ANAK LELAKIKU

ANAK LELAKIKU

Lelaki Kecil yang Sedang Belajar Menjadi Besar

— Sebuah Renungan untuk Setiap Ayah dan Ibu di Bulan Ramadhan —

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Wahai ayah...

Wahai ibu...

Perhatikan ia sejenak.

Anak lelakimu itu.

Mungkin sekarang ia sedang berlari-lari di halaman. Mungkin ia sedang bermain dengan sesuatu yang membuatmu khawatir ia akan terluka. Mungkin ia sedang diam menatap layar dengan wajah yang tidak bisa kau baca.

Atau mungkin ia sudah besar — dan jarak antara kalian terasa lebih jauh dari sekadar ruangan yang berbeda.

Apa pun keadaannya...

Ada sesuatu yang ingin kusampaikan tentang dirinya.

Tentang siapa ia sesungguhnya.

Dan tentang apa yang sedang ia butuhkan darimu — mungkin tanpa ia sendiri tahu cara memintanya.

"Suatu kewajiban bagi orang tua terhadap anaknya adalah memberinya nama yang baik, mengajarkan adab, dan menikahkannya apabila telah tiba masanya." — HR. Al-Baihaqi

Ia bukan sekadar anak yang kau besarkan.

Ia adalah lelaki yang sedang kau siapkan untuk dunia.

Dan dunia sedang menunggunya — dengan segala beratnya.

I. Ia Sedang Belajar dari Caramu — Bukan dari Kata-katamu

Wahai ayah...

Inilah yang perlu kau pahami sejak awal:

Anak lelakimu tidak belajar menjadi lelaki dari apa yang kau katakan kepadanya.

Ia belajar dari apa yang ia lihat kau lakukan.

Ia memperhatikan caramu berbicara kepada ibunya.

Ia merekam caramu menghadapi tekanan dan kesulitan.

Ia menyimpan caramu bersikap ketika kau merasa tidak ada yang melihat.

Ia mencatat apakah kau shalat atau tidak. Apakah kau jujur atau tidak. Apakah kau menepati janji atau tidak.

Kau adalah kurikulum pertama dan paling berpengaruh dalam hidupnya.

Dan pelajaran itu berlangsung dua puluh empat jam sehari — tanpa libur, tanpa jeda.

"Tidaklah seorang ayah memberikan hadiah kepada anaknya yang lebih baik daripada adab yang baik." — HR. Tirmidzi

Bukan hadiah terbaik — rumah, mobil, tabungan.

Tapi adab. Akhlak. Karakter.

Dan itu tidak bisa diberikan dengan uang.

Hanya bisa diberikan dengan kehadiran.

II. Lelaki yang Tidak Pernah Diajarkan Menangis

Kita sering berkata kepada anak lelaki kita:

"Lelaki tidak boleh menangis."

"Kuat. Jangan lebay."

"Masak hal kecil begini nangis?"

Dan perlahan-lahan...

Ia belajar menyembunyikan perasaannya.

Belajar menelan lukanya sendiri.

Belajar bahwa menunjukkan rasa sakit adalah kelemahan.

Tapi tahukah kau...

Rasulullah ﷺ — lelaki paling sempurna yang pernah ada — menangis.

Beliau menangis ketika putranya Ibrahim wafat.

Beliau menangis dalam shalat malam hingga air mata membasahi jenggotnya.

Beliau menangis karena rasa takut kepada Allah, karena cinta kepada umatnya, karena rindu kepada saudara-saudaranya yang belum ia temui.

"Mata ini menangis dan hati ini bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh, wahai Ibrahim, kami sangat bersedih atas kepergianmu." — Rasulullah ﷺ ketika putranya wafat. HR. Bukhari

Lelaki sejati bukan yang tidak pernah menangis.

Lelaki sejati adalah yang tahu kapan harus kuat dan kapan harus jujur dengan perasaannya.

Maka ajarkan anak lelakimu:

Bahwa ia boleh sedih. Bahwa ia boleh takut. Bahwa ia boleh meminta tolong.

Bahwa kekuatan sejati bukan pada tembok yang ia bangun di sekitar hatinya — tapi pada iman yang ia tanam di dalamnya.

III. Ayah yang Absen — dan Luka yang Tidak Terlihat

Ada sebuah luka yang tidak berdarah.

Tidak tampak di kulit. Tidak bisa diobati dokter. Tidak terdeteksi oleh siapa pun kecuali oleh yang merasakannya.

Luka itu bernama: tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Bukan berarti ayahnya sudah meninggal.

Tapi ayah yang ada di rumah — tapi tidak pernah benar-benar hadir.

Ayah yang ada secara fisik — tapi absen secara hati.

Anak lelaki yang tumbuh tanpa figur ayah yang kuat dan hadir...

Ia akan mencari figur itu di tempat lain.

Di jalanan. Di layar. Di kelompok pertemanan yang tidak selalu membawanya ke arah yang baik.

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." — HR. Bukhari & Muslim

Pertanggungjawaban itu bukan hanya soal nafkah.

Bukan hanya soal sekolah dan kesehatan.

Tapi soal: apakah anak lelakimu tahu bahwa ia dicintai oleh ayahnya?

Apakah ia pernah mendengarnya langsung — bukan dari hadiah, bukan dari uang saku — tapi dari mulut ayahnya sendiri?

Jika belum...

Malam ini bisa menjadi malam pertama.

IV. Apa yang Sedang Ia Perjuangkan — Diam-diam

Anak lelakimu mungkin tampak baik-baik saja.

Ia makan. Ia tidur. Ia pergi sekolah. Ia bermain.

Dari luar, semua terlihat berjalan normal.

Tapi di dalam...

Ada pertempuran yang sedang ia hadapi seorang diri.

Pertempuran yang tidak ia ceritakan kepadamu — karena ia tidak tahu caranya, atau karena ia takut dianggap lemah, atau karena ia tidak yakin kau punya waktu untuk mendengarnya.

Apa yang Tampak Apa yang Mungkin Sedang Ia Rasakan
Pendiam dan menyendiri Butuh diajak bicara, bukan dimarahi
Nilai menurun di sekolah Mungkin ada tekanan yang tidak kau ketahui
Mudah marah dan membantah Sedang mencari batas dirinya, butuh bimbingan bukan penghakiman
Terlalu banyak main HP Mungkin di sana ia merasa diterima — yang belum ia temukan di rumah
Sulit diajak shalat Belum melihat shalat sebagai kebutuhan — karena belum melihatnya pada figur yang ia kagumi

Jangan terburu-buru menghakimi apa yang kau lihat dari luar.

Dekati ia. Duduk bersamanya. Tanyakan bukan dengan interogasi — tapi dengan ketulusan seorang ayah yang benar-benar ingin tahu.

"Nak, kamu sedang baik-baik saja?"

Tiga kata yang sederhana. Tapi bisa membuka pintu yang sudah lama tertutup.

V. Ajarkan Ia Shalat — Sebelum Dunia Mengajarinya yang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka." — HR. Abu Dawud

Perhatikan urutannya.

Tujuh tahun — perintahkan. Sepuluh tahun — tegaskan.

Bukan ketika ia sudah remaja dan dunia sudah lebih dulu mengisi kepalanya.

Bukan ketika kebiasaan sudah terbentuk dan sulit diubah.

Tapi sejak kecil. Sejak ia masih memandangmu sebagai seluruh dunianya.

Dan cara terbaik mengajarkan shalat kepadanya...

Bukan ceramah. Bukan ancaman. Bukan peraturan di dinding.

Tapi mengajaknya shalat bersamamu.

Biarkan ia melihat bagaimana kau berwudhu dengan tenang.

Biarkan ia berdiri di sampingmu dalam saf yang sama.

Biarkan ia merasakan bahwa shalat bukan beban — tapi percakapan antara seorang hamba dengan Tuhannya yang ia cintai.

Ketika ia melihat ayahnya sujud dengan sungguh-sungguh...

Sesuatu akan tertanam dalam dirinya — sesuatu yang tidak bisa dihapus oleh waktu maupun dunia.

VI. Didik Ia Menjadi Lelaki yang Bertanggung Jawab

Dunia hari ini penuh dengan lelaki yang tidak siap menjadi lelaki.

Dewasa secara umur — tapi belum matang secara jiwa.

Besar secara fisik — tapi belum kuat secara karakter.

Dan ini bukan salah mereka sepenuhnya.

Karena tidak ada yang mengajari mereka.

Maka ajarkan anak lelakimu sejak dini:

Ajarkan Agar Ia Tumbuh Menjadi
Menepati janji meski kecil Lelaki yang bisa dipercaya
Menghormati perempuan — mulai dari ibunya Suami dan ayah yang memuliakan keluarganya
Mengakui kesalahan tanpa malu Lelaki yang berani dan jujur
Bekerja dan berusaha sendiri Lelaki yang mandiri dan tidak bergantung
Membaca Al-Quran setiap hari Lelaki yang hatinya terhubung dengan Allah

Tanggung jawab itu tidak datang tiba-tiba ketika ia dewasa.

Ia tumbuh perlahan — dari kebiasaan kecil yang kau tanamkan hari demi hari.

"Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaguslah adab mereka." — HR. Ibnu Majah

VII. Surat Pendek untuk Anak Lelakiku

Nak...

Kau lahir dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak ada buku panduan yang cukup. Tidak ada kursus yang memadai. Tidak ada persiapan yang benar-benar siap untuk momen pertama kali menggendongmu.

Yang aku tahu hanya satu:

Aku ingin kau tumbuh menjadi lelaki yang lebih baik dari aku.

Aku ingin kau menjadi lelaki yang ketika orang menyebut namamu, ada ketenangan yang menyertai.

Lelaki yang ketika istrinya mengingatnya, ada rasa syukur yang tumbuh.

Lelaki yang ketika anak-anaknya melihatnya, ada rasa aman yang mengalir.

Lelaki yang ketika Allah memanggilnya, tidak ada hutang kebaikan yang belum ia lunasi.

Aku tidak sempurna menjadi ayahmu.

Ada hari-hari ketika aku terlalu keras.

Ada saat-saat ketika aku terlalu sibuk.

Ada waktu-waktu ketika aku lupa bahwa kau sedang tumbuh — dan pertumbuhan itu tidak bisa diulang.

Tapi ketahuilah ini, Nak:

Setiap kali aku sujud, namamu yang aku sebut.

Setiap kali aku memohon kepada Allah, kamu yang paling sering ada dalam doaku.

Karena aku tahu — aku tidak bisa menjagamu sepenuhnya.

Tapi Allah bisa.

Dan itu yang selalu aku minta dari-Nya.

Jadilah lelaki yang baik, Nak.

Bukan baik di mata dunia — karena dunia sering keliru menilai.

Tapi baik di mata Allah.

Karena hanya penilaian itu yang benar-benar abadi.

VIII. Ketika Ia Telah Dewasa — dan Pergi

Suatu hari...

Ia akan meninggalkan rumah ini.

Bukan karena tidak cinta. Tapi karena itulah fitrahnya.

Ia akan membangun hidupnya sendiri. Memikul tanggung jawabnya sendiri. Menjadi ayah bagi anak-anaknya sendiri.

Dan pada hari itu kau akan menyadari:

Bertahun-tahun terasa panjang saat menjalaninya — tapi terasa sangat singkat ketika mengingatnya.

Terlalu cepat ia berjalan.

Terlalu cepat suaranya berubah.

Terlalu cepat tangannya yang dulu kau genggam — kini sudah lebih besar dari tanganmu.

Maka gunakan waktu yang ada sekarang.

Bukan nanti.

Sekarang.

"Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." — QS. An-Nisa: 9

Ayat ini bukan hanya tentang harta warisan.

Ia tentang warisan yang jauh lebih berharga:

Iman yang kuat. Akhlak yang kokoh. Hati yang terhubung dengan Allah.

Itulah warisan yang tidak akan habis meski dunia berganti berkali-kali.

IX. Doakan Ia — Seperti Ya'qub Mendoakan Yusuf

Ya'qub 'alaihissalam kehilangan putranya, Yusuf.

Bertahun-tahun. Tanpa kabar. Tanpa tahu apakah ia hidup atau sudah tiada.

Air matanya mengalir begitu lama hingga kedua matanya memutih.

Tapi ia tidak berhenti berdoa.

Tidak berhenti berharap.

Tidak berhenti percaya bahwa Allah yang memisahkan mereka — adalah Allah yang sama yang bisa mempertemukan mereka kembali.

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

"Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah." — QS. Yusuf: 86

Itulah yang bisa kita pelajari dari seorang ayah yang kehilangan anaknya.

Bahwa doa adalah satu-satunya yang menembus jarak.

Satu-satunya yang menembus waktu.

Satu-satunya yang tidak terhalang oleh apa pun di langit dan di bumi.

Malam ini...

Sebelum kau tidur...

Pandangi wajahnya yang terlelap.

Dan doakan ia dengan doa yang paling dalam yang pernah kau panjatkan:

"Ya Allah, jadikan ia lelaki yang mencintai-Mu dan ditaati oleh orang-orang yang mencintai-Mu. Jadikan ia imam bagi orang-orang yang bertakwa. Kuatkan imannya, lembutkan hatinya, luruskan jalannya. Dan kelak pertemukan kami di surga-Mu — dalam keadaan Engkau ridha kepada kami semua."

Doa seorang ayah untuk anaknya...

Adalah salah satu doa yang paling cepat naik ke langit.

Karena di baliknya ada cinta yang tidak pernah bohong.

Doa untuk Anak Lelakiku

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Allah...

Engkau yang menciptakannya jauh lebih sempurna dari kami yang membesarkannya.

Maka jagalah ia ketika tangan kami tidak sampai.

Bimbinglah ia ketika akal kami tidak cukup.

Kuatkanlah imannya di hari-hari ketika godaan datang dari segala arah.

Jadikan ia lelaki yang jujur dalam ucapannya, amanah dalam tanggung jawabnya, dan lembut dalam cintanya.

Jadikan ia anak yang menjadi penyejuk mata kami di dunia — dan doa yang mengalir untuk kami setelah kami tiada.

Dan pertemukan seluruh keluarga kami di surga-Mu yang tertinggi —

dalam keadaan Engkau telah memaafkan semua kekurangan kami.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Artikel Populer

Rahasia Lima Huruf dalam Kata Ramadhan

Ramadhan Bulan Al-Qur'an — Bukan Sekadar Membaca, Tapi Berdialog dengan Allah

Hal-hal yang Membatalkan Puasa Ramadhan dan yang Mengurangi Pahalanya: Panduan Fiqh dan Spiritualitas

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya