Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-14: Pesan Pertama Mojtaba Khamenei, Tiga Syarat Damai Pezeshkian, dan Krisis Energi Terbesar dalam Sejarah Minyak Dunia
Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-14: Pesan Pertama Mojtaba Khamenei, Tiga Syarat Damai Pezeshkian, dan Krisis Energi Terbesar dalam Sejarah Minyak Dunia
Reportase | Jumat, 13 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, Reuters, NPR, NBC News, Iran International, Britannica, Wikipedia
Dua pekan penuh setelah Operation Epic Fury dimulai, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki babak baru yang sarat momen bersejarah. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, akhirnya muncul — bukan secara fisik di hadapan publik, namun melalui sebuah pernyataan tertulis pertama yang disiarkan media negara. Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka menyampaikan tiga syarat Tehran untuk mengakhiri perang. Sementara itu, International Energy Agency (IEA) menyebut krisis ini sebagai "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global". Di lapangan, serangan terus meluas: kapal-kapal terbakar di Hormuz, Lebanon mencatat hampir 700 korban tewas, dan lebih dari 3,2 juta warga Iran mengungsi di dalam negeri.
"Tuas penutupan Selat Hormuz harus tanpa keraguan terus digunakan. Darah para syuhada tidak akan dibiarkan mengalir sia-sia." — Pernyataan tertulis Mojtaba Khamenei, disiarkan media negara Iran, 12 Maret 2026 (CNN / NPR)
Pesan Pertama Mojtaba Khamenei: Hormuz Tetap Tertutup, Balas Dendam Wajib
Setelah empat hari absen total dari ruang publik sejak dinobatkan sebagai Supreme Leader baru Iran pada 8 Maret, Mojtaba Khamenei akhirnya mengeluarkan pesannya yang pertama — namun bukan dalam bentuk penampilan langsung. Media negara Iran menyiarkan pernyataan tertulis tersebut dengan seorang penyiar membacakannya, sementara foto diam Mojtaba ditampilkan di layar televisi. Keberadaan fisiknya hingga kini masih dipertanyakan — dikonfirmasi bahwa ia menderita luka-luka dalam serangan pembukaan 28 Februari yang juga menewaskan ayahnya.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan Selat Hormuz harus tetap tertutup sebagai alat tekanan, dan bersumpah membalas dendam atas darah para syuhada Iran — termasuk menyinggung secara khusus serangan terhadap sekolah dasar perempuan yang menewaskan sedikitnya 165 orang, mayoritas anak-anak. Ia juga menyatakan Iran hanya akan menargetkan pangkalan militer AS — bukan warga sipil — dan memerintahkan agar pangkalan-pangkalan tersebut ditutup jika ingin serangan Iran dihentikan.
Ketidakhadiran fisiknya secara konsisten memunculkan pertanyaan besar: apakah sang pemimpin baru benar-benar mampu menjalankan fungsi kepemimpinan, atau negara Iran kini berada di bawah kendali kolektif IRGC dan para pejabat senior? Media negara Iran dan jaringan propaganda telah mengisi kekosongan ini dengan memutar rekaman arsip lama dan gambar-gambar yang dibuat dengan artificial intelligence.
Tiga Syarat Damai Pezeshkian: Ganti Rugi, Pengakuan Hak, dan Jaminan Internasional
Dalam perkembangan diplomatik yang paling signifikan sejak perang dimulai, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu 12 Maret secara terbuka menyampaikan tiga syarat Tehran untuk mempertimbangkan berakhirnya perang: pertama, pengakuan atas hak-hak sah Iran; kedua, pembayaran ganti rugi (reparations) atas serangan AS–Israel; dan ketiga, jaminan internasional yang kuat bahwa Iran tidak akan diserang lagi di masa mendatang.
Pezeshkian menyatakan telah menelepon para pemimpin Rusia dan Pakistan dan mengonfirmasi "komitmen Iran terhadap perdamaian". Para analis menyebut pernyataan ini sebagai sinyal kemungkinan de-eskalasi pertama dari Tehran sejak perang dimulai — meski disampaikan bersamaan dengan serangan militer yang terus berlanjut. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf secara terpisah menyatakan di media sosial: "Kami pasti tidak mencari gencatan senjata." Kontradiksi pernyataan antara Pezeshkian dan Ghalibaf ini kembali mengekspos retakan kepemimpinan di dalam sistem Iran — antara pemerintah sipil dan IRGC.
Di Washington, utusan khusus Trump Steve Witkoff ditanya oleh CNBC bagaimana perang ini akan berakhir. Ia menjawab singkat: "Saya tidak tahu." Trump sendiri memberikan sinyal yang saling bertentangan: kepada Axios ia menyatakan perang akan berakhir "segera" karena "praktis tidak ada lagi yang bisa diserang", namun kepada para pendukungnya di Kentucky ia berkata: "Kami tidak mau pergi terlalu cepat. Kami harus menyelesaikan pekerjaan ini."
Netanyahu: Ilmuwan Nuklir Senior Iran Terbunuh dalam Serangan Israel
PM Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers pertamanya sejak perang dimulai — bertepatan dengan hari ke-13 perang — mengumumkan bahwa serangan Israel telah menewaskan sejumlah ilmuwan nuklir dan roket senior Iran. Netanyahu menyatakan Israel tengah "menghancurkan" Republik Islam Iran dan semua proksi regionalnya. Ia juga menyebut perang ini sebagai "kesempatan sekali seumur hidup" dan menegaskan kerjasama AS–Israel telah menghasilkan pencapaian militer yang "mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan bahkan melampaui itu."
Ketika ditanya soal keselamatan Mojtaba Khamenei, Netanyahu menjawab bahwa ia "tidak akan mengambil asuransi jiwa" untuk pemimpin baru Iran tersebut maupun pemimpin Hizbullah Naim Qassem.
Israel juga mengungkapkan bahwa sebagian target serangan mereka di Iran didasarkan pada informasi intelijen yang dikirimkan oleh warga Iran sendiri melalui akun media sosial berbahasa Persia milik Israel — termasuk serangan drone Hermes terhadap pos-pos pemeriksaan Basij di Teheran pada Rabu malam.
IEA: "Gangguan Pasokan Terbesar dalam Sejarah Minyak Global"
Dalam laporan minyak bulanannya, IEA menyebut perang ini telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Aliran minyak mentah dan produk minyak melalui Selat Hormuz kini tinggal "setetes", dengan pasokan global yang diperkirakan turun 8 juta barel per hari pada bulan ini.
Sebagai respons darurat, negara-negara anggota IEA menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional mereka — jumlah terbesar sepanjang sejarah. AS sendiri akan melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) mulai pekan depan. Namun langkah ini gagal mendorong turun harga minyak secara bermakna: harga minyak kembali naik melewati 100 dolar per barel saat tengah malam menjelang Kamis, meski sebelumnya sempat turun akibat pengumuman IEA.
Sekretaris Energi AS Chris Wright mengakui bahwa AS saat ini belum mampu mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz, namun memperkirakan kapasitas tersebut bisa tersedia sebelum akhir bulan ini. Iran memperingatkan dunia bersiap menghadapi harga minyak 200 dolar per barel — dan secara aktif terus menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas.
Front Maritim: Kapal-Kapal Terbakar, Oman Selamatkan 20 Pelaut
Angkatan Laut Oman berhasil menyelamatkan 20 pelaut dari kapal berbendera Thailand yang diserang di Selat Hormuz. Kapal bulk carrier Mayuree Naree — yang sebelumnya diberitakan menjadi sasaran serangan IRGC — adalah kapal yang dimaksud. Di waktu yang bersamaan, sebuah proyektil menghantam kapal kontainer di utara Jebel Ali, kawasan komersial besar Uni Emirat Arab — memicu kebakaran kecil di atas kapal, meski seluruh awak dilaporkan selamat.
Komandan Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa setiap kapal yang ingin melintas Selat Hormuz wajib memperoleh izin dari Iran terlebih dahulu. Presiden Macron menyatakan tidak ada konfirmasi bahwa Iran sedang meletakkan ranjau laut di selat tersebut — berbeda dengan pernyataan Trump sebelumnya yang mengancam Iran soal penambangan Hormuz.
Korban Jiwa dan Krisis Kemanusiaan: Lebih dari 2.000 Tewas
Total korban tewas di seluruh kawasan kini telah melampaui 2.000 jiwa — mencakup kematian warga di Iran, Lebanon, Israel, dan negara-negara Teluk. Berikut rincian terkini:
| Pihak / Wilayah | Tewas | Catatan Terbaru |
|---|---|---|
| Iran (warga sipil) | 1.348+ | 17.000+ terluka; 3,2 juta mengungsi (UNHCR); internet hanya 4% dari normal |
| Lebanon | 687+ | 98 anak-anak tewas; 820.000+ mengungsi; keluarga tidur di jalanan Beirut |
| Israel | 15+ | 124 terluka dalam satu malam serangan IRGC; sirene berbunyi di seluruh negeri |
| AS (prajurit) | 7–8 | 140 terluka total; Kuwait: 2 orang terluka akibat drone Iran ke permukiman sipil |
| Negara Teluk | 17+ | 4 warga Bahrain ditangkap atas tuduhan mata-mata untuk IRGC; Qatar Airways mulai 29 penerbangan kembali |
| Total pengungsi | 3,2 juta di Iran + 820.000 di Lebanon + puluhan ribu di Suriah (UNHCR) | |
UNHCR menyatakan jumlah 3,2 juta pengungsi internal di Iran baru merupakan perkiraan awal dan "kemungkinan terus meningkat seiring berlanjutnya permusuhan, menandai eskalasi yang mengkhawatirkan dalam kebutuhan kemanusiaan."
Situs Warisan Dunia Dihancurkan: UNESCO Turun Tangan
Sejumlah situs bersejarah dan budaya — termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO — telah mengalami kerusakan selama perang ini. Serangan di Isfahan pada 9 Maret merusak Naqsh-e Jahan Square, Chehel Sotoun, Ali Qapu, Masjid Shah, Masjid Jameh, dan Teymouri Hall. Pada 11 Maret, UNESCO secara resmi mendesak perlindungan atas situs-situs warisan Iran beserta situs-situs bersejarah di Israel, Lebanon, dan kawasan Timur Tengah yang berisiko tinggi.
Sebelumnya, puing serangan pada 2 Maret merusak Istana Golestan di Tehran — yang telah berstatus UNESCO World Heritage Site — mendorong UNESCO mengeluarkan pernyataan bahwa merusak properti UNESCO bertentangan dengan hukum internasional. Serangan 8 Maret juga merusak Falak-ol-Aflak, sebuah benteng bersejarah yang ditandai emblem perisai biru perlindungan warisan budaya.
Retakan Kepemimpinan Iran: IRGC Lawan Pemerintah Sipil
Analisis Reuters menyimpulkan bahwa dengan menyerang negara-negara Teluk, Iran justru telah mendorong negara-negara tersebut untuk mendukung serangan AS–Israel. Mantan Direktur CIA David Petraeus menyatakan penargetaan Iran terhadap negara-negara Teluk kemungkinan merupakan kesalahan strategis yang bisa menarik lebih banyak negara masuk ke dalam perang.
Yang paling mengungkap adalah laporan bahwa meskipun Presiden Pezeshkian telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan Iran dan memerintahkan angkatan bersenjata untuk menghentikan serangan tersebut, IRGC tetap melanjutkan serangan — mengekspos secara gamblang retakan kepemimpinan antara pemerintah sipil dan Garda Revolusi.
Pezeshkian sebelumnya juga menegaskan kepada Trump bahwa tuntutan "unconditional surrender" (menyerah tanpa syarat) silakan "dibawa ke kuburan mereka sendiri". Sementara itu, penasihat senior Supreme Leader, Yahya Rahim Safavi, menyebut Trump sebagai "presiden Amerika paling korup dan paling bodoh" dan "Setan itu sendiri" dalam pernyataan di televisi negara Iran.
Di Balik Layar: Netanyahu Curigai AS Bernegosiasi Diam-diam dengan Iran
Intelijen Israel memperoleh informasi bahwa kemungkinan ada komunikasi antara Iran dan pemerintahan Trump untuk membahas gencatan senjata. Netanyahu kemudian menelepon pejabat Gedung Putih dan menanyakan apakah pembicaraan semacam itu benar-benar terjadi. Gedung Putih meyakinkan Netanyahu bahwa pemerintahan Trump tidak berbicara dengan Iran di belakang punggungnya.
Laporan ini mengindikasikan tekanan senyap yang mulai muncul dalam koalisi AS–Israel: Netanyahu khawatir AS akan mencari jalan keluar diplomatik sebelum seluruh tujuan Israel tercapai, terutama berkaitan dengan penghancuran total program nuklir Iran dan degradasi Hizbullah di Lebanon.
Analisis: Dua Pekan, Tanpa Jalan Keluar yang Jelas
Memasuki hari ke-14, gambaran strategis konflik ini semakin kompleks dan muram. Dari sudut pandang militer, AS dan Israel mengklaim kemajuan besar — lebih dari 5.000 target diserang, program nuklir dan rudal Iran terdegradasi signifikan, sejumlah ilmuwan dan komandan kunci terbunuh. Namun Iran tetap bertempur, bahkan dengan hulu ledak yang lebih besar dan serangan yang lebih meluas.
Dari sudut pandang kemanusiaan, angkanya menghancurkan: lebih dari 2.000 jiwa melayang, lebih dari 4 juta orang mengungsi, sebuah bangsa dengan 90 juta penduduk kehilangan akses internet hampir total, kota-kota bersejarah yang berusia ratusan tahun ikut hancur. IEA menyebutnya krisis energi terbesar sepanjang sejarah. Fed AS memperingatkan lonjakan harga minyak dapat menggagalkan pemulihan inflasi yang telah berjalan bertahun-tahun.
Dari sudut pandang diplomatik, untuk pertama kalinya muncul sinyal — meski samar dan saling bertentangan — bahwa Tehran mungkin mulai membuka pintu perundingan. Tiga syarat Pezeshkian bisa menjadi titik awal, atau bisa pula sekadar gertak sambal untuk konsumsi domestik. Tidak ada yang tahu pasti. Termasuk, seperti diakui sendiri oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff.
"Satu-satunya cara mengakhiri perang ini — yang dinyalakan oleh rezim Zionis dan AS — adalah pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional yang kuat terhadap agresi di masa depan." — Presiden Iran Masoud Pezeshkian, di platform X, 11 Maret 2026 (Al Jazeera)
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NPR, NBC News, Reuters, Iran International, Britannica, dan Wikipedia per Jumat, 13 Maret 2026, pagi WIB. Angka korban dan kondisi di lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.