Al-Qur'an di Tanganmu, tapi Sudahkah Ia Masuk ke Dadamu
Ketika Ramadhan Berbicara kepada Jiwa — Belajar Berinteraksi dengan Al-Qur'an dari Salafus Shalih di Era Digital
Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan setiap kali bulan suci itu tiba: Sudahkah kita benar-benar hadir bersama Al-Qur'an, atau kita hanya melewatinya?
Ramadhan dan Al-Qur'an adalah dua nama yang tidak bisa dipisahkan. Allah subhanahu wa ta'ala sendiri yang mengabadikan hubungan itu dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."
— QS. Al-Baqarah: 185
Ayat ini bukan sekadar informasi historis. Ia adalah undangan — undangan agar di bulan inilah kita kembali kepada Al-Qur'an dengan sepenuh jiwa. Dan untuk memahami bagaimana seharusnya kita menyambut undangan itu, tidak ada guru yang lebih baik selain generasi salafus shalih — para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in — yang hidupnya berdenyut dalam irama Al-Qur'an.
Nabi dan Jibril — Mudarasah yang Menggetarkan Langit
Sebelum kita bicara tentang para ulama, mari kita kembali ke sumber. Interaksi paling agung dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan adalah yang terjadi antara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Malaikat Jibril 'alaihis salam.
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadhan ketika Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, lalu mengkaji Al-Qur'an bersama beliau (mudarasah). Sungguh Rasulullah lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus."
— HR. Al-Bukhari, no. 6
Kata mudarasah — مُدَارَسَة — bukan sekadar membaca. Ia adalah kajian bersama, saling menyimak, saling mengoreksi. Dan pada tahun wafat Nabi, mudarasah itu dilakukan dua kali, seolah langit ingin merekam seluruh ayat itu untuk yang terakhir kali bersama manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Inilah template awal: Al-Qur'an di bulan Ramadhan bukan untuk dibaca selewat, melainkan untuk dikaji dengan penuh penghayatan, diulang, dan diresapi. Dari sini, para sahabat dan generasi setelah mereka mewarisi semangat yang luar biasa.
Potret Salafus Shalih — Jiwa yang Lahap Memakan Cahaya
Az-Zuhri — Menutup Majelis, Membuka Mushaf
Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri — seorang tabi'in besar, ahli hadits yang namanya terukir dalam sejarah keilmuan Islam — melakukan sesuatu yang mengejutkan setiap kali Ramadhan tiba. Beliau menutup majelis ilmu dan majelis haditsnya. Bagi seorang ulama sekaliber az-Zuhri, ini bukan keputusan kecil. Murid-muridnya berdatangan dari berbagai penjuru. Namun beliau berkata dengan tegas:
هَذَا شَهْرُ الْقُرْآنِ وَالطَّعَامِ
"Ini adalah bulan Al-Qur'an dan memberi makan."
— Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Istidzkâr
Pesan az-Zuhri bukan untuk anti-ilmu. Beliau adalah manusia ilmu. Namun beliau paham bahwa ada hierarki amal, dan di Ramadhan, tilawah Al-Qur'an mendapat tempat paling tinggi. Beliau fokus total pada mushaf, menghidupkan malam-malamnya, dan waktu siangnya hanya untuk Al-Qur'an dan berbagi makanan kepada sesama.
Di era kita, berapa banyak "majelis" yang kita tutup untuk Al-Qur'an? Berapa lama kita menunda scroll media sosial agar bisa duduk bersama mushaf?
Qatadah — Grafik yang Terus Mendaki
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — tabi'in, murid langsung dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anh, dan salah satu ulama tafsir paling otoritatif — memiliki pola tilawah yang luar biasa terstruktur dan terus meningkat:
| Periode | Frekuensi Khatam |
|---|---|
| Di luar Ramadhan | Setiap 7 hari sekali |
| Di bulan Ramadhan | Setiap 3 hari sekali |
| Di 10 malam terakhir | Setiap malam (satu khatam per malam) |
Ini bukan angka yang dibuat-buat untuk memukau. Ini adalah jejak spiritual seorang manusia yang mengenal betul nilai waktu di sisi Allah. Qatadah paham bahwa setiap hari Ramadhan adalah permata, dan setiap malam di sepuluh akhirnya adalah kemungkinan bertemu Lailatul Qadar — malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Imam Syafi'i — Enam Puluh Khatam, Bukan Sekadar Angka
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahullah, pendiri mazhab Syafi'i yang karyanya membentang dari Mekkah hingga Mesir, diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan — dua kali setiap harinya, termasuk di luar waktu shalat. Riwayat ini dinukil oleh Imam Al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafi'i.
Yang perlu kita pahami: Imam Syafi'i bukan seseorang yang membaca tanpa mengerti. Beliau adalah seorang mujtahid, penulis Ar-Risalah dan Al-Umm, yang hafal Al-Qur'an sejak kecil. Khatam berkali-kali baginya adalah interaksi ilmiah sekaligus spiritual — setiap putaran membawa pemahaman baru, hikmah baru, kekhusyukan baru.
Imam Nawawi dalam At-Tibyan fi Adabi Hamalati Al-Qur'an menegaskan:
"Para ulama salaf berbeda-beda dalam menentukan batas minimal khatam Al-Qur'an. Namun semua sepakat bahwa di bulan Ramadhan, khususnya di sepuluh malam terakhir, seseorang hendaknya memperbanyak tilawah melebihi kebiasaannya."
Al-Aswad dan Lainnya — Kompetisi Menuju Allah
Al-Aswad bin Yazid an-Nakha'i, seorang tabi'in terkemuka di Kufah, mengkhatamkan Al-Qur'an setiap dua malam di bulan Ramadhan. Sementara Ibrahim an-Nakha'i meriwayatkan bahwa sebagian sahabat mengkhatamkan dalam tiga malam, dan ada yang dalam dua malam.
Ini bukan lomba speedreading. Ini adalah ekspresi cinta. Seperti seseorang yang membaca ulang surat dari orang yang paling dicintainya — bukan karena belum hafal isinya, melainkan karena setiap kali membacanya, rasa rindu dan cintanya kembali menyala.
Apa yang Mendorong Mereka — Dimensi Psikologis dan Spiritual
Psikologi modern memberikan kita alat untuk memahami fenomena yang terjadi pada salafus shalih ini secara lebih komprehensif. Positive psychology yang dikembangkan oleh Martin Seligman mengidentifikasi bahwa manusia mengalami kebermaknaan tertinggi ketika mereka terlibat dalam aktivitas yang melampaui kepentingan diri sendiri — sesuatu yang oleh para ulama Islam telah dipahami berabad-abad sebelumnya sebagai ibadah.
Penelitian tentang flow state — kondisi ketika seseorang sepenuhnya terserap dalam sebuah aktivitas — yang dirumuskan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi sangat relevan di sini. Para salaf memasuki kondisi flow spiritual saat tilawah: mereka melupakan rasa lapar, lelah, bahkan waktu, karena jiwa mereka benar-benar hadir bersama ayat-ayat Allah. Ini bukan klaim mistis — ini adalah kondisi psikologis nyata yang kini bisa dijelaskan ilmu modern.
Lebih jauh, penelitian neurosains dari Andrew Newberg — spesialis neurotheology dari Thomas Jefferson University — menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan yang intens, termasuk membaca teks suci dengan penghayatan, mengaktifkan prefrontal cortex dan menurunkan aktivitas amygdala. Artinya: tilawah yang khusyuk secara neurologis mengurangi stres dan kecemasan, sekaligus meningkatkan kapasitas empati dan ketenangan. Para sahabat yang merasakan ketenangan mendalam setelah membaca Al-Qur'an sedang mengalami fenomena yang kini bisa diverifikasi oleh sains.
Allah telah menyebut ini jauh lebih ringkas dan indah:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
— QS. Ar-Ra'd: 28
Sains modern hanya sedang membuktikan apa yang sudah diimani umat ini selama empat belas abad.
Bercermin ke Masa Kini — Di Mana Kita Berdiri
| Aspek | Salafus Shalih di Ramadhan | Generasi Kita di Era Digital |
|---|---|---|
| Frekuensi Khatam | 10–60 kali atau lebih, fokus total sepanjang bulan | Target 1 kali (30 juz/30 hari), jarang melampaui 2–3 kali |
| Waktu dan Prioritas | Kurangi dunia, tutup majelis, tidur minim, waktu dihabiskan untuk Al-Qur'an | Tetap sibuk kerja dan online, notifikasi sering mengganggu sesi tilawah |
| Cara Interaksi | Tilawah langsung dari mushaf, tadabbur mendalam, hafalan kuat | Audio Quran (MP3/murottal), app tadabbur (Quran.com, Muslim Pro), podcast |
| Kualitas vs Kuantitas | Kuantitas tinggi + tadabbur + rasa takut tidak mengamalkan | Akses mudah, tapi sering hanya "mendengar" tanpa hadir, atau multitasking |
| Fasilitas | Mushaf manual, hafalan kuat, lingkungan minim distraksi | App reminder, terjemahan instan, tafsir digital, murottal syekh terkenal, tadarus online |
Gambaran ini bukan untuk merendahkan generasi kita. Kondisi kita berbeda. Tapi ia adalah cermin yang jujur — dan cermin yang jujur adalah hadiah, bukan hinaan.
Tadabbur yang Hilang — Peringatan yang Menggetarkan
Salah satu perbedaan paling mencolok antara salafus shalih dengan banyak dari kita hari ini adalah kualitas tadabbur — تَدَبُّر — yang berarti merenungkan, menyelami, dan memikirkan makna ayat hingga menyentuh hati dan mengubah perilaku.
Allah menegur kondisi jiwa yang melewati Al-Qur'an tanpa meresapinya:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Apakah mereka tidak merenungkan (isi) Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?"
— QS. Muhammad: 24
Perhatikan bagaimana salafus shalih memperlakukan ayat-ayat Al-Qur'an. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anh berkata:
كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إِذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالْعَمَلَ بِهِنَّ
"Dulu, salah seorang dari kami apabila belajar sepuluh ayat, tidak akan melewatinya sebelum memahami maknanya dan mengamalkannya."
— Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tafsirnya
Bayangkan itu: sepuluh ayat, tidak berlanjut sebelum dipahami dan diamalkan. Bukan karena mereka lambat — tapi karena mereka tahu bahwa Al-Qur'an adalah manhaj hayah — مَنْهَجُ حَيَاة — panduan hidup, bukan sekadar rangkaian huruf yang harus ditamatkan.
Dari sudut pandang psikologi, ini sesuai dengan teori deep processing yang dikemukakan oleh Fergus Craik dan Robert Lockhart pada tahun 1972. Mereka membuktikan bahwa informasi yang diproses secara mendalam — dikaitkan dengan makna, emosi, dan pengalaman pribadi — jauh lebih tahan lama dalam memori dan lebih berpengaruh pada perilaku dibandingkan informasi yang hanya diproses secara dangkal. Para sahabat secara intuitif sudah mempraktikkan deep processing ini berabad-abad sebelum psikologi kognitif lahir.
Era Digital — Nikmat yang Bisa Menjadi Bencana
Kita hidup di era yang paradoks: tidak pernah dalam sejarah Islam, Al-Qur'an semudah ini diakses. Murottal Sheikh Mishary Rashid al-Afasy bisa diputar dengan satu ketukan. Tafsir Ibnu Katsir ada di genggaman. Aplikasi seperti Quran Majeed, Tarteel, atau Bayyinah TV menyajikan fitur tadabbur yang terstruktur. Terjemahan dalam puluhan bahasa tersedia gratis.
Namun bersamaan dengan itu, kita juga tidak pernah sepanjang ini dikelilingi gangguan. Smartphone yang membawa Al-Qur'an juga membawa Instagram, TikTok, WhatsApp, dan ratusan notifikasi per hari. Psikolog Gloria Mark dari University of California, Irvine, dalam penelitiannya menemukan bahwa rata-rata seseorang hanya bisa fokus selama 47 detik sebelum terganggu, dan setelah terganggu, dibutuhkan rata-rata 23 menit untuk kembali ke tingkat konsentrasi semula. Bayangkan dampaknya terhadap kualitas tilawah kita.
Ini bukan argumen untuk membuang teknologi. Ini adalah argumen untuk menundukkan teknologi agar ia menjadi pelayan tilawah, bukan perusaknya.
Ingatlah az-Zuhri yang "menutup majelis." Ia tidak menghancurkan kitab-kitab haditsnya. Ia hanya menempatkan mereka di tempat yang tepat, untuk waktu yang tepat. Di era kita, "menutup majelis" berarti mengaktifkan mode Do Not Disturb, meletakkan ponsel menghadap ke bawah, dan memberi jiwa kita ruang untuk benar-benar hadir bersama Al-Qur'an.
Mengapa Kita Harus Lebih Serius — Ancaman yang Nyata
Ada hadits yang seharusnya membuat kita tidak bisa tidur nyenyak jika kita menyepelekan Al-Qur'an:
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
"Dan Al-Qur'an itu menjadi hujjah yang membelamu atau yang menghancurkanmu."
— HR. Muslim, no. 223
Al-Qur'an yang kita lewati tanpa penghayatan tidak menjadi perisai — ia menjadi saksi bisu atas kelalaian kita. Tapi Al-Qur'an yang kita tadabburi, amalkan, dan jadikan cahaya hidup akan berdiri di sisi kita pada hari yang tidak ada pembelaan lain kecuali dari Allah.
Lebih dari itu, ada janji yang luar biasa bagi mereka yang benar-benar bergulat dengan Al-Qur'an:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya."
— HR. Muslim, no. 804
Dan untuk para penghafal dan pecinta Al-Qur'an, ada posisi yang sangat tinggi:
إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ فَضْلًا فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَصْحَابَ الْقُرْآنِ
"Sesungguhnya di antara manusia yang paling besar kemuliaannya di umat ini adalah ahlul Qur'an."
— HR. Ahmad; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani
Pelajaran Konkret untuk Ramadhan Kita Hari Ini
Pertama — Buat Kontrak Spiritual dengan Al-Qur'an
Sebelum Ramadhan dimulai, tetapkan target yang realistis namun lebih tinggi dari tahun lalu. Jika biasanya khatam sekali, targetkan dua kali — satu melalui tilawah mushaf dengan tadabbur, satu lagi melalui audio saat beraktivitas fisik. Penelitian tentang goal setting theory oleh Edwin Locke membuktikan bahwa tujuan yang spesifik, terukur, dan sedikit lebih menantang menghasilkan kinerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan tujuan yang samar. Prinsip ini sangat relevan untuk ibadah.
Kedua — Manfaatkan Teknologi sebagai Pelayan, Bukan Tuan
Gunakan audio murottal — misalnya murottal Sheikh Mishary Rashid atau Sheikh Maher Al-Mu'iqly — untuk mengisi waktu perjalanan, memasak, atau olahraga. Aplikasi seperti Quran Majeed, Tarteel, atau Quran.com memungkinkan kita untuk melacak tilawah, menyimak terjemahan, bahkan mengakses tafsir ringkas. Ini adalah nikmat yang tidak dimiliki az-Zuhri maupun Qatadah, tapi yang seharusnya kita syukuri dengan memaksimalkannya.
Namun tetapkan aturan: selama sesi tilawah utama — minimal 30 menit setelah subuh atau sebelum tidur — matikan semua notifikasi. Perlakukan waktu itu seperti az-Zuhri memperlakukan majelisnya: tutup, dan jangan ada yang mengganggu.
Ketiga — Tadabbur Minimal Dua Halaman Sehari
Selain tilawah, sisihkan waktu khusus setiap hari untuk merenungi dua halaman Al-Qur'an dengan bantuan tafsir ringkas. Ibnu Al-Qayyim dalam Miftah Dar As-Sa'adah menulis:
"Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur'an dengan tadabbur dan perenungan. Al-Qur'an itu menghimpun semua tingkatan-tingkatan para pencinta kebaikan, kondisi para pejalan spiritual, dan ilmu-ilmu orang-orang yang ma'rifat. Ia adalah buah dari pohon kenabian."
Keempat — Ikuti Pola Qatadah, Tingkatkan di Sepuluh Akhir
Pola Qatadah — meningkatkan intensitas secara gradual dan mencapai puncaknya di sepuluh malam terakhir — adalah strategi spiritual yang brilian. Dari perspektif psikologi, ini sesuai dengan konsep progressive overload: peningkatan bertahap yang memberi jiwa waktu untuk beradaptasi sambil terus berkembang. Di sepuluh akhir, targetkan menjadi pribadi yang sepenuhnya hidup dalam Al-Qur'an — malamnya dengan shalat dan tilawah, siangnya dengan dzikir dan doa.
Kelima — Bangun Komunitas Tadarus yang Nyata
Para sahabat tidak menjalani Ramadhan sendirian. Mereka saling menguatkan, saling menyimak, saling mendorong. Bergabunglah dengan kelompok tadarus — baik di masjid maupun secara online. Penelitian social psychology secara konsisten menunjukkan bahwa komitmen yang dibuat di hadapan orang lain jauh lebih besar kemungkinannya untuk ditepati dibandingkan komitmen yang dibuat sendiri.
Keenam — Jaga Adab Tilawah agar Berkah Tidak Pergi
Imam Al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menyebutkan bahwa di antara adab tilawah yang paling penting adalah menghadirkan hati, berwudhu sebelum memegang mushaf, membaca dengan tartil dan penuh penghayatan, serta menangis atau berusaha menangis ketika melewati ayat-ayat tentang surga, neraka, atau keagungan Allah. Ini bukan ritual formalitas. Ini adalah teknik jiwa yang terbukti — secara spiritual maupun psikologis — meningkatkan dampak Al-Qur'an pada diri kita.
Sepuluh Malam Terakhir — Jangan Habiskan untuk Hal Lain
Tidak ada bagian dari artikel ini yang lebih penting dari bagian ini. Lailatul Qadar — لَيْلَةُ الْقَدْر — malam yang lebih baik dari seribu bulan, berada di antara sepuluh malam terakhir Ramadhan. Jika seseorang meraihnya dan mengisinya dengan tilawah dan ibadah, maka ia setara dengan orang yang beribadah selama lebih dari 83 tahun tanpa henti.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
— QS. Al-Qadr: 3
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri mencontohkan bagaimana seharusnya kita memperlakukan sepuluh malam terakhir ini:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
"Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengencangkan kainnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."
— HR. Al-Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174
Qatadah memahami ini. Az-Zuhri memahami ini. Imam Syafi'i memahami ini. Pertanyaannya: apakah kita, dengan segala kemudahan teknologi yang kita miliki, juga memahami ini?
Menjadi Ahlul Qur'an — Bukan Sekadar Pembacanya
Ada gelar yang sangat indah dalam Islam: Ahlul Qur'an — أَهْلُ الْقُرْآن. Bukan sekadar orang yang membaca Al-Qur'an, tapi orang yang Al-Qur'an menjadi bagian dari dirinya — cara berpikirnya, cara berbicara, cara menghadapi masalah, cara mencintai dan membenci, semuanya diwarnai Al-Qur'an.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
"Sesungguhnya Allah memiliki keluarga di antara manusia." Para sahabat bertanya, "Siapakah mereka, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ahlul Qur'an — merekalah keluarga Allah dan orang-orang terdekat-Nya."
— HR. Ibnu Majah, no. 215; Imam Ahmad; dinilai hasan oleh Al-Albani
Ahlullah — keluarga Allah. Bayangkan kemuliaan itu. Bukan karena keturunan, bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan — melainkan karena hubungan jiwa dengan Al-Qur'an.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif Al-Ma'arif menulis bahwa Ramadhan adalah musim khusus untuk membersihkan jiwa dan memperbarui hubungan dengan Al-Qur'an. Ia mengumpamakan hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur'an seperti hubungan petani dengan musim panen: jika ia tidak menggarap ladang dengan sungguh-sungguh di musim yang tepat, ia akan melewatkan hasil panen yang tidak akan kembali.
Penutup — Ramadhan yang Kita Inginkan Ada di Tangan Kita
Kisah az-Zuhri yang menutup majelisnya, Qatadah yang mengkhatam setiap malam di sepuluh akhir, Imam Syafi'i yang enam puluh kali menyelesaikan seluruh Al-Qur'an dalam satu bulan — semua itu bukan dongeng tentang manusia yang berbeda spesiesnya dengan kita. Mereka adalah manusia biasa yang memilih untuk luar biasa dalam satu hal yang paling fundamental: cinta dan komitmen mereka kepada firman Allah.
Kita tidak harus menjadi Imam Syafi'i untuk memulai. Kita cukup menjadi versi kita yang lebih baik dari tahun lalu. Satu khatam lebih banyak. Satu sesi tadabbur yang lebih dalam. Satu malam yang tidak kita habiskan untuk streaming tapi untuk tilawah. Satu hari di mana kita menjadi az-Zuhri kecil yang "menutup majelis" dunia dan membuka mushaf.
Allah tidak menghitung khatam kita. Allah melihat hati kita ketika kita membuka dan menutup mushaf. Apakah ada kerinduan di sana? Apakah ada rasa takut? Apakah ada cinta?
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)."
— QS. Fatir: 28
Para salafus shalih itu khusyuk dalam tilawah karena mereka berilmu. Mereka tahu kepada Siapa kata-kata itu berasal. Mereka tahu betapa agungnya Pemilik firman yang sedang mereka lantunkan. Dan pengetahuan itu melahirkan rasa takut yang indah — takut yang tidak membekukan, melainkan menggerakkan.
Semoga Allah menjadikan Ramadhan ini sebagai titik balik bagi kita. Semoga Ia menjadikan Al-Qur'an sebagai cahaya dada, pengusir kesedihan, dan penghapus kegelisahan kita. Semoga kita keluar dari Ramadhan ini sebagai orang-orang yang, walau sedikit, lebih menyerupai az-Zuhri, Qatadah, dan para pendahulu mulia kita dalam kecintaan kepada Al-Qur'an.
Dan semoga Allah — dengan segala keluasan rahmat-Nya — mengangkat kita ke derajat Ahlul Qur'an yang dibanggakan di hari ketika tidak ada lagi kebanggaan selain kebanggaan yang datang dari hadirat-Nya.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 🌙