Perang Informasi di Balik Konflik Iran–Israel–AS: Kredibilitas Berita, Intelijen, dan Citizen Jurnalisme

Perang Informasi di Balik Konflik Iran–Israel–AS: Kredibilitas Berita, Intelijen, dan Citizen Jurnalisme

Ketika rudal-rudal melintasi langit Timur Tengah, dua medan perang berlangsung serentak: medan tembak yang nyata, dan medan informasi yang tak kalah sengit. Dalam konflik Iran–Israel–AS yang meningkat intensitasnya sejak awal 2026, publik global dihadapkan pada pertanyaan fundamental: siapa yang bisa dipercaya?

Kasus klaim George Galloway — politikus Inggris, pemimpin Workers Party of Britain dan pendiri Viva Palestina — menjadi titik masuk yang baik untuk membedah persoalan ini secara sistematis. Galloway mengklaim Tel Aviv "luluh lantak seperti Gaza", sensor ketat Israel menutup mata media Barat, dan 1.000 warga AS tewas secara diam-diam. Klaim-klaim ini beredar masif di media sosial, dibagikan ulang jutaan kali. Lalu bagaimana cara kita menguji klaim semacam ini secara intelektual?

"In war, truth is the first casualty." — Aeschylus (dikutip kembali oleh Hiram Johnson, 1917)

Anatomi Klaim di Zona Perang: Mengapa Kita Mudah Tertipu

Sebelum masuk ke analisis spesifik klaim Galloway, penting untuk memahami mengapa narasi ekstrem justru lebih mudah viral dibanding laporan yang hati-hati dan bernuansa.

Psikologi Informasi di Masa Konflik

Penelitian Walter Lippmann dalam bukunya Public Opinion (1922) sudah menunjukkan bahwa manusia tidak merespons realitas itu sendiri, melainkan representasi mental (pseudo-environment) yang dibentuk oleh media. Dalam konteks perang, representasi itu sangat mudah dimanipulasi karena:

  • Akses fisik ke zona konflik sangat terbatas — hanya sedikit jurnalis yang bisa masuk dan melaporkan langsung.
  • Emosi publik sedang tinggi — kemarahan, ketakutan, dan solidaritas menurunkan daya kritis.
  • Algoritma media sosial lebih memprioritaskan konten yang mengundang reaksi emosional kuat.
  • Sumber yang seolah "berseberangan dengan arus utama" secara otomatis tampak lebih kredibel bagi kelompok tertentu.

Galloway bukan pemain baru dalam lanskap ini. Ia membangun persona sebagai contrarian — penyuara narasi yang dianggap disembunyikan Barat. Persona ini memberinya modal kepercayaan di kalangan audiens yang sudah distrust terhadap media mainstream. Ini bukan berarti ia selalu salah — tetapi berarti klaimnya perlu diuji dengan standar yang sama ketatnya seperti klaim dari CNN atau BBC.

Kerangka Uji Klaim: Lima Pertanyaan Fundamental

Setiap klaim di zona perang sebaiknya diuji dengan lima pertanyaan:

Pertanyaan Penjelasan
Sumber primer Siapa yang melihat langsung? Apakah ada bukti dokumenter (foto/video terverifikasi, koordinat GPS, metadata)?
Insentif narator Apa motivasi pihak yang menyampaikan klaim ini? Apakah ada kepentingan politik, finansial, atau ideologis?
Konsistensi lintas sumber Apakah klaim ini dikonfirmasi oleh sumber yang berbeda ideologi dan kepentingan?
Falsifiabilitas Apakah ada bukti yang bisa membantah klaim ini jika benar? Jika klaim dirancang agar tidak bisa dibantah, waspadai.
Preseden historis Apakah pola serupa pernah terjadi sebelumnya dan bagaimana hasilnya?

Perspektif Intelijen: Perang Informasi sebagai Strategi Negara

Untuk memahami mengapa klaim soal korban dan kerusakan seringkali kontradiktif antarpihak, kita perlu memahami bahwa kontrol narasi adalah bagian integral dari strategi militer modern — bukan sekadar "kebohongan", melainkan operasi terstruktur.

Information Operations: Doktrin Resmi Negara

Amerika Serikat, misalnya, secara resmi mendefinisikan Information Operations (IO) dalam doktrin militernya sebagai "penggunaan terkoordinasi kemampuan informasi untuk mempengaruhi, mengganggu, merusak, atau mengambil alih pengambilan keputusan musuh." (Joint Publication 3-13, Departemen Pertahanan AS). Israel memiliki entitas serupa dalam Unit 8200 (intelijen sinyal) dan Direktorat Media Militer yang mengatur apa yang bisa dipublikasikan oleh media dalam negeri selama konflik aktif.

Iran tidak berbeda. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memiliki divisi perang psikologis yang aktif memproduksi narasi untuk konsumsi domestik dan internasional — terutama melalui jaringan media seperti Press TV, Al-Alam, dan afiliasi di berbagai negara.

Sensor Israel: Fakta dan Mitos

Galloway mengklaim Israel menerapkan sensor total — bahkan dengan ancaman penjara 5 tahun bagi yang menyebarkan foto kerusakan. Mari kita periksa dengan lebih presisi.

Israel memang memiliki sistem military censorship yang dilegalisasi melalui Defense (Emergency) Regulations 1945 yang diwarisi dari era Mandat Britania, dan diperkuat melalui berbagai legislasi pasca-kemerdekaan. Kepala sensor militer (Military Censor) memiliki wewenang untuk:

  • Mencegah publikasi informasi yang dianggap membahayakan keamanan nasional.
  • Meminta media menunda atau memodifikasi laporan tertentu.
  • Menuntut pidana bagi pelanggaran berat.

Namun krusialnya: sensor ini bukan blanket ban terhadap semua foto kerusakan sipil. Yang dibatasi adalah informasi yang bisa memberi keuntungan taktis pada musuh — misalnya koordinat tepat dampak rudal, kondisi sistem pertahanan, atau pergerakan pasukan. Foto kerusakan apartemen di Tel Aviv, misalnya, beredar luas di Haaretz, Times of Israel, dan media Israel lainnya — justru untuk menunjukkan ketangguhan warga sipil dalam menghadapi serangan.

Penting dibedakan: Sensor informasi taktis-militer ≠ penyembunyian total realitas kerusakan. Kedua hal ini sering dikacaukan dalam narasi anti-Israel maupun pro-Israel secara berlebihan.

Asimetri Informasi di Medan Perang Modern

Salah satu studi paling relevan datang dari Philip Seib dalam bukunya Real-Time Diplomacy (2012), yang menunjukkan bagaimana kecepatan informasi di era digital menciptakan "tekanan waktu" pada semua aktor — pemerintah, militer, dan media. Tidak ada lagi ruang untuk verifikasi bertahap. Yang pertama mengklaim sering kali yang pertama dipercaya.

Dalam konflik Iran-Israel, asimetri ini bekerja sebagai berikut:

Pihak Insentif Narasi Metode Target Audiens
Israel Minimalkan kerusakan, tunjukkan efektivitas pertahanan Laporan resmi IDF, briefing media terkontrol Publik domestik, sekutu Barat
Iran/IRGC Maksimalkan persepsi "kemenangan", tunjukkan kemampuan rudal Press TV, Telegram, jaringan proksi media Publik domestik, "Axis of Resistance"
AS Minimalkan keterlibatan, jaga opini publik domestik Pentagon briefing, State Dept. statements Publik AS, Kongres, sekutu NATO
Galloway/proksi pro-Iran Delegitimasi Israel/AS, bangun narasi "Barat menyembunyikan kekalahan" YouTube, media alternatif, media sosial Audiens anti-Barat global, publik Muslim

Dalam kerangka ini, klaim "1.000 warga AS tewas dirahasiakan" berfungsi bukan sebagai laporan fakta, melainkan sebagai strategic narrative — kisah yang dirancang untuk mempengaruhi persepsi, bukan mencerminkan realitas terverifikasi.

Bagaimana Media Bersikap: Antara Independensi dan Tekanan Struktural

Tuduhan bahwa media Barat seperti CNN, BBC, dan Sky News "tunduk pada sensor Israel" adalah klaim yang perlu diurai dengan lebih hati-hati dari sekadar membantah atau membenarkan secara total.

Model Propaganda Herman-Chomsky dan Relevansinya

Dalam Manufacturing Consent (1988), Edward S. Herman dan Noam Chomsky berargumen bahwa media Barat tidak bekerja melalui sensor langsung, melainkan melalui filter-filter struktural yang lebih halus:

  • Kepemilikan korporat — pemilik media besar umumnya memiliki kepentingan bisnis yang bersinggungan dengan kebijakan luar negeri pemerintah.
  • Ketergantungan iklan — tekanan komersial mempengaruhi editorial.
  • Ketergantungan pada sumber resmi — media mainstream sangat bergantung pada briefing pemerintah dan militer karena akses ke zona konflik hanya mungkin melalui jalur resmi.
  • Flak — tekanan dari kelompok kepentingan yang terorganisir terhadap laporan tertentu.
  • Anti-komunisme/ideologi (kini bisa dibaca: framing "teroris vs. demokrasi").

Model ini tidak sempurna — media Barat juga kerap mengkritik Israel, melaporkan korban sipil Palestina/Lebanon, dan bahkan mempublikasikan kebocoran dokumen sensitif (ingat kasus WikiLeaks dan Pentagon Papers). Namun model ini membantu menjelaskan mengapa framing tertentu cenderung dominan tanpa perlu ada konspirasi terpusat.

Embedded Journalism dan Batasannya

Sejak Perang Irak 2003, praktik embedded journalism — di mana jurnalis melekat langsung dengan unit militer — menjadi norma dalam peliputan konflik. Keuntungannya: akses ke garis depan. Kerugiannya: dependensi pada sumber tunggal yang memiliki insentif untuk mengontrol narasi.

Phillip Knightley dalam The First Casualty (2004) mendokumentasikan bagaimana praktik ini secara sistematis menghasilkan liputan yang lebih simpatik pada pihak yang memfasilitasi akses — bukan karena jurnalis tidak jujur, tetapi karena struktur relasi yang terbentuk secara alami selama peliputan.

Dalam konteks konflik Iran-Israel, akses ke sisi Iran hampir nol bagi media Barat. Ini menciptakan ketidakseimbangan struktural dalam pelaporan — bukan karena sensor aktif, tetapi karena keterbatasan akses fisik yang nyata.

Under-Reporting vs. Disinformasi: Perbedaan yang Krusial

Penting untuk membedakan dua fenomena yang berbeda:

Under-reporting terjadi ketika media tidak cukup meliput sesuatu karena keterbatasan akses, prioritas editorial, atau tekanan struktural. Ini adalah masalah nyata dan perlu dikritisi, tetapi bukan sama dengan "menyembunyikan kebenaran secara aktif".

Disinformasi aktif adalah penyebaran klaim yang diketahui palsu secara sengaja. Klaim Galloway soal 1.000 warga AS tewas masuk kategori ini — tidak ada sumber independen, tidak ada bukti dokumenter, dan tidak ada konfirmasi lintas pihak.

Kebingungan antara keduanya adalah senjata utama pelaku disinformasi: dengan menyamakan under-reporting (yang nyata) dengan disinformasi aktif (yang diklaim), mereka membangun kepercayaan terhadap klaim yang tidak terverifikasi.

Citizen Jurnalisme: Kekuatan, Kelemahan, dan Manipulasi

Jika media mainstream dianggap tidak bisa dipercaya karena tekanan struktural, apakah citizen journalism menjadi alternatif yang lebih kredibel? Jawabannya: bisa, tetapi dengan syarat-syarat kritis yang sering diabaikan.

Kekuatan Citizen Jurnalisme dalam Konflik

Citizen jurnalisme telah memainkan peran historis yang signifikan:

  • Video-video warga Suriah mendokumentasikan serangan kimia di Ghouta (2013) menjadi bukti krusial yang mendahului konfirmasi resmi PBB.
  • Rekaman warga Gaza mendokumentasikan konsekuensi serangan udara Israel di wilayah-wilayah yang tertutup bagi media internasional.
  • Rekaman warga Iran pasca-kecelakaan pesawat Ukraine Airlines (2020) membuktikan bahwa pesawat itu ditembak rudal IRGC — bertentangan dengan klaim resmi awal pemerintah Iran.

Dalam kasus-kasus ini, citizen journalism berfungsi sebagai koreksi terhadap narasi resmi — bukan karena warga lebih pintar, tetapi karena mereka memiliki akses fisik yang tidak dimiliki media terorganisir.

Kelemahan Sistemik dan Eksploitasi Terorganisir

Namun model yang sama rentan terhadap eksploitasi. Riset Kate Starbird (University of Washington) dalam studinya tentang rumor di media sosial pasca-bencana menunjukkan bahwa informasi keliru menyebar lebih cepat dari informasi akurat dalam kondisi krisis — dan sering kali berasal dari jaringan akun yang tampak organik tetapi terkoordinasi.

Dalam konflik Iran-Israel, pola ini terlihat jelas:

  • Video ledakan lama (misalnya insiden di China 2015, Beirut 2020) di-reframe sebagai serangan terbaru.
  • Gambar AI-generated — kualitas semakin sulit dibedakan dari foto nyata — disebarkan sebagai dokumentasi "kehancuran Tel Aviv".
  • Potongan video dari konflik lain (Ukraina, Yaman) diklaim sebagai rekaman dari zona Iran-Israel.
  • Akun-akun yang tampak independen ternyata beroperasi dari infrastruktur yang sama — teridentifikasi melalui analisis metadata, waktu posting, dan pola bahasa.

Fact-checking oleh PolitiFact, Full Fact, Snopes, dan Bellingcat secara konsisten menemukan bahwa mayoritas konten viral yang mengklaim "membuktikan" kehancuran massal Tel Aviv tidak dapat diverifikasi, atau terbukti berasal dari konteks berbeda.

OSINT sebagai Metodologi: Citizen Intelligence yang Terverifikasi

Di antara kelompok citizen journalism, muncul subgenre yang lebih metodologis: komunitas Open Source Intelligence (OSINT). Kelompok seperti Bellingcat, GeoConfirmed, dan IntelliTimes mengembangkan metode verifikasi berbasis:

  • Geolokasi: mencocokkan elemen visual dalam foto/video (bangunan, jalan, tanda) dengan citra satelit untuk memverifikasi lokasi dan waktu.
  • Analisis metadata: memeriksa data EXIF foto untuk tanggal, waktu, dan perangkat.
  • Triangulasi sumber: memverifikasi klaim hanya jika dikonfirmasi oleh minimal tiga sumber independen dengan metodologi berbeda.
  • Flight tracking dan AIS: melacak pergerakan pesawat militer dan kapal menggunakan data publik.
Metodologi OSINT yang diterapkan Bellingcat dalam mendokumentasikan konflik Ukraina — termasuk mengidentifikasi unit militer Rusia melalui foto-foto selfie prajurit — menunjukkan bahwa citizen intelligence yang terstruktur bisa melampaui kemampuan media tradisional dalam situasi tertentu.

Kasus Galloway: Analisis Kritis Klaim per Klaim

Kembali ke klaim spesifik Galloway. Dengan kerangka yang sudah kita bangun, mari evaluasi setiap klaim secara terpisah.

Klaim 1: Tel Aviv Hancur Parah Seperti Gaza

Perbandingan dengan Gaza secara kuantitatif hampir tidak bisa dipertahankan. Gaza mengalami kehancuran yang oleh UN Satellite Centre (UNOSAT) diperkirakan mencapai lebih dari 60% bangunan di zona utara rusak berat atau hancur total — sebuah skala yang membutuhkan pengeboman sistematis berbulan-bulan. Serangan rudal Iran, meski signifikan secara militer dan psikologis, menghasilkan kerusakan yang terlokalisasi: gedung apartemen di Bat Yam, wilayah residensial di area tertentu, beberapa titik infrastruktur. Media Israel sendiri — yang tidak memiliki insentif meremehkan kerusakan untuk audiens domestik — melaporkan kerusakan yang jauh di bawah level "kehancuran kota".

Verdict: Sangat tidak akurat. Ada kerusakan nyata, tetapi klaim perbandingan dengan Gaza tidak didukung bukti apapun.

Klaim 2: Sensor Total Israel Membungkam Semua Bukti

Ini adalah klaim yang paling mudah dibantah secara empiris: jika sensor Israel benar-benar total dan efektif, dari mana Galloway — yang berbasis di London — mendapat informasi tentang "kehancuran" yang ia klaim? Paradoks ini tidak pernah dijawab dalam narasinya.

Sensor militer Israel nyata adanya, tetapi bersifat selektif dan berfokus pada informasi taktis — bukan blanket blackout visual. Lebih jauh, Israel adalah negara dengan ratusan ribu pengguna media sosial aktif; sensor total terhadap konten sipil secara teknis tidak mungkin dijalankan.

Verdict: Parsial dan dibesar-besarkan. Ada sensor militer yang sah dalam konteks konflik, tetapi klaim "sensor total" tidak akurat.

Klaim 3: 1.000 Warga AS Tewas dan Dirahasiakan

Ini klaim paling ekstrem dan paling tidak terverifikasi. Beberapa pertanyaan fundamental yang harus dijawab sebelum mempercayai klaim ini:

  • Di mana lokasi kematian 1.000 warga AS? Israel? Wilayah lain? Basis militer mana?
  • Siapa sumber primer Galloway? Apakah ada dokumen, saksi, atau sumber intelijen yang bisa dikonfirmasi?
  • Bagaimana cara pemerintah AS menyembunyikan 1.000 kematian dari Kongres, media independen, keluarga korban, dan ribuan pegawai pemerintah yang terlibat?
  • Apakah ada preseden historis yang berhasil memverifikasi penyembunyian korban dalam skala ini?

Tidak ada konfirmasi dari sumber manapun — termasuk sumber yang kritis terhadap Israel dan AS seperti Al Jazeera, The Intercept, atau Democracy Now — yang mendukung angka ini.

Verdict: Tidak terverifikasi dan tidak kredibel berdasarkan standar bukti jurnalistik dan intelijen apapun.

Mengapa Angka Korban Pihak Barat/Israel Tampak "Sedikit": Penjelasan Berbasis Bukti

Pertanyaan yang lebih produktif dari sekadar menolak klaim Galloway adalah: mengapa ada persepsi bahwa korban Israel/AS selalu rendah dalam pelaporan resmi?

Faktor 1: Efektivitas Sistem Pertahanan Berlapis

Israel mengoperasikan sistem pertahanan rudal berlapis yang tidak dimiliki negara lain dalam skalanya:

  • Iron Dome: untuk ancaman jarak pendek hingga menengah (roket, mortir).
  • David's Sling: untuk rudal balistik jarak menengah.
  • Arrow 2 dan Arrow 3: untuk rudal balistik jarak jauh dan ancaman di luar atmosfer.

Tingkat keberhasilan intercept sistem ini, meski tidak sempurna, secara dramatis mengurangi dampak serangan yang berhasil mencapai target. Ini bukan propaganda — ini adalah fakta teknis yang dikonfirmasi bahkan oleh analis militer yang kritis terhadap Israel.

Faktor 2: Infrastruktur Sipil yang Dirancang untuk Konflik

Israel adalah salah satu negara dengan jaringan bomb shelter sipil terdapat di setiap bangunan — ini adalah kewajiban hukum dalam konstruksi sejak 1950-an. Prosedur evakuasi yang sudah diinternalisasi publik, sistem peringatan dini (Red Alert), dan ruang aman yang tersebar luas secara signifikan mengurangi korban jiwa bahkan ketika rudal berhasil menembus pertahanan.

Faktor 3: Transparansi Selektif — Bukan Penyembunyian Total

Pemerintah Israel dan AS memang melakukan "transparansi selektif": mereka lebih menonjolkan data yang menguntungkan (jumlah rudal yang di-intercept, kerusakan minimal) dan meminimalkan data yang tidak menguntungkan. Ini adalah praktik komunikasi strategis yang universal — bukan keunikan Israel atau AS.

Namun transparansi selektif berbeda fundamental dari penyembunyian sistematis. Kematian militer AS biasanya teridentifikasi melalui saluran resmi dalam waktu singkat karena ada prosedur notifikasi keluarga yang ketat dan hak keluarga untuk mengetahui — bukan karena pemerintah AS lebih jujur, tetapi karena sistem hukum dan politik AS membuat penyembunyian dalam skala besar hampir mustahil dalam jangka panjang.

Panduan Praktis Literasi Media di Zona Konflik

Menghadapi banjir informasi dari berbagai pihak dalam konflik bersenjata, apa yang bisa dilakukan pembaca biasa?

Langkah-Langkah Verifikasi yang Bisa Dilakukan Siapapun

Pertama, gunakan pencarian gambar terbalik (reverse image search via Google Images atau TinEye) untuk setiap foto atau video yang diklaim dari zona konflik. Ini langkah paling sederhana yang sering menemukan foto lama yang di-reframe.

Kedua, periksa siapa yang mempublikasikan dan siapa yang tidak mempublikasikan. Jika klaim tentang kehancuran masif Tel Aviv, apakah media Israel sendiri (yang memiliki akses dan insentif untuk melaporkan pada audiens domestik) mengonfirmasinya? Jika media yang berseberangan dengan Israel (Al Jazeera, The Guardian) pun tidak melaporkannya, itu sinyal kuat.

Ketiga, cari laporan dari organisasi dengan rekam jejak verifikasi yang konsisten — bukan sempurna, tetapi konsisten memakai metodologi yang transparan: Bellingcat, Airwaves, AP Fact Check, Reuters Fact Check.

Keempat, tanyakan pada diri sendiri: apakah klaim ini terlalu sempurna dalam memvalidasi keyakinan saya yang sudah ada? Konfirmasi bias adalah kerentanan universal — sumber-sumber propaganda memanfaatkannya secara sistematis.

Paradoks Kebenaran di Zona Perang

Ada paradoks fundamental yang perlu diterima dengan lapang dada: dalam konflik aktif, kebenaran penuh hampir tidak pernah tersedia secara real-time. Kita selalu bekerja dengan informasi parsial, terfragmentasi, dan terfilter oleh berbagai kepentingan.

Respons yang tepat bukan memilih satu narasi dan menolak semua lainnya — tetapi mempertahankan posisi epistemis yang tepat: saya tidak tahu dengan pasti, dan inilah bukti terbaik yang tersedia saat ini. Ini bukan relativisme — ini adalah standar intelektual yang bertanggung jawab.

"The media's job is not to be perfect. It's to be better than the alternatives." — Jay Rosen, PressThink

Kesimpulan: Literasi Informasi sebagai Tanggung Jawab Moral

Kasus klaim Galloway tentang konflik Iran-Israel-AS bukan sekadar soal benar atau salah. Ia adalah cermin dari ekosistem informasi yang semakin kompleks, di mana batas antara jurnalisme, propaganda, information operations negara, dan opini personal semakin kabur.

Tiga pelajaran utama yang bisa ditarik:

Pertama, semua pihak dalam konflik bersenjata — Israel, Iran, AS, maupun aktor non-negara seperti Galloway — mengelola narasi untuk kepentingan strategisnya. Ini bukan konspirasi; ini adalah fakta struktural tentang bagaimana kekuasaan bekerja. Skeptisisme harus diterapkan merata, bukan selektif berdasarkan simpati ideologis.

Kedua, citizen journalism dan OSINT bisa menjadi koreksi yang berharga terhadap narasi resmi — tetapi hanya jika dijalankan dengan metodologi yang transparan dan verifiable. Kerumunan yang tidak terstruktur hanya memproduksi lebih banyak kebisingan.

Ketiga, literasi media bukan sekadar kemampuan teknis membedakan benar dan salah. Ia adalah sikap epistemis — kesediaan untuk hidup dalam ketidakpastian, mempertahankan standar bukti, dan menolak godaan kepastian palsu dari narasi yang terlalu rapi.

Dalam dunia di mana perang informasi sudah menjadi komponen integral konflik bersenjata, kemampuan membaca kritis bukan lagi sekadar keahlian akademis — ia adalah pertahanan sipil yang paling relevan.

Artikel ini merupakan analisis akademis dan jurnalistik berdasarkan sumber-sumber terbuka. Referensi utama mencakup: Walter Lippmann, Public Opinion (1922); Edward S. Herman & Noam Chomsky, Manufacturing Consent (1988); Phillip Knightley, The First Casualty (2004); Philip Seib, Real-Time Diplomacy (2012); Kate Starbird, studi rumor media sosial pasca-bencana (University of Washington); Joint Publication 3-13, Information Operations (U.S. Department of Defense); laporan UNOSAT tentang kerusakan infrastruktur Gaza; metodologi verifikasi Bellingcat.

Artikel Populer

Ledakan di Kedutaan Besar AS di Oslo

Persia dalam Nubuwat dan Geopolitik Kontemporer

Ulama Muslim Sedunia Tolak Kedua Pihak: Pernyataan Resmi Rabithah Ulama Muslimin soal Perang Iran–Israel

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya