Postingan

Menampilkan postingan dengan label Literasi

AI, Sakdet Saknyet

Gambar
[ TAZKIYATUN NAFS ] AI, Sakdet Saknyet Ketika Kecepatan Menjawab Mendahului Ketelitian Ilmu Tsaqif Rasyid Dai فَتَبَيَّنُوا "Maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6) "Wis takon AI?" "Wis. Sakdet saknyet." "Wis dipriksa maneh?" "Lha jawabane wis masuk akal, kok!" Begitulah kita hari ini. Minta AI memperbaiki satu kalimat, malah dikasih ceramah panjang. Kita jengkel. "Wis, cukup! Aku mung takon sakmenir." Tapi ketika AI menyodorkan jawaban yang sejalan dengan pendapat kita, lengkap dengan dalil, nama kitab, bahkan nomor halaman, kita manggut-manggut. "Nah, iki! Cocok!" Tak ada yang bertanya: benarkah kitab itu ada? Benarkah halamannya demikian? Yang masuk akal belum tentu benar. Yang meyakinkan belum tentu terverifikasi. Yang cocok dengan selera belum tentu cocok dengan kenyataan. Untuk urusan sederhana, cepat itu nikmat. Tetapi untuk urusan agama, ilmu, dan keputusan yang menyangkut or...

JIHAD ORA JAHAT

Gambar
JIHAD ORA JAHAT Refleksi Resolusi Jihad di Hari Santri Oleh Tsaqif Rasyid Dai   Tidak setiap kemarahan atas nama agama adalah jihad. Tidak setiap keberanian menghadapi kemungkaran berarti sedang membela kebenaran. Sebab, keberanian tanpa ilmu dapat berubah menjadi kecerobohan, sementara semangat tanpa hikmah justru bisa melahirkan kerusakan. Allah mengingatkan: قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ Katakanlah, "Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan dasar ilmu yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik." (QS Yusuf: 108) Bashirah menuntut kejernihan ilmu, ketepatan membaca keadaan, dan kesadaran terhadap akibat suatu tindakan. Kebenaran yang diperjuangkan harus ditempuh dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan cara pandang inilah kita patut membaca kembali Resolusi Jihad 22 Ok...

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

Gambar
Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe Tentang kesediaan mengambil bagian, menjaga niat, dan belajar tidak merasa paling berjasa. ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Pekerjaan itu sudah disepakati untuk disengkuyung bareng. Semua mengangguk. Semua merasa ikut bertanggung jawab. Namun, ketika ditanyakan siapa yang akan mengerjakan, seseorang menjawab dengan tenang. “Wis, paling wis ono sing nekel.” Legalah semua. Rupanya, dalam gotong royong ada satu hal yang bisa dibagi rata tanpa perlu bekerja: keyakinan bahwa orang lain pasti sudah mengerjakannya. Biasanya yang dimaksud adalah Fulan. Orang yang dikenal prigel , cekatan, dan hampir selalu bisa diandalkan. Bahkan sebelum dimintai tolong, pundaknya sudah lebih dahulu kebagian beban. Nyengkuyung bareng, ojo njagakake. Dalam psikologi sosial, dikenal fenomena diffusion of responsibility , ketika tanggung jawab yang dipikul bersama justru membuat seseorang merasa tidak perlu segera mengambil bagian karena menganggap orang lain akan menger...

Oleh-olehe Ndi?

Gambar
Oleh-olehe Ndi? Jos Gandos, Implementasinya Menyusul ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Belum juga sempat melepas sepatu, pertanyaan itu sudah menyambar. “Oleh-olehe ndi?” Pertanyaan khas orang rumah ketika seseorang baru pulang bepergian. Bisa dari luar kota, menghadiri undangan, atau sekadar mampir ke tempat wisata. Tidak selalu sungguh-sungguh meminta sesuatu. Kadang hanya menggoda. Tetapi kalau benar-benar membawa oleh-oleh, tentu lebih menyenangkan. Rupanya pertanyaan serupa juga berlaku bagi mereka yang baru pulang dari pelatihan, seminar, studi banding, atau kegiatan peningkatan kapasitas. “Piye pelatihane?” “Wah, apik tenan! Jos gandos!” “Materinya?” “Luar biasa. Narasumbernya hebat. Banyak ilmu baru. Sangat menginspirasi.” “Terus, oleh-olehe ndi?” “Kesel.” Hehehe. Jawaban pendek. Jujur. Sekaligus nyesek. Berangkat pagi, pulang sore. Duduk berjam-jam, mendengarkan materi, mencatat, berdiskusi, sesekali bertepuk tangan. Tidak lupa foto bersama. Pulang membawa sertifika...

Sumringah, Ora Bungah

Gambar
Sumringah, Ora Bungah Menjaga kehormatan di tengah kekurangan ✒️ Tsaqif Rasyid Dai   Murid pertamanya kini telah menjadi dosen agama. Ia sendiri masih setia mengajarkan Alif, Ba, Ta, Tsa. Rambutnya telah memutih. Usianya semakin senja. Tetapi semangat mengajarnya tak ikut menua. Anak yang terbata-bata dituntunnya. Yang lupa diajaknya mengulang. Wajahnya tetap sumringah. Ada kelapangan dada yang tidak habis oleh pengulangan, tidak surut oleh perjalanan usia. Baginya, mengajarkan huruf-huruf pertama Al-Qur'an bukanlah pekerjaan kecil. Penampilannya sederhana, tetapi rapi. Tutur katanya hangat dan terjaga. Orang mengenalnya sebagai guru yang tenang dan bersahaja. Tidak banyak yang mengetahui betapa cermat ia harus menghitung kebutuhan hidupnya. Barangkali hanya orang-orang terdekat yang memahami keadaan sebenarnya. Al-Qur'an telah menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan di tengah kesempitan hidup: يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ...

Ora Mung Ngundhuh

Gambar
Ora Mung Ngundhuh Tentang nikmat yang diterima, warisan ilmu, dan amanah yang diuji ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Yang diserahkan bukan hanya pekerjaan. Ada sejumlah persoalan yang belum selesai, riwayat keputusan yang tidak seluruhnya terdokumentasi, dan nama besar yang sudah dikenal orang. Dari luar, semuanya tampak mapan. Kegiatan berjalan, orang-orangnya sudah ada, fasilitas pun tersedia. Tinggal meneruskan. Namun, setelah ditelusuri, tidak semua yang terlihat berjalan itu benar-benar bergerak. Catatan sebagian pekerjaan tidak lagi utuh, persoalan lama belum terurai, sementara kebiasaan terus berlangsung meskipun perkembangan nyaris tidak terlihat. Begitulah warisan. Tidak selalu datang dalam keadaan siap dinikmati. Ada buah yang bisa dipetik, ada pohon yang mesti dirawat, bahkan ada akar yang diam-diam mulai rapuh. Seorang anak menerima harta tanpa mengalami seluruh pengorbanan orang tuanya. Seorang murid memperoleh ilmu tanpa menempuh panjangnya perjalanan sang guru. Sebuah le...

Blingsatan

Gambar
Blingsatan Ketika cita-cita berlari lebih cepat daripada jiwa Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ia terlihat sangat sibuk. Bicara soal perubahan besar, target tinggi, lompatan jauh. Banyak yang dikerjakan, banyak yang dimulai. Tetapi orang lain yang melihat dari luar bisa bertanya: sebenarnya ia sedang maju, atau hanya berlari di tempat? Blingsatan sering menyamar sebagai produktivitas. Banyak yang dimulai. Sedikit yang selesai. Lebih sedikit lagi yang benar-benar tuntas. Niatnya sebenarnya baik. Cita-citanya tinggi. Kadang malah keduwuren . Ia ingin sesuatu menjadi lebih baik, lebih maju, lebih tertata, lebih bermanfaat. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Yang belum cukup terdidik justru jiwanya untuk menanggung jarak antara ingin dan menjadi . Cara pertama baru berjalan sebentar, hasilnya belum kelihatan. Mulai melirik cara kedua. Cara kedua belum matang, sudah kepincut cara ketiga. Yang pertama belum selesai, yang kedua belum sempat diuji, yang ketiga sudah membuatnya ...

Dolane Kurang Adoh

Gambar
Dolane Kurang Adoh Tentang khilaf, nyinyir, dan hati yang belum menep dalam ilmu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Beberapa hari ini saya mengikuti keramaian setelah terbit buku Ustadz Adi Hidayat tentang Syaikh Al-Albani, Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits . Ada yang membahas bukunya, ada yang membantah, ada yang membela Al-Albani, ada pula yang membela Ustadz Adi Hidayat. Itu biasa. Yang menarik justru ketika perdebatan mulai bergeser dari argumentasi menjadi sindiran, dari membahas pendapat menjadi membahas orang. Lalu muncul satu hal yang sangat akrab di media sosial: nyinyir . Melihat beberapa komentar, saya malah teringat ungkapan sederhana yang kadang dipakai orang Jawa ketika melihat seseorang terlalu cepat bicara tentang sesuatu yang belum banyak ia kenal: “Dolane kurang adoh.” Bukan berarti kurang piknik. Kadang yang kurang jauh bukan perjalanan kakinya, tetapi perjalanan pikirannya. Pernah Gumun Saya pernah berada di fase itu. Pernah mendengar seorang ustadz m...

Wis Menep

Gambar
Wis Menep Ketika yang benar belum tentu yang paling tepat dilakukan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Dulu, salah satu kesulitan orang adalah mencari jawaban. Hari ini, kesulitannya bisa jadi justru karena terlalu banyak jawaban. Satu persoalan dapat mempertemukan kita dengan puluhan potongan ceramah, fatwa, tulisan, dan pendapat hanya dalam beberapa menit. Tinggal mengetik kata kunci, lalu layar menyodorkan banyak pilihan. Kebingungannya pun berubah. Ia tidak lagi sekadar "Apa dalilnya?" , tetapi "Dari sekian banyak dalil dan pendapat yang saya temukan, mana yang harus saya ikuti?" Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Ketika pilihan semakin banyak, belum tentu ilmu yang menjadi pemenang. Bisa jadi justru ego. Jawaban yang sesuai dengan keinginan terasa lebih masuk akal. Pendapat yang membenarkan keputusan kita terasa lebih kuat. Sementara nasihat yang menuntut kita mundur, kehilangan keuntungan, mengubah sikap, atau mengakui kekeliruan terasa lebih berat diteri...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...