IBUMU — IBUMU — IBUMU
IBUMU — IBUMU — IBUMU
Bakti yang Tak Pernah Lunas kepada Perempuan yang Melahirkanmu
— Sebuah Renungan di Bulan Ramadhan —
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai jiwa yang sedang membaca ini...
Ada satu nama yang ingin kusebut.
Bukan nama raja. Bukan nama presiden. Bukan nama siapa pun yang tertulis dalam buku sejarah.
Nama itu lebih dekat dari itu semua.
Nama itu adalah... Ibu.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula." — QS. Al-Ahqaf: 15
Berhentilah sejenak.
Letakkan apa pun yang sedang kau kerjakan.
Dan izinkan hatimu merasakan sesuatu yang mungkin sudah lama tidak kau rasakan:
Rindu kepada ibumu.
I. Perempuan yang Menjadi Asal-Usulmu
Sebelum kau mengenal dunia...
Dunia mengenalmu melalui dia.
Sebelum kau tahu rasanya lapar...
Ia sudah belajar menahan lapar demi menjagamu.
Sebelum kau tahu rasanya sakit...
Ia telah menanggung sakit yang paling hebat yang pernah dirasakan manusia — demi menghadirkanmu ke dunia ini.
Dan ketika kau lahir...
Tangisanmu adalah suara paling merdu yang pernah ia dengar.
Wajahmu yang merah dan keriput itu — adalah pemandangan paling indah yang pernah ditangkap matanya.
Kau belum memberi apa-apa.
Tapi ia sudah mencintaimu lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapat perlakuan baikku?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lelaki itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Lelaki itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Baru pada pertanyaan keempat beliau menjawab: "Ayahmu." — HR. Bukhari & Muslim
Tiga kali.
Rasulullah ﷺ tidak terburu-buru menjawab pertanyaan keempat.
Seolah beliau ingin kita berhenti di situ. Meresapi. Memahami. Bahwa ada sesuatu pada ibu yang tidak bisa disamakan dengan siapa pun.
II. Selagi Ia Masih Ada — Jangan Tunda Lagi
Wahai kamu yang ibunya masih hidup...
Bacalah ini dengan perlahan.
Karena ini mungkin adalah pengingat terpenting yang akan kau baca hari ini.
Kau tahu ia sudah tua.
Kau tahu rambutnya tidak lagi hitam seperti dulu.
Kau tahu tangannya sudah tidak sekuat ketika ia dulu menggendongmu.
Kau tahu matanya sudah tidak setajam ketika ia dulu begadang menjagamu demam.
Dan kau tahu... suatu hari nanti ia akan pergi.
Tapi kau terus menunda.
Menunda menelepon. Menunda mengunjungi. Menunda duduk di sampingnya hanya untuk mendengarkan ceritanya yang mungkin sudah kau dengar berkali-kali.
"Jangan sampai kamu menyesal di depan kuburannya atas apa yang tidak sempat kamu lakukan semasa ia hidup."
Ada seorang anak yang bercerita dengan air mata:
"Saya pikir masih ada waktu. Ternyata tidak ada."
Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dikembalikan. Dan ibu adalah satu-satunya orang yang ketika ia pergi, dunia seketika terasa berbeda — lebih sepi, lebih dingin, lebih jauh dari langit.
Apa yang Bisa Kau Lakukan Hari Ini
| Yang Sering Kita Tunda | Yang Bisa Dilakukan Sekarang |
|---|---|
| Menelepon karena "nanti saja" | Hubungi sekarang, meski hanya tiga menit |
| Menunggu lebaran untuk pulang | Datangi di luar musim, justru lebih berkesan |
| Sibuk saat ia bercerita | Letakkan HP, tatap matanya, dengarkan |
| Lupa mendoakannya | Sebut namanya dalam setiap sujudmu |
Ia tidak butuh hadiah mahal darimu.
Ia hanya butuh tahu bahwa anaknya masih mengingatnya.
Bahwa ia tidak kesepian.
Bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
III. Jangan Sakiti Ia dengan Lisanmu
Allah berfirman dengan sangat tegas dalam Al-Quran:
"...maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya." — QS. Al-Isra: 23
Perhatikan — Allah tidak melarang memukul ibu. Bukan karena memukul dibolehkan. Tapi karena Allah tahu... kata-kata bisa lebih menyakitkan dari pukulan.
Satu kata kasar yang keluar dari mulutmu...
Mungkin sudah lama kau lupakan.
Tapi ia... ia menyimpannya. Diam-diam. Di sudut hatinya yang paling dalam.
Ia tidak membalasmu.
Ia tidak mengadu ke siapa pun.
Ia hanya mendoakanmu — bahkan setelah kau menyakitinya.
Itulah ibu.
Hatinya lebih luas dari samudra, dan kita terlalu sering membuang sampah di dalamnya.
IV. Ketika Ia Mulai Pikun dan Lemah
Akan tiba masanya...
Ia yang dulu mengajarkanmu cara makan — kini perlu disuapi.
Ia yang dulu memandikanmu setiap pagi — kini perlu dibantu mandi.
Ia yang dulu menggendongmu tanpa mengeluh — kini perlu digendong.
Dan di situlah ujian sesungguhnya dimulai.
Apakah kita akan menjadi anak yang sabar?
Atau kita akan menganggapnya sebagai beban?
"Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah'..." — QS. Al-Isra: 23
Ingatlah...
Dulu ada malam-malam ketika kau mengompol dan menangis tanpa henti.
Ia tidak mengeluh. Ia bangun. Ia bersihkan. Ia gendong. Ia nyanyikan. Sampai kau tertidur kembali.
Ia tidak pernah berkata: "Aku lelah."
Maka ketika giliranmu hadir...
Ketika ia yang sekarang membutuhkan kesabaranmu...
Ingatlah malam-malam itu.
Dan jadilah anak yang layak disebut anak.
V. Wahai Kamu yang Ibunya Telah Tiada...
Aku tahu ada di antara pembaca ini yang hatinya langsung terasa berat.
Karena ibumu sudah pergi.
Dan Ramadhan ini adalah Ramadhan tanpa dia.
Tidak ada lagi suaranya di pagi hari yang membangunkanmu sahur.
Tidak ada lagi tangannya yang menyiapkan makanan berbuka.
Tidak ada lagi doanya yang mengiringi setiap langkahmu.
Atau ada?
Karena doa seorang ibu...
Tidak berhenti ketika ia menutup mata.
Doa yang pernah ia panjatkan untukmu — masih mengalir. Masih ada. Masih hidup di langit-langit rahmat Allah.
"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." — HR. Muslim
Kau adalah perkara ketiga itu.
Kaulah yang masih bisa mengalirkan pahala kepadanya.
Kaulah jembatan antara dirinya yang kini berada di alam yang berbeda dengan rahmat Allah yang tidak terbatas.
Apa yang Bisa Kau Hadiahkan untuk Ibumu yang Telah Tiada
| Amalan | Keterangannya |
|---|---|
| Doa setiap selesai shalat | Sebut namanya, minta Allah merahmatinya |
| Sedekah atas namanya | Pahalanya mengalir kepadanya |
| Membaca Al-Quran dan menghadiahkan pahalanya | Cahaya baginya di alam kubur |
| Menyambung silaturahmi dengan sahabat dan saudaranya | Bentuk bakti yang diakui setelah wafat |
| Melunasi hutangnya bila ada | Membebaskan ruhnya dari tanggungan |
Jangan biarkan kematiannya memutus hubungan kalian.
Kematian hanya memindahkan tempatnya — bukan memadamkan cintanya kepadamu, dan bukan menghentikan kemampuanmu untuk berbakti kepadanya.
VI. Tangisan yang Tidak Perlu Malu
Umar bin Khattab — lelaki yang mengguncang singgasana Persia dan Romawi — pernah menangis ketika teringat ibunya.
Bukan tangisan lemah. Tapi tangisan seorang anak yang tahu betapa besar hak perempuan yang melahirkannya.
Maka jika hari ini hatimu terasa sesak ketika membaca ini...
Jika ada air yang mulai menggenang di sudut matamu...
Jangan tahan.
Menangis karena ibu — adalah tanda bahwa hatimu masih hidup.
Menangis karena ibu — adalah tanda bahwa cinta itu masih ada.
Menangis karena ibu — adalah tanda bahwa kau masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik.
"Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua." — HR. Tirmidzi
Bayangkan...
Ridha Allah — yang untuknya kita shalat, kita puasa, kita berdoa — bergantung pada ridha seorang perempuan tua yang mungkin sekarang sedang duduk sendirian di rumah, menunggu teleponmu.
VII. Ramadhan Ini — Hadiah untuk Ibumu
Bulan Ramadhan adalah bulan rahmat.
Bulan pintu-pintu langit terbuka lebar.
Bulan doa-doa tidak ditolak.
Maka jadikan Ramadhan ini sebagai momen untuk mengembalikan sesuatu yang mungkin sudah lama tertunda.
Jika ibumu masih ada...
Pergilah ke sisinya. Peluklah ia. Ciumlah tangannya. Katakan — meski terasa canggung — katakan:
"Bu... terima kasih. Maafkan aku atas semua yang pernah menyakitimu."
Tiga kalimat itu mungkin tidak keluar dengan mudah.
Mungkin kau harus menelan rasa gengsi terlebih dahulu.
Tapi percayalah — tidak ada hal yang lebih mengobati hati seorang ibu selain mendengar kata-kata itu dari anaknya.
Jika ibumu sudah tiada...
Pergilah ke tempat yang tenang malam ini.
Angkat tanganmu ke langit.
Dan kirimkan doa yang paling tulus yang pernah kau panjatkan:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil." — QS. Al-Isra: 24
Doa itu pendek. Tapi ia adalah salah satu doa terbaik yang diajarkan Al-Quran kepada kita.
Doa yang — jika dipanjatkan dengan hati yang sungguh-sungguh — bisa menjadi cahaya di kuburnya, dan ketenangan di hatimu.
VIII. Jangan Sampai Terlambat
Wahai saudaraku...
Sejarah mencatat banyak penyesalan.
Tapi penyesalan yang paling sering menghantui manusia sampai akhir hayatnya adalah ini:
Tidak sempat cukup berbakti kepada ibu.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena menunda.
Bukan karena tidak cinta. Tapi karena tidak segera menunjukkannya.
Bukan karena tidak tahu. Tapi karena merasa masih ada waktu — padahal waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
"Berbaktilah kepada ibumu. Sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya." — HR. An-Nasa'i
Surga ada di telapak kakinya.
Dan kita terlalu sering lupa ke mana harus berjalan.
Malam ini, setelah Tarawih...
Sebelum tidur...
Lakukan satu hal saja.
Cukup satu.
Doakan ibumu.
Jika ia masih hidup — doakan agar Allah panjangkan umurnya dalam kesehatan, dan izinkan kau hadir di sisinya lebih sering.
Jika ia sudah tiada — doakan agar Allah melapangkan kuburnya, meneranginya dengan cahaya, dan memasukkannya ke dalam surga-Nya yang paling indah.
Karena bakti seorang anak tidak berakhir ketika ibu menutup mata. Ia hanya berganti bentuk — dari pelukan menjadi doa.
Doa untuk Ibu
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا
Ya Allah...
Engkau lebih tahu betapa besar pengorbanan ibu kami.
Engkau lebih tahu berapa banyak air mata yang ia tahan demi kami.
Engkau lebih tahu berapa banyak malam yang ia habiskan dalam doa untuk kami.
Maka ya Allah... balas semua itu dengan sebaik-baik balasan.
Bagi yang ibunya masih ada — jagalah ia, sehatkan ia, muliakan ia.
Bagi yang ibunya telah tiada — ampunilah ia, rahmati ia, terangi kuburnya, dan jadikan kami anak-anak yang terus mengalirkan kebaikan untuknya.
Dan jadikan kami semua anak-anak yang layak disebut anak — di hadapan ibu kami, dan di hadapan-Mu.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh