Keluar dari Mental Permisif: Meneguhkan Batas Tanpa Kehilangan Kelembutan
Keluar dari Mental Permisif: Meneguhkan Batas Tanpa Kehilangan Kelembutan
Pernahkah kamu merasa bersalah hanya karena berkata “tidak”? Atau membiarkan sesuatu yang jelas salah—hanya karena takut dianggap tidak ramah? Jika iya, mungkin kamu sedang berhadapan dengan mental permisif: pola pikir yang terlalu mudah membolehkan segala hal demi kenyamanan sesaat, menghindari konflik, atau sekadar ingin disukai.
Mental permisif bukan soal baik hati. Ia adalah kebiasaan menoleransi yang keliru hingga batas antara benar dan salah menjadi kabur. Dalam jangka panjang, ini bisa mengikis ketajaman hati, merusak karakter, bahkan menjauhkan kita dari nilai-nilai yang seharusnya kita pegang teguh.
Tanda-Tanda Mental Permisif
Berikut gejala umum yang sering tak disadari:
- Terlalu menoleransi yang salah
“Ah, semua orang juga begitu…” — padahal tahu itu keliru. - Tak enakan berlebihan
Sulit menolak, takut menegur, selalu mengalah agar dianggap “baik”. - Standar moral fleksibel
Boleh saat menguntungkan diri, tapi marah bila orang lain lakukan hal serupa. - Mencari pembenaran, bukan kebenaran
Rajin mencari alasan untuk membolehkan kesalahan, jarang introspeksi. - Sensitif pada penilaian sosial
Lebih takut dikucilkan daripada melakukan yang benar. - Menghindari konflik secara pasif
Masalah dibiarkan menumpuk, berharap “nanti juga selesai sendiri”.
“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mengatakan: ‘Kami mendengar,’ padahal mereka tidak mendengar.”وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ— QS. Al-Anfāl [8]: 21
Ayat ini menggambarkan sikap mental yang pasif: mendengar tapi tidak menyerap, tahu tapi tidak bertindak. Inilah akar dari mental permisif—kesediaan untuk diam meski tahu ada yang salah.
Bahaya yang Tak Kelihatan
Mental permisif seperti karat yang pelan-pelan menggerogoti logam. Awalnya hanya rasa ragu, lama-lama hati jadi tumpul. Bahkan dosa pun mulai terasa “ringan”. Rasulullah ﷺ memperingatkan:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” — HR. Ahmad dan Thabrani (hasan)
Riya’—beramal demi pujian—adalah contoh nyata mental permisif dalam ibadah: memilih yang tampak “disukai” daripada yang ikhlas. Ini menunjukkan betapa bahayanya mengorbankan prinsip demi penerimaan sosial.
Dari sisi psikologi modern, fenomena ini dikenal sebagai people-pleasing behavior atau conflict avoidance. Menurut Brown (2012) dalam Daring Greatly, kebiasaan ini sering lahir dari rasa malu (shame) dan takut ditolak. Akibatnya, individu kehilangan otoritas atas dirinya sendiri—menjadi “penumpang” dalam hidupnya sendiri.
Akar Penyebab
Beberapa faktor yang memperkuat mental permisif:
- Ingin disukai semua orang
- Kurang percaya diri dalam mengambil sikap
- Tidak memiliki prinsip hidup yang jelas
- Pengalaman traumatis terkait konflik di masa lalu
- Lingkungan sosial yang normalisasi perilaku salah
Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata:
“Barangsiapa menjadikan keridhaan manusia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan jadikan dia bergantung pada lidah mereka.” — Al-Fawā’id
Tegas Tapi Tidak Keras
Keluar dari mental permisif bukan berarti berubah jadi orang galak atau kaku. Islam mengajarkan keseimbangan: tegas dalam prinsip, lembut dalam cara.
Allah memuji Nabi Muhammad ﷺ:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.”وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ— QS. Al-Qalam [68]: 4
Nabi tegas dalam menegakkan kebenaran, namun lembut dalam pergaulan. Inilah model ideal: firm yet kind.
Langkah-Langkah Praktis
1. Bedakan Antara “Baik” dan “Menyenangkan”
Orang permisif ingin menyenangkan semua orang. Orang matang memilih melakukan yang baik—meski tak populer.
“Ini aku lakukan karena benar… atau karena takut tidak disukai?”
2. Bangun Batas Pribadi (Personal Boundaries)
Tanpa batas, kamu akan terus diseret oleh kepentingan orang lain. Mulailah dari hal kecil:
| Situasi | Respon Lama (Permisif) | Respon Baru (Tegas & Santun) |
|---|---|---|
| Diminta tolong saat capek | “Iya…” (terpaksa) | “Maaf, sekarang saya belum bisa.” |
| Orang bercanda kelewatan | Diam | “Saya kurang nyaman dengan itu.” |
| Diberi tugas bukan tanggung jawab | Dikerjakan semua | “Bagian ini bukan porsi saya.” |
3. Latih Kalimat Sakti: “Tidak + Alasan Singkat”
Tidak perlu panjang lebar. Cukup jelas dan tenang:
- “Maaf, saya tidak bisa.”
- “Saya tidak setuju dengan itu.”
- “Saya memilih tidak ikut.”
4. Terima Kenyataan: Tidak Semua Orang Akan Suka
Saat kamu mulai tegas, ada yang bilang kamu berubah. Itu bukan tanda salah—itu tanda kamu berhenti jadi “tempat parkir kepentingan orang”.
5. Ganti Rasa Bersalah dengan Evaluasi Nilai
Jangan tanya: “Aku jahat ya?”
Tapi tanya: “Apakah aku melanggar nilai kebaikan?”
Jika tidak, maka rasa bersalah itu hanya bayangan masa lalu.
6. Mulai dari Batas Kecil
Tegas itu seperti otot—makin dilatih, makin kuat. Latih di situasi ringan: tolak ajakan penjual yang memaksa, batasi teman yang suka nitip, atau tegas di grup yang suka lempar tugas.
7. Tegas + Empati = Keseimbangan
Contoh respons bijak:
❌ “Bukan urusan saya!”
✅ “Saya paham ini penting, tapi saya tidak bisa ambil bagian.”
Nada bicara menentukan lebih dari kata-kata.
Tanda Kamu Sudah Pulih
- Bisa menolak tanpa marah
- Tidak panik kalau orang kecewa
- Tidak merasa wajib menyenangkan semua orang
- Punya prinsip yang stabil
- Lebih tenang batinnya
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” — HR. Muslim
Kekuatan di sini bukan fisik, tapi kekuatan hati: kemampuan berdiri di atas kebenaran, meski sendirian.
Penutup
Keluar dari mental permisif bukan tentang menjadi keras. Tapi tentang menjadi orang yang punya arah, batas, dan keberanian berpijak pada nilai yang benar—dengan tetap menjaga kelembutan akhlak.
Ingatlah: ridha Allah lebih berharga daripada pujian manusia. Dan ketegasan yang tulus adalah bentuk kasih sayang—pada diri sendiri, pada orang lain, dan pada kebenaran itu sendiri.