Kecanduan Gadget & Brain Rot — Cara mengatasi overthinking dari media sosial

Kecanduan Gadget, Brain Rot, dan Overthinking: Saat Otak Lelah, Hati Ikut Gelap

Di era digital, hampir setiap orang memulai hari dengan melihat layar, dan menutup malam dengan menggulir media sosial. Aktivitas ini terlihat normal, tetapi banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi konten digital berlebihan dapat menyebabkan fenomena yang kini populer disebut brain rot — kondisi kelelahan kognitif, penurunan fokus, serta kebiasaan berpikir dangkal akibat paparan konten instan terus-menerus.

Masalahnya bukan sekadar penggunaan gadget. Masalahnya adalah perubahan cara otak bekerja, dan lebih dalam lagi, perubahan cara hati merespons kehidupan.

Apa Itu Brain Rot dalam Perspektif Akademis

Istilah brain rot digunakan untuk menggambarkan penurunan kemampuan perhatian, kontrol impuls, serta kejernihan berpikir akibat konsumsi konten digital berkualitas rendah secara berulang. Walaupun bukan diagnosis medis resmi, fenomena ini berkaitan dengan:

  • kelelahan kognitif
  • penurunan attention span
  • desensitisasi emosional
  • kecanduan media sosial

Dari sisi neurologis, paparan konten pendek berulang dapat mengganggu sistem penghargaan otak berbasis dopamin. Otak menjadi terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang — membaca buku, belajar, atau merenung — terasa semakin berat.

Bagaimana Kecanduan Gadget Terbentuk

Kecanduan gadget bukan semata kelemahan pribadi. Platform digital memang dirancang dengan mekanisme psikologis seperti:

  • notifikasi acak
  • infinite scroll
  • sistem likes
  • algoritma personalisasi

Desain ini menciptakan lingkaran:

algoritma → konsumsi pasif → perbandingan sosial → kecemasan → scrolling lagi

Pengguna akhirnya terjebak dalam kebiasaan doomscrolling, yaitu menggulir konten tanpa henti meski merasa lelah atau cemas.

Dampak Kognitif, Mental, dan Perilaku

Dampak pada kemampuan berpikir

  • sulit fokus membaca panjang
  • mudah terdistraksi
  • menurunnya kemampuan perencanaan
  • memori kerja melemah

Banyak orang merasakan: membaca satu halaman buku terasa lebih berat daripada menonton puluhan video pendek.

Dampak emosional

  • kecemasan meningkat
  • kesepian
  • harga diri menurun
  • overthinking

Mekanismenya sederhana: media sosial → perbandingan → merasa kurang → pikiran berulang → kecemasan.

Dampak fisik dan perilaku

  • tidur terganggu
  • produktivitas turun
  • impulsivitas meningkat

Solusi Berbasis Psikologi Modern

Terapi Cognitive Behavioral Therapy

Pendekatan ini membantu seseorang mengenali pikiran otomatis seperti “saya harus cek HP terus” lalu menggantinya dengan perilaku sehat.

Latihan mindfulness

Melatih kesadaran terhadap dorongan membuka gadget tanpa langsung menuruti dorongan tersebut.

Langkah praktis

  • batasi waktu layar
  • matikan notifikasi tidak penting
  • hindari HP di kamar tidur
  • ganti scrolling dengan olahraga atau membaca

Perspektif Psikologi Spiritual Islam

Dalam Islam, manusia tidak hanya memiliki otak, tetapi juga hati dan jiwa. Masalah kecanduan gadget bukan sekadar gangguan perilaku, melainkan bisa menjadi gangguan pada:

  • qalb / قلب
  • aql / عقل
  • nafs / نفس

Scroll tanpa tujuan sering membuat hati lalai dari dzikir / ذكر, mengurangi muhasabah / محاسبة, dan melemahkan kesadaran diawasi Allah atau muraqabah / مراقبة.

Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.

Terapi Spiritual untuk Mengatasi Kecanduan Gadget

Taubat / توبة

Mulai dengan kesadaran bahwa waktu adalah amanah.

Muhasabah harian / محاسبة

Tanyakan setiap malam: hari ini lebih banyak mengingat Allah atau notifikasi?

Dzikir rutin / ذكر

Menenangkan pikiran dan mengurangi dorongan impulsif.

Shalat sebagai jangkar hidup

Jadikan waktu shalat sebagai reset digital harian.

Puasa sunnah dan puasa digital

Melatih pengendalian nafsu termasuk dorongan membuka gadget.

Tafakkur / تفكر

Merenung terhadap ciptaan Allah untuk menghidupkan kembali kedalaman berpikir.

Penutup

Jika algoritma mampu melatih otak kita untuk terus scrolling, maka disiplin ruhani mampu melatihnya kembali untuk berpikir, mengingat Allah, dan hidup dengan kesadaran.

Kecanduan gadget bukan hanya masalah teknologi. Ia adalah ujian penjagaan akal, penjagaan waktu, dan penjagaan hati.

Mulailah dari langkah kecil hari ini. Kurangi satu scrolling yang tidak perlu. Tambahkan satu dzikir yang tulus. Dari situlah perubahan besar dimulai.

 


Kajian yang lebih mendalam :

Brain Rot: Fenomena Neurologis yang Mengancam Generasi Muslim — Dan Cara Mengatasinya

Artikel Populer

GENERASI RABBANI (Seri 3)

GENERASI RABBANI (Seri 4)

3 Hal Penting yang Wajib Diketahui Sebelum Ramadan Tiba

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya