Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-13: Operasi Paling Dahsyat Iran, Tiga Kapal Tenggelam di Hormuz, dan Biaya Perang Tembus 11 Miliar Dolar
Perang Iran–Israel–AS Hari Ke-13: Operasi Paling Dahsyat Iran, Tiga Kapal Tenggelam di Hormuz, dan Biaya Perang Tembus 11 Miliar Dolar
Reportase | Kamis, 12 Maret 2026 | Disusun dari: Al Jazeera, CNN, Reuters, NPR, NBC News, Newsweek, ABC News, Iran International
Perang terbuka Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-13 pada Kamis pagi, 12 Maret 2026, dengan eskalasi yang semakin mengkhawatirkan di semua lini. Iran melancarkan apa yang disebutnya "operasi paling intens dan paling berat sejak perang dimulai" — menembakkan rudal balistik jarak jauh tercanggihnya ke Tel Aviv dan Haifa, menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, dan membakar dua tanker di perairan Irak. Di Washington, badai politik menguat: Kongres marah, biaya perang menembus 11,3 miliar dolar dalam enam hari pertama saja, dan Senat menuntut Gedung Putih membuka diri di hadapan publik. Sementara itu, terungkap bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, terluka dalam serangan pembukaan perang — namun belum satu kali pun muncul di depan publik.
"Kami akan terus melancarkan serangan dengan tujuan dan kekuatan yang berkelanjutan. Perang ini hanya akan berakhir ketika bayang-bayang perang telah diangkat dari negara kami." — IRGC, statement resmi, 11 Maret 2026 (CNN)
Iran Luncurkan Operasi Paling Dahsyat: Rudal Khorramshahr ke Tel Aviv dan Haifa
Malam 11 menjelang 12 Maret 2026 menjadi salah satu malam paling mematikan sejak perang dimulai. IRGC mengumumkan telah melancarkan "operasi paling intens dan paling berat" sepanjang konflik berlangsung. Serangan mencakup peluncuran rudal balistik jarak jauh Khorramshahr — salah satu rudal paling canggih yang dimiliki Iran, dengan hulu ledak di atas 1,5 ton — mengarah ke Tel Aviv dan Haifa di Israel.
Militer Israel menyatakan sistem pertahanan udara aktif mencegat gelombang serangan tersebut. Sirene peringatan berbunyi di seluruh Israel tengah pada Rabu pagi — meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari serangan langsung. Di Beirut, ledakan besar mengguncang kawasan selatan kota setelah Israel melancarkan babak baru serangan ke markas-markas Hizbullah, dengan kobaran api besar terlihat dari jarak jauh.
Iran juga menyerang Pangkalan Udara Ramat David di Israel utara dan Bandara Haifa. IRGC mengklaim serangan terhadap markas intelijen militer Israel, sebuah pangkalan angkatan laut di Haifa, dan sistem radar. Secara bersamaan, Iran terus menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain.
Selat Hormuz Membara: Tiga Kapal Diserang, Dua Tanker Terbakar di Irak
Selat Hormuz semakin panas. Pada Rabu dini hari 12 Maret, sedikitnya tiga kapal diserang di sekitar jalur perairan tersebut, menurut UK Maritime Trade Operations, lembaga pengawas maritim militer Inggris. Kapal-kapal itu mengibarkan bendera Jepang, Thailand, dan Kepulauan Marshall. IRGC menyatakan secara spesifik telah menyerang sebuah kapal berbendera Liberia yang diklaim dimiliki Israel, dan sebuah kapal bulk carrier berbendera Thailand.
Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa setiap kapal yang ingin melewati Selat Hormuz kini harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Iran — atau menghadapi serangan. Kapal bulk carrier berbendera Thailand, Mayuree Naree, yang berangkat dari Pelabuhan Khalifa, UEA, diserang dan terbakar saat menavigasi perairan Selat Hormuz di lepas pantai Oman. Sebuah kapal kontainer berbendera Jepang, One Majesty, mengalami kerusakan di bagian buritan saat berlabuh di Teluk Persia, sekitar 52 mil laut dari Selat Hormuz.
Lebih dari selusin kapal telah diserang sejak perang dimulai — sebuah serangan sistematis yang efektif menutup jalur pelayaran terpenting di dunia. Di Irak, Iran melangkah lebih jauh: dua tanker dibakar di perairan teritorial Irak sebagai eskalasi serangan terhadap infrastruktur minyak kawasan. Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi harga minyak yang menembus 200 dolar AS per barel.
AS merespons dengan menghancurkan 16 kapal minelayer Iran di dekat Selat Hormuz pada Selasa — sebuah operasi yang ditujukan untuk mencegah Iran menutup selat secara fisik dengan ranjau laut. Trump memperingatkan Iran di media sosial atas peletakan ranjau tersebut.
Mojtaba Khamenei: Terluka, Belum Muncul di Publik
Satu fakta mengejutkan yang terungkap pada 11–12 Maret adalah kondisi fisik Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. CNN mengonfirmasi dari sumber yang mengetahui situasinya bahwa Mojtaba terluka dalam gelombang pertama serangan AS–Israel pada 28 Februari — yakni serangan yang juga menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Dua sumber Israel menyatakan kepada ABC News bahwa cedera Mojtaba mencakup tulang kaki yang patah, memar di sekitar mata kiri, dan luka sayatan di wajah. Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, mengkonfirmasi kepada harian The Guardian bahwa Mojtaba terluka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayah dan beberapa anggota keluarganya. Putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Yousef, menyatakan kepada ISNA bahwa pemimpin baru tersebut "aman dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan".
Media negara Iran dan jaringan propaganda telah mengisi kekosongan penampilan publik Mojtaba dengan memutar rekaman arsip lama, bahkan menggunakan gambar-gambar yang dibuat dengan artificial intelligence. Nama resmi yang kini digunakan media negara Iran untuk Mojtaba adalah "pemimpin tertinggi veteran perang yang terluka" — sebuah narasi yang memposisikannya sebagai martir hidup di tengah bangsa yang sedang berperang.
Biaya Perang: 11,3 Miliar Dolar dalam Enam Hari Pertama
Dalam briefing tertutup di Capitol Hill, Selasa 11 Maret, pejabat Pentagon memaparkan kepada sekelompok senator bahwa biaya operasi militer AS dalam enam hari pertama perang — dari 28 Februari hingga 5 Maret — telah mencapai sedikitnya 11,3 miliar dolar. Angka ini pertama kali dilaporkan oleh The New York Times dan dikonfirmasi oleh ABC News.
Senator Chris Coons memperkirakan biaya harian perang ini "jauh di atas 1,5 miliar dolar per hari". Seluruh dana yang telah dikeluarkan sejauh ini berasal dari anggaran Pentagon yang sudah dialokasikan Kongres — bukan dari dana tambahan yang baru. Kongres belum mendapatkan permintaan supplemental funding dari Gedung Putih. Ini berarti anggaran pertahanan reguler AS sedang terkuras oleh perang ini, dan para legislator dari dua partai menuntut transparansi.
Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), 100 jam pertama Operation Epic Fury saja menelan biaya sekitar 3,7 miliar dolar, sebagian besar tidak dianggarkan. Para analis menyoroti ketidakseimbangan biaya yang sangat merugikan AS: satu drone Shahed Iran hanya berharga 50.000 dolar untuk diproduksi, sementara satu pencegat Patriot berharga 4 juta dolar dan satu pencegat THAAD mencapai 12 juta dolar.
"Matematikanya sama sekali tidak menguntungkan AS." — Analisis para pakar, dikutip The New York Times, 11 Maret 2026 (Wikipedia / 2026 Iran war)
Krisis Energi: IEA Lepas 400 Juta Barel, Harga Tetap Membara
International Energy Agency (IEA) mengumumkan bahwa negara-negara anggotanya telah menyetujui secara bulat pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional mereka. AS sendiri akan melepas 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), dimulai pekan depan, dan akan membutuhkan sekitar 120 hari untuk distribusi penuh. Namun langkah ini gagal mendorong turun harga minyak secara signifikan.
Harga minyak mentah ringan AS untuk pengiriman ke Asia melonjak 47 persen menjadi 115 dolar per barel sejak serangan pertama, menurut Argus Media. Tarif angkutan LNG dari AS lebih dari empat kali lipat, dengan setidaknya empat kargo LNG dialihkan dari Eropa ke Asia yang haus energi. Vietnam mengeluarkan imbauan agar pegawai bekerja dari rumah untuk menghemat bahan bakar. Indonesia dan Pakistan dilaporkan hanya memiliki cadangan bahan bakar yang cukup untuk beberapa pekan ke depan.
Iran membakar dua tanker di perairan Irak dan memperingatkan dunia bersiap menghadapi harga 200 dolar per barel — sebuah ancaman yang diperhitungkan pasar dengan serius mengingat lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia masih melewati jalur Hormuz yang kini dalam kondisi perang.
Badai Politik di Washington: Kongres Marah, Perang Tanpa Mandat
Ketegangan antara eksekutif dan legislatif AS semakin tajam. Senator Demokrat Chris Murphy, setelah mengikuti briefing rahasia dua jam di Capitol Hill, menyatakan rencana perang Trump "tidak koheren dan tidak lengkap" dan memperingatkan konflik ini bisa berubah menjadi "perang tanpa akhir". Murphy menegaskan Trump tidak mampu mempertahankan perang ini secara terbuka di hadapan publik.
Kongres belum menyetujui pendanaan tambahan untuk perang ini. Para legislator dari dua partai menuntut dengar pendapat publik tentang tujuan, strategi, dan biaya perang. Gedung Putih hingga pagi 12 Maret belum mengajukan permintaan dana tambahan ke Kongres.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pembahasan mengenai kemungkinan penerapan kembali sanksi snapback terhadap Iran pada Kamis 12 Maret, atas permintaan Duta Besar AS untuk PBB.
Israel: Operasi Roaring Lion Tanpa Batas Waktu
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pada Rabu bahwa kampanye militer Israel di dalam Iran — yang secara internal disebut Roaring Lion — akan berlangsung tanpa batas waktu, hingga "semua tujuan tercapai dan perang dimenangkan secara menentukan", meski ia tidak merinci apa saja tujuan tersebut.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar memberikan klarifikasi penting: regime change secara eksplisit bukan tujuan Israel, melainkan Israel berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan tersebut terjadi dari dalam. Sa'ar mengakui bahwa Israel tidak dapat menjatuhkan rezim Iran sendiri, dan bahwa rakyat Iran-lah yang pada akhirnya harus bertindak — meski ia menambahkan bahwa tanpa bantuan eksternal, rakyat Iran "tidak memiliki peluang" untuk menggulingkan rezim.
Sa'ar juga menyebutkan adanya "retakan yang terlihat" di dalam kepemimpinan Iran, meskipun mengakui bahwa tokoh-tokoh garis keras masih mengendalikan pemerintahan. Sementara itu PM Israel Netanyahu dalam pernyataan publiknya menyebut perang ini sebagai "kesempatan sekali seumur hidup" bagi rakyat Iran untuk membebaskan diri dari kepemimpinan para ulama.
AS meminta Israel untuk tidak lagi menargetkan fasilitas minyak Iran — menyusul dampak lingkungan dan kesehatan yang parah dari serangan terhadap kilang-kilang minyak Teheran yang menciptakan "hujan hitam" beracun. Israel dilaporkan telah menyetujui permintaan ini.
Lebanon: 634 Tewas, 750.000 Mengungsi — Krisis Kemanusiaan Terburuk
Kantor manajemen bencana pemerintah Lebanon merilis data terbaru pada Rabu: 634 orang tewas dan lebih dari 816.700 orang terpaksa mengungsi sejak serangan Israel dimulai pada 2 Maret. Lebih dari 100.000 orang melarikan diri dari rumah mereka hanya dalam rentang Senin hingga Selasa — sebuah laju pengungsian yang disebut PBB sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya".
WHO melaporkan bahwa 49 pusat layanan kesehatan primer dan lima rumah sakit telah terpaksa tutup akibat konflik. Stadion Sports City di pinggiran Beirut kini menampung sekitar 800 orang yang tinggal dalam tenda tanpa akses toilet dan kamar mandi layak. Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk enam desa tambahan di selatan Lebanon — kini termasuk beberapa komunitas Kristen yang belum pernah menjadi zona konflik sebelumnya.
Paus Leo XIV, dalam pernyataan dari Vatikan, mengenang Pastor Pierre al-Rahi — pastor Maronit Katolik yang tewas ditembak tank Israel saat menolak evakuasi paksa — sebagai "gembala sejati yang tetap bersama komunitasnya hingga akhir". Paus berkata: "Semoga darah yang ia tumpahkan menjadi benih perdamaian bagi Lebanon yang tercinta." Di selatan Tyre, pelayat menguburkan seorang paramedis Palang Merah yang tewas saat memberikan pertolongan kepada korban serangan lainnya.
Iran Mundur dari Piala Dunia 2026
Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali mengumumkan pada Rabu bahwa Iran tidak akan berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 2026 — yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Alasannya: tim tidak dapat bepergian dengan aman ke turnamen yang sebagian diselenggarakan di negara yang ia sebut telah "menghabisi pemimpin kami". Donyamali menyatakan para pemain tidak memiliki jaminan keselamatan.
Irak: Markas PMF Diserang di Al-Qaim
Sebuah serangan udara menghancurkan markas besar Popular Mobilisation Forces (PMF) — kelompok bersenjata pro-Iran — di kota Al-Qaim, barat Irak, dekat perbatasan Suriah. Lebih dari 20 orang tewas atau terluka dalam serangan tersebut, menurut sumber Irak. Selain itu, kelompok Islamic Resistance in Iraq mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Erbil, ibu kota Kurdistan Irak.
Pangkalan Militer Inggris di Siprus Diserang Drone Iran
Dalam perkembangan yang memperluas front konflik ke Mediterania, pangkalan militer Inggris di Siprus dilaporkan terkena serangan drone Iran. Ini merupakan serangan pertama terhadap fasilitas militer NATO anggota Eropa sejak perang dimulai, dan meningkatkan potensi respons langsung dari aliansi pertahanan tersebut.
Peta Situasi Menjelang Siang Hari Ke-13
| Dimensi | Status Terkini |
|---|---|
| Militer AS–Israel vs Iran | 5.000+ target diserang; Iran luncurkan operasi paling dahsyat; 16 minelayer Iran dihancurkan |
| Selat Hormuz | 3+ kapal diserang; 2 tanker terbakar di Irak; Iran klaim izin wajib bagi semua kapal |
| Lebanon | 634 tewas; 816.700+ mengungsi; fasilitas kesehatan banyak ditutup paksa |
| Iran (dalam negeri) | 1.300+ warga sipil tewas; 10.000 situs sipil dibom; Mojtaba Khamenei terluka, belum muncul publik |
| Energi | IEA lepas 400 juta barel; AS lepas 172 juta barel SPR; harga tetap tinggi ~$115–120/barel |
| Biaya perang AS | $11,3 miliar dalam 6 hari pertama; diperkirakan $1,5 miliar+ per hari |
| Diplomatik | DK PBB bahas snapback sanctions hari ini; Iran: syarat gencatan senjata adalah henti serangan dulu |
| Front baru | Drone Iran serang pangkalan Inggris di Siprus; Irak (Al-Qaim, Erbil); UEA, Kuwait, Bahrain, Oman |
Analisis: Jalan Buntu yang Semakin Dalam
Kajian yang diterbitkan Al Jazeera bertajuk "12 Days: How the 2025 Iran Blueprint Trapped US and Israel in a Longer War" menyimpulkan bahwa keputusan AS dan Israel kali ini untuk melampaui sasaran militer dan nuklir — sebagaimana yang menjadi fokus perang 12 hari pada Juni 2025 — menuju "serangan dekapitasi" terhadap kepemimpinan Iran, telah menghancurkan semua aturan main lama dan menyeret kawasan ke dalam perang atrisi tanpa jalan keluar diplomatik.
Pada perang Juni 2025, cakupan serangan yang terbatas masih menyisakan ruang untuk negosiasi, dan Oman berhasil memediasi gencatan senjata pada 24 Juni. Kali ini, tidak ada ruang seperti itu. Iran memperluas peta serangannya ke sembilan negara. Blokade Hormuz mengancam ekonomi global. Dan Iran telah menggeser narasinya dari "mempertahankan diri" ke "perang panjang sampai musuh menyerah total".
Tidak ada indikasi de-eskalasi dalam waktu dekat. Kedua belah pihak menegaskan tekad mereka untuk terus bertempur hingga kemenangan penuh — sementara rakyat sipil Iran, Lebanon, dan kawasan Teluk menanggung beban terberat dari konflik yang kini memasuki pekan keduanya.
Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan pembaruan terkini dari Al Jazeera Live Blog, CNN Live Updates, NBC News, Reuters, NPR, Newsweek, ABC News, Iran International, dan Wikipedia per Kamis, 12 Maret 2026, pagi hingga siang WIB. Angka korban dan kondisi di lapangan bersifat dinamis dan terus diperbarui.