Amalan Terbaik Menjelang Ramadhan: Persiapan Meraih Keberkahan
Amalan Terbaik Menjelang Ramadhan: Persiapan Meraih Keberkahan
Berdasarkan Kajian Islam oleh Ustadz Khalid Basalamah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, tidak henti-hentinya lisan kita selalu memuji dan memuja Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagai seorang muslim, kita sangat yakin bahwa dua susunan kata "Alhamdulillah" adalah kalimat yang mulia, yang Allah jadikan sebagai ungkapan syukur kepada-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Nikmat-nikmat Allah yang tidak terhingga—dari makanan, minuman, kesehatan, kesempatan, dan segala hal—harusnya kita gunakan di atas ketaatan kepada-Nya dan kita syukuri. Alhamdulillah, Allah mudahkan dengan dua susunan kata ini. Selanjutnya, kita panjatkan salam hormat kepada utusan Allah, Nabi Besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Kunci Motivasi dalam Beribadah
Ketika kita berbicara tentang amalan yang dikerjakan sebelum Ramadhan, sebenarnya inti pembahasannya adalah bagaimana kita bisa termotivasi untuk mengerjakan ibadah dengan istiqamah (konsisten). Kunci utamanya terletak pada pemahaman kita tentang janji Allah terhadap ibadah yang ingin kita kerjakan.
Apakah kita ingin rajin mengerjakan shalat malam? Maka kata kuncinya adalah mempelajari dan mengetahui apa yang akan kita dapatkan jika kita melaksanakan shalat malam. Begitu juga jika kita ingin rajin bersedekah, haji, umrah, berbakti kepada orang tua, atau amalan-amalan baik lainnya. Semua perintah agama akan lebih mudah kita kerjakan jika kita selalu termotivasi, terdorong, dan bersemangat untuk mengerjakannya. Lebih jauh lagi, kita bisa istiqamah menjaganya dengan cara mempelajari dan mengulang-ulangi kembali tentang janji Allah di ibadah tersebut.
Jangan pernah melakukan satu ibadah—ini adalah saran penting—kecuali kita sudah mempelajari dan mengetahui, bahkan sering mengulang-ulangi janji Allah di ibadah itu. Dalam bahasa ceramah, ini biasanya disebut dengan fadilah (keutamaan).
At-Targhib wa at-Tarhib
Sebaliknya, jika kita masih terjurumus dalam pelanggaran-pelanggaran agama, maka kita juga perlu mempelajari dan mengulang-ulangi tentang ancaman di dosa yang sedang kita kerjakan. Dengan demikian, jiwa ini akan menahan diri agar jangan sampai terjerumus dalam kesalahan tersebut. Kita perlu mengingat kembali ancaman bagi orang yang berbohong, riba, menggunjing, bergosip, memfitnah, dan seterusnya.
Para ulama mengistilahkan ini dengan at-targhib wa at-tarhib:
- At-Targhib: dalil-dalil syar'i yang memotivasi kita untuk selalu mengerjakan ibadah dan bisa konsisten menjaganya.
- At-Tarhib: dalil-dalil ancaman bagi para pelanggar supaya mereka tidak melakukannya atau berhenti dari pelanggarannya.
Menolak Sifat Malas dan Menunda-nunda Amal
Setiap orang muslim sangat dianjurkan agar selalu semangat mengisi waktu dan umur mereka di dunia ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Islam sangat menolak sifat malas dan menunda-nunda amal. Contohnya seperti:
- "Nanti saja deh saya shalat malam, mungkin masih bisa besok."
- "Nanti saja saya shalat dhuha."
- "Nanti saja saya bersedekah."
- "Nanti saja saya haji dan umrah."
- "Nanti saja saya datang ke majelis taklim, mungkin bulan depan atau tahun depan."
Semua bentuk penundaan ini membuat seseorang jauh dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hilang darinya peluang-peluang ibadah yang berharga.
Kesempatan Ibadah Tidak Bisa Terulang
Perlu kita garis bawahi poin penting ini: kesempatan ibadah tidak bisa terulang. Jika tadi malam ada orang yang tidak shalat tahajud—walaupun itu ibadah sunnah—maka akan sangat berbeda derajatnya di surga dan balasannya kelak antara orang yang sempat shalat malam dengan yang tidak.
Waktu tadi malam tidak akan pernah terulang. Jika ada orang yang shalat malam tadi, tercatat di buku amalnya yang akan dia terima balasannya pada hari kiamat nanti. Adapun yang tidak shalat malam, tidak bisa memperbaikinya. Bahkan jika sekarang dia mendengar ceramah seperti ini dan berkata, "Ya Allah, tolong kembalikan ke semalam, saya ingin shalat malam karena saya sudah tahu keutamaannya"—sudah tidak bisa. Bahkan satu detik saja yang sudah berlalu, tidak bisa lagi kita minta kembali.
Oleh karena itu, menyia-nyiakan dan menunda-nunda amal adalah masalah besar bagi seorang muslim.
Cara Melipatgandakan Pahala
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kemudahan bagi kita untuk bisa melipatgandakan pahala. Menunda amal sudah jelas tidak boleh, namun jika kita diperintahkan untuk selalu menjaga amal dan bahkan melipatgandakan pahalanya, maka ada banyak cara yang bisa kita lakukan.
1. Memarketingkan Ibadah
Contoh di majelis taklim seperti ini: seseorang bisa datang sendiri karena dia butuh belajar, lalu selesai. Tapi ada orang yang ketika melihat undangan taklim, dia sebarkan di grup keluarganya atau teman-temannya. Dari 100 atau 200 orang yang menerima undangan, mungkin ada 10 orang yang datang karena undangan darinya.
Jika dalam taklim ini dia diberikan pahala 100 (sebagai contoh), dan teman-temannya yang datang masing-masing juga diberikan pahala 100, maka secara otomatis dia memiliki pahala 100 (miliknya sendiri) ditambah 1.000 dari 10 temannya yang datang (100 × 10). Inilah yang namanya "memarketingkan ibadah".
Semua jenis ibadah yang sedang kita kerjakan bisa kita raih pahala yang sama dan berlipat ganda, walaupun sebenarnya jenis ibadahnya sama. Kita bisa melakukan ini untuk shalat, umrah, haji, dan semua ibadah lainnya. Alangkah baiknya jika kita mau mengerjakan suatu ibadah, kita juga memotivasi orang lain untuk mengerjakannya.
Kisah Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, jika mau shalat, jauh sebelum waktu shalat beliau sudah keluar dari rumahnya dan berkeliling kota Madinah. Beliau mengajak teman-temannya di kota Madinah untuk shalat. Setelah mengelilingi semaksimal mungkin rumah-rumah yang dia mampu kunjungi di kota Madinah, barulah dia datang ke masjid Nabawi pas waktu adzan zhuhur misalnya.
Dengan cara ini, dia mendapat:
- Pahala shalat zhuhur
- Pahala langkah menuju masjid yang sangat banyak
- Pahala mengajak orang lain
Sehingga dia bisa mendapatkan ekstra pahala dari jenis ibadah yang sama. Padahal sama saja waktunya, jenis ibadahnya, dan energi yang dikeluarkan. Tapi beliau bisa melipatgandakan pahala dari ibadah tersebut.
2. Mengemas Ibadah dengan Sebaik Mungkin
Kita juga bisa melipatgandakan pahala dengan mengemas ibadah sebaik mungkin. Akan berbeda pahalanya antara orang yang:
Shalat malam dengan apa adanya: Begitu bangun, langsung shalat dengan mukena yang mungkin sudah tidak dicuci satu minggu, sajadah yang sudah lama tidak diganti, membaca surat pendek yang mudah saja, lalu selesai. Dapat pahala, tapi berapa besarnya?
Shalat malam dengan persiapan terbaik: Orang yang sama-sama shalat malam, tapi dia mempersiapkan diri dengan:
- Berwudhu dengan sempurna
- Menggunakan pakaian yang bersih dan wangi
- Memakai parfum (bagi laki-laki)
- Sajadah yang bersih
- Membaca surat-surat panjang yang dia hafal
- Khusyuk dalam shalatnya
- Menangis dalam shalatnya karena takut kepada Allah
Sudah pasti pahalanya akan jauh berbeda, walaupun jenis ibadahnya sama-sama shalat malam. Maka dari itu, sebisa mungkin kemaskanlah ibadah kita sebaik-baiknya agar pahalanya berlipat ganda.
Persiapan Menyambut Ramadhan
Untuk bisa termotivasi menyambut Ramadhan dengan baik, kita perlu mengetahui keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Berikut adalah beberapa keutamaan penting yang perlu kita pahami dan renungkan:
1. Bulan Penuh Keberkahan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ
"Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan."
Keberkahan dalam waktu, dalam amalan, dalam pahala, dan dalam segala aspek kehidupan di bulan ini.
2. Bulan Diturunkannya Al-Qur'an
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an." (QS. Al-Baqarah: 185)
Ini menunjukkan kemuliaan bulan Ramadhan yang menjadi waktu turunnya kitab suci kita.
3. Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
"Apabila datang bulan Ramadhan, dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu."
Ini adalah kondisi luar biasa yang hanya terjadi di bulan Ramadhan, di mana kita lebih mudah berbuat kebaikan dan lebih mudah menahan diri dari kemaksiatan.
4. Dosa-dosa Diampuni
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Begitu juga dengan shalat malam (qiyamullail) di bulan Ramadhan:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang mengerjakan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
5. Ada Malam Lailatul Qadr
Di bulan Ramadhan terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa yang mengerjakan ibadah pada Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
6. Bulan Kesabaran dan Empati
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
شَهْرُ الصَّبْرِ وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ
"(Ramadhan adalah) bulan kesabaran, dan balasan kesabaran adalah surga."
Puasa melatih kita untuk bersabar menahan lapar dan dahaga, menahan hawa nafsu, dan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa. Kesabaran ini balasannya adalah surga.
7. Bulan Berbagi dan Dermawan
Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata:
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling dermawan di bulan Ramadhan."
Ramadhan melatih kita untuk peduli terhadap sesama. Dengan merasakan lapar dan haus, kita menjadi lebih memahami penderitaan orang-orang yang kekurangan, sehingga tumbuh kepedulian untuk berbagi.
8. Bulan Penuh Ampunan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga pertama adalah rahmat, sepertiga kedua adalah ampunan, dan sepertiga terakhir adalah pembebasan dari api neraka."
9. Bulan Pembebasan dari Neraka
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:
إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ
"Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan (dari neraka) pada setiap hari dan malam (di bulan Ramadhan), dan bagi setiap hamba di antara mereka ada doa yang dikabulkan."
10. Bulan Doa Dikabulkan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat tentang puasa:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ
"Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka..." (HR. Tirmidzi)
11. Bulan Pelipatgandaan Pahala
Pahala di bulan Ramadhan dilipat gandakan berkali-kali lipat. Satu kebaikan bisa menjadi 70 kali lipat atau lebih. Bahkan umrah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan haji bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
12. Bulan Peredam Syahwat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ... وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu menikah, maka menikahlah... Dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat meredam syahwatnya."
Puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan keinginan duniawi.
13. Bulan Peredam Emosi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari:
إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
"Barangsiapa di antara kalian yang tiba di pagi hari dalam kondisi berpuasa, maka jangan berkata jorok dan jangan bersikap bodoh (melakukan pelanggaran). Jika ada seseorang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, maka katakanlah: Aku sedang puasa, aku sedang puasa."
Puasa melatih kita untuk mengontrol emosi. Banyak penyakit berat seperti stroke dan darah tinggi disebabkan oleh emosi yang tidak terkendali. Ketika seorang sahabat datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Ya Rasulullah, wasiatkan saya supaya saya bisa bahagia dan tentram," beliau menjawab:
لَا تَغْضَبْ
"Jangan kau emosional."
Sahabat itu bertanya tiga kali dan setiap kali Rasulullah menjawab hal yang sama. Dalam hadits lain disebutkan:
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ
"Jangan kau emosi, maka bagimu surga."
14. Bulan Kepedulian Sosial
Ramadhan melatih kita untuk peduli terhadap sesama. Dengan merasakan lapar dan haus selama sebulan penuh, kita menjadi lebih memahami bagaimana susahnya orang-orang yang kekurangan. Ini memunculkan kepedulian yang mendalam.
Oleh karena itu, di akhir Ramadhan kita diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Idul Fitri. Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah:
طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
"Untuk mensucikan orang yang puasa dari perkara sia-sia dan perbuatan keji, dan sekaligus untuk memberi makan kepada orang-orang miskin." (HR. Abu Daud)
Hadits ini melanjutkan:
مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ
"Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat (Idul Fitri), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang mengeluarkannya setelah shalat, maka itu dihitung sebagai sedekah biasa."
Cara Menghitung Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib bagi semua Muslim, termasuk janin yang sudah berusia 4 bulan di dalam kandungan (sudah bernyawa). Yang sudah meninggal tidak ada zakatnya. Yang bertanggung jawab mengeluarkan adalah kepala rumah tangga.
Contoh: seorang laki-laki memiliki istri, tiga orang anak, dan masih ada bayi di kandungan istrinya yang sudah 4 bulan, maka dia mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, istrinya, dan empat anaknya (tiga anak plus satu janin).
Besarnya adalah kurang lebih 2,5 kilogram beras atau makanan pokok per orang, dan dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok (bukan uang). Sebaiknya dikeluarkan jauh sebelum shalat Idul Fitri, biasanya di akhir-akhir Ramadhan.
15. Bulan Pengaturan Pola Makan dan Kesehatan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Umatku senantiasa dalam keadaan baik (sehat) selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur."
Ini adalah pengaturan pola hidup yang sehat.
Adab Berbuka Puasa
Ketika adzan maghrib berkumandang, jangan tunda lagi untuk berbuka. Segerakanlah berbuka puasa. Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah berbuka dengan:
- Ruthabat (kurma basah) - jika ada
- Tamarat (kurma kering) - jika tidak ada kurma basah
- Air putih - jika tidak ada kurma sama sekali
Walaupun kita sangat haus, usahakan kunyah kurma terlebih dahulu sedikit, baru kemudian minum air. Karena itulah urutannya dalam riwayat yang shahih.
Sebelum berbuka, berdoalah. Lalu berbuka dengan tangan kanan sambil membaca "Bismillah". Setelah minum air, barulah kita membaca doa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
"Telah hilang rasa dahaga, telah basah semua urat-urat, dan tetaplah pahala, insya Allah."
Para ulama menganjurkan doa ini dibaca setelah kita meneguk air, karena memang sesuai dengan makna haditsnya.
Adab Sahur
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda bahwa umat akan selalu dalam keadaan sehat selama mereka mengakhirkan sahur. Jadi, sahur sebaiknya dilakukan setengah jam sebelum Subuh—semakin dekat dengan waktu adzan, semakin bagus, karena akan membuat kita lebih tahan sampai waktu berbuka nanti.
Kekuatan Niat dalam Berpuasa
Yang perlu kita garis bawahi adalah hadits:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya (pahala) semua amalan tergantung pada niatnya."
Jika kita sahur lalu dalam hati tersirat, "Ya, saya jam 11 nanti pasti lapar," maka benar kita akan lapar pada jam 11. Tapi jika niat kita, "Insya Allah saya akan bisa tahan sampai berbuka puasa," maka kita benar-benar akan kuat. Berapa kali di antara kita merasakan bahwa kita hanya makan kurma dua-tiga butir saat berbuka, minum air, lalu shalat, dan baru makan besar setelah tarawih—ternyata tidak apa-apa, karena memang niatnya seperti itu.
Kesimpulan: Mempersiapkan Diri Menyambut Ramadhan
Untuk termotivasi mengerjakan sebuah ibadah, kuncinya adalah kita mengetahui keutamaan dari ibadah tersebut. Ketika kita ingin tahu amalan apa yang harus dikerjakan sebelum Ramadhan, justru yang perlu kita lakukan adalah:
- Belajar dan mempelajari kembali keutamaan-keutamaan Ramadhan - seperti yang telah kita bahas di atas
- Mengingat kembali dan merenungkan - agar hati kita tergerak dan termotivasi
- Memprogram diri dari sekarang - merencanakan amalan-amalan apa yang akan kita maksimalkan di Ramadhan nanti
- Melipatgandakan niat baik - dengan memarketingkan ibadah dan mengemas ibadah sebaik mungkin
- Tidak menunda-nunda - karena waktu tidak akan pernah terulang
Semoga dengan memahami keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan ini, kita bisa menyambut Ramadhan dengan persiapan yang matang, semangat yang tinggi, dan tekad yang kuat untuk memaksimalkan setiap detik di bulan yang penuh keberkahan ini.
Penutup
Alhamdulillah, demikian bahasan kita tentang amalan terbaik menjelang Ramadhan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima semua hajat dunia dan akhirat kita. Semoga Allah terima seluruh amal shalih yang pernah kita kerjakan dan yang akan kita kerjakan dengan pahala yang sempurna. Semoga semua dosa kita diampuni dan ditutupi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga Allah tinggikan derajat kita dan Allah mudahkan kita dipanjangkan umur dalam ketaatan kepada-Nya. Semoga Allah berikan kepada kita Ramadhan-Ramadhan yang banyak ke depannya, Ramadhan yang maksimal yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya.
Sebagaimana Allah satukan kita di majelis ini, semoga Allah juga satukan kita di Firdaus, surga-Nya yang tertinggi, tanpa hisab di hari kiamat nanti. Allahumma amin.
Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallam. Wa akhiru da'wana alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.