Anakku Susah Bangun Subuh — Siapa yang Sebenarnya Perlu Berubah?

Parenting Islami & Psikologi Keluarga

Anakku Susah Bangun Subuh — Siapa yang Sebenarnya Perlu Berubah?

Sebelum menyalahkan anak, ada baiknya kita berhenti sejenak dan melihat ke cermin.

Setiap pagi, drama yang sama berulang: ketuk pintu, panggil nama, angkat selimut — dan anak tetap tak bergerak. Frustrasi memuncak, suara meninggi, hari dimulai dengan ketegangan. Tapi pernahkah kita bertanya: apakah kita sudah melakukan bagian kita?

1. Uswah Hasanah — Teladan Sebelum Perintah

Remaja adalah makhluk yang paling peka terhadap inkonsistensi. Mereka mungkin tidak mengatakannya, tapi mereka melihat segalanya. Jika orang tua terbiasa begadang hingga larut malam, baru terbangun setelah adzan lewat, lalu berteriak menyuruh anak shalat subuh — pesan apa yang sebenarnya tersampaikan?

Bukan soal kata-katanya. Tapi soal hidupnya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا  
 
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." 
[QS. At-Tahrim: 6]

Ayat ini bukan hanya perintah untuk mendidik. Ini perintah untuk memulai dari diri sendiri. Kata قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ"peliharalah dirimu" — disebut lebih dahulu sebelum "keluargamu". Bukan kebetulan.

Allah subhanahu wa ta'ala juga mengingatkan kita tentang sosok yang paling layak diteladani:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ 
 
"Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian."
[QS. Al-Ahzab: 21]

Rasulullah ﷺ tidak pernah membangunkan keluarganya dengan amarah. Dalam riwayat yang sahih, beliau membangunkan keluarga untuk shalat dengan lembut — usapan, panggilan penuh kasih. Dan sebelum membangunkan siapa pun, beliau telah berdiri lama di hadapan Allah ﷻ dalam qiyamul lail.

Para ulama dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib karya Imam Al-Mundziri berulang kali menegaskan: mendidik anak dimulai dari mendidik diri. Karena perilaku orang tua adalah kurikulum pertama yang diserap anak, jauh sebelum buku pelajaran mana pun.

Dunia psikologi modern mengonfirmasi hal yang sama. Albert Bandura, psikolog perintis Social Learning Theory, membuktikan bahwa manusia — terutama anak dan remaja — belajar paling kuat melalui observasi dan imitasi. Anak yang melihat orang tuanya bangun subuh, berwudhu, dan shalat dengan khusyuk akan membentuk pola pikir yang jauh berbeda dari anak yang hanya mendengar perintah.

Refleksi

Sebelum mengetuk pintu kamar anak besok subuh, cek jam berapa Anda sendiri tidur malam ini. Jika jawabannya di atas pukul sebelas, mungkin langkah pertama ada di jadwal tidur Anda sendiri.

2. Lingkungan dan Rutinitas Malam — Siapa yang Merancangnya?

Ini fakta yang sering diabaikan: secara biologis, remaja membutuhkan 8–10 jam tidur per malam. Bukan karena malas — tapi karena otak mereka sedang dalam fase perkembangan paling intensif. Jika anak baru bisa tertidur pukul 01.00 dini hari, membangunkannya pukul 04.30 berarti memotong tidurnya hampir separuh dari kebutuhan normal.

Lalu siapa yang bertanggung jawab atas jam berapa anak itu bisa tidur?

Para peneliti tidur menyebut kondisi ini sleep debt — utang tidur yang menumpuk. Ditambah pergeseran ritme circadian alami pada remaja yang membuat mereka secara biologis cenderung tidur dan bangun lebih larut dari orang dewasa, hasilnya adalah apa yang disebut sleep inertia atau dysania — tubuh yang secara harfiah tidak mampu merespons saat dibangunkan terlalu awal. Ini bukan kemalasan. Ini fisiologi.

Faktor lain yang memperburuk: paparan layar malam hari. Cahaya biru dari gawai menekan produksi melatonin, hormon yang memberi sinyal pada tubuh bahwa malam telah tiba. Anak yang scroll media sosial hingga pukul 23.00 secara kimiawi otaknya masih "siang hari".

Islam memiliki panduan yang jauh melampaui zamannya. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah ﷺ menganjurkan agar anak-anak dipisahkan tempat tidurnya pada usia tertentu — sebuah prinsip yang juga mengandung hikmah tentang pembentukan rutinitas tidur yang sehat dan mandiri. Para ulama turots juga menganjurkan agar rumah memiliki suasana yang ramah ibadah: tenang di malam hari, bersih, ada sudut untuk shalat, dan kebiasaan tidur awal sebagai bagian dari adab keluarga.

Rumah yang baik bukan hanya yang bersih dindingnya, tapi yang bersih dari segala yang merusak istirahat malamnya.

— Dari hikmah ulama tentang adab rumah tangga Islami

Refleksi 

Apakah ada aturan waktu tidur di rumah Anda? Apakah gawai dimatikan sebelum pukul 22.00? Apakah ada rutinitas malam bersama — membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa sebelum tidur? Jika belum, inilah yang perlu dibangun lebih dulu, sebelum alarm subuh dipasang.

3. Komunikasi dan Pendekatan Hati — Dialog, Bukan Interogasi

Marah adalah respons yang paling manusiawi. Tapi apakah ia yang paling efektif?

Psikologi perkembangan sudah cukup tegas dalam hal ini: remaja yang dibesarkan dalam iklim authoritarian parenting — keras, penuh perintah, minim penjelasan — cenderung membentuk resistensi diam-diam. Mereka mungkin patuh di depan, tapi tanpa pemahaman dari dalam. Sebaliknya, pendekatan authoritative parenting — hangat, tegas, dan berbasis penjelasan — terbukti lebih efektif membentuk kebiasaan jangka panjang, termasuk kebiasaan ibadah.

Al-Qur'an sudah mengajarkan ini empat belas abad yang lalu:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik."
[QS. An-Nahl: 125]

Perhatikan tiga kata kunci: ٱلْحِكْمَةِ (hikmah), ٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ (mau'izhah hasanah — nasihat yang baik), dan ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ (dengan cara terbaik). Tidak ada kata "paksa". Tidak ada kata "ancam".

Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah mengangkat suara kepada anak muda dalam mendidik mereka. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun dan mengisahkan: "Beliau tidak pernah mengatakan 'uf' kepadaku, tidak pernah bertanya mengapa aku melakukan ini, tidak pernah bertanya mengapa aku tidak melakukan itu." Itulah kelembutan yang membentuk karakter.

Refleksi

Coba ganti kalimat "Kamu sudah subuh belum?!" dengan: "Yah, ayah/ibu juga dulu pernah susah bangun. Tapi setelah coba begini, rasanya beda. Mau cerita?" Perbedaannya bukan hanya kata-kata — tapi posisi: apakah Anda hakim atau teman seperjalanan?

4. Membangun Motivasi dari Dalam — Mengapa, Bukan Sekadar Apa

Pertanyaan paling jujur yang ada di benak remaja adalah: "Untuk apa?"

Jika jawaban yang mereka terima hanyalah ancaman atau kewajiban tanpa makna, jangan heran jika kepatuhan mereka bersifat sementara — bertahan selama diawasi, lalu menguap begitu longgar.

Psikologi menyebut ini dengan Self-Determination Theory: motivasi yang lahir dari pemahaman dan pilihan sendiri (intrinsic motivation) jauh lebih tahan lama daripada yang didorong oleh tekanan atau imbalan dari luar (extrinsic motivation). Ketika seorang remaja memahami bahwa shalat subuh memberi mereka ketenangan, kejernihan, dan koneksi dengan Allah ﷻ — bukan sekadar menghindari hukuman — mereka memiliki alasan untuk bangun dari dalam diri mereka sendiri.

Al-Qur'an memberi kita dalil yang sangat konkret tentang fungsi shalat:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ 
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
[QS. Al-'Ankabut: 45]

Ini bukan janji yang abstrak. Ini mekanisme. Shalat yang benar mengubah cara seseorang berpikir, memilih, dan bersikap sepanjang hari. Jika orang tua bisa menceritakan ini dengan jujur — bukan ceramah, tapi kesaksian pribadi — anak akan mendengar dengan cara yang berbeda.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menekankan pentingnya تَعْرِيف (ta'rif) — penjelasan hikmah — agar ibadah bukan sekadar gerakan badan, tapi gerak hati yang sadar. Hati yang paham tidak butuh dipaksa; ia bergerak sendiri.

Refleksi

Sesekali, alih-alih perintah, coba bagikan pengalaman: "Hari ini ayah/ibu subuh tepat waktu — dan entah kenapa lebih sabar seharian." Bukan ceramah. Cukup satu kalimat jujur. Kadang itu lebih mengena dari satu jam nasihat.

5. Lingkaran Pertemanan — Kekuatan yang Sering Diremehkan

Ada satu kenyataan yang perlu diterima setiap orang tua dengan lapang dada: pada usia remaja, pengaruh teman sebaya bisa lebih kuat dari pengaruh orang tua. Ini bukan kekalahan — ini biologi dan psikologi perkembangan yang normal. Tugas orang tua bukan melawan fakta ini, tapi menyikapinya dengan cerdas.

Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan empat belas abad lalu:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ 
"Seseorang itu mengikuti agama dan kebiasaan temannya. Maka hendaklah setiap kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman."
[HR. Abu Dawud & Tirmidzi]

Jika lingkaran pertemanan anak dipenuhi teman-teman yang begadang, jarang shalat, dan menjadikan hiburan malam sebagai norma — maka berat bagi anak untuk sendirian melawan arus itu. Sebaliknya, satu atau dua teman yang rajin shalat berjamaah bisa menjadi peer pressure yang justru positif.

Peran orang tua di sini bukan memilihkan teman secara paksa, tapi memfasilitasi lingkungan yang sehat: mengantar anak ke kajian remaja di masjid, membiarkan teman-teman shalih berkunjung, atau bahkan sekadar bertanya, "Ada teman di sekolah yang kamu kagumi karena ibadahnya? Apa yang bikin kamu kagum padanya?"

Refleksi

Seberapa sering Anda mengenal teman-teman anak Anda? Bukan untuk mengawasi, tapi untuk tahu iklim sosial yang melingkupinya setiap hari. Dari sana, fasilitasi — bukan paksa.

6. Apresiasi dan Tanggung Jawab — Jangan Tunggu Sempurna untuk Memuji

Salah satu kesalahan umum dalam mendidik adalah menunggu hasil sempurna sebelum memberi apresiasi. Padahal, kebiasaan terbentuk dari penguatan kecil yang konsisten — bukan dari satu lompatan besar.

Psikologi positive reinforcement membuktikan: perilaku yang diikuti respons positif cenderung diulang. Anak yang diakui — bahkan untuk kemajuan kecil — membangun asosiasi positif dengan perilaku tersebut. Sebaliknya, anak yang selalu menerima kritik akan belajar bahwa usaha mereka tidak pernah cukup, dan akhirnya berhenti mencoba.

Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam hal ini. Beliau memuji Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu sejak muda — bukan karena ia sempurna, tapi karena beliau melihat potensinya dan memupuknya dengan pengakuan. Dalam turots Islam, pendekatan ini disebut تَرْغِيب (targhib) — memotivasi dengan harapan dan kabar gembira — yang ditempatkan lebih diutamakan daripada تَرْهِيب (tarhib) — memotivasi dengan ancaman dan rasa takut.

Coba ini: berikan anak tanggung jawab kecil yang bermakna. Misalnya, "Minggu ini, kamu yang bertanggung jawab pasang alarm subuh untuk seluruh keluarga." Ini memberi rasa ownership — kepemilikan atas ibadah — bukan sekadar kewajiban yang dipaksakan dari luar.

Refleksi

Kapan terakhir kali Anda berkata kepada anak Anda — bukan soal prestasi akademisnya, tapi soal ibadahnya — "Alhamdulillah, hari ini kamu bangun sendiri. Ayah/Ibu bangga."? Kata-kata itu, jika tulus, bisa lebih kuat dari seribu perintah.

7. Jangan Salah Baca — Kadang Ini Soal Kesehatan, Bukan Kemalasan

Terakhir — dan ini penting: tidak semua kesulitan bangun subuh adalah kemalasan. Kadang ada yang lebih dalam.

Remaja berada di puncak kerentanan hormonal dan emosional. Tekanan sekolah, konflik pertemanan, kecemasan yang tidak diungkapkan, atau bahkan gejala awal gangguan mood seperti depresi — semua ini bisa memanifestasikan diri sebagai hypersomnia atau kesulitan ekstrem untuk bangun pagi. Jika anak Anda menunjukkan perubahan signifikan dalam pola tidur, menarik diri, kehilangan semangat — ini sinyal untuk diperhatikan, bukan dimarahi.

Pendekatan Rasulullah ﷺ kepada para pemuda selalu berlapis kasih sayang (رَحْمَةrahmah) sebelum tuntutan. Karena beliau tahu bahwa jiwa yang terluka tidak bisa dipaksa tumbuh — ia perlu dirawat lebih dulu.

Jika pola tidur anak sangat terganggu, mulailah dengan langkah praktis: target 8–9 jam tidur, kurangi screen time malam hari, dan buka percakapan yang jujur: "Kamu lagi banyak pikiran ya? Cerita ke ayah/ibu, kita cari jalan keluarnya bersama." Dan jika dibutuhkan, konsultasi dengan psikolog atau ustadz yang memahami perkembangan remaja bukanlah tanda kegagalan — justru sebaliknya.

Refleksi

Sebelum menyimpulkan bahwa anak Anda malas, tanyakan dulu: Apakah ia tidur cukup? Apakah ia sedang menanggung beban yang tidak ia ceritakan? Apakah ada yang bisa saya bantu, selain menyuruh?


Penutup: Mulai dari Diri, Bukan dari Tuntutan

Mendidik anak untuk shalat subuh adalah salah satu amanah terbesar yang diemban setiap orang tua Muslim. Tapi jalan menuju sana bukan satu jalan lurus yang hanya membutuhkan suara keras dan alarm paling nyaring.

Ia butuh teladan yang hidup. Lingkungan yang mendukung. Dialog yang hangat. Pemahaman yang ditanamkan pelan-pelan. Lingkaran sosial yang sehat. Apresiasi yang tulus. Dan kepekaan untuk membaca kondisi anak dengan mata kasih sayang, bukan mata hakim.

Islam tidak mengenal pendidikan tanpa rahmah. Dan psikologi modern, dengan segala kecanggihannya, sampai pada kesimpulan yang sama: anak-anak tumbuh paling baik dalam iklim yang hangat dan penuh kepercayaan.

Maka mulailah dari diri sendiri. Pasang alarm. Bangun. Shalat. Dan biarkan anak melihatnya — hari demi hari, tanpa kata-kata. Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan apa yang kita perintahkan, tapi apa yang kita hidupkan.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa." [QS. Al-Furqan: 74]


Artikel Populer

Konflik Rukyat dan Hisab dalam Perspektif Siyasah Syar'iyyah

GENERASI RABBANI (Seri 3)

GENERASI RABBANI (Seri 4)

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya