Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok"
Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok"
Membaca Ulang QS. Al-Hasyr: 18 di Tengah Hidup yang Penuh Rencana
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: 18)
Kita hidup di zaman yang sangat gemar membuat perencanaan. Ada yang menyiapkan target bulanan, menyusun rencana lima tahun, bahkan menghitung tabungan pensiun sejak usia muda. Kita diajarkan untuk memikirkan masa depan dengan serius, terencana, dan terukur.
Namun anehnya, semakin jauh kita merencanakan hidup, semakin jarang kita bertanya satu hal yang paling mendasar:
Apa yang sebenarnya sedang saya persiapkan untuk kehidupan setelah hidup ini?
Kita cemas terhadap masa depan yang belum tentu kita temui, tetapi sering tenang terhadap akhirat yang pasti akan kita datangi. Kita khawatir jika tabungan dunia menipis, tetapi jarang gelisah ketika bekal akhirat terasa kosong.
Paradoks inilah yang disentuh Al-Qur'an dalam satu ayat yang sangat singkat, tetapi mampu mengguncang hati para ulama selama berabad-abad: QS. Al-Hasyr ayat 18.
Bukan kebetulan bahwa para ulama salaf menjadikan ayat ini sebagai salah satu ayat yang paling sering mereka ulang dalam momen muhasabah. Sebab ia bukan sekadar perintah beribadah. Ia adalah cermin yang dipasang Al-Qur'an tepat di hadapan jiwa, memaksa kita untuk bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita kirimkan ke akhirat?
Di suatu malam, seorang lelaki terbangun menjelang subuh. Usianya hampir enam puluh tahun. Anak-anaknya telah dewasa dan berhasil. Kariernya dianggap sukses oleh siapa pun yang mengenalnya. Rumahnya lunas. Tabungan pensiunnya aman. Ia telah berhasil merencanakan hampir segalanya — dan hampir semuanya berjalan sesuai rencana.
Tetapi saat duduk sendirian di ruang tamu yang gelap, sebuah pertanyaan muncul yang tidak pernah diajukan oleh laporan keuangan mana pun, tidak pernah ada dalam agenda rapat mana pun, tidak pernah tertulis dalam rencana lima tahun mana pun:
"Apa sebenarnya yang sudah aku kirimkan untuk bertemu Allah?"
Ia tidak bisa menjawab. Dan keheningan itu terasa lebih berat dari semua target yang pernah ia capai.
Ketika Al-Qur'an Menyebut Akhirat sebagai "Esok"
Jika kita perhatikan diksi ayat ini dengan seksama, ada sesuatu yang sangat menarik.
Allah tidak berfirman:
مَا قَدَّمَتْ لِلْآخِرَةِ
"Apa yang telah disiapkan untuk akhirat." Allah pun tidak berfirman:
مَا قَدَّمَتْ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
"Apa yang telah disiapkan untuk Hari Kiamat." Melainkan Allah berfirman dengan pilihan kata yang lain sama sekali:
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
"Apa yang telah dikirimkan untuk esok."
Dalam bahasa Arab, kata ghad — غَدٍ — berarti hari yang sangat dekat. Ia adalah kata untuk "besok pagi." Bukan pekan depan. Bukan tahun depan. Bukan suatu hari nanti yang kabur di kejauhan. Tetapi besok pagi.
Secara balaghah, penggunaan kata ini menyimpan pesan yang sangat dalam. Akhirat — yang seolah terasa begitu jauh dalam bayangan manusia — disebut oleh Allah dengan kata yang paling dekat dalam kosakata waktu. Seakan-akan Allah sedang mengguncang kelalaian yang bersarang dalam diri kita:
"Mengapa engkau menunda persiapan untuk sesuatu yang sebenarnya sudah sangat dekat?"
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penggunaan kata lighad — untuk esok — adalah isyarat betapa dekatnya Hari Kiamat itu. Bagi manusia yang hidupnya paling panjang pun, masa yang telah berlalu terasa seperti kemarin, dan masa yang akan datang tiba dengan sangat cepat. Maka Allah menyebut akhirat dengan kata "esok" agar rasa lalai itu terguncang, agar penundaan itu tidak lagi menemukan alasan untuk bertahan.
Imam Al-Qurtubi menambahkan bahwa sesungguhnya jarak antara dunia dan akhirat — jika diukur dari sisi kedekatannya bagi setiap manusia — tidak lebih jauh dari jarak antara hari ini dan esok pagi. Kematian bisa datang kapan saja, dan kematian adalah pintu pertama menuju "esok" yang dimaksud ayat ini.
