Lima Hari Perang Terbuka Iran–Israel–AS: Rekap Lengkap 28 Februari – 5 Maret 2026
Lima Hari Perang Terbuka Iran–Israel–AS: Rekap Lengkap 28 Februari – 5 Maret 2026
Jakarta, 5 Maret 2026 — Petang — Lima hari sejak serangan pertama diluncurkan pada 28 Februari 2026, perang terbuka antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung penuh tanpa tanda-tanda de-eskalasi. Lebih dari 1.000 warga Iran tewas. Angkatan laut dan udara Iran dinyatakan hampir lumpuh. Namun rezim Teheran belum runtuh, rudal balistik masih terbang ke arah Israel, dan Washington baru saja mendapatkan lampu hijau legislatif penuh untuk memperdalam operasi. Berikut rekap menyeluruh dari apa yang terjadi selama lima hari terakhir.
Hari Pertama, 28 Februari: Pembunuhan Khamenei dan Dua Operasi Besar
Konflik dimulai dengan serangan yang langsung menghantam jantung kepemimpinan Iran. AS meluncurkan Operation Epic Fury, Israel menggelar Operation Roaring Lion secara simultan. Serangan awal menewaskan Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya, puluhan komandan senior Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), dan pejabat tinggi militer serta politik Iran dalam satu gelombang pertama yang terkoordinasi.
Target serangan mencakup fasilitas militer, instalasi nuklir, pusat komando, dan infrastruktur keamanan di Teheran serta sejumlah kota lain di Iran. Ini adalah serangan militer paling berani yang pernah dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran — bukan sekadar peringatan atau serangan terbatas, melainkan operasi penghancuran sistematis terhadap seluruh lapisan kemampuan tempur dan kepemimpinan Iran.
Iran merespons dengan meluncurkan Operation True Promise IV — gelombang rudal balistik dan drone yang diarahkan ke Israel, pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk Persia (Bahrain, Kuwait, Qatar, UEA), serta sejumlah target sipil dan ekonomi di kawasan. Bersamaan dengan itu, Iran secara resmi menutup Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak global yang langsung terasa di pasar keuangan dunia.
Hari Kedua dan Ketiga: Hezbollah Masuk, Hormuz Dikunci, Korban Melampaui 500
Konflik tidak butuh waktu lama untuk melebar. Hezbollah Lebanon secara resmi menyatakan keterlibatannya dan mulai menghujani wilayah utara Israel dengan roket dan drone, termasuk serangan presisi ke pangkalan udara Ramat David — salah satu aset udara terpenting Israel di utara. Israel membalas dengan serangan udara ke Beirut dan melancarkan invasi darat terbatas ke selatan Lebanon.
Angka korban di Iran melewati 500 jiwa pada hari ketiga, termasuk insiden paling memilukan: 165 siswi perempuan tewas dalam satu serangan yang menghantam sekolah mereka. Laporan korban sipil di Lebanon, UEA, Qatar, dan Kuwait mulai mengalir. Di pihak AS, enam tentara dikonfirmasi gugur — sebagian besar akibat serangan rudal Iran ke pangkalan di Kuwait.
Iran memperluas jangkauan serangannya: kedutaan AS di Riyadh dan Kuwait dihantam, konsulat AS di Dubai mengalami kerusakan parah, pangkalan udara Sheikh Isa di Bahrain menderita kerusakan signifikan. IRGC juga mengklaim menembakkan rudal ke kapal AS di Samudra Hindia — sebuah klaim yang hingga kini tidak dikonfirmasi secara independen oleh Pentagon, CENTCOM, maupun US Navy.
Hari Keempat: Putra Khamenei Ambil Alih Komando, Kapal Iran Ditenggelamkan
Krisis kepemimpinan Iran semakin dalam. Dengan Khamenei tewas dan banyak kandidat penggantinya ikut gugur dalam serangan lanjutan, putra tertua Khamenei dilaporkan mengambil alih komando sementara — sebuah suksesi darurat yang tidak memiliki preseden dalam sejarah Republik Islam Iran. Di waktu yang bersamaan, sebuah Dewan Kepemimpinan Sementara dibentuk untuk menjaga kontinuitas pemerintahan.
CENTCOM mengumumkan kapal perang Iran — fregat IRIS Dena — berhasil ditenggelamkan oleh kapal selam AS di Samudra Hindia dekat Sri Lanka. Sebanyak 87 jenazah ditemukan. Total lebih dari 20 kapal Iran diklaim telah diserang atau ditenggelamkan AS sejak operasi dimulai. Kehancuran skala ini belum pernah dialami Angkatan Laut Iran sejak Operasi Praying Mantis 1988.
Israel pada hari yang sama melancarkan gelombang serangan ke Kermanshah di barat Iran — perluasan geografis yang signifikan dari operasi sebelumnya yang terfokus di Teheran dan sekitarnya. Lebih dari 1.000 sortie IDF dilaporkan hanya dalam satu hari.
Hari Kelima, 5 Maret: 1.000+ Tewas, Senat AS Beri Lampu Hijau Penuh
Pagi hingga petang hari kelima membawa dua perkembangan yang paling menentukan arah konflik ke depan. Pertama, angka korban di Iran secara resmi melampaui 1.000 hingga 1.100 jiwa — menandai babak baru dalam skala kemanusiaan konflik ini. Ledakan kembali mengguncang Teheran dini hari tadi dalam gelombang serangan terbaru yang menyasar markas IRGC, situs rudal, dan infrastruktur militer yang belum hancur.
Kedua — dan ini yang paling berdampak secara struktural — Senat Amerika Serikat secara resmi menolak resolusi yang berupaya membatasi kewenangan Presiden Trump dalam menggunakan kekuatan militer terhadap Iran. War powers vote ini gagal, dan praktis tidak ada lagi hambatan legislatif yang tersisa. Trump kini memiliki mandat penuh untuk melanjutkan, memperdalam, dan memperluas operasi tanpa persetujuan Kongres lebih lanjut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan dengan tegas bahwa AS "baru saja mulai" dan akan menyerang lebih dalam ke Iran. Trump menyebut kemajuan operasi sebagai "tremendous", mengklaim angkatan udara dan laut Iran sudah "dihancurkan", sambil tetap memproyeksikan durasi perang empat hingga lima minggu. Iran di sisi lain masih melancarkan beberapa barrage rudal balistik ke Israel hari ini, memicu sirene udara di wilayah tengah Israel, Yerusalem, dan Tepi Barat.
Peta Front Aktif Saat Ini
Konflik ini kini berlangsung di setidaknya enam front sekaligus. Di Iran, serangan udara AS–Israel masih berlangsung setiap hari menyasar sisa-sisa infrastruktur militer dan kepemimpinan. Di Lebanon, Israel bertempur melawan Hezbollah secara simultan — di udara maupun darat. Di Teluk Persia, pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA terus mendapat tekanan dari rudal dan drone Iran. Di Laut Merah dan Samudra Hindia, kapal-kapal AS berhadapan dengan ancaman IRGC. Di Azerbaijan, insiden di bandara akibat limpahan serangan Iran sudah terjadi. Dan di Irak, Iran menyerang kelompok-kelompok Kurdi yang dituduh sebagai agen separatis yang didukung musuh.
Cyprus menjadi titik pantau tambahan setelah insiden yang menyangkut aset Inggris di RAF Akrotiri — sebuah kejadian yang berpotensi membawa NATO ke dalam kalkulasi jika terkonfirmasi sebagai serangan yang disengaja terhadap anggota aliansi.
Posisi Masing-masing Pihak Setelah Lima Hari
Trump dan Netanyahu tetap pada posisi ofensif penuh. Keduanya menyatakan perang akan berlangsung minggu-minggu, bukan tahun-tahun, dengan tujuan tunggal: menghancurkan setiap ancaman yang berasal dari Iran. Pejabat AS menyatakan bahwa kendali udara penuh atas Iran hampir tercapai.
Iran, meski kehilangan pemimpin tertingginya dan sebagian besar kapasitas militernya, belum menyerah. Dewan Kepemimpinan Sementara yang terbentuk berhasil menjaga kontinuitas komando. IRGC masih beroperasi. Stok rudal balistik diklaim masih tersisa untuk beberapa hari ke depan. Iran juga menuduh AS dan Israel dengan sengaja menargetkan warga sipil — termasuk sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur publik — sebagai bagian dari strategi kehancuran sistematis.
Tidak ada satu pun tanda de-eskalasi yang nyata dari pihak mana pun. Iran menolak berunding selama bom masih berjatuhan. AS menolak negosiasi sambil terus melancarkan serangan. Dan dengan Senat AS yang baru saja menutup pintu pembatasan, tidak ada mekanisme formal yang tersisa untuk menghentikan laju konflik ini dari dalam sistem politik Amerika.
Dampak Global yang Sudah Terasa
Selat Hormuz yang tertutup efektif oleh IRGC terus menghantui pasar energi dunia. Harga minyak melonjak tajam, pasar saham global melemah, dan premi asuransi maritim meledak. Evakuasi warga asing dari kawasan konflik berlangsung di berbagai negara, termasuk laporan sejumlah WNI yang terjebak di kawasan Teluk. Rusia mendesak gencatan senjata, Prancis dan Inggris mengirim aset militer ke kawasan dalam kapasitas defensif, dan gelombang protes anti-perang mulai menguat di kota-kota besar Amerika Serikat.
Lima hari. Lebih dari 1.000 nyawa di satu sisi. Sebuah rezim yang terluka namun belum tumbang. Dan sebuah mesin perang yang, menurut Menteri Pertahanannya sendiri, baru saja mulai.
Laporan berdasarkan data CNN, Al Jazeera, Reuters, AP, ISW, dan pernyataan resmi militer AS hingga petang 5 Maret 2026. Situasi sangat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan jam.