Hari Kelima Perang Iran–Israel–AS: 1.000 Lebih Warga Iran Tewas, Angkatan Laut Iran Dihabisi, Senat AS Tolak Pembatasan Perang
Hari Kelima Perang Iran–Israel–AS: 1.000 Lebih Warga Iran Tewas, Angkatan Laut Iran Dihabisi, Senat AS Tolak Pembatasan Perang
Jakarta, 5 Maret 2026 — Perang terbuka antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel memasuki hari kelima dengan eskalasi yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Ledakan kembali terdengar di Teheran sejak semalam hingga pagi ini. Korban jiwa di Iran melampaui angka 1.000. Angkatan laut Iran dinyatakan hampir lumpuh total. Dan di Washington, Senat Amerika Serikat secara resmi menolak resolusi yang mencoba membatasi kekuatan perang presiden terhadap Iran — memberi lampu hijau penuh kepada Trump untuk melanjutkan operasi tanpa batas legislatif.
Lebih dari 1.000 Warga Iran Tewas: Teheran Kembali Diguncang
Angka korban jiwa di Iran melonjak dramatis. Per pagi 5 Maret, laporan mengindikasikan antara 940 hingga lebih dari 1.045 orang tewas sejak serangan pertama dilancarkan pada 28 Februari — termasuk Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan awal. Korban mencakup warga sipil, pejabat militer, dan aparat pemerintahan Iran di berbagai lapisan.
Gelombang serangan baru AS–Israel kembali menghantam Teheran semalam dalam apa yang dilaporkan sebagai "broad wave of strikes" — serangan luas yang menyasar infrastruktur, fasilitas militer, situs kepemimpinan, dan sejumlah target strategis di ibu kota Iran. Ledakan terdengar di berbagai penjuru Teheran hingga memasuki pagi ini.
Di pihak Israel, sekitar 11 warga sipil tewas akibat rudal balistik Iran yang berhasil menembus sistem pertahanan. Di Lebanon, puluhan orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Israel terhadap posisi Hezbollah. Angka korban tentara AS bervariasi antar sumber, namun CENTCOM mengkonfirmasi sejumlah personel gugur dalam insiden-insiden di kawasan Teluk.
Angkatan Laut Iran Dihabisi: 87 Jenazah Ditemukan, 20 Lebih Kapal Ditenggelamkan
Salah satu perkembangan paling signifikan hari ini datang dari laporan CENTCOM: sebuah kapal perang Iran berhasil ditenggelamkan oleh kapal selam AS, dengan 87 jenazah ditemukan. Lebih dari 20 kapal Iran diklaim telah diserang atau ditenggelamkan oleh kekuatan AS sejak operasi dimulai.
Jika angka ini akurat, angkatan laut Iran secara efektif sudah tidak lagi mampu menjadi kekuatan proyeksi yang berarti di kawasan. Ini adalah kehancuran kapasitas maritim Iran yang paling masif sejak Operasi Praying Mantis pada 1988 — ketika AS menghancurkan separuh armada Iran dalam satu hari pertempuran di Teluk Persia.
Israel juga mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur Iran dan melanjutkan operasi terhadap Hezbollah di Lebanon secara bersamaan — menunjukkan bahwa Israel Defense Forces (IDF) kini bertempur di dua front secara simultan: udara Iran dan darat Lebanon.
Iran Masih Punya Stok Rudal "Beberapa Hari" — Tapi Udara dan Laut Sudah Habis
Meskipun serangan AS–Israel telah menghancurkan sebagian besar kemampuan angkatan udara dan angkatan laut Iran, analisis terbaru menyebutkan bahwa Iran masih memiliki stok rudal balistik yang cukup untuk "beberapa hari" operasi ke depan. Iran terus melancarkan setidaknya beberapa barrage rudal balistik ke Israel sejak kemarin, serta mempertahankan serangan drone dan rudal ke basis-basis AS di kawasan Teluk, termasuk UEA, Qatar, dan Bahrain.
Strategi Iran kini semakin jelas sebagai pertempuran attrition — menguras stok interceptor sistem pertahanan Israel dan negara-negara Teluk sebelum gelombang serangan berikutnya. Selama stok rudal Iran belum habis sepenuhnya, ancaman terhadap Israel dan kawasan tetap nyata.
Selat Hormuz tetap ditutup efektif oleh IRGC. Gangguan pelayaran semakin parah — dan laporan mulai masuk bahwa sejumlah warga negara Indonesia terjebak di kawasan Teluk akibat penutupan jalur laut dan udara.
Hegseth: AS "Baru Saja Mulai" — Senat Tolak Pembatasan Kekuatan Perang
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengeluarkan pernyataan yang paling keras sejauh ini: Amerika Serikat "baru saja mulai" dan akan menyerang lebih dalam ke Iran. Pernyataan ini datang bersamaan dengan kabar bahwa Senat AS secara resmi menolak resolusi yang berupaya membatasi kewenangan presiden dalam menggunakan kekuatan militer terhadap Iran — sebuah war powers vote yang gagal dan praktis memberi Trump mandat legislatif penuh untuk melanjutkan dan memperluas operasi tanpa persetujuan Kongres lebih lanjut.
Trump sendiri menyatakan kemajuan operasi "luar biasa" ("tremendous"), dengan menegaskan bahwa angkatan udara dan angkatan laut Iran sudah "dihancurkan". Ia memproyeksikan perang masih akan berlangsung empat hingga lima minggu — namun dengan Senat sudah menutup pintu pembatasan legislatif, tidak ada hambatan formal yang tersisa bagi eskalasi lebih jauh.
Iran Tuduh AS–Israel Dukung Pemberontakan Separatis Internal
Di luar medan perang fisik, Iran melontarkan tuduhan bahwa AS dan Israel secara aktif mendukung gerakan separatis internal — termasuk kelompok Kurdi di barat Iran — sebagai bagian dari strategi destabilisasi dari dalam. Ini mencerminkan kekhawatiran Teheran bahwa regime change yang menjadi tujuan deklarat operasi AS–Israel tidak hanya dikejar melalui bom, tetapi juga melalui pembakaran sentimen etnis dan regional di dalam negeri Iran yang secara demografis memang majemuk.
Konflik juga terus meluas secara geografis. Insiden di Cyprus menyangkut aset Inggris yang berpotensi membawa NATO ke dalam kalkulasi. Serangan ke Samudra Hindia yang diklaim IRGC menambah dimensi baru. Dan Houthi dari Yaman serta Hamas dari Gaza disebut-sebut sebagai variabel yang masih menunggu waktu untuk aktif kembali.
Lima Hari: Neraca yang Belum Seimbang
Lima hari setelah eskalasi terbuka dimulai, gambaran yang muncul adalah asimetri yang dalam: Iran kehilangan kepemimpinan tertingginya, sebagian besar angkatan udara dan angkatan lautnya, ribuan target militer — namun belum runtuh. IRGC masih beroperasi. Rudal balistik masih terbang. Dan di Washington, tidak ada satu pun rem legislatif yang tersisa untuk menghentikan mesin perang yang sudah bergerak dengan momentum penuhnya.
Yang paling mendesak untuk dipantau dalam 24 jam ke depan adalah apakah stok rudal Iran yang diklaim tinggal "beberapa hari" benar-benar habis — dan apa yang akan dilakukan Iran ketika tidak lagi punya amunisi untuk membalas, namun serangan AS–Israel masih terus berdatangan.
Laporan berdasarkan data Al Jazeera, CNN, Reuters, AP, Understanding War, dan pernyataan resmi militer AS hingga pagi 5 Maret 2026. Situasi sangat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan jam.