Para ulama memahami bahwa masalah terbesar manusia bukan kurang informasi tentang akhirat. Hampir setiap Muslim tahu bahwa kematian pasti datang, bahwa akhirat itu nyata, bahwa pertanggungjawaban itu tidak bisa dihindari. Masalah terbesarnya adalah: rasa bahwa semua itu masih sangat jauh.
Dan dari rasa jauh itulah lahir penundaan taubat, penundaan memperbaiki hubungan yang retak, penundaan memperbaiki hati yang perlahan mengeras.
Manusia jarang menunda sesuatu yang terasa dekat. Kita tidak menunda bernapas. Kita tidak menunda makan ketika lapar. Kita tidak menunda menghindar ketika melihat bahaya tepat di depan mata. Penundaan hampir selalu lahir dari ilusi jarak — dari perasaan bahwa sesuatu masih ada di ujung yang jauh. Mungkin karena itulah Allah menyebut akhirat dengan kata "esok" — agar hati berhenti memperlakukannya sebagai sesuatu yang masih sangat jauh, dan mulai memperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan segala sesuatu yang terasa mendesak.
Amal yang Tidak Hilang, Hanya Mendahului Kita
Namun ada sesuatu yang bahkan lebih dalam dari sekadar pilihan kata "esok."
Perhatikan diksi yang lain dalam ayat ini:
مَا قَدَّمَتْ
Allah tidak menggunakan kata mā 'amilat — apa yang telah dikerjakan. Allah menggunakan kata mā qaddamat — apa yang telah dikirimkan lebih dahulu.
Kata qaddama berasal dari akar qadama yang berarti mendahulukan, menempatkan di depan, mengirim lebih awal. Ia mengandung makna bahwa amal bukan sesuatu yang selesai dan berlalu, melainkan sesuatu yang telah berangkat mendahului kita.
Makna ini sangat halus dan sangat dalam.
Sedekah yang kita tunaikan bertahun-tahun lalu tidak hilang ditelan waktu. Ia telah "berangkat" mendahului kita ke akhirat. Doa yang pernah kita panjatkan di tengah malam dengan air mata yang sudah lama mengering — ia tidak hilang. Ia sedang menunggu di sana. Rakaat-rakaat panjang di masa muda yang sudah terlupakan — ia juga tidak hilang. Ia sudah dikirimkan, dan ia sedang menunggu pemiliknya.
Demikian pula sebaliknya. Dosa yang belum ditaubati, kata-kata yang menyakiti, amanah yang dikhianati, hak-hak yang ditelantarkan — semuanya juga telah "berangkat." Semuanya sedang menunggu di tempat yang sama.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin menulis dengan sangat indah bahwa setiap amal memiliki dua sisi: apa yang terlihat oleh manusia dan apa yang sampai kepada Allah. Satu rakaat yang dipenuhi kekhusyukan dan keikhlasan bisa lebih berat timbangannya daripada seribu rakaat yang dilakukan karena ingin dilihat. Satu sedekah yang tersembunyi di kesunyian malam bisa lebih bernilai daripada sedekah besar yang diumumkan di depan khalayak ramai.
Al-Harits al-Muhasibi rahimahullah, ulama yang namanya sendiri diambil dari kata muhasabah karena perhatian besarnya terhadap pemeriksaan jiwa, menulis dalam Ar-Ri'ayah li Huquqillah bahwa manusia sering terjebak menghitung jumlah amalnya, padahal yang akan ditimbang di sisi Allah adalah kualitas hati saat beramal.
Karena itu, para ulama tazkiyah tidak hanya menganjurkan memperbanyak amal. Mereka menganjurkan memperbaiki keadaan hati saat beramal. Sebab yang akan ditemukan di akhirat bukan banyaknya kiriman, tetapi nilai kiriman itu di sisi Allah.
Mungkin karena itulah sebagian amal yang paling berharga justru adalah amal yang sudah lama kita lupakan. Kita lupa, tetapi Allah tidak lupa. Kita tidak lagi mengingat doa yang pernah kita panjatkan bertahun-tahun silam di sudut sajadah yang sunyi — tetapi doa itu mungkin masih tercatat dengan sempurna. Kita tidak lagi mengingat sedekah kecil yang pernah kita berikan dalam diam — tetapi ia mungkin masih terus mengalir pahalanya hingga hari ini. Kita tidak lagi mengingat satu perbuatan baik yang kita lakukan tanpa seorang pun tahu — tetapi Allah melihatnya, dan Ia tidak melupakan apa yang dilihat-Nya.
Sebaliknya, boleh jadi ada kiriman yang kita anggap besar — amal yang tampak megah di mata manusia — tetapi tiba di sisi Allah dalam keadaan hampa, karena hati yang mengantarkannya sudah terlalu penuh dengan harapan akan pujian.
Satu Jiwa yang Harus Diperiksa
Lalu ada satu kata lagi dalam ayat ini yang menyimpan hikmah yang tak kalah besar:
نَفْسٌ
"Satu jiwa."
Perhatikan betapa cerdasnya susunan ayat ini. Allah membuka dengan seruan kolektif — yā ayyuhalladzīna āmanū — "wahai orang-orang yang beriman." Sebuah panggilan massal, ditujukan kepada seluruh komunitas iman. Namun begitu sampai pada perintah muhasabah, Allah mengubahnya menjadi bentuk tunggal:
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
"Dan hendaklah satu jiwa melihat."
Bukan "hendaklah kalian semua melihat." Bukan "hendaklah komunitas kalian memeriksa diri." Tetapi satu jiwa. Jiwa per jiwa. Pribadi per pribadi.
Para ulama tazkiyah sangat menekankan makna ini. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, salah satu hijab terbesar yang menghalangi manusia dari muhasabah sejati adalah ketika seseorang merasa cukup karena bergabung dengan kelompok yang benar, berada bersama orang-orang saleh, atau aktif dalam kegiatan dakwah. Ia sibuk melihat kekurangan orang lain dan lupa memeriksa keadaan dirinya sendiri.
Ayat ini memecahkan ilusi kolektif itu. Di hadapan Allah tidak ada massa. Tidak ada organisasi, tidak ada kelompok, tidak ada jabatan yang bisa menanggung jiwa orang lain. Yang akan diperiksa adalah satu jiwa dan apa yang telah ia kirimkan. Dalam perjalanan ruhani yang paling hakiki, setiap orang akhirnya berjalan sendirian menuju Allah.
Di zaman kita hari ini, ilusi kolektif itu bahkan lebih berbahaya. Budaya media sosial telah melahirkan kebiasaan baru: mengomentari, menghakimi, mengevaluasi orang lain dari balik layar — sementara jiwa sendiri semakin jarang diperiksa. Kita lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada melihat keadaan hati sendiri.
Al-Qur'an mengembalikan perhatian kita kepada satu jiwa yang paling dekat tetapi paling sering kita abaikan: diri kita sendiri.
Mengapa Muhasabah Semakin Sulit Hari Ini?
Dan beginilah Al-Qur'an memerintahkan kita untuk melihat jiwa itu:
وَلْتَنْظُرْ
Allah tidak menggunakan kata tafakkar — berpikirlah. Tidak menggunakan tadabbar — merenunglah. Tidak pula i'lam — ketahuilah. Tetapi Allah menggunakan kata waltanzhur dari akar nazhar — yang dalam bahasa Arab mengandung makna melihat dengan perhatian penuh, mengamati, meneliti, meninjau ulang. Ia adalah perintah melakukan audit diri yang serius.
Inilah yang para ulama tazkiyah sebut sebagai muhasabah. Dan muhasabah bukan sekadar merenung sesaat sebelum tidur. Al-Harits al-Muhasibi menjelaskan bahwa muhasabah yang sejati adalah bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: mengapa aku melakukan ini? Untuk siapa aku melakukan ini? Apa motif yang tersembunyi di balik amal yang tampak baik ini?
Sebab penyakit hati sering tidak masuk melalui pintu dosa yang kasat mata. Ia masuk melalui celah amal saleh yang terselip niat yang kotor. Riya masuk melalui ketaatan. Ujub menyusup melalui ibadah. Sum'ah menyelinap di antara ilmu dan dakwah. Inilah yang membuat muhasabah menjadi begitu vital: jiwa tidak rusak karena dosa yang disadari, tetapi sering karena penyakit yang tidak pernah diperiksa.
Hari ini para psikolog berbicara tentang self-awareness, reflective thinking, dan metacognition. Jauh sebelum istilah-istilah itu ada, para ulama tazkiyah telah mengajarkan muhasabah sebagai latihan harian untuk menjaga hati dari kelalaian. Namun ada satu hal yang membedakan muhasabah dari sekadar introspeksi psikologis: muhasabah tidak hanya bertanya "apa yang aku pikirkan?" tetapi "apa yang Allah nilai dari yang aku pikirkan dan kerjakan?" Dimensi ilahiah inilah yang menjadi jantung muhasabah dan yang tidak dimiliki oleh konsep apapun dalam psikologi modern.
Tetapi ada satu pertanyaan yang perlu kita jujuri: mengapa muhasabah justru semakin sulit dilakukan di zaman yang katanya semakin maju ini?
Para ulama tazkiyah menyebut musuh terbesar muhasabah dengan satu kata: ghaflah — kelalaian. Dan ghaflah hari ini memiliki wajah yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Ia datang bukan dalam bentuk musibah atau kesulitan, tetapi dalam bentuk kemudahan yang tiada henti. Notifikasi yang berbunyi setiap beberapa menit. Layar yang selalu menawarkan hiburan berikutnya bahkan sebelum yang sekarang selesai. Arus konten yang mengalir tanpa jeda, tanpa ruang sunyi, tanpa celah untuk berhenti dan bertanya: ke mana sebenarnya hari ini pergi?
Kehidupan modern telah menciptakan kondisi di mana seseorang bisa menghabiskan seluruh waktunya dalam keramaian — ramaian suara, ramaian gambar, ramaian percakapan — tanpa pernah benar-benar sendirian bersama dirinya sendiri. Dan muhasabah, yang menuntut kesunyian dan kejujuran, menjadi semakin terasa asing.
Al-Ghazali rahimahullah pernah menulis bahwa salah satu tanda hati yang lalai adalah ketika seseorang merasa tidak nyaman dengan kesunyian. Sebab dalam kesunyian, hati dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri — dan tidak semua yang ditemukan di sana menyenangkan. Maka kebisingan, bagaimanapun bentuknya, sering menjadi pelarian dari muhasabah yang sesungguhnya.
Sebelum Muhasabah, Ada Muraqabah
Setelah memahami semua ini, ada sesuatu yang sangat menggerakkan dalam susunan ayat QS. Al-Hasyr: 18 secara keseluruhan.
Ayat ini dibuka dengan seruan kepada orang-orang beriman, kemudian memerintahkan takwa, kemudian perintah muhasabah, kemudian tanggung jawab jiwa per jiwa, kemudian evaluasi amal, kemudian kesadaran akhirat — dan diakhiri dengan perintah takwa yang kedua.
Para ulama tazkiyah membaca ini bukan sebagai daftar perintah yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan sebagai peta perjalanan jiwa. Sebuah siklus penyucian yang berputar dan memperdalam.
Iman melahirkan takwa. Seluruh amal lahir dari keadaan hati — dan hati yang benar-benar beriman memiliki dua ciri yang dikenali para ulama tazkiyah: ia mudah menerima nasihat, dan ia mudah kembali kepada Allah ketika lalai. Amal tanpa iman hanyalah gerakan tubuh, sedangkan iman adalah kehidupan ruh.
Takwa menjaga cahaya iman itu. Para ulama tazkiyah mengajarkan bahwa takwa bukan sekadar meninggalkan dosa besar, tetapi "menjaga hati agar tidak menjauh dari Allah." Mereka membagi takwa menjadi tiga tingkatan — takwa awam yang menjauhi kekafiran dan dosa besar, takwa khawas yang menjauhi maksiat lahir dan batin, dan takwa khawasul khawas yang menjauhi segala sesuatu yang melalaikan dari Allah. Maka pertanyaan utama bagi ahli tazkiyah bukan hanya "apakah ini haram?" tetapi juga "apakah ini mendekatkan atau menjauhkan hatiku dari Allah?"
Namun antara takwa dan muhasabah, para ulama tazkiyah meletakkan satu maqam yang sering terlupakan: muraqabah.
Muraqabah adalah kesadaran yang hidup dan menetap di dalam hati bahwa Allah senantiasa melihat. Bukan sekadar tahu secara akal bahwa Allah Maha Melihat — sebab itu diketahui hampir setiap Muslim. Muraqabah adalah ketika pengetahuan itu turun dari kepala ke dalam hati, dan hati benar-benar merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyutnya.
Al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya' Ulumiddin menjelaskan bahwa seseorang baru akan sungguh-sungguh memeriksa dirinya ketika ia merasa sedang diperhatikan. Seorang pekerja yang tahu bosnya sedang menatap akan memperbaiki caranya bekerja. Seorang anak yang tahu ibunya sedang memandang akan memperbaiki sikapnya. Demikian pula hati — ia baru mau diperiksa secara jujur ketika ia merasakan bahwa Allah Yang Maha Mengetahui sedang mengamatinya.
Karena itu muraqabah bukan sekadar self-awareness. Ia adalah God-awareness — kesadaran akan Allah yang menjadi tanah tempat muhasabah tumbuh. Tanpa muraqabah, muhasabah mudah berubah menjadi sekadar evaluasi diri yang kering, atau bahkan menjadi ajang ujub ketika seseorang merasa cukup puas dengan amalnya.
Dari takwa lahirlah muraqabah. Dan dari muraqabah lahirlah muhasabah — sebab hati yang benar-benar merasakan tatapan Allah tidak akan membiarkan dirinya berjalan tanpa pemeriksaan. Muhasabah melahirkan kesadaran diri yang jujur. Kesadaran diri yang jujur mendorong perbaikan amal. Perbaikan amal menumbuhkan kesadaran akhirat. Dan kesadaran akhirat menguatkan kembali iman.
Maka siklus ini berputar terus, dan setiap putaran memperdalam kualitasnya. Ini bukan lingkaran yang stagnan, tetapi spiral yang naik. Setiap kali iman melemah, kembalilah kepada takwa. Setiap kali takwa melemah, kembalilah kepada muhasabah. Setiap kali muhasabah dilakukan dengan jujur, hati akan kembali mengingat bahwa seluruh perjalanan hidup ini sedang menuju satu "esok" yang sangat dekat.
Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah dalam Ihya' Ulumiddin mengingatkan bahwa sumber utama kelalaian adalah thulul amal — angan-angan panjang yang membuat manusia merasa waktu masih sangat banyak. Ketika seseorang hidup dengan hudhurul akhirah — menghadirkan akhirat dalam kesadaran sehari-hari — ia akan bertanya sebelum setiap keputusan: "Apakah aku ingin membawa amal ini ketika bertemu Allah?" Pertanyaan sederhana itu, jika dijadikan kebiasaan hati, akan mengubah seluruh cara seseorang menjalani hidupnya.
Menyiapkan "Esok" yang Sangat Dekat
Mungkin kita tidak tahu berapa banyak hari yang masih tersisa dalam hidup ini.
Tetapi kita tahu satu hal: hari demi hari, sesuatu sedang terus berangkat mendahului kita.
Sebuah doa. Sebuah sedekah. Sebuah luka yang belum dimaafkan. Sebuah amal yang dilakukan diam-diam di kesunyian malam. Atau mungkin sebuah dosa yang belum ditaubati, sebuah hak yang belum ditunaikan, sebuah kata yang menyakiti dan belum dimintakan maaf.
Semuanya sedang menuju tempat yang sama.
Dan suatu saat, cepat atau lambat, kita akan menyusulnya.
Karena itulah Allah tidak berkata: "Lihatlah apa yang telah kalian lakukan." Melainkan: "Lihatlah apa yang telah kalian kirimkan untuk esok."
Kita menghabiskan bertahun-tahun untuk menyiapkan rumah yang mungkin hanya kita tinggali beberapa puluh tahun. Kita pilih catnya dengan teliti. Kita pertimbangkan furniturnya dengan serius. Kita rencanakan setiap sudutnya agar terasa nyaman. Tetapi rumah yang akan kita tempati selamanya — selamanya tanpa ujung, tanpa batas, tanpa bisa pindah — sering hanya kita persiapkan jika ada waktu luang.
Mungkin karena itulah Allah tidak meminta kita melihat berapa banyak yang kita miliki. Allah meminta kita melihat apa yang telah kita kirimkan.
Sebab pada akhirnya, kita tidak akan tinggal di dalam rencana-rencana kita. Kita akan tinggal di dalam amal-amal kita.
Barangkali muhasabah bukan sekadar tentang menghitung berapa banyak amal yang kita miliki. Melainkan tentang memastikan bahwa ketika "esok" itu datang — dan ia pasti datang, lebih cepat dari yang kita bayangkan — ada sesuatu yang layak kita temui di hadapan Allah. Ada kiriman yang tidak membuat kita malu. Ada bekal yang mencerminkan bahwa hidup ini tidak hanya digunakan untuk merencanakan dunia, tetapi juga untuk menyiapkan perjumpaan dengan Pemilik segala rencana.
Semoga Allah سبحانه وتعالى menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang hatinya tidak lalai, yang lisannya tidak lalai, yang waktunya tidak lalai. Semoga setiap hari yang kita jalani menghasilkan kiriman yang baik, kiriman yang kita rindukan untuk kita temui kembali di hadapan-Nya.
Allāhumma ārinā al-haqqa haqqan warzuqnā ittibā'ah, wa ārinā al-bāthila bāthilan warzuqnā ijtinābah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
