Konsisten dalam Perkara Kecil Membentuk Karakter Taat dalam Perkara Besar
Konsisten dalam Perkara Kecil Membentuk Karakter Taat dalam Perkara Besar
Oleh Abdullah Madura
Ada satu adab pagi Idul Fitri yang sangat mudah dilupakan di tengah hiruk-pikuk persiapan hari raya. Bukan tentang baju baru. Bukan tentang jalan mana yang harus ditempuh menuju lapangan. Bukan tentang siapa yang akan kita kunjungi lebih dulu setelah shalat.
Ini tentang beberapa butir kurma.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Rasulullah yang menemani beliau selama sepuluh tahun dan hafal luar-dalam kehidupan harian beliau — meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ، وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak keluar pada pagi hari Idul Fitri hingga beliau memakan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil."
(HR. Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini pendek. Hanya satu kalimat. Tapi ia menyimpan kedalaman yang luar biasa tentang bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjalani hidupnya — dengan perhatian penuh bahkan pada hal-hal yang tampak sepele di mata orang lain.
Dan justru di sinilah letak pelajarannya.
Sunnah yang Sederhana, Makna yang Berlapis
Sebuah Perbedaan yang Disengaja
Para ulama menjelaskan bahwa ada perbedaan yang disengaja antara Idul Fitri dan Idul Adha dalam hal ini. Pada pagi Idul Fitri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan sebelum berangkat shalat. Pada Idul Adha, beliau tidak makan hingga selesai shalat dan menyembelih kurban.
Perbedaan ini bukan kebetulan. Ini adalah pengajaran yang terstruktur. Idul Fitri adalah hari fitr — فِطْر — hari berbuka, hari mengakhiri puasa. Maka diawali dengan makan, sebagai pernyataan tegas bahwa puasa telah selesai dan hari ini bukan lagi hari menahan. Sedangkan Idul Adha adalah hari penyembelihan, dan makan bersama dimulai dari daging kurban yang disembelih setelah shalat — agar umat merasakan kebersamaan dalam berbagi.
Dua hari raya, dua karakter, dua pelajaran yang berbeda. Dan Rasulullah mengajarkan keduanya bukan dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan yang konsisten setiap tahun.
Penegasan yang Dimulai dari Meja Makan
Makan beberapa butir kurma sebelum shalat Id bukan hanya soal kenyang atau tidak kenyang. Ia adalah sebuah pernyataan. Sebuah simbol. Sebuah ritual kecil yang mengandung pesan besar: Ramadhan telah selesai. Hari ini kita merayakan. Hari ini kita bersyukur.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman — dan ayat ini berada tepat dalam konteks ayat-ayat Ramadhan:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan agar kamu mencukupkan bilangannya, dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan agar kamu bersyukur."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Tiga hal yang disebut Allah dalam satu ayat: mencukupkan bilangan puasa, mengagungkan Allah — inilah takbir Idul Fitri yang kita kumandangkan — dan bersyukur. Makan kurma sebelum shalat Id adalah wujud syukur yang paling awal dan paling nyata di hari itu: tubuh kita kembali menerima makanan, kita mengakui nikmat Allah, dan kita mengawali hari raya bukan dengan perut kosong tapi dengan hati yang penuh rasa terima kasih.
Madrasah Sabar dan Madrasah Syukur
Dua Sisi Ubudiyah yang Tidak Bisa Dipisahkan
Ramadhan adalah madrasah sabar — صَبْر. Sebulan penuh kita belajar menahan — menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah, menahan syahwat, menahan lisan dari yang tidak perlu. Sabar adalah ibadah yang aktif. Bukan pasif. Bukan sekadar diam. Tapi perjuangan yang terus-menerus melawan keinginan diri yang selalu ingin lebih, selalu ingin segera, selalu ingin mudah.
Idul Fitri adalah madrasah syukur — شُكْر. Hari di mana kita belajar menikmati nikmat Allah dengan cara yang Allah ridhai. Dan menikmati nikmat Allah — jika dilakukan dengan benar, dengan rasa terima kasih yang tulus, dengan kesadaran bahwa semua ini dari-Nya — juga adalah ibadah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan, dan itu tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur — maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar — maka itu pun menjadi kebaikan baginya."
(HR. Muslim, dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu)
Orang mukmin tidak pernah berada dalam posisi yang buruk: saat susah ia bersabar, saat senang ia bersyukur. Ramadhan melatih separuhnya. Idul Fitri melatih separuh yang lain. Keduanya sama-sama ibadah, jika keduanya dilakukan sesuai tuntunan.
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menjelaskan dengan indah:
كَمَالُ الْعُبُودِيَّةِ فِي اتِّبَاعِ الْأَمْرِ فِي كُلِّ حَالٍ؛ فَعِنْدَ الْأَمْرِ بِالْإِمْسَاكِ يُمْسِكُ، وَعِنْدَ الْأَمْرِ بِالْإِفْطَارِ يُفْطِرُ، وَكِلَاهُمَا عِبَادَةٌ
"Kesempurnaan ubudiyah terletak pada mengikuti perintah dalam setiap keadaan. Saat diperintah menahan diri, ia menahan. Saat diperintah berbuka, ia berbuka. Dan keduanya adalah ibadah."
Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin
Maka makan kurma pagi Idul Fitri bukan sekadar kebiasaan makan pagi. Ia adalah ketaatan. Ia adalah ekspresi ubudiyah — penghambaan — yang mengakui bahwa kita tidak menahan diri karena kita tidak suka makan, tapi kita menahan karena Allah memerintah menahan. Dan kita makan karena Allah memerintah makan. Kehendak kita tunduk sepenuhnya pada kehendak-Nya — inilah puncak kebebasan sejati seorang mukmin.
Jumlah Ganjil — Tauhid dalam Detail
Witir Bukan Sekadar Angka
Perhatikan detail kecil yang disebutkan Anas bin Malik: Rasulullah memakan kurma dalam jumlah ganjil — witran — وِتْرًا. Tiga, atau lima, atau tujuh. Ini bukan kebetulan, dan ini bukan sekadar kebiasaan pribadi beliau.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
"Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (Esa) dan menyukai yang ganjil."
(HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Allah itu Witrun — وِتْر — Maha Esa, Tunggal, tidak berbilang, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Ia menyukai witir dalam segala sesuatu. Inilah mengapa ada shalat witir, inilah mengapa thawaf tujuh putaran, inilah mengapa sa'i tujuh kali, inilah mengapa melempar jumrah dalam bilangan-bilangan tertentu.
Dan inilah mengapa Rasulullah memakan kurma dalam jumlah ganjil — bahkan dalam hal sekecil memilih berapa butir kurma yang akan dimakan di pagi hari raya, beliau menghadirkan tauhid. Beliau tidak memisahkan antara "ibadah" dan "kehidupan sehari-hari." Dalam pandangan beliau, seorang muslim yang benar adalah seorang muslim yang menghadirkan Allah dalam setiap tindakannya — termasuk dalam memilih tiga atau lima butir kurma.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari mengomentari hadits ini:
عِنَايَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَفَاصِيلِ السُّنَّةِ دَلِيلٌ عَلَى كَمَالِ الِاتِّبَاعِ وَالتَّسْلِيمِ فِي جَمِيعِ شُؤُونِ الْحَيَاةِ
"Perhatian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terhadap detail-detail sunnah adalah bukti kesempurnaan ittiba' dan penyerahan diri dalam seluruh urusan kehidupan."
Ibnu Rajab al-Hanbali, Fath al-Bari
Ittiba' — اِتِّبَاع — mengikuti jejak Nabi — bukan hanya dalam hal-hal besar seperti shalat dan puasa. Ia adalah mengikuti dalam segala hal. Cara berjalan. Cara berbicara. Cara memulai makan. Cara memilih berapa butir kurma di pagi hari raya.
Orang yang mampu konsisten dalam detail kecil seperti ini adalah orang yang jiwanya telah terlatih untuk tunduk. Dan jiwa yang terlatih tunduk dalam perkara kecil tidak akan sulit untuk tunduk dalam perkara besar ketika perkara besar itu datang mengetuk.
Perkara Kecil yang Membentuk Karakter Besar
Jangan Pernah Meremehkan yang Kecil
Inilah inti dari seluruh pelajaran hadits ini. Dan ia bukan pelajaran yang baru — ia adalah pelajaran yang terus-menerus dikuatkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabda-sabda beliau yang lain.
Beliau bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
"Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan apa pun, meskipun hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri."
(HR. Muslim, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu)
Dan dalam sabda yang lain — yang begitu dalam hingga seharusnya mengubah cara kita memandang rutinitas harian kita:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit."
(HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu 'anha)
Perhatikan bagaimana dua hadits ini saling menguatkan: jangan remehkan yang kecil, dan jadikan yang kecil itu konsisten. Bukan sesekali melakukan kebaikan besar, lalu lama tidak melakukan apa-apa. Tapi terus-menerus melakukan kebaikan kecil, hari demi hari, tanpa putus.
Inilah yang dilakukan Rasulullah dengan sunnah makan kurma sebelum shalat Id. Bukan hanya sekali ia lakukan. Setiap tahun. Setiap Idul Fitri. Konsisten. Tanpa ditinggalkan. Hingga para sahabat menghafalnya dan meriwayatkannya kepada kita empat belas abad kemudian.
Jiwa yang Terlatih Tunduk
Ada sebuah prinsip dalam psikologi yang menyebut bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil adalah fondasi dari karakter besar. Psikolog William James — yang disebut sebagai bapak psikologi modern — menulis bahwa seluruh kehidupan kita, sejauh ia memiliki bentuk yang pasti, adalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.
Islam sudah mengetahui ini jauh sebelum psikologi modern lahir. Itulah mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan prinsip-prinsip besar. Beliau mengajarkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang membentuk jiwa secara perlahan-lahan, tanpa kita sadari — hingga suatu hari kita menyadari bahwa kita telah menjadi orang yang berbeda.
Seseorang yang terbiasa memperhatikan sunnah memakan kurma dalam jumlah ganjil di pagi Idul Fitri — bukan karena ia tidak tahu berapa butir yang harus dimakan, tapi karena ia ingin mengikuti Rasulullah hingga ke detail terkecil — adalah seseorang yang sedang melatih jiwanya untuk patuh. Untuk tunduk. Untuk tidak memilah-milah mana sunnah yang mau diikuti dan mana yang tidak.
Dan jiwa yang terlatih tunduk dalam perkara kecil, insya Allah, tidak akan sulit untuk tunduk ketika datang ujian dalam perkara besar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) karena Kami, Kami pasti akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-'Ankabut: 69)
Jahadu fiina — جَاهَدُوا فِينَا — bersungguh-sungguh karena Kami. Kesungguhan itu tidak harus selalu berupa peperangan atau pengorbanan besar. Ia bisa berupa kesungguhan untuk memperhatikan sunnah kecil di pagi hari raya. Ia bisa berupa keteguhan untuk tidak melewatkan satu pun kebiasaan baik yang sudah kita bangun, meskipun tidak ada orang yang melihat, meskipun tampak sepele di mata orang lain.
Hari Raya yang Hidup — Bukan yang Suram
Perintah untuk Bergembira
Hadits tentang makan kurma ini tidak bisa dipisahkan dari hadits lain yang melarang puasa pada hari Idul Fitri. Keduanya membentuk satu gambaran yang utuh tentang bagaimana Islam menghendaki hari raya dirayakan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَا صَوْمَ فِي يَوْمَيْنِ: الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى
"Tidak boleh berpuasa pada dua hari: Idul Fitri dan Idul Adha."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam tidak membiarkan hari raya menjadi hari yang suram, hari yang diwarnai oleh kesedihan yang berlebihan atau asketisme yang tidak pada tempatnya. Hari raya adalah hari yang hidup — dengan dzikir, dengan kebersamaan, dengan kebahagiaan yang halal, dengan rasa syukur yang nyata.
Tapi — dan ini yang penting — kebahagiaan itu tetap dalam bingkai. Tetap dalam tuntunan. Tidak berubah menjadi pesta yang berlebihan. Tidak berubah menjadi konsumsi yang melampaui batas. Rasulullah hanya makan beberapa butir kurma. Bukan jamuan mewah. Bukan pesta yang membuat perut kekenyangan sebelum shalat bahkan dimulai.
Kesederhanaan itu sendiri adalah pelajaran. Bahwa kebahagiaan sejati tidak membutuhkan kemewahan. Ia hanya membutuhkan hati yang penuh rasa syukur dan beberapa butir kurma yang dimakan dengan penuh kesadaran.
Kebersamaan yang Dimulai dari Rumah
Ada dimensi sosial yang halus dalam sunnah ini juga. Makan bersama — meskipun hanya beberapa butir kurma — sebelum berangkat shalat adalah cara untuk mengumpulkan keluarga sejenak sebelum bergabung dengan umat yang lebih besar. Ia adalah momen kecil yang mengikat: ayah, ibu, anak-anak, duduk sejenak bersama, memulai hari raya dari rumah mereka sendiri, sebelum merayakannya bersama ribuan saudara seiman di lapangan.
Kebersamaan yang besar selalu dimulai dari kebersamaan yang kecil. Dan kebersamaan yang kecil pun, jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar, bernilai ibadah di sisi Allah.
Di Zaman Modern — Ketika Sunnah Kecil Mudah Terlupakan
Di zaman kita hari ini, pagi Idul Fitri sering dimulai dengan kesibukan yang hiruk-pikuk: memastikan baju sudah disetrika, mencari pasangan sandal yang hilang sejak kemarin, mengecek pesan ucapan selamat yang berdatangan di telepon genggam, bergegas agar tidak terlambat mendapat tempat shalat yang nyaman.
Dalam semua kesibukan itu, beberapa butir kurma sangat mudah terlupakan.
Tapi justru di sinilah letak ujiannya. Sunnah yang mudah dilakukan ketika kita tenang dan tidak terburu-buru adalah sunnah yang belum benar-benar meresap ke dalam karakter kita. Sunnah yang bertahan bahkan ketika kita terburu-buru, bahkan ketika tidak ada yang mengingatkan, bahkan ketika tampaknya tidak ada gunanya karena "hanya kurma" — itulah sunnah yang sudah menjadi bagian dari jiwa kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Ali Imran: 31)
Fattabi'uni — فَاتَّبِعُونِي — ikutilah aku. Bukan hanya dalam shalat lima waktu. Bukan hanya dalam puasa dan haji. Dalam segala hal. Dalam cara makan. Dalam cara tidur. Dalam cara berpakaian. Dalam cara memulai hari raya.
Cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah. Dan mengikuti Rasulullah bermula dari hal-hal yang paling kecil dan paling mudah — seperti mengambil beberapa butir kurma sebelum melangkah keluar rumah menuju lapangan shalat Id.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menulis tentang rahasia ittiba' kepada Nabi:
مَنْ أَحَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقَّ الْمَحَبَّةِ اقْتَدَى بِهِ فِي أَخْلَاقِهِ وَأَفْعَالِهِ وَحَرَكَاتِهِ وَسَكَنَاتِهِ
"Barang siapa yang mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan cinta yang sesungguhnya, ia akan meneladani beliau dalam akhlak, perbuatan, gerak, dan diamnya."
Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin
Gerak dan diam. Harakaatihi wa sakaanaatihi. Bukan hanya ibadah besarnya. Tapi seluruh gerak hidupnya — termasuk dalam hal sekecil berapa butir kurma yang dimakan di pagi hari raya.
Penutup: Idul Fitri Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
Setiap tahun Idul Fitri datang. Dan setiap tahun, ia membawa tawaran yang sama: tawaran untuk menjadi sedikit lebih baik dari tahun lalu. Sedikit lebih teliti dalam mengikuti sunnah. Sedikit lebih sadar bahwa tidak ada hal yang terlalu kecil untuk dilakukan dengan benar.
Sunnah makan beberapa butir kurma sebelum shalat Id — dalam jumlah ganjil, dengan niat mengikuti Rasulullah — adalah pelajaran yang jauh lebih dalam dari yang tampak di permukaan. Ia mengajarkan:
Bahwa puasa yang telah selesai harus ditutup dengan rasa syukur yang nyata. Bahwa sabar dan syukur adalah dua sayap ubudiyah yang harus sama-sama kuat. Bahwa tauhid bukan hanya tentang kalimat yang diucapkan, tapi tentang kesadaran yang meresap ke dalam setiap detail kehidupan. Bahwa konsistensi dalam hal kecil adalah latihan terbaik untuk ketaatan dalam hal besar. Dan bahwa cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dibuktikan bukan dengan air mata semata, tapi dengan langkah kaki yang mengikuti jejak beliau — dari yang besar hingga yang paling kecil sekalipun.
Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perayaan keberhasilan spiritual — yang dirayakan dengan ketaatan, bukan sekadar dengan kemeriahan.
Maka tahun ini, sebelum melangkah keluar rumah menuju shalat Id, ambillah beberapa butir kurma. Makanlah dalam jumlah ganjil. Dan dalam diam itu, rasakan bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang sudah dilakukan Rasulullah lebih dari empat belas abad yang lalu — dan bahwa dengan melakukannya, kita sedang menyambungkan diri kita kepada rantai panjang yang tidak pernah terputus: rantai cinta kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallahu a'lam bish-shawab