Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-11: Pemimpin Baru Iran, Serangan Tak Henti, dan Harga Minyak Meledak Reportase | Selasa, 10 Maret 2026
Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-11: Pemimpin Baru Iran, Serangan Tak Henti, dan Harga Minyak Meledak
Reportase | Selasa, 10 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, Reuters, NPR, CBS News, Wikipedia
Perang terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-11 pada Selasa, 10 Maret 2026, tanpa tanda-tanda akan segera mereda. Serangan udara berlanjut di berbagai front: dari Teheran, Beirut, hingga kawasan Teluk Persia. Sementara itu, Iran telah menunjuk pemimpin tertinggi baru, harga minyak mentah mendekati angka 120 dolar AS per barel, dan Presiden Trump menyatakan konflik ini akan segera berakhir — namun Iran menegaskan sebaliknya.
"Kami siap menghadapi perang panjang dengan Amerika Serikat." — Pejabat tinggi Iran kepada CNN, 9 Maret 2026
Kronologi Singkat: Bagaimana Perang Ini Dimulai
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan terhadap Iran. Serangan pembuka menghantam kompleks kediaman kepemimpinan Iran dan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei — Supreme Leader Iran selama 36 tahun — bersama sejumlah pejabat keamanan senior. Tujuan yang dinyatakan kedua negara adalah regime change, sekaligus menghancurkan program nuklir dan rudal balistik Iran.
Serangan ini terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, menyatakan bahwa negosiasi nuklir tidak langsung antara Iran dan AS telah mencapai "terobosan" — dan bahwa perdamaian "dalam jangkauan". Namun tawaran damai itu kandas setelah utusan AS Steve Witkoff mengungkap bahwa Iran menolak usulan AS tentang zero enrichment.
Mojtaba Khamenei: Pemimpin Tertinggi Baru Iran
Pada 8 Maret 2026, sepekan setelah kematian ayahnya, Mojtaba Khamenei — putra kedua Ayatollah Ali Khamenei berusia 56 tahun — ditetapkan sebagai Supreme Leader baru Iran. Penetapan ini dilakukan oleh Dewan Kepemimpinan Sementara yang dibentuk berdasarkan konstitusi Iran. Para pemimpin tinggi Iran termasuk Mohammad Bagher Ghalibaf, Ali Larijani, dan Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kesetiaan mereka kepadanya.
Mojtaba dikenal memiliki hubungan erat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang mengisyaratkan kesinambungan kebijakan keras rezim. Media pemerintah Iran menayangkan secara luas prosesi baiat publik yang dihadiri ribuan orang di seluruh kota-kota Iran.
Presiden Trump menyatakan kekecewaannya atas pilihan tersebut. Trump berkata ia menduga Mojtaba hanya akan membawa "lebih banyak masalah yang sama" bagi rakyat Iran.
Perkembangan Militer: Hari Ke-10 dan Ke-11
Serangan AS–Israel ke Iran
US Central Command (CENTCOM) melaporkan bahwa sejak 28 Februari, pasukan AS telah menghantam lebih dari 3.000 target di Iran, termasuk 43 kapal perang IRGC yang dilaporkan telah dihancurkan. Markas besar angkatan udara IRGC dinyatakan telah dimusnahkan.
Pada hari ke-9 (8 Maret), untuk pertama kalinya Israel menghantam fasilitas minyak Iran, termasuk depot Shehran di Teheran. Asap hitam tebal menyelimuti langit ibu kota Iran dan dilaporkan membawa "hujan hitam" yang menyebabkan kekhawatiran serius terhadap kualitas udara dan risiko racun bagi warga sipil. Menurut laporan Al Jazeera, ini merupakan serangan terhadap fasilitas industri sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak perang dimulai.
Citra satelit yang dirilis Reuters menunjukkan kerusakan pada fasilitas nuklir Natanz, termasuk kehancuran di sekitar lorong-lorong terowongan bawah tanah kompleks rudal Isfahan. Direktur Jenderal IAEA menyatakan telah terdeteksi "beberapa dampak" di Natanz dan satu serangan di Isfahan, meski disebutnya bukan skala besar.
Serangan Balasan Iran ke Israel dan Kawasan Teluk
Iran tidak tinggal diam. IRGC mengklaim telah melancarkan serangan terhadap setidaknya 27 pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv dan kota-kota lain. Sejak awal perang, Iran telah mengirim ratusan rudal dan drone ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Pada 9 Maret, Iran mengumumkan gelombang serangan rudal baru ke Israel. Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sebagian besar rudal, namun puing-puing intersepsi dilaporkan jatuh di tiga wilayah berbeda. Pada hari yang sama, Turki — yang berbatasan dengan Iran — mengumumkan untuk kedua kalinya bahwa pertahanan NATO berhasil menembak jatuh sebuah rudal balistik Iran yang memasuki wilayah udaranya.
Negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan Iran antara lain:
| Negara | Kejadian Terbaru |
|---|---|
| Bahrain | 32 orang terluka termasuk anak-anak dalam serangan drone Iran di Sitra; Bapco Energies menyatakan force majeure; sirene peringatan diaktifkan di seluruh negeri |
| Qatar | Dua rudal balistik menghantam pangkalan Al Udeid; Qatar Airways menangguhkan semua penerbangan; lebih dari 300 orang ditangkap atas penyebaran "informasi menyesatkan" |
| Arab Saudi | Dua warga negara Bangladesh tewas di Al-Kharj; drone dicegat di padang Rub al-Khali menuju ladang minyak Shaybah; AS memerintahkan evakuasi personel diplomatik non-darurat |
| Kuwait | Enam anggota Cadangan Angkatan Darat AS tewas akibat serangan drone; produksi minyak mulai dikurangi karena kapasitas penyimpanan penuh |
| UEA | Kementerian Pertahanan menyatakan sistem pertahanan udara sedang menangani ancaman rudal dan drone Iran yang masuk |
Korban Jiwa dan Krisis Kemanusiaan
Angka korban terus meningkat. Hingga 9–10 Maret 2026, laporan berbagai sumber mencatat gambaran yang suram:
- Iran: Lebih dari 1.332 warga sipil dilaporkan tewas, dengan ribuan lainnya terluka. Per 7 Maret, Palang Merah Iran melaporkan lebih dari 6.668 unit permukiman sipil telah menjadi sasaran serangan.
- Lebanon: Sedikitnya 394 orang tewas termasuk 83 anak-anak, akibat serangan Israel yang menyasar infrastruktur Hizbullah di Beirut selatan. Lebih dari 95.000 warga mengungsi.
- Israel: Sedikitnya 13 warga sipil Israel tewas dan 1.929 lainnya terluka akibat serangan rudal Iran.
- AS: Delapan prajurit AS telah gugur. Yang terbaru adalah Sersan Benjamin N. Pennington, 26 tahun, dari Kentucky, yang meninggal pada 8 Maret akibat luka yang diderita saat serangan Iran di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, pada 1 Maret. Ia bertugas di 1st Space Battalion, 1st Space Brigade.
PBB memperkirakan sedikitnya 330.000 orang telah terpaksa mengungsi di seluruh kawasan Timur Tengah akibat eskalasi kekerasan ini.
Insiden Sekolah: Tuduhan Kejahatan Perang
Salah satu insiden paling kontroversial dalam konflik ini adalah serangan terhadap sebuah sekolah dasar perempuan di Iran selatan, yang menewaskan lebih dari 160 orang — sebagian besar anak-anak. Human Rights Watch menyerukan agar insiden ini diselidiki sebagai kejahatan perang. Investigasi Al Jazeera menyimpulkan bahwa penargetan sekolah tersebut kemungkinan besar bersifat "disengaja". Rekaman baru yang dianalisis CNN menunjukkan pangkalan angkatan laut yang berdekatan dengan sekolah tersebut memang menjadi target serangan AS.
Selain itu, Human Rights Watch merilis laporan pada 9 Maret yang menyatakan terdapat bukti Israel menggunakan white phosphorus — bahan pembakar yang dilarang digunakan di kawasan permukiman — di wilayah selatan Lebanon, yang merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Front Lebanon: Hizbullah dan Eskalasi di Beirut
Hizbullah, kelompok bersenjata Lebanon yang didukung Iran, resmi memasuki konflik pada 2 Maret dengan menembakkan roket ke wilayah utara Israel. Israel membalas dengan memperluas operasinya ke wilayah Lebanon. Dalam serangan 9 Maret, Israel menghantam kawasan Ghobeiry di Beirut selatan — rekaman yang diverifikasi Al Jazeera menunjukkan ledakan besar disertai kepulan asap tebal.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan serangan roket Hizbullah ke Israel utara merupakan upaya untuk "memancing" Israel ke dalam konflik langsung dengan Lebanon. Pemerintah Lebanon menyerukan dialog dengan Israel untuk mengakhiri pertempuran. Israel tidak segera merespons seruan tersebut.
Pada 9 Maret, Israel dilaporkan membunuh komandan Hizbullah Zaid Ali Jumaa di Beirut, yang disebutkan sebagai tokoh senior dalam operasi roket dan drone kelompok tersebut. Angkatan Laut Israel juga dilaporkan menewaskan seorang komandan Hamas yang melatih operatif di Lebanon dalam serangan dekat Tripoli.
Dampak Ekonomi: Minyak Mendidih, Pasar Gonjang-Ganjing
Konflik ini telah memicu kekacauan di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 119,50 dolar AS per barel dan bertahan di atas angka 100 dolar — level yang belum pernah terjadi sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, secara efektif telah terganggu.
Harga bahan bakar di AS naik hampir 50 sen per galon — sekitar 17% — sejak perang dimulai. White House Press Secretary Karoline Leavitt menyebut kenaikan ini sebagai "gangguan jangka pendek". Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mendesak Trump untuk mengetuk cadangan minyak strategis nasional (Strategic Petroleum Reserve) guna meredam harga.
Kuwait melaporkan telah mulai memangkas produksi di beberapa ladang minyak karena kapasitas penyimpanan penuh. Bahrain menyatakan force majeure untuk operasi Bapco Energies. Pasar saham global anjlok pada awal pekan ini seiring kepanikan investor atas ancaman gangguan pasokan energi regional.
Posisi Diplomatik dan Reaksi Internasional
Trump dan AS: "Menyerah Tanpa Syarat atau Tidak Ada Kesepakatan"
Presiden Trump secara konsisten menuntut Iran menyerahkan diri secara "unconditional surrender" (menyerah tanpa syarat) sebagai syarat mengakhiri perang. Dalam konferensi pers pertamanya sejak perang dimulai, Trump menyatakan bahwa AS dan Israel telah mencapai "kemajuan besar" menuju tujuan militer mereka, dan beberapa tujuan sudah "hampir selesai". Ia juga menegaskan bahwa penentuan akhir perang adalah hak AS, bukan Israel semata.
Pada 10 Maret, Trump menyatakan kepada Al Jazeera bahwa konflik ini akan berakhir "sangat segera" — meski bukan dalam minggu ini.
Iran: Tolak Negosiasi, Siap Perang Panjang
Penasihat kebijakan luar negeri kantor Supreme Leader, Kamal Kharazi, mengecualikan kemungkinan diplomasi untuk saat ini kepada CNN dan menyatakan perang hanya akan berakhir melalui rasa sakit ekonomi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan Iran tidak berminat bernegosiasi selama masih berada di bawah serangan.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir-Saeid Iravani, dalam sidang Dewan Keamanan PBB menyatakan AS dan Israel "tidak mengenal batas merah" dan menuduh keduanya melakukan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan.
Posisi Negara-negara Lain
Serangan AS–Israel mendapatkan dukungan — penuh atau sebagian — dari sejumlah negara termasuk Inggris, Jerman, Prancis, Australia, Kanada, dan beberapa negara Eropa lainnya. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan izin penggunaan pangkalan militer AS di RAF Fairford untuk pesawat pengebom B-1 Lancer dan mengirimkan jet tempur Typhoon tambahan ke Qatar untuk patroli pertahanan udara.
Sementara itu, Rusia dilaporkan memberikan intelijen kepada Iran mengenai posisi militer AS. Kremlin menyebutkan adanya "peningkatan permintaan yang signifikan" untuk produk energi Rusia akibat perang ini. China, Pakistan, Brazil, dan Rusia termasuk negara-negara yang menentang serangan tersebut.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan Eropa "mendukung" serangan AS karena Iran merupakan "ancaman". Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dilaporkan mendukung regime change di Iran.
Catatan Intelijen dan Analisis
Laporan yang dikerjakan oleh US National Intelligence Council dan dikutip oleh The Washington Post menyimpulkan bahwa serangan besar-besaran yang dipimpin AS kemungkinan besar "tidak akan" menjatuhkan pemerintah Iran. Laporan tersebut juga menggambarkan prospek oposisi Iran yang terpecah-belah untuk mengambil alih kekuasaan sebagai "tidak mungkin".
Pentagon secara terpisah mengakui kepada staf Kongres bahwa Iran tidak berencana menyerang pasukan AS kecuali jika Israel menyerang Iran terlebih dahulu — sebuah pengakuan yang bertentangan dengan klaim pemerintahan Trump tentang "ancaman yang segera terjadi" sebagai alasan serangan pertama.
Insiden Khusus: Tim Sepak Bola Wanita Iran di Australia
Di sela perang, lima anggota tim sepak bola nasional wanita Iran yang sedang bertanding di Piala Asia Wanita di Australia melarikan diri dari hotel tim dan meminta suaka, menurut sumber CNN. Televisi Iran menyebut mereka sebagai "pengkhianat" setelah menolak menyanyikan lagu kebangsaan dalam pertandingan awal. Trump menawarkan suaka AS kepada para pemain tersebut.
Rangkuman Data Korban dan Statistik Perang (per 10 Maret 2026)
| Pihak / Wilayah | Tewas | Terluka |
|---|---|---|
| Iran (warga sipil) | 1.332+ | Ribuan |
| Lebanon | 394+ (83 anak) | 600+ |
| Israel | 13+ | 1.929+ |
| AS (prajurit) | 8 | – |
| Pengungsi (seluruh kawasan) | 330.000+ (UNHCR) | |
| Target diserang CENTCOM | 3.000+ target di Iran; 43 kapal perang Iran dihancurkan | |
Ke Mana Perang Ini Menuju?
Pada hari ke-11, tidak ada tanda-tanda de-eskalasi. Iran menegaskan siap berperang panjang dan mengancam akan menyerang infrastruktur energi kawasan. AS bersikukuh menuntut penyerahan tanpa syarat. Sementara itu, pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengonsolidasikan kekuasaannya dengan dukungan IRGC — sinyal bahwa kebijakan Iran tidak akan berubah arah.
Al Jazeera pada 10 Maret melaporkan bahwa Trump menyatakan konflik ini akan berakhir "sangat segera" — sementara di sisi lain, seorang pejabat senior Iran menyebutnya sebagai "fase baru" dari perang yang belum akan berakhir dalam waktu dekat. Dunia menyaksikan konflik terbuka pertama antara kekuatan nuklir Amerika dan Israel melawan Iran, dengan dampak geopolitik, energi, dan kemanusiaan yang terus meluber jauh melampaui batas-batas kawasan.
"Kami telah menetapkan pemimpin baru. Kami akan terus berjuang." — Pejabat Iran, sebagaimana dikutip oleh CNN, 9 Maret 2026
Catatan Redaksi: Reportase ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, Reuters, NPR, dan CBS News per Selasa, 10 Maret 2026, pukul 12.00 WIB. Angka korban bersifat dinamis dan terus diperbarui oleh sumber resmi setempat.