Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-22: Trump Tolak Gencatan Senjata, Sanksi Minyak Iran Dicabut Sementara, Iran Tembak Rudal ke Diego Garcia

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-22: Trump Tolak Gencatan Senjata, Sanksi Minyak Iran Dicabut Sementara, Iran Tembak Rudal ke Diego Garcia

Reportase | Sabtu, 21 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NPR, Newsweek, ABC News, Reuters, Wikipedia, ACLED, House of Commons Library

Perang memasuki hari ke-22 dengan serangkaian kontradiksi yang menggambarkan kebingungan strategis terdalam sejak konflik dimulai. Di pagi hari yang sama, Trump menyatakan di media sosial sedang mempertimbangkan "winding down" — mengakhiri operasi militer — sementara ribuan Marinir AS tambahan justru sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah. Trump menegaskan tidak mau gencatan senjata karena AS "sedang menghancurkan habis pihak lawan" — namun dalam langkah paling paradoks sejak perang dimulai, pemerintahannya diam-diam mencabut sanksi sementara atas 140 juta barel minyak Iran demi meredam lonjakan harga bensin dalam negeri. Iran membalas dengan menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke Pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia — fasilitas kunci bomber berat AS yang berjarak 3.800 kilometer dari Iran. Harga minyak menyentuh 112 dolar per barel — tertinggi sepanjang perang. Goldman Sachs memperingatkan harga tinggi bisa bertahan hingga 2027.

"You know you don't do a ceasefire when you're literally obliterating the other side. They don't have a navy, they don't have an Air Force, they don't have any equipment — they don't have any spotters, they don't have anti-aircraft, they don't have radar — and their leaders have all been killed at every level." — Presiden Donald Trump, kepada wartawan, Jumat 20 Maret 2026 (Al Jazeera / ABC News)

Trump: Winding Down — Tapi Marinir Tambahan Terus Dikirim

Dalam posting Truth Social pada Jumat 20 Maret, Trump menyatakan AS sedang mempertimbangkan "winding down" operasi militer di Timur Tengah. Namun kenyataan di lapangan berbicara sebaliknya: ribuan Marinir AS tambahan sedang dalam perjalanan menuju kawasan, memperkuat kehadiran militer AS yang sudah sangat besar di sana. Pentagon menolak menjelaskan kontradiksi ini secara publik.

Sumber senior Iran yang dikutip CNN secara langsung menolak pernyataan Trump sebagai "operasi psikologis Trump untuk mengendalikan pasar" — merujuk pada dampak setiap pernyataan Trump terhadap harga minyak global. Sumber tersebut menambahkan: "Tehran menyimpulkan bahwa ia tidak seharusnya mengajari Trump sebuah pelajaran sesaat atau respons sementara; ia harus mengajarinya pelajaran bersejarah."

Trump juga menyatakan kepada para wartawan bahwa ia tidak mau gencatan senjata karena AS sudah "menghancurkan habis" pihak lawan. Ia mengklaim Iran tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, peralatan, pengintai, pertahanan udara, radar, dan para pemimpinnya sudah semua terbunuh — sebuah gambaran yang dipertanyakan banyak analis mengingat Iran masih melancarkan serangan ke Kuwait, Diego Garcia, dan kota-kota Israel pada hari yang sama.

"And now nobody wants to be a leader over there anymore. We're having a hard time. We want to talk to them and there's nobody to talk to. We have nobody to talk to. And you know what? We like it that way." — Presiden Trump, kepada wartawan, 20 Maret 2026 (ABC7 / Al Jazeera)

AS Cabut Sanksi Minyak Iran Sementara: Paradoks Perang Paling Nyata

Dalam langkah paling paradoks sejak perang dimulai, pemerintahan Trump secara resmi mencabut sanksi sementara atas 140 juta barel minyak Iran — demi meredam harga bensin dalam negeri AS yang telah naik 23 persen sejak perang dimulai dan kini rata-rata 3,91 dolar per galon, tertinggi sejak Oktober 2022. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan Iran tidak akan bisa mengakses pendapatan dari penjualan minyak tersebut karena AS akan tetap mempertahankan tekanan maksimum pada kemampuan Iran mengakses sistem keuangan internasional.

AS juga mencabut sementara sanksi atas minyak Rusia — berlaku hingga 11 April — dalam upaya serupa untuk menambal celah pasokan yang ditinggalkan oleh terputusnya aliran melalui Selat Hormuz. Namun para analis menyatakan langkah-langkah ini tidak akan cukup: pakar keamanan nasional Beth Sanner menyatakan di CNN town hall bahwa pencabutan sanksi minyak Iran "tidak akan benar-benar menambah jumlah barel di pasar."

Harga minyak Brent pada Jumat menetap di 112,19 dolar per barel — tertinggi sepanjang perang. Goldman Sachs memperingatkan harga tinggi bisa bertahan hingga sepanjang 2027. Menurut estimasi Patrick De Haan dari GasBuddy, para pengemudi AS secara kolektif telah memompa hampir 4,5 miliar dolar lebih banyak ke dalam tangki bensin mereka sejak perang dimulai tiga pekan lalu.

IEA mengambil langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya: menyerukan kepada masyarakat luas untuk bekerja dari rumah dan menghindari perjalanan udara sebagai bagian dari langkah-langkah darurat untuk meredam krisis bahan bakar global. WTO memperingatkan perang ini bisa menyeret pertumbuhan perdagangan global turun tambahan 0,5 poin persentase dari perkiraan 1,9 persen di 2026.

Iran Tembak Rudal ke Diego Garcia: Jantung Armada Bomber AS Diserang

Jumat pagi waktu setempat, Iran menembakkan dua rudal balistik jarak menengah ke Pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia Inggris — pangkalan militer bersama AS–Inggris yang terletak sekitar 2.370 mil (3.810 km) dari pantai Iran. Kedua rudal tidak menghantam pangkalan, menurut pejabat AS. Namun serangan ini sangat signifikan karena Diego Garcia adalah landasan pacu utama untuk armada pembom berat AS — termasuk B-1 Lancer, B-2 Spirit, dan B-52 Stratofortress yang telah digunakan dalam serangan ke Iran sejak awal perang. Ini merupakan serangan pertama Iran terhadap fasilitas yang jauh seperti ini, menunjukkan kemampuan rudal jarak jauh Iran yang belum sepenuhnya terekspos dalam tiga pekan perang.

Iran juga mengklaim telah menyerang basis logistik Kedutaan Besar AS di Baghdad tiga kali pada Jumat. Serangan lain Iran ke kawasan mencakup gelombang drone ke Israel, Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain — meski sebagian besar berhasil dicegat. Iran memperingatkan bahwa mereka sedang memantau "pejabat musuh, komandan, pilot, dan tentara."

Ras Laffan: Kerusakan Butuh 3–5 Tahun, Qatar Kemungkinan Membalas

QatarEnergy merilis perkiraan resmi pertama tentang kerusakan fasilitas Ras Laffan akibat serangan Iran: perbaikan diperkirakan membutuhkan 3 hingga 5 tahun — sebuah angka yang menggambarkan skala kerusakan permanen terhadap infrastruktur energi global. Hampir seperlima kapasitas ekspor LNG Qatar dilaporkan lumpuh. Ini berarti Eropa — yang sangat bergantung pada LNG Qatar pasca-perang Ukraina — menghadapi krisis energi yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Sumber diplomatik yang dikutip The Jerusalem Post dan kanal berita Israel Channel 12 mengungkapkan bahwa Qatar kemungkinan telah menembak jatuh dua pesawat jet Su-24 Iran dan mungkin melancarkan serangan balasan ke Iran — setelah Iran mencoba menyerang Bandara Internasional Doha. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar membantah keras klaim bahwa Qatar bergabung dalam "kampanye menargetkan Iran." Kontroversi ini menambah lapisan kompleksitas diplomatik yang sudah sangat rumit di kawasan.

Trump Sebut NATO "Pengecut" dan "Harimau Kertas"

Dalam salah satu serangan retorika paling keras terhadap aliansi Atlantik dalam sejarah kepresidenannya, Trump menyebut sekutu NATO "pengecut" atas ketidakmampuan mereka membuka Selat Hormuz, dan menyebut aliansi pertahanan Barat tersebut sebagai "harimau kertas" tanpa AS. Trump menegaskan membuka Hormuz adalah "manuver militer sederhana" yang seharusnya bisa dilakukan NATO bersama AS — namun "sejauh ini mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya."

PM Inggris Starmer menegaskan misi membuka Hormuz tidak akan menjadi misi NATO. Kanselir Jerman Friedrich Merz sebelumnya menyatakan perang Iran bukan perang NATO. Presiden Macron berbicara dengan Trump dan Emir Qatar, menyerukan moratorium serangan infrastruktur sipil dan upaya diplomasi. Tidak satu pun dari respons ini memuaskan Trump.

Trump juga meminta Jepang mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Hormuz — dan dalam pertemuan dengan PM Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih, Trump menginvokasi serangan Pearl Harbor 1941 saat menjelaskan mengapa AS tidak memperingatkan sekutu sebelum menyerang Iran: "Siapa yang lebih tahu tentang kejutan dibandingkan Jepang?" Sebuah pernyataan yang oleh para analis disebut sebagai diplomatik yang sangat ceroboh dan memalukan.

Lebanon: 1.021 Tewas, Pertempuran Darat Semakin Sengit

Kementerian Kesehatan Lebanon mengkonfirmasi sedikitnya 1.021 orang tewas dan 2.641 lainnya terluka sejak Israel memperluas serangannya ke Lebanon pada 2 Maret. Di antara korban tewas, 118 adalah anak-anak. IDF terus memperluas operasi daratnya di Lebanon selatan. Hizbullah mengklaim tanggung jawab atas berbagai serangan terhadap pasukan Israel, termasuk penembakan rudal ke kendaraan militer Israel di al-Aadaissah, Meiss el-Jabal, dan Maroun al-Ras.

Warga di kota-kota Machghara dan Sahmar di Lembah Bekaa melaporkan menerima telepon mengancam dari nomor asing yang mendesak mereka segera mengungsi. Presiden Lebanon Joseph Aoun memperbaharui seruannya untuk gencatan senjata dan membuka negosiasi dengan Israel guna mengakhiri perang — namun belum ada respons konkret dari Israel.

Krisis Politik Dalam Negeri AS: FCC Ancam Lisensi Media, 43% Pemilih Berbalik

Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC) Brendan Carr mengancam akan mencabut lisensi penyiaran stasiun-stasiun berita yang disebutnya menyiarkan "berita palsu" terkait perang Iran — menyebut beberapa outlet media utama AS melakukan "hoaks dan distorsi berita." Langkah ini dikecam keras oleh organisasi kebebasan pers dan anggota Kongres dari kedua partai sebagai ancaman langsung terhadap kebebasan pers.

Survei opini publik terbaru yang dikutip Newsweek menunjukkan: 43 persen pemilih menyatakan kurang cenderung mendukung Partai Republik pada pemilu 2026 akibat perang ini. Yang paling mengejutkan: 68 persen pemilih Republik di bawah usia 45 tahun lebih memilih kandidat yang akan mengurangi dukungan untuk Israel. Ini merupakan sinyal perpecahan generasional yang serius di dalam basis pemilih Trump sendiri.

Data Komprehensif per Hari Ke-22

Dimensi Status per 21 Maret 2026
Korban Iran (warga sipil) HRANA (17 Maret): 3.114 tewas; 18.000+ terluka (Palang Merah Iran); 29 dari 31 provinsi terdampak (ACLED: hampir 2.000 insiden)
Korban Lebanon 1.021 tewas (Kemenkes Lebanon); 2.641 terluka; 118 anak-anak; hampir 1 juta mengungsi
Korban Israel 15+ warga sipil tewas; 3.369+ terluka; operasi darat IDF berlanjut di Lebanon selatan
AS (prajurit) 14 tewas (13 akibat serangan Iran, 1 insiden kesehatan); F-35 pendaratan darurat; Diego Garcia diserang — 2 rudal, tidak menghantam
Serangan Iran 500+ rudal balistik dan 2.000+ drone diluncurkan sejak 28 Februari (Fars News per 5 Maret); 40% ke Israel, 60% ke target AS di kawasan
Infrastruktur energi Ras Laffan Qatar: kerusakan 3–5 tahun perbaikan; South Pars Iran diserang; Mina Al-Ahmadi Kuwait 2x; Hormuz efektif lumpuh 22 hari
Harga energi Brent $112,19/barel (tertinggi selama perang); bensin AS: $3,91/galon (tertinggi sejak Okt 2022); Goldman Sachs: bisa bertahan hingga 2027
Diplomatik Trump cabut sanksi 140 juta barel minyak Iran; Trump sebut NATO "pengecut"; Iran sebut winding down sebagai ops-psiko; IEA serukan WFH dan hindari penerbangan
Opini publik AS 43% pemilih kurang dukung Republikan akibat perang; 68% Republikan under-45 ingin kurangi dukungan ke Israel (Newsweek/Demand Progress)
Ekonomi global WTO: perang bisa kurangi pertumbuhan perdagangan global 0,5% tambahan; $4,5 miliar lebih dikeluarkan pengemudi AS dalam tiga pekan; Nikkei -2,7%; Kospi -2,6%

Analisis: Lima Paradoks Perang yang Mengunci Jalan Keluar

Tiga pekan penuh perang telah menghasilkan lima paradoks yang secara bersamaan mengunci setiap jalan keluar yang mungkin:

Paradoks pertama — Kemenangan yang tidak bisa diklaim: AS mengklaim telah menghancurkan 90 persen kemampuan militer Iran. Namun Iran masih bisa menyerang Kuwait dua kali dalam 24 jam, mengirim rudal ke Diego Garcia 3.800 km jauhnya, dan membakar LNG Qatar. Kemenangan militer yang diklaim AS tidak menghasilkan perubahan perilaku Iran.

Paradoks kedua — Musuh yang dibiayai dalam perang: AS berperang melawan Iran sambil diam-diam mencabut sanksi minyak Iran untuk meredam harga bensin. Sebuah situasi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah perang modern AS.

Paradoks ketiga — Pemimpin yang tidak ada, namun perang terus berjalan: Trump mengakui "tidak ada yang bisa diajak bicara" di Tehran dan bahwa ia tidak tahu apakah Mojtaba Khamenei masih hidup. Namun IRGC terus bertempur — membuktikan bahwa perang ini bukan dijalankan oleh satu pemimpin yang bisa dibunuh.

Paradoks keempat — Koalisi yang tidak mau berkoalisi: Trump membutuhkan koalisi internasional untuk membuka Hormuz, namun ia baru saja menyebut seluruh NATO "pengecut" dan "harimau kertas" — alienasi yang paling tidak menguntungkan di saat yang paling membutuhkan bantuan.

Paradoks kelima — Mengakhiri tanpa lawan bicara: Trump menyebut sedang mempertimbangkan winding down, namun menolak gencatan senjata dan menyatakan tidak ada yang bisa diajak bicara di Tehran. Bagaimana mengakhiri perang tanpa lawan bicara dan tanpa gencatan senjata — tidak ada jawaban yang diberikan.

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NPR, Newsweek, ABC News, Reuters, Wikipedia (2026 Iran war & Reactions), ACLED Special Issue, dan House of Commons Library per Sabtu, 21 Maret 2026, pagi WIB. Angka korban dan kondisi lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.

Artikel Populer

Ketika Langit Berbicara dalam Dua Bahasa: Menelaah Perbedaan Penentuan Hari Raya secara Adil dan Ilmiah

Bolehkah Guru Ngaji Menerima Zakat atas Nama Sabilillah?

Trilogi Kesempatan Emas

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya