ANAK PEREMPUANKU
ANAK PEREMPUANKU
Cahaya yang Allah Titipkan — Bukan untuk Disia-siakan
— Sebuah Renungan untuk Setiap Ayah dan Ibu di Bulan Ramadhan —
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wahai ayah...
Wahai ibu...
Ada yang ingin kusampaikan tentang seseorang yang tinggal di rumahmu.
Seseorang yang mungkin sedang bermain di sudut ruangan saat kau membaca ini. Atau mungkin sudah tidur, dan wajahnya yang tenang itu masih bisa kau bayangkan dengan sempurna.
Ia anak perempuanmu.
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar mengasuh mereka, memberi mereka makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya — mereka akan menjadi pelindungnya dari api neraka pada hari kiamat." — HR. Ibnu Majah
Ia bukan beban.
Ia adalah jalan.
Jalan menuju surga — yang Allah titipkan kepadamu dalam wujud seorang anak kecil yang memanggil namamu dengan suara paling manis di dunia.
I. Ketika Langit Menangis dan Bumi Bersukacita
Di zaman jahiliyah...
Ketika seorang anak perempuan lahir, wajah sang ayah berubah gelap.
Ia menyembunyikan diri dari keluarga karena malu.
Sebagian dari mereka bahkan mengubur bayi perempuan itu hidup-hidup di dalam tanah.
Allah mengabadikan kengerian itu dalam Al-Quran:
"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." — QS. An-Nahl: 58-59
Lalu datanglah Islam.
Dan segalanya berubah.
Anak perempuan yang dulu dianggap aib — diangkat derajatnya menjadi salah satu pintu surga yang paling istimewa.
Islam datang dan berkata: anak perempuanmu adalah rahmat.
Islam datang dan berkata: merawatnya adalah ibadah.
Islam datang dan berkata: mendidiknya dengan baik adalah investasi abadi.
II. Rasulullah ﷺ dan Anak Perempuannya
Ingin kau tahu bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan anak perempuannya?
Setiap kali Fathimah radhiyallahu 'anha masuk menemui beliau...
Rasulullah ﷺ berdiri.
Beliau sambut putrinya dengan berdiri — sebagaimana seseorang berdiri untuk menghormati tamu yang mulia.
Beliau cium keningnya. Beliau pegang tangannya. Beliau dudukkan ia di tempat duduk beliau sendiri.
"Fathimah adalah bagian dariku. Barangsiapa yang menyakitinya, berarti ia menyakitiku." — HR. Bukhari & Muslim
Lelaki terbesar yang pernah hidup di muka bumi...
Pemimpin yang ditakuti oleh kerajaan-kerajaan besar...
Berdiri menyambut anak perempuannya.
Lalu bagaimana dengan kita?
Apakah kita bahkan sempat menatap wajah anak perempuan kita hari ini?
Apakah kita sempat mendengar ceritanya?
Apakah kita sempat menciumi keningnya sebelum ia tidur?
III. Ia Bukan Anak Lelaki — Tapi Ia Bukan Kurang
Masih ada di antara kita — meski tidak mengakuinya dengan lisan — yang menyimpan sedikit kekecewaan ketika anak yang lahir adalah perempuan.
Masih ada yang berharap lebih untuk anak lelaki.
Masih ada yang memberi lebih banyak perhatian kepada anak lelaki.
Masih ada yang menaruh lebih banyak harapan kepada anak lelaki.
Tapi dengarlah ini...
"Barangsiapa menanggung dua anak perempuan hingga dewasa, maka pada hari kiamat ia dan aku akan seperti ini." — Rasulullah ﷺ sambil merapatkan jari-jari beliau. — HR. Muslim
Seperti ini.
Berdampingan dengan Rasulullah ﷺ di hari kiamat.
Di hari ketika setiap manusia berlari menyelamatkan dirinya sendiri.
Di hari ketika orang tua melarikan diri dari anaknya.
Di hari itu — kau berdiri di samping Rasulullah ﷺ.
Hanya karena kau merawat anak perempuanmu dengan baik.
IV. Apa yang Ia Butuhkan Darimu — Bukan yang Kau Kira
Kita sering berpikir bahwa tugas kita kepada anak adalah memberi.
Memberi makan. Memberi pakaian. Memberi sekolah. Memberi masa depan.
Dan itu semua benar. Itu penting.
Tapi ada sesuatu yang lebih ia butuhkan dari semua itu.
Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa digantikan dengan fasilitas, tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.
Ia butuh kehadiranmu.
Ia butuh tatapan matamu yang mengatakan: kamu penting.
Ia butuh suaramu yang mengatakan: aku bangga padamu.
Ia butuh tanganmu yang mengatakan: kamu aman bersamaku.
| Yang Kita Kira Ia Butuhkan | Yang Sesungguhnya Ia Butuhkan |
|---|---|
| Mainan dan gadget terbaru | Ayah yang duduk menemaninya bermain |
| Sekolah paling mahal | Orang tua yang mau mendengar ceritanya hari ini |
| Baju dan penampilan terbaik | Ibu yang memeluknya dan berkata "kamu cantik di mataku" |
| Nilai rapor sempurna | Orang tua yang tetap mencintainya meski ia gagal |
| Masa depan yang terencana | Doa orang tua yang selalu menyebut namanya kepada Allah |
Anak perempuanmu sedang belajar tentang dunia.
Dan pelajaran pertama — pelajaran yang paling membekas — ia dapatkan dari caramu memperlakukannya.
Dari caramu memandangnya. Dari caramu berbicara kepadanya. Dari caramu ada atau tidak ada untuknya.
V. Jaga Ia — Sebelum Dunia Menyentuhnya
Wahai ayah...
Dunia di luar sana sedang menunggu anak perempuanmu.
Dan tidak semua yang menunggunya itu baik.
Ada mata-mata yang memandangnya bukan sebagai manusia yang mulia.
Ada pengaruh yang perlahan-lahan mengikis rasa malunya.
Ada budaya yang berbisik bahwa kemuliaan perempuan ada pada penampilannya, bukan pada akhlaknya.
Dan benteng pertama — benteng yang paling kuat — bukan tembok, bukan larangan, bukan aturan ketat.
Benteng pertama adalah kepercayaannya kepadamu.
Jika ia tumbuh dengan percaya bahwa ayahnya adalah tempat yang aman untuk bercerita...
Jika ia tumbuh dengan yakin bahwa ibunya tidak akan menghakimi sebelum mendengar...
Maka ketika dunia menggodanya, ia akan ingat ada rumah yang lebih hangat dari semua tawaran itu.
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang ayah adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka." — HR. Bukhari & Muslim
Pertanggungjawaban itu nyata.
Dan ia tidak bisa diwakilkan.
VI. Didik Ia Menjadi Wanita yang Kuat — Bukan Sekadar Cantik
Dunia mengajari anak perempuan untuk menjadi cantik.
Islam mengajari anak perempuan untuk menjadi kuat.
Bukan kuat dalam arti keras dan kasar.
Tapi kuat dalam arti memiliki iman yang tidak mudah goyah, akhlak yang tidak mudah tergoda, dan harga diri yang tidak mudah terjual.
Ajarkan ia shalat — sebelum dunia mengajarkan hal lain kepadanya.
Ajarkan ia Al-Quran — sebelum layar-layar itu memenuhi kepalanya dengan yang lain.
Ajarkan ia bahwa kemuliaan perempuan ada pada imannya, bukan pada penampilannya.
Karena perempuan yang kuat imannya — ia tidak butuh pengakuan dunia untuk merasa berharga.
Ia cukup dengan pengakuan Allah.
Dan itu jauh lebih abadi.
"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." — HR. Muslim
VII. Surat Pendek untuk Anak Perempuanku
Nak...
Kau datang ke dunia ini membawa cahaya yang tidak kau sadari sendiri.
Pada hari pertama kau hadir, ada sesuatu dalam hatiku yang berubah — dan tidak pernah kembali seperti semula.
Kau mengajariku hal yang tidak diajarkan oleh siapa pun:
Bahwa cinta bisa datang begitu tiba-tiba, begitu penuh, begitu tanpa syarat.
Aku tidak selalu sempurna menjadi ayahmu. Aku tidak selalu sempurna menjadi ibumu.
Ada hari-hari ketika aku terlalu lelah untuk mendengarmu.
Ada saat-saat ketika suaraku lebih keras dari yang seharusnya.
Ada waktu-waktu ketika mataku menatap layar — padahal kau sedang membutuhkan mataku menatapmu.
Maafkan aku, Nak.
Yang aku tahu adalah ini:
Setiap malam, dalam sujudku yang paling sunyi, namamu yang kusebut pertama.
Aku memohon kepada Allah — yang menciptakanmu jauh lebih sempurna dari yang mampu kulakukan — untuk menjagamu di setiap langkah yang belum bisa kujangkau.
Tumbuh besar, Nak.
Tapi jangan terlalu cepat.
Karena masa kecilmu adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah Allah berikan kepadaku.
VIII. Doakan Ia — Sebelum Tidur
Ibrahim 'alaihissalam — nabi yang diuji dengan api, dengan pengasingan, dengan perintah yang tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia — tidak pernah berhenti mendoakan keturunannya.
Di antara doanya yang diabadikan Al-Quran:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku." — QS. Ibrahim: 40
Ia seorang nabi.
Kekasih Allah.
Tapi ia tetap berdoa untuk keturunannya.
Karena ia tahu — tidak ada yang bisa menjamin masa depan anaknya kecuali Allah.
Malam ini, setelah kau menutup pintu kamarnya...
Setelah kau mematikan lampunya...
Setelah ia terlelap dengan wajah malaikat kecil itu...
Berdiri sejenak di depan pintunya.
Letakkan tanganmu di sana.
Dan bisikkan doa ini:
"Ya Allah, jagalah ia saat aku tidak bisa menjaganya. Didiklah ia saat aku tidak mampu mendidiknya. Cintailah ia melebihi cintaku yang sangat terbatas ini. Dan jadikan ia perempuan shalihah yang menjadi kebanggaan agama-Mu, kebahagiaan keluarganya, dan cahaya bagi umatnya."
Doa itu mungkin tidak terdengar olehnya.
Tapi ia terdengar oleh Allah.
Dan Allah tidak pernah mengecewakan doa seorang ayah yang tulus untuk anaknya.
IX. Ia Adalah Amanahmu — dan Amanat Itu Ada Batasnya
Suatu hari nanti...
Ia akan pergi.
Bukan pergi yang menyedihkan — tapi pergi yang memang sudah Allah rencanakan sejak awal.
Ia akan membangun rumahnya sendiri. Melanjutkan hidupnya sendiri. Menjadi ibu bagi anak-anaknya sendiri.
Dan pada hari itu...
Kau akan berdiri di depan pintu rumahmu yang terasa sedikit lebih sepi.
Dan yang akan tersisa adalah satu pertanyaan:
"Sudahkah aku membekalinya dengan iman yang cukup untuk menghadapi dunia yang akan ia tempuh tanpa aku?"
Itulah pertanyaan sesungguhnya.
Bukan berapa nilai rapornya. Bukan seberapa cantik wajahnya. Bukan seberapa terkenal namanya.
Tapi — apakah ketika ia sendirian di malam-malam yang berat, ia masih ingat untuk bersujud?
Apakah ketika dunia menekannya, ia masih tahu ke mana harus pulang?
Apakah ia tahu bahwa ia berharga — bukan karena dunia berkata demikian, tapi karena Allah telah berkata demikian sejak sebelum ia lahir?
Jika jawabannya ya — maka kau telah berhasil.
Bukan sebagai orang tua yang sempurna. Tapi sebagai orang tua yang sungguh-sungguh.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Doa untuk Anak Perempuanku
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Ya Allah...
Engkau yang memilihkan kami sebagai orang tuanya — maka bantu kami menjadi orang tua yang layak.
Jaga ia ketika mata kami tertutup.
Bimbing ia ketika akal kami tidak sampai.
Kuatkan ia ketika pelukan kami tidak lagi bisa menjangkaunya.
Jadikan ia qurratu a'yun — penyejuk mata kami di dunia, dan saksi kebaikan kami di akhirat.
Jadikan ia perempuan yang mencintai-Mu, dan dicintai oleh orang-orang yang mencintai-Mu.
Dan pertemukan kami kembali — seluruh keluarga kami — di surga-Mu yang paling tinggi.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh