dilengkapi catatan kaki ilmiah. Verifikasi lintas sumber dilakukan untuk setiap klaim utama. Situasi masih berkembang; angka-angka korban dan data militer dapat berubah seiring waktu.

Persadani — Media Islam Analitik / Wasathiyah | 28 Maret 2026

Artikel Populer

Puasa Syawal: Membentuk Ketahanan Spiritual dan Mentalitas Ibadah Sepanjang Hayat

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-22–23: Trump Ultimatum 48 Jam Bom Pembangkit Listrik Iran, Rudal Iran Tembus Iron Dome Hantam Dimona dan Arad — Serangan Paling Dahsyat ke Israel

Hisab Akurat — Tapi di Mana "Titik Nol" Bulan Baru Hijriyah?

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya