Ramadhan Bulan Al-Qur'an — Bukan Sekadar Membaca, Tapi Berdialog dengan Allah
Ramadhan Bulan Al-Qur'an — Bukan Sekadar Membaca, Tapi Berdialog dengan Allah
Ada sesuatu yang sangat istimewa terjadi di bulan Ramadhan. Bukan sekadar lapar dan dahaga. Bukan sekadar malam-malam tarawih yang memanjang. Melainkan sebuah undangan ilahi yang datang berulang setiap tahun — undangan untuk duduk bersama firman-Nya, mendengarkan-Nya berbicara, dan merespons dengan segenap kesadaran jiwa.
Namun, pernahkah kita bertanya: apakah selama ini kita benar-benar berdialog dengan Allah melalui Al-Qur'an? Ataukah kita hanya sekadar membaca — melafalkan huruf demi huruf, mengejar target khatam, tanpa pernah membiarkan ayat-ayat itu menyentuh dan mengubah hati kita?
Pendahuluan: Mengapa Dialog, Bukan Monolog?
Bulan Ramadhan memiliki kedudukan yang tidak tertandingi dalam kalender Islam, sebab ia adalah bulan di mana Allah SWT memilih untuk menurunkan kitab-Nya yang paling agung. Hubungan antara Ramadhan dan Al-Qur'an bukan sekadar historis — ia adalah hubungan yang bersifat ontologis, menyentuh hakikat keberadaan keduanya. Allah SWT berfirman dengan tegas:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)..."
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini bukan sekadar keterangan sejarah. Ia adalah deklarasi tentang fungsi Al-Qur'an: hudā lin-nās — petunjuk bagi manusia. Petunjuk tidak bekerja jika sekadar dipandang dari jauh. Ia harus dibaca, direnungkan, diinternalisasi, dan diamalkan. Di sinilah letak persoalan besar yang dihadapi umat Islam kontemporer.
Paradigma yang sering terjadi adalah memandang Al-Qur'an sebagai teks yang "dibaca" secara mekanis — menggenapi target khatam, mengumpulkan pahala per huruf, tanpa menyentuh esensi yang lebih dalam: dialog langsung dengan Sang Khalik. Sebuah pembacaan yang lebih menyerupai monolog daripada percakapan.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sepupu Nabi dan lautan ilmu tafsir, pernah mengingatkan dengan keras:
"Janganlah kalian membaca Al-Qur'an dengan cepat seperti membaca syair dan prosa. Berhentilah sejenak pada keajaiban-keajaibannya, gerakkan hati dengan keajaiban-keajaiban tersebut. Janganlah yang menjadi target kalian adalah sampai pada akhir surat."
Nasihat seorang sahabat yang hidup bersama turunnya wahyu ini menggugat cara kita berinteraksi dengan Al-Qur'an. Sudahkah kita berhenti? Sudahkah hati kita bergerak?
I. Konsep Tadabbur sebagai Dialog Ilahi
A. Definisi Tadabbur Menurut Ulama
Untuk memahami apa yang dimaksud dengan "berdialog" dengan Al-Qur'an, kita perlu terlebih dahulu memahami konsep tadabbur — سَمَعَ — yang menjadi kunci seluruh pembahasan ini.
Secara etimologi, tadabbur — تَدَبُّر — berasal dari kata dubr — دُبُر — yang berarti "akhir", "akibat", atau "kesudahan". Secara terminologi, para ulama bahasa menjelaskan bahwa tadabbur berarti memikirkan akibat dari sesuatu atau memikirkan maksud akhir dari sesuatu. Ketika dihubungkan dengan Al-Qur'an, maka tadabbur berarti merenungkan apa yang menjadi tujuan akhir dari ayat-ayat tersebut dalam kehidupan kita.
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mendefinisikan tadabbur dengan sangat indah:
"Yaitu kita memikirkan makna-maknanya, dalil-dalilnya, rahasia-rahasianya, dan berita-beritanya hingga kita mendapatkan manfaat darinya."
— Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan
Definisi ini mengandung empat dimensi penting: pertama, memahami makna (apa yang dikatakan); kedua, memahami dalil (mengapa ia dikatakan dan apa dasarnya); ketiga, memahami rahasia (hikmah tersembunyi di balik teks); dan keempat, memahami berita (informasi tentang alam semesta, manusia, dan Allah). Keempat dimensi ini tidak bisa dicapai dalam bacaan yang terburu-buru.
Allah sendiri memerintahkan tadabbur ini dengan nada yang mengandung teguran:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an? Ataukah hati mereka terkunci?"
(QS. Muhammad: 24)
Pertanyaan retoris ini adalah tamparan lembut namun tegas dari Allah — seolah Ia bertanya kepada kita hari ini: sudahkah kalian merenungkannya? Atau kunci-kunci duniawi telah mengunci hati kalian?
B. Al-Qur'an sebagai Kalamullah yang Hidup
Al-Qur'an bukan sekadar kumpulan huruf dan kata yang tercetak di atas kertas. Ia adalah Kalamullah — كَلَامُ اللَّهِ — firman Allah yang hidup, yang berinteraksi secara nyata dengan jiwa pembacanya. Allah berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim (Al-Qur'an itu) hanya akan menambah kerugian."
(QS. Al-Isra': 82)
Kata syifā' — شِفَاء — menunjukkan bahwa Al-Qur'an bekerja seperti obat: ia hanya berefek ketika dikonsumsi dengan benar, dengan dosis yang tepat, dengan pemahaman tentang cara penggunaannya. Obat yang sekadar disimpan di laci tidak akan menyembuhkan siapa pun.
Imam Hasan al-Bashri, tabi'in yang terkenal dengan kecerdasannya dan kepekaan spiritualnya, pernah bersedih menyaksikan fenomena yang ia lihat di zamannya — dan yang jauh lebih relevan di zaman kita:
"Sungguh, Al-Qur'an ini telah dibaca oleh para budak sahaya dan anak kecil. Mereka tidak mengerti tafsirnya. Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Al-Qur'an ini adalah orang yang mempraktikkan Al-Qur'an itu dalam perbuatannya."
— Imam Hasan al-Bashri
Perkataan ini bukan merendahkan pembacaan Al-Qur'an. Ia justru mengangkat standar kita. Karena bagi Hasan al-Bashri, yang paling mulia bukanlah yang paling banyak membaca, melainkan yang paling dalam mengamalkan.
II. Landasan Syar'i: Al-Qur'an dan Hadits
A. Perintah Langsung dari Allah SWT
Allah SWT tidak hanya menurunkan Al-Qur'an untuk dibaca — Ia secara eksplisit menyatakan tujuan penurunannya:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"(Ini adalah) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran."
(QS. Shad: 29)
Frasa kunci di sini adalah liyaddabbarū āyātih — لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ — "supaya mereka men-tadabbur-i ayat-ayatnya". Ini adalah tujuan eksplisit dari penurunan kitab yang penuh berkah ini. Artinya, membaca tanpa tadabbur adalah membaca yang belum sempurna memenuhi tujuannya.
Dalam ayat lain, Allah menunjukkan dampak nyata ketika Al-Qur'an benar-benar diresapi:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Al-Qur'an adalah bentuk tertinggi dari dzikrullah — ذِكْرُ اللَّهِ. Maka ketenangan hati yang dijanjikan itu hanya datang ketika kita benar-benar hadir bersama firman-Nya, bukan sekadar melafalkannya secara mekanis.
B. Hadits-Hadits tentang Keutamaan Berinteraksi dengan Al-Qur'an
Rasulullah SAW meninggalkan bagi kita sebuah warisan hadits yang sangat kaya tentang hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur'an. Hadits-hadits ini bukan sekadar tentang kuantitas bacaan, tetapi tentang kualitas hubungan.
Pertama, tentang pahala berlipat ganda. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka ia akan mendapat satu kebaikan, dan dari satu kebaikan itu berlipat menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan 'Alif Lam Mim' sebagai satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."
(HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani)
Hadits ini memberi kita motivasi yang luar biasa. Namun penting dipahami bahwa pahala berlipat ini justru menjadi dorongan untuk memperlambat bacaan — karena ketika kita membaca dengan tadabbur, setiap huruf mendapat perhatian penuh, dan nilai spiritualnya pun bertambah.
Kedua, tentang syafaat Al-Qur'an. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim:
اقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an. Sebab, ia akan datang memberikan syafaat pada hari Kiamat kepada para pemiliknya (pembaca dan pengamalnya)."
(HR. Muslim)
Kata ashābihi — أَصْحَابِهِ — diterjemahkan sebagai "pemiliknya". Para ulama menjelaskan bahwa shāhib Al-Qur'an bukan sekadar yang membacanya, tetapi yang menjadi sahabatnya — yang akrab dengannya, yang hidup bersamanya.
Ketiga, tentang syafaat puasa dan Al-Qur'an yang bersinergi. Sebuah hadits yang sangat indah dalam Musnad Ahmad:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
"Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: 'Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari.' Al-Qur'an berkata: 'Aku mencegahnya dari tidur di malam hari, maka kami mohon syafaat untuknya.' Maka keduanya diizinkan memberi syafaat."
(HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani)
Subhanallah. Di hari ketika tidak ada yang bisa menolong kecuali izin Allah, dua amalan Ramadhan yang paling utama itu akan tampil sebagai pembela kita. Ini adalah gambaran yang luar biasa tentang partnership spiritual antara puasa dan Al-Qur'an.
Keempat, tentang amalan yang paling dicintai Allah. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang amalan membaca Al-Qur'an yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidzi:
"Al-hal wal murtahal — yaitu (orang) yang membaca Al-Qur'an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal."
(HR. Tirmidzi)
Istilah al-hāll wal-murtahall — الحَالُّ وَالمُرْتَحِلُ — merujuk pada orang yang seperti musafir yang tidak pernah berhenti, selalu dalam perjalanan bersama Al-Qur'an, menyelesaikan satu khatam dan langsung memulai khatam berikutnya. Ini adalah gambaran tentang kedekatan yang tak pernah putus.
III. Metodologi Dialog: Cara Salaf Berinteraksi dengan Al-Qur'an
A. Membaca dengan Tartil dan Perlahan
Allah memerintahkan Nabi-Nya — dan melalui beliau, kita semua — dengan sebuah perintah yang spesifik tentang cara membaca Al-Qur'an:
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)."
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Tartil — تَرْتِيل — bukan hanya tentang tajwid yang benar, meskipun itu penting. Ia mencakup tempo membaca yang memberi ruang bagi jiwa untuk menyerap makna. Imam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menafsirkan tartil sebagai "tajwīdul hurūf wa ma'rifatu al-wuqūf" — memperindah huruf dan memahami di mana harus berhenti (untuk merenungkan).
Salafush Shalih memiliki tradisi membaca Al-Qur'an dengan sangat perlahan dan penuh khidmat. Ibnu Abi Mulaikah, seorang tabi'in yang terpercaya, menceritakan sebuah momen yang sangat mengharukan:
"Aku pernah bersafar bersama Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dari Makkah ke Madinah. Beliau melakukan qiyamullail dengan membaca Al-Qur'an huruf demi huruf. Kemudian beliau menangis hingga terdengar isak tangisnya."
— Diriwayatkan dalam Mukhtashar Qiyamul Lail karya Imam Muhammad bin Nashr al-Maruzi
Bayangkan: seorang ulama besar, hafizh Al-Qur'an, yang telah mendengar langsung dari Rasulullah SAW tentang tafsirnya — masih menangis ketika membaca. Itu karena ia tidak sekadar membaca kata-kata yang sudah ia hafal, tetapi benar-benar hadir bersama makna-maknanya.
Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, pengarang kitab tafsir monumental Adhwā'ul Bayān, menegaskan:
"Tidak ada yang dapat meneguhkan Al-Qur'an dalam dada, serta memudahkan menghafal dan memahaminya, kecuali dengan membacanya dalam shalat di tengah malam."
— Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, dalam Muqaddimah Adhwā'ul Bayān
B. Mengulang-ulang Satu Ayat untuk Merenungkannya
Salah satu ciri paling khas dari para salaf dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah kebiasaan mengulang-ulang satu ayat berkali-kali hingga maknanya benar-benar meresap ke dalam jiwa.
Imam Nawawi dalam kitab mulianya At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur'ān mencatat:
"Ada sebagian ulama salaf yang membaca satu ayat, mereka men-tadabburi dan mengulang-ulangnya sampai waktu Subuh tiba."
— Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi, At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur'ān
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab agungnya Zādul Ma'ād fī Hadyi Khairi al-'Ibād menambahkan:
"Begitulah kebiasaan para ulama salaf — di antara mereka ada yang mengulang-ulang satu ayat sampai pagi hari tiba."
— Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Zādul Ma'ād
Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah menghabiskan malam hanya dengan mengulang satu ayat. Dalam Sunan an-Nasa'i dan dikuatkan dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa suatu malam Nabi SAW terus mengulang ayat:
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Al-Ma'idah: 118)
Bayangkan — Nabi SAW, manusia yang paling dekat dengan Allah, mengulang ayat ini sepanjang malam. Karena di dalam satu ayat pun tersimpan lautan makna yang tidak habis dijelajahi.
C. Merespons Setiap Ayat dengan Doa yang Sesuai
Syaikh asy-Syinqithi menjelaskan bahwa salah satu metode tadabbur yang paling efektif adalah menghadirkan perasaan bahwa Al-Qur'an merupakan firman Allah yang ditujukan langsung kepadanya sebagai pribadi. Dengan kesadaran ini, seorang pembaca Al-Qur'an akan secara alami merespons setiap ayat dengan doa:
Ketika melewati ayat tentang surga dan kenikmatan-Nya → hati bergetar dan lisan berdoa: Allāhumma innī as'aluka al-jannah — اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ — "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga."
Ketika melewati ayat tentang neraka dan azab-Nya → hati gemetar dan lisan memohon: Allāhumma innī a'ūdzu bika minan-nār — اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ — "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari neraka."
Ketika melewati ayat tentang keagungan dan kebesaran Allah → jiwa bertasbih: Subhānaka wa bi hamdika — سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ.
Inilah yang dimaksud dengan dialog — bukan sekadar menerima teks, tetapi merespons dengan jiwa yang hidup. Allah berbicara melalui ayat-ayat-Nya, dan kita menjawab dengan doa, air mata, dan perubahan sikap.
IV. Praktik Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat: Role Model Dialog
A. Mudarasah dengan Malaikat Jibril: Tradisi Dialog Suci
Setiap tahun di bulan Ramadhan, terjadi sebuah event spiritual yang tidak ada tandingannya dalam sejarah manusia: pertemuan antara Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril 'alaihissalam untuk mengulang dan mempelajari seluruh Al-Qur'an bersama-sama. Ini yang disebut murāja'ah atau mudarasah Al-Qur'an.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ
"Dahulu Jibril mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setiap malam di bulan Ramadhan, dan mereka saling mempelajari Al-Qur'an bersama. Pada tahun wafatnya Rasulullah, Jibril mendatangi dan mempelajari Al-Qur'an bersama beliau sebanyak dua kali."
(HR. Bukhari)
Ibnu Atsir dalam Al-Jāmi' fī Gharībi al-Hadīts menjelaskan bahwa kata yudārisuhū — يُدَارِسُهُ — berarti "saling mempelajari" — sebuah aktivitas dua arah yang interaktif, bukan sekadar membaca sepihak. Ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi SAW sendiri berinteraksi dengan Al-Qur'an secara dialogis — bukan monologis.
Dan mudarasah Nabi dengan Jibril ini dilakukan di bulan Ramadhan — seolah menunjukkan bahwa Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memperdalam interaksi dengan Al-Qur'an.
B. Umar bin Khattab: Khatam Satu Surat dalam Setahun
Kisah berikut ini seharusnya membuat kita merenung panjang. Imam Malik bin Anas meriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar:
"Umar bin Khattab belajar Surat Al-Baqarah selama dua belas tahun. Ketika beliau mengkhatamkannya (yaitu berhasil mengamalkan seluruh hukum yang ada di dalamnya), maka beliau menyembelih beberapa hewan ternak sebagai bentuk syukur."
— Diriwayatkan oleh Imam Malik, dalam Al-Muwaththa'
Umar bin Khattab — sang Amirul Mukminin, orang yang terkenal dengan ketegasan dan kecerdasannya — bukan tidak mampu membaca cepat. Tetapi bagi beliau, "khatam" Al-Qur'an bukan berarti selesai melafalkan dari awal hingga akhir. Khatam yang sesungguhnya adalah ketika setiap ayat telah dimengerti, diinternalisasi, dan diamalkan dalam kehidupan nyata. Dan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Ini bukan berarti kita semua harus meniru persis cara Umar. Tetapi kisah ini mengajarkan kita tentang standar kualitas yang berbeda — standar yang menempatkan pemahaman dan pengamalan di atas sekadar penyelesaian hafalan.
V. Fatwa dan Pandangan Ulama: Khatam Al-Qur'an di Bulan Ramadhan
Pertanyaan yang sering muncul di setiap Ramadhan adalah: apakah lebih baik membaca lebih banyak dan sering khatam, ataukah membaca lebih sedikit tetapi dengan tadabbur yang lebih dalam? Para ulama telah mendiskusikan persoalan ini dengan sangat mendalam.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Kualitas di Atas Kuantitas
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (691-751 H) dalam Zādul Ma'ād fī Hadyi Khairi al-'Ibād membahas persoalan ini dengan sangat bijaksana. Beliau mencatat adanya perbedaan pendapat di antara ulama, namun cenderung menekankan kualitas tadabbur dibanding sekadar kuantitas khatam. Beliau mengutip perkataan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Bagiku membaca satu surat (dengan tadabbur) lebih aku sukai daripada membaca seluruh Al-Qur'an (dengan cepat tanpa tadabbur). Dan jika kamu melakukannya (membaca cepat), maka pastikan kamu membaca sehingga telingamu mendengar apa yang kamu baca dan hatimu memperhatikannya."
— Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dikutip dalam Zādul Ma'ād
Ibnu Qayyim sendiri merangkum prinsip ini dengan indah: yang terpenting bukanlah berapa banyak yang dibaca, melainkan seberapa dalam Al-Qur'an mempengaruhi hati dan perilaku.
Imam Ahmad bin Hanbal: Konteks Menentukan Cara
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H) memberikan pandangan yang berimbang. Beliau menjelaskan bahwa larangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari (sebagaimana dalam hadits) tidaklah mutlak:
"Larangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari itu berlaku jika dilakukan terus-menerus sebagai kebiasaan. Sedangkan jika sesekali dilakukan — apalagi di waktu-waktu utama seperti bulan Ramadhan, lebih-lebih pada malam yang dinanti yaitu Lailatul Qadar, atau di tempat mulia seperti di Makkah — maka disunnahkan untuk memperbanyak tilawah guna memanfaatkan pahala yang melimpah pada waktu dan tempat tersebut."
— Imam Ahmad bin Hanbal, dinukil dalam Siyar A'lāmi an-Nubalā'
Imam Malik: Fokus Total pada Al-Qur'an di Ramadhan
Imam Malik bin Anas (93-179 H) memiliki praktik yang sangat mengesankan. Ibnu Abdul Hakam menceritakan:
"Apabila masuk bulan Ramadhan, Imam Malik meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu, kemudian berpaling sepenuhnya kepada pembacaan Al-Qur'an."
— Diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Hakam
Betapa menakjubkan. Imam Malik — yang hidupnya adalah ilmu hadits — rela meninggalkan aktivitas keilmuannya demi berfokus pada Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Ini bukan berarti hadits tidak penting, tetapi ini adalah penghormatan luar biasa terhadap keistimewaan bulan dan kitab ini.
Imam asy-Syafi'i: Khatam 60 Kali dalam Satu Ramadhan
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i (150-204 H) terkenal dengan amalan yang menakjubkan: mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali dalam satu bulan Ramadhan — dua kali khatam setiap harinya. Dan yang penting dicatat, beliau melakukannya dalam shalat, bukan sekadar membaca cepat di luar shalat.
Ini menunjukkan bahwa bagi yang telah memiliki pemahaman mendalam, kuantitas khatam yang tinggi di Ramadhan adalah amalan mulia. Namun Imam asy-Syafi'i sendiri, sebagaimana dikutip para ulama dalam berbagai kitab, menekankan:
"Aku lebih suka membaca Surat Al-Baqarah dengan tadabbur dan merenungkannya secara mendalam, daripada menghafal seluruh Al-Qur'an tanpa tadabbur."
— Imam asy-Syafi'i
Imam Nawawi: Tidak Ada Satu Ukuran untuk Semua
Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi (631-676 H) dalam At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur'ān menyusun metodologi yang fleksibel dan kontekstual:
"Pilihan metode bervariasi berdasarkan kondisi individu. Mereka yang memiliki pemahaman mendalam harus membatasi bacaan pada apa yang memungkinkan mereka memahami sepenuhnya. Mereka yang memiliki tanggung jawab agama lain harus membatasi pada apa yang tidak mengorbankan kewajiban-kewajiban tersebut. Jika seseorang tidak termasuk dalam kategori yang disebutkan, mereka harus membaca sebanyak mungkin — tanpa mencapai titik kebosanan atau kelalaian."
— Imam Nawawi, At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur'ān
Ibnu Rajab al-Hanbali: Anjuran Banyak Tilawah di Ramadhan
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (736-795 H) dalam Laṭā'if al-Ma'ārif menegaskan:
"Hadits tentang mudarasah Nabi dengan Jibril menunjukkan bahwa kaum muslimin dianjurkan untuk banyak mempelajari Al-Qur'an pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk mempelajarinya bersama. Dianjurkan pula banyak melakukan tilawah Al-Qur'an di bulan Ramadhan."
— Ibnu Rajab al-Hanbali, Laṭā'if al-Ma'ārif
Berikut adalah rangkuman pandangan para ulama dalam perbandingan yang mudah dipahami:
| Aspek | Kesepakatan Ulama |
|---|---|
| Kewajiban | Mengkhatamkan Al-Qur'an di Ramadhan tidak wajib |
| Sunnah | Memperbanyak tilawah Al-Qur'an di Ramadhan adalah sunnah muakkadah |
| Metode | Tergantung kemampuan individu — bagi yang faham dan mampu, boleh khatam cepat; bagi yang belum, prioritaskan tadabbur |
| Konteks | Ramadhan memiliki kekhususan yang membolehkan khatam lebih banyak dari biasanya, terutama di 10 malam terakhir |
| Prinsip Utama | Al-Qur'an harus mempengaruhi hati dan perilaku — bukan sekadar dilalui oleh lisan |
VI. Tantangan Modern dan Solusinya
A. Sindrom "Khatam Kilat": Kritik dari Dalam Tradisi
Di era digital ini, fenomena yang terjadi justru semakin mengkhawatirkan. Kita memiliki aplikasi Al-Qur'an dengan fitur penghitung khatam, timer, dan pengingat target harian. Alat-alat ini pada dasarnya tidak salah, tetapi jika digunakan hanya untuk mengejar angka, maka ia menjadi kontraproduktif.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma pernah memperingatkan dengan tajam tentang bahaya membaca Al-Qur'an dengan terburu-buru:
"Ketika mereka buru-buru sedemikian rupa dalam membaca, maka mereka akan saling mengaku paling benar — berselisih dan masing-masing mengatakan 'akulah yang benar'. Padahal Al-Qur'an turun agar mereka bersatu, bukan agar mereka berselisih."
— Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
Ini adalah peringatan yang sangat relevan. Ketika Al-Qur'an tidak dibaca dengan tadabbur, ia kehilangan fungsi pemersatunya dan justru bisa menjadi sumber perpecahan — karena setiap orang hanya mengambil potongan-potongan ayat tanpa memahami konteks dan keutuhannya.
B. Solusi Praktis: Menggabungkan Kuantitas dan Kualitas
Bagi kita yang hidup di zaman modern dengan segala kesibukannya, bagaimana solusi praktisnya? Para ulama memberikan jalan tengah yang bijaksana:
Pertama, tentukan waktu khusus setiap hari untuk membaca Al-Qur'an dengan tadabbur penuh — meski hanya satu halaman atau satu halaman setengah. Baca perlahan, pahami maknanya, resapi pesannya. Ini adalah "porsi dialog" harian kita dengan Allah.
Kedua, manfaatkan waktu lain untuk tilawah yang lebih banyak — saat perjalanan, saat menunggu, saat shalat tarawih — dengan tetap menjaga kehadiran hati semaksimal mungkin.
Ketiga, gunakan terjemahan dan tafsir ringkas sebagai teman membaca. Bukan untuk dibaca paralel setiap ayat, tetapi untuk memahami gambaran besar surah yang sedang dibaca sebelum memulai tilawah.
Keempat, sesekali, pilihlah satu ayat yang "berbicara" kepada Anda hari itu — simpan ia di dalam hati, renungkan sepanjang hari, jadikan ia panduan sikap dan perilaku Anda hingga malam tiba.
VII. Kesimpulan: Menuju Ramadhan yang Bermakna — Ramadhan sebagai Sekolah Al-Qur'an
Ramadhan sebagai "Bulan Al-Qur'an" bukan sekadar label historis — karena Al-Qur'an diturunkan pada bulan ini. Ia adalah invitasi ilahi yang datang setiap tahun: undangan untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai sandaran, panduan, obat, dan cahaya dalam hidup kita.
