Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ramadhan

Menghindari Sikap Berlebihan Dalam Beragama

Menghindari Sikap Berlebihan Dalam Beragama Oleh: Abdullah Madura Seorang kawan pernah bercerita kepada saya dengan nada bangga: ia selalu berpuasa dua hari sebelum Ramadhan. "Biar aman," katanya. "Biar tidak kelewatan kalau ternyata hilal sudah kelihatan." Niatnya baik. Semangat beragamanya tidak perlu diragukan. Tapi Nabi ﷺ justru melarangnya. Dan di sinilah letak pelajaran yang sering kita abaikan: niat yang baik saja tidak cukup. Ibadah punya jalurnya sendiri. Syariat punya batas-batasnya yang harus dihormati — bukan karena Allah ingin mempersulit, melainkan karena batas itulah yang menjaga kita tetap waras, tenang, dan tidak terjebak dalam kecemasan yang tidak perlu. لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ، إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ "Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali seseorang yang biasa berpuasa (sunnah), maka silakan ia berpuasa....

Kebersamaan dalam Awal dan Akhir Ramadhan

Kebersamaan dalam Awal dan Akhir Ramadhan Oleh: Abdullah Madura Setiap kali Ramadhan mendekat, ada pemandangan yang selalu saya rindukan dari masa kecil di kampung: orang-orang berkumpul di halaman masjid setelah Maghrib, mendongak ke langit barat yang mulai gelap, menunggu bersama. Tidak ada yang sibuk dengan ponselnya. Tidak ada yang bergegas pulang. Semua menunggu satu hal yang sama — hilal. Ketika seseorang berteriak "Ada!" dan yang lain ikut melihat, lalu takbir pecah bersahut-sahutan — itu bukan sekadar momen astronomi. Itu adalah momen umat. Momen ketika ribuan jiwa yang berbeda-beda itu berdenyut dalam satu irama. Rasulullah ﷺ mengajarkan cara menyambut dan mengakhiri Ramadhan dengan sebuah hadits yang tampak sederhana namun menyimpan kedalaman luar biasa: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena mel...

Islam Membangun Keseimbangan Ruhani 24 Jam : Siang Menahan Syahwat, Malam Menguatkan Ruh

Islam Membangun Keseimbangan Ruhani 24 Jam : Siang Menahan Syahwat, Malam Menguatkan Ruh Oleh : Abdullah Madura عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa menegakkan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'" HR. Bukhari dan Muslim Bayangkan seseorang yang seharian menahan lapar, menahan haus, menahan lisan, menahan amarah. Ketika matahari terbenam dan azan Maghrib berkumandang, ia berbuka dengan beberapa teguk air dan kurma. Tubuhnya lelah. Matanya berat. Dan malam baru saja dimulai. Di sinilah Islam mengajarkan sesuatu yang luar biasa. Bukan: "Kamu sudah berjuang seharian, istirahatlah." Tetapi: "Siang...

Hadits Tiga Pilar Pendidikan Ruhani

Hadits Tiga Pilar Pendidikan Ruhani Oleh : Abdullah Madura عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala kepada Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'" HR. Bukhari dan Muslim Ada hadits yang terlihat pendek, tetapi menyimpan kedalaman yang tidak habis digali. Hadits ini salah satunya. Hanya dua kata kunci — iimanan (إِيمَانًا) dan ihtisaban (احْتِسَابًا) — tetapi keduanya menjadi fondasi dari seluruh bangunan ibadah Ramadhan. Bahkan lebih dari itu: keduanya adalah fondasi dari seluruh perjalanan ruhani seorang Muslim. Mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya bersabda: "Barangsiapa be...

Orang yang Mampu Mengendalikan Nafsu, Akan Merasakan Kenikmatan yang Lebih Lezat dan Lebih Tahan Lama

Orang yang Mampu Mengendalikan Nafsu, Akan Merasakan Kenikmatan yang Lebih Lezat dan Lebih Tahan Lama Oleh: Abdullah Madura Ada sebuah rahasia kecil yang tersimpan di dalam setiap sore Ramadhan. Ketika adzan Maghrib berkumandang dan seseorang mengangkat gelas berisi air putih ke bibir — setelah seharian menahan diri — ada sesuatu yang meledak lembut di dalam dadanya. Bukan hanya karena tenggorokannya basah kembali. Bukan hanya karena perutnya terisi. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang sulit dijelaskan tapi sangat mudah dirasakan: rasa syukur yang bercampur dengan kepuasan diri yang bersih, kepuasan orang yang telah menjaga janjinya kepada Allah sepanjang hari. Satu tegukan air putih di waktu berbuka terasa lebih nikmat dari segelas jus di hari biasa. Sepotong kurma terasa lebih manis dari hidangan mewah mana pun. Dan itu bukan karena lapar semata — itu karena jiwa yang telah berjuang seharian kini merasakan hasilnya. Kenikmatan yang didahului oleh pengendal...

Hisab Akurat — Tapi di Mana "Titik Nol" Bulan Baru Hijriyah?

Hisab Akurat — Tapi di Mana "Titik Nol" Bulan Baru Hijriyah? Oleh: Nurani Persadani Sebuah pertanyaan sederhana namun menohok pernah dilontarkan dalam sebuah diskusi kalender Islam: "Jika hisab itu benar-benar akurat — bahkan tidak meleset semenit pun — maka negeri atau kota manakah di belahan bumi ini yang pertama kali mengalami detik pertama bulan baru Hijriyah? Sebagaimana tanggal baru Masehi selalu dimulai dari satu titik tetap di permukaan bumi?" Pertanyaan ini tampak teknis. Namun bila direnungkan lebih dalam, ia menyentuh inti perdebatan paling mendasar dalam wacana kalender Islam kontemporer: apakah sistem hisab dapat — dan seharusnya — melahirkan kalender Hijriyah yang seragam global, seperti halnya kalender Masehi? Artikel ini berusaha menjawab dengan jujur dan mendalam, dari sudut pandang astronomi, fikih, dan sejarah peradaban Islam. Dua Sistem, Dua Logika yang Berbeda Kalender Masehi: Konvensi Manusia atas Fenomena Alam Kalender Masehi...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...