GENERASI RABBANI (Seri 2)

II. FONDASI SPIRITUAL GENERASI RABBANI

Bayangkan sebuah bangunan megah. Betapapun indahnya arsitektur, betapapun canggihnya teknologi yang digunakan, jika fondasinya rapuh, bangunan itu akan roboh. Begitu pula dengan manusia. Generasi Rabbani adalah manusia dengan fondasi spiritual yang kokoh—iman yang hidup, bukan sekadar label.

A. Iman yang Hidup (Living Faith)

1. Dari Teori ke Realitas

Berapa banyak dari kita yang hafal rukun iman enam, tapi hati masih gelisah? Berapa banyak yang bisa menyebutkan 99 nama Allah, tapi perilaku tidak mencerminkan penghambaan? Ini adalah paradoks generasi modern: Islam sebagai identitas, bukan sebagai way of life.

Iman yang hidup (living faith) bukan tentang hafalan atau warisan keluarga. Iman yang hidup adalah keyakinan yang merasuk ke dalam jiwa, menggerakkan perilaku, dan menjadi remote control kehidupan sehari-hari.

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim)

Hadits ini menggambarkan maqam ihsan—tingkatan tertinggi keimanan. Ini bukan tentang melihat Allah secara fisik (mustahil di dunia), tapi tentang kesadaran pengawasan-Nya (muraqabah مُرَاقَبَة) yang begitu kuat hingga seolah-olah kita melihat-Nya.

Contoh praktis: Bayangkan kamu sendirian di kamar. Tidak ada CCTV, tidak ada orang tua, tidak ada teman yang mengawasi. Apakah kamu tetap menjaga pandangan dari konten haram? Apakah kamu tetap shalat tepat waktu? Atau justru merasa "bebas" karena tidak ada yang melihat?

Generasi Rabbani memilih yang pertama. Bukan karena takut ditegur manusia, tapi karena Allah adalah saksi utama. Inilah iman yang hidup—iman yang tidak butuh audience.

Studi psikologi modern menyebutnya internal locus of control—motivasi yang datang dari dalam diri, bukan dari tekanan atau reward eksternal (Rotter, 1966). Dalam Islam, konsep ini sudah ada 14 abad lalu: ikhlas (sincerity), beramal karena Allah semata.

2. Manifestasi Iman Hidup

Iman yang hidup tidak bisa disembunyikan. Ia akan memanifestasi dalam tiga kondisi kehidupan:

a) Dalam Kemudahan: Syukur Tanpa Lupa Diri

Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

"Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Generasi Rabbani tidak sombong ketika mendapat nilai bagus, diterima di universitas impian, atau mendapat pekerjaan bergaji tinggi. Mereka sadar: semua itu bukan hasil kerja keras semata, tapi karena taufiq (pertolongan) Allah.

Syukur bukan hanya ucapan "Alhamdulillah" di mulut, tapi terekspresikan dalam tiga hal:

  1. Pengakuan hati bahwa semua dari Allah
  2. Ucapan lisan dengan memuji Allah
  3. Amal perbuatan dengan menggunakan nikmat sesuai kehendak-Nya dan berbagi dengan yang membutuhkan

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan: "Syukur adalah menggunakan nikmat Allah pada tempat yang Allah ridhai, bukan pada maksiat kepada-Nya."

Contoh nyata: Kamu mendapat smartphone baru. Syukur versi "bibir" adalah posting "Alhamdulillah" di Instagram. Syukur versi Rabbani adalah menggunakan smartphone itu untuk hal bermanfaat (belajar, dakwah, silaturahim), bukan untuk doomscrolling atau konten merusak akhlak.

b) Dalam Kesulitan: Sabar Tanpa Putus Asa

Ujian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Generasi Rabbani menghadapi kegagalan, penolakan, atau kehilangan dengan sabar yang aktif, bukan pasif. Sabar aktif artinya:

  1. Husnudzon kepada Allah — yakin bahwa Allah punya rencana terbaik
  2. Mencari hikmah — bertanya "Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku?"
  3. Tetap berikhtiar — tidak menyerah, bangkit dan coba lagi

Berbeda dengan sabar pasif: "Ya sudahlah, ini takdir" lalu tidak berbuat apa-apa. Itu bukan sabar, itu fatalistic resignation—menyerah pada nasib.

Nabi Yusuf AS adalah contoh sempurna. Difitnah, dipenjara bertahun-tahun, tapi tidak putus asa. Ia tetap optimis, tetap bertawakkal, tetap berikhtiar. Hasilnya? Allah angkat derajatnya menjadi menteri Mesir.

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 90)

Studi psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki spiritual coping mechanism (seperti doa, sabar, dan tawakal) memiliki resiliensi lebih tinggi dalam menghadapi stres dan trauma (Pargament et al., 2000).

c) Dalam Kesendirian: Taat Tanpa Pengawasan Manusia

Ini adalah ujian paling berat. Mudah untuk shalat di masjid ketika teman-teman semua shalat. Tapi bagaimana ketika sendirian di kamar kos, jauh dari orang tua, dan adzan Subuh berkumandang?

Generasi Rabbani bangun. Bukan karena ada yang membangunkan, tapi karena Allah memanggil.

Umar bin Khattab pernah keluar malam untuk mengecek rakyatnya. Ia mendengar seorang ibu menyuruh anaknya mencampur susu dengan air untuk dijual. Sang anak menolak: "Bukankah Khalifah Umar melarang hal itu?" Sang ibu menjawab: "Khalifah Umar tidak melihat kita." Sang anak berkata:

"Jika Umar tidak melihat kita, bukankah Allah melihat kita?"

Umar menangis. Ia mencari anak itu keesokan hari dan menjodohkannya dengan anaknya sendiri. Dari pernikahan itulah lahir Umar bin Abdul Aziz—khalifah yang adil dan wara'.

Inilah iman yang hidup: konsisten meski tidak ada yang tahu. Ikhlas karena Allah, bukan karena likes, followers, atau pujian manusia.

3. Indikator Iman yang Hidup

Bagaimana tahu imanmu sudah "hidup"? Berikut beberapa indikatornya:

a) Hati Bergetar Saat Mendengar Nama Allah

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar." (QS. Al-Anfal: 2)

Ini bukan takut neurotik, tapi reverential awe—rasa kagum bercampur hormat yang mendalam. Seperti perasaan anak kecil yang mencintai ayahnya: takut mengecewakan, tapi juga rindu bertemu.

b) Keputusan Selalu Merujuk pada "Allah Ridha atau Tidak?"

Sebelum melakukan sesuatu, bertanya:

  • "Apakah ini mendekatkan atau menjauhkan aku dari Allah?"
  • "Apakah Allah suka dengan pilihan ini?"
  • "Bagaimana jika aku mati setelah melakukan ini?"

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Tanda orang beriman adalah ia tidak melakukan sesuatu kecuali setelah mempertimbangkan: apakah Allah menyukainya atau tidak."

c) Muraqabah sebagai Remote Control Perilaku

Muraqabah (مُرَاقَبَة) adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Ini adalah sistem keamanan terbaik untuk jiwa. Tidak ada teknologi secanggih apapun yang bisa mengalahkan muraqabah.

Ketika tangan ingin melakukan yang haram, muraqabah berbisik: "Allah melihat." Ketika mata ingin melirik yang terlarang, muraqabah mengingatkan: "Allah tahu." Ketika hati ingin dengki, muraqabah menegur: "Allah Maha Mendengar bisikan hati."

d) Air Mata Keluar Saat Membaca/Mendengar Al-Qur'an

Bukan air mata paksaan atau dibuat-buat, tapi air mata yang mengalir karena hati tersentuh kebenaran. Allah memuji mereka yang menangis karena Al-Qur'an:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu'." (QS. Al-Isra': 109)

Umar bin Khattab membaca Al-Qur'an di shalat Subuh hingga air matanya membasahi jenggotnya. Abdullah bin Umar menangis ketika membaca ayat tentang azab neraka hingga jatuh sakit berhari-hari.

Ini bukan tentang seberapa sering menangis, tapi tentang hati yang lembut (qalbun raqiq قَلْبٌ رَقِيق), tidak mengeras seperti batu.

e) Merasa Rindu Beribadah Jika Terlewat

Seperti orang jatuh cinta yang rindu bertemu kekasih, Generasi Rabbani rindu bertemu Allah melalui ibadah. Jika terlewat shalat berjamaah, merasa ada yang kurang. Jika tidak membaca Al-Qur'an sehari, hati gelisah.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Jika aku tidak membaca Al-Qur'an sehari, kekuatanku hilang."

Ini adalah tanda cinta sejati—cinta yang tidak bisa dipalsukan.


B. Intimasi dengan Al-Qur'an

1. Al-Qur'an sebagai Ruh Kehidupan

Jika iman adalah fondasi, maka Al-Qur'an adalah blueprint—cetak biru kehidupan. Generasi Rabbani tidak memperlakukan Al-Qur'an sebagai buku sejarah atau bacaan rutin semata. Al-Qur'an adalah wahyu yang hidup, relevan untuk setiap zaman, termasuk zaman TikTok dan AI.

Allah berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا

"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dari urusan Kami." (QS. Asy-Syura: 52)

Al-Qur'an disebut ruh (roh) karena ia menghidupkan hati yang mati, seperti roh yang menghidupkan jasad. Tanpa Al-Qur'an, hati akan mati—gelap, bingung, tanpa arah.

Kata "Rabbani" sendiri berasal dari Rabb (Tuhan). Dalam QS. Ali Imran ayat 79, Allah memerintahkan:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

"Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya." (QS. Ali Imran: 79)

Ibnu Abbas menafsirkan Rabbani sebagai "orang yang dididik oleh Tuhan melalui Kitab-Nya." Jadi, Generasi Rabbani = generasi yang dibentuk oleh Al-Qur'an, bukan oleh tren media sosial atau budaya pop.

Perjalanan intimasi dengan Al-Qur'an ada empat tahap:

Tahap Aktivitas Target
1. Membaca (Tilawah) Membaca dengan tartil, makhraj benar Khatam rutin, minimal sebulan sekali
2. Memahami (Tafahhum) Mempelajari tafsir, asbabun nuzul Tahu konteks dan makna setiap ayat
3. Mengamalkan (Amal) Praktik ayat dalam kehidupan Karakter Qur'ani terbentuk
4. Mengajarkan (Ta'lim) Berbagi ilmu kepada orang lain Membina generasi Qur'ani berikutnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Al-Qur'an sebagai teman curhat: Ketika sedih, buka surah Al-Insyirah. Ketika cemas, baca surah Ath-Thalaq ayat 2-3 tentang jalan keluar yang tidak disangka. Ketika merasa sendiri, renungkan QS. Al-Baqarah: 186 bahwa Allah dekat.

Al-Qur'an sebagai obat hati (syifa): Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra': 82)

Riset neurosains menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur'an dapat menurunkan hormon kortisol (hormon stres) dan meningkatkan gelombang alpha di otak yang berhubungan dengan relaksasi (Mahjoob et al., 2016).

2. Pola Interaksi dengan Al-Qur'an

a) Tilawah dengan Tadabbur (Renungan)

Banyak yang khatam Al-Qur'an 30 hari, tapi tidak paham apa yang dibaca. Seperti makan tanpa mencerna—tidak ada nutrisinya.

Allah menegur orang yang membaca tanpa merenungkan:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

Tadabbur (تَدَبُّر) artinya merenungkan secara mendalam. Bukan sekadar mengetahui arti literal, tapi memahami pesan yang ingin Allah sampaikan kepadaku, hari ini, di situasiku.

Cara praktis tadabbur:

  1. Baca perlahan (tartil), jangan terburu-buru
  2. Pahami terjemahan (gunakan mushaf terjemah atau aplikasi)
  3. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa relevansi ayat ini dengan hidupku?"
  4. Catat insight yang didapat (buat jurnal Al-Qur'an)
  5. Aplikasikan minimal satu pelajaran dari bacaan hari itu

Imam Ibnu Qayyim berkata: "Satu ayat yang direnungkan dan diamalkan lebih baik daripada khatam Al-Qur'an tanpa tadabbur dan tanpa amal."

Contoh tadabbur: Kamu membaca QS. Ar-Ra'd ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Tadabbur-nya: "Oh, Allah tidak akan ubah nasibku jika aku sendiri tidak berubah. Aku ngeluh nilai jelek terus, tapi aku sendiri malas belajar. Aku mau berubah. Mulai hari ini, aku matikan notifikasi medsos saat belajar."

Lihat? Ayat yang sama dibaca 100 orang, tapi tadabbur dan aplikasinya beda-beda sesuai kondisi masing-masing. Inilah keajaiban Al-Qur'an—universal tapi personal.

b) Jadikan Standar Benar-Salah dalam Setiap Keputusan

Zaman sekarang, standar benar-salah sering ditentukan oleh mayoritas atau tren. "Semua orang juga begini, kok." "Zaman sekarang wajar lah kayak gitu." Ini standar yang rapuh.

Generasi Rabbani punya standar yang tidak berubah: apa kata Al-Qur'an?

  • Mau pacaran? Cek Al-Qur'an: ada sistem ta'aruf yang lebih baik.
  • Mau ghosting teman? Cek Al-Qur'an: komunikasi dengan baik lebih mulia.
  • Mau ambil pinjaman online bunga tinggi? Cek Al-Qur'an: riba itu perang dengan Allah.

Allah berfirman:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

"Jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul." (QS. An-Nisa': 59)

Kembalikan kepada Allah = rujuk Al-Qur'an. Kembalikan kepada Rasul = rujuk Hadits.

c) Al-Qur'an sebagai Problem-Solver Hidup

Al-Qur'an bukan buku dongeng. Ia adalah manual book kehidupan yang ditulis oleh Sang Pencipta manusia. Siapa yang lebih tahu cara kerja manusia selain yang menciptakannya?

Setiap masalah ada solusinya di Al-Qur'an:

  • Masalah ekonomi? Pelajari ayat-ayat rezeki (QS. Ath-Thalaq: 2-3, QS. Hud: 6, QS. An-Nahl: 97)
  • Masalah hati (galau, sedih, cemas)? Pelajari ayat-ayat kesabaran dan ketenangan (QS. Al-Insyirah, QS. Az-Zumar: 53, QS. Al-Baqarah: 286)
  • Masalah keluarga? Pelajari ayat-ayat mu'asyarah (pergaulan) dan hak-hak keluarga (QS. An-Nisa': 19, QS. Ar-Rum: 21, QS. Luqman: 14-15)
  • Masalah pertemanan? Pelajari ayat tentang memilih teman (QS. Al-Furqan: 27-29, QS. Az-Zukhruf: 67)

Imam Asy-Syafi'i berkata: "Tidak ada suatu masalah pun melainkan ada solusinya di Al-Qur'an, bagi orang yang Allah beri pemahaman."

3. Tanda Kedekatan dengan Al-Qur'an

a) Ayat-ayat Muncul di Kepala Saat Menghadapi Situasi

Seperti orang yang hafal lirik lagu favoritnya dan secara otomatis nyanyi ketika situasi tertentu, Generasi Rabbani hafal ayat-ayat Al-Qur'an (atau setidaknya pesannya) dan otomatis ingat ketika situasi relevan muncul.

Contoh: Ketika ditawari kerja sama bisnis yang mencurigakan, tiba-tiba ingat ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil." (QS. An-Nisa': 29)

Atau ketika hampir menyerah dari ujian hidup, tiba-tiba ingat:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Ini tanda Al-Qur'an sudah ter-install di hati, bukan hanya di hafalan.

b) Perilaku Otomatis Align dengan Nilai Qur'ani

Tidak perlu dipaksa atau diingatkan. Secara otomatis:

  • Jujur dalam setiap transaksi
  • Berbicara dengan baik
  • Menjaga amanah
  • Menolong yang kesusahan
  • Memaafkan yang salah

Ini adalah buah dari tadabbur dan amal yang konsisten. Karakter Qur'ani tidak dibentuk dalam semalam, tapi melalui proses panjang—seperti tetesan air yang melubangi batu.

Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ. Ia menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن

"Akhlaknya adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim)

Artinya, Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur'an yang berjalan. Setiap perilakunya adalah manifestasi ayat. Inilah target tertinggi Generasi Rabbani.

c) Merasa "Rindu" Jika Lama Tidak Membaca

Seperti orang jatuh cinta yang rindu kekasihnya, Generasi Rabbani rindu Al-Qur'an. Jika sehari tidak membaca, ada yang terasa kurang. Hati gelisah.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Jika aku tidak membaca Al-Qur'an sehari, aku merasa kekuatanku hilang."

Ini adalah tanda cinta sejati kepada Kalam Allah. Cinta yang tidak bisa dipalsukan.

d) Mimpi tentang Ayat-ayat Al-Qur'an

Ada yang mimpi tentang selebriti favoritnya. Generasi Rabbani bermimpi tentang ayat-ayat Al-Qur'an, atau bahkan bermimpi membaca Al-Qur'an di surga.

Ini tanda bahwa Al-Qur'an sudah mengisi alam bawah sadar. Siang dibaca, malam muncul di mimpi. Subhanallah.

e) Kehidupan Semakin Tenang dan Terarah

Ini adalah bukti empiris paling nyata. Orang yang dekat dengan Al-Qur'an hidupnya semakin on track:

  • Tidak mudah panik
  • Tahu tujuan hidup
  • Keputusan lebih bijak
  • Hati lebih tenang
  • Relationship lebih sehat

Allah berjanji:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)

Hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) bukan berarti tanpa masalah, tapi punya pegangan yang kuat dalam menghadapi masalah. Dan pegangan terkuat adalah Al-Qur'an.


Kesimpulan Sementara:

Fondasi spiritual Generasi Rabbani dibangun di atas dua pilar utama: Iman yang hidup dan Intimasi dengan Al-Qur'an. Tanpa keduanya, semua aspek lain (intelektual, fisik, sosial) akan rapuh.

Iman yang hidup membuat kita selalu terhubung dengan Allah dalam setiap detik. Al-Qur'an menjadi panduan operasional hidup yang tidak pernah outdated.

Generasi Rabbani bukan generasi sempurna tanpa dosa. Tapi generasi yang cepat kembali kepada Allah setiap kali tergelincir, yang menjadikan Al-Qur'an sebagai kompas di tengah badai kehidupan.

Selanjutnya, kita akan membahas bagaimana fondasi spiritual ini diterjemahkan menjadi karakteristik internal: ilmu yang membentuk akhlak dan hati yang bersih. Stay tuned!

Artikel Populer

Kasus Jeffrey Epstein: Antara Kejahatan Kemanusiaan dan Intrik Kekuasaan

PERJANJIAN HUDAIBIYAH: MASTERCLASS STRATEGI PERANG DARI PADANG PASIR KE MEDAN PERTEMPURAN MODERN

Dahsyatnya Istighfar: Kunci Pembuka Pintu Rahmat Allah

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...