Day 7: Iran Under Fire – Serangan AS dan Israel Kian Intensif, Tehran Bersumpah Melawan di Tengah Kekacauan Regional
Day 7: Iran Under Fire – Serangan AS dan Israel Kian Intensif, Tehran Bersumpah Melawan di Tengah Kekacauan Regional
Tehran, 6 Maret 2026 — Sirene peringatan udara meraung tanpa henti di langit Tehran malam ini. Ledakan demi ledakan mengguncang distrik-distrik pusat kota, menyisakan bola api yang menerangi jalan-jalan gelap. Warga berlarian mencari perlindungan di basement dan terowongan metro, wajah mereka penuh debu dan ketakutan. Bau asap dan bahan bakar membakar hidung, sementara suara jet tempur Israel dan drone AS bergemuruh di atas kepala.
Serangan Mencapai Puncak dalam 24 Jam Terakhir
Dalam 24 jam terakhir, serangan udara gabungan AS-Israel mencapai intensitas tertinggi sejak konflik dimulai. Bomber B-2 Spirit milik AS menjatuhkan puluhan bom seberat 2.000 pon ke situs peluncur rudal balistik bawah tanah Iran, menurut pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM). Serangan ini diklaim menyebabkan penurunan hingga 90% dalam laju serangan rudal Iran terhadap Israel dan sekutu Teluknya.
Target utama meliputi markas IRGC di Tehran, fasilitas penyimpanan rudal di Isfahan, dan infrastruktur pertahanan udara di sekitar Natanz. Israel melaporkan berhasil mencegat sebagian besar serangan balasan Iran, termasuk gelombang drone dan rudal cluster yang menargetkan Tel Aviv dan Haifa. AS menyatakan telah menenggelamkan kapal induk drone Iran yang beroperasi di Teluk Persia.
Iran membalas dengan serangan ke basis AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain, serta meluncurkan rudal ke wilayah Israel yang menyebabkan kerusakan terbatas namun menewaskan sedikitnya 12 warga sipil Israel.
Statistik Korban hingga Hari ke-7
| Wilayah | Tewas | Keterangan |
|---|---|---|
| Iran | 1.332+ | Termasuk 171 anak-anak (klaim Iran) |
| Israel | 12 | Lebih dari 1.400 luka-luka |
| Lebanon | 123 | 83.000 pengungsi akibat serangan ke Hezbollah |
| Basis AS di Teluk | Terbatas | Operasi minyak terganggu serangan drone |
Latar Belakang dan Kronologi Konflik
Konflik ini meletus pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel meluncurkan operasi gabungan: Operation Epic Fury (AS) dan Operation Roaring Lion (Israel). Serangan awal berfokus pada decapitation strikes — pembunuhan bertarget terhadap pimpinan tertinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara ke kompleksnya di Tehran. Dalam 12 jam pertama, hampir 900 target dihantam, meliputi instalasi nuklir, situs rudal, dan pusat komando.
Kronologi Hari per Hari
1 Maret (Hari ke-2): Iran melancarkan Operation True Promise IV, menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel serta basis AS di Irak, Yordania, dan negara Teluk. Proxy Iran — Hezbollah di Lebanon dan milisi PMF di Irak — bergabung menyerang Israel utara. Israel membalas ke Beirut selatan, memicu evakuasi massal.
3–4 Maret (Hari ke-4 & 5): Serangan AS-Israel menghancurkan sekitar 300 peluncur rudal Iran menurut IDF. Iran menutup sementara Selat Hormuz, mengganggu lalu lintas minyak global. Serangan menyebar ke Lebanon, Irak, dan Siprus; NATO mengerahkan pertahanan udara.
5–6 Maret (Hari ke-6 & 7): Dominasi udara AS-Israel hampir total. Jet F-35 dan B-2 menargetkan sisa-sisa pertahanan udara Iran. Iran masih melancarkan serangan hybrid termasuk rudal cluster ke Tel Aviv, namun laju serangan menurun drastis. Malam ini Tehran kembali diguncang.
Kesaksian dari Lapangan
"Kami kehabisan tempat tidur. Korban datang tanpa henti — anak-anak, perempuan, lansia. Banyak luka bakar parah dari bom fosfor. Kami bekerja tanpa listrik, hanya dengan generator yang hampir mati."
— Dokter rumah sakit darurat, Tehran (kepada Al Jazeera)
"Israel memerintahkan evakuasi empat lingkungan. Orang-orang lari dengan apa adanya. Ledakan dari serangan ke Hezbollah mengguncang tanah setiap beberapa menit."
— Relawan di Beirut selatan
Pernyataan Para Pemimpin
Pihak AS & Israel
Pejabat militer Israel menyatakan: "Kami telah mencapai superioritas udara penuh atas Iran. Operasi kami menghancurkan kemampuan rudal mereka secara signifikan."
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan: "Kami baru saja memulai. Kekuatan api atas Iran dan Tehran akan melonjak secara dramatis."
Pihak Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam wawancara dengan NBC News menegaskan: "Kami tidak takut invasi darat AS. Kami menunggu mereka. Itu akan menjadi bencana besar bagi mereka."
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menambahkan: "Pasukan kami siap dan 'menunggu' invasi apa pun."
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi
Di Iran, rumah sakit kewalahan, obat-obatan langka, dan jutaan warga mengungsi ke pedesaan. Infrastruktur hancur: pelabuhan, kilang minyak, dan jaringan listrik lumpuh. Listrik padam di sebagian besar ibu kota malam ini.
Harga minyak dunia melonjak tajam akibat ancaman penutupan Selat Hormuz — jalur yang memasok sekitar 20% kebutuhan energi global. Ancaman ini mendorong inflasi dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Reaksi Internasional
PBB menyerukan de-eskalasi segera. Sekretaris Jenderal memperingatkan bahwa "tidak ada solusi militer" atas konflik ini dan mengecam pelanggaran Piagam PBB. Para ahli hak asasi manusia PBB menyebut serangan AS-Israel sebagai "tidak sah" dan menuntut akuntabilitas.
China dan Rusia memilih menahan diri, meski Rusia disebut "tidak dapat diandalkan" sebagai sekutu Iran. Eropa meningkatkan pertahanan udara setelah serangan Iran ke Siprus. Arab Saudi mencegat drone Iran yang mendekati Riyadh.
Analisis: Ke Mana Konflik Ini Menuju?
Analis geopolitik menilai risiko eskalasi masih sangat tinggi. Proxy Iran — Hezbollah, Houthis, milisi Irak — tetap aktif meski melemah. Tujuan AS-Israel tampaknya adalah regime change tanpa invasi darat penuh, namun kekosongan kekuasaan di Iran pasca-Khamenei menciptakan Interim Leadership Council yang rapuh dan penuh ketidakpastian.
Jika Iran berhasil merebut kembali kemampuan rudalnya, atau jika proxy-nya melancarkan serangan besar ke basis AS, konflik ini berpotensi meluas menjadi perang regional yang menyeret lebih banyak negara.
Malam ini, ketegangan masih menggantung tebal di udara Tehran. Sirene kembali berbunyi. Warga bersembunyi, menunggu gelombang berikutnya. Besok bisa membawa invasi darat — atau diplomasi mendadak. Tetapi untuk saat ini, perang ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Ledakan demi ledakan mengingatkan semua pihak: hari-hari mendatang mungkin lebih gelap lagi.
Laporan ini disusun berdasarkan sumber-sumber: Al Jazeera, NBC News, IDF Spokesman, CENTCOM, Palang Merah Iran, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa — per 6 Maret 2026.