Hari Keempat Perang Iran–Israel–AS: Kepemimpinan Iran Lumpuh, Lebanon Membara, Selat Hormuz Dikunci
Hari Keempat Perang Iran–Israel–AS: Kepemimpinan Iran Lumpuh, Lebanon Membara, Selat Hormuz Dikunci
Jakarta, 4 Maret 2026 — Perang terbuka antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keempat sejak serangan pertama dilancarkan pada 28 Februari 2026. Eskalasi tidak menunjukkan tanda reda. Justru sebaliknya — front pertempuran melebar ke Lebanon, kawasan Teluk semakin terdampak, dan Iran kini menghadapi krisis kepemimpinan yang paling parah dalam sejarahnya sejak Revolusi 1979.
Operation Epic Fury dan Operation Roaring Lion: 1.700 Target Dihantam
Militer AS mengkonfirmasi lebih dari 1.700 target telah dihantam sejak operasi dimulai. Serangan berlangsung simultan — Teheran menjadi sasaran utama yang mencakup kompleks kepemimpinan, markas IRGC, fasilitas nuklir, dan stasiun penyiaran negara. Bersamaan dengan itu, Israel menggelar Operation Roaring Lion yang memfokuskan serangan ke Beirut untuk melumpuhkan Hezbollah di Lebanon.
Israel mengklaim telah menghancurkan sekitar 300 peluncur rudal Iran dan berhasil membunuh komandan Quds Force di Lebanon. Presiden Trump menyatakan sebagian besar instalasi militer Iran telah "knocked out", namun menegaskan bahwa gelombang serangan berikutnya akan menargetkan kepemimpinan Iran — termasuk compound yang tengah menentukan siapa pengganti Khamenei sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio kembali memperingatkan bahwa "harder hits" masih akan datang, dengan proyeksi durasi operasi empat hingga lima minggu atau lebih.
165 Siswi Tewas dalam Satu Serangan: Korban Iran Tembus 870 Jiwa
Angka korban di Iran melonjak drastis. Per dini hari 4 Maret, Iranian Red Crescent melaporkan antara 700 hingga 870 orang tewas — termasuk ratusan warga sipil. Satu insiden paling memilukan: sebuah serangan rudal menghantam sekolah dan menewaskan 165 siswi perempuan dalam satu kejadian.
Krisis yang lebih dalam terjadi di lapis kepemimpinan. Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama serangan, 28 Februari. Yang memperparah situasi, banyak kandidat potensial penggantinya juga tewas dalam gelombang serangan berikutnya. Iran kini menghadapi kekosongan kepemimpinan yang belum pernah terjadi sebelumnya — IRGC masih aktif beroperasi, namun tanpa pucuk komando politik yang jelas.
Di pihak Israel, sekitar 10 hingga 11 warga sipil tewas akibat rudal Iran yang berhasil menembus sistem pertahanan, termasuk di Beit Shemesh dan Petah Tikva. AS mencatat 6 tentara gugur dari serangan proxy Iran ke pangkalan-pangkalan di kawasan Teluk.
Hezbollah dan Invasi Darat Israel ke Selatan Lebanon: Puluhan Ribu Mengungsi
Hezbollah terus melancarkan roket dan drone ke wilayah utara Israel. Israel membalas tidak hanya dari udara — pasukan darat Israel dilaporkan telah bergerak masuk ke selatan Lebanon, menjadikan konflik ini kembali membuka luka perang Lebanon yang belum sepenuhnya sembuh. Puluhan warga sipil Lebanon tewas, sementara puluhan ribu lainnya mengungsi meninggalkan rumah mereka di selatan Lebanon.
Selat Hormuz Ditutup: Tanker Dialihkan, Premi Asuransi Maritim Meledak
IRGC mengumumkan penutupan efektif Selat Hormuz dan mengancam akan membakar setiap kapal yang mencoba melintas. Ancaman ini bukan sekadar retorika — tanker-tanker minyak sudah mulai dialihkan ke rute alternatif yang jauh lebih panjang dan mahal, sementara premi asuransi maritim melonjak tajam dalam hitungan jam.
Dampaknya langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI melonjak signifikan, pasar saham global anjlok didorong ketakutan inflasi dan gangguan pasokan energi jangka panjang. Sebagai respons, Trump menawarkan jaminan asuransi risiko bagi pengiriman di Teluk dan membuka opsi pengawalan tanker oleh Angkatan Laut AS.
Rudal Iran Hantam Kedutaan AS di Riyadh dan Konsulat di Dubai
Iran memperluas jangkauan serangannya melampaui Israel dan pangkalan militer AS. Kedutaan Besar AS di Riyadh dan konsulat AS di Dubai dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Pangkalan udara Sheikh Isa Air Base di Bahrain mengalami kerusakan parah. Laporan serangan ke basis AS dan sekutu juga masuk dari Irak, sementara keterlibatan Houthi dari Yaman masih dalam pemantauan.
Merespons eskalasi ini, AS menutup kedutaannya di Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon. Peringatan "DEPART NOW" dikeluarkan untuk warga Amerika Serikat yang masih berada di lebih dari 12 negara di kawasan Timur Tengah.
Iran Tolak Negosiasi, Trump Klaim Serangan Ini Preemptive
Tidak ada sinyal apapun yang mengarah ke meja perundingan. Trump secara terbuka menolak upaya Iran yang mencoba membuka jalur negosiasi, dengan menyatakan bahwa operasi ini bersifat preemptive — dilakukan mendahului ancaman Iran terhadap sekutu dan kepentingan AS. Iran di sisi lain menyatakan tidak akan bernegosiasi selama bom masih berjatuhan di tanah mereka.
Strategi Iran saat ini mengandalkan pendekatan attrition — menguras stok rudal AS dan menghabiskan kapasitas interceptor pertahanan negara-negara Teluk melalui gelombang serangan yang terus-menerus. AS dan Israel di sisi lain mempertahankan dominasi udara penuh sambil melancarkan decapitation strike terhadap lapisan demi lapisan kepemimpinan Iran.
Konflik Melebar, Belum Ada Tanda Runtuhnya Rezim
Meski kepemimpinan Iran berada dalam kekacauan pasca tewasnya Khamenei dan banyak pejabat seniornya, IRGC masih menunjukkan kapasitas operasional yang signifikan. Rezim belum runtuh — namun juga tidak memiliki komando politik yang utuh. Inilah kondisi paling berbahaya dalam sebuah konflik bersenjata: negara yang masih bisa menyerang namun tidak lagi memiliki pimpinan yang bisa memutuskan kapan harus berhenti.
Front aktif kini terbentang dari Teheran, Beirut, kawasan Teluk, hingga potensi Irak dan Suriah. Hari-hari ke depan akan menentukan apakah eskalasi ini menemukan titik jenuhnya — atau justru menarik lebih banyak aktor ke dalam pusaran yang sudah sulit dikendalikan.
Informasi berdasarkan laporan CNN, NYT, Reuters, Al Jazeera, The Guardian, dan pernyataan resmi militer AS hingga dini hari 4 Maret 2026. Situasi sangat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan jam.