GENERASI RABBANI (Seri 3)

III. KARAKTERISTIK INTERNAL GENERASI RABBANI

Setelah kita memahami fondasi spiritual yang menjadi pondasi Generasi Rabbani, kini saatnya kita menyelami lebih dalam tentang karakteristik internal yang membentuk kepribadian mereka. Bayangkan seperti pohon: akarnya adalah iman dan kedekatan dengan Al-Qur'an, batangnya adalah ilmu dan hati yang bersih. Tanpa batang yang kuat, pohon akan mudah roboh meski akarnya dalam.

Di zaman sekarang, kita sering menemukan fenomena menarik: banyak orang yang pintar secara akademis, gelarnya bertumpuk, hafalan dalilnya banyak, tapi akhlaknya... well, masih jauh dari kata "Rabbani". Ada juga yang rajin ibadah, tapi hatinya masih dipenuhi penyakit: dengki, sombong, haus pujian. Nah, Generasi Rabbani berbeda. Mereka memadukan ilmu dengan akhlak, kecerdasan dengan kebersihan hati.

A. Ilmu yang Membentuk Akhlak

1. Konsep Ilmu dalam Perspektif Rabbani

Pernah nggak sih kalian merasa overwhelmed dengan banyaknya teman yang pamer IPK, sertifikat, atau prestasi akademis di media sosial? Atau mungkin kalian sendiri yang suka posting pencapaian dengan harapan dapat validasi dari orang lain? It's okay, kita semua pernah di sana. Tapi mari kita pause sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita menuntut ilmu?

Dalam perspektif Rabbani, ilmu bukan sekadar untuk mengumpulkan gelar atau flexing di depan orang. Ilmu adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau dalam bahasa Arabnya disebut taqarrub التقرب. Setiap huruf yang kita pelajari, setiap konsep yang kita pahami, seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang berilmu)." (QS. Fathir: 28)

Ayat ini deep banget kalau kita renungkan. Allah tidak bilang "yang paling banyak gelarnya" atau "yang paling tinggi IPK-nya", tapi "yang paling takut kepada Allah". Kenapa? Karena orang yang benar-benar berilmu akan semakin memahami kebesaran Allah, dan dengan pemahaman itu, lahirlah khasyah الخشية – rasa takut yang bercampur dengan pengagungan dan kecintaan.

Contoh nyata: Imam Al-Ghazali, salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, pernah berada di puncak karir akademisnya. Beliau mengajar di Universitas Nizhamiyah Baghdad, institusi paling bergengsi pada masanya, dengan ribuan murid dan penghormatan luar biasa. Tapi apa yang terjadi? Beliau merasa kosong. Ilmunya banyak, tapi hatinya gelisah karena merasa ilmu yang dipelajarinya hanya untuk gengsi dan debat kusir, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Akhirnya, Imam Al-Ghazali meninggalkan semua itu – jabatan, gaji, kehormatan – dan pergi bertapa untuk membersihkan hatinya. Dari pengalaman ini lahirlah magnum opus-nya: Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), yang isinya mengajak kita untuk tidak sekadar menumpuk ilmu, tapi menghidupkan ilmu melalui amal dan akhlak.

Pesan Imam Al-Ghazali ini sangat relevan untuk generasi kita. Di era digital ini, knowledge ada di ujung jari. Mau belajar apa aja? Tinggal Google, YouTube, atau ChatGPT. Tapi pertanyaannya: apakah ilmu yang kita konsumsi membuat kita lebih dekat dengan Allah, atau malah membuat kita sombong dan merasa paling benar?

Nabi Muhammad ﷺ pernah memperingatkan kita tentang bahaya ilmu tanpa amal:

مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ ثُمَّ لَا يُحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِي يَكْنِزُ الْكَنْزَ فَلَا يُنْفِقُ مِنْهُ

"Perumpamaan orang yang belajar ilmu kemudian tidak mengamalkannya dan tidak mengajarkannya adalah seperti orang yang menimbun harta tapi tidak menafkahkannya." (HR. Thabrani)

Ada juga hadits yang lebih tegas lagi:

"Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah." (Perumpamaan dari para ulama)

Coba bayangkan: ada pohon mangga yang rimbun, daunnya lebat, batangnya kokoh, tapi tidak pernah berbuah. Apa gunanya? Sama seperti orang yang ilmunya tinggi tapi akhlaknya buruk, lisan kasar, suka debat kusir, dan tidak membawa manfaat untuk orang lain. What's the point?

2. Transformasi Ilmu Menjadi Akhlak

a) Semakin berilmu → semakin takut kepada Allah

Ini adalah prinsip paling fundamental dalam konsep ilmu Rabbani. Kalau ilmu kita bertambah tapi kita malah jadi sombong, merasa paling benar, dan meremehkan orang lain, berarti ada yang salah dengan cara kita belajar.

Mari kita lihat contoh konkret dari kehidupan sahabat Nabi. Umar bin Khattab RA – khalifah kedua yang terkenal tegas dan pemberani – pernah salah dalam satu keputusan terkait mahar. Seorang wanita biasa mengoreksinya di depan umum dengan dalil dari Al-Qur'an. Tahu apa respons Umar? Bukan marah atau defensif, tapi dia berkata:

أَصَابَتِ امْرَأَةٌ وَأَخْطَأَ عُمَرُ

"Seorang wanita benar dan Umar salah." (Riwayat Ibnu Katsir dalam Tafsirnya)

Ini adalah contoh sempurna dari kerendahan hati yang lahir dari ilmu. Umar, dengan segala keilmuan dan kedudukannya sebagai khalifah, tidak merasa malu mengakui kesalahan di depan publik. Mengapa? Karena tujuannya bukan menang-menangan atau mempertahankan ego, tapi mencari kebenaran dan ridha Allah.

Bandingkan dengan fenomena sekarang: ada orang yang baru belajar sedikit tentang agama, langsung merasa paling benar, senang men-judge orang lain, dan sulit menerima koreksi. Atau di dunia akademis, ada mahasiswa yang baru semester 3 sudah merasa lebih pintar dari dosennya. Duh, ini namanya bukan ilmu, tapi penyakit ujub العُجب (bangga diri).

Imam Syafi'i, salah satu dari empat imam mazhab besar, punya ungkapan indah tentang ini:

كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ عِلْمًا بِجَهْلِي

"Semakin bertambah ilmuku, semakin aku sadar akan kebodohanku."

Ini bukan false modesty atau pura-pura rendah hati. Imam Syafi'i benar-benar merasakan bahwa semakin dalam dia menyelam ke lautan ilmu, semakin dia sadar betapa luasnya yang belum dia ketahui. Seperti orang yang berdiri di tepi pantai: semakin jauh dia melihat ke laut, semakin dia sadar betapa kecil dirinya dibanding luasnya samudra.

Tanda-tanda ilmu yang membuat kita takut kepada Allah:

  • Makin tahu kebesaran Allah → makin rendah hati. Ketika kita belajar astronomi dan tahu bahwa matahari kita hanya satu dari miliaran bintang di galaksi Bima Sakti, dan Bima Sakti sendiri hanya satu dari miliaran galaksi di alam semesta, siapa kita? Tiny speck of dust. Lalu bagaimana bisa kita sombong?
  • Makin paham hukum → makin hati-hati. Semakin kita belajar fiqh dan memahami kompleksitas hukum Islam, semakin kita berhati-hati dalam berfatwa atau men-judge orang lain. Kita sadar ada perbedaan pendapat ulama, ada konteks dan kondisi yang berbeda-beda. Tidak asal "ini haram, itu bid'ah!"
  • Makin dalam ilmu → makin sadar keterbatasan diri. Orang yang benar-benar ahli di bidangnya akan lebih humble karena dia tahu betapa banyak yang masih harus dipelajari. Sebaliknya, orang yang setengah-setengah ilmunya justru paling cocky.

b) Semakin paham → semakin rendah hati

Ada fenomena menarik dalam psikologi yang disebut Dunning-Kruger Effect. Ini adalah bias kognitif di mana orang yang tidak kompeten cenderung overestimate kemampuan mereka, sementara orang yang benar-benar kompeten justru underestimate diri mereka sendiri.

Dalam konteks Islam, ini sangat relevan. Orang yang baru belajar sedikit tentang agama sering merasa sudah paham semuanya dan gampang men-judge orang lain. Tapi ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal, setelah puluhan tahun belajar dan mengajar, masih sering berkata:

لَا أَدْرِي

"Aku tidak tahu." (Ungkapan yang sering diucapkan Imam Ahmad)

Kerendahan hati untuk mengakui "aku tidak tahu" adalah tanda keilmuan yang matang. Di era media sosial sekarang, orang berlomba-lomba terlihat know-it-all. Padahal, keberanian untuk bilang "saya belum paham tentang ini" atau "saya perlu belajar lebih lanjut" justru menunjukkan integritas intelektual.

Ada pepatah Arab yang indah:

فَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

"Di atas setiap orang yang berilmu ada yang lebih berilmu."

Ini pengingat bahwa tidak peduli seberapa tinggi ilmu kita, selalu ada yang lebih tinggi. Dan di atas semua ilmu manusia, ada Ilmu Allah yang tidak terbatas.

c) Ilmu sebagai amanah untuk membina, bukan membanggakan

Ini yang sering terlupakan: ilmu adalah amanah, bukan aset untuk pamer. Allah memberikan kita ilmu bukan untuk kita simpan sendiri atau untuk kita jadikan alat untuk merasa superior, tapi untuk kita bagikan dan manfaatkan untuk kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

"Sampaikanlah dariku walau satu ayat." (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan bahwa berbagi ilmu adalah kewajiban, bukan pilihan. Dan yang menarik, Nabi bilang "walau satu ayat" – artinya, kita tidak perlu menunggu sampai jadi ulama besar untuk berbagi ilmu. Punya satu pengetahuan yang bermanfaat? Share it!

Tapi hati-hati, ada perbedaan antara berbagi ilmu dengan ikhlas versus pamer ilmu untuk gengsi:

Berbagi Ilmu (Rabbani) Pamer Ilmu (Bukan Rabbani)
Fokus pada manfaat untuk orang lain Fokus pada kesan "pintar" di mata orang
Menyampaikan dengan bahasa sederhana Sengaja pakai istilah rumit supaya terlihat sophisticated
Senang jika orang lain paham dan bertambah ilmunya Senang jika mendapat pujian dan pengakuan
Tetap mengajar meski tidak dipuji Hilang semangat kalau tidak ada likes atau engagement
Mengakui jika ada yang lebih paham Defensive dan tidak suka dikoreksi

Contoh praktis: Seorang mahasiswa Teknik Informatika yang paham coding bisa membuat tutorial gratis untuk adik-adik kelasnya. Atau seorang remaja yang jago Bahasa Inggris bisa menjadi tutor gratis buat teman-temannya yang lemah. Atau yang ahli desain grafis bisa mengajarkan skill-nya ke komunitas dakwah untuk membuat konten Islami yang lebih menarik. Ini semua adalah sedekah ilmu yang sangat berharga.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa menyembunyikan ilmu, Allah akan mengekangnya dengan kekang dari api pada Hari Kiamat." (HR. Abu Daud)

Hadits ini cukup menakutkan. Menyembunyikan ilmu yang bermanfaat adalah dosa besar. Jadi, kalau kita punya ilmu yang bisa membantu orang lain, jangan ditimbun sendiri. Share the knowledge, spread the light!

3. Ciri Ilmu yang Rabbani

Oke, sekarang pertanyaannya: bagaimana kita tahu kalau ilmu yang kita pelajari atau yang kita terima dari seseorang itu "Rabbani" atau bukan? Berikut adalah indikatornya:

a) Membuat pelakunya lembut dan tenang (sakinah)

Ilmu yang benar membuat hati tenang, bukan gelisah. Membuat kita lebih santun, bukan malah jadi kasar dan judgmental. Ini sesuai dengan ayat Al-Qur'an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang notabene adalah manusia paling berilmu di masanya. Tapi lihatlah, Allah memuji kelembutan dan kelembutannya, bukan ketajamannya dalam berdebat.

Red flag: Kalau setelah belajar agama kamu malah jadi suka marah-marah, gampang mengkafirkan orang, atau merasa semua orang salah kecuali kamu dan kelompokmu, itu tanda ada yang salah. Ilmu seharusnya membuat kita lebih rahmat (kasih sayang), bukan lebih niqmat (kutukan).

b) Mendorong amal, bukan hanya diskusi teoritis

Ilmu Rabbani selalu bermuara pada praktik. Bukan sekadar debat kusir atau perdebatan filosofis yang tidak ada ujungnya. Salah satu ulama salaf berkata:

الْعِلْمُ يَهْتِفُ بِالْعَمَلِ فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ

"Ilmu memanggil amal. Jika amal menjawab, ilmu akan menetap. Jika tidak, ilmu akan pergi." (Hasan Al-Bashri)

Artinya, ilmu tanpa amal itu sia-sia. Bahkan, ilmu bisa jadi hujjah (bukti) yang memberatkan kita di hari kiamat kalau tidak diamalkan.

Contoh: Kamu belajar tentang pentingnya berbakti kepada orang tua dalam Islam. Kalau setelah belajar kamu langsung WhatsApp ibumu, tanyakan kabarnya, kirim uang, atau pulang membantu pekerjaan rumah – itu tanda ilmumu berbuah amal. Tapi kalau kamu cuma hafal dalil-dalilnya, postingin quote tentang birrul walidain, tapi sama orang tua masih kasar dan jarang komunikasi – itu bukan ilmu Rabbani, cuma lip service.

c) Mencerahkan orang lain, bukan menyombongkan diri

Ilmu Rabbani seperti lampu: tugasnya menerangi kegelapan, bukan menyilaukan mata. Orang yang berilmu Rabbani itu ketika berbicara, orang lain merasa enlightened (tercerahkan), bukan inferior (merasa bodoh dan kecil).

Imam Malik bin Anas, sang pendiri Mazhab Maliki, terkenal dengan kelembutannya dalam mengajar. Murid-muridnya merasa nyaman bertanya apapun tanpa takut dipermalukan. Ini berbeda dengan beberapa "ustadz medsos" sekarang yang suka mempermalukan orang yang bertanya dengan nada sarkastik atau meremehkan. Duh, ini bukan akhlak ulama!

d) Disampaikan dengan hikmah dan kasih sayang

Allah SWT memerintahkan kita berdakwah dengan cara yang baik:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)

Hikmah الحكمة artinya kebijaksanaan: tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, bagaimana cara menyampaikan agar diterima. Bukan asal nyerocos tanpa melihat konteks dan kondisi pendengar.

Contoh: Ada teman yang baru mulai belajar agama, mungkin baru rajin shalat. Jangan langsung di-bombardir dengan dalil-dalil tentang tahajjud, puasa Senin-Kamis, dan kewajiban-kewajiban lain. Apresiasi dulu progress-nya, support dia, pelan-pelan ajak naik ke level berikutnya. That's hikmah!

e) Membawa pada taqwa, bukan perdebatan kusir

Ilmu Rabbani tujuan akhirnya adalah takwa: takut kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Bukan untuk menang debat atau terlihat paling pintar. Nabi Muhammad ﷺ memperingatkan tentang bahaya debat kusir:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ

"Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapat petunjuk, kecuali mereka diberi (dibiarkan tenggelam dalam) debat kusir." (HR. Tirmidzi)

Di era media sosial, debat kusir ini merajalela. Orang berdebat bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk menang dan menjatuhkan lawan. Topiknya bisa remeh-temeh: cara lipat tangan saat shalat, panjang jenggot, atau masalah-masalah furu' (cabang) yang sebenarnya ada perbedaan pendapat yang sah di kalangan ulama. Tapi di-blow up seolah-olah itu masalah aqidah.

Generasi Rabbani tidak terjebak dalam ini. Mereka fokus pada yang substansial: memperbaiki iman, meningkatkan amal, membersihkan hati. Bukan menghabiskan waktu untuk debat yang tidak produktif.

---

B. Hati yang Bersih (Tazkiyatun Nafs)

Kalau tadi kita bicara tentang kepala (ilmu), sekarang kita bicara tentang hati. Dan dalam Islam, hati adalah raja. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

"Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." (HR. Bukhari & Muslim)

Hati adalah command center dari seluruh kehidupan kita. Dari hati lahir niat, keinginan, keputusan. Kalau hatinya baik, maka semua tindakan kita akan baik. Sebaliknya, kalau hatinya sakit, mau serajin apapun ibadahnya, mau sebanyak apapun ilmunya, semuanya bisa jadi sia-sia.

Bayangkan hati seperti tanah. Kalau tanahnya subur dan bersih, tanaman apapun yang ditanam akan tumbuh dengan baik. Tapi kalau tanahnya penuh dengan gulma, sampah, dan racun, mau seberapa bagus benih yang ditanam, hasilnya tidak akan optimal. Tazkiyatun nafs تزكية النفس adalah proses membersihkan "tanah" hati kita agar siap menerima benih-benih kebaikan.

1. Perang Melawan Penyakit Hati

Dalam Islam, ada banyak penyakit hati yang harus kita perangi. Tapi kita akan fokus pada tiga yang paling relevan untuk remaja dan generasi muda sekarang:

a) Tidak dengki pada kesuksesan orang lain

Dengki atau hasad الحسد adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Ini adalah penyakit pertama yang muncul di alam semesta: Iblis dengki kepada Adam AS karena Adam diciptakan lebih mulia dan disuruh sujud kepadanya.

Dengki itu apa? Dengki adalah perasaan tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat, dan berharap nikmat itu hilang atau berpindah kepada kita. Ini berbeda dengan ghibthah الغبطة (iri yang positif), yaitu ingin punya nikmat seperti orang lain tapi tanpa berharap nikmat orang itu hilang.

Di era media sosial, dengki ini sangat mudah tumbuh. Kenapa? Karena kita terus-menerus di-bombard dengan highlight reel kehidupan orang lain: teman A dapat beasiswa ke luar negeri, teman B punya pacar yang perfect, teman C dapat mobil baru dari ortu, dan seterusnya. Sementara kita? Masih berjuang dengan masalah-masalah kita sendiri.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Daud)

Bayangkan: kamu sudah rajin ibadah, sedekah, bantu orang, tapi kalau hati kamu penuh dengki, semua kebaikan itu bisa terbakar habis. Ngeri, kan?

Cara melawan dengki:

  • Senang dengan kebahagiaan orang lain – Latih diri untuk genuine happy ketika teman sukses. Ucapkan selamat dengan tulus, bukan cuma lip service.
  • Tidak merasa tersaingi atau terancam – Ingat, rezeki sudah diatur Allah. Orang lain sukses bukan berarti peluangmu berkurang. Allah Maha Kaya, rezeki-Nya tidak terbatas.
  • Berdoa untuk kesuksesan saudara – Ini obat paling ampuh! Rasulullah ﷺ bersabda: "Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang tidak diketahui (saudaranya itu), akan dikabulkan. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya, malaikat berkata: 'Aamiin, dan bagimu juga yang sama.'" (HR. Muslim). Jadi, kalau kamu doain teman kamu sukses, malaikat doain kamu juga sukses. Win-win solution!

Contoh nyata: Temanmu diterima di kampus impian, sementara kamu belum. Respons orang yang berhati bersih: "Alhamdulillah, congrats bro! Doain aku ya biar menyusul!" Respons orang yang dengki: "Ah, dia sih punya duit buat les mahal. Kalau aku juga punya duit pasti bisa." Atau lebih parah lagi, diam-diam senang kalau teman itu nanti gagal atau ada masalah. Na'udzubillah.

b) Tidak haus pujian dan pengakuan

Ini adalah penyakit zaman now yang akut: riya' الرياء atau pamer. Kita hidup di era di mana segalanya di-share: makan di-share, ibadah di-share, sedekah di-share, doa di-share. Lalu kita cek berkali-kali: berapa likes? Berapa komentar? Siapa yang view story kita?

Riya' adalah beramal karena ingin dilihat dan dipuji manusia, bukan karena Allah. Dan ini adalah dosa yang sangat berat, karena termasuk syirik khafi (syirik tersembunyi). Kenapa? Karena kita "mempersekutukan" audience kita dengan Allah dalam ibadah kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?" Beliau menjawab: "Riya'." (HR. Ahmad)

Bayangkan, Nabi ﷺ – yang umatnya sudah dijamin masuk surga selama mereka beriman – masih worried tentang riya'. Apalagi kita?

Tanda-tanda riya':

  • Semangat beramal kalau ada yang lihat/tahu, malas kalau sendirian
  • Kecewa kalau amal baik kita tidak diapresiasi orang
  • Senang kalau dipuji, tersinggung kalau tidak
  • Lebih fokus pada dokumentasi ibadah daripada kualitas ibadahnya
  • Posting ibadah dengan niat agar orang lain tahu betapa salehnya kita

Cara melawan riya':

  • Beramal karena Allah, bukan audience – Sebelum berbuat apa-apa, tanya diri sendiri: "Aku lakukan ini karena Allah atau karena ingin dipuji orang?"
  • Konsisten meski tidak dipuji – Kalau kamu tetap rajin shalat malam meski tidak ada yang tahu, tetap sedekah meski tidak ada yang lihat, itu tanda ikhlas.
  • Tidak kecewa jika tidak diapresiasi – Ingat, yang menilai amal kita adalah Allah, bukan manusia. Cukup dengan ridha Allah.
  • Perbanyak amal tersembunyi – Rasulullah ﷺ menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat adalah: "Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya" (HR. Bukhari & Muslim).

Catatan penting: Bukan berarti semua yang kita lakukan harus dirahasiakan. Ada kalanya kita perlu berbagi kebaikan untuk menginspirasi orang lain (dan ini termasuk dakwah). Yang penting adalah niatnya. Kalau niatnya murni untuk Allah dan untuk menginspirasi, insyaAllah tidak apa-apa. Tapi kalau niatnya tercampur dengan keinginan untuk dipuji, waspadalah!

Artikel Populer

Kasus Jeffrey Epstein: Antara Kejahatan Kemanusiaan dan Intrik Kekuasaan

Framework Kepemimpinan Muslim (seri 1)

PERJANJIAN HUDAIBIYAH: MASTERCLASS STRATEGI PERANG DARI PADANG PASIR KE MEDAN PERTEMPURAN MODERN

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...