Postingan

Menampilkan postingan dengan label Psikologi Spiritual Islam

Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati?

Gambar
Setelah Suara Itu Reda: Apa yang Tersisa dari MTQ di Dalam Hati? Tentang mendengarkan Al-Qur'an, menjaga niat, dan musabaqah yang justru berlanjut ketika panggung telah sepi Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada banyak pintu untuk memasuki sebuah arena MTQ. Ada pintu bagi peserta, panitia, dewan hakim, tamu, dan pengunjung. Orang-orang datang dari berbagai arah, sebagian bersama keluarga, sebagian mencari tempat duduk terbaik, sementara dari kejauhan suara seorang qari mulai terdengar melalui pengeras suara. Ayat-ayat Allah mengalun. Sebagian orang menghentikan langkah, ada yang memejamkan mata, berbisik Masya Allah , atau mengangkat telepon genggam untuk merekam beberapa bagian yang terasa indah. Keindahan suara memang bagian dari pesona tilawah. Tajwid dijaga, makhraj diperhatikan, hafalan dipelihara, dan melalui musabaqah seperti ini umat menunjukkan bahwa Al-Qur'an masih memiliki tempat istimewa dalam kehidupan bersama. Namun di tengah keramaian itu ada sebuah pertanyaan y...

Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan

Gambar
Ketika Kita Tidak Lagi Dibutuhkan Belajar melepaskan peran, menemukan ruang pengabdian baru, dan tetap beramal ketika nama kita tak lagi dicari Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Matahari terbenam setiap sore bukan karena ia kalah oleh malam. Ia terbenam, lalu bulan mendapat giliran bersinar dan bintang-bintang memperoleh ruang untuk tampak. Esok pagi matahari terbit kembali, bukan sebagai pemenang yang merebut panggung, melainkan sebagai bagian dari pergiliran yang telah ditetapkan sejak semula. Kehidupan manusia mengikuti pola yang serupa, meskipun kita jarang menyadarinya ketika masih berada di titik terang. وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia...” (QS. Ali 'Imran: 140) Ayat ini hadir dalam rangkaian ayat tentang Perang Uhud. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang pergiliran: ada masa menang dan kalah, lapang dan sempit, berada di depan lalu memberi tempat kepada yang lain. Masal...

Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu

Gambar
Taubat Tidak Mengharuskan Kita Membenci Seluruh Masa Lalu Berdamai dengan sejarah hidup tanpa membenarkan kesalahan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   Ada masa ketika seseorang melihat kembali perjalanan hidupnya dan merasa asing terhadap dirinya sendiri. Dahulu ia begitu yakin dengan pilihan, lingkungan, bacaan, atau jalan perjuangannya. Bertahun-tahun ia berjalan di sana dengan sungguh-sungguh. Kemudian ilmu bertambah, pengalaman meluas, dan beberapa hal yang dahulu tidak terlihat mulai tampak. Ada pandangan yang harus dikoreksi, sikap yang disesali, bahkan keputusan yang seandainya mungkin ingin ditarik kembali. Lalu muncul pertanyaan: “Kalau ternyata ada yang salah dalam jalan hidupku dahulu, apakah seluruh masa itu juga harus kubenci?” Pertanyaan seperti ini tidak hanya muncul pada orang yang meninggalkan sebuah kelompok atau mengubah pandangan keagamaan. Ia bisa hadir pada orang yang pernah tenggelam dalam maksiat, dahulu keras kepada keluarganya, berlebihan dala...

Memaafkan Tanpa Harus Kembali

Gambar
Memaafkan Tanpa Harus Kembali Ketika hati telah berdamai, meski hubungan tak lagi seperti dulu Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Tidak semua yang pernah dekat akan tetap dekat. Ada persahabatan yang bertahan sampai usia senja. Ada yang berubah karena jarak dan kesibukan. Ada pula hubungan yang tumbuh begitu dalam—bermula dari organisasi, majelis, pekerjaan, atau perjuangan bersama—hingga akhirnya terasa seperti keluarga sendiri. Bertahun-tahun duduk di meja yang sama, menghadapi kesulitan yang sama, membangun sesuatu dari nol. Keluarga saling mengenal. Orang yang dahulu hanya disebut teman, perlahan menjadi sedulur . Tetapi perjalanan manusia tidak selalu bergerak ke arah yang sama. Pengalaman berubah. Bacaan bertambah. Lingkungan berganti. Seseorang sampai pada cara pandang baru, sementara yang lain tetap meyakini jalan yang selama ini ditempuh masih layak dipertahankan. Tidak selalu ada pertengkaran. Kadang hanya jarak yang perlahan tumbuh. Lalu suatu hari kita berkata: "Aku sudah ...

Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?

Gambar
Ketika AI Bisa Menjawab, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia? Refleksi tentang Akal Imitasi, kecerdasan buatan, dan masa depan pendidikan manusia ✒️ Tsaqif Rasyid Dai 🌐 persadani.org Tahun 2029 sebenarnya tidak terlalu jauh. Dalam film Akal Imitasi , tahun itu menjadi latar sebuah dunia pendidikan yang telah hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan bernama PIKO. Teknologi masuk ke sekolah, membantu proses belajar, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan tentang kesenjangan, karakter, dan apa yang sesungguhnya sedang kita sebut pendidikan. Film itu belum perlu kita hakimi sebelum menontonnya. Tetapi pertanyaan yang dibawanya sudah berada di hadapan kita sekarang. Hari ini seorang pelajar dapat meminta kecerdasan buatan merangkum buku yang belum selesai ia baca. Ia dapat meminta mesin menyusun esai, membuat presentasi, menerjemahkan teks, menjelaskan rumus, mencari kesalahan dalam kode komputer, bahkan membangun argumentasi tentang suatu persoalan. Dalam hitungan deti...

Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri

Gambar
Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri Tentang kebencian, ego, dan jiwa yang perlahan kehilangan rahmah ✒️ Tsaqif Rasyid Dai Ada teror yang mudah kita kenali. Ia datang dengan ancaman, kekerasan, darah, dan ketakutan. Kita dapat melihat akibatnya, menghitung korbannya, lalu menyebutnya sebagai bahaya. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sunyi. Tidak terdengar ledakan. Tidak ada sirene. Tidak ada kepanikan. Bahkan orang lain mungkin tidak mengetahui bahwa sesuatu sedang terjadi. Ia tumbuh perlahan di dalam dada. Mulanya hanya ketidaksukaan. Kemudian menjadi prasangka. Prasangka yang terus diberi makan dapat menjadi kebencian. Kebencian membuat kita semakin mudah melihat keburukan orang lain. Lalu pada suatu titik, kita tidak lagi sekadar membenci perbuatannya—kita mulai merendahkan manusianya. Dan yang paling mengkhawatirkan, semua itu kadang terjadi ketika kita masih merasa sebagai orang baik. Ketika Kebencian Mengubah Cara Kita Melihat Manusia Tidak setiap kemarahan adalah kebenc...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...