Investigasi Pengeboman Sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab: 165 Siswi Tewas, Dunia Menuntut Akuntabilitas

Investigasi Pengeboman Sekolah Shajareh Tayyebeh di Minab: 165 Siswi Tewas, Dunia Menuntut Akuntabilitas

Laporan Investigasi | 9 Maret 2026 | Sumber: The New York Times, Reuters, Al Jazeera, CBC News, The Washington Post, Human Rights Watch, PBB, UNESCO

Di antara daftar panjang korban perang Iran–Israel–AS yang terus bertambah, satu insiden mencuat melampaui statistik: pengeboman Sekolah Dasar Putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan itu terjadi pada 28 Februari 2026 — hari pertama operasi militer gabungan AS-Israel — dan dalam hitungan menit mengubah sebuah ruang belajar menjadi ladang kematian. Mayoritas korban adalah siswi berusia 7 hingga 12 tahun. Investigasi internasional kini mengarah ke satu kesimpulan yang berat: senjata Amerika yang melakukannya.

Apa yang Terjadi di Minab?

Kronologi Serangan

Pagi 28 Februari 2026, saat jam pelajaran berlangsung, sebuah atau beberapa serangan presisi menghantam kawasan Minab, sebuah kota di pesisir Selat Hormuz, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan ini bertepatan dengan momen peluncuran Operation Epic Fury — nama operasi gabungan militer Amerika Serikat — dan Operation Roaring Lion dari Israel, yang secara simultan menyerang ratusan titik di seluruh Iran.

Salah satu titik yang terkena adalah Sekolah Shajareh Tayyebeh (مدرسه شجره طیبه), sekolah dasar khusus perempuan yang telah beroperasi secara independen sebagai institusi sipil sejak setidaknya 2016. Gedung sekolah, yang berdekatan dengan sebuah pangkalan angkatan laut IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps), hancur. Antara 165 hingga 175 orang tewas — mayoritas siswi berusia 7 sampai 12 tahun, beserta sejumlah guru dan staf sekolah. Puluhan lainnya menderita luka berat.

Gambaran Lokasi dan Konteks Militer

Minab terletak di kawasan strategis dekat Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Keberadaan fasilitas angkatan laut IRGC di kawasan tersebut menjadikan wilayah ini masuk dalam peta target militer AS-Israel. Namun para investigator independen menegaskan: sekolah Shajareh Tayyebeh bukan bagian aktif dari kompleks militer tersebut. Ia adalah bangunan sipil yang berdiri mandiri — hanya secara geografis berdekatan dengan fasilitas militer.

Temuan Investigasi Independen

Bukti Satelit dan Forensik

Sejumlah media internasional terkemuka — The New York Times, Reuters, CBC News, Al Jazeera, dan The Washington Post — menjalankan investigasi terpisah namun menghasilkan temuan yang saling menguatkan. Tiga kategori bukti utama mengarah kepada tanggung jawab Amerika Serikat:

Pertama, citra satelit dari Planet Labs dan sumber komersial lainnya menunjukkan serangan presisi yang terjadi secara simultan di kawasan Minab — mencakup pangkalan angkatan laut IRGC dan area sekitarnya, termasuk lokasi sekolah. Presisi serangan ini tidak konsisten dengan pola serangan Iran terhadap dirinya sendiri, atau dengan karakteristik senjata yang umum digunakan Iran.

Kedua, analisis video geolokasi oleh para ahli forensik digital menelusuri jejak serangan dan menyimpulkan bahwa senjata yang digunakan memiliki karakteristik rudal Tomahawk milik AS, atau setidaknya senjata presisi dengan spesifikasi teknologi Amerika.

Ketiga, rekonstruksi kronologi serangan menunjukkan insiden di Minab terjadi dalam rentang waktu yang berhimpitan dengan gelombang pertama serangan AS ke fasilitas militer Iran di kawasan selatan — bukan dalam konteks serangan Iran terhadap target dalam negerinya sendiri.

"Serangan ke sekolah adalah pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Kami mendesak investigasi yang cepat, imparsial, dan independen."
UNESCO, pernyataan resmi merespons insiden Shajareh Tayyebeh, Maret 2026

Kesalahan Intelijen atau Kesengajaan?

Di antara para investigator dan analis independen, terdapat dua hipotesis yang diperdebatkan. Sebagian laporan — termasuk dari Al Jazeera — sempat menyinggung kemungkinan serangan yang disengaja mengingat kedekatan sekolah dengan target militer. Namun secara keseluruhan, bukti yang lebih kuat mengarah pada skenario lain: kesalahan intelijen atau penggunaan peta sasaran yang sudah usang (outdated targeting data), yang mengakibatkan serangan presisi menghantam objek sipil yang secara hukum dilindungi.

Human Rights Watch (HRW) dan para pakar hukum PBB mengangkat insiden ini sebagai potensi kejahatan perang (war crime) berdasarkan prinsip dasar hukum humaniter internasional, yang melarang serangan terhadap objek sipil tanpa memandang apakah terjadi karena kesengajaan atau kelalaian yang dapat dihindari.

Posisi Resmi: AS dan Israel

Washington: Antara Penyelidikan dan Penyangkalan

Respons pemerintah Amerika Serikat bersifat terpecah dan kontradiktif, mencerminkan tekanan politik internal yang tinggi.

Tokoh Pernyataan
Menhan Pete Hegseth "Kami sedang menyelidiki... Kami tidak pernah sengaja menargetkan target sipil."
Dubes AS ke PBB Mike Waltz Menyebut insiden ini sebagai "tragic mistake" jika terbukti.
Presiden Donald Trump Menolak keterlibatan AS; menuding Iran sendiri yang melakukan serangan — klaim yang langsung dibantah keras oleh bukti-bukti independen.

Pernyataan Trump yang menuding Iran menyerang sekolahnya sendiri — dengan alasan Iran "tidak akurat dengan amunisi mereka" — memicu kontroversi besar dan dinilai tidak didukung oleh bukti apa pun. Pernyataan ini justru mempertajam tuntutan transparansi dari komunitas internasional.

Tel Aviv: Menghindar dari Pertanggungjawaban

Juru bicara militer Israel menyatakan pihaknya sedang menyelidiki namun "tidak menyadari adanya serangan militer Israel di area tersebut." Mengingat kawasan Minab dan sekitar Selat Hormuz lebih dominan menjadi zona operasi AS dalam pembagian tugas operasi gabungan, fokus pertanggungjawaban internasional memang lebih diarahkan kepada Washington daripada Tel Aviv.

Reaksi Internasional: Seruan untuk Keadilan

PBB dan Lembaga HAM

Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk, bersama OHCHR (Office of the High Commissioner for Human Rights) dan UNESCO, mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut insiden ini "benar-benar mengerikan" (truly horrific) dan merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Ketiga lembaga tersebut secara eksplisit mendesak digelarnya investigasi yang cepat, imparsial, dan independen.

Human Rights Watch dan Al Jazeera bergabung dengan berbagai kelompok HAM internasional dalam menuntut akuntabilitas konkret — bukan sekadar janji penyelidikan internal yang dilakukan oleh pihak yang diduga bertanggung jawab.

Tekanan Global yang Meningkat

Insiden Shajareh Tayyebeh kini menjadi salah satu focal point utama dalam perdebatan hukum internasional terkait perang ini. Sejumlah pemerintah Eropa, yang sebelumnya telah mempertanyakan legalitas operasi AS-Israel secara keseluruhan, menjadikan kasus ini sebagai argumen konkret dalam tuntutan mereka. Iran secara resmi mengajukan permintaan penyelidikan kepada International Criminal Court (ICC), meski dampak formalnya masih bergantung pada dinamika politik di dalam lembaga tersebut.

"Anak-anak di ruang kelas bukan kombatan. Menyerang mereka — baik disengaja maupun karena kelalaian yang dapat dihindari — adalah kejahatan yang tidak bisa dibiarkan tanpa pertanggungjawaban."
Human Rights Watch, pernyataan merespons pengeboman Sekolah Shajareh Tayyebeh, Maret 2026

Status Investigasi: Menunggu Kebenaran

Per 9 Maret 2026, investigasi internal Pentagon belum menghasilkan kesimpulan resmi. Namun secara faktual, konfigurasi bukti yang ada — citra satelit, analisis forensik video, pola serangan, dan karakteristik senjata — semakin kuat mengarah kepada satu kesimpulan: kesalahan Amerika Serikat dalam serangan presisi yang ditujukan ke fasilitas militer IRGC di dekatnya, yang mengakibatkan hancurnya sebuah sekolah sipil beserta ratusan jiwa tak berdosa di dalamnya.

Tidak ada pengakuan resmi dari AS maupun Israel hingga saat ini. Namun tekanan global untuk transparansi dan akuntabilitas tidak menunjukkan tanda-tanda mereda — justru sebaliknya, seiring dengan terus bertambahnya korban di seluruh front perang ini.

Sementara rudal masih meluncur dan kota-kota masih membara, 165 anak perempuan dari Minab tidak akan pernah kembali ke bangku sekolah mereka. Keadilan bagi mereka menunggu di persimpangan antara hukum internasional, kemauan politik, dan keberanian untuk mengakui kebenaran.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: The New York Times, Reuters, Al Jazeera, CBC News, The Washington Post, Human Rights Watch, PBB/OHCHR, UNESCO — Kompilasi dan analisis per 9 Maret 2026. Disunting oleh redaksi Persadani.

Artikel Populer

Ledakan di Kedutaan Besar AS di Oslo

Persia dalam Nubuwat dan Geopolitik Kontemporer

Ulama Muslim Sedunia Tolak Kedua Pihak: Pernyataan Resmi Rabithah Ulama Muslimin soal Perang Iran–Israel

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya