Ia Wafat di Pinggir Jalan — dan Dunia Mengingatnya Selamanya
Ia Wafat di Pinggir Jalan — dan Dunia Mengingatnya Selamanya
Oleh: Nuraini Persadani
Ada orang-orang yang ketika wafat, dikelilingi kemuliaan dunia — dihadiri para pembesar, dimakamkan dengan penghormatan besar, dikenang dalam pidato-pidato resmi. Dan ada pula orang-orang yang ketika wafat, hanya ada satu orang di sisinya, di pinggir jalan, dalam sunyi malam hari raya.
Imam Al-Bukhari termasuk golongan yang kedua. Namun hari ini, berabad-abad kemudian, nama para penguasa yang mengusirnya telah hilang dari ingatan sejarah — sementara namanya tertulis di hati ratusan juta Muslim di seluruh dunia.
Inilah kisah akhir perjalanan seorang imam agung. Bukan untuk sekadar dibaca, tapi untuk direnungkan: tentang ilmu, tentang integritas, dan tentang bagaimana Allah menjaga nama hamba-hamba-Nya yang menjaga agama-Nya.
Dari Neyshabur: Pengusiran Pertama
Ketika usia Imam Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari — rahimahullah — menginjak 62 tahun, beliau sedang berada di puncak kemasyhuran. Di mana pun beliau singgah, majelis ilmunya dipadati ribuan orang. Para penuntut ilmu rela meninggalkan majelis ulama lain demi duduk di hadapannya. Shahih-nya telah beredar ke seantero dunia Islam.
Dan justru kemasyhuran itulah yang menjadi beban.
Di Neyshabur, penguasa kota mengeluarkan perintah agar Imam Al-Bukhari meninggalkan wilayahnya. Alasannya berlapis: ada kedengkian dari sebagian orang, ada tekanan politik dari Bukhara, ada kekhawatiran penguasa terhadap pengaruh sang Imam yang lebih besar dari pengaruh mereka sendiri. Beliau pun pergi — dengan kepala tegak, tanpa membawa dendam.
"Tidak ada yang lebih berat bagiku dari ghibah manusia."
— Imam Al-Bukhari, sebagaimana dinukil dalam Siyar A'lam an-Nubala', Imam Adz-Dzahabi, juz XII, hlm. 468
Beliau tidak membalas fitnah dengan fitnah. Tidak membalas pengusiran dengan amarah. Beliau pergi — dan membawa ilmunya bersama kepergiannya.
Pulang ke Bukhara: Antara Sambutan dan Pengkhianatan
Bukhara adalah tanah kelahirannya. Dan ketika berita kepulangannya tersebar, rakyat kota menyambutnya seperti menyambut seorang pahlawan yang lama pergi. Mereka berkumpul di gerbang kota. Ada yang menaburkan uang, ada yang menaburkan gula — simbol kegembiraan dalam tradisi mereka. Para penuntut ilmu, para hafizh, para ahli hadits — semuanya berdesakan ingin melihat sang imam.
Namun di balik kerumunan yang bersukacita itu, ada sepasang mata yang memandang dengan iri.
Gubernur Bukhara, yang terganggu oleh popularitas sang Imam yang melampaui popularitasnya sendiri, mulai bersekongkol. Surat dari penguasa Neyshabur pun tiba, mendesak agar Imam Al-Bukhari juga diusir dari Bukhara. Maka datanglah utusan ke rumah beliau — bukan dengan hormat, tapi dengan perintah: "Pergi sekarang juga."
Begitu mendadaknya hingga beliau tidak sempat merapikan kitab-kitabnya. Beliau keluar, mendirikan tenda di pinggiran kota, dan selama tiga hari duduk di antara tumpukan manuskrip — merapikan, menyusun, menjaga — tanpa tahu ke mana langkah selanjutnya akan dibawa.
Bayangkan pemandangan itu: seorang imam yang hafalannya mencakup ratusan ribu hadits, duduk di dalam tenda, sendirian, di luar tembok kota kelahirannya — yang baru saja menyambutnya dengan gembira. Dunia bisa berubah sangat cepat.
Khartank: Persinggahan yang Menjadi Tempat Terakhir
Imam Al-Bukhari bergerak menuju Samarkand. Namun beliau tidak masuk ke pusat kota — beliau singgah di sebuah desa bernama Khartank, menginap di rumah seorang kerabat, didampingi oleh muridnya, Ibrahim ibn Ma'qal.
Rupanya berita kehadirannya sudah sampai ke telinga penguasa Samarkand. Tidak berselang lama, utusan datang dengan perintah yang sama persis: beliau harus pergi dari Samarkand dan seluruh desa di sekitarnya — dan harus pergi malam itu juga.
