Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19–20: Israel Bom South Pars, Iran Bom Ras Laffan Qatar, Trump Ancam Musnahkan Seluruh Ladang Gas Iran

Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-19–20: Israel Bom South Pars, Iran Bom Ras Laffan Qatar, Trump Ancam Musnahkan Seluruh Ladang Gas Iran

Reportase | Kamis, 19 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, CBS News, NBC News, Reuters, AP, Foreign Policy, Iran International, Time, Washington Post, Wikipedia

Perang memasuki fase eskalasi paling berbahaya sejak dimulai 19 hari lalu. Rabu 18 Maret menjadi hari dengan rangkaian kejadian yang saling bereaksi secara berantai dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Israel — tanpa sepengetahuan AS — menyerang ladang gas South Pars, fasilitas gas alam terbesar di dunia yang dikelola bersama Iran dan Qatar. Iran membalas dengan membombardir Ras Laffan Industrial City Qatar — terminal LNG terbesar dunia yang memasok 20 persen LNG global — dengan rudal balistik hingga menyebabkan kebakaran besar dan kerusakan masif di beberapa fasilitas. Qatar mengusir atase militer dan keamanan Iran. Arab Saudi menyatakan hak untuk mengambil tindakan militer terhadap Tehran. Trump mengancam akan "meledakkan seluruh ladang South Pars" jika Iran menyerang Qatar lagi. Harga minyak melonjak di atas 110 dolar per barel. Dan dalam rentang 48 jam yang sama, Israel membunuh tiga pejabat paling senior Iran yang masih tersisa: Larijani, Soleimani, dan kini Menteri Intelijen Esmail Khatib — sementara Pentagon diam-diam meminta Kongres untuk dana tambahan perang sebesar lebih dari 200 miliar dolar.

"If Iran, in any way, shape, or form, unwisely decides to attack Qatar, or any other Country or Territory that is being protected by the United States of America, we will massively blow up the entirety of the South Pars Gas Field at an amount of strength and power that Iran has never seen or witnessed before." — Presiden Donald Trump, Truth Social, 18 Maret 2026

Israel Bom South Pars Tanpa Sepengetahuan AS: Eskalasi yang Mengubah Segalanya

Pada Rabu 18 Maret, jet-jet tempur Israel menyerang ladang gas South Pars — reservoir gas raksasa yang terletak di Teluk Persia, berbatasan langsung dengan Qatar North Field, ladang gas terbesar di dunia. South Pars sendiri menyumbang hingga 75 persen produksi gas alam domestik Iran. Trump kemudian mengonfirmasi di Truth Social bahwa Israel memang menyerang South Pars — namun ia menegaskan AS "tidak mengetahui apa-apa" tentang serangan tersebut dan bahwa Qatar "tidak terlibat dengan cara apa pun" dalam serangan itu.

Menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Israel, serangan tersebut dilakukan dengan koordinasi dan persetujuan dari AS. Dua klaim ini — "AS tidak tahu" versi Trump vs. "ada persetujuan AS" versi pejabat Israel — mengekspos retakan terbuka antara Gedung Putih dan Tel Aviv: ini bukan pertama kalinya dalam perang ini Israel mengambil langkah yang mempersulit posisi diplomatik AS tanpa konsultasi penuh.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian segera memperingatkan adanya "konsekuensi yang tidak terkendali" jika serangan terhadap infrastruktur energi dilanjutkan. Qatar — yang berbagi lapangan gas North Field dengan Iran — mengecam keras serangan tersebut sebagai "langkah berbahaya dan tidak bertanggung jawab di tengah eskalasi militer kawasan yang sedang berlangsung."

Iran Bom Ras Laffan Qatar Dua Kali: LNG Global Terguncang

Beberapa jam setelah serangan South Pars, Iran membalas dengan menembakkan rudal balistik ke Ras Laffan Industrial City — pusat energi Qatar dan salah satu terminal LNG terbesar di dunia, yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan LNG global. QatarEnergy menyatakan serangan pertama menyebabkan "kerusakan ekstensif" pada fasilitas Pearl GTL (Gas-to-Liquids).

Dini hari Kamis 19 Maret, Iran kembali menyerang Ras Laffan untuk kedua kalinya — kali ini menargetkan beberapa fasilitas LNG sekaligus. QatarEnergy melaporkan "kebakaran besar dan kerusakan lebih lanjut yang sangat signifikan" di beberapa fasilitas LNG. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kedua serangan, namun dampak ekonomi dan energi global langsung terasa: harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5 persen menjadi di atas 108–110 dolar per barel, pasar saham Asia anjlok — Nikkei Jepang turun 2,7 persen, Kospi Korea Selatan turun 2,6 persen.

Qatar mengambil langkah diplomatik tegas: Kementerian Luar Negeri Qatar secara resmi mengusir atase militer Iran, atase keamanan Iran, dan seluruh staf yang bekerja di dua kantor tersebut dari Qatar dalam waktu 24 jam. Ini merupakan tindakan diplomatik paling keras yang pernah diambil Qatar terhadap Iran sejak perang dimulai.

Trump Ancam Musnahkan South Pars Sepenuhnya: Ultimatum Terbesar dalam Perang Ini

Merespons serangan Iran ke Ras Laffan, Trump mengumumkan di Truth Social dua keputusan besar sekaligus: Israel tidak akan lagi menyerang South Pars — namun jika Iran "dengan bodohnya" memutuskan menyerang Qatar atau negara manapun yang dilindungi AS, maka AS akan "meledakkan seluruh ladang gas South Pars dengan kekuatan dan daya yang belum pernah dilihat atau disaksikan Iran sebelumnya."

Ini merupakan ancaman militer paling eksplisit dan paling masif yang pernah dikeluarkan Trump dalam perang ini — menargetkan fasilitas energi sipil yang menyuplai 75 persen gas alam domestik Iran dan memiliki implikasi ekonomi global yang jauh melampaui Iran sendiri. Para analis menyebutnya sebagai "eskalasi retorika ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik ini."

Macron bereaksi segera — menelepon Trump dan Emir Qatar — dan menyerukan moratorium segera atas serangan terhadap infrastruktur sipil, khususnya energi dan air: "Sudah menjadi kepentingan bersama untuk segera menerapkan moratorium atas serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, terutama infrastruktur energi dan air."

Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib Tewas: Tiga Pejabat Tertinggi dalam 48 Jam

Israel mengumumkan telah membunuh Menteri Intelijen Iran Esmail Khatib dalam serangan udara semalam. Presiden Pezeshkian mengkonfirmasi kematian Khatib, menyebutnya sebagai "pembunuhan pengecut." Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengumumkan bahwa ia telah memberikan izin kepada militer untuk membunuh "pejabat senior Iran mana pun" begitu ada kesempatan, "tanpa memerlukan persetujuan tambahan." IDF menyatakan: "Kami akan terus memburu semua pejabat senior rezim."

Dalam rentang kurang dari 48 jam, Israel telah membunuh tiga pejabat paling senior Iran yang tersisa sejak kematian Khamenei senior: Ali Larijani (Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi), Gholamreza Soleimani (Komandan Basij), dan kini Esmail Khatib (Menteri Intelijen). Ini merupakan laju pembunuhan pejabat senior tertinggi dalam sejarah modern perang manapun.

Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard bersaksi di hadapan Komite Intelijen Senat bahwa rezim Iran "tampaknya masih utuh" meskipun "sebagian besar terdegradasi." Direktur CIA John Ratcliffe, saat ditanya tentang pengunduran diri Joe Kent, menyatakan ia tidak sependapat dengan Kent: "Tidak ada yang menunjukkan Iran telah menghentikan ambisi nuklirnya."

Joe Kent: "Tidak Ada Intelijen" Soal Rencana Serangan Besar Iran

Sehari setelah mengundurkan diri, Joe Kent memberikan wawancara kepada Tucker Carlson dan menambahkan detail yang lebih mengejutkan: tidak hanya Iran tidak mengancam AS secara iminen, tetapi "tidak ada intelijen" bahwa Iran akan melancarkan serangan besar mendadak seperti 9/11 atau Pearl Harbor. Kent juga mengungkapkan bahwa menjelang perang dimulai, "banyak pengambil keputusan kunci tidak diizinkan menyampaikan pendapat mereka kepada Presiden" — kemampuan komunitas intelijen untuk memberikan "sanity check" saat memberi pengarahan kepada presiden "sebagian besar dibungkam dalam iterasi kedua ini."

Pernyataan ini — dari seorang veteran Green Beret dan mantan pendukung Trump — menggarisbawahi kekhawatiran yang sebelumnya hanya beredar di kalangan internal: bahwa keputusan untuk memulai perang ini diambil dengan proses deliberasi yang tidak memadai dan tanpa debat intelijen yang sesungguhnya.

Pentagon Minta 200 Miliar Dolar ke Kongres: Biaya Perang Sesungguhnya Terungkap

Dalam bocoran yang pertama kali dilaporkan The Washington Post, Pentagon telah meminta lebih dari 200 miliar dolar dana tambahan dari Kongres untuk membiayai perang di Iran. Angka ini melebihi seluruh anggaran pertahanan tahunan banyak negara NATO, dan menggambarkan skala sesungguhnya dari biaya operasi militer yang — selama tiga pekan pertama — masih dijalankan dari anggaran yang sudah ada.

Jika dikonfirmasi dan disetujui Kongres, ini akan menjadi permintaan dana perang darurat terbesar dalam sejarah AS sejak era pasca-9/11 — melampaui dana darurat untuk perang Irak dan Afghanistan. Para analis mengingatkan bahwa biaya harian perang ini diperkirakan mencapai 1,5 miliar dolar atau lebih, dengan 11,3 miliar dolar habis hanya dalam 6 hari pertama.

Arab Saudi Ancam Tindakan Militer, KTT Riyadh 14 Negara Kecam Iran

Arab Saudi mengambil posisi paling keras sejak perang dimulai: Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan menyatakan Riyadh "menegaskan hak untuk mengambil tindakan militer" terhadap Tehran setelah dua kilang minyak di Riyadh terkena serangan Iran. Ini merupakan pertama kalinya Arab Saudi secara terbuka mengancam tindakan militer langsung terhadap Iran.

KTT Riyadh yang mengumpulkan perwakilan dari 14 negara — Azerbaijan, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Lebanon, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Turki, dan UEA — mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan Iran sebagai tindakan yang "tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun" dan mendesak Iran menghentikan serangan ke negara-negara tetangga. Ini merupakan pernyataan kolektif paling tegas dari blok negara mayoritas Muslim terhadap Iran sejak perang dimulai.

Warga Negara Swedia Dieksekusi Iran atas Tuduhan Mata-Mata Israel

Iran mengeksekusi seorang warga negara Swedia keturunan Iran yang dituduh menjadi mata-mata Israel — termasuk memiliki perangkat Starlink yang oleh Iran dikategorikan sebagai bukti espionase. Menteri Luar Negeri Swedia mengkonfirmasi eksekusi tersebut. Iran menetapkan kepemilikan perangkat Starlink sebagai kejahatan berat: "Memiliki, menjual, atau memindahkan perangkat Starlink dianggap sebagai pengguna mata-mata AS dan Israel," dengan hukuman mulai dari interogasi dan pemukulan hingga eksekusi.

Kondisi Lapangan Komprehensif per Hari Ke-19–20

Dimensi Status per 19 Maret 2026
Korban tewas kawasan Iran: 1.444+ (resmi), estimasi independen jauh lebih tinggi; Lebanon: 960+; Israel: 15 warga sipil; AS: 13 prajurit + 1 insiden kesehatan; Teluk: 29+; Irak: 58+
Militer Iran tewas 4.800+ (Hengaw, 18 Maret); 3 pejabat paling senior tewas dalam 48 jam: Larijani, G. Soleimani, Khatib
Target CENTCOM + IDF 7.000+ target diserang (CENTCOM per 16 Maret); 7.600 serangan udara IDF ke Iran; kemampuan rudal Iran diklaim turun 90%, drone 95%
Infrastruktur energi South Pars Iran diserang Israel; Ras Laffan Qatar diserang Iran 2x; kilang Riyadh diserang; Fujairah terbakar; harga minyak $108–110/barel
Hormuz ~1.000 kapal menumpuk di pintu masuk; Irak mulai ekspor minyak via pipa ke Turki (250.000 barel/hari) — menghindari Teluk Persia; Iran terapkan selective passage
Pengungsi 3,2 juta+ di Iran; ~1 juta di Lebanon; 120.000 warga Suriah kembali ke Suriah dari Lebanon; total kawasan 5 juta+
Anggaran perang AS $11,3 miliar dalam 6 hari pertama; Pentagon minta $200 miliar+ tambahan dari Kongres (Washington Post)
Diplomatik KTT Riyadh 14 negara kecam Iran; Qatar usir atase militer Iran; Saudi ancam tindakan militer; Macron serukan moratorium serangan sipil; Fed AS tahan suku bunga di tengah ketidakpastian
Posisi rezim Iran Tulsi Gabbard: rezim "tampaknya masih utuh meski terdegradasi"; Araghchi: Iran tolak negosiasi, AS harus tanggung jawab; Kataib Hezbollah: hentikan serangan ke Kedutaan Baghdad 5 hari bersyarat

Analisis: Perang Energi Total Sudah Dimulai

Dengan serangan ke South Pars dan Ras Laffan, perang ini secara resmi memasuki dimensi baru yang oleh para analis disebut sebagai "perang energi total." Selama hampir tiga pekan pertama, kedua belah pihak menahan diri untuk tidak menyerang infrastruktur energi sipil besar-besaran — AS karena kekhawatiran lonjakan harga global, Iran karena infrastruktur tersebut adalah sumber pendapatan utamanya. Kini batas itu telah dilanggar.

Para analis dari berbagai lembaga memperingatkan: jika Trump benar-benar melaksanakan ancamannya untuk menghancurkan seluruh South Pars, Iran hampir pasti akan menyerang seluruh infrastruktur energi di kawasan Teluk — Ras Tanura Saudi Arabia, ladang minyak Kuwait, fasilitas UEA — dan harga minyak bisa melonjak ke level yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern. Sebaliknya, jika ancaman itu tidak dilaksanakan, kredibilitas deterrens AS akan runtuh di hadapan Iran.

Menteri Energi Qatar pekan lalu memperingatkan bahwa jika perang berlanjut, produsen energi Teluk mungkin terpaksa menghentikan ekspor dan menyatakan force majeure — sebuah langkah yang "akan menghancurkan ekonomi dunia." Kini, dengan Ras Laffan terbakar, skenario terburuk itu semakin dekat menjadi kenyataan.

"This war is not our war. We did not start it. The United States started it and is responsible for all the consequences — human and financial — whether for Iran, for the region, or for the entire world. The United States must be held accountable." — Menlu Iran Abbas Araghchi, kepada Al Jazeera, 18 Maret 2026

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera, CNN Live Updates, CBS News, NBC News, Reuters, AP, Foreign Policy, Iran International, Time, Washington Post, dan Wikipedia per Kamis, 19 Maret 2026, pagi WIB. Angka korban dan kondisi lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber-sumber resmi setempat.

Artikel Populer

Ketika Langit Berbicara dalam Dua Bahasa: Menelaah Perbedaan Penentuan Hari Raya secara Adil dan Ilmiah

Bolehkah Guru Ngaji Menerima Zakat atas Nama Sabilillah?

Trilogi Penghujung Ramadhan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya