Perang Iran–Israel–AS Hari ke-9: Tehran Membara, Mojtaba Khamenei Naik Takhta

Perang Iran–Israel–AS Hari ke-9: Tehran Membara, Mojtaba Khamenei Naik Takhta

Reportase Pagi | 9 Maret 2026 | Sumber: Al Jazeera, CNN, Reuters, Haaretz, The Jerusalem Post, Middle East Eye

Perang terbuka antara Iran melawan koalisi Israel–Amerika Serikat memasuki hari kesembilan pada Senin, 9 Maret 2026. Langit Tehran kembali diselimuti asap hitam tebal menyusul serangan udara Israel terhadap fasilitas energi. Di tengah hujan rudal dan sirene yang meraung di seluruh Israel, sebuah berita politik mengubah peta kekuasaan Timur Tengah: Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran.

Peta Pertempuran Terkini

Serangan Israel ke Iran: Energi Jadi Sasaran Baru

Malam Minggu (8 Maret) menjadi babak baru dalam strategi serangan Israel. Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai akhir Februari 2026, Israel secara eksplisit menargetkan infrastruktur energi Iran. Depot penyimpanan minyak dan fasilitas pengolahan bahan bakar di Tehran serta provinsi Alborz menjadi sasaran serangan udara intensif, memicu kebakaran besar yang menelan malam. Laporan dari warga kota menyebutkan hujan hitam bercampur minyak jatuh di beberapa kawasan Tehran — gambaran yang belum pernah terjadi dalam sejarah ibu kota Iran.

Setidaknya empat warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan Minggu tersebut. Perdana Menteri Israel Netanyahu menyebut serangan ini sebagai bagian dari "fase berikutnya" yang akan penuh dengan "kejutan". Militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) mengklaim sekitar 75 persen peluncur rudal Iran telah berhasil dihancurkan, dan Netanyahu menyatakan Israel hampir meraih "full air superiority" atas ruang udara Iran.

Operasi gabungan ini dijalankan di bawah dua nama: Operation Roaring Lion (Israel) dan Operation Epic Fury (Amerika Serikat).

Serangan Balasan Iran: Gelombang ke-29

Iran membalas dengan apa yang IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) sebut sebagai gelombang ke-29 dari "Operation Honest Promise 4". Rudal balistik generasi terbaru diluncurkan menuju Tel Aviv, kawasan Gurun Negev tempat pangkalan udara Israel, serta basis-basis militer Amerika di kawasan Teluk.

Sirene air raid berbunyi serentak di seluruh Israel — dari Tel Aviv, Jerusalem, Haifa, hingga utara. Puing interceptor jatuh di beberapa wilayah permukiman. Tujuh orang dilaporkan terluka di kawasan Gush Dan akibat serangan rudal cluster. Serangan Iran juga menjangkau negara-negara Teluk: pabrik desalinasi di Bahrain rusak, bangunan residensial di Arab Saudi dihantam proyektil dan menewaskan dua orang, serta infrastruktur di Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab mengalami gangguan. Bahkan Azerbaijan melaporkan dua warga sipil terluka di Nakhchivan akibat drone Iran yang menyasar kawasan tersebut.

Korban Kumulatif (per 9 Maret 2026)

Pihak Korban Tewas Keterangan
Iran (sipil & militer) ≥ 1.332 jiwa Termasuk ratusan wanita dan anak-anak; ribuan luka-luka
Israel (sipil) 10–11 jiwa Serangan rudal dan fragmen interceptor
Tentara AS 8 jiwa Terbaru: 1 tentara meninggal akibat luka; terkonfirmasi CENTCOM
Negara Teluk (sipil) ≥ 11 jiwa Saudi, UAE, Qatar, Bahrain
Kapal perang Iran (di lepas pantai Sri Lanka) ≥ 104 jiwa Diserang AS; klaim Iran
Lebanon Ratusan jiwa Lebih dari 500.000 orang mengungsi akibat konflik Israel–Hezbollah
Gaza (Palestina) 6 jiwa (terbaru) Termasuk 2 anak perempuan; serangan Israel paralel

UNICEF secara resmi mengecam tingginya angka korban anak-anak dalam konflik ini.

Mojtaba Khamenei: Dari Bayangan ke Panggung Kekuasaan

Penunjukan Resmi di Tengah Perang

Pada 8 Maret 2026, Assembly of Experts — majelis 88 ulama Iran yang secara konstitusional berwenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi — secara resmi menunjuk Mojtaba Hosseini Khamenei (مجتبی حسینی خامنه‌ای) sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran. Keputusan ini diambil dalam kondisi darurat perang, pada hari kesembilan konflik terbuka, di bawah tekanan kuat dari IRGC. Media negara Iran mengonfirmasi penunjukan tersebut tak lama setelah konsensus majelis tercapai.

IRGC langsung menyatakan "kesiapan penuh untuk taat dan berkorban" demi menjalankan perintah Mojtaba selaku Guardian Jurist (Wali Faqih). Pendukung berkumpul di berbagai kota Iran merayakan pengangkatan ini, dengan foto dan video yang beredar luas di media sosial.

Profil Singkat Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota suci terpenting kaum Syiah Dua Belas Imam, dari pasangan Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Ia adalah putra kedua dari empat putra Ali Khamenei; kakaknya bernama Mostafa, dan dua adiknya Masoud dan Meysam. Istrinya, Zahra Haddad-Adel, dilaporkan turut tewas dalam serangan AS-Israel yang juga merenggut nyawa sang ayah pada 28 Februari 2026.

Secara akademis-religius, Mojtaba menempuh pendidikan teologi Syiah di seminari (hawza) di Qom dan Tehran, namun hanya mencapai pangkat hojjat al-Islam — setingkat di bawah ayatollah dalam hierarki ulama Syiah. Ini menjadi salah satu titik kritik utama atas legitimasi religius kepemimpinannya.

Ia pernah bertempur dalam Perang Iran–Irak (1987–1988) sebagai anggota batalion Habib ibn Mazahir, divisi IRGC yang banyak alumninya kemudian menduduki posisi tinggi di intelijen. Setelah sang ayah menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989, Mojtaba bergerak ke Tehran dan mulai memainkan peran strategis di balik layar dalam Kantor Pemimpin Tertinggi (Office of the Supreme Leader).

Kekuasaan di Balik Layar Selama Puluhan Tahun

Selama lebih dari tiga dekade, Mojtaba adalah figur "bayangan" paling berpengaruh di Iran. Kabel diplomatik AS yang dibocorkan WikiLeaks dari era 2000-an menjulukinya sebagai "power behind the robes" — kekuatan sejati di balik jubah ayahnya. Ia tak pernah memegang jabatan resmi atau dipilih secara terbuka, namun kekuasaannya nyata melalui tiga jalur: koneksi keluarga yang melekat pada institusi Pemimpin Tertinggi, kendali atas penunjukan-penunjukan kunci di IRGC dan lingkaran intelijen, serta dugaan kontrol atas aset ekonomi bernilai miliaran dolar melalui bonyad (yayasan amal-negara) dan aset luar negeri.

Rekam jejaknya dalam politik keras Iran tidak dapat diabaikan: ia diketahui mendukung Mahmoud Ahmadinejad pada periode 2005–2013, terlibat dalam penekanan demonstrasi mahasiswa 1999, dan berperan dalam penindasan Green Movement 2009.

Kontroversi: "Suksesi Dinasti" Pertama sejak 1979

Penunjukan ini langsung menuai kritik luas, bahkan dari kalangan dalam Iran, sebagai "suksesi dinasti" (hereditary succession) — sesuatu yang secara ideologis bertentangan dengan prinsip-prinsip Revolusi Islam 1979 yang menolak monarki dan nepotisme. Pangkat religius Mojtaba yang relatif rendah dibandingkan para marja' (rujukan tertinggi) juga dipersoalkan oleh kalangan ulama konservatif.

Dari luar Iran, respons bersifat antagonistis. Presiden AS Donald Trump menyebut penunjukan ini "tidak dapat diterima", memanggil Mojtaba sebagai "lightweight", dan mengancam bahwa ia "tidak akan bertahan lama" tanpa persetujuan Washington. Israel menyatakan Mojtaba sebagai target eliminasi. Sementara itu, analis Haaretz — media Israel sayap kiri yang kerap kritis terhadap pemerintah Netanyahu — menyebut ada peluang kecil "dream deal" jika Mojtaba justru memilih jalur kompromi dengan Trump, meski optimisme tersebut dibarengi skeptisisme yang dalam.

"Kami menginginkan harmoni dan kedamaian di Iran."
— Donald Trump, Presiden AS, merespons penunjukan Mojtaba Khamenei (dikutip dari Haaretz, 9 Maret 2026)

Di sisi lain, Middle East Eye menganalisis penunjukan ini sebagai "defiance" langsung terhadap tekanan AS-Israel: Mojtaba memperkuat kubu hardliner, mempertegas kelanjutan kebijakan hawkish sang ayah — anti-Barat, dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hezbollah dan Houthi, serta represi domestik.

Dimensi Regional dan Global

Lebanon: Hezbollah Kembali Aktif

Konflik tidak berhenti di perbatasan Iran. Israel dan Hezbollah Lebanon kembali saling tembak dalam intensitas tinggi, menyeret Lebanon lebih dalam ke pusaran perang. Serangan udara Israel menghantam sebuah hotel di kawasan pusat Beirut, menewaskan empat orang. Lebih dari setengah juta warga Lebanon terpaksa mengungsi. IDF juga menyerang markas IRGC Quds Force di Beirut, menewaskan seorang pejabat senior.

Guncangan Ekonomi Global

Pasar energi dunia bereaksi keras. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 20 persen, mencapai level tertinggi sejak 2022, dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz — jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Kuwait memotong produksi minyak sebagai respons atas ancaman langsung Iran. Middle East Eye memunculkan kerangka analisis "Sykes-Picot 2026" untuk menggambarkan potensi penataan ulang geopolitik Timur Tengah pasca kemungkinan regime change di Tehran.

Suara Internasional

Di New York, ratusan demonstran turun ke jalan mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran. Pope Leo mendesak semua pihak untuk segera membuka jalur dialog demi menghentikan perang di Timur Tengah. Sejumlah pemerintah Eropa mulai mempertanyakan legalitas serangan gabungan AS-Israel dalam kerangka hukum internasional, dengan Iran mengajukan permintaan penyelidikan kepada International Criminal Court (ICC).

Intelijen AS sendiri — menurut laporan yang beredar — menilai bahwa perang skala besar pun sulit menjatuhkan pemerintah Iran, mengingat oposisi domestik yang terfragmentasi dan nasionalisme yang justru menguat di bawah tekanan luar.

Perspektif Media: Narasi yang Berbeda-beda

Menarik untuk mencermati bagaimana media internasional membingkai perang ini secara berbeda sesuai dengan latar belakang dan keberpihakan redaksional masing-masing.

Al Jazeera menyajikan data korban secara terperinci dan menempatkan penderitaan sipil Iran sebagai isu sentral. CNN dan Reuters fokus pada fakta militer dan dampak ekonomi global, dengan narasi yang relatif berimbang antara kedua kubu. The Jerusalem Post yang bersifat hawkish dan pro-Netanyahu menekankan keberhasilan militer Israel, merayakan melemahnya Iran, dan membangun narasi perang sebagai operasi yang mengubah tatanan global. Sebaliknya, Haaretz — media Israel kiri-liberal — justru menyoroti korban sipil, risiko "the day after", dan kekhawatiran bahwa AS-Israel bisa meninggalkan Iran dalam kondisi chaos tanpa solusi pascakonflik. Middle East Eye, berbasis London dengan fokus mendalam pada Timur Tengah, memberikan perspektif paling komprehensif tentang dampak regional — dengan kritik implisit terhadap apa yang disebutnya sebagai "agresi" koalisi AS-Israel.

Kesimpulan: Belum Ada Tanda De-eskalasi

Pada hari kesembilan perang, tidak ada satu pun sinyal nyata menuju gencatan senjata atau de-eskalasi. Serangan rudal Iran terus berlangsung. Israel mempertegas rencana eskalasi fase berikutnya. Trump menolak batas waktu dan setiap bentuk negosiasi kecuali "unconditional surrender" dari Iran. Sementara itu, kepemimpinan baru di Tehran di bawah Mojtaba Khamenei tampaknya justru memperkuat tekad untuk melanjutkan perlawanan.

Dunia menyaksikan perang yang tidak hanya melibatkan senjata, tetapi juga legitimasi politik, suksesi kekuasaan, kepentingan energi global, dan pertanyaan mendasar tentang tatanan Timur Tengah pasca konflik ini. Belum ada yang tahu ke mana ujungnya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, Reuters, Haaretz, The Jerusalem Post, Middle East Eye — 8–9 Maret 2026. Dikompilasi dan disunting oleh redaksi Persadani.

Artikel Populer

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Zina Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Proses Panjang yang Diabaikan

Benarkah Memberi Pinjaman Lebih Mulia 18 Kali dari Sedekah?

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya