Dahsyatnya Istighfar: Kunci Pembuka Pintu Rahmat Allah
Dahsyatnya Istighfar: Kunci Pembuka Pintu Rahmat Allah
Mengenal Sosok Imam Hasan Al-Bashri Radhiyallahu 'Anhu
Datang seseorang mengadukan masalahnya kepada Imam Hasan Al-Bashri radhiyallahu 'anhu. Siapakah Hasan Al-Bashri ini? Beliau adalah seorang ulama besar dari kalangan tabi'in yang lahir sepuluh tahun setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat. Namun beliau bukan sekadar tabi'in biasa, karena beliau berkesempatan belajar langsung dari para sahabat besar seperti Umar bin Khatthab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma.
Yang lebih istimewa lagi, Hasan Al-Bashri tumbuh dan dibesarkan di rumah istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu 'anha. Bahkan beliau adalah anak sepersusuan dari Ummu Salamah. Bagaimana bisa?
Ibunda Hasan Al-Bashri bernama Al-Khairah, seorang khadimah (pelayan) setia Ummu Salamah radhiyallahu 'anha. Ketika Al-Khairah melahirkan, bertanyalah Ummu Salamah, "Sudahkah engkau beri nama anakmu wahai Khairah?"
"Belum ibunda, dengan mengharap rahmat Allah aku ingin engkau yang memberi nama," jawab Al-Khairah.
"Baiklah, dengan mengharap rahmat Allah kita beri nama Hasan," ujar Ummu Salamah.
Al-Khairah sebagai pelayan Ummu Salamah mengabdi dengan sepenuh hati. Suatu ketika ia harus keluar rumah untuk mencari keperluan majikannya. Sementara itu, bayi Hasan yang ditinggal di rumah menangis karena kehausan. Melihat hal itu, Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berdoa kepada Allah agar dapat menyusui bayi itu. Dengan izin Allah dan sebagai karamah untuk Ummu Salamah, keluarlah air susu dari payudaranya dan ia pun dapat menyusui Hasan. Maka jadilah Hasan anak sepersusuan Ummul Mukminin.
Ketika Hasan menginjak usia anak-anak, Ummu Salamah membawanya kepada para sahabat besar. "Inilah Hasan, anakku," kata Ummu Salamah. Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu menghampirinya, mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang, dan mendoakan semoga ia menjadi orang yang paham agama.
Masa kecil Hasan diwarnai dengan suasana yang penuh berkah. Ia bermain, berlari, dan melompat di rumah Ummu Salamah, mendengarkan dan mengikuti majelis ilmu para sahabat agung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Hari-harinya dipenuhi dengan belajar dari Ummu Salamah dan para sahabat mulia. Sungguh masa kecil yang luar biasa!
Menginjak usia remaja, Hasan harus berhijrah ke Bashrah, sebuah kota di Irak, mengikuti kedua orang tuanya. Ketika itu Ummu Salamah radhiyallahu 'anha telah wafat. Setelah dewasa, di Bashrah inilah Hasan tumbuh menjadi seorang ulama besar dan dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri—Hasan dari kota Bashrah.
Ulama: Tempat Rujukan dan Penasehat Umat
Datang seseorang mengadukan masalahnya kepada Imam Hasan Al-Bashri. Memang demikianlah seharusnya. Seorang ulama akan menjadi tempat rujukan umat untuk mengadukan berbagai masalahnya, baik masalah agama maupun masalah kehidupan sehari-hari. Ulama adalah tempat mencari solusi, penasehat yang bijaksana, dan tim ahli yang dapat diandalkan.
Semestinya kita menjadikan orang yang berilmu sebagai tempat konsultasi terhadap masalah yang dihadapi. Maka tidak heran jika ijma' (kesepakatan) ulama menjadi salah satu sumber hukum Islam setelah Al-Qur'an dan Hadits, karena keputusan ulama didasari oleh pemahaman agama yang mendalam, kedekatan dengan Allah, dan bashirah (pandangan mata hati) yang kuat. Seorang pemimpin (umara) seharusnya didampingi dan dikelilingi para ulama sebagai tempat konsultasi dalam urusan negara dan kemaslahatan rakyatnya.
Tiga Masalah Berbeda, Satu Solusi yang Sama
Suatu hari datang seseorang mengadukan masalahnya kepada Imam Hasan Al-Bashri. "Wahai imam, di kampungku sedang terjadi kemarau panjang. Hujan belum juga turun, buah-buahan dan tanaman tidak menghasilkan. Apa saranmu wahai imam?"
Imam Hasan Al-Bashri menjawab dengan tenang, "Hendaklah engkau dan penduduk kampungmu memperbanyak istighfar."
Pada kesempatan yang lain, datang orang yang berbeda mengajukan masalah yang tidak sama. "Wahai imam, sesungguhnya aku dalam keadaan sempit rezeki. Penghasilanku tidak mencukupi kehidupan sehari-hari, usahaku belum juga berhasil. Apa saranmu wahai imam?"
Imam Hasan Al-Bashri menjawab, "Hendaklah engkau memperbanyak istighfar."
Pada waktu yang berbeda pula, datang seseorang yang lain mengadukan masalahnya. "Wahai imam, sesungguhnya aku sudah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Apa saranmu wahai imam?"
Hasan Al-Bashri radhiyallahu 'anhu menjawab, "Hendaklah engkau dan istrimu memperbanyak istighfar."
Kita tentu bertanya-tanya. Tiga orang dengan tiga masalah yang berbeda, tetapi jawabannya selalu sama: memperbanyak istighfar. Para murid Hasan Al-Bashri pun merasa heran dan bertanya, "Wahai imam, mengapa engkau berikan saran yang sama, yaitu memperbanyak istighfar, untuk masalah yang berbeda pada orang yang tidak sama?"
Dalil Al-Qur'an tentang Keutamaan Istighfar
Imam Hasan Al-Bashri dengan tenang menjawab, "Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Nuh ayat 10-12:"
فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّكُمۡؕ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ
يُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُمۡ مِّدۡرَارًا ۙ
وَّيُمۡدِدۡكُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّبَنِيۡنَ وَيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ جَنّٰتٍ وَّيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ اَنۡهٰرًا
"Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'"
Subhanallah! Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa meminta turunnya hujan, meminta rezeki dan harta, serta meminta keturunan adalah dengan memperbanyak istighfar. Niscaya Allah akan mengabulkannya. Ini adalah janji Allah!
Kemarau panjang dan tidak turunnya hujan adalah masalah masyarakat, masalah bersama. Sempitnya rezeki adalah masalah perorangan, masalah pribadi. Sedangkan belum memiliki keturunan adalah masalah keluarga. Jadi istighfar akan menjadi solusi untuk semua sisi kehidupan: masyarakat, pribadi, dan keluarga.
Istighfar: Ciri Orang yang Bertakwa
Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan istighfar sebagai salah satu ciri orang yang bertakwa. Dalam Surah Ali Imran ayat 17, Allah berfirman:
اَلصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ
"(Yaitu) orang-orang yang sabar, benar, taat, berinfak, serta memohon ampunan pada waktu sahur (akhir malam)."
Ayat sebelumnya, mulai dari ayat ke-15, menjelaskan tentang orang yang bertakwa akan mendapat balasan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya bersama pasangan yang telah disucikan oleh Allah. Seperti apakah orang yang bertakwa itu? Mereka adalah orang-orang yang berdoa:
رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ
"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari azab neraka." (QS. Ali Imran: 16)
Dan pada ayat 17 dijelaskan: mereka adalah orang-orang yang sabar, benar, taat, berinfak, dan mereka beristighfar di waktu sahur. Ya, istighfar di waktu sahur! Sayangnya, kadang sekarang banyak orang yang di waktu sahur justru asyik menonton televisi atau hiburan lainnya. Padahal waktu sahur adalah waktu yang sangat mulia untuk beristighfar.
Keutamaan beristighfar di waktu sahur juga disebutkan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 18:
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
"Dan di waktu sahur mereka beristighfar."
Ayat ke-15 dalam surah ini menyebutkan bahwa orang yang bertakwa akan berada di surga yang penuh taman dan mata air. Ayat ke-16 menjelaskan bahwa mereka bisa mengambil apa saja yang mereka inginkan sebagai rezeki dari Allah, dan di dunia mereka adalah orang-orang yang berbuat baik. Kemudian ayat ke-17 menyebutkan bahwa mereka sedikit tidur di malam hari, dan ayat ke-18: di waktu sahur mereka beristighfar. Jadi amalan terbaik yang dilakukan di waktu sahur adalah beristighfar.
Waktu-Waktu Mustajab untuk Beristighfar
Ada waktu-waktu yang mustajab (dikabulkan) untuk beristighfar, di antaranya:
Setelah shalat fardhu, pada pagi dan petang hari, di antara adzan dan iqamah, di waktu sahur (sepertiga malam terakhir), saat berpuasa, ketika turun hujan, saat sujud, dan waktu-waktu istimewa lainnya.
Kita bisa mengucapkan istighfar yang pendek seperti "astaghfirullah" atau diperpanjang "astaghfirullah al-'azhim". Bisa juga dengan lafaz yang lebih lengkap, atau dengan Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar) yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
"Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa membaca doa ini di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa membacanya di malam hari dengan penuh keyakinan, lalu ia meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR. Bukhari)
Kejarlah Ampunan Allah Setiap Hari
Jadi, kejarlah ampunan Allah terlebih dahulu, niscaya akan terbuka pintu langit dan akan terkabul doa-doa kita. Ingatlah perumpamaan ini:
Setiap pagi seekor singa akan berlari mengejar rusa untuk dimangsanya.
Setiap pagi seekor rusa harus berlari menghindari terkaman singa.
Setiap pagi kita harus berlari mengejar ampunan Rabb kita!
Istighfar adalah kunci pembuka pintu rahmat. Istighfar adalah jalan menuju terkabulnya hajat. Istighfar adalah obat dari berbagai kesulitan hidup. Maka jadikanlah istighfar sebagai dzikir yang senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kisah Mengharukan: Ketika Allah Mengabulkan Doa Seorang Pemuda
Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah merasa terdorong untuk melakukan perjalanan ke Bashrah tanpa ada keperluan tertentu. Beliau yang biasa tinggal di Baghdad merasa ada dorongan kuat untuk pergi ke kota tersebut.
Sesampainya di Bashrah, hari sudah gelap. Setelah mengikuti jamaah shalat Isya di suatu masjid, beliau hendak beristirahat. Namun oleh marbot masjid yang tidak mengenalinya, Imam Ahmad tidak diizinkan. "Wahai syekh (sebutan untuk orang yang tua), Anda tidak boleh tidur di dalam masjid," kata marbot itu sambil mendorong-dorong beliau keluar.
Ketika beliau hendak beristirahat di teras masjid, sang marbot juga tidak mengizinkan dan kembali mendorong-dorong beliau untuk pergi. Seorang pemuda yang juga tidak mengenali Imam Ahmad melihat kejadian ini dan merasa iba. Maka ia pun menawarkan, "Wahai syekh, jika berkenan, istirahatlah di rumahku."
Di rumah pemuda tersebut, Imam Ahmad hendak beristirahat. Namun ia melihat ada hal yang menarik perhatiannya. Sambil melakukan pekerjaannya membuat tepung, pemuda ini senantiasa melafalkan istighfar. Imam Ahmad tertarik dan menanyakan hal ini.
"Wahai pemuda, saya lihat engkau senantiasa beristighfar sementara engkau mengerjakan pekerjaanmu?"
"Benar, syekh," jawab pemuda itu.
"Apakah sudah lama engkau melakukan ini, wahai pemuda?"
"Sudah, syekh."
"Apakah ada dampak yang kau rasakan?"
"Ya syekh, saya merasakan doa-doa saya banyak yang dikabulkan."
"Masya Allah!"
"Tapi syekh..."
"Ya?"
"Ada satu doa saya yang sudah lama namun belum terkabul."
"Apa itu?"
"Saya sangat ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal."
Demi mendengar perkataan pemuda ini, Imam Ahmad terkejut dan bertakbir. "Allahu Akbar!"
"Tahukah kamu wahai pemuda, aku tidak memiliki hajat tertentu datang ke Bashrah ini. Aku hendak beristirahat di dalam masjid tetapi tidak boleh dan didorong-dorong keluar. Aku hendak beristirahat di teras masjid juga tidak diizinkan hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Ketahuilah, ternyata semua ini adalah karena Allah sedang mengabulkan doamu. Akulah Ahmad bin Hanbal!"
Subhanallah! Lihatlah bagaimana Allah mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Allah menggerakkan hati Imam Ahmad untuk bepergian tanpa tujuan yang jelas. Allah menggerakkan marbot masjid untuk tidak mengizinkan beliau beristirahat. Allah menggerakkan pemuda tersebut untuk menolong. Semua itu demi mengabulkan doa seorang hamba yang senantiasa beristighfar!
Penutup: Mari Menjadikan Istighfar sebagai Dzikir Harian
Saudaraku, kisah-kisah ini mengajarkan kita betapa dahsyatnya kekuatan istighfar. Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi merupakan manifestasi dari ketundukan hati kepada Allah, pengakuan atas kesalahan dan dosa, serta harapan akan ampunan-Nya.
Ketika kita menghadapi berbagai masalah dalam hidup—baik kesulitan ekonomi, masalah keluarga, kesehatan, pekerjaan, atau apa pun—janganlah kita lupa untuk memperbanyak istighfar. Karena dengan istighfar, Allah akan membukakan pintu-pintu rahmat-Nya yang selama ini tertutup. Dengan istighfar, Allah akan mengabulkan doa-doa kita yang tertunda. Dengan istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.
Maka mulai detik ini, jadikanlah istighfar sebagai dzikir yang senantiasa kita ucapkan. Di pagi hari ketika bangun tidur, di siang hari ketika beraktivitas, di sore hari ketika beristirahat, dan di malam hari sebelum tidur. Khususnya di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, dan di waktu sahur.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, membukakan pintu rezeki kita, mengabulkan doa-doa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa beristighfar. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
Wallahu a'lam bisshawab.
--- Yahya Husaini
Aktivis literasi | Penggiat dakwah digitalFacebook: https://www.facebook.com/profile.php?id=61556509703548