Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia
Qana'ah — Kekayaan yang Tidak Pernah Bisa Dicuri Dunia
Ada seseorang yang pernah bercerita kepada saya — seorang pria paruh baya, bukan miskin, bukan pula kaya raya. Ia punya rumah, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat. Tapi setiap malam ia susah tidur. Bukan karena sakit. Bukan karena hutang. Ia susah tidur karena terus memikirkan tetangganya yang baru beli mobil baru, rekan kerjanya yang baru naik jabatan, dan adik iparnya yang baru pulang umrah untuk ketiga kalinya.
"Saya tidak tahu kenapa," katanya pelan, "hidup saya tidak kurang. Tapi saya selalu merasa kurang."
Kalimat itu menghantam keras. Bukan karena asing — justru karena sangat familiar. Karena sebagian besar dari kita pernah, atau mungkin sedang, merasakannya.
Inilah paradoks terbesar manusia modern: semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa kekurangan yang dirasakan. Dan Islam — jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang hedonic treadmill dan comparison trap — sudah menawarkan jawabannya: Qana'ah.
Masalah Utama — Jiwa yang Tak Pernah Merasa Cukup
Kita hidup di era yang paling paradoksal dalam sejarah manusia. Secara material, generasi kita adalah generasi paling kaya yang pernah ada di muka bumi. Akses terhadap makanan, obat-obatan, informasi, dan hiburan belum pernah semudah ini dalam sepanjang peradaban. Namun riset demi riset — dari laporan World Happiness Report hingga kajian psikologi klinis — menunjukkan bahwa tingkat kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan hidup justru melonjak tajam.
Salah satu penyebab terbesar yang diidentifikasi para peneliti adalah apa yang disebut social comparison — membandingkan diri dengan orang lain. Dan di era media sosial, perbandingan itu tidak lagi terbatas pada tetangga atau saudara. Kita sekarang membandingkan diri kita dengan jutaan orang sekaligus, sepanjang waktu, melalui layar kecil di genggaman tangan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin sudah menggambarkan penyakit ini dengan sangat tepat jauh sebelum media sosial lahir. Beliau menulis bahwa nafsu manusia — jika tidak dikendalikan — bersifat seperti lautan: semakin diisi, semakin terasa kosong. Bukan karena isinya berkurang, tapi karena dasar lautan itu terus meluas mengikuti apa yang dituangkan ke dalamnya.
Inilah akar masalahnya. Bukan pada sedikitnya rezeki yang Allah berikan. Tapi pada jiwa yang tidak pernah dilatih untuk merasa cukup.
Mengenal Qana'ah — Bukan Pasrah, Bukan Malas
Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita perlu meluruskan satu kesalahpahaman yang sangat umum dan sangat berbahaya: Qana'ah bukan kemalasan. Qana'ah bukan pasrah buta. Dan Qana'ah bukan ajaran untuk berhenti berusaha.
Kata qana'ah (قناعة) berasal dari akar kata qani'a (قنع), yang secara harfiah berarti "merasa puas dengan apa yang ada" atau "menerima dengan lapang dada". Dalam tradisi ilmu tasawuf dan akhlak Islam, Qana'ah didefinisikan sebagai kondisi batin — bukan kondisi material. Ia adalah sikap jiwa yang mampu menerima pemberian Allah dengan penuh syukur, tanpa kehilangan semangat untuk terus berikhtiar dan berkembang.
Perbedaan mendasar ini penting sekali. Orang yang Qana'ah tetap bekerja keras, tetap berinovasi, tetap berusaha meningkatkan taraf hidupnya — namun ia tidak membiarkan hasilnya menjadi sumber keresahan. Ia berusaha sepenuh hati, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang damai.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang Dia berikan kepadanya."
(HR. Muslim, no. 1054)
Perhatikan susunan hadits ini. Rasulullah ﷺ menyebut tiga hal sekaligus: Islam (aqidah yang benar), rezeki yang cukup (kebutuhan terpenuhi), dan Qana'ah (kepuasan batin atas pemberian itu). Tiga hal ini disebut bersama sebagai komponen keberuntungan sejati. Ini menunjukkan bahwa Qana'ah bukan kondisi yang berdiri sendiri — ia adalah buah dari keimanan yang matang, manifestasi nyata dari keyakinan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki, yang tidak pernah salah dalam mengukur porsi untuk setiap hamba-Nya.
Qana'ah dan Kekayaan Sejati
Dalam hadits lain yang tidak kalah agung, Rasulullah ﷺ memberikan definisi ulang tentang apa itu "kekayaan" yang sebenarnya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
"Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa."
(HR. Bukhari, no. 6446; Muslim, no. 1051)
Kalimat ghina an-nafs (غِنَى النَّفْسِ) — kekayaan jiwa — adalah inti dari Qana'ah. Seorang yang ghani an-nafs bisa saja tinggal di rumah sederhana, makan dengan lauk seadanya, mengenakan pakaian yang sudah usang — namun di dalam dadanya tidak ada sedikit pun rasa kekurangan yang menyiksa. Sebaliknya, seseorang bisa menumpuk harta berlipat-lipat, tinggal di gedung mewah, mengenakan perhiasan mahal — namun jiwanya selalu lapar, selalu gelisah, selalu merasa ada yang kurang.
Nabi ﷺ dengan tegas membalikkan paradigma dunia: yang kaya bukan yang punya banyak, tapi yang merasa cukup.
Qana'ah dalam Cermin Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 97, dalam salah satu ayat yang paling menyentuh tentang kualitas kehidupan:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Para mufassir besar berbeda-beda dalam menafsirkan hayatan thayyibah (حَيَوٰةً طَيِّبَةً) — "kehidupan yang baik" — namun sebagian besar sepakat bahwa ini bukan semata-mata tentang kemewahan material. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa mayoritas ulama menafsirkan hayatan thayyibah sebagai al-qana'ah — kepuasan dan ketentraman batin. Hidup yang baik, menurut Al-Qur'an, adalah hidup yang jiwa di dalamnya merasakan damai dengan apa yang Allah takdirkan.
Ini adalah pernyataan teologis yang sangat dalam: Allah tidak menjanjikan bahwa orang saleh akan selalu kaya. Yang Dia janjikan adalah mereka akan merasakan kehidupan yang thayyib — bersih, damai, dan memuaskan. Dan itu bisa hadir dalam rumah sederhana sekalipun, asalkan jiwa yang menghuninya dipenuhi dengan Qana'ah.
Ada pula ayat dalam Surah Thaha yang Allah tujukan langsung kepada Nabi ﷺ sendiri, sekaligus menjadi pedoman bagi seluruh umatnya:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Dan janganlah kamu tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka. Rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Thaha: 131)
Ungkapan zahrata al-hayati ad-dunya (زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) — "bunga kehidupan dunia" — adalah metafora yang sangat indah sekaligus mengingatkan. Bunga memang cantik, tapi ia layu. Kemilau dunia yang membuat kita iri kepada orang lain itu hanyalah bunga — indah sesaat, lalu gugur. Dan Allah mengingatkan: apa yang ada di sisi-Nya jauh lebih baik dan jauh lebih abadi. Larangan "jangan kamu tujukan pandangan matamu" ini bukan berarti kita harus menutup mata dari realitas. Ini adalah larangan agar pandangan mata tidak memicu pandangan batin yang dipenuhi iri dan ketidakpuasan.
Hikmah Klasik — Apa Kata Para Ulama tentang Qana'ah
Tradisi keilmuan Islam menyimpan khazanah yang sangat kaya tentang Qana'ah. Para ulama tidak hanya mendefinisikannya secara teoritis, tapi juga mengurai lapisan-lapisannya secara sangat mendalam dan praktis.
Imam Al-Ghazali dan Kunci Kebahagiaan
Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam magnum opus-nya Ihya' Ulumuddin, khususnya pada Kitab Dzamm ad-Dunya (Kitab Celaan terhadap Dunia), mengurai dengan sangat terperinci mengapa jiwa manusia tidak pernah puas dengan kemewahan dunia. Beliau menjelaskan bahwa jiwa memiliki dua orientasi: orientasi ke atas (menuju Allah) dan orientasi ke bawah (menuju dunia). Ketika jiwa mengorientasikan dirinya ke atas — melalui zikir, ibadah, dan penghayatan keagungan Allah — ia merasakan ketenangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Namun ketika jiwa terlalu condong ke bawah — mengejar dunia dan membandingkan diri dengan orang lain — ia tidak akan pernah menemukan kepuasan, karena dunia itu sendiri tidak memiliki kapasitas untuk memuaskan jiwa.
Al-Ghazali menulis:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصِيرَ قَانِعًا فَلْيُقِلَّ الْنَّظَرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَهُ فِي الدُّنْيَا، وَلْيُكْثِرِ الْنَّظَرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونَهُ
"Barangsiapa ingin menjadi orang yang Qana'ah, hendaklah ia mengurangi memandang kepada orang yang berada di atasnya dalam urusan dunia, dan hendaklah ia memperbanyak memandang kepada orang yang berada di bawahnya."
— Ihya' Ulumuddin, Juz III
Nasihat ini terdengar sederhana, tapi implementasinya sangat dalam. Ketika kita selalu memandang ke atas — ke orang yang lebih kaya, lebih sukses, lebih terkenal — mata batin kita terlatih untuk melihat kekurangan. Tapi ketika kita membiasakan diri memandang ke bawah — ke orang yang rezekinya lebih sempit, yang cobaannya lebih berat — hati kita terlatih untuk melihat kelimpahan. Dan dari situ, syukur mengalir dengan sendirinya.
Ibnu Qayyim dan Tiga Dimensi Qana'ah
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij As-Salikin — sebuah karya monumental tentang perjalanan ruhani menuju Allah — memposisikan Qana'ah sebagai salah satu maqam (station spiritual) yang sangat tinggi. Beliau membedakan Qana'ah dari sikap yang mirip dengannya tapi hakikatnya berbeda, yaitu qana'ah al-badan (kepuasan fisik karena tidak punya pilihan) dengan qana'ah al-qalb (kepuasan hati yang lahir dari pilihan sadar dan keyakinan).
Ibnu Qayyim menegaskan bahwa Qana'ah yang sejati bukan sekadar berdiam diri menerima keadaan karena tidak berdaya — itu bukan Qana'ah, itu keputusasaan. Qana'ah yang sejati adalah ketika seseorang mampu berusaha lebih keras, mampu mengejar lebih banyak, tapi ia memilih untuk tidak membiarkan ambisi itu menguasai dan merusak ketenangannya. Ia berusaha dalam batas yang wajar, lalu menerima hasilnya dengan ikhlas karena ia tahu bahwa Allah-lah yang mengatur segalanya.
Ibnu 'Atha'illah dan "Cukupnya" Tuhan
Salah satu ungkapan paling indah tentang Qana'ah datang dari Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari dalam Al-Hikam:
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْآتِهِ؟ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ؟
"Bagaimana hati bisa bersinar, sementara bayangan semua makhluk terukir di cerminnya? Bagaimana ia bisa melakukan perjalanan menuju Allah, sementara ia terbelenggu oleh syahwat-syahwatnya?"
— Al-Hikam, Hikam ke-1
Ibnu 'Atha'illah menggunakan metafora cermin yang sangat kuat. Hati manusia ibarat cermin. Ketika cermin itu penuh dengan gambar-gambar dunia — gambar keinginan, gambar perbandingan, gambar ketamakan — maka pantulan cahaya Ilahi tidak bisa muncul dengan jernih. Hati yang terbelenggu oleh keinginan duniawi yang tak berujung tidak punya ruang kosong untuk diisi dengan kehadiran Allah. Dan Qana'ah adalah cara mengosongkan cermin itu — bukan dengan menghancurkan keinginan, tapi dengan menempatkannya pada proporsi yang tepat.
Qana'ah dalam Kacamata Psikologi Modern
Salah satu hal yang paling mengagumkan tentang konsep-konsep Islam adalah bagaimana ilmu pengetahuan modern, berabad-abad kemudian, sering berakhir pada kesimpulan yang sama. Qana'ah adalah salah satu contoh paling mencolok dari ini.
Hedonic Treadmill dan Jebakan Perbandingan
Pada tahun 1971, psikolog Philip Brickman dan Donald Campbell memperkenalkan teori yang mereka sebut hedonic treadmill atau hedonic adaptation. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk kembali ke tingkat kebahagiaan yang relatif stabil setelah mengalami peristiwa positif atau negatif yang signifikan. Artinya: naik jabatan, beli rumah baru, atau menikah dengan orang yang dicintai — semua itu akan terasa membahagiakan untuk sementara, tapi kemudian kita akan "beradaptasi" dan kembali ke level kepuasan semula. Lalu kita mencari hal berikutnya untuk dikejar.
Ini persis seperti yang Al-Ghazali gambarkan sebagai "lautan nafsu" — semakin banyak yang dimasukkan, semakin besar kapasitasnya seolah-olah, dan kita selalu merasa ada yang kurang.
Penelitian oleh psikolog Sonja Lyubomirsky, penulis buku The How of Happiness, menunjukkan bahwa sekitar 50% tingkat kebahagiaan seseorang ditentukan oleh faktor genetik (set point kebahagiaan bawaan), sekitar 10% oleh kondisi hidup (kekayaan, status, dll.), dan 40% sisanya oleh aktivitas dan sikap yang dipilih secara sadar. Yang sangat penting di sini adalah bahwa 10% yang berasal dari kondisi hidup itu jauh lebih kecil dari yang kebanyakan orang bayangkan — sementara 40% yang bisa kita kendalikan, termasuk praktik syukur dan Qana'ah, jauh lebih besar.
Gratitude Research dan Kekuatan Syukur
Robert Emmons, profesor psikologi dari UC Davis dan salah satu peneliti terkemuka dalam bidang gratitude science (ilmu syukur), telah melakukan puluhan eksperimen yang menunjukkan bahwa orang yang secara rutin mempraktikkan rasa syukur — menuliskan hal-hal yang mereka syukuri, mengekspresikan terima kasih — mengalami peningkatan signifikan dalam kebahagiaan subjektif, kualitas tidur, empati sosial, dan bahkan kesehatan fisik.
Dalam Islam, syukur (shukr — شُكْر) dan Qana'ah bukan dua konsep yang terpisah — mereka adalah dua wajah dari satu koin yang sama. Qana'ah adalah batin yang menerima, sementara syukur adalah ekspresi aktif dari penerimaan itu. Dan penelitian Emmons mengkonfirmasi bahwa praktik ini bukan sekadar nasihat moral abstrak — ia memiliki efek neurobiologis yang nyata, mengubah cara otak memproses informasi dan mengalami realitas.
Self-Determination Theory dan Keinginan yang Salah Sasaran
Psikolog Richard Ryan dan Edward Deci, pengembang Self-Determination Theory, membedakan antara tujuan intrinsik (pertumbuhan pribadi, hubungan bermakna, kontribusi kepada komunitas) dan tujuan ekstrinsik (kekayaan, ketenaran, kecantikan fisik). Penelitian mereka secara konsisten menunjukkan bahwa mengejar tujuan ekstrinsik — meskipun berhasil dicapai — jauh lebih sedikit memberikan kepuasan jangka panjang dibandingkan mengejar tujuan intrinsik.
Ini adalah konfirmasi ilmiah atas apa yang Islam ajarkan: mengejar dunia untuk dunia itu sendiri tidak akan pernah memberikan kepuasan sejati. Kepuasan sejati datang dari sesuatu yang jauh lebih dalam — dari makna, dari hubungan, dari kontribusi, dan dalam perspektif Islam, dari kedekatan dengan Allah ﷻ.
Minimalism dan Gerakan "Cukup"
Menarik pula untuk dicatat bahwa dalam beberapa dekade terakhir, dunia Barat telah melahirkan berbagai gerakan yang secara tidak sadar "menciptakan ulang" prinsip Qana'ah — mulai dari gerakan minimalism, simple living, hingga konsep Jepang wabi-sabi (menemukan keindahan dalam kesederhanaan) dan ikigai (menemukan tujuan hidup yang bermakna). Semua ini adalah pengakuan kolektif bahwa manusia modern telah terlalu jauh berlari ke arah yang salah, dan mereka perlu kembali ke sesuatu yang lebih sederhana dan lebih bermakna.
Islam sudah menawarkan jawaban ini 1.400 tahun lalu — dalam satu kata: Qana'ah.
Refleksi Praktis — Melatih Qana'ah dalam Kehidupan Sehari-hari
Qana'ah bukan sifat bawaan yang ada atau tidak ada begitu saja. Ia adalah kapasitas spiritual yang bisa dilatih, dipupuk, dan dikembangkan secara bertahap. Para ulama dan peneliti psikologi modern sama-sama sepakat bahwa ini adalah proses yang membutuhkan niat, kesadaran, dan konsistensi.
Pertama — Audit Pandangan Mata Anda
Salah satu nasihat paling praktis yang pernah disampaikan adalah dari Rasulullah ﷺ sendiri dalam sebuah hadits yang sangat relevan dengan kehidupan digital kita hari ini:
اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepada kalian."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks hari ini, aplikasi paling langsung dari hadits ini adalah: kurangi waktu scrolling media sosial yang memperlihatkan pencapaian dan kemewahan orang lain. Bukan karena kita dengki, tapi karena otak kita secara neurologis tidak dirancang untuk terus-menerus mengonsumsi perbandingan seperti itu tanpa dampak pada persepsi diri. Setiap kali kita merasa iri melihat unggahan seseorang, itu adalah sinyal untuk beralih pandangan — baik secara literal (tutup aplikasinya) maupun secara batin (ingatkan diri tentang nikmat yang kita miliki).
Kedua — Praktikkan Muhasabah Nikmat
Muhasabah (محاسبة) — introspeksi diri — biasanya dikaitkan dengan evaluasi dosa dan amal. Tapi ada dimensi muhasabah yang jarang dibicarakan: menghitung nikmat. Setiap malam, sebelum tidur, ambil waktu beberapa menit untuk secara eksplisit menyebutkan — minimal dalam hati — tiga hingga lima hal yang hari itu telah Allah berikan. Bukan hanya hal besar. Justru hal-hal kecil yang sering terlewat: udara yang bisa dihirup, mata yang bisa melihat, kaki yang bisa berjalan, keluarga yang masih lengkap, makanan yang tersedia.
Ini bukan latihan sentimentil. Ini adalah rekalibrasi kognitif yang, jika dilakukan secara konsisten, akan mengubah cara otak memproses dan mengevaluasi realitas. Para peneliti psikologi menyebutnya gratitude journaling. Islam menyebutnya bagian dari ibadah dan tanda keimanan yang matang.
Ketiga — Bedakan Keinginan dan Kebutuhan
Salah satu latihan spiritual yang paling jujur adalah bertanya kepada diri sendiri setiap kali ada keinginan muncul: "Ini kebutuhan atau keinginan?" Dalam fikih, ada konsep daruriyat (kebutuhan pokok), hajiyat (kebutuhan sekunder), dan tahsiniyat (penyempurna/kemewahan). Bukan berarti kita tidak boleh memiliki hal-hal yang termasuk tahsiniyat — tapi kita perlu sadar bahwa mengejar tahsiniyat secara obsesif adalah resep untuk ketidakpuasan abadi.
Qana'ah tidak melarang kita memiliki keinginan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak menjadi budak keinginan itu — untuk mengejar apa yang kita butuhkan dengan sungguh-sungguh, namun tidak membiarkan apa yang kita inginkan tapi belum miliki menjadi penjara yang mengurung kebahagiaan kita.
Keempat — Perkuat Tawakkal sebagai Fondasi Qana'ah
Qana'ah tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan fondasi yang kuat: tawakkal (توكّل) — sepenuhnya mempercayakan urusan kepada Allah setelah berikhtiar. Tanpa tawakkal, Qana'ah akan terasa seperti kekalahan atau kepasrahan yang pahit. Tapi dengan tawakkal yang benar, Qana'ah menjadi pilihan yang manis — karena kita percaya bahwa Allah yang mengatur pembagian rezeki itu adalah Maha Tahu, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang.
Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا
"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah menetapkan ukuran bagi setiap sesuatu."
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Kalimat terakhir ayat ini — qad ja'alallahu likulli syai'in qadra (قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا) — "Allah telah menetapkan ukuran bagi setiap sesuatu" — adalah sumber ketenangan yang luar biasa bagi jiwa yang beriman. Rezeki kita, waktu kita, kondisi kita, semuanya sudah diukur dengan tepat oleh Yang Maha Tahu. Tidak berlebih dari yang kita butuhkan untuk ujian kita, dan tidak kurang dari yang kita butuhkan untuk bertumbuh. Ketika kita benar-benar memahami dan menghayati ini, Qana'ah bukan lagi perjuangan — ia menjadi pelukan yang hangat.
Penutup — Kekayaan yang Dibawa Mati
Ada sebuah pertanyaan yang sering diabaikan tapi sangat penting untuk kita tanyakan kepada diri sendiri: Ketika kita nanti berbaring di tempat tidur untuk terakhir kalinya, apa yang akan terasa penting?
Bukan berapa mobil yang pernah kita miliki. Bukan berapa besar rumah terakhir yang kita tempati. Bukan berapa banyak perjalanan mewah yang pernah kita lakukan. Yang akan terasa penting — yang sudah terbukti terasa penting bagi hampir setiap orang yang pernah berada di ambang kematian — adalah kualitas hubungan yang telah kita bangun, kebaikan yang telah kita tanamkan, dan kedamaian batin yang telah kita rawat sepanjang hidup.
Qana'ah adalah investasi untuk saat itu. Setiap kali kita memilih untuk tidak membiarkan keinginan duniawi merusak ketenangan kita, kita sedang menabung. Setiap kali kita memandang ke bawah dan bersyukur atas apa yang ada, kita sedang mengairi pohon kebahagiaan yang akarnya tertancap jauh ke dalam tanah iman.
Pria yang bercerita kepada saya di awal tulisan ini — yang tidak bisa tidur karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain — pada akhirnya menemukan jawabannya bukan dari buku manajemen keuangan atau seminar motivasi. Ia menemukannya ketika, suatu malam, ia diajak mengunjungi sebuah panti yatim di pinggiran kota. Di sana, ia melihat seorang anak kecil tertawa bahagia hanya karena mendapat sebungkus nasi dengan telur dadar. Dan sesuatu dalam dirinya retak — tapi bukan retak yang menyakitkan. Retak seperti kulit telur yang pecah agar isinya bisa keluar. Tahu-tahu, matanya basah.
Ia pulang malam itu dengan hati yang berbeda. Bukan karena kondisi hidupnya berubah. Tapi karena pandangannya berubah.
Itulah Qana'ah. Ia bukan sihir yang mengubah dunia di luar diri kita. Ia adalah cahaya yang menyalakan dunia di dalam diri kita.
Dan cahaya itu — satu-satunya kekayaan yang tidak bisa dicuri dunia, yang tidak bisa lapuk oleh waktu, yang tidak bergantung pada keadaan — adalah hak setiap jiwa yang memilih untuk meraihnya.
Semoga Allah ﷻ menanamkan Qana'ah dalam hati kita semua, dan menjadikannya jalan menuju kehidupan yang benar-benar thayyibah — bersih, damai, dan penuh makna. Amin.
— Wallahu a'lam bish-shawab —