Tahajjud dan Neurologi Tidur Sains di Balik Shalat Malam
Tahajjud dan Neurologi Tidur: Sains di Balik Shalat Malam
Kajian Akademis-Populer | Neurosains, Psikologi Tidur, dan Spiritualitas Islam
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajjud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
— Al-Qur'an, Surah Al-Isra': 79
Ayat ini turun empat belas abad yang lalu. Namun baru pada abad ke-20 dan ke-21, ilmu neurosains mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan mengapa bangun di sepertiga malam terakhir — tepat pada fase tidur yang paling berharga secara biologis — adalah sebuah perintah yang menyentuh inti desain tubuh manusia.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda.
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru alam dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar."
— Al-Qur'an, Surah Fussilat: 53
Arsitektur Tidur Manusia: Desain yang Tidak Acak
Siklus Ultradian: Simfoni Malam yang Berulang
Tidur manusia bukan kondisi pasif yang seragam. Ia adalah sebuah arsitektur dinamis yang terstruktur dalam siklus-siklus berulang sepanjang malam, masing-masing berlangsung sekitar 90 menit. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap yang berbeda secara neurologis:
| Tahap Tidur | Nama Ilmiah | Durasi Tipikal | Fungsi Utama |
|---|---|---|---|
| Tahap 1 | NREM 1 | 1–5 menit | Transisi sadar–tidur, relaksasi otot |
| Tahap 2 | NREM 2 | 10–25 menit | Konsolidasi memori prosedural, penurunan suhu tubuh |
| Tahap 3 | NREM 3 / Slow-Wave Sleep | 20–40 menit | Perbaikan fisik, imunitas, sekresi growth hormone |
| Tahap 4 | REM Sleep | 10–60 menit | Konsolidasi memori emosional, kreativitas, regulasi mood |
Distribusi Tidur: Mengapa Sepertiga Malam Terakhir Istimewa?
Inilah fakta neurologis yang paling relevan dengan tahajjud: komposisi siklus tidur berubah seiring berjalannya malam. Pada siklus-siklus awal (sepertiga malam pertama), tidur didominasi oleh Slow-Wave Sleep (NREM 3) — fase pemulihan fisik yang dalam. Namun pada siklus-siklus akhir (sepertiga malam terakhir), proporsi tidur REM meningkat drastis.
Tidur REM (Rapid Eye Movement) adalah fase di mana otak justru paling aktif — hampir seperti saat terjaga, namun dengan profil gelombang dan neuroimia yang sangat unik. Ini adalah fase:
- Pemrosesan emosi dan memori episodik
- Integrasi pengalaman dan pengetahuan baru
- Aktivitas mimpi yang bermakna (dreaming)
- Regulasi neurokimia: serotonin, dopamin, norepinefrin
Rasulullah ﷺ bersabda, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ "Tuhan kita Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.'"
— HR. Bukhari No. 1145 & Muslim No. 758Sepertiga malam terakhir adalah momen ketika langit "terbuka" secara spiritual — dan secara neurologis, justru saat otak manusia berada dalam kondisi paling reseptif, paling integratif, dan paling empatik. Sebuah korespondensi yang menakjubkan.
Neurosains Tahajjud: Apa yang Terjadi di Dalam Otak?
Gelombang Otak saat Shalat: Antara Alpha dan Theta
Penelitian electroencephalography (EEG) pada individu yang sedang berdoa dan bermeditasi secara konsisten menunjukkan dominasi gelombang alpha (8–12 Hz) dan theta (4–8 Hz) — gelombang yang sama yang muncul saat otak berada dalam kondisi paling kreatif, paling terbuka, dan paling reseptif terhadap insight.
Penelitian Newberg & Waldman (2009) dalam buku How God Changes Your Brain menggunakan SPECT imaging (Single Photon Emission Computed Tomography) dan menemukan bahwa praktik spiritual intensif mengaktifkan korteks prefrontal anterior — pusat perhatian, konsentrasi, dan empati — sambil menonaktifkan parietal lobe yang bertanggung jawab atas rasa pemisahan diri dari lingkungan. Hasilnya: perasaan unity, ketenangan mendalam, dan penurunan kecemasan yang terukur.
Kortisol, Melatonin, dan Ritme Sirkadian
Dua hormon memegang peranan kunci dalam memahami neurologi tahajjud:
Melatonin — hormon "gelap" yang diproduksi oleh kelenjar pineal saat mata tidak terpapar cahaya. Melatonin mencapai puncaknya sekitar pukul 02.00–03.00 dini hari, tepat pada rentang waktu tahajjud yang dianjurkan. Melatonin bukan sekadar hormon tidur — ia adalah antioksidan kuat dan memiliki efek imunomodulator yang signifikan.
Kortisol — hormon "stres" yang secara alami mulai meningkat menjelang subuh (sekitar pukul 04.00–06.00) sebagai persiapan tubuh untuk aktivitas siang. Bangun untuk tahajjud, kemudian kembali tidur sejenak sebelum subuh, atau langsung menyongsong subuh — berarti menyelaraskan diri dengan ritme kortisol alami tubuh, bukan melawannya.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij Al-Salikin menulis:
قِيَامُ اللَّيْلِ يُسَهِّلُ أُمُورَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَيُنَوِّرُ الْقَلْبَ وَيُبَهِّجُ الْوَجْهَ وَيُرَوِّحُ الْبَدَنَ وَيَدْفَعُ الأَسْقَامَ "Qiyamullail memudahkan urusan dunia dan akhirat, menerangi hati, mencerahkan wajah, menyegarkan badan, dan menolak penyakit."
Tujuh abad sebelum neurosains modern, Ibnu Qayyim sudah mendeskripsikan efek psikosomatis dari shalat malam dengan presisi yang mengagumkan.
Tahajjud dan Default Mode Network
Salah satu penemuan neurosains paling revolusioner abad ke-21 adalah Default Mode Network (DMN) — jaringan saraf yang aktif justru saat kita tidak sedang mengerjakan tugas eksternal: saat melamun, merenung, atau introspeksi. DMN adalah substrate neurologis dari self-reflection, narrative self, dan pemrosesan makna.
Shalat tahajjud — dengan kombinasi tilawah Al-Qur'an, ruku', sujud, dan doa yang panjang — menciptakan kondisi unik di mana DMN teraktivasi secara terkontrol dan terarah. Bukan pelamun an kosong, melainkan kontemplasi bermakna. Penelitian Josipovic et al. (2012) dalam jurnal NeuroImage menunjukkan bahwa meditasi berbasis konten spiritual mengaktifkan DMN dengan cara yang berbeda dari pelamun an biasa — lebih terarah, lebih integratif, dan menghasilkan lebih sedikit "pikiran negatif berulang" (rumination).
Sujud: Posisi yang Mengubah Otak
Sujud dan Aliran Darah ke Otak
Posisi sujud adalah posisi di mana kepala berada lebih rendah dari jantung. Dalam ilmu fisiologi, ini disebut posisi Trendelenburg parsial — posisi yang secara aktif meningkatkan aliran darah ke otak (cerebral blood flow) melalui mekanisme gravitasi.
Penelitian Doufesh et al. (2012) yang dipublikasikan dalam jurnal Complementary Therapies in Clinical Practice mengukur aktivitas otak selama shalat menggunakan EEG dan menemukan peningkatan signifikan pada gelombang alpha selama sujud — indikator relaksasi mendalam dan penurunan kecemasan.
Lebih jauh, penelitian Bhimji (2017) mencatat bahwa posisi sujud yang dilakukan berulang kali melatih refleks baroreceptor — sistem sensor tekanan darah — yang berkontribusi pada regulasi tekanan darah jangka panjang.
Allah ﷻ berfirman:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ "Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)."
— Al-Qur'an, Surah Al-'Alaq: 19
Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadits Muslim No. 482: "Sedekat-dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud." Sujud bukan hanya puncak spiritualitas — ia adalah puncak aktivasi parasympathetic nervous system: detak jantung melambat, napas teratur, dan otak masuk ke mode paling reseptif.
Sujud dan Redaman Amigdala
Amigdala adalah pusat pemrosesan ketakutan, kecemasan, dan respons fight-or-flight di otak. Penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa praktik spiritual dan doa yang konsisten menghasilkan penurunan reaktivitas amigdala terhadap stresor — fenomena yang disebut amygdala downregulation.
Dalam konteks tahajjud, sujud yang panjang dan khusyuk di kesunyian malam adalah kondisi optimal untuk amygdala downregulation: tidak ada stimulus eksternal yang mengganggu, tubuh dalam posisi relaksasi, dan pikiran terfokus pada satu Dzat Yang Maha Besar. Hasilnya: penurunan kadar kortisol, penurunan tekanan darah, dan perasaan aman yang mendalam.
Tahajjud dan Kesehatan Mental: Bukti Empiris
Depresi, Kecemasan, dan Shalat Malam
Studi Abdel-Khalek (2006) yang diterbitkan dalam Mental Health, Religion & Culture menemukan korelasi negatif yang signifikan antara religiusitas — termasuk intensitas shalat malam — dengan tingkat kecemasan dan depresi. Mereka yang rutin menjalankan shalat malam melaporkan tingkat wellbeing subjektif yang lebih tinggi, rasa bermakna (sense of purpose) yang lebih kuat, dan resiliensi terhadap stresor kehidupan yang lebih baik.
Penelitian Rosmarin et al. (2011) dalam Journal of Affective Disorders menunjukkan bahwa doa pribadi yang intim dan tulus — bukan sekadar ritual mekanis — berkorelasi dengan penurunan gejala depresi yang setara dengan beberapa intervensi psikoterapi standar.
Paradoks Produktif: Tahajjud Justru Meningkatkan Kualitas Tidur
Ini mungkin terdengar kontradiktif: bukankah bangun malam mengurangi tidur? Jawabannya: tidak selalu — bahkan sering sebaliknya, bila dilakukan dengan benar.
Penelitian tentang biphasic sleep — pola tidur dua fase yang umum sebelum era industrialisasi — menunjukkan bahwa manusia secara biologis terprogram untuk bangun sejenak di tengah malam, lakukan aktivitas ringan, kemudian kembali tidur. Sejarawan A. Roger Ekirch dalam At Day's Close: Night in Times Past mendokumentasikan bahwa tidur dua fase (tidur pertama–terjaga–tidur kedua) adalah norma biologis manusia selama ribuan tahun sebelum lampu listrik mengubah ritme malam.
Pola tahajjud — tidur awal malam, bangun sepertiga malam terakhir, kemudian kembali tidur sebentar atau menyongsong subuh — adalah persis pola biphasic ini. Secara biologis, ini bukan gangguan tidur; ini adalah ritme tidur yang paling alami bagi spesies kita.
Rasulullah ﷺ bersabda, diriwayatkan oleh Imam Muslim:
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ "Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam."
— HR. Muslim No. 1163
Dan Nabi ﷺ sendiri mencontohkan: beliau tidur di awal malam, bangun untuk tahajjud, lalu memiliki sedikit waktu istirahat sebelum subuh. Ini adalah sleep hygiene terbaik yang pernah dicontohkan manusia.
Mekanisme Psikologis: Mengapa Tahajjud Mengubah Jiwa?
Kesendirian Nokturnal sebagai Terapi
Ada dimensi psikologis tahajjud yang jarang dibahas: kesendirian di malam hari adalah kondisi yang sangat berbeda dari kesendirian di siang hari. Malam meredam stimulus eksternal, menurunkan tekanan sosial, dan membuka ruang bagi kejujuran diri yang lebih dalam. Para psikolog menyebut ini restorative solitude — kesendirian yang memulihkan, berbeda dari kesendirian yang menyakitkan.
Saat seseorang bangun untuk tahajjud sementara semua orang tidur, ia sedang melakukan sesuatu yang sangat kuat secara psikologis: ia memilih Tuhan di atas tidur. Tindakan ini sendiri — terlepas dari mekanisme biologisnya — menciptakan identity shift: "Aku adalah seseorang yang cukup mencintai Allah untuk bangun malam demi-Nya." Pergeseran identitas ini memiliki efek kaskade positif pada perilaku dan motivasi sepanjang hari.
Doa Malam sebagai Self-Disclosure Terapeutik
Psikologi klinis telah lama mengetahui bahwa self-disclosure — berbagi pikiran dan perasaan terdalam kepada entitas yang dipercaya — adalah mekanisme penyembuhan psikologis yang kuat. Penelitian James Pennebaker (1997) dalam Journal of Clinical Psychology menunjukkan bahwa menulis atau mengekspresikan emosi terdalam secara konsisten meningkatkan kesehatan imun, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Doa tahajjud — di mana seorang Muslim berbicara langsung kepada Allah, mencurahkan segala harap dan takut, memohon dengan penuh kerendahan — adalah bentuk self-disclosure paling sempurna: kepada Dzat yang Maha Mendengar, Maha Memahami, dan tidak pernah menghakimi.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin (Kitab Asrar Al-Shalah) menulis:
الْقَلْبُ فِي الصَّلَاةِ كَالْمَلِكِ فِي قَصْرِهِ وَالْجَوَارِحُ جُنُودُهُ فَإِنِ اشْتَغَلَ الْقَلْبُ بِاللهِ اشْتَغَلَتِ الْجَوَارِحُ كُلُّهَا بِخِدْمَتِهِ "Hati dalam shalat ibarat raja di istananya, dan anggota tubuh adalah pasukannya. Jika hati sibuk dengan Allah, maka seluruh anggota tubuh pun sibuk melayani-Nya."
Ini adalah deskripsi integrasi top-down dalam neurosains: korteks prefrontal yang "sibuk dengan Allah" akan meregulasi seluruh sistem tubuh — dari amigdala hingga sistem imun.
Pola Tidur Rasulullah ﷺ: Sleep Hygiene Tertinggi
Sunnah Tidur: Panduan yang Melampaui Zamannya
Jika kita merangkum sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ terkait tidur, kita akan menemukan panduan sleep hygiene yang sangat sesuai dengan rekomendasi sleep science modern:
| Sunnah Rasulullah ﷺ | Konfirmasi Sains Modern |
|---|---|
| Tidur awal malam setelah Isya (tidak begadang tanpa keperluan) | Sleep onset awal meningkatkan proporsi Slow-Wave Sleep yang restoratif |
| Berwudhu sebelum tidur | Air wudhu menurunkan suhu kulit dan mempercepat induksi tidur (sleep onset latency) |
| Tidur miring ke kanan | Posisi lateral kanan mengurangi beban pada jantung dan meningkatkan glymphatic clearance otak |
| Membaca dzikir/doa sebelum tidur | Aktivasi parasympathetic nervous system, menurunkan kortisol, dan mempersiapkan otak untuk tidur nyenyak |
| Bangun sepertiga malam terakhir untuk tahajjud | Memanfaatkan puncak melatonin dan fase REM terpanjang untuk pengalaman spiritual tertinggi |
| Qailulah — tidur siang singkat | Tidur 20–30 menit memulihkan vigilans, memori kerja, dan produktivitas sore hari |
Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu."
— Al-Qur'an, Surah Al-Ahzab: 21
Termasuk dalam urusan tidur dan bangun malam — sunnah Nabi ﷺ adalah panduan kesehatan yang sempurna.
Penemuan Terbaru: Sistem Glymphatic dan Pembersihan Otak saat Tidur
Otak Membersihkan Dirinya saat Kita Tidur
Salah satu penemuan neurosains paling revolusioner dekade ini adalah identifikasi glymphatic system — sistem "cucian" otak yang bekerja terutama saat tidur malam. Penelitian Maiken Nedergaard (2013) dari University of Rochester, dipublikasikan dalam jurnal Science, menunjukkan bahwa selama tidur, sel-sel glial otak menyusut hingga 60%, membuka celah yang memungkinkan cairan serebrospinal "membilas" limbah metabolik — termasuk protein beta-amiloid yang merupakan penanda Alzheimer.
