Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-23–24: Batas Waktu Ultimatum Trump Tiba, Iran Ancam Tutup Hormuz Permanen, IEA Sebut Krisis Energi Terburuk sejak 1970-an
Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-23–24: Batas Waktu Ultimatum Trump Tiba, Iran Ancam Tutup Hormuz Permanen, IEA Sebut Krisis Energi Terburuk sejak 1970-an
Reportase | Senin, 23 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, NPR, CBS News, ABC News, Times of Israel, Bloomberg, Reuters, IEA, Wikipedia
Senin, 23 Maret 2026 — seluruh dunia menahan napas. Pada pukul 23:44 GMT malam ini, batas waktu ultimatum Presiden Trump kepada Iran resmi berakhir: buka penuh Selat Hormuz tanpa ancaman — atau pembangkit-pembangkit listrik Iran dihancurkan, "dimulai dari yang terbesar." Iran telah menjawab: jika Trump melaksanakan ancamannya, Iran akan menutup Selat Hormuz secara permanen hingga setiap pembangkit listrik yang dihancurkan selesai dibangun kembali, dan akan menyerang seluruh infrastruktur energi dan komunikasi kawasan yang berkaitan dengan AS dan Israel. Harga minyak Brent melonjak ke 114 dolar per barel. Pasar saham Asia rontok — Nikkei turun 3,5 persen, Kospi Korea Selatan anjlok 4,9 persen. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan krisis energi ini "lebih buruk dari guncangan minyak di tahun 1970-an." Dan di Israel, total 180 orang telah terluka akibat serangan Iran ke Dimona dan Arad akhir pekan lalu — sementara IRGC menegaskan siap menutup Hormuz selamanya jika diperlukan.
"If you strike electricity, we will strike electricity. Targeting electricity infrastructure would disrupt essential humanitarian services such as hospitals, emergency centers, water systems, and desalination plants, which is inhumane." — Pernyataan resmi IRGC, Minggu 22 Maret 2026 (CNN / Fars News)
Deadline Trump Malam Ini: Bom Pembangkit atau Tidak?
Ultimatum Trump yang diposting di Truth Social pada Sabtu malam 21 Maret pukul 19:44 waktu Amerika Timur (ET) — atau 23:44 GMT — berakhir tepat pada Senin 23 Maret pukul 19:44 ET (Selasa 24 Maret pukul 03:14 dini hari waktu Tehran). Seluruh mata dunia kini tertuju pada apa yang akan terjadi begitu jam itu berdetak.
Skenario yang dihadapi Trump hanya dua: melaksanakan ancaman dan menyerang pembangkit listrik Iran — yang akan memicu respons Iran berupa penutupan permanen Hormuz dan serangan ke seluruh infrastruktur energi kawasan — atau membiarkan deadline berlalu tanpa tindakan dan menanggung risiko kehilangan kredibilitas deterrens yang sudah dibangun tiga pekan ini. Keduanya sama-sama berisiko tinggi dan tidak memiliki jalan tengah yang mudah.
Berbeda dengan ancaman-ancaman sebelumnya dalam perang ini, ultimatum pembangkit listrik memiliki dimensi kemanusiaan yang jauh lebih besar. Menyerang jaringan listrik Iran berarti memadamkan listrik bagi 90 juta warga sipil — termasuk rumah sakit, pompa air, sistem desalinasi, dan semua infrastruktur dasar kehidupan. CNN merilis daftar pembangkit listrik Iran yang mungkin menjadi target pertama berdasarkan kapasitas: Damavand Combined Cycle Power Plant (2.868 MW, 70 km dari Teheran), Shahid Salimi (2.215 MW, Provinsi Mazandaran), dan Shahid Rajai (2.043 MW, 110 km timur laut Teheran).
Iran: Tutup Hormuz Permanen Jika Trump Eksekusi Ancaman
IRGC menyatakan secara resmi melalui pernyataan yang dimuat Fars News: jika Trump melaksanakan ancamannya menyerang pembangkit listrik, Iran akan "menutup Selat Hormuz sepenuhnya dan tidak membukanya kembali sampai setiap pembangkit listrik yang dihancurkan dibangun kembali." Pernyataan itu juga menegaskan Iran akan menyerang: pembangkit listrik Israel, pembangkit listrik negara-negara kawasan yang memasok listrik kepada AS, serta infrastruktur ekonomi, industri, dan energi yang di dalamnya terdapat kepentingan AS. "Jika kalian serang listrik kami, kami akan serang listrik kalian," bunyi pernyataan IRGC.
Menlu Iran Abbas Araghchi memberikan framing berbeda soal Selat Hormuz: "Hormuz tidak tertutup. Kapal-kapal ragu melintas karena perusahaan asuransi takut pada perang pilihan yang kalian mulai — bukan karena Iran." Pezeshkian dalam posting X-nya menegaskan: "Selat Hormuz terbuka untuk semua, kecuali mereka yang melanggar tanah kami." Perwakilan Iran di IMO Ali Mousavi menambahkan bahwa "Iran siap bekerja sama dengan IMO dan negara-negara untuk meningkatkan keselamatan maritim."
Para analis menyebut perbedaan framing ini sebagai ruang negosiasi yang sangat sempit namun tetap ada: Iran tidak mau mengakui menutup Hormuz, karena secara teknis yang terjadi adalah penutupan de facto akibat risiko serangan yang membuat asuransi tidak mau menanggung kapal-kapal. Ruang ini bisa menjadi landasan kesepakatan gencatan senjata — jika ada pihak yang mau mengambilnya.
IEA: Krisis Energi Terburuk sejak 1970-an — Hormuz Satu-satunya Solusi
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan kepada CNN pada Senin pagi bahwa "krisis energi yang sedang berlangsung lebih buruk dari guncangan minyak di tahun 1970-an" — merujuk pada embargo OPEC 1973 dan krisis Iran 1979 yang pernah melumpuhkan ekonomi global. Birol menegaskan: "Satu-satunya solusi terpenting untuk masalah ini adalah membuka kembali perdagangan Hormuz."
Birol juga menegaskan bahwa serangan rudal Iran telah melumpuhkan ekspor LNG Qatar, dan meski Australia bisa mengisi sebagian kesenjangan, Australia tidak mampu mengimbangi seluruh kekurangan LNG dari Timur Tengah sendirian. IEA sedang berbicara dengan Kanada, Meksiko, dan produsen lain untuk meningkatkan produksi dan pelepasan stok ke pasar global — namun semua langkah itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berdampak.
Pasar saham Asia rontok pada pembukaan perdagangan Senin pagi:
| Indeks Saham | Perubahan Senin Pagi | Turun Sejak Perang Dimulai |
|---|---|---|
| Nikkei 225 (Jepang) | −3,5% | −12% |
| Kospi (Korea Selatan) | −4,9% | −12% |
| Hang Seng (Hong Kong) | −2,7% | −8% |
| Taiex (Taiwan) | −2,2% | −7% |
| Minyak Brent | +1,69% → $114,09/barel | +60%+ sejak 28 Feb |
| Minyak AS (WTI) | +2% → $100,29/barel | Tembus $100 untuk pertama kali sejak 2022 |
180 Terluka di Dimona dan Arad: Serangan Paling Mematikan ke Israel
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan 116 orang terluka di Arad dan 64 terluka di Dimona — total 180 orang, menjadikan serangan Sabtu malam sebagai yang paling mematikan terhadap Israel sejak perang dimulai. Militer Israel mengakui gagal mencegat kedua rudal. Rekaman menunjukkan kawah besar, bangunan-bangunan hancur terbuka, dan puluhan petugas darurat berjibaku di lokasi.
Netanyahu mengunjungi Arad pada Minggu dan bersumpah: "Kami mengejar rezim. Kami mengejar IRGC, geng kriminal ini. Kami mengejar mereka secara personal — para pemimpin mereka, instalasi mereka, aset ekonomi mereka. Kami mengejar mereka secara personal."
Militer Israel menyatakan pada Minggu bahwa Iran telah menembakkan lebih dari 400 rudal balistik ke Israel sejak perang dimulai, dengan tingkat intersepsi sekitar 92 persen. Selain itu, Iran melancarkan 10 gelombang serangan ke Israel pada Minggu saja. Cluster munitions Iran kembali menyebabkan kerusakan di beberapa lokasi di Israel tengah termasuk Petah Tikva — meski tidak ada korban jiwa dilaporkan.
Seorang reservis berusia 26 tahun bernama Raz Cohen yang bertugas di unit Iron Dome ditangkap atas tuduhan menjual "informasi keamanan sensitif" kepada kontak yang diketahuinya bekerja untuk Iran — sebuah kasus spionase yang mengekspos kerentanan yang belum pernah terungkap sebelumnya dalam pertahanan Israel.
Negara Teluk Berbalik: Kini Dukung Lanjutkan Perang Sampai Militer Iran Dihancurkan
Times of Israel mengungkap pergeseran dramatis sikap negara-negara Teluk: pejabat UEA, Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain — yang semula menentang perang ini — kini menyatakan bahwa militer Iran harus dipotong habis sebelum gencatan senjata bisa dipanggil, dengan sebagian di antaranya mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan ofensif terhadap Iran. Pergeseran ini dipicu oleh serangan Iran yang berulang kali menghantam wilayah mereka.
Arab Saudi dalam pernyataan resminya menyebut serangan Iran yang terus-menerus terhadap kedaulatan, objek sipil, warga sipil, kepentingan ekonomi, dan perwakilan diplomatiknya sebagai "pelanggaran mencolok terhadap semua konvensi internasional yang relevan" — termasuk Beijing Agreement dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817 (2026) — serta bertentangan dengan nilai-nilai persaudaraan Islam yang selalu diklaim Tehran.
NATO "Yakin" Hormuz Bisa Dibuka — Irak Tutup Wilayah Udara Tiga Hari
Sekjen NATO Mark Rutte menyatakan ia "sangat yakin" bahwa aliansi akan mampu membuka kembali Selat Hormuz — sebuah pernyataan yang kontras dengan keengganan anggota-anggota NATO untuk mengirimkan kapal perang. PM Starmer dan Trump berbicara melalui telepon Minggu malam dan menyepakati bahwa "membuka Selat Hormuz sangat penting untuk memastikan stabilitas pasar energi global" — namun tanpa komitmen konkret tentang bagaimana hal itu akan dilakukan.
Jerman menegaskan upaya bersama mengamankan jalur perdagangan melalui Hormuz baru bisa dilakukan setelah gencatan senjata tercapai. Jepang menyatakan bisa mengirimkan ahli penyapuan ranjau ke Hormuz — namun hanya jika gencatan senjata sudah dicapai terlebih dahulu.
Irak menutup wilayah udaranya mulai pukul 12.00 waktu setempat Minggu 22 Maret hingga Rabu 25 Maret — sebuah langkah pencegahan yang menunjukkan betapa mendalamnya konflik ini telah menyerap kawasan sekitarnya.
Senator Republik Lisa Murkowski menyatakan sedang mempertimbangkan untuk mendorong Kongres agar mengadakan pemungutan suara untuk mengesahkan perang Iran secara resmi jika Trump memutuskan menempatkan pasukan darat AS di negara itu.
Lebanon: Jembatan-Jembatan Dihancurkan, Aoun — "Ini Pembuka Invasi Darat"
Israel menyerang Jembatan Qasmiya — titik transit kunci yang menghubungkan selatan dan utara Lebanon, menghubungkan kota Tyre di selatan ke Sidon. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan terhadap jembatan-jembatan sebagai "tidak berdasar" dan "pertanda invasi darat." Aoun menegaskan Lebanon telah mengangkat kekhawatiran ini melalui jalur diplomatik.
Aoun sebelumnya bersumpah akan melucuti senjata Hizbullah dan menawarkan negosiasi langsung dengan Israel untuk mengakhiri perang. Namun Israel tetap melanjutkan serangan. Tujuh tentara IDF luka ringan pada Minggu dalam pertempuran di Lebanon dan Israel utara. IDF menyatakan kepala stafnya menegaskan pertempuran dengan Hizbullah "baru saja dimulai."
Data Perang Komprehensif per Hari Ke-23–24
| Dimensi | Status per 23 Maret 2026 |
|---|---|
| Ultimatum Trump | Deadline: 19:44 ET Senin 23 Maret (03:14 Selasa waktu Tehran); bom pembangkit listrik Iran atau Hormuz dibuka |
| Respons Iran | Tutup Hormuz permanen jika pembangkit diserang; serangan ke infrastruktur energi kawasan; "jika serang listrik kami, kami serang listrik kalian" |
| Serangan ke Israel | 180 terluka (Dimona 64, Arad 116) — terbanyak sejak perang dimulai; 400+ rudal balistik ditembak Iran ke Israel; tingkat intersepsi 92%; 10 gelombang serangan Minggu |
| Korban Iran | HRANA (17 Maret): 3.114+ tewas; 18.000+ terluka; 29/31 provinsi terdampak; internet ~1% normal |
| Lebanon | 1.021+ tewas; jembatan-jembatan dihancurkan; Aoun sebut "pertanda invasi darat"; hampir 1 juta mengungsi |
| Energi global | IEA: "lebih buruk dari 1970-an"; Brent $114/barel; Nikkei −3,5%; Kospi −4,9%; Qatar LNG lumpuh; Goldman Sachs: harga tinggi hingga 2027 |
| Hormuz | Efektif tertutup 23 hari; Iran: "terbuka untuk non-musuh"; NATO: "sangat yakin" bisa buka; Jerman dan Jepang: hanya mau bantu setelah gencatan senjata |
| Diplomatik | Turki: FK Fidan temui Menlu Iran, Mesir, Kallas EU; Irak tutup wilayah udara 3 hari; Teluk kini dukung lanjutkan perang sampai militer Iran hancur; Murkowski pertimbangkan otorisasi perang Kongres |
| Spionase | Reservis Iron Dome Israel Raz Cohen (26 th) ditangkap atas tuduhan jual info sensitif ke Iran |
Analisis: Dunia di Titik Kritis yang Belum Pernah Ada Sebelumnya
Senin 23 Maret 2026 adalah hari yang tidak ada presedennya dalam sejarah perang modern. Tidak pernah sebelumnya seorang presiden AS memberikan ultimatum 48 jam kepada sebuah negara berdaulat untuk membuka jalur laut internasional — dengan ancaman menghancurkan infrastruktur listrik yang akan mematikan kehidupan seluruh populasi sipilnya. Dan tidak pernah sebelumnya sebuah negara merespons dengan ancaman menutup selamanya jalur yang mengalirkan 20 persen minyak dunia.
Keduanya adalah ancaman yang jika dilaksanakan akan mengubah tatanan ekonomi global secara permanen — dan jika tidak dilaksanakan, akan merusak kredibilitas deterrens yang menjadi fondasi keseluruhan strategi perang ini. Trump kini berada di persimpangan tanpa jalan mudah.
Araghchi menyebut kekhawatiran perusahaan asuransi — bukan tindakan militer Iran — sebagai penyebab kapal tidak mau melintas Hormuz, sembari menegaskan bahwa ancaman lebih lanjut tidak akan memengaruhi Iran maupun para asuransi. Framing ini, jika diterima oleh komunitas maritim internasional, bisa menjadi dasar penyelesaian teknis tanpa harus ada penyerahan politis dari pihak manapun.
Namun satu kenyataan yang tidak bisa disangkal: setelah 23 hari perang, tidak ada tanda de-eskalasi yang nyata, harga energi berada di level tertinggi dalam sejarah modern, dan dunia sedang menyaksikan krisis yang oleh kepala IEA sendiri disebut lebih buruk dari guncangan minyak tahun 1970-an. Setiap jam yang berlalu sebelum malam ini hanya menambah panjang daftar nyawa, harta, dan masa depan yang dipertaruhkan.
"The single most important solution to this problem is opening up the Hormuz trade. This is the key." — Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), kepada CNN, Senin 23 Maret 2026
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NPR, CBS News, ABC News, Times of Israel, Bloomberg, Reuters, IEA, dan Wikipedia per Senin, 23 Maret 2026, pagi hingga siang WIB — hari di mana deadline ultimatum Trump berakhir. Angka korban dan kondisi lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui.