Membangun Memori Spiritual Generasi Muda dan Menanamkan Rasa Bangga terhadap Agamanya
Membangun Memori Spiritual Generasi Muda dan Menanamkan Rasa Bangga terhadap Agamanya
Oleh Abdullah Madura
Ada sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata.
Ia tidak bisa diajarkan hanya melalui buku teks. Tidak cukup dengan ceramah di kelas, tidak memadai dengan hafalan ayat yang ditulis berulang-ulang di papan tulis. Ada dimensi dari keimanan yang hanya bisa tumbuh dari satu sumber yang tidak bisa digantikan: pengalaman langsung.
Pengalaman berdiri di lapangan yang dipenuhi ribuan orang, semuanya satu arah, semuanya satu suara, semuanya mengangkat tangan dalam doa yang sama. Pengalaman mendengar gema takbir yang memenuhi udara dari segala penjuru. Pengalaman merasakan — bukan sekadar mengetahui — bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.
Inilah yang dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan sangat mendalam. Dan itulah mengapa beliau memerintahkan sesuatu yang mungkin mengejutkan kita jika kita belum pernah merenungkannya:
أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فِي الْعِيدَيْنِ، فَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ
"Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para gadis remaja dan para wanita yang dipingit pada dua hari raya, agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin."
(HR. Bukhari dan Muslim, dari Ummu 'Athiyah radhiyallahu 'anha)
Perhatikan siapa yang diperintahkan untuk hadir: al-'awaatiq — الْعَوَاتِق — para gadis remaja yang sedang dalam usia tumbuh. Dan dzawaat al-khuduur — ذَوَاتُ الْخُدُور — para wanita yang biasanya tinggal di dalam rumah, yang tidak biasa keluar ke tempat umum.
Bukan hanya mereka yang sudah terbiasa hadir. Justru mereka yang tidak biasa keluar itulah yang secara khusus diperintahkan untuk ikut serta. Mengapa? Karena ada sesuatu di lapangan shalat Id itu yang tidak bisa mereka dapatkan di dalam rumah. Sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang Rasulullah tidak mau mereka lewatkan.
Yashhadna al-Khayr — Menyaksikan Kebaikan dengan Mata Kepala Sendiri
Lebih dari Sekadar Hadir
Kata yang digunakan Rasulullah dalam perintah ini sangat kaya: yashhadna al-khayra wa da'watal muslimin — يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ — agar mereka menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin.
Bukan sekadar "menghadiri." Bukan sekadar "berada di tempat itu." Tapi menyaksikan — dengan seluruh indera, dengan seluruh kesadaran, dengan hati yang terbuka untuk menerima apa yang ada di depan mata.
Apa yang mereka saksikan itu? Al-khayr — kebaikan — dalam seluruh manifestasinya yang paling nyata: ribuan orang berdiri bersama dalam shalat, suara takbir yang menggetarkan, khutbah yang mengingatkan, doa yang dipanjatkan bersama, wajah-wajah yang berseri dalam ketundukan kepada Allah. Semua itu adalah al-khayr yang nyata, yang kasat mata, yang bisa dirasakan oleh seorang gadis remaja yang baru pertama kali hadir.
Dan da'watul muslimin — doa kaum muslimin — adalah doa yang naik bersama-sama ke langit, dari ribuan mulut dan ribuan hati yang bergerak dalam satu irama. Ada kekuatan dalam doa kolektif yang tidak bisa dirasakan dalam doa sendirian di kamar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(QS. Ali Imran: 104)
Hari raya adalah manifestasi paling nyata dari seruan kebaikan kolektif ini. Di lapangan shalat Id, tidak ada ceramah tentang persatuan umat — persatuan itu sendiri yang hadir secara fisik, bisa dilihat, bisa dirasakan, bisa diingat seumur hidup.
Bahkan yang Sedang Haid Pun Diperintahkan untuk Hadir
Ada detail dalam riwayat lain yang sangat mengungkapkan betapa seriusnya Rasulullah tentang hal ini. Dalam riwayat yang lebih lengkap, disebutkan bahwa ada wanita yang bertanya: bagaimana dengan yang sedang haid — haruskah ia hadir juga?
Dan jawabannya:
لِتَشْهَدِ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، وَتَعْتَزِلُ الْمُصَلَّى
"Hendaklah ia menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin, namun menjauhi tempat shalat (tidak ikut shalat)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan betapa pentingnya kehadiran itu sampai-sampai mereka yang tidak bisa shalat pun tetap diperintahkan untuk datang. Mereka tidak shalat — tapi mereka harus hadir untuk menyaksikan.
Ini bukan tentang ritual shalat. Ini tentang sesuatu yang lebih besar: tentang pengalaman menjadi bagian dari umat, tentang merasakan apa artinya menjadi Muslim, tentang menyerap dengan seluruh indera suasana yang tidak bisa dihadirkan oleh buku atau ceramah mana pun.
Memori Spiritual yang Tidak Terhapus oleh Waktu
Anak yang Dibawa ke Lapangan Id
Ada sesuatu yang sangat istimewa tentang kenangan masa kecil yang berkaitan dengan agama. Kenangan itu berbeda dari kenangan lain — ia tidak sekadar tersimpan di kepala, tapi meresap ke dalam identitas seseorang. Ia menjadi bagian dari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: siapa aku?
Tanyakanlah kepada orang-orang yang tumbuh dengan kecintaan yang kuat terhadap Islam — bagaimana awal mula kecintaan itu tumbuh? Hampir selalu ada momen-momen konkret yang mereka ingat: pertama kali dibawa ke masjid oleh ayah mereka, pertama kali mendengar lantunan Al-Qur'an di subuh hari, pertama kali hadir di lapangan shalat Id dan merasakan betapa besarnya komunitas iman itu.
Bukan teori. Bukan hafalan. Tapi pengalaman.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Fitrah itu ada. Tapi fitrah perlu dipupuk, perlu disiram, perlu dihadirkan pada lingkungan yang membantu ia tumbuh ke arah yang benar. Dan salah satu cara terkuat untuk memupuk fitrah Islam dalam diri seorang anak adalah membiarkan ia menyaksikan sendiri keindahan dan keagungan Islam dalam pengalaman yang nyata — bukan hanya menceritakannya.
Membawa anak ke lapangan shalat Id adalah menanam benih kenangan yang bisa tumbuh menjadi pohon keimanan yang kokoh selama puluhan tahun ke depan. Seorang gadis remaja yang menyaksikan ribuan wanita shalat bersama-sama, yang mendengar takbir menggelegar di pagi hari yang cerah, yang merasakan kehangatan ukhuwah dalam suasana hari raya — ia membawa kenangan itu pulang bersama semua yang ia rasakan. Dan kenangan itu, suatu hari, akan menjadi fondasi.
Identitas yang Dibangun dari Pengalaman, Bukan Sekadar Pengetahuan
Para psikolog perkembangan sudah lama mengetahui bahwa identitas seseorang — termasuk identitas keagamaannya — tidak terbentuk semata dari apa yang diajarkan secara verbal, tapi dari pengalaman yang dialami dan dirasakan secara langsung. Erik Erikson, dalam teorinya tentang perkembangan identitas, menyebutkan bahwa masa remaja adalah periode kritis di mana seseorang mencari jawaban atas pertanyaan: siapa aku dan ke mana aku termasuk?
Islam sudah memberikan jawabannya jauh sebelum psikologi modern lahir: bawa mereka ke tempat di mana pertanyaan itu terjawab bukan dengan kata-kata, tapi dengan pemandangan yang mereka lihat sendiri. Bawa mereka ke lapangan shalat Id, di mana jawaban atas pertanyaan "siapa aku?" terhampar di depan mata dalam wujud ribuan orang yang bergerak, berdoa, dan bersyukur kepada Allah yang sama.
Allah berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman."
(QS. Adz-Dzariyat: 55)
Peringatan — tadzkirah — تَذْكِرَة — dalam bentuknya yang paling kuat bukan selalu yang diucapkan dengan lisan. Ia bisa berbentuk pemandangan yang dilihat, suara yang didengar, suasana yang dirasakan. Shalat Id adalah tadzkirah dalam bentuknya yang paling lengkap — yang menyentuh semua indera sekaligus.
Syiar dan Penguatan Identitas Kolektif
Ketika Umat Hadir Bersama — Sesuatu yang Terjadi
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan sesuatu yang sangat penting tentang fungsi syiar-syiar Islam:
إِظْهَارُ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ كَصَلَاةِ الْعِيدِ وَالتَّكْبِيرِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُقَوِّي الْوَحْدَةَ وَيُرَسِّخُ الْهُوِيَّةَ الْإِيمَانِيَّةَ فِي نُفُوسِ الصِّغَارِ وَالْكِبَارِ
"Menampakkan syiar-syiar Islam seperti shalat Id dan takbir adalah termasuk yang paling kuat dalam memperkuat persatuan dan mengokohkan identitas keimanan dalam jiwa yang muda maupun yang tua."
Ibnu Rajab al-Hanbali, Latha'if al-Ma'arif
Perhatikan: fi nufuusis-shighari wal-kibari — dalam jiwa yang muda maupun yang tua. Ibnu Rajab secara khusus menyebut jiwa yang muda. Karena beliau tahu — sebagaimana semua orang yang bijak tahu — bahwa jiwa yang muda adalah jiwa yang paling mudah menerima cetakan. Apa yang diterima jiwa muda dalam pengalaman langsung akan menjadi bagian dari dirinya jauh lebih dalam daripada apa yang diterima jiwa yang lebih tua.
Seorang anak perempuan yang setiap Idul Fitri dibawa ke lapangan, yang setiap tahun menyaksikan hal yang sama tapi merasakannya dengan cara yang sedikit berbeda seiring ia tumbuh — adalah anak yang sedang membangun fondasi identitas Islam yang tidak mudah digoyahkan. Bukan karena ia diperintah untuk kuat. Tapi karena kenangan itu sudah menjadi bagian dari siapa ia.
Rasa Bangga yang Tumbuh dari Keterlibatan, Bukan dari Instruksi
Ada perbedaan yang sangat besar antara anak yang diberitahu "kamu harus bangga menjadi Muslim" dan anak yang merasakan sendiri keagungan komunitas Muslim dalam pengalaman nyata.
Yang pertama mungkin mengangguk — tapi rasa bangga itu tidak tumbuh dari dalam. Yang kedua membawa pulang sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun: keyakinan yang lahir dari mata kepala sendiri, dari telinga sendiri, dari hati yang bergetar sendiri ketika mendengar takbir ribuan orang bergema di pagi hari yang cerah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
"Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itu adalah selemah-lemahnya iman."
(HR. Muslim)
Iman yang kuat adalah iman yang bergerak — dengan tangan, dengan lisan, dengan tindakan. Dan iman yang bergerak itu tidak lahir dari vakum. Ia lahir dari keyakinan yang berakar dalam. Dan keyakinan yang berakar dalam lahir dari pengalaman yang membekas.
Generasi muda yang tidak pernah merasakan keagungan Islam dalam pengalaman nyata — yang hanya mendengar ceramah tentang kebesaran Islam tapi tidak pernah menyaksikannya sendiri — adalah generasi yang imannya mudah goyah ketika angin perubahan berhembus. Karena tidak ada kenangan yang menahan mereka. Tidak ada pengalaman yang menjadi jangkar.
Keseimbangan yang Indah antara Adab dan Partisipasi
Islam Tidak Mengurung — tapi Juga Tidak Melepas Tanpa Batas
Ada dua kesalahan yang bisa terjadi dalam memahami hadits ini. Yang pertama adalah membacanya sebagai bukti bahwa Islam "membebaskan perempuan tanpa syarat." Yang kedua adalah mengabaikannya sama sekali dengan alasan menjaga kehormatan.
Keduanya salah. Hadits ini justru menunjukkan keseimbangan yang sangat indah.
Di satu sisi, Islam memerintahkan keterlibatan. Perempuan — bahkan yang biasa tinggal di rumah, bahkan yang sedang haid — diperintahkan untuk hadir. Islam tidak memisahkan separuh umatnya dari pengalaman spiritual kolektif yang paling penting. Ia tidak mengatakan bahwa keimanan dan keagungan Islam hanya milik laki-laki.
Di sisi lain, keterlibatan itu dibingkai dengan adab. Allah berfirman:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
"Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya, dan jangan menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak."
(QS. An-Nur: 31)
Hadir di lapangan shalat Id adalah dalam kerangka ketaatan — bukan kebebasan yang melampaui batas. Berpakaian sopan, tidak berhias berlebihan, tidak bercampur bebas, menjaga kehormatan diri. Semua itu bukan pengekangan — ia adalah cara Islam memastikan bahwa keterlibatan itu membawa berkah, bukan membuka pintu kepada hal-hal yang merusak.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menulis tentang prinsip ini:
الْإِسْلَامُ لَا يَحْجُبُ الْمَرْأَةَ عَنِ الْخَيْرِ، وَلَكِنَّهُ يَضَعُ لَهَا ضَوَابِطَ تَصُونُ كَرَامَتَهَا فِي طَلَبِهِ
"Islam tidak menghalangi wanita dari kebaikan, tapi ia menetapkan batasan-batasan yang menjaga kehormatannya dalam mengejar kebaikan itu."
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah
Inilah moderasi Islam yang sesungguhnya — bukan moderasi yang melarang segalanya atas nama kehati-hatian, dan bukan pula moderasi yang membuka segalanya atas nama kemajuan. Tapi moderasi yang tahu kapan harus bergerak dan kapan harus menjaga, yang memungkinkan seseorang untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan spiritual komunitas sambil tetap menjaga martabat dan kehormatan dirinya.
Hari Raya — Sekolah Terbuka untuk Seluruh Umat
Pendidikan yang Tidak Ada di Kelas Mana Pun
Para ulama tarbiyah menyebut shalat Id sebagai madrasah maftuhah — مَدْرَسَةٌ مَفْتُوحَة — sekolah terbuka. Terbuka untuk semua: laki-laki dan perempuan, tua dan muda, yang sudah paham agama dan yang baru belajar. Semua berdiri di ruang kelas yang sama, belajar pelajaran yang sama, dengan cara yang sama-sama efektif bagi semua level pemahaman.
Dan yang paling berharga dari sekolah terbuka ini adalah kurikulumnya tidak bisa dipalsukan atau dimanipulasi. Ia adalah realitas yang hadir di depan mata: ini umat Islam. Ini shalat mereka. Ini doa mereka. Ini cara mereka bersyukur kepada Allah. Ini siapa kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمُ الصَّلَاةَ إِذَا بَلَغُوا سَبْعًا، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا إِذَا بَلَغُوا عَشْرًا
"Ajarilah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berumur sepuluh tahun."
(HR. Abu Dawud)
Pendidikan shalat dimulai jauh sebelum anak benar-benar memahami semua makna di baliknya. Karena Islam tahu bahwa kebiasaan yang dibangun sejak dini akan menjadi karakter, dan karakter adalah apa yang kita lakukan ketika tidak ada yang melihat.
Membawa anak ke shalat Id adalah perluasan dari pendidikan shalat itu. Ia bukan sekadar mengajari cara shalat — ia mengajari mengapa shalat itu penting, kepada siapa shalat itu ditujukan, dan bersama siapa shalat itu dilakukan. Dimensi-dimensi yang tidak bisa sepenuhnya diajarkan di dalam kamar atau di kelas.
Tanggung Jawab Orang Tua dan Komunitas
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."
(QS. At-Tahrim: 6)
Quu anfusakum wa ahliikum — jagalah dirimu dan keluargamu. Tanggung jawab itu ada di pundak orang tua. Dan salah satu cara menjaga keluarga — menjaga anak-anak agar tidak kehilangan akar keimanan mereka — adalah memastikan mereka memiliki pengalaman-pengalaman yang mengikat mereka kepada Islam secara emosional dan spiritual.
Membawa putri kita ke lapangan shalat Id adalah bagian dari perintah Allah ini. Ia bukan kemewahan opsional. Ia adalah investasi yang hasilnya mungkin baru kita lihat sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, ketika putri kita itu sudah dewasa dan menghadapi berbagai tekanan dan godaan — dan ia ingat, ia masih ingat, bagaimana rasanya berdiri di lapangan itu, mendengar takbir ribuan orang, dan merasakan bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang sangat besar dan sangat indah.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menegaskan:
الصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ خَالِيَةٌ مِنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ، وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ فِيهِ
"Anak kecil adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang bersih adalah permata berharga yang kosong dari segala ukiran dan gambar — dan ia siap menerima apa pun yang diukirkan di dalamnya."
Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin
Hati anak adalah permata yang siap diukir. Pertanyaannya adalah: ukiran apa yang kita pilihkan untuk diukir di sana? Ukiran pengalaman spiritual yang kuat dan indah, ataukah kita biarkan ia kosong — atau lebih buruk, diukir oleh hal-hal lain yang tidak kita pilihkan?
Di Zaman Digital — Ketika Pengalaman Nyata Semakin Langka
Kita hidup di zaman di mana semakin banyak pengalaman yang dipindahkan ke layar. Anak-anak belajar tentang dunia melalui video, mengenal tokoh-tokoh melalui konten digital, merasakan sesuatu melalui media yang semakin sempurna secara teknis — tapi semakin jauh dari pengalaman yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini, pengalaman langsung yang tidak bisa digantikan oleh layar mana pun semakin berharga. Dan shalat Id adalah salah satunya. Tidak ada siaran langsung yang bisa menghadirkan getaran yang dirasakan ketika berdiri di lapangan yang sesungguhnya. Tidak ada rekaman yang bisa menghadirkan rasa ketika takbir ribuan orang memenuhi udara di sekitar kita, bukan dari speaker, tapi dari mulut-mulut nyata manusia-manusia nyata yang berdiri berdampingan dengan kita.
Terkadang ada anggapan — tanpa disadari — bahwa shalat Id adalah urusan laki-laki. Bahwa perempuan, terutama yang muda, cukup shalat di rumah. Hadits Ummu 'Athiyah ini secara tegas mengoreksi anggapan itu. Bukan sekadar boleh — tapi diperintahkan. Bukan sekadar diizinkan — tapi secara aktif diminta untuk hadir.
Maka di zaman di mana banyak hal yang melemahkan ketertarikan generasi muda terhadap agama, inilah salah satu cara paling sederhana dan paling kuat yang bisa dilakukan orang tua: bawa mereka ke lapangan. Biarkan mereka menyaksikan sendiri. Biarkan kenangan itu terbentuk. Biarkan benih itu tertanam.
Penutup: Momen yang Membentuk Generasi
Hari raya dalam Islam bukan sekadar festival tahunan yang datang dan pergi. Ia adalah momen pembentukan — pembentukan identitas, pembentukan kenangan, pembentukan ikatan antara seorang jiwa dan komunitasnya, antara seorang hamba dan Tuhannya.
Dan Rasulullah, dengan kebijaksanaan yang melampaui zamannya, sudah melihat ini dengan sangat jelas. Itulah mengapa beliau tidak cukup dengan memerintahkan laki-laki dewasa untuk shalat Id. Beliau memerintahkan semua orang — perempuan, remaja, yang biasa tinggal di rumah, bahkan yang sedang haid — untuk hadir, untuk menyaksikan, untuk merasakan.
Karena beliau tahu bahwa generasi yang kuat tidak dibentuk hanya di kelas atau di masjid. Ia dibentuk juga di lapangan terbuka, di bawah langit yang luas, di tengah ribuan saudara seiman yang berdiri dan sujud bersama dalam satu pagi yang penuh berkah.
Maka tahun ini, jangan biarkan anak-anak dan gadis-gadis remaja kita tertinggal di rumah. Bawa mereka. Biarkan mata mereka melihat. Biarkan telinga mereka mendengar. Biarkan hati mereka merasakan.
Karena kenangan yang tertanam di pagi Idul Fitri itu — insya Allah — akan menjadi salah satu akar terkuat yang menahan mereka tetap terhubung kepada Islam, dalam segala badai yang mungkin datang di kemudian hari.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallahu a'lam bish-shawab