Implikasinya sangat signifikan: kurang tidur bukan hanya membuat lelah — ia secara harfiah menumpuk racun di otak. Dan sistem glymphatic ini paling aktif selama tidur malam yang nyenyak, terutama selama fase Slow-Wave Sleep.
Ini memberikan dimensi baru pada perintah Allah untuk tidak begadang tanpa keperluan, dan untuk tidur cukup di awal malam sebelum bangun untuk tahajjud. Tubuh butuh waktu untuk "mencuci" otak terlebih dahulu, sebelum kemudian bangun untuk melayani Allah.
Variabel Moderator: Apa yang Menentukan Kualitas Tahajjud?
Kekhusyukan (Khushū'): Variabel Paling Kritis
Tidak semua tahajjud memberikan efek psikologis dan neurologis yang sama. Penelitian neurosains spiritual secara konsisten menunjukkan bahwa efek terbesar terjadi saat praktik spiritual dilakukan dengan penuh perhatian dan kehadiran hati — bukan secara mekanis.
Khusyuk — الخُشُوعُ — dalam terminologi Islam adalah kondisi hati yang hadir penuh di hadapan Allah: pikiran tidak melayang, hati tidak lalai. Ini bukan sekadar konsep spiritual — ia adalah deskripsi yang tepat dari kondisi focused attention meditation yang dalam neurosains terbukti paling efektif mengubah struktur otak melalui neuroplasticity.
Allah ﷻ berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ "Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman — yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."
— Al-Qur'an, Surah Al-Mu'minun: 1–2
Keberuntungan (falah) yang dijanjikan di sini bukan hanya pahala akhirat — ia adalah keberuntungan holistik: jiwa yang sehat, pikiran yang jernih, dan hidup yang bermakna.
Konsistensi (Istiqāmah): Kunci Neuroplasticity
Neurosains mengajarkan bahwa neuroplasticity — kemampuan otak untuk berubah secara struktural sebagai respons terhadap pengalaman — membutuhkan pengulangan yang konsisten. Perubahan nyata pada jaringan saraf membutuhkan praktik yang dilakukan berulang-ulang selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Ini persis yang ditekankan Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit."
— HR. Bukhari No. 6465 & Muslim No. 783
Dari kacamata neurosains: dua rakaat tahajjud setiap malam selama setahun akan menghasilkan perubahan otak yang jauh lebih signifikan daripada dua puluh rakaat sebulan sekali. Konsistensi adalah mekanisme neuroplasticity.
Panduan Praktis: Memulai Tahajjud dengan Bijak
Strategi Berbasis Sains dan Sunnah
1. Niatkan sejak sore hari. Penelitian tentang implementation intention (Gollwitzer, 1999) menunjukkan bahwa niat yang spesifik ("Aku akan bangun pukul 03.00 untuk tahajjud") tiga kali lebih efektif mendorong perilaku dibanding niat umum. Ini sejalan dengan adab Islam: meniatkan tahajjud sebelum tidur.
2. Tidur lebih awal. Jika harus bangun pukul 03.00, tidur pukul 21.30–22.00 memberikan 4–4.5 siklus tidur (±6 jam) yang cukup untuk pemulihan fisik melalui Slow-Wave Sleep sebelum bangun tahajjud.
3. Hindari layar sebelum tidur. Cahaya biru dari gawai menekan produksi melatonin. Rasulullah ﷺ tidak memiliki gawai, namun beliau membaca dzikir — yang justru mengaktifkan sistem parasympathetic dan mempersiapkan otak untuk tidur nyenyak.
4. Mulai gradual, istiqamah. Dua rakaat yang konsisten lebih bernilai neurologis dan spiritually daripada delapan rakaat yang sekali-sekali. Biarkan kebiasaan terbentuk dulu sebelum menambah.
5. Manfaatkan momen puncak. Pukul 02.30–04.00 adalah waktu terbaik: puncak melatonin, dominasi gelombang theta di otak, dan — dalam keyakinan Islam — waktu mustajab yang Allah janjikan dalam hadits tentang nuzul ilahi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa berkata:
مَا تَرَكْتُ قِيَامَ اللَّيْلِ مُنْذُ عَقَلْتُ إِلَّا مَرَّةً وَاحِدَةً بِسَبَبِ مَرَضٍ شَدِيدٍ "Aku tidak pernah meninggalkan qiyamullail sejak aku berakal, kecuali sekali karena sakit yang parah."
Konsistensi seorang ulama besar selama puluhan tahun — bukan karena paksaan, melainkan karena hati yang telah merasakan manisnya bermunajat di malam hari.
Kesimpulan: Ketika Langit dan Saraf Berbicara Satu Bahasa
Apa yang telah kita jelajahi bersama dalam artikel ini adalah percakapan antara dua bahasa: bahasa wahyu dan bahasa sains. Keduanya, dari sudut pandang yang berbeda, berbicara tentang hal yang sama:
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang istimewa. Langit menyebutnya waktu nuzul ilahi. Neurosains menyebutnya puncak tidur REM dan melatonin. Keduanya sepakat: ini bukan waktu yang biasa.
Sujud mengubah otak. Fiqh menyebutnya puncak ibadah. Neurosains menyebutnya amygdala downregulation dan peningkatan gelombang alpha. Keduanya sepakat: sujud membawa ketenangan yang nyata.
Konsistensi mengubah jiwa. Islam menyebutnya istiqāmah. Neurosains menyebutnya neuroplasticity. Keduanya sepakat: pengulangan yang tulus, dari waktu ke waktu, mengubah seseorang secara fundamental.
Rasulullah ﷺ bersabda, diriwayatkan oleh Imam Al-Tirmidzi (No. 3549, dinilai shahih):
عَلَيْكَ بِطُولِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً "Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah engkau sujud kepada Allah satu sujud pun kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahan darimu."Setiap sujud mengangkat derajat. Dan kini kita tahu — sains pun mengonfirmasi — bahwa setiap sujud juga mengangkat kadar ketenangan, menurunkan kecemasan, dan membantu otak menjadi lebih sehat. Derajat di sisi Allah, dan derajat kesehatan jiwa — keduanya hadir bersama dalam satu gerakan: dahi yang menyentuh bumi.
Maka bangunlah di malam hari. Bukan karena sains menyuruhmu — tapi karena Allah memanggilmu. Dan bila sains turut bersaksi atas keagungan perintah-Nya, biarlah itu semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap perintah-Nya adalah rahmat, dan setiap sunnah Nabi-Nya adalah hikmah yang tak bertepi.
Allāhumma innaka 'afuwwun, tuhibbul 'afwa, fa'fu 'annā.
Referensi Ilmiah
- Newberg AB & Waldman MR. (2009). How God Changes Your Brain. Ballantine Books.
- Nedergaard M et al. (2013). Sleep Drives Metabolite Clearance from the Adult Brain. Science, 342(6156).
- Doufesh H et al. (2012). EEG spectral analysis on Muslim prayers. Complementary Therapies in Clinical Practice.
- Josipovic Z et al. (2012). Influence of meditation on anti-correlated networks. NeuroImage.
- Abdel-Khalek AM. (2006). Happiness, health and religiosity. Mental Health, Religion & Culture.
- Rosmarin DH et al. (2011). Prayer and cognitive-behavioral therapy. Journal of Affective Disorders.
- Pennebaker JW. (1997). Writing about emotional experiences. Psychological Science.
- Ekirch AR. (2005). At Day's Close: Night in Times Past. Norton.
- Gollwitzer PM. (1999). Implementation intentions. American Psychologist.
Sumber Islami
- Al-Qur'an Al-Karim
- Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari
- Imam Muslim, Shahih Muslim
- Imam Al-Tirmidzi, Sunan Al-Tirmidzi
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij Al-Salikin
- Ibnu Taimiyyah, Majmu' Al-Fatawa