Postingan

Menampilkan postingan dengan label Psikologi Spiritual Islam

Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti

Gambar
Sabar dan Syukur: Dua Sayap yang Sama, Terbang ke Arah yang Serupa Ketika hati berhenti membedakan mana yang berat dan mana yang ringan, dan mulai melihat semuanya sebagai jalan pulang Oleh: Abdullah Madura Ada satu kegelisahan yang mungkin pernah singgah di hati kita masing-masing, meski jarang diucapkan. Kegelisahan itu berbunyi begini: mengapa rasanya lebih mudah mengeluh saat susah, dan lebih mudah lupa saat senang? Dua keadaan yang seharusnya melahirkan dua respons yang mulia, sabar dan syukur, justru sering kita balik. Kita bersabar dengan setengah hati saat lapang, dan kita menuntut penjelasan dari Allah saat sempit. Barangkali di situlah letak penyakit zaman ini, sebuah dunia yang mengajarkan bahwa kebahagiaan harus datang instan, dan penderitaan harus segera dijelaskan sebabnya. Rasulullah ï·º, jauh sebelum istilah instant gratification lahir, sudah menyampaikan sebuah kalimat yang jika direnungkan pelan-pelan, mampu membongkar seluruh kegelisahan itu. عَجَبًا Ù„ِØ£َÙ…ْ...

Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup

Gambar
Zuhud di Era Konsumsi: Ketika Dunia Tidak Lagi Cukup untuk Membuat Kita Merasa Cukup Setelah Pulang dan Menjaga Diri, Bagaimana Membebaskan Hati dari Keterikatan kepada Dunia? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Kita hidup di zaman yang serba cukup, tetapi manusia semakin sulit merasa cukup. Lemari lebih penuh, pilihan lebih luas, informasi tanpa batas—namun ketenangan justru terasa semakin jauh. Ini bukan semata soal kekurangan barang. Ini tentang hati yang terus didorong untuk menginginkan sesuatu yang baru, bahkan ketika yang lama belum benar-benar selesai dinikmati. Setelah Pulang, Ada Satu Penyakit yang Tersisa Jika taubat adalah kesadaran untuk kembali kepada Allah, dan wara' adalah usaha menjaga langkah agar tidak kembali tersesat, maka zuhud adalah babak berikutnya. Wara' bertanya, "Apa yang harus kuhindari agar tidak kembali tersesat?" Zuhud mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: "Apa yang tidak boleh menguasai hatiku, sekalipun ia halal?" Sebab prob...

Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah?

Gambar
Jalan untuk Menangis: Mengapa Hati Modern Sulit Menangis karena Allah? Jalan Pulang dari Kebisingan Dunia Menuju Khashyah, Muhasabah, dan Kelembutan Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bismillahirrahmanirrahim. Kita hidup di zaman ketika manusia tidak kehilangan air mata. Kita masih menangis karena kehilangan, tersentuh oleh kisah, terharu oleh video, bahkan larut dalam drama yang hanya berlangsung beberapa menit di layar. Tetapi ada sebuah pertanyaan yang lebih sunyi: kapan terakhir kali air mata kita jatuh karena takut kepada Allah? Kita sesungguhnya tidak perlu belajar bagaimana cara menangis. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana menghidupkan kembali hati. Manusia modern barangkali tidak kekurangan air mata. Ia kekurangan ruang batin untuk merasakan Allah. Ibnu Qayyim rahimahullah membedakan berbagai jenis tangisan: tangisan kasih sayang, tangisan takut dan pengagungan, tangisan cinta dan kerinduan, tangisan kegembiraan, tangisan kesedihan, hingga tangisan yang tidak lahir da...

Wara' di Era Digital: Menjaga Hati Setelah Pulang

Gambar
Wara' di Era Digital: Menjaga Hati Setelah Pulang Setelah Pulang, Bagaimana Kita Menjaga Hati agar Tidak Tersesat Lagi? Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada sesuatu yang aneh pada zaman kita. Kita hidup dalam masa ketika ilmu agama begitu mudah dijangkau, tetapi pada saat yang sama hampir segala sesuatu yang dahulu sulit ditemukan kini dapat hadir hanya dengan satu sentuhan layar. Satu sentuhan dapat mengantarkan kita kepada kajian ulama dari berbagai penjuru dunia. Namun, sentuhan berikutnya pada layar yang sama dapat membawa kita kepada sesuatu yang merusak pandangan, mengusik ketenangan, atau perlahan-lahan mengeraskan hati. Inilah salah satu paradoks manusia modern: kita semakin dekat dengan segala sesuatu, tetapi belum tentu semakin dekat dengan kemampuan untuk menahan diri. Barangkali karena itu, seseorang yang telah menemukan jalan pulang kepada Allah membutuhkan satu kemampuan lagi: kemampuan untuk tetap berada di jalan pulang itu. Di titik inilah wara' menjadi penting un...

Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya

Gambar
Anak yang Kita Jaga Tubuhnya, tetapi Lupa Kita Rawat Hatinya Refleksi Tazkiyatun Nufus dan Parenting Islam di Hari Anak Nasional Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Setiap 23 Juli, bangsa ini merayakan Hari Anak Nasional. Namun tahun ini, perayaan itu berdampingan dengan sebuah kabar yang menyayat: ratusan anak di salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat harus menikah dini setelah hamil di luar nikah, sebuah rentetan kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mengajak kita melihat persoalan yang lebih dalam: bagaimana anak-anak kita bertumbuh, siapa yang menemani mereka ketika menghadapi perubahan dalam dirinya, dan apakah mereka memiliki ruang yang aman untuk bertanya, bercerita, dan belajar menjaga diri. Dan sebelum melangkah lebih jauh, ada satu hal yang perlu ditegaskan: tidak semua anak yang mengalami kehamilan di usia dini berada dalam situasi yang sama. Ada yang terjerumus karena ketidaktahuan, ada yang berada dalam relasi yang tidak se...

Ketika Takut Kekurangan Menguasai Hati: Menyingkap Waswas Kefakiran dan Jalan Menuju Tawakal

Gambar
Ketika Takut Kekurangan Menguasai Hati: Menyingkap Waswas Kefakiran dan Jalan Menuju Tawakal Seri Tazkiyatun Nufus: Rezeki dan Penyakit Hati Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Ada orang yang hafal di luar kepala bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk. Ia bahkan mampu menjelaskannya panjang lebar kepada orang lain. Namun ketika saldo rekening menipis, pesanan sepi, pekerjaan belum kunjung datang, atau kebutuhan hidup terasa semakin berat, hatinya kembali disergap kecemasan yang sama, seolah ilmu itu tidak pernah singgah di dada. Di sinilah kita perlu membedakan antara mengetahui dan meyakini . Pengetahuan cukup berhenti di kepala, sedangkan keyakinan yang hidup akan menuntun hati justru ketika keadaan sedang tidak sesuai harapan. Namun kita juga perlu berhati-hati sejak awal. Tidak setiap kecemasan tentang rezeki berarti lemahnya iman. Seseorang yang kehilangan pekerjaan, memiliki tanggungan keluarga, terlilit utang, atau menghadapi kebutuhan medis yang mendesak memang dapat menga...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...