Bongkar Kasus Sel Khusus dan Ujian Integritas Seorang Pemimpin

Bongkar Kasus Sel Khusus dan Ujian Integritas Seorang Pemimpin

Oleh: Nuraini Persadani | Persadani — 9 Mei 2026 / 21 Dzulqa'dah 1447 H

Di banyak tempat, pergantian pemimpin sering hanya mengganti papan nama di pintu kantor.

Sistem tetap sama. Kebiasaan lama tetap berjalan. Orang-orang di dalamnya tetap bermain dengan pola yang sama. Dan yang paling berbahaya: tidak ada yang merasa perlu mengubah apa pun, karena semuanya sudah terlanjur terasa normal.

Inilah yang oleh para sosiolog disebut institutional rot — kebusukan lembaga yang mengeras menjadi budaya, lalu diwariskan dari satu generasi pemimpin ke generasi berikutnya dalam keheningan yang nyaman.

Namun di Lapas Kelas IIB Blitar, pergantian itu memunculkan sesuatu yang jarang terlihat: keberanian membuka borok dari dalam.


Kamar yang Diperjualbelikan di Balik Jeruji

Belum lama menjabat, Kepala Lapas baru, Iswandi, menerima aspirasi dari warga binaan mengenai dugaan praktik jual beli kamar khusus — dengan nilai yang disebut-sebut mencapai puluhan juta rupiah.

Bukan kamar di hotel. Bukan fasilitas mewah di luar sana.

Ini adalah kamar di dalam lembaga pemasyarakatan. Tempat yang secara hukum seharusnya tidak mengenal perbedaan kelas. Tempat yang seharusnya menjadi ruang untuk menegakkan kesetaraan di hadapan negara.

Namun ternyata, di balik jeruji pun masih ada privilese yang bisa dinegosiasikan. Bukan lewat aturan. Bukan lewat prosedur. Tetapi lewat uang.

Kebusukan sistem jarang lahir mendadak. Ia tumbuh pelan-pelan — dari pembiaran yang terus diulang, dari orang-orang yang tahu ada masalah tetapi memilih diam karena merasa itu bukan urusannya, atau karena diam terasa lebih aman daripada berbicara.

Padahal Nabi ﷺ telah mengingatkan dengan tegas:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya…"
— HR. Muslim

Sebab kerusakan yang dibiarkan terlalu lama, pada akhirnya berubah menjadi budaya. Dan budaya yang busuk jauh lebih sulit diberantas daripada seorang individu yang berbuat salah.

Sufyān ats-Tsaurī rahimahullāh menyatakan sesuatu yang sangat relevan untuk kondisi ini:

"Jika kemaksiatan dilakukan diam-diam, ia hanya membinasakan pelakunya. Tetapi jika dilakukan terang-terangan dan tidak diingkari, ia membinasakan masyarakat."

Praktik jual beli sel khusus bukan kejahatan seorang oknum. Ia adalah penanda dari sebuah ekosistem yang sudah terbiasa diam. Dan diamnya ekosistem itulah yang sesungguhnya perlu dibongkar.


Respons yang Tidak Biasa

Yang menarik dari kasus Lapas Blitar bukan hanya skandalnya.

Yang menarik adalah respons pemimpinnya.

Alih-alih menunggu situasi mereda dengan sendirinya — atau, seperti yang lebih sering terjadi, menyembunyikan masalah demi menjaga citra institusi — Iswandi justru memilih menindaklanjuti laporan itu dengan pemeriksaan internal dan melibatkan pihak kantor wilayah.

Banyak orang mampu melihat masalah. Tetapi tidak semua berani menyentuhnya. Sebab membiarkan kebusukan sering kali terasa lebih aman daripada membersihkannya. Membersihkan berarti mengambil risiko: risiko berhadapan dengan orang-orang yang sudah mapan dalam sistem, risiko dianggap membuat masalah, risiko kehilangan dukungan dari lingkaran dalam.

Namun di sinilah sesungguhnya kepemimpinan diuji.

Jabatan dalam Islam tidak pernah dipandang sebagai kemuliaan pribadi, melainkan amanah yang berat. Karena itu Allah memerintahkan dengan sangat jelas:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil."
— QS. An-Nisā' [4]: 58

Keadilan bukan diuji saat berhadapan dengan orang yang lemah dan tidak punya apa-apa. Keadilan diuji saat berhadapan dengan orang yang punya akses, punya uang, dan punya kedekatan dengan kekuasaan.

Dan itulah ujian yang sesungguhnya sedang dihadapi Iswandi — dan oleh siapapun yang baru memegang amanah kepemimpinan.


Pemimpin yang Mau Dikoreksi

Ada dimensi lain yang tidak boleh luput dari perhatian: bahwa laporan ini berasal dari warga binaan. Dari mereka yang berada di posisi paling tidak berdaya dalam sistem tersebut.

Dan pemimpinnya mendengar.

'Umar ibn al-Khaththāb radhiyallāhu 'anhu — salah seorang pemimpin paling disegani dalam sejarah Islam — pernah berkata:

"Tidak ada kebaikan pada kalian jika tidak mau menasihati kami. Dan tidak ada kebaikan pada kami jika tidak mau mendengarnya."

Pemimpin sejati tidak membangun tembok antara dirinya dan kebenaran. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk tidak disentuh oleh kritik. Justru sebaliknya: ia membuka ruang, ia mendengar suara yang paling kecil, bahkan dari mereka yang sedang dipimpinnya dari balik jeruji sekalipun.

Karena kepemimpinan yang kehilangan umpan balik adalah kepemimpinan yang sedang berjalan menuju kebutaan.


Keadilan yang Tidak Bisa Dibeli

Di negeri ini, kita sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana hukum bekerja berbeda tergantung siapa yang berdiri di hadapannya. Tahanan kelas atas mendapat perlakuan yang tidak bisa dijangkau oleh tahanan kelas bawah.

Ini bukan sekadar masalah individual. Ini masalah sistemik yang menyerang kepercayaan publik terhadap institusi.

'Umar ibn 'Abd al-'Azīz — Khalifah yang dikenal sebagai pemimpin paling adil dalam sejarah Bani Umayyah — meninggalkan satu kalimat yang sangat pendek, namun sangat dalam:

"Ikatlah kekuasaan itu dengan keadilan."

Banyak sistem runtuh bukan karena kekurangan aturan. Bukan karena tidak ada peraturan perundang-undangan. Runtuh karena keadilan mulai bisa dibeli. Dan ketika keadilan bisa dibeli, yang terjadi kemudian bukan hanya korupsi hukum — tetapi korupsi kepercayaan. Korupsi terhadap makna negara itu sendiri.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullāh menyampaikan sesuatu yang sangat relevan dan sering kali mengejutkan banyak orang:

"Allah menegakkan negara yang adil walaupun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim walaupun muslim."

Ini bukan pernyataan tentang agama para pemimpinnya. Ini pernyataan tentang prinsip. Bahwa inti dari tegaknya sebuah negara, sebuah lembaga, sebuah sistem — adalah keadilan. Bukan label keislaman yang ditempel di depannya.

Sebuah lapas yang adil — di mana tidak ada yang bisa membeli sel khusus, di mana semua warga binaan diperlakukan setara di hadapan aturan — lebih dekat kepada nilai Islam dibandingkan lapas yang penuh simbol agama tetapi di dalamnya keadilan diperjualbelikan.


Integritas Bukan Dimulai Saat Semuanya Bersih

Ada yang perlu digarisbawahi dengan tegas dari peristiwa di Lapas Blitar ini.

Iswandi bukan mewarisi institusi yang bersih. Ia masuk ke dalam sistem yang sudah punya kebiasaan lama. Dan alih-alih menyesuaikan diri — atau menunggu masa tugasnya habis tanpa guncangan — ia justru memilih menghadapi kenyataan yang tidak nyaman itu sejak awal.

Pemimpin sejati tidak selalu ditandai oleh pidato-pidato besar di depan kamera. Tidak selalu diukur dari seberapa banyak program yang diluncurkan dengan seremoni meriah.

Pemimpin sejati terlihat dari keberanian menghadapi kenyataan yang tidak nyaman — dan dari kesediaan untuk membersihkan sesuatu yang sudah lama dianggap "biasa".

Integritas bukan dimulai saat semuanya bersih. Integritas justru terlihat paling nyata ketika seseorang memilih untuk membersihkan sesuatu — meski membersihkan itu menyakitkan, meski risikonya nyata, meski tidak ada tepuk tangan yang mengiringi.

Sebab yang merusak lembaga bukan hanya orang-orang jahat. Yang merusak lembaga adalah orang-orang yang tahu ada masalah, namun memilih diam demi kenyamanan.


Penutup: Keberanian Kecil di Negeri yang Kelelahan

Di negeri yang terlalu sering lelah oleh kompromi, keberanian kecil seperti ini terasa begitu mahal.

Bukan karena ini perbuatan heroik yang luar biasa. Membuka pemeriksaan internal dan melaporkan ke kantor wilayah adalah langkah prosedural yang memang seharusnya dilakukan oleh setiap pemimpin yang memegang jabatan dengan benar.

Tetapi justru karena ia seharusnya biasa — dan kenyataannya masih terasa tidak biasa — maka peristiwa ini layak untuk direnungkan.

Sebagai pengingat bahwa perubahan sistem tidak selalu dimulai dari reformasi besar-besaran di tingkat nasional. Kadang ia dimulai dari satu pemimpin di satu lapas di satu kota kecil, yang memilih mendengar suara dari balik jeruji, lalu memilih berbuat sesuatu.

Dan itu, dalam timbangan sejarah dan timbangan akhirat, bukan hal yang kecil.

Semoga Allah memberikan kepada negeri ini pemimpin-pemimpin yang menjadikan keadilan sebagai jiwa kepemimpinannya — bukan sekadar hiasannya.

Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.


📌 Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah
Membaca Dunia dengan Kacamata Islam
www.persadani.org

Artikel Populer

Wahai Dzat yang Membolak-balikkan Hati: Antara Rapuhnya Jiwa dan Harapan Istiqamah

Ketika Tahu, Tapi Tetap Memilih

Akar Sebelum Sayap

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...