Trilogi Kesempatan Emas
Trilogi Kesempatan Emas
Oleh: Abdullah Madura
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ، وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Celakalah seseorang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku. Celakalah seseorang yang mendapati Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu sebelum ia diampuni. Celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan tua, tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga."
(HR. Tirmidzi no. 3545, Ahmad no. 7451 — dishahihkan oleh Al-Albani)
Tiga kali Nabi ﷺ mengucapkan raghima anf — رَغِمَ أَنْف — celaka, hina, terpuruk. Dalam riwayat lain, Jibril AS yang mengucapkan doa kecelakaan ini, dan Nabi ﷺ mengaminkannya dengan khidmat. Tiga kali mengucap, tiga kali mengamini — ini bukan sekadar kalimat biasa. Ini adalah doa dari langit yang turun untuk memperingatkan bumi.
Dan yang paling menggetarkan: ketiga kesempatan yang disebut bukan perkara yang mahal, tidak memerlukan biaya besar, tidak memerlukan perjalanan jauh. Semuanya ada di dalam jangkauan setiap orang. Justru itulah yang membuat celaka itu semakin berat: menyia-nyiakan yang mudah.
Tiga Kesempatan Emas dalam Satu Hadits
Hadits ini berbicara tentang tiga kesempatan berharga yang Allah hamparkan dalam kehidupan setiap Muslim:
| # | Kesempatan | Buah yang Diraih | Dimensi |
|---|---|---|---|
| 1 | Bershalawat ketika nama Nabi ﷺ disebut | Cinta kepada Nabi ﷺ terwujud | Hubungan dengan Rasul |
| 2 | Ramadhan yang berakhir dengan ampunan | Hubungan dengan Allah dipulihkan | Hubungan dengan Allah |
| 3 | Birul walidain — bakti kepada orang tua yang tua | Surga terbuka melalui meridhakan mereka | Hubungan dengan manusia |
Perhatikan keindahan trilogi ini: Nabi ﷺ tidak hanya berbicara tentang satu dimensi kehidupan. Ia berbicara tentang tiga sumbu sekaligus — hubungan dengan Rasul, hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan manusia. Seolah beliau sedang mengatakan: "Jangan lulus hubungan vertikal saja tetapi gagal hubungan horizontal. Jadilah manusia yang utuh — lulus keduanya sekaligus."
Inilah yang para ulama sebut sebagai al-istiqamah al-kamilah — الِاسْتِقَامَة الْكَامِلَة — istiqamah yang menyeluruh dan sempurna. Bukan spiritualitas yang egois — yang hanya memperhatikan hubungan dirinya dengan Allah sambil mengabaikan hak-hak manusia di sekitarnya.
Fokus: Ramadhan yang Berlalu Tanpa Ampunan
Di antara tiga kesempatan emas itu, bagian tentang Ramadhan adalah yang paling menggetarkan — terutama karena kita sedang berada di dalamnya, di hari-hari terakhirnya.
"Celakalah orang yang mendapati Ramadhan, lalu berlalu sebelum ia diampuni."
Perhatikan dengan seksama: Nabi ﷺ tidak bersabda, "Celakalah orang yang tidak berpuasa." Tidak pula, "Celakalah orang yang tidak tarawih." Yang disebut adalah: yang tidak mendapat ampunan. Ini adalah perbedaan yang sangat dalam.
Maknanya: mungkin ia berpuasa, mungkin ia tarawih, mungkin ia tilawah — tetapi hatinya tidak benar-benar kembali kepada Allah. Ia menjalankan Ramadhan secara lahiriah, tetapi ruhnya tidak hadir. Fisiknya berpuasa, tetapi jiwanya tidak bertobat.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Ali 'Imran [3]: 133)
Allah menggunakan kata sari'u — سَارِعُوا — bersegeralah. Bukan "berjalanlah pelan-pelan." Bukan "santai saja." Melainkan berlari menuju ampunan. Ramadhan adalah waktu berlari itu. Jika seseorang tetap berjalan lambat — bahkan duduk diam — di bulan yang Allah sendiri membuka lebar pintu ampunan-Nya, maka itulah yang disebut kelalaian yang serius.
Makna Raghima Anf — Rasa Takut yang Membangun
Ungkapan raghima anf — رَغِمَ أَنْف — secara harfiah berarti "hidungnya mencium debu." Dalam budaya Arab, hidung yang mencium debu adalah gambaran kehinaan, kekalahan, dan keterpurukan yang paling total. Seorang yang dikalahkan dalam peperangan akan menekan hidung musuhnya ke tanah — itulah asal ungkapan ini.
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, Jibril AS sendiri yang mendoakan kecelakaan ini dan Nabi ﷺ mengaminkannya:
أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَأَبْعَدَهُ اللهُ، قُلْتُ: آمِينَ
"Jibril mendatangiku dan berkata: 'Wahai Muhammad, siapa yang mendapati Ramadhan namun tidak diampuni maka Allah menjauhkannya.' Aku berkata: Aamiin."
(HR. Al-Hakim no. 7256 — dishahihkan oleh Al-Albani)
Nabi ﷺ mengamini doa Jibril. Ini bukan kalimat ancaman kosong — ini adalah pernyataan dua makhluk paling mulia di alam semesta tentang betapa besarnya kerugian menyia-nyiakan Ramadhan.
Namun rasa takut yang lahir dari hadits ini bukan untuk membuat kita putus asa. Ia adalah rasa takut yang membangun, bukan menghancurkan. Ia adalah alarm yang membangunkan — bukan bencana yang meratapkan. Selama Ramadhan belum berakhir, pintunya masih terbuka. Dan Allah adalah Dzat yang paling senang memaafkan hamba-Nya yang kembali.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'iful Ma'arif menulis:
مَنْ لَمْ يَغْفِرْ لَهُ فِي رَمَضَانَ فَمَتَى يُغْفَرُ لَهُ؟ فَبَادِرُوا بِالتَّوْبَةِ وَالْإِنَابَةِ قَبْلَ انْقِضَائِهِ
"Barangsiapa tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka kapan lagi ia akan diampuni? Maka bersegeralah bertobat dan kembali kepada Allah sebelum Ramadhan berakhir."
Syarah: Ibnu Rajab tidak berhenti pada peringatan — ia langsung melanjutkan dengan seruan tindakan: badiru — bersegera. Hadits ini bukan untuk menangisi waktu yang telah berlalu, melainkan untuk menggerakkan kaki pada momen yang masih tersisa. Selama Ramadhan belum berlalu sepenuhnya, kesempatan itu masih ada.
Ramadhan: Bulan Ampunan yang Berlimpah
Untuk memahami betapa besarnya kerugian Ramadhan tanpa ampunan, kita perlu memahami betapa besarnya karunia ampunan yang Allah hamparkan di bulan ini.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang sangat masyhur:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)
إِنَّ لِلَّهِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ
"Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan."
(HR. Ahmad no. 5402 — dihasankan oleh Al-Albani)
Setiap malam ada pembebasan dari neraka. Bukan setiap tahun. Bukan setiap bulan. Setiap malam. Pintu ampunan terbuka selebar-lebarnya, setiap saat, sepanjang bulan. Jika dalam kondisi seperti ini seseorang tetap tidak mendapat ampunan, maka itu bukan karena Allah tidak mau mengampuni — melainkan karena sang hamba tidak sungguh-sungguh meminta.
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat buruk di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat buruk di malam hari bertobat — hingga matahari terbit dari barat."
(HR. Muslim no. 2759)
Allah membentangkan tangan-Nya — ungkapan kasih sayang yang sangat personal dan sangat mengharukan. Ia menunggu. Ia tidak lelah menunggu. Ia menunggu hingga tanda kiamat terbesar terjadi. Maka di bulan Ramadhan, tangan itu terbentang lebih lebar dari biasanya — hanya menunggu hamba yang mau datang.
Mengapa Seseorang Bisa Gagal di Bulan Ramadhan
Dalam fikih tarbawi, ada empat kemungkinan mengapa seseorang melewati Ramadhan tanpa mendapat ampunan yang sesungguhnya:
Pertama — Menjalankan Ramadhan secara lahiriah saja. Ia berpuasa karena tradisi, bukan karena iman. Ia tarawih karena ikut orang lain, bukan karena rindu kepada Allah. Ibadah yang lahirnya ada, batinnya kosong.
Kedua — Tidak meninggalkan dosa. Ia berpuasa di siang hari, tetapi lisannya masih menyakiti. Ia tarawih di malam hari, tetapi perbuatan haramnya masih berlanjut. Puasa fisiknya tidak mengubah perilakunya.
Ketiga — Tidak sungguh-sungguh bertobat. Ia mengucapkan istighfar, tetapi tanpa penyesalan yang nyata. Tanpa tekad yang kuat untuk berubah. Istighfar yang diucapkan lidah sementara hati tidak hadir.
Keempat — Masih sibuk dengan dunia meskipun berada di bulan yang penuh rahmat. Ramadhan dianggap sekadar perubahan jadwal makan, bukan perubahan orientasi jiwa.
Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya' 'Ulumiddin (Juz I, Kitab Asrar al-Shaum) menjelaskan:
الصَّوْمُ لَهُ ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ، فَظَاهِرُهُ الْإِمْسَاكُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، وَبَاطِنُهُ صَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهُمُومِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالِانْقِطَاعُ بِالْكُلِّيَّةِ إِلَى اللهِ
"Puasa memiliki lahiriah dan batiniah. Lahiriahnya adalah menahan dari makan dan minum, sedangkan batiniahnya adalah puasanya hati dari kesibukan duniawi dan terputusnya seluruh jiwa menuju Allah."
Syarah: Al-Ghazali membagi puasa menjadi dua tingkatan yang harus berjalan beriringan. Puasa lahiriah tanpa puasa batiniah adalah seperti kulit tanpa isi — ada wujudnya, tetapi tidak ada ruhnya. Tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan mematahkan dominasi syahwat sehingga hati lebih mudah menerima cahaya. Jika setelah Ramadhan hati tetap keras, maka puasanya belum sampai pada ruhnya yang paling dalam.
Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam Zad Al-Ma'ad (Juz II) menulis:
الصِّيَامُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ تَلْيِينِ الْقَلْبِ وَكَسْرِ سُلْطَانِ النَّفْسِ وَتَقْرِيبِ الْعَبْدِ مِنْ رَبِّهِ
"Puasa adalah salah satu sebab terkuat untuk melembutkan hati, menghancurkan kekuasaan nafsu, dan mendekatkan hamba kepada Tuhannya."
Syarah: Ibnu Al-Qayyim menempatkan puasa sebagai terapi ruhani — bukan hanya ritual. Jika terapi itu tidak menghasilkan perubahan — hati tetap keras, nafsu tetap berkuasa, jarak dengan Allah tetap jauh — maka ada yang salah bukan pada terapinya, melainkan pada kesungguhan sang pasien dalam menjalaninya.
Ramadhan Sebagai Madrasah Hati
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah — ia adalah madrasah qalbiyyah — مَدْرَسَة قَلْبِيَّة — sekolah hati yang Allah dirikan setiap tahun. Dan seperti sekolah, ia memiliki kurikulum, memiliki ujian, dan memiliki kelulusan.
Ujian terbesarnya bukan apakah seseorang selesai membaca Al-Qur'an tiga puluh juz. Bukan apakah ia tidak pernah meninggalkan satu rakaat tarawih pun. Ujian terbesarnya adalah: apakah hatinya berubah?
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd [13]: 11)
Perubahan dimulai dari dalam. Ramadhan menyediakan semua kondisi untuk perubahan batin itu terjadi: lapar yang merendahkan hati, malam yang menghadirkan hati, Al-Qur'an yang menerangi hati, doa yang menghubungkan hati kepada Allah. Semua sudah tersedia. Yang dibutuhkan hanya satu: kesungguhan untuk benar-benar berubah.
Hakikat Taubat yang Sesungguhnya
Inti dari ampunan Ramadhan adalah taubat yang sungguh-sungguh. Dan taubat bukan sekadar ucapan astaghfirullah di mulut.
Para ulama merumuskan syuruth al-taubah — syarat-syarat taubat yang sah — dalam tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan:
Al-Nadam — النَّدَم — Penyesalan yang sungguh-sungguh atas dosa yang telah dilakukan. Bukan penyesalan karena tertangkap, bukan penyesalan karena konsekuensinya — melainkan penyesalan karena telah mendurhakai Allah.
Al-Iqla' — الْإِقْلَاع — Berhenti dari dosa itu sekarang juga. Tidak menundanya. Tidak bertahap jika memungkinkan untuk segera berhenti.
Al-'Azm — الْعَزْم — Tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya. Bukan sekadar niat yang lemah, melainkan keputusan yang bulat.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah [2]: 222)
Allah tidak hanya menerima taubat — Ia mencintai orang yang bertaubat. Ini adalah kabar yang sangat menggembirakan: taubat tidak hanya menghapus dosa, ia menghadirkan cinta Allah. Maka Ramadhan bukan hanya tentang penghapusan catatan buruk — ia adalah kesempatan untuk masuk ke dalam golongan yang dicintai Allah.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin (Bab al-Taubah) menjelaskan:
التَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَإِنْ كَانَتِ الْمَعْصِيَةُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى فَلَهَا ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ: أَنْ يُقْلِعَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَأَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا، وَأَنْ يَعْزِمَ أَلَّا يَعُودَ إِلَيْهَا
"Taubat wajib dari setiap dosa. Jika dosa itu antara hamba dan Allah Ta'ala maka syaratnya ada tiga: berhenti dari dosa, menyesal atas perbuatannya, dan bertekad untuk tidak kembali padanya."
Syarah: An-Nawawi menegaskan bahwa taubat adalah kewajiban — bukan pilihan. Dan ia menetapkan tiga syarat yang harus terpenuhi sekaligus. Taubat yang hanya memenuhi satu atau dua syarat tanpa yang ketiga adalah taubat yang tidak sempurna. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memenuhi ketiga syarat ini dengan sepenuh hati.
Pandangan Ulama Salaf: Dua Doa Enam Bulan
Para sahabat dan salafus shalih memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap Ramadhan dibandingkan kebanyakan kita. Mereka tidak menganggap Ramadhan sebagai rutinitas tahunan yang berlalu begitu saja.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'iful Ma'arif menulis tentang tradisi salaf:
كَانُوا يَدْعُونَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
"Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian berdoa selama enam bulan berikutnya agar amal mereka diterima."
Syarah: Dua doa enam bulan ini menggambarkan dua rasa yang berjalan beriringan dalam jiwa salafus shalih: syauq — kerinduan — sebelum Ramadhan, dan khauf — rasa takut tidak diterima — setelah Ramadhan. Mereka tidak merasa aman hanya karena telah berpuasa. Inilah keseimbangan antara harap dan takut yang menjadi ciri khas jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh.
Mereka takut Ramadhan berlalu tanpa perubahan. Takut amal mereka tidak diterima. Bukan karena mereka tidak beribadah — justru karena mereka beribadah dengan sangat serius, mereka mengerti betapa besar konsekuensi jika ibadah itu tidak diterima.
Dan jika orang-orang yang kualitas ibadahnya jauh di atas kita saja masih merasa takut — bagaimana dengan kita?
Refleksi Pribadi: Empat Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Hadits trilogi ini mengajak kita bercermin dengan jujur. Bukan untuk meratap atas waktu yang telah berlalu, melainkan untuk bergerak pada waktu yang masih tersisa.
Empat pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur:
Apakah Ramadhan membuatku lebih lembut? — Apakah ada orang yang merasakan perubahan dalam caraku berbicara, dalam kesabaranku, dalam kelembutanku kepada mereka?
Apakah lisanku lebih terjaga? — Apakah gosip, ghibah, dan kata-kata menyakitkan berkurang? Atau Ramadhan hanya mengubah jadwal makan tanpa mengubah cara berbicara?
Apakah shalatku lebih khusyuk? — Apakah ada perbedaan antara shalat sebelum dan sesudah Ramadhan? Atau hati masih mengembara ke mana-mana saat berdiri di hadapan Allah?
Apakah aku lebih mudah memaafkan? — Apakah ada dendam lama yang mulai mencair? Apakah ada jarak dengan seseorang yang mulai dijembatani?
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai."
(QS. At-Tahrim [66]: 8)
Taubatan nasuhan — تَوْبَةً نَّصُوحًا — taubat yang murni, tulus, dan total. Bukan taubat musiman yang berakhir bersama Ramadhan. Melainkan taubat yang mengubah arah hidup secara permanen.
Kesimpulan: Tamu Agung yang Membawa Laporan
Ramadhan adalah tamu agung. Ia datang membawa rahmat yang berlimpah, ampunan yang terbuka lebar, dan pembebasan dari neraka yang Allah janjikan setiap malamnya. Ia tidak meminta banyak — hanya kesungguhan hati.
Dan ketika ia pergi — ia pergi membawa laporan. Laporan tentang bagaimana kita memperlakukannya. Apakah kita menyambutnya dengan sepenuh jiwa atau hanya dengan setengah hati. Apakah kita mengisinya dengan perubahan nyata atau hanya dengan ritual yang hampa.
Maka yang perlu kita lakukan sekarang bukan menghitung berapa hari yang telah berlalu. Bukan meratapi waktu yang terbuang. Yang perlu dilakukan adalah memastikan setiap momen yang masih tersisa membawa kita semakin dekat kepada Allah — semakin dalam taubat, semakin kuat tekad, semakin nyata perubahan.
Imam Ibnu 'Atha'illah Al-Iskandari rahimahullah dalam Al-Hikam berkata:
لَا تَجْعَلِ التَّسْوِيفَ رَفِيقَكَ، فَإِنَّ الْأَعْمَارَ أَقْصَرُ مِنْ أَنْ تُؤَخِّرَ، وَالرَّحِيلَ أَقْرَبُ مِمَّا تَظُنُّ
"Jangan jadikan penundaan sebagai temanmu, karena usia lebih pendek dari yang kamu kira untuk menundanya, dan kepergian (kematian) lebih dekat dari yang kamu sangka."
Syarah: Ibnu 'Atha'illah menggabungkan dua realita dalam satu kalimat: pendeknya usia dan dekatnya kematian. Dua realita ini adalah motivasi terkuat untuk tidak menunda taubat, tidak menunda perubahan, tidak menunda kembali kepada Allah. Ramadhan yang tersisa adalah kesempatan yang mungkin tidak akan terulang — karena kita tidak tahu apakah kita akan bertemu Ramadhan berikutnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang Ramadhan ini berlalu dengan membawa ampunan untuk kita — bukan meninggalkan kita dalam kehinaan. Semoga setiap shalawat yang kita ucapkan atas Nabi ﷺ, setiap taubat yang kita panjatkan kepada Allah, dan setiap bakti yang kita lakukan kepada orang tua, menjadi tiket-tiket emas yang Allah terima dan catat di sisi-Nya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
"Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."
(QS. Ali 'Imran [3]: 8)
Wallahu A'lam bish Shawaab.