Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-12: Serangan Paling Intens, Ancaman Selat Hormuz, dan 1.800 Lebih Korban Jiwa

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-12: Serangan Paling Intens, Ancaman Selat Hormuz, dan 1.800 Lebih Korban Jiwa

Reportase | Rabu, 11 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, Reuters, NBC News, NPR, PBS NewsHour, Wikipedia

Perang terbuka Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-12 pada Rabu pagi, 11 Maret 2026. Situasi terus memburuk secara dramatis: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan bahwa Selasa, 10 Maret, adalah hari serangan paling intens sejak perang dimulai — dengan jumlah pesawat tempur dan pembom terbanyak yang pernah dikerahkan. Iran membalas dengan ancaman menutup total Selat Hormuz, menyerang kilang minyak di Haifa, dan memperingatkan Trump agar tidak memancing nasib buruknya sendiri. Total korban jiwa di seluruh kawasan kini telah melampaui 1.800 jiwa.

"Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua — atau selat kekalahan dan penderitaan bagi para penabuh genderang perang." — Ali Larijani, Penasihat Senior Supreme Leader Iran, 10 Maret 2026 (Al Jazeera)

Hari Paling Intens: 5.000 Target, Pembom Terbanyak

Di Pentagon, Hegseth menyatakan bahwa Selasa akan menjadi hari paling intens serangan AS di dalam Iran: pembom dan jet tempur terbanyak, serangan terbanyak, dengan intelijen yang makin tajam. Ia juga mengatakan bahwa 24 jam terakhir menyaksikan jumlah peluncuran rudal Iran yang paling rendah sejak perang dimulai. Jenderal Dan Caine, Ketua Joint Chiefs of Staff, menyatakan bahwa pasukan AS telah menghantam lebih dari 5.000 target, dengan sasaran yang kini diarahkan lebih dalam ke basis militer dan industri Iran.

Sementara Hegseth berbicara, otoritas di Abu Dhabi mengkonfirmasi bahwa serangan drone Iran telah memicu kebakaran di kilang minyak Ruwais Industrial Complex di Uni Emirat Arab. Ini merupakan rangkaian serangan Iran terhadap infrastruktur energi kawasan yang berlangsung tanpa henti sejak perang dimulai.

Pentagon menyatakan bahwa 140 anggota militer AS telah terluka sejak awal operasi 10 hari lalu. Sebagian besar mengalami luka ringan dan sudah kembali bertugas. Delapan prajurit AS dalam kondisi kritis.

Nama Resmi: Operation Epic Fury

Operation Epic Fury adalah nama kode AS untuk operasi militer gabungan dengan Israel melawan Iran, yang dimulai pada 28 Februari 2026. Iran menamai perang ini sebagai "Perang Ramadhan". Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara sinis menyebutnya "Operation Epic Mistake" — kesalahan besar yang direkayasa Israel dan dibayar oleh rakyat Amerika biasa.

IRGC menolak klaim AS bahwa program rudalnya telah dihancurkan, dan menyatakan mereka justru kini menembakkan proyektil dalam jumlah lebih banyak dengan hulu ledak berbobot lebih dari 1 ton.

Iran Serang Kilang Haifa, Ancam Trump Secara Langsung

Militer Iran menyatakan bahwa drone-drone penghancur menyerang kilang minyak dan gas serta tangki penyimpanan bahan bakar di kota Haifa, Israel utara — sebagai balasan atas pengeboman fasilitas minyak Iran yang menyelimuti Teheran dengan asap hitam dan hujan beracun. Angkatan bersenjata Israel menyatakan sedang berupaya mencegat ancaman tersebut.

Seorang pejabat keamanan senior Iran juga memperingatkan Trump secara personal agar berhati-hati agar tidak "tereliminasi" dirinya sendiri — sebuah ancaman eksplisit yang langsung meningkatkan ketegangan retorika antara kedua belah pihak.

IRGC menyatakan gelombang terbaru serangan mereka menargetkan personel AS di Pangkalan Udara Al-Dhafra dekat Abu Dhabi dan Pangkalan Jufair di Bahrain. IRGC juga mengklaim serangan terhadap sejumlah sasaran Israel, khususnya Pangkalan Udara Ramat David dan bandara sipil Haifa, serta peluncur rudal tersembunyi milik militer Israel di Bnei Brak, timur Tel Aviv.

Ancaman Selat Hormuz: "Tidak Setetes Minyak pun Boleh Keluar"

Selat Hormuz menjadi epicentrum krisis energi global. Sejak 28 Februari 2026, IRGC telah menyiarkan peringatan yang melarang kapal mana pun melintas di Selat Hormuz, menyebabkan lalulintas kapal tanker anjlok hampir 70 persen, dengan lebih dari 150 kapal berlabuh di luar selat untuk menghindari risiko, sebelum akhirnya lalulintas mendekati nol.

Iran menegaskan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun keluar dari Timur Tengah selama serangan AS dan Israel terus berlangsung. Trump merespons dengan mengancam akan menghantam Iran "dua puluh kali lebih keras" jika mereka menghentikan aliran minyak melalui selat tersebut.

Setelah sempat mendekati 120 dolar AS per barel, harga minyak mentah Brent anjlok ke kisaran 90 dolar setelah ancaman Trump — pasar bereaksi terhadap kemungkinan penghancuran kapasitas ekspor Iran secara total jika blokade dilanjutkan. G7 mengumumkan kesiapan melepas cadangan energi strategis untuk menstabilkan pasar.

Saudi Aramco memperingatkan "konsekuensi katastrofik" jika perang terus mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. CEO Amin Nasser menyatakan ini adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas kawasan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Prancis dan sekutunya sedang mempersiapkan misi untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pemadaman Internet Iran: 240 Jam — Rekor Global

Iran telah menghabiskan "sepertiga tahun 2026" dalam kondisi offline akibat pemadaman internet yang kini mencapai 240 jam, menurut lembaga pengawas keamanan siber NetBlocks. Pemadaman ini disebut sebagai salah satu penutupan internet nasional yang dipaksakan pemerintah paling parah dalam sejarah global. Pemadaman ini mempersulit verifikasi independen atas kondisi di lapangan dan menekan arus informasi keluar dari Iran.

Korban Jiwa dan Krisis Kemanusiaan Terkini

Lebih dari 1.800 orang telah tewas di seluruh kawasan, dan tidak ada upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk menghentikan pertempuran. Berikut rincian korban dari berbagai sumber resmi:

Pihak / Wilayah Tewas Keterangan
Iran 1.255–1.332+ Termasuk kematian Khamenei senior; 10.000+ terluka (HRANA)
Lebanon 486+ 700.000+ pengungsi; pastor Maronit Pierre al-Rahi tewas ditembak tank Israel
Israel 13+ 1.929+ terluka; dua pekerja konstruksi tewas akibat cluster munitions Iran
AS (prajurit) 8 140 terluka total; 108 sudah kembali bertugas; 8 masih kritis

Insiden Sekolah Perempuan: Bukti Baru Mengarah ke Rudal AS

Korban tewas di sekolah dasar perempuan Iran kini dikonfirmasi sedikitnya 168 anak-anak menurut media negara Iran. Trump menyarankan negara lain mungkin yang melakukan serangan tersebut, mengklaim secara keliru bahwa Iran memiliki rudal Tomahawk seperti yang diyakini digunakan dalam serangan itu. Rekaman video baru menunjukkan sebuah rudal Tomahawk Amerika menghantam kawasan yang berdekatan dengan sekolah tersebut. Hegseth menyatakan militer AS menginvestigasi setiap insiden secara menyeluruh, namun menolak mengonfirmasi atau membantah keterlibatan AS.

Lebanon: 700.000 Pengungsi, Imam Tewas Tolak Evakuasi

Hampir 700.000 orang telah meninggalkan rumah mereka di Lebanon, menurut PBB, seiring perintah evakuasi Israel yang meluas dan intensifikasi serangan udara menjadikan Lebanon front baru yang semakin luas dalam perang ini.

Seorang pastor Maronit Katolik Lebanon, Pierre al-Rahi, tewas akibat tembakan tank Israel di desa Kristen Qlayaa. Ia dilaporkan menolak perintah Israel untuk evakuasi paksa kota yang terletak beberapa kilometer dari perbatasan Israel tersebut.

Israel terus memerintahkan warga Lebanon selatan mengungsi, memperingatkan bahwa "serangan udara sedang berlangsung" di selatan Sungai Litani. Militer Israel mengklaim Hizbullah menggunakan roket dan rudal jarak menengah hingga jauh — termasuk roket Khaibar-1, Fadi-6, dan Fateh — untuk menyerang sasaran jauh di dalam Israel.

Trump: Pesan yang Saling Bertentangan

Pemerintahan Trump memberikan sinyal yang saling bertentangan tentang berapa lama perang akan berlangsung. Hegseth menegaskan bahwa "kemauan kami tidak ada habisnya" dalam menyerang Iran, seraya menekankan bahwa Trump yang memegang kendali penuh atas "throttle" perang ini.

Pada Senin malam, Trump menyatakan kepada Fox News bahwa ia "tidak senang" Mojtaba Khamenei dipilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, dan menyebut ia "tidak percaya ia bisa hidup damai". Trump juga menyatakan kemungkinan dirinya bersedia berbicara langsung dengan pemimpin Iran — sebuah sinyal ambigu yang menimbulkan spekulasi di kalangan diplomat.

Beredar laporan bahwa Mojtaba Khamenei mungkin terluka dalam perang ini, setelah media pemerintah Iran menyebutnya sebagai "janbaz" — yang berarti "terluka oleh musuh". Hegseth menolak mengomentari laporan ini.

Dimensi Diplomatik: Tiongkok–Rusia–Prancis Hubungi Iran

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengungkapkan bahwa sejumlah negara, termasuk China, Rusia, dan Prancis, telah menghubungi Iran terkait kemungkinan gencatan senjata, berdasarkan laporan televisi negara Iran.

Hegseth menegaskan bahwa Rusia tidak seharusnya terlibat dalam perang ini. Utusan khusus AS Steve Witkoff membantah laporan Washington Post bahwa Rusia sedang berbagi intelijen dengan Iran mengenai posisi pasukan AS.

Pemerintahan Trump melonggarkan pembatasan ekspor minyak Rusia sebagai upaya mengatasi lonjakan harga gas di dalam negeri akibat disrupsi pasar energi global oleh perang ini.

Perdana Menteri Irak Shia al-Sudani menegaskan kepada Menlu AS Rubio bahwa wilayah udara, daratan, dan perairan Irak tidak boleh digunakan untuk operasi militer mana pun yang menargetkan negara-negara tetangga — sebuah pernyataan yang semakin mempersempit ruang gerak logistik AS di kawasan.

Enam Pemain Sepak Bola Wanita Iran Minta Suaka di Australia

Seorang pemain keenam dan seorang staf dari tim sepak bola nasional wanita Iran meminta suaka di Australia pada Selasa, berdasarkan sumber CNN Sports — menyusul lima pemain lain yang sebelumnya telah mendapatkan visa kemanusiaan dari pemerintah Australia. Televisi Iran telah menyebut para pemain tersebut sebagai "pengkhianat". Sisa tim kini diyakini telah meninggalkan Australia dan kembali ke Iran.

Kondisi Objektif Menjelang Hari Ke-12

Saat fajar menyingsing pada 11 Maret 2026, gambaran medan perang adalah sebagai berikut:

  • AS telah menyerang lebih dari 5.000 target di Iran selama 11 hari. Operation Epic Fury terus berlanjut dengan intensitas meningkat.
  • Iran terus meluncurkan rudal dan drone ke Israel, kawasan Teluk, dan basis AS — meski frekuensi peluncuran menurun, ukuran hulu ledak meningkat (di atas 1 ton).
  • Selat Hormuz efektif tersumbat; 20% pasokan minyak dunia terganggu. Harga minyak berfluktuasi antara 90–120 dolar AS per barel.
  • Iran memperingatkan: "mata dibalas mata" jika infrastruktur sipil diserang.
  • Tidak ada proses diplomatik formal yang aktif. Kontak China–Rusia–Prancis dengan Iran masih di tahap awal.
  • Internet Iran dalam kegelapan 240 jam — rekor pemadaman terparah di dunia.
"Kami tidak akan menyerah sampai musuh benar-benar dan secara menentukan dikalahkan." — Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS, Pentagon, 10 Maret 2026 (NPR / PBS NewsHour)

Catatan Redaksi: Reportase ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NBC News Live Blog, NPR, PBS NewsHour, Reuters, dan Wikipedia per Rabu, 11 Maret 2026, pagi hari WIB. Angka korban bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.

Artikel Populer

Ledakan di Kedutaan Besar AS di Oslo

Malam Yang Penuh Salam Hanya Masuk Ke Dalam Hati Yang Penuh Salam

Update Pagi: Perang Iran vs Israel-AS Memasuki Hari ke-9 — Tehran Membara, Trump Ancam Kehancuran Total

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya