Erdogan Tuntut Dunia Hentikan "Jaringan Pembantaian" Netanyahu, Steinmeier Sebut Perang Iran Langgar Hukum Internasional
Erdogan Tuntut Dunia Hentikan "Jaringan Pembantaian" Netanyahu, Steinmeier Sebut Perang Iran Langgar Hukum Internasional
Reportase | Rabu, 25 Maret 2026 | Disusun dari: TRT World, Türkiye Today, Hurriyet Daily News, ANews, Pakistan Today, Express Tribune, Foreign Policy
Dua pemimpin besar dunia — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier — secara bersamaan mengeluarkan pernyataan paling keras mereka terhadap perang Iran pada Selasa, 24 Maret 2026. Erdogan menyebut apa yang dipimpin Netanyahu sebagai "jaringan pembantaian" (massacre network) yang harus dihentikan segera, menegaskan perang ini adalah perang Netanyahu untuk bertahan hidup secara politik namun seluruh delapan miliar manusia yang membayar harganya. Sementara Steinmeier — dalam pidatonya di peringatan 75 tahun Kementerian Luar Negeri Jerman — menyebut perang Iran sebagai "pelanggaran hukum internasional" dan menggambarkan keretakan kepercayaan terhadap AS sebagai sesuatu yang "terlalu dalam untuk diperbaiki."
"The past 25 days have shown that while this is Israel's war, the world is paying the price. It is Netanyahu's war for survival, but eight billion people are bearing the cost. The massacre network led by Netanyahu must be stopped immediately for the sake of regional peace and humanity." — Presiden Recep Tayyip Erdogan, setelah rapat kabinet di Ankara, 24 Maret 2026
Erdogan: "Jaringan Pembantaian" Harus Dihentikan — Turki di Luar "Lingkaran Api"
Berbicara setelah rapat kabinet di Ankara selama hampir tiga jam, Erdogan mengeluarkan serangkaian pernyataan yang merupakan kecaman paling tajam dan paling komprehensif yang pernah ia sampaikan sejak perang dimulai 28 Februari. Erdogan membangun argumentasinya di atas empat pilar utama:
Pertama, karakterisasi perang. Erdogan menyatakan bahwa 25 hari terakhir telah membuktikan bahwa meski ini adalah perang Israel, dunia yang menanggung harganya — perang ini adalah perang Netanyahu untuk bertahan hidup secara politik, namun delapan miliar orang yang menanggung biayanya.
Kedua, tuntutan menghentikan Netanyahu. Erdogan menyerukan agar kampanye militer yang dipimpin apa yang ia sebut sebagai "jaringan pembantaian" Netanyahu dihentikan segera demi perdamaian regional dan kemanusiaan, dan mendesak setiap negara mengambil sikap yang berani dan proaktif.
Ketiga, blokade diplomatik oleh Israel. Erdogan memperingatkan bahwa sikap Israel yang tidak mau berkompromi, maksimalis, dan radikal tidak boleh dibiarkan merongrong solusi diplomatik. Ia menegaskan: "Tidak ada negara yang menghargai perdamaian dan stabilitas global yang seharusnya, mulai sekarang, mengobarkan api yang secara tidak adil dinyalakan Israel di kawasan ini."
Keempat, posisi Turki. Erdogan menyatakan Turki menavigasi konflik Timur Tengah dengan hati-hati dan bijaksana, tidak jatuh ke dalam jebakan yang diatur pihak-pihak tertentu, dan bertekad untuk tetap berada di luar "lingkaran api." Ia menegaskan: "Kami sama sekali tidak ingin perang ini berubah menjadi perang atrisi di antara negara-negara kawasan."
Erdogan memperingatkan bahwa serangan terhadap negara-negara Teluk berisiko menabur benih perselisihan baru di Timur Tengah, dan menyerukan penutupan Selat Hormuz segera diatasi karena telah melemparkan ekonomi dunia ke dalam turbulensi serius.
Dalam analisis yang lebih luas tentang tatanan dunia yang sedang berubah, Erdogan menyatakan sistem global sedang mengalami perubahan fundamental, aliansi-aliansi baru sedang terbentuk, dan pertanyaan utama yang kini menjadi taruhan adalah: siapa yang akan mengendalikan sumber daya energi dan rute perdagangan, dan siapa yang akan menjadi pemimpin baru sistem global. Ia menarik paralel dengan pergantian peta seabad yang lalu — ketika tatanan dunia pasca-Perang Dunia I diputuskan di atas kerugian kawasan ini.
Evolusi Framing Erdogan: Dari "Negara" ke "Jaringan"
Yang menarik perhatian para analis dalam pernyataan Erdogan bukan hanya substansinya, namun evolusi bahasa yang digunakannya. Sejak beberapa pekan terakhir, pemimpin Turki itu berhenti menyebut Israel sebagai negara dan kini berbicara tentang "jaringan", "struktur", dan "kelompok" — sebuah pergeseran linguistik yang semakin mendekatkan posisi Ankara dengan posisi Tehran yang secara eksplisit tidak mengakui Israel sebagai negara.
Pada 17 Maret, Erdogan juga telah menyatakan: "Israel dipimpin oleh sebuah jaringan yang menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain dan secara bertahap menyeret kawasan menuju bencana." Pernyataan 24 Maret adalah eskalasi dari narasi yang sudah dibangun secara konsisten sejak perang dimulai.
Steinmeier: Perang Iran Langgar Hukum Internasional — Kepercayaan pada AS Hilang
Pada hari yang sama, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier berbicara dengan nada yang hampir sama kuatnya. Steinmeier menyebut perang Iran sebagai "pelanggaran hukum internasional" dan menarik paralel yang sangat signifikan dengan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, menyatakan: "Sama seperti tidak ada jalan kembali dari Ukraina, tidak akan ada jalan kembali ke sebelum 20 Januari 2025."
Steinmeier menggambarkan keretakan dengan AS sebagai sesuatu yang sangat dalam: "Keretakannya terlalu dalam, dan kepercayaan pada politik kekuasaan Amerika telah hilang — bukan hanya di antara sekutu kami tetapi di seluruh dunia." Ini merupakan salah satu pernyataan paling keras yang pernah disampaikan seorang kepala negara Jerman terhadap Washington.
Pernyataan Steinmeier sangat signifikan dalam konteks yang lebih luas: Jerman adalah anggota NATO terbesar di Eropa, dan kepala negaranya secara eksplisit menyamakan tindakan AS di Iran dengan tindakan Rusia di Ukraina — dua perang yang oleh Barat sendiri biasanya diperlakukan secara sangat berbeda dari sisi legitimasi. Paralel yang ditarik Steinmeier mengikis narasi Amerika tentang supremasi hukum internasional yang selalu menjadi fondasi diplomasi Barat.
Turki: Di Antara Dua Dunia — NATO dan Tetangga
Posisi Turki dalam perang ini sejak awal merupakan tindakan penyeimbangan yang sangat sulit. Sejak 28 Februari, saat AS dan Israel menyerang Iran dan membunuh Khamenei senior, Erdogan menyerukan kembali ke diplomasi dan gencatan senjata untuk mencegah kawasan terseret ke dalam konflik yang lebih luas — sembari secara implisit membebaskan AS dari tanggung jawab dan menyebut serangan itu sebagai "hasil provokasi Netanyahu." Erdogan juga menyatakan serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara Teluk "tidak dapat diterima, apapun alasannya."
Turki dan Iran terhubung oleh budaya dan etnisitas — Khamenei senior sendiri sebagian berdarah Turki dan sering melantunkan puisi dalam bahasa Turki, dan Presiden Pezeshkian juga berdarah Azerbaijan Turki. Namun keduanya dipisahkan oleh geopolitik. Turki sebagai anggota NATO tidak bisa sepenuhnya memihak Iran, namun sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki hubungan ekonomi kuat dengan kawasan Teluk, Turki juga tidak bisa membiarkan perang terus bergejolak tanpa dampak langsung terhadap perekonomiannya.
Erdogan menyatakan Turki akan terus bekerja dengan seluruh kekuatan, seluruh sarana, dan seluruh alat yang dimilikinya untuk menegakkan perdamaian, keadilan, dan stabilitas — sambil menambahkan bahwa ketahanan ekonomi Turki saat ini berada di level tertinggi dalam sejarahnya untuk menghadapi guncangan eksternal semacam ini.
Israel Targetkan Turki sebagai Ancaman Berikutnya?
Di sisi lain, Israel justru mulai memposisikan Turki sebagai ancaman berikutnya setelah Iran. Mantan PM Israel Naftali Bennett yang sedang memposisikan dirinya untuk comeback politik menyatakan Ankara sedang membentuk poros "serupa dengan Iran," dan Israel harus bertindak secara "simultan" terhadap ancaman dari Tehran dan Ankara. Netanyahu mengumumkan rencana pembentukan "heksagon" aliansi baru untuk melawan apa yang ia sebut "poros radikal Sunni yang sedang muncul" — yang secara konvensional menyertakan Yunani dan Siprus, dua negara dengan perselisihan lama dengan Turki.
Namun analis kebijakan luar negeri Alon Pinkas, mantan duta besar Israel, memperingatkan keras retorika ini: "Jika bukan Turki, pasti Irak. Jika bukan Irak, pasti Hizbullah. Tidak masalah siapa. Selalu harus ada ancaman." Pinkas menambahkan: "Apakah kepemimpinan Turki pernah menolak hak Israel untuk eksis, atau mengancam akan menghapusnya dari peta? Tidak. Ini absurd."
Makna Strategis: Ketika Turki dan Jerman Bersuara Bersamaan
Pernyataan Erdogan dan Steinmeier pada 24 Maret 2026 bukan sekadar kecaman diplomatik biasa. Keduanya memiliki makna strategis yang lebih dalam:
Erdogan berbicara sebagai pemimpin negara mayoritas Muslim terbesar yang menjadi anggota NATO — posisi yang membuatnya menjadi suara yang paling sulit diabaikan dari dalam aliansi Barat sendiri. Ketika Erdogan menyebut apa yang dipimpin Netanyahu sebagai "jaringan pembantaian" dan mendesak seluruh dunia mengambil sikap proaktif untuk menghentikannya, ia sedang menempatkan diri sebagai pemimpin alternatif yang mengisi kekosongan kepemimpinan moral global yang ditinggalkan oleh lemahnya respons PBB dan pecahnya suara Eropa.
Steinmeier berbicara sebagai kepala negara dari kekuatan ekonomi terbesar Eropa — negara yang selama puluhan tahun menjadi pilar kepercayaan pada kepemimpinan AS di dunia Barat. Ketika ia menyamakan tindakan AS di Iran dengan invasi Rusia di Ukraina dan menyatakan kepercayaan pada Washington telah hilang secara permanen, ia sedang menandai pergeseran tatanan geopolitik yang akan terasa jauh melampaui perang ini sendiri.
Keduanya, dari sudut yang berbeda, sedang menyampaikan pesan yang sama kepada Washington dan Tel Aviv: dunia tidak lagi bersedia membayar harga yang tak terbatas untuk sebuah perang yang justru menghancurkan tatanan internasional yang selama ini menjadi fondasi keamanan dan kemakmuran bersama.
"The war must end before damage is inflicted on the global economy that could take years to repair. Israel's uncompromising, maximalist and radical attitude must not be allowed to sabotage diplomatic solutions. Türkiye will continue to work with all its strength and all the means at its disposal to establish peace, justice and stability." — Presiden Recep Tayyip Erdogan, Ankara, 24 Maret 2026
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan laporan terkini dari TRT World, Türkiye Today, Hurriyet Daily News, ANews, Pakistan Today, Express Tribune, dan Foreign Policy per Rabu, 25 Maret 2026. Pernyataan-pernyataan para pemimpin dikutip berdasarkan rekaman dan laporan resmi dari sumber-sumber terpercaya.