REZEKI YANG BERKAH
REZEKI YANG BERKAH
Jangan Biarkan Keluargamu Makan dari Yang Haram
— Sebuah Renungan di Bulan Ramadhan —
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai jiwa yang sedang berpuasa...
Berhentilah sejenak.
Lepaskan dahulu beban hari ini dari bahumu. Dan renungkan satu pertanyaan yang mungkin belum pernah kau tanyakan kepada dirimu sendiri dengan sungguh-sungguh:
"Dari mana sesungguhnya makanan itu berasal — yang setiap hari masuk ke tubuh anak-anakmu?"
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimimu. Pertanyaan ini lahir dari kasih sayang. Karena ada sesuatu yang jauh lebih berat daripada lapar... yaitu makan dari sesuatu yang tidak diberkahi Allah.
I. Masih Ada Napas — Masih Ada Harapan
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Dia yang masih mengizinkanmu membuka mata pagi ini. Dia yang masih mengalirkan udara ke dalam dadamu, tanpa meminta bayaran, tanpa meminta imbalan.
Ingatlah...
Tidak semua yang pernah berpuasa bersamamu, kini masih ada di sisimu. Ada yang dulu bersaf bersamamu di masjid — kini telah berpindah ke hunian yang sempit dan dingin, tiga hasta di dalam tanah. Mereka tidak lagi mendapat kesempatan.
Tapi kamu... kamu masih di sini.
Bukan karena kamu lebih kuat. Bukan karena kamu lebih layak. Tapi karena Allah masih memberimu kesempatan untuk berubah.
Maka jangan sia-siakan malam ini. Setiap napas adalah pinjaman. Setiap Ramadhan adalah kesempatan yang tidak datang dua kali.
II. Wahai Ayah... Untuk Siapa Engkau Bekerja?
Setiap pagi kau tinggalkan rumah. Kau tinggalkan kehangatan selimut, kau tinggalkan wajah anak-anakmu yang masih terlelap. Kau berangkat sebelum matahari sempurna terbit. Kau pulang ketika bintang telah menggantikan siang.
Untuk siapa semua itu?
Untuk keluarga, katamu. Untuk anak-anakmu. Untuk masa depan mereka.
Dan jawaban itu... benar.
Tapi izinkan satu pertanyaan lagi menyentuh relung hatimu yang paling dalam:
"Pernahkah engkau takut... bahwa makanan yang kau bawa pulang justru menjadi dinding yang menghalangi doa anakmu naik ke langit?"
Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seorang lelaki dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Lelaki itu berdoa. Tangannya terangkat. Lisannya memohon dengan khusyuk. Ia memanggil Allah dengan nama-nama-Nya yang agung.
Tapi makanannya haram. Pakaiannya haram. Nafkahnya dari yang tidak halal.
Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?
Perhatikan — Rasulullah ﷺ tidak berkata bahwa lelaki itu tidak shalat. Tidak berkata ia tidak berpuasa. Tidak berkata ia tidak berdoa. Ia berdoa. Dengan sepenuh hati. Tapi rezekinya bermasalah. Dan itu cukup untuk membuat langit menolak permohonannya.
III. Satu Suap yang Mengubah Segalanya
Wahai saudaraku... Jangan remehkan satu suap.
Satu suap yang halal — bisa menjadi cahaya di mata anakmu, keberkahan di langkahnya, kejernihan di akalnya, dan kelurusan di hatinya. Satu suap yang haram — bisa menjadi kegelapan yang ia bawa bertahun-tahun tanpa ia sadari dari mana asalnya.
Para ulama salaf berkata:
"Barangsiapa menginginkan doanya dikabulkan dan kesulitannya diangkat, maka hendaklah ia memperhatikan apa yang masuk ke dalam perutnya."
Bukan sekadar soal kenyang atau lapar. Ini soal cahaya atau kegelapan. Ini soal berkah atau kering. Ini soal doa yang naik atau doa yang tertahan di langit-langit kamarmu.
IV. Dua Rumah — Manakah yang Lebih Mulia?
Bayangkan sebuah rumah kecil. Dindingnya tidak sempurna. Atapnya tidak mewah. Seorang ayah pulang menjelang maghrib, kakinya berat karena seharian berjalan, tangannya hanya membawa kantong plastik sederhana — isinya tempe, sambal, dan nasi.
Ia masuk rumah. Anak kecilnya berlari memeluk. Istrinya sudah menyiapkan tempat duduk. Mereka duduk bersama. Berbuka bersama. Berdoa bersama.
Malaikat menyaksikan meja makan itu. Dan mereka mencatat: rumah ini penuh berkah.
Kini bayangkan rumah yang lain. Besar. Mewah. Meja makannya panjang, penuh hidangan. Tapi ayah tidak ada — sedang di luar kota, lagi mengurus proyek. Anak makan sambil menatap layar. Istri makan sendiri dalam diam. Tidak ada doa yang diucapkan. Tidak ada kehangatan yang mengalir. Tidak ada tangan yang saling menggenggam.
Rumah itu penuh makanan. Tapi kosong dari berkah.
"Betapa banyak rumah besar yang miskin, dan betapa banyak rumah kecil yang kaya."
Kekayaan yang sesungguhnya bukan diukur dari berapa banyak yang ada di meja makanmu, tapi dari berapa banyak berkah Allah yang turun ke dalamnya.
V. Tiga Perkara yang Menyelamatkan Keluargamu
Tidak perlu banyak. Cukup tiga. Jika tiga ini kau jaga sungguh-sungguh, dengan izin Allah, keluargamu akan selamat di dunia dan akhirat.
Pertama: Pastikan yang Masuk ke Rumah adalah Halal
Jangan anggap kecil sebuah manipulasi dalam laporan kerja. Jangan anggap remeh suap yang "hanya sekali ini". Jangan anggap biasa bisnis yang mengandung unsur penipuan.
| Yang Tampak Kecil | Dampaknya Bisa Besar |
|---|---|
| Manipulasi laporan kerja | Doa keluarga tertahan |
| Suap "sekali ini saja" | Keberkahan perlahan terangkat |
| Bisnis tidak jujur | Karakter anak terpengaruh tanpa disadari |
Karena dosa tidak tinggal di tanganmu saja. Ia bisa berpindah — ke piring anakmu, ke mulutnya, ke darahnya, ke karakternya.
Para ayah terbaik bukan yang memberi anak paling banyak, tapi yang memberi anak paling bersih.
Kedua: Jangan Takut Bersedekah
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan yang pernah menginjakkan kaki di bumi ini. Dan dalam Ramadhan, kedermawanannya bertambah — seperti angin yang bertiup kencang, tidak ada yang ia tahan dari kebaikannya. Demikian yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.
Kita sering takut. "Kalau sedekah, nanti uang berkurang..." Tapi perhatikan di sekitarmu. Yang mengepal tangannya rapat — hidupnya sering sempit. Yang membuka tangannya lebar — rezekinya sering datang dari arah yang tidak ia sangka.
"Tidaklah harta berkurang karena sedekah." — HR. Muslim
Sedekah itu bukan pengeluaran. Sedekah itu adalah investasi yang bunganya dibayar langsung oleh Allah.
Ketiga: Jangan Pulang Tanpa Doa untuk Keluargamu
Saat berbuka nanti... sebelum bibirmu menyentuh minuman pertama... ucapkan dalam sunyi hatimu:
"Ya Allah, jangan biarkan keluargaku makan kecuali dari yang Engkau halalkan. Jangan biarkan anakku tumbuh kecuali dalam keberkahan-Mu. Jadikan rezekiku bersih, meskipun sedikit."
Doa itu mungkin hanya beberapa patah kata. Tapi ia bisa menyelamatkan satu generasi. Ia bisa menjadi cahaya yang menembus kegelapan. Ia bisa menjadi perisai yang melindungi anak cucumu dari hal-hal yang tidak kau bayangkan.
VI. Seandainya Ini Ramadhan Terakhirmu...
Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah... Duduklah sejenak bersama dirimu sendiri. Tanyakan dengan jujur — tanpa basa-basi, tanpa alasan, tanpa pembenaran:
"Seandainya ini Ramadhan terakhirku, apa yang paling aku takutkan?"
Kurang uang? Atau... keluargaku yang selama ini hidup dari nafkah yang tidak diridhai Allah?
Jika pertanyaan itu menyentuh hatimu... jika ada gemetar yang kau rasakan di dalam dada... maka itu bukan rasa takut yang melemahkan. Itu adalah cahaya yang Allah nyalakan agar kau segera bergerak.
Orang yang paling beruntung bukanlah yang tidak pernah salah. Tapi orang yang menyadari kesalahannya dan segera kembali.
VII. Pulang dengan Keputusan — Bukan Hanya Takjil
Malam ini... ketika kau kembali ke rumah... jangan hanya membawa kurma dan es buah.
Bawa sesuatu yang lebih berharga:
Bawa keputusan — bahwa mulai esok, kau akan lebih berhati-hati dalam mencari nafkah.
Bawa tekad — bahwa tanganmu akan lebih sering terbuka untuk berbagi.
Bawa doa — yang akan kau ucapkan setiap kali meja makan keluargamu terisi.
Satu keputusan malam ini... bisa mengubah wajah keluargamu untuk generasi yang akan datang.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا
Ya Allah...
Jika rezeki kami sedikit... cukupkanlah ia dengan keberkahan-Mu.
Jika rezeki kami banyak... jangan biarkan ia menjadi fitnah bagi kami.
Jika ada yang haram di dalamnya yang kami tidak sadari... ampunilah kami dan jauhkanlah ia dari kami.
Jangan cabut keberkahan dari meja makan kami.
Jadikan rumah kami rumah yang Engkau cintai.
Jadikan anak-anak kami generasi yang Engkau ridhai.
Dan pertemukan kami kembali di Ramadhan yang akan datang, dalam keadaan yang lebih baik dari hari ini.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh