Air Mata yang Membersihkan Jiwa

Air Mata yang Membersihkan Jiwa

Ada tangisan yang tidak terdengar oleh telinga manusia, namun bergema hingga ke langit ketujuh. Ada air mata yang jatuh dalam sunyi malam, namun ditampung oleh malaikat dalam bejana cahaya. Ini adalah tangisan seorang hamba yang merindukan Tuhannya—tangisan yang lahir bukan dari kepedihan dunia, melainkan dari kerinduan yang mendalam kepada Allah.

Kita begitu mudah menangis untuk banyak hal. Menangis ketika kehilangan harta, ketika dikhianati kekasih, ketika mimpi-mimpi dunia hancur berkeping. Tapi pernahkah kita menangis hanya karena Allah? Menangis karena merasa begitu jauh dari-Nya, karena dosa-dosa yang menggunung, karena takut tidak sempat bertobat sebelum ajal menjemput?

Rasulullah ﷺ bersabda, "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya..." dan salah satunya adalah "seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu kedua matanya bercucuran air mata."

Bayangkan. Di tengah malam yang sunyi, ketika semua mata tertidur lelap, ada seorang hamba yang bangkit dari pembaringannya. Ia berwudhu, merasakan air sejuk membasuh wajahnya. Lalu ia berdiri dalam kegelapan, hanya ditemani cahaya remang lampu, menghamparkan sajadah. Dan dalam sujudnya, ia menangis.

Tidak ada yang menyaksikan. Tidak ada kamera yang merekam. Tidak ada media sosial untuk membagikannya. Hanya dia dan Tuhannya. Dan air mata itu jatuh ke sajadah, menyerap dalam setiap serat kain, seolah membawa serta semua beban dosa dan penyesalan yang selama ini ia pendam.

Inilah tangisan yang paling jujur. Tangisan yang tidak berpura-pura, tidak mencari simpati, tidak mengharapkan pujian. Tangisan yang lahir dari kedalaman qalbu yang sadar akan kecilnya diri di hadapan Yang Maha Besar.

Kita sering lupa bahwa hati ini punya mata sendiri. Ketika mata kepala kering, mata hati seharusnya yang menangis. Menangis melihat betapa banