Konflik Vlad Dracula dan Sultan Muhammad Al-Fatih
Antara Keberanian dan Kekejaman: Pelajaran Akhlak dari Konflik Vlad Dracula dan Sultan Muhammad Al-Fatih
Di balik kisah-kisah heroik penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih, terselip catatan sejarah tentang konflik dengan seorang penguasa Eropa Timur yang terkenal kejam: Vlad III, atau yang lebih dikenal sebagai “Dracula”. Namun, di balik narasi populer yang penuh dramatisasi, terdapat pelajaran akhlak mendalam yang relevan bagi kita—umat Islam masa kini—tentang batas antara keberanian yang mulia dan kekejaman yang tercela.
Dua Wajah Kepemimpinan di Era yang Sama
Sultan Muhammad Al-Fatih (1432–1481 M) dan Vlad III Dracula (1431–1476/77 M) hidup di abad ke-15, dalam dunia yang penuh gejolak politik, agama, dan perang. Keduanya adalah pemimpin muda, cerdas, dan tegas. Namun, cara mereka memimpin dan memperlakukan manusia sangat berbeda.
Al-Fatih dikenal karena keadilan, kebijaksanaan, dan penghormatannya terhadap nyawa—bahkan nyawa musuh. Setelah menaklukkan Konstantinopel, ia tidak menghancurkan gereja-gereja, melainkan memberi jaminan keamanan kepada warga non-Muslim. Ia berkata:
“Barangsiapa menyakiti penduduk dzimmi (non-Muslim yang dilindungi), maka aku akan menjadi lawannya di hari kiamat.”
Sebaliknya, Vlad III dikenal karena metode hukumannya yang ekstrem: menancapkan tubuh manusia pada tiang kayu (*impaling*), bahkan terhadap ribuan tahanan sekaligus. Ia memang berani melawan Kesultanan Utsmaniyah, tetapi keberaniannya dibarengi dengan kekejaman yang membuat rakyatnya sendiri gentar.
Keberanian yang Diberkahi vs. Keberanian yang Dilaknat
Dalam Islam, keberanian bukan sekadar kekuatan fisik atau keteguhan melawan musuh. Keberanian yang sejati adalah yang lahir dari **iman, keadilan, dan kasih sayang**.
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau keluargamu.” (QS. An-Nisa’: 135)
Keberanian Al-Fatih selalu dikendalikan oleh prinsip ini. Ia berperang bukan untuk dendam, bukan untuk menunjukkan kekuasaan, tapi untuk menegakkan kalimat Allah dan membuka jalan dakwah. Sedangkan Vlad, meski anti-Utsmaniyah, menggunakan kekerasan bukan hanya pada tentara, tapi juga pada rakyat sipil—bahkan rakyatnya sendiri.
Pelajaran Akhlak untuk Generasi Muslim Hari Ini
Kita sering kali terpesona oleh kisah “pahlawan” yang berani melawan kezaliman. Tapi Islam mengajarkan: niat saja tidak cukup—cara pun harus benar.
- Jangan biarkan kebencian menghalangi keadilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ingatlah! Siapa yang menzalimi seorang mu’ahid (non-Muslim yang terikat perjanjian), merendahkannya, membebani di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan hatinya—maka aku akan menjadi lawannya di hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud)أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
- Keberanian tanpa rahmat bukanlah akhlak Nabi. Rasulullah ﷺ adalah panglima perang, tapi beliau melarang membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua. Beliau bersabda: “Perangilah demi Allah, tapi jangan berlebihan. Jangan berkhianat, jangan memotong pohon, jangan membunuh bayi.” (HR. Muslim)
- Yang membedakan pejuang dan algojo adalah akhlak. Pejuang membela kebenaran dengan cara yang benar. Algojo membela kebenaran—tapi dengan cara yang salah.
Penutup: Menjadi Pejuang yang Dirindukan Surga
Sultan Muhammad Al-Fatih bukan hanya penakluk kota, tapi penakluk hati. Ia memenangkan dunia tanpa kehilangan akhlaknya. Vlad Dracula mungkin dihormati sebagai pahlawan nasional di Rumania, tapi sejarah mencatat: kekejamannya meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh.
Sebagai muslim, kita diajak untuk meneladani Al-Fatih—bukan dalam ambisi militernya, tapi dalam keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan, antara keberanian dan keadilan.
Karena dalam pandangan Allah, yang paling mulia bukan yang paling ditakuti, tapi yang paling bertakwa:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Maka, marilah kita latih jiwa bukan hanya untuk berani melawan, tapi juga untuk berani memaafkan, berlaku adil, dan menjaga harga diri sesama manusia—meski ia musuh.