Ketika Penjaga Adab Itu Pergi: Mengenang Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Warisan Peradaban yang Ia Tinggalkan

Ketika Penjaga Adab Itu Pergi: Mengenang Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Warisan Peradaban yang Ia Tinggalkan

“Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”
Imam al-Syafi’i, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij al-Salikin

Pada pagi yang tenang di bulan Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 8 Maret 2026, dunia intelektual Islam menerima berita yang terasa seperti runtuhnya sebuah menara. Profesor Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas telah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam usia 94 tahun, di Kuala Lumpur, Malaysia. Kepulangannya terjadi di malam-malam terbaik Ramadan, seolah Allah memilihkan waktu yang mulia bagi seorang hamba yang telah mengabdikan seluruh hidupnya demi ilmu, adab, dan peradaban Islam. 


 

Ia bukan sekadar akademisi. Ia bukan sekadar penulis buku. Ia adalah seorang guardian of adab—penjaga adab—di era ketika adab perlahan-lahan terkikis oleh arus materialisme, sekularisme, dan kehilangan makna. Selama lebih dari enam dekade, ia berdiri teguh di persimpangan antara tradisi intelektual Islam yang agung dan tantangan modernitas yang terus bergerak.

Kepergiannya meninggalkan kesunyian yang dalam. Namun sekaligus menyalakan kembali pertanyaan yang selalu ia gugat sepanjang hidupnya: Apa sebenarnya tujuan ilmu? Apa makna pendidikan? Dan mengapa umat Islam kehilangan arahnya?

Artikel ini adalah sebuah upaya untuk mengenangnya, memahaminya, dan melanjutkan apa yang ia mulai.

I. Dari Bogor ke Puncak Intelektual Dunia: Perjalanan Seorang Sayyid

Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir pada 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat, dari rahim dua tradisi yang saling memperkaya: darah keturunan Ba’Alawi Hadramaut yang bersambung nasabnya hingga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam sebagai keturunan ke-37, dan bangsawan Melayu-Sunda dengan kekayaan budaya serta spiritualitasnya yang dalam. Perpaduan ini bukan sekadar keturunan biologis; ia adalah konfluensi dua sungai peradaban yang mengalir dalam darah dan pikirannya.

Masa mudanya tidak sederhana. Ia menapaki jalan yang tidak biasa untuk seorang ulama: belajar di Royal Military Academy Sandhurst di Inggris, sebuah lembaga yang mencetak para perwira elite Britania. Banyak yang menduga jalan militer akan menjadi takdirnya. Namun Allah memilih yang berbeda. Al-Attas tidak menemukan dirinya di medan perang bersenjata, tetapi di medan perang yang jauh lebih dalam: medan pertempuran ide, epistemologi, dan peradaban.

Ia melanjutkan studi ke University of Malaya, kemudian meraih master di McGill University, Kanada—sebuah pusat penting kajian Islam di Barat. Perjalanan akademiknya mencapai puncaknya di SOAS, University of London, tempat ia meraih gelar doktoral dengan disertasi tentang mistisisme Hamzah Fansuri, sufi besar Nusantara abad ke-16 dan ke-17. Disertasi itu bukan sekadar karya akademis; ia adalah proklamasi bahwa dunia Melayu memiliki tradisi intelektual Islam yang tidak kalah dengan tradisi Islam di mana pun di dunia.

Ia kemudian menjadi Dekan Fakultas Sastra di University of Malaya, turut mendirikan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), dan pada 1987 mendirikan mahkotanya yang paling agung: International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC) di Kuala Lumpur. Pada tahun 2024, kerajaan Malaysia menganugerahkan kepadanya gelar Profesor Diraja—penghargaan tertinggi akademis yang pernah diberikan di Malaysia.

Al-Attas adalah seorang polymath dalam arti yang sesungguhnya: filsuf, teolog, sejarawan, ahli tasawuf, sastrawan, ahli bahasa Melayu klasik dan Arab, serta kaligrafer dan arsitek. Ia bahkan merancang sendiri bangunan ISTAC, karena baginya, ruang fisik pun harus mencerminkan pandangan hidup Islam.

II. Menyaksikan Krisis yang Tidak Semua Orang Mau Lihat

Sepanjang hidupnya, al-Attas menyaksikan sesuatu yang menggelisahkan hatinya jauh lebih dalam dari kemiskinan, kekalahan politik, atau ketertinggalan teknologi. Ia menyaksikan krisis yang lebih tersembunyi namun lebih berbahaya: krisis cara berpikir dan krisis adab.

Dunia Islam, menurutnya, sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai loss of adab—hilangnya adab. Bukan dalam pengertian sempit sopan santun atau etiket sosial, melainkan dalam pengertian yang jauh lebih mendasar.

Al-Attas mendefinisikan adab (الأدب) sebagai:

“Recognition and acknowledgement of the right and proper place of things, of oneself, and of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual, and spiritual capacities and potentials.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam (1980)

Pengenalan akan tempat segala sesuatu dalam tatanan wujud. Kesadaran akan hierarki realitas. Kemampuan menempatkan setiap hal—Tuhan, manusia, ilmu, kekuasaan, alam—pada posisinya yang benar. Itulah adab.

Dan ketika adab hilang, katanya, terjadilah kekacauan kosmik dalam tatanan sosial dan intelektual:

“The loss of adab is the cause of the confusion and error in knowledge and the rise of unqualified leaders.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (1978)

Diagnosa ini tajam dan menyentuh akar permasalahan. Bukan gejala yang ia obati, melainkan sumber penyakitnya. Di sini kita temukan kedalaman visi intelektual seorang al-Attas yang melampaui banyak pemikir semasanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dengan sangat relevan dalam Al-Qur’an Al-Karim:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” — QS. Al-Mujadilah: 11

Ayat ini tidak memisahkan antara iman dan ilmu. Keduanya disebutkan dalam satu nafas sebagai syarat ketinggian derajat. Bagi al-Attas, inilah paradigma dasar yang hilang dari sistem pendidikan modern: bahwa ilmu sejati tidak bisa dipisahkan dari iman, dan iman yang hidup selalu menuntut ilmu yang benar.

III. Islamisasi Ilmu: Sebuah Proyek Peradaban, Bukan Sekadar Wacana Akademis

Salah satu kontribusi terbesar al-Attas kepada pemikiran Islam kontemporer adalah konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge). Ia menggagas ide ini jauh sebelum istilah tersebut populer—sejak awal 1970-an, bahkan sebelum sarjana seperti Ismail Raji al-Faruqi mempopulerkannya melalui platform The International Institute of Islamic Thought (IIIT) Washington.

Namun penting untuk memahami apa yang sesungguhnya al-Attas maksudkan. Islamisasi ilmu baginya bukan sekadar menempelkan ayat Al-Qur’an pada buku teks sains, atau menambahkan mata kuliah agama dalam kurikulum universitas. Itu adalah pendekatan yang ia anggap dangkal.

Bagi al-Attas, Islamisasi ilmu adalah proyek epistemologis yang radikal: menyingkap asumsi-asumsi tersembunyi dalam ilmu modern Barat yang lahir dari worldview sekuler, lalu menyusun kembali seluruh bangunan ilmu pengetahuan di atas fondasi pandangan hidup Islam.

Ia menulis dengan tegas:

“Knowledge is not neutral; it carries the worldview of the civilization that produces it.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism

Ilmu modern, dalam analisis al-Attas, lahir dari rahim peradaban Barat yang telah mengalami proses sekularisasi panjang sejak Renaisans dan Pencerahan (Enlightenment). Ia mewarisi asumsi-asumsi yang sangat khas: bahwa manusia adalah pusat segalanya (anthropocentrism), bahwa alam adalah objek yang bisa dieksploitasi, bahwa kebenaran hanya bisa dicapai melalui metode empiris, dan bahwa nilai-nilai agama adalah urusan privat yang tidak relevan bagi ilmu pengetahuan.

Ketika umat Islam menyerap sistem pendidikan Barat tanpa kritik, mereka tidak hanya mengambil teknik atau metode. Mereka mengimpor seluruh bangunan asumsi tersebut, termasuk pemisahan antara ilmu dan wahyu, antara pikiran dan ruh, antara fakta dan nilai.

Solusi al-Attas bukan menolak ilmu modern secara total—itu sikap yang naif dan kontraproduktif. Solusinya adalah melakukan dua langkah besar secara bersamaan:

Pertama, mengidentifikasi dan menyingkirkan unsur-unsur sekuler yang menyesatkan dari ilmu modern. Kedua, mengintegrasikan kembali ilmu tersebut ke dalam kerangka pandangan hidup Islam (Islamic worldview) yang berpusat pada tauhid (التوحيد), wahyu, dan hierarki realitas yang diakui Islam.

Proyek ini bukan proyek individu. Ia adalah proyek peradaban. Dan al-Attas mendirikan ISTAC pada 1987 sebagai laboratorium hidup untuk proyek tersebut.

ISTAC: Ketika Visi Menjadi Bangunan Nyata

International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC) di Kuala Lumpur bukan kampus biasa. Al-Attas merancang setiap detail bangunannya dengan tangan sendiri. Arsitekturnya memadukan tradisi Andalusia, Persia, dan Melayu. Perpustakaannya menyimpan ribuan manuskrip klasik Islam yang langka. Kurikulumnya berbasis tradisi intelektual Islam yang paling dalam, mulai dari filsafat dan teologi hingga tasawuf dan metafisika.

ISTAC adalah bukti bahwa al-Attas tidak hanya bermain di ranah ide. Ia membangun. Ia menciptakan ruang fisik yang mencerminkan pandangan hidup Islam, karena ia percaya bahwa lingkungan itu mendidik—dinding yang indah, taman yang tertata, perpustakaan yang kaya, semuanya berbicara kepada jiwa manusia.

Bagi al-Attas, bahkan estetika adalah dimensi adab.

IV. Ta’dib: Ketika Pendidikan Dikembalikan kepada Tujuannya yang Sejati

Salah satu gagasan paling orisinal dan menantang dari al-Attas adalah kritiknya terhadap konsep pendidikan Islam yang selama ini lazim digunakan. Ia mempersoalkan kata yang biasa kita pakai untuk pendidikan: tarbiyah (التربية).

Bagi al-Attas, kata tarbiyah—yang berakar dari “membesarkan” atau “memelihara”—lebih cocok untuk hewan yang dipelihara atau tanaman yang dirawat. Kata ini tidak menangkap dimensi spiritual, moral, dan intelektual dari pendidikan manusia.

Ia mengusulkan istilah yang lebih tepat: ta’dib (التأديب)—yang berakar dari kata adab. Pendidikan sejati adalah proses penanaman adab. Dan landasan hadits untuk ini sangat kuat. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي

“Tuhanku telah mendidikku (addabani), maka Dia memperbagus pendidikanku (ta’dibi).”
— HR. Ibn Sam’un, dikutip dalam berbagai kitab adab dan tasawuf

Hadits ini menjadi fondasi epistemologis bagi seluruh teori pendidikan al-Attas. Allah sendiri telah mendidik Nabi-Nya dengan ta’dib. Maka pendidikan manusia yang paling mulia adalah yang mengikuti model ilahi ini: membentuk adab, bukan sekadar mengisi kepala dengan informasi.

Menurut al-Attas, insan adabi (الإنسان الأدبي)—manusia yang beradab—adalah tujuan tertinggi pendidikan Islam. Manusia yang beradab adalah manusia yang:

  • Mengenal Allah dan menempatkan-Nya di puncak hierarki realitas
  • Memahami kedudukan dirinya sebagai hamba sekaligus khalifah di bumi
  • Menggunakan ilmunya dengan hikmah dan bertanggung jawab
  • Mampu menempatkan setiap perkara pada tempatnya yang benar

Ia mengatakan dengan tegas:

“The purpose of education in Islam is not merely to produce a good citizen, but a good man (insan kamil).”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam

Kritik ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan modern yang semakin berorientasi pada pasar kerja, angka, dan produktivitas ekonomi. Al-Attas seolah berteriak dari masa lalu: pendidikan yang melupakan jiwa manusia adalah pendidikan yang telah mengkhianati tujuannya.

Ketika Psikologi Modern Membenarkan Al-Attas

Menariknya, temuan psikologi modern justru semakin memperkuat argumen al-Attas tentang pentingnya karakter dan makna dalam pendidikan, bukan sekadar kecerdasan kognitif.

Angela Duckworth dalam penelitiannya tentang grit (ketekunan berkarakter) menemukan bahwa kegigihan moral dan ketangguhan karakter merupakan prediktor keberhasilan yang lebih kuat daripada IQ semata. Carol Dweck melalui teori growth mindset menunjukkan bahwa orientasi seseorang terhadap nilai-nilai intrinsik—bukan sekadar hasil atau penghargaan eksternal—sangat menentukan kualitas belajar dan pertumbuhannya.

Lebih jauh, Martin Seligman, bapak psikologi positif, dalam karya monumentalnya Flourishing (2011) menemukan bahwa manusia yang flourish—yang benar-benar berkembang secara utuh—adalah mereka yang memiliki rasa meaning (makna), hubungan yang bermakna, dan keterlibatan mendalam dengan nilai-nilai yang melampaui diri sendiri. Ini sangat dekat dengan apa yang al-Attas sebut sebagai insan adabi—manusia yang memiliki kesadaran akan posisinya dalam tatanan realitas.

Bahkan Viktor Frankl, psikiater dan penyintas Holocaust, dalam Man’s Search for Meaning menegaskan bahwa dorongan terdalam manusia bukanlah kesenangan (pleasure) sebagaimana diklaim Freud, melainkan pencarian makna (will to meaning). Dan makna sejati, menurut al-Attas, tidak bisa ditemukan tanpa pandangan hidup yang berakar pada kesadaran akan Allah.

Psikologi modern, meski tidak selalu menyebutnya dengan istilah Islam, sedang menemukan kembali kebenaran yang sudah lama ada dalam tradisi adab Islam.

V. Ilmu dan Ulama: Apa Kata Al-Qur’an dan Sunnah?

Untuk memahami mengapa wafatnya al-Attas adalah musibah yang sesungguhnya bagi umat Islam, kita perlu memahami bagaimana Islam memandang kedudukan ulama dan ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” — QS. Fathir: 28

Ayat yang agung ini menegaskan bahwa ulama sejati adalah mereka yang keilmuannya melahirkan rasa takut (khashyah) kepada Allah—bukan kering sebagai informasi belaka, melainkan hidup sebagai kesadaran spiritual. Al-Attas adalah contoh nyata dari ini. Seluruh proyeknya—Islamisasi ilmu, konsep adab, kritik terhadap sekularisme—berpusat pada satu keinginan: mengembalikan ilmu kepada sumbernya yang sejati, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam pun telah memperingatkan tentang besarnya musibah kematian ulama:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara merampasnya dari para hamba, namun Dia mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang ulama pun, manusia menjadikan pemimpin-pemimpin yang jahil, lalu mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”
— HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah ibn Amr ibn al-Ash

Hadits ini bukan sekadar peringatan tentang masa depan yang suram. Ia adalah diagnosis tentang mekanisme terjadinya kemunduran umat. Ketika ulama pergi, bukan ilmunya saja yang hilang—melainkan seluruh ekosistem intelektual, moral, dan spiritual yang menopang peradaban.

Dan dalam konteks inilah kita harus meratapi kepergian al-Attas dengan kesadaran penuh: bukan ratapan yang pasif, melainkan ratapan yang membangunkan.

Imam al-Nawawi dalam Riyadh al-Shalihin mengutip ucapan para salaf:

مَوْتُ الْعَالِمِ ثُلْمَةٌ فِي الإِسْلاَمِ لاَ يَسُدُّهَا شَيْءٌ مَا اخْتَلَفَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ

“Kematian seorang ulama adalah sebuah celah dalam Islam yang tidak bisa ditambal oleh apapun selama siang dan malam silih berganti.”

VI. Tasawuf sebagai Tulang Punggung: Dimensi Spiritual yang Sering Dilupakan

Salah satu aspek al-Attas yang sering kurang mendapat perhatian dalam diskursus akademis tentang dirinya adalah dimensi tasawufnya yang sangat dalam. Ia bukan hanya filsuf atau akademisi—ia adalah seorang yang benar-benar menghayati tradisi tasawuf Islam sebagai jalan hidup.

Kajian doktoralnya tentang Hamzah Fansuri—sufi terbesar yang pernah dilahirkan tanah Nusantara—bukan sekadar penelitian akademis. Ia adalah penyelaman ke dalam samudra tradisi irfani (gnostik) Islam. Dan dari sana al-Attas memahami sesuatu yang para sarjana modern sering abaikan: bahwa tanpa dimensi spiritual, seluruh bangunan intelektual Islam akan berdiri di atas pasir.

Imam al-Ghazali (الإمام الغزالي) dalam mahkota karyanya Ihya’ Ulumuddin menulis dengan sangat terang:

الْعِلْمُ بِدُونِ الْعَمَلِ جُنُونٌ، وَالْعَمَلُ بِدُونِ الْعِلْمِ لاَ يَكُونُ

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan ada nilainya.”
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin

Al-Attas menginternalisasi prinsip ini sepenuhnya. Baginya, Islamisasi ilmu bukan proyek intelektual semata—ia adalah proyek spiritual. Karena ilmu sejati (ilm al-yaqin, عِلْمُ الْيَقِينِ) tidak hanya menerangi akal, tetapi menerangi hati dan mengubah perilaku.

Ibn ’Atha’illah al-Sakandari dalam Al-Hikam—kitab yang sangat dicintai dalam tradisi tasawuf—berkata:

نُورُ الْبَصِيرَةِ يُطَّلَعُ بِهِ عَلَى مَدَى بُعْدِ الْغَنِيمَةِ وَقُرْبِهَا

“Cahaya mata hati (nur al-bashirah) dengannya seseorang dapat melihat seberapa jauh atau dekatnya manfaat sejati dari sebuah perkara.”
Ibn ’Atha’illah al-Sakandari, Al-Hikam

Inilah yang al-Attas perjuangkan melalui seluruh hidupnya: membangun kembali nur al-bashirah—cahaya mata hati—dalam tradisi intelektual Islam, agar umat bisa kembali melihat dengan jelas ke mana arah yang benar.

VII. Bahasa sebagai Pembentuk Peradaban: Warisan yang Sering Diabaikan

Di antara kontribusi al-Attas yang sering kurang diapresiasi adalah pandangannya tentang bahasa. Bagi al-Attas, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah pembentuk cara berpikir, dan cara berpikir adalah pembentuk peradaban.

Ia dengan sangat teliti mengkaji makna istilah-istilah kunci dalam Islam: din (الدِّين), ilm (الْعِلْم), insan (الإِنْسَان), aql (الْعَقْل), adab (الأَدَب). Menurutnya, distorsi makna istilah-istilah ini adalah salah satu sumber terbesar kekacauan intelektual dalam dunia Islam modern.

“The corruption of knowledge occurs when key terms are misunderstood.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas

Ketika kata din diterjemahkan begitu saja sebagai “religion” dalam bahasa Inggris dengan muatan Kristen-sekuler Baratnya, maka seluruh pemahaman tentang Islam sebagai sistem hidup yang total sudah tercemari. Ketika ilm disamakan dengan knowledge dalam pengertian positivistik Barat, maka dimensi keilahian ilmu sudah terputus.

Al-Attas juga berjasa besar dalam mengangkat derajat bahasa Melayu klasik sebagai bahasa peradaban. Melalui karya-karyanya seperti Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1972), ia menunjukkan bahwa bahasa Melayu—ketika bersentuhan dengan Islam—mengalami transformasi luar biasa: ia menjadi kendaraan bagi pemikiran filosofis, teologis, dan spiritual tertinggi. Ini bukan bahasa kampung; ini adalah bahasa peradaban.

Al-Qur’an sendiri menegaskan kedudukan bahasa yang sakral:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (segala) sesuatu seluruhnya.” — QS. Al-Baqarah: 31

Kemampuan memberi nama—kemampuan bahasa—adalah anugerah pertama yang diberikan Allah kepada manusia. Dan anugerah ini bukan untuk disalahgunakan atau didistorsi. Ketika penamaan rusak, maka pemahaman rusak, dan ketika pemahaman rusak, peradaban pun runtuh.

VIII. Menggali Akar: Al-Attas sebagai Sejarawan Nusantara

Kontribusi lain yang sangat besar dari al-Attas adalah dalam bidang sejarah intelektual Islam di Nusantara. Melalui penelitiannya tentang tokoh-tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nur al-Din al-Raniri, ia membuktikan sesuatu yang penting: bahwa Islamisasi Nusantara bukan sekadar proses perdagangan atau pernikahan lintas budaya.

Islamisasi Nusantara adalah sebuah revolusi intelektual dan spiritual yang dipimpin oleh ulama dan sufi. Dan dunia Melayu, jauh sebelum kemerosotan yang diakibatkan kolonialisme, pernah menjadi bagian aktif dari jaringan peradaban Islam global yang sangat produktif.

Ini bukan sekadar kebanggaan sejarah. Ini adalah pesan kepada generasi hari ini: kita punya akar. Kita punya tradisi. Kita tidak perlu menjadi ekor peradaban Barat atau menjadi peniru tanpa daya kritis.

Ibn Khaldun (ابن خلدون) dalam Al-Muqaddimah menulis:

التَّارِيخُ فَنٌّ مِنَ الْفُنُونِ الَّتِي تَتَدَاوَلُهَا الأُمَمُ وَالأَجْيَالُ

“Sejarah adalah salah satu dari ilmu-ilmu yang diwariskan oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi.”
Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah

Bagi al-Attas, menggali sejarah intelektual Melayu-Islam bukan nostalgia. Ia adalah pemulihan identitas. Dan tanpa identitas yang kuat, tidak ada peradaban yang bisa berdiri tegak menghadapi gelombang modernitas.

IX. Kritik terhadap Sekularisme: Relevansi yang Tak Pudar

Karya paling terkenal al-Attas, Islam and Secularism (1978), tetap relevan bahkan lebih relevan hari ini dibanding saat pertama kali diterbitkan hampir setengah abad yang lalu.

Al-Attas menganalisis sekularisme bukan sebagai fenomena politik semata, melainkan sebagai pandangan hidup (worldview) yang memiliki akar filosofis dalam tradisi Barat. Sekularisme, menurutnya, melewati tiga proses besar: desacralization of nature (penghilangan dimensi sakral dari alam), desacralization of politics (pemisahan agama dari politik), dan deconsecration of values (relativitas nilai-nilai moral).

Yang berbahaya, katanya, adalah bahwa sekularisasi tidak selalu datang dalam bentuk serangan frontal terhadap agama. Ia sering menyusup melalui bahasa, konsep, dan struktur pengetahuan yang tampak netral dan ilmiah, namun diam-diam membawa muatan ideologis yang anti-Islam.

“The greatest challenge confronting Muslims today is the challenge of secularization—a challenge that comes not from without but often from within, embedded in the very language we use and the concepts we inherit.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan tentang bahaya kehilangan landasan tauhid dalam cara berpikir:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” — QS. Al-Hasyr: 19

Ayat ini sangat menakjubkan dalam konteks pemikiran al-Attas. Melupakan Allah tidak hanya berarti meninggalkan shalat atau ibadah ritual. Ia berarti kehilangan kesadaran akan hakikat diri sendiri, posisi diri dalam tatanan alam semesta, dan tujuan keberadaan manusia. Inilah yang oleh al-Attas disebut sebagai loss of adab—bukan hanya hilangnya sopan santun, melainkan hilangnya orientasi kosmologis yang mendasar.

Penelitian psikologi juga mendukung kekhawatiran al-Attas ini. Jonathan Haidt, psikolog sosial dari New York University, dalam karya besarnya The Righteous Mind (2012) menemukan bahwa manusia memiliki kebutuhan moral yang bersifat sacralizing—kebutuhan untuk mensakralkan sesuatu, menjadikannya nilai tertinggi yang tidak bisa dikompromikan. Ketika agama disingkirkan dari ruang publik oleh sekularisme, kebutuhan ini tidak hilang; ia justru berpindah kepada ideologi-ideologi lain—nasionalisme ekstrem, konsumerisme, atau bahkan selebritas. Ini adalah bentuk kesyirikan modern yang al-Attas peringatkan.

X. Worldview Islam: Fondasi yang Tidak Bisa Digantikan

Bagi al-Attas, seluruh bangunan pemikirannya bertumpu pada satu fondasi: Islam sebagai worldview (رُؤْيَةُ الإِسْلاَمِ لِلْعَالَمِ)—pandangan hidup yang menyeluruh dan koheren.

Islam bukan sekadar agama dalam pengertian Barat—sebuah sistem keyakinan privat yang dipraktikkan di dalam rumah ibadah dan dipisahkan dari kehidupan publik. Islam adalah din—sebuah cara hidup yang total, sebuah sistem nilai yang mencakup epistemologi, etika, estetika, politik, ekonomi, dan spiritualitas dalam satu kesatuan yang organik.

Worldview Islam, menurut al-Attas dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995), mencakup elemen-elemen fundamental: konsep Tuhan (tauhid), konsep wahyu (nubuwwah), hakikat manusia (insan), makna ilmu, tujuan hidup, dan hari akhir (akhirah). Semua ini saling terhubung dalam satu bangunan yang koheren dan saling menopang.

Ketika salah satu elemen ini dicabut—misalnya ketika konsep akhirat disingkirkan dan manusia hanya dilihat sebagai makhluk duniawi—maka seluruh bangunan akan oleng. Ilmu kehilangan dimensi tanggung jawabnya. Kekuasaan kehilangan dimensi akuntabilitasnya. Kehidupan kehilangan dimensi maknanya.

Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (ابن قيم الجوزية) dalam Al-Fawa’id menulis tentang hubungan antara pandangan hidup seseorang dan kualitas jiwanya:

الْقَلْبُ إِذَا كَانَ مَعَ اللهِ كَانَتِ الْمَصَالِحُ كُلُّهَا مَعَهُ وَإِذَا كَانَ مَعَ غَيْرِهِ فَارَقَتْهُ الْمَصَالِحُ

“Ketika hati bersama Allah, maka seluruh kebaikan bersamanya. Dan ketika hati bersama selain-Nya, maka seluruh kebaikan meninggalkannya.”
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawa’id

Pandangan hidup Islam yang al-Attas perjuangkan adalah pandangan yang menempatkan Allah di pusat segalanya. Dan dari pusat itu, segala sesuatu mendapatkan makna dan posisinya yang benar.

XI. Karya-Karya yang Akan Terus Berbicara

Al-Attas meninggalkan sekitar 27 hingga 30 karya besar yang menjadi rujukan di universitas-universitas di seluruh dunia. Di antara yang paling penting:

Karya Tahun Fokus Utama
Islam and Secularism 1978 Kritik sekularisme, Islamisasi ilmu
The Concept of Education in Islam 1980 Filsafat pendidikan Islam, ta’dib
Prolegomena to the Metaphysics of Islam 1995 Worldview Islam, metafisika, kosmologi
Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu 1972 Sejarah intelektual Islam Nusantara
The Mysticism of Hamzah Fansuri 1970 Tasawuf Melayu, kajian sufi Nusantara
Islam: The Covenants Fulfilled 2023 Perjanjian dan komitmen dalam Islam

Karya-karya ini bukan hanya koleksi perpustakaan. Mereka adalah peta intelektual yang menunjukkan arah. Dan hari ini, ketika penulisnya telah kembali kepada Allah, peta itu tetap ada. Siapa yang akan membacanya dan menggunakannya?

XII. Warisan yang Harus Kita Emban: Apa yang Harus Dilakukan Generasi Sekarang?

Kepergian al-Attas bukan hanya menuntut doa dan tangisan. Ia menuntut komitmen.

Jika kita sungguh-sungguh menghargai warisannya, maka ada beberapa hal konkret yang perlu dilakukan:

1. Membaca dan Memahami Karya-karyanya

Ribuan orang akan mengucapkan innalillahi dan menyebarkan berita wafatnya. Namun berapa yang akan membaca The Concept of Education in Islam? Berapa yang akan membuka Islam and Secularism? Berapa yang akan bergumul dengan Prolegomena to the Metaphysics of Islam?

Al-Attas tidak menulis untuk diberi penghormatan. Ia menulis untuk dibaca, dipahami, dan dilanjutkan.

2. Menginternalisasi Konsep Adab dalam Kehidupan Nyata

Adab bukan konsep akademis. Ia adalah sikap hidup. Ia dimulai dari diri sendiri: bagaimana kita bersikap kepada Allah, kepada ilmu, kepada guru, kepada sesama, kepada alam.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa mempelajari ilmu bukan karena Allah, atau menginginkan dengan ilmunya selain Allah, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.”
— HR. Ibn Majah, dari Ka’ab ibn Malik

Niat dalam menuntut ilmu adalah fondasi adab yang paling dasar. Dan ini adalah reformasi yang harus dimulai dari diri sendiri, bukan menunggu lembaga atau sistem.

3. Mendorong Reformasi Pendidikan yang Berbasis Nilai

Bagi para pendidik, akademisi, dan pengambil kebijakan pendidikan: warisan al-Attas adalah tantangan langsung kepada kita. Apakah sistem pendidikan yang kita kelola benar-benar membentuk manusia beradab, ataukah hanya mencetak tenaga kerja yang terdidik?

Ini bukan pertanyaan yang mudah. Namun inilah pertanyaan yang al-Attas tuntut dari kita.

4. Menjaga dan Menghidupkan Tradisi Intelektual Islam

Membaca karya-karya ulama klasik. Mendukung lembaga-lembaga kajian Islam yang serius. Menghargai ulama yang benar-benar berilmu. Tidak membiarkan tradisi intelektual Islam terpinggirkan oleh konten-konten dangkal yang viral di media sosial.

Al-Attas pernah berkata bahwa kebangkitan Islam harus dimulai dari rekonstruksi ilmu. Ini adalah proyek jangka panjang yang tidak selesai dalam satu generasi. Namun ia harus dimulai. Sekarang.

XIII. Doa, Harap, dan Penghormatan Terakhir

Syed Muhammad Naquib al-Attas menutup matanya pada 8 Maret 2026, bertepatan dengan 19 Ramadan 1447 H—malam-malam mulia yang penuh rahmat. Sebuah akhir yang indah untuk seorang yang menghabiskan seluruh hidupnya mencari dan menyebarkan cahaya.

Ia pergi dalam usia 94 tahun, setelah lebih dari enam dekade berjuang di garis terdepan perang peradaban—bukan dengan senjata, melainkan dengan pena, pikiran, dan adab.

Ia adalah keturunan ke-37 Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Semoga Allah mempertemukan keturunan dengan leluhurnya di surga-Nya yang tertinggi.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
وَأَلْحِقْهُ بِالنَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sehatkanlah dan maafkanlah dia. Muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah kuburannya, bersihkanlah ia dengan air, salju, dan embun. Dan pertemukanlah ia bersama para nabi, siddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang kembali kepada-Nya:

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ۞ ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۞ فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى ۞ وَٱدْخُلِى جَنَّتِى

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” — QS. Al-Fajr: 27-30

Semoga al-Attas adalah bagian dari jiwa-jiwa yang tenang itu. Semoga ia masuk ke dalam golongan hamba-hamba pilihan. Dan semoga Allah mengampuni segala kekhilafannya serta membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda atas setiap baris yang pernah ia tulis, setiap murid yang pernah ia didik, dan setiap peradaban yang ia pelihara dengan adabnya.

XIV. Penutup: Api yang Tidak Bisa Dipadamkan

Ketika seorang penjaga mercusuar pergi, mercusuar itu tidak ikut padam. Cahayanya tetap menyala—jika ada yang mau melanjutkan tugasnya.

Syed Muhammad Naquib al-Attas telah menyalakan api yang sangat besar: api ilmu yang beradab, api kritik yang bertanggung jawab, api peradaban yang berakar pada tauhid. Api itu tidak bisa dipadamkan oleh kematian. Ia terus menyala dalam setiap baris tulisannya, dalam setiap pikiran yang terinspirasi olehnya, dalam setiap lembaga yang lahir dari visinya.

Namun api itu perlu dijaga. Ia perlu diteruskan.

Di tengah dunia yang semakin bising, semakin cepat, semakin tergoda oleh kilap sesaat—suara al-Attas tetap terdengar sebagai pengingat yang lembut namun tegas: bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan arah, bahwa peradaban tanpa iman akan kehilangan makna, dan bahwa kebangkitan sejati selalu dimulai dari rekonstruksi pikiran, bukan sekadar perubahan kekuasaan.

Selamat jalan, Profesor Diraja Tan Sri Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Penjaga adab yang sesungguhnya. Kita berdoa semoga Allah menempatkanmu di antara para kekasih-Nya.

Dan kepada kita yang masih tinggal: mari kita emban warisan ini dengan sungguh-sungguh.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Al-Fatihah.


Referensi Utama:
— Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1978)
— Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1980)
— Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995)
— Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah)
— Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawa’id (Riyadh: Dar al-’Aqidah)
— Ibn ’Atha’illah al-Sakandari, Al-Hikam
— Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr)
— Martin Seligman, Flourishing (New York: Free Press, 2011)
— Jonathan Haidt, The Righteous Mind (New York: Pantheon Books, 2012)
— Viktor Frankl, Man’s Search for Meaning (Boston: Beacon Press, 1959)

Artikel Populer

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Zina Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Proses Panjang yang Diabaikan

Benarkah Memberi Pinjaman Lebih Mulia 18 Kali dari Sedekah?

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya