Penyakit Psikologis yang Menghantui Generasi Z: Akar, Tanda, dan Penawarnya dalam Cahaya Islam

Penyakit Psikologis yang Menghantui Generasi Z: Akar, Tanda, dan Penawarnya dalam Cahaya Islam

Di tengah gemuruh dunia digital yang tak pernah tidur, Generasi Z—mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an—tumbuh dalam pelukan layar dan tekanan ekspektasi yang tak terlihat. Di balik senyum di foto profil, sering kali tersimpan kegelisahan yang dalam, rasa hampa yang sunyi, dan pertanyaan eksistensial: “Siapa aku sebenarnya?”

Sebagai umat Muslim, kita diajak untuk tidak hanya memahami gejala-gejala ini dari kacamata psikologi modern, tetapi juga menyelaminya dengan lensa spiritualitas Islam—agama yang mengajarkan keseimbangan antara jiwa (النَّفْسُ), hati (الْقَلْبُ), dan akal (الْعَقْلُ).

Penyakit-Penyakit Jiwa yang Sering Menimpa Gen Z

Berikut tiga penyakit psikologis yang paling lazim menjangkiti generasi ini:

  1. Kecemasan Sosial dan Perbandingan Diri (Social Anxiety & Comparison Trap)
    Hidup di era media sosial membuat setiap momen menjadi panggung. Mereka melihat “highlight reel” orang lain lalu membandingkannya dengan “behind-the-scenes” hidup mereka sendiri. Akibatnya, muncul rasa tidak cukup (not enough)—tidak cukup cantik, sukses, atau dicintai.
  2. Depresi Eksistensial
    Banyak dari Gen Z merasa hidup tanpa makna. Pertanyaan seperti, “Untuk apa aku hidup?” atau “Apa tujuan semua ini?” menghantui pikiran mereka. Tanpa fondasi spiritual yang kuat, kekosongan itu sulit diisi oleh likes, followers, atau pencapaian duniawi semata.
  3. Ketergantungan pada Validasi Eksternal
    Pujian, komentar, dan jumlah interaksi digital menjadi ukuran harga diri. Ketika tidak mendapat respons, muncul perasaan diabaikan, tidak berarti, bahkan putus asa.

Akar Masalah: Antara Dunia Digital dan Kehampaan Spiritual

Penyebab utama bukan hanya teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana teknologi digunakan tanpa filter nilai dan ketiadaan ruang untuk introspeksi diri (مُحَاسَبَةُ النَّفْسِ). Dunia virtual menggantikan ruang-ruang kehadiran yang autentik: majelis ilmu, silaturahmi tatap muka, dan waktu berkualitas bersama keluarga.

Lebih dalam lagi, banyak dari mereka tumbuh dalam lingkungan yang minim sentuhan nilai-nilai akhlak (الأَخْلَاقُ) dan iman yang hidup. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ»
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Tanpa akhlak yang kokoh dan hubungan spiritual yang intim dengan Allah, jiwa mudah goyah dihempas badai dunia.

Solusi Islami: Menyembuhkan Jiwa dengan Nur Al-Qur’an

Allah SWT tidak pernah memberi ujian tanpa jalan keluar. Untuk setiap luka batin, Islam menyediakan obatnya.

1. Kembali kepada Tujuan Hidup yang Hakiki

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Makna ibadah di sini luas: bekerja, belajar, berinteraksi, bahkan istirahat—semua bisa menjadi ibadah jika niatnya lurus. Saat Gen Z menyadari bahwa hidup bukan sekadar “menjadi terkenal” atau “sukses finansial”, tapi untuk mengenal dan dekat kepada Sang Pencipta, maka jiwa pun menemukan kedamaian.

2. Latihan Syukur dan Qana’ah (Konten dengan Apa yang Ada)

Rasulullah ﷺ bersabda:


انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam hal harta dan kedudukan), dan jangan pandang yang di atasmu, karena itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)

Dengan latihan syukur harian—misalnya menulis tiga hal yang disyukuri setiap malam—otak akan terlatih fokus pada keberkahan, bukan kekurangan.

3. Bangun Lingkungan yang Menyehatkan Jiwa

Nabi ﷺ mengibaratkan teman baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi:


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Pilihlah komunitas yang mengajakmu pada dzikir, ilmu, dan amal shaleh. Kurangi waktu di ruang digital yang memicu iri hati. Gantilah dengan majelis-majelis yang menyegarkan iman.

Langkah Praktis untuk Pemulihan Harian

Aktivitas Manfaat Psikologis & Spiritual
Shalat tepat waktu dengan khusyuk Menenangkan sistem saraf, menguatkan koneksi dengan Allah, mengingatkan pada tujuan hidup
Membaca Al-Qur’an minimal 5 ayat/hari Menyucikan hati, menurunkan kadar kortisol (hormon stres), membuka cahaya petunjuk
Digital detox 1 jam sebelum tidur Memperbaiki kualitas tidur, mengurangi kecemasan, membuka ruang untuk muhasabah
Memberi sedekah (meski kecil) Melatih qana’ah, menghilangkan sifat kikir, menumbuhkan rasa memiliki arti

Penutup: Jiwa yang Sakit Butuh Kasih Sayang, Bukan Penghakiman

Jika kamu atau sahabatmu sedang berjuang melawan bayangan gelap dalam jiwa, ingatlah: Allah Maha Penyembuh (الشَّافِي). Ia tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian dalam derita.

Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional—psikolog Muslim yang memahami nilai syariah adalah mitra yang sah dalam proses penyembuhan. Karena menjaga jiwa adalah bagian dari menjaga agama.

Marilah kita bangun generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga melek hati—generasi yang kuat secara mental, lembut secara akhlak, dan teguh dalam iman.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Artikel serupa lainnya yang menarik:

Artikel Populer

Kasus Jeffrey Epstein: Antara Kejahatan Kemanusiaan dan Intrik Kekuasaan

Pertanyaan Refleksi Mendalam: Ramadhan dan Diri Sendiri

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 1)

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...