Dialog dengan Allah melalui Al-Qur'an memerlukan beberapa kondisi jiwa yang harus kita bangun:
Pertama, kesadaran bahwa setiap ayat adalah pesan pribadi dari Allah kepada kita — bukan hanya kepada umat di masa lalu. Ketika Allah berfirman "Yā ayyuhal ladzīna āmanū" — يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا — Ia memanggil kita juga.
Kedua, ketelitian dalam membaca (tartil), bukan tergesa-gesa. Karena Al-Qur'an adalah percakapan, dan percakapan yang terburu-buru tidak menghasilkan pemahaman.
Ketiga, renungan mendalam (tadabbur) yang menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata kita — permasalahan, tantangan, dan kegembiraan kita sehari-hari.
Keempat, amalan langsung — mengubah pemahaman menjadi praktik. Karena Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, bukan sekadar diketahui.
Kelima, doa responsif — merespons setiap ayat dengan doa yang sesuai, sehingga pembacaan Al-Qur'an benar-benar menjadi dialog dua arah yang hidup.
Teladan terbaik dalam hal ini datang dari para sahabat. Abu Abdurrahman as-Sulami, seorang tabi'in yang belajar Al-Qur'an langsung dari para sahabat, menyampaikan warisan berharga ini:
"Sungguh kami telah mengambil Al-Qur'an dari kaum yang bercerita kepada kami bahwa jika mereka telah belajar sepuluh ayat, maka mereka tidak akan melewatinya atau melanjutkan ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka bisa mengamalkan sepuluh ayat tersebut. Jadi kami mempelajari Al-Qur'an sekaligus mengamalkannya."
— Abu Abdurrahman as-Sulami, diriwayatkan dalam berbagai kitab hadits dan 'ulum al-Qur'an
Inilah standar generasi terbaik. Mereka tidak bergerak maju sebelum yang sudah dipelajari benar-benar tertanam dalam amal perbuatan. Maka kemajuan mereka memang lambat dalam hal jumlah hafalan, tetapi amat sangat pesat dalam hal kualitas keislaman dan keimanan.
Semoga Ramadhan yang mulia ini menjadi momentum bagi kita semua untuk bertransformasi — dari sekadar pembaca Al-Qur'an menjadi pelaku Al-Qur'an; dari sekadar yang melafazkan firman-Nya menjadi yang benar-benar berdialog dengan-Nya; dari sekadar yang mengejar target khatam menjadi yang mengejar khatam dalam arti yang sesungguhnya — yaitu ketika Al-Qur'an telah mengkhatami (menyelesaikan, menyempurnakan) diri kita.
Karena pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa banyak Al-Qur'an yang kita baca. Ramadhan adalah tentang seberapa banyak Al-Qur'an yang membaca kita — menemukan celah-celah dalam karakter kita, mengisi kekosongan dalam jiwa kita, dan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah dan sesama manusia.
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk ke jalan yang paling lurus..."
(QS. Al-Isra': 9)
Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menemukan jalan yang paling lurus itu — dan menjalaninya dengan sepenuh hati.
Wallāhu a'lam bish-shawāb. — وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Daftar Pustaka
Al-Qur'an al-Karim (QS. Al-Baqarah: 185, QS. Shad: 29, QS. Al-Isra': 9 & 82, QS. Ar-Ra'd: 28, QS. Muhammad: 24, QS. Al-Muzzammil: 4, QS. Al-Ma'idah: 118) • Shahih Bukhari — Imam al-Bukhari • Shahih Muslim — Imam Muslim • Sunan at-Tirmidzi — Imam at-Tirmidzi • Musnad Ahmad — Imam Ahmad bin Hanbal • Al-Muwaththa' — Imam Malik bin Anas • Zādul Ma'ād fī Hadyi Khairi al-'Ibād — Ibnu Qayyim al-Jauziyah • At-Tibyān fī Ādābi Ḥamalati al-Qur'ān — Imam Nawawi • Laṭā'if al-Ma'ārif — Ibnu Rajab al-Hanbali • Muqaddimah Adhwā'ul Bayān — Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi • Al-Jāmi' fī Gharībi al-Hadīts — Ibnu Atsir • Mukhtashar Qiyamul Lail — Imam Muhammad bin Nashr al-Maruzi • Siyar A'lāmi an-Nubalā' — Imam adz-Dzahabi • Al-Itqān fī 'Ulūmi al-Qur'ān — Imam as-Suyuthi