Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19: Ali Larijani dan Panglima Basij Tewas, Bom Bunker 5.000 Pon Hantam Hormuz, Pejabat Intelijen AS Mundur
Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19: Ali Larijani dan Panglima Basij Tewas, Bom Bunker 5.000 Pon Hantam Hormuz, Pejabat Intelijen AS Mundur
Reportase | Rabu, 18 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NBC News, ABC News, Reuters, NPR, Middle East Eye, Newsweek, CBS News, Wikipedia
Hari ke-19 perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran menorehkan dua momen yang akan dicatat sejarah. Pertama: Israel berhasil membunuh Ali Larijani — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, salah satu pejabat paling berpengaruh yang tersisa sejak kematian Khamenei senior — bersama putranya Morteza dan sejumlah anggota tim pengawalnya, dalam serangan udara semalam di Teheran. Bersamaan, Israel juga membunuh Gholamreza Soleimani, komandan Basij — pasukan paramiliter IRGC yang menjadi tulang punggung kontrol domestik Iran. Kedua: Director of the National Counterterrorism Center AS, Joe Kent, menjadi pejabat senior pertama pemerintahan Trump yang mengundurkan diri karena menolak perang ini — menyatakan "Iran tidak mengancam negara kita secara iminen, dan jelas kita yang memulai perang ini." Sementara itu, CENTCOM menggunakan bom bunker GBU-72 Advanced 5K Penetrator seberat 5.000 pon untuk menghantam bunker rudal balistik Iran di sepanjang pesisir Selat Hormuz.
"After much reflection, I have decided to resign from my position as Director of the National Counterterrorism Center, effective today. I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this war." — Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS, surat pengunduran diri, 17 Maret 2026
Ali Larijani Tewas: Tokoh Paling Berpengaruh Iran Pasca-Khamenei Senior
Otoritas Iran mengkonfirmasi kematian Ali Larijani — Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran — dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita semi-resmi Mehr. Larijani tewas bersama putranya Morteza, seorang wakil sekretaris keamanan, dan beberapa anggota tim pengawalnya. Dewan menyatakan ia gugur "di medan pengabdian" setelah seumur hidupnya berjuang untuk kejayaan Iran dan Revolusi Islam.
Siapa Ali Larijani? Larijani memegang gelar doktor dalam filsafat Barat dan menulis sejumlah buku, termasuk satu tentang filsuf Jerman abad ke-18 Immanuel Kant. Ia menapaki karier di puncak rezim Iran dengan cepat dan mendapat kepercayaan langsung dari Khamenei. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris dewan keamanan nasional dan negosiator nuklir tertinggi Iran. Pada Februari lalu, ia masih berada di Oman — negara yang menjadi mediator perundingan antara Teheran dan Washington — menjelang serangan pertama 28 Februari. Pada hari Senin, hanya 36 jam sebelum kematiannya, Larijani menerbitkan pesan yang menyerukan persatuan umat Islam, mempertanyakan sikap negara-negara Muslim yang tidak membela Iran, dan menegaskan Iran tidak akan menyerah dalam perang ini.
Para analis mencatat bahwa kematian Larijani kemungkinan besar akan memperkuat faksi-faksi paling keras di dalam Iran. Sebagai pragmatis terkemuka yang memiliki statur untuk bernegosiasi dengan AS, Larijani adalah salah satu jembatan terakhir yang tersisa antara kepemimpinan revolusioner Iran dan jalur diplomatik. PM Israel Netanyahu dalam konferensi pers menyatakan pembunuhan Larijani adalah bagian dari upaya untuk "menggerus" kepemimpinan Iran dan memberi rakyat Iran kesempatan untuk "mengambil nasib mereka ke tangan mereka sendiri."
Akademisi Mohamad Elmasry dari Doha Institute for Graduate Studies merespons dengan skeptis: ia menyebut strategi Israel membunuh pemimpin Iran satu per satu sebagai "permainan Whac-A-Mole" yang tidak akan mengarah pada keruntuhan rezim. "Selalu ada pemimpin berikutnya," katanya kepada Al Jazeera.
Komandan Basij Gholamreza Soleimani Tewas: Tulang Punggung Kontrol Domestik Iran
Pembunuhan Gholamreza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij, disebut para analis sebagai salah satu pukulan terbesar terhadap aparatus keamanan dalam negeri Iran sejak perang dimulai. Basij bukan sekadar satuan militer biasa — ia adalah tulang punggung sistem kontrol domestik Iran, tertanam dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi instrumen utama penindasan gerakan protes. Pasukan ini, yang beroperasi di bawah IRGC, memiliki hingga satu juta anggota aktif dan cadangan.
IRGC mengkonfirmasi kematian Soleimani dalam pernyataan di Sepah News, menyebutnya "gugur sebagai syahid." Israel menyatakan pembunuhan Soleimani merupakan "pukulan signifikan tambahan terhadap struktur komando dan kendali keamanan rezim."
Sebagai respons langsung atas kematian Larijani, IRGC melancarkan gelombang serangan rudal dan drone ke Tel Aviv dan sejumlah kota Israel lainnya — mengklaim serangan tersebut berhasil menghantam lebih dari 100 target militer dan keamanan di jantung Israel. Dua warga Israel tewas — seorang pria dan seorang wanita — akibat cedera serpihan serius di Ramat Gan, dekat Tel Aviv, menurut layanan darurat Magen David Adom.
Bom Bunker 5.000 Pon GBU-72: Menyerang Jantung Pertahanan Hormuz
CENTCOM mengumumkan bahwa pasukan AS berhasil menggunakan multiple 5,000-pound deep penetrator munitions — bom bunker GBU-72 Advanced 5K Penetrator yang dirancang untuk menghancurkan target yang terkubur jauh di bawah tanah — terhadap situs rudal Iran yang diperkuat di sepanjang pesisir Iran dekat Selat Hormuz. Situs-situs tersebut diketahui menyimpan rudal jelajah anti-kapal. Ini merupakan pertama kalinya senjata sekelas ini digunakan dalam konflik ini — sebuah eskalasi kapabilitas militer yang signifikan, menandakan AS mulai menargetkan bunker-bunker paling dalam di mana Iran menyembunyikan persenjataannya.
Joe Kent Mundur: Pejabat Senior Pertama Trump yang Tolak Perang Iran
Joe Kent, direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS dan seorang veteran Green Beret yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia Trump, menjadi pejabat senior pertama pemerintahan Trump yang mengundurkan diri karena menolak perang ini. Dalam surat pengunduran dirinya yang dipublikasikan di media sosial, Kent menulis: "Saya tidak bisa dengan hati nurani yang bersih mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak mengancam negara kita secara iminen, dan jelas kita yang memulai perang ini."
Trump bereaksi keras, menyebut Kent "sangat lemah dalam urusan keamanan" dan menegaskan "Iran adalah ancaman yang luar biasa." Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard merespons secara publik dengan membela otoritas Trump: "Presiden Trump, sebagai panglima tertinggi, bertanggung jawab menentukan apa yang merupakan ancaman iminen atau bukan."
Pengunduran diri Kent menambah serangkaian tanda retak di dalam pemerintahan Trump terkait perang ini. Sebelumnya, National Intelligence Council menyimpulkan bahwa serangan AS tidak akan menjatuhkan pemerintah Iran, dan Pentagon secara terpisah mengakui kepada anggota Kongres bahwa Iran sebenarnya tidak berencana menyerang pasukan AS kecuali diserang terlebih dahulu.
NATO dan EU Tolak Trump: "Ini Bukan Perang Kami"
Uni Eropa secara bulat menolak seruan Trump untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Kepala kebijakan luar negeri EU Kaja Kallas menyatakan tidak ada "nafsu" di antara negara-negara anggota untuk terlibat. PM Inggris Keir Starmer menegaskan: "Kami tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas." Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius berkata lebih tegas: "Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya."
Trump merespons dengan kecaman keras di Truth Social: "Amerika Serikat telah diberitahu oleh sebagian besar 'Sekutu' NATO kami bahwa mereka tidak mau terlibat dengan Operasi Militer kami. Ini, meskipun hampir setiap negara sangat setuju dengan apa yang kami lakukan, dan bahwa Iran tidak boleh, dalam bentuk apa pun, diizinkan memiliki Senjata Nuklir."
Estonia menjadi satu-satunya negara EU yang menyatakan terbuka untuk berdiskusi soal Hormuz. Korea Selatan menyatakan pengiriman kapal perang memerlukan persetujuan parlemen dan belum menerima permintaan resmi dari AS. Jepang dan Australia sebelumnya sudah menyatakan tidak berencana mengirim kapal perang.
Selat Hormuz: Shadow Fleet Iran Bergerak Bebas, Kapal Barat Terkunci
Analisis Middle East Eye mengungkap dimensi strategis Selat Hormuz yang sering terlewat: Iran telah menghabiskan satu dekade membangun armada bayangan (shadow fleet) tanker yang tidak terkait dengan keuangan dan asuransi Barat, khusus untuk menghindari sanksi AS. Kini, kapal-kapal itulah yang bebas melintas di Selat Hormuz, sementara tanker-tanker yang berafiliasi dengan Barat terkunci di luar. Sementara dunia Barat terdampak oleh blokade, Iran justru tetap mengekspor minyaknya sendiri.
Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan kepada CNBC bahwa tanker-tanker sudah mulai "menetes" melewati Hormuz — sebuah klaim yang ia jadikan bukti bahwa Iran "hampir tidak punya apa-apa yang tersisa." Namun Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan tanggapan sebaliknya di media sosial berbahasa Inggris: "Situasi Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang."
Irak mengambil langkah diplomatik tersendiri: Menteri Perminyakan Irak menyatakan Baghdad sedang berbicara dengan Iran tentang kemungkinan mengizinkan tanker-tanker minyak Irak melewati Selat Hormuz, seiring Irak berupaya mengatasi gangguan ekspor minyaknya sendiri akibat serangan terhadap kapal-kapal di perairan Irak.
Serangan ke Lebanon, Israel, dan Kawasan
Serangan Israel menewaskan 17 orang di Beirut dan Lebanon selatan: enam orang di Beirut dan 11 lainnya dalam serangan di kawasan selatan dan timur negara itu. Israel juga menyerang kawasan Zuqaq al-Blat di pusat kota Beirut — tanpa peringatan evakuasi sebelumnya.
Di Israel, seorang tentara Lebanon tewas dan empat lainnya terluka — termasuk satu kritis — dalam serangan IDF di Lebanon selatan, menurut militer Lebanon. IDF menyatakan beroperasi melawan Hizbullah, bukan terhadap Angkatan Bersenjata Lebanon.
Di Baghdad, kelompok milisi pro-Iran meluncurkan kombinasi drone dan roket ke Kedutaan Besar AS di kawasan Green Zone — enam dari tujuh proyektil berhasil dicegat, tanpa korban jiwa dilaporkan. Militer Irak mengecam serangan ini sebagai "pelanggaran serius norma internasional dan serangan terhadap kedaulatan negara Irak."
Di Abu Dhabi, puing dari sebuah rudal balistik yang dicegat menewaskan seorang warga Pakistan di kawasan Bani Yas. Satu hari sebelumnya, seorang warga Palestina tewas di pinggiran kota saat rudal menghantam kendaraannya. Total korban tewas di UEA kini mencapai tujuh orang sejak perang dimulai.
Data Komprehensif Perang per Hari Ke-19
| Pihak / Wilayah | Korban Tewas | Catatan Terbaru |
|---|---|---|
| Iran (warga sipil, resmi) | 1.444+ | 18.551+ terluka; bayi 3 hari dan saudarinya 2 tahun tewas di Arak bersama ibu dan neneknya; 11 tenaga medis tewas termasuk 4 dokter |
| Militer Iran + pejabat | 4.400+ | Ali Larijani tewas; Gholamreza Soleimani (Basij) tewas; 3 panglima tertinggi sebelumnya; 65+ kapal perang Iran ditenggelamkan |
| Lebanon | 912+ | 17 tewas dalam 24 jam terakhir; hampir 1 juta mengungsi; operasi darat Israel di selatan berlanjut |
| Israel | 15+ (warga sipil) | 2 tewas di Ramat Gan; 3.369+ terluka; 9 tewas dalam satu serangan di Beit Shemesh (1 Maret) |
| AS (prajurit) | 14 | 13 akibat serangan Iran; 1 insiden kesehatan Kuwait; Kedutaan Baghdad kembali diserang tanpa korban |
| Negara Teluk | 29+ | UEA: 7 tewas; Irak: 29 tewas; Oman: 2 tewas; tanker diserang di dekat Oman; Qatar: 16 cedera |
| Total kawasan | ~2.400+ | Pengungsi: 5 juta+ (3,2 juta Iran + ~1 juta Lebanon + sisanya kawasan); Amnesty: 170 tewas di sekolah Minab, mayoritas siswi |
| Target CENTCOM + IDF | AS: 5.000+ target di Iran; bom GBU-72 5.000 pon digunakan pertama kali di Hormuz. IDF: 7.600 serangan udara ke Iran; 1.100+ ke Lebanon | |
Amnesty International: Serangan Sekolah Minab Tanggung Jawab AS
Investigasi Amnesty International yang dipublikasikan pada hari ke-18 mengkonfirmasi bahwa AS bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan sedikitnya 170 orang, termasuk lebih dari 160 siswi, di sebuah sekolah dasar di Minab, Iran tenggara. Ini merupakan insiden paling mematikan dalam perang ini terhadap warga sipil. Amnesty menyatakan serangan tersebut merupakan "serangan yang tidak proporsional" terhadap infrastruktur sipil dan menyerukan penyelidikan internasional independen.
Trump sebelumnya menyarankan negara lain mungkin yang melakukan serangan, dan keliru mengklaim Iran memiliki rudal Tomahawk. Rekaman video yang diverifikasi CNN menunjukkan rudal Tomahawk AS menghantam kawasan yang berdekatan dengan sekolah. Kini dengan konfirmasi Amnesty, tekanan diplomatik internasional terhadap AS semakin meningkat.
Pertemuan Riyadh: Arab Saudi Kumpulkan Menlu Negara Arab-Islam
Arab Saudi menggelar pertemuan para menteri luar negeri dari kelompok negara-negara Arab dan Islam di Riyadh pada Rabu malam — sebuah langkah diplomatik kawasan yang paling terorganisir sejak perang dimulai. Pertemuan ini diadakan di tengah kekosongan kepemimpinan diplomatik global, mengingat AS menolak gencatan senjata, IRGC menolak negosiasi, dan NATO menolak terlibat militer.
Turki mengkritik pembunuhan Larijani sebagai "kegiatan ilegal di luar hukum perang yang normal." Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan penargetan negarawan Iran oleh Israel adalah tindakan yang "semakin mendestabilisasi kawasan."
Analisis: Strategi Decapitation yang Tidak Meruntuhkan Rezim
Dengan kematian Larijani dan Soleimani, daftar pejabat senior Iran yang tewas dalam perang ini kini mencakup: Ayatollah Ali Khamenei (Supreme Leader), Jenderal Abdolrahim Mousavi (Kepala Staf Angkatan Bersenjata), Aziz Nasirzadeh (Menhan), Mohammad Pakpour (Panglima IRGC), Gholamreza Soleimani (Panglima Basij), Brigadir Jenderal Abdullah Jalali Nasab, dan kini Ali Larijani (Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi).
Namun seperti diakui oleh Netanyahu sendiri, perubahan rezim "tidak akan terjadi sekaligus." Dan seperti ditunjukkan oleh sejarah — dari Irak 2003 hingga Libya 2011 — penghancuran struktur kepemimpinan sebuah negara tanpa rencana yang jelas tentang apa yang menggantikannya justru sering menghasilkan kekacauan dan perang yang lebih panjang, bukan perdamaian.
Sementara itu, Menlu Araghchi menegaskan bahwa pembunuhan para pejabat senior tidak akan melemahkan sistem politik Iran, karena "dibangun di atas institusi, bukan individu." Iran bersumpah membalas dendam. Rudal-rudal terus meluncur. Dan dunia terus menunggu — tanpa tahu di mana ujung perang ini.
"There's always another leader. I don't think this is going to suggest any kind of collapse of the Iranian regime." — Prof. Mohamad Elmasry, Doha Institute for Graduate Studies, kepada Al Jazeera, 18 Maret 2026
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NBC News, ABC News, Reuters, NPR, Middle East Eye, Newsweek, CBS News, dan Wikipedia per Rabu, 18 Maret 2026, pagi hingga siang WIB. Angka korban dan kondisi lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.