Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Tarbiyah yang Hilang di Balik Ranking

Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Kadang kita lupa, bahwa anak-anak itu bukan angka yang berjalan. Mereka bukan lembaran rapor yang bisa diurutkan dari satu hingga tiga puluh. Mereka adalah napas yang dititipkan langit, adalah doa yang dipanjatkan ibu dengan air mata, adalah janji yang dipegang teguh oleh seorang ayah yang berharap anaknya menjadi manusia yang baik. Namun di suatu sudut ruang kelas, di balik papan peringkat yang tergantung angkuh, kita perlahan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kita kehilangan tarbiyah itu sendiri. Tarbiyah, yang seharusnya menjadi tanah subur tempat karakter tumbuh, perlahan tergantikan oleh lomba lari yang tak pernah benar-benar kita sadari. Anak-anak diajar mengejar angka, bukan makna. Mereka dilatih menjadi yang pertama, bukan menjadi yang terbaik. Dan tanpa terasa, kita sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai masyarakat, ikut memalingkan wajah dari pertanyaan paling penting: apakah mereka bahagia? Apakah mereka tahu makna kebaikan? Apakah me...

Akar Sebelum Sayap

Tarbiyatul Aulad · Parenting Islami Akar Sebelum Sayap Tentang Pilihan, Batas, dan Tanggung Jawab Kita sebagai Orang Tua Oleh Nuraini Persadani  |  17 Dzulqa'dah 1447 H / 4 Mei 2026 Ada sebuah niat baik yang diam-diam menyimpan jebakan. Banyak dari kita — para orang tua hari ini — ingin berbeda dari generasi sebelumnya. Tidak mau terlalu keras. Tidak mau terlalu mengekang. Maka kita pun memberi anak banyak pilihan sejak mereka kecil. "Mau makan apa?" "Mau belajar atau tidak?" "Mau sekolah ini atau itu?" Niatnya indah: supaya anak tumbuh mandiri, percaya diri, dan merasa dihargai. Namun ada yang sering terlewat dari niat yang baik itu. Tidak semua pilihan itu membebaskan. Sebagian justru membebani. Dan anak yang terlalu dini dibebani dengan pilihan yang terlalu berat, bukan tumbuh menjadi mandiri — melainkan tumbuh dalam kebingungan. ✦   ✦   ✦ Islam telah mengajarkan sebuah prinsip yang agung jauh sebelum psikologi ...

Memberi yang Kita Cintai: Ketika Pengorbanan Menjadi Bukti Iman

Memberi yang Kita Cintai: Ketika Pengorbanan Menjadi Bukti Iman Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ada sebuah pertanyaan sederhana yang jika kita renungkan dengan jujur, bisa menggetarkan kesadaran kita tentang hakikat memberi. Pernahkah kita memilih apa yang akan kita sedekahkan? Apa yang kita keluarkan dari kulkas, dari lemari, dari dompet kita? Benda yang mana yang kita pilih untuk diberikan kepada orang lain? Dalam banyak kesempatan — tanpa kita sadari — kita memberi dari sisa. Buah yang sudah mulai layu. Baju yang sudah tidak lagi kita pakai karena sudah terlalu usang. Makanan yang hampir mendekati masa simpannya. Uang receh yang tersisa di kantong. Dan kita merasa sudah berbuat baik. Kita merasa sudah berinfak. Kita merasa sudah menunaikan sesuatu. Padahal ada pertanyaan yang lebih dalam, yang Al-Qur'an ajukan kepada kita jauh sebelum kita sempat merasa puas: لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُ...

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah Oleh: Nuraini Persadani Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah Ada sebuah doa yang sangat pendek, namun mengandung pengakuan terdalam yang bisa diucapkan seorang hamba. Doa yang tidak bisa dilafalkan dengan santai, karena begitu sungguh-sungguh diucapkan, ia mengguncang kesadaran tentang betapa rapuhnya kita. Doa itu berbunyi: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ "Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī 'alā dīnik" — Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu. HR. At-Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, no. 12107 — dishahihkan oleh Al-Albani Nabi ﷺ membaca doa ini dengan sangat sering — bahkan Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah bertanya mengapa beliau begitu banyak memanjatkan permohonan ini. Jawaban Rasulullah ﷺ menggetarkan: "Wahai Ummu Salamah, tidaklah ada seorang anak Adam melainkan hatinya berada di antara d...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...