Malam itu adalah malam Idul Fitri.
Malam yang seharusnya diisi dengan takbir dan kegembiraan. Malam yang bagi jutaan Muslim adalah malam kemenangan setelah sebulan berpuasa. Tapi bagi sang Imam, malam itu adalah malam pengusiran ketiga — dari kota ketiga.
Imam Al-Bukhari tidak membantah. Satu-satunya yang beliau pertimbangkan adalah keselamatan kerabat yang telah memuliakannya — beliau khawatir kehadirannya akan membawa bahaya bagi mereka. Maka beliau memutuskan: ia akan pergi malam itu juga.
Dua Puluh Langkah — dan Kemudian Diam Selamanya
Ibrahim ibn Ma'qal menyiapkan dua tunggangan: satu untuk kitab-kitab sang Imam, satu untuk sang Imam sendiri. Lalu dengan lembut ia memapah gurunya yang tampak sangat lemah dan kelelahan menuju tunggangannya.
Mereka mulai berjalan.
Baru sekitar dua puluh langkah, Imam Al-Bukhari meminta berhenti. Tenaganya habis. Ia meminta Ibrahim memberinya waktu sebentar untuk beristirahat. Sang Imam duduk di pinggir jalan.
Kemudian ia merebahkan dirinya.
Ketika Ibrahim hendak membangunkannya beberapa menit kemudian, ia mendapati bahwa gurunya telah pergi. Ruh sang Imam telah kembali kepada Allah — di pinggir jalan, di malam Idul Fitri, dalam sunyi yang tidak ada seorang pun menyaksikannya kecuali Ibrahim dan langit yang penuh bintang.
"Wafat beliau adalah pada malam Idul Fitri tahun 256 H, dan usianya telah melewati enam puluh dua tahun."
— Imam Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', juz XII, hlm. 468–469
Ibrah yang Tak Bisa Dibeli Kekuasaan
Hari ini, tidak ada seorang pun yang tahu nama gubernur Neyshabur pada tahun 256 H. Tidak ada yang tahu nama penguasa Bukhara yang menandatangani surat pengusiran itu. Tidak ada yang tahu nama gubernur Samarkand yang mengusir seorang tua yang kelelahan di malam hari raya.
Tapi seluruh dunia tahu: Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari.
Setiap hari, di pesantren-pesantren Nusantara, di universitas-universitas Islam Timur Tengah, di masjid-masjid Afrika, di halaqah-halaqah Eropa — nama beliau disebut. Shahih Al-Bukhari dibuka, sanadnya dipelajari, haditsnya diamalkan. Nama beliau hidup di lisan para ulama, di lembar kitab-kitab, di hati orang-orang beriman.
Para penguasa itu mati membawa kekuasaan mereka. Imam Al-Bukhari wafat membawa ilmunya. Dan ilmunya tidak pernah mati.
Ada pelajaran besar di sini bagi kita semua — bukan hanya para ulama, tapi siapa pun yang hidup di dunia ini:
Kemuliaan sejati tidak ditetapkan oleh jabatan yang kita pegang, tapi oleh kebenaran yang kita jaga. Tidak oleh istana yang kita tinggali, tapi oleh integritas yang kita bawa hingga nafas terakhir.
Imam Al-Bukhari bisa saja menyerahkan diri, datang ke istana, mengajar anak-anak penguasa demi keselamatan dirinya. Tapi ia memilih jalan yang lebih berat: "Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi pintu-pintu penguasa." Satu kalimat itu ia bayar dengan tiga kali pengusiran dan kematian di pinggir jalan.
Dan karena pilihan itulah, kita mengenangnya hari ini.
Doa untuk Sang Imam
Ya Allah, Engkau telah memilih hamba-Mu Muhammad ibn Ismail untuk menjaga sunnah Nabi-Mu. Engkau telah mengujinya dengan pengusiran dan kesepian, dan ia melewatinya dengan kepala tegak. Ampunilah ia, rahmatilah ia, dan angkatlah derajatnya di surga Illiyyin bersama para nabi, para syuhada, dan orang-orang shaleh.
Dan jadikanlah kami — yang hanya bisa membaca kisahnya dari jauh — termasuk orang-orang yang mencintai ilmu, menjaga integritas, dan ketika wafat nanti, pergi dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Sumber utama: Imam Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', juz XII, hlm. 468–469; Imam Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffazh, juz II. Kisah ini termasuk dalam kategori akhbar tarikhiyyah (riwayat sejarah) yang dinukil para ulama biografi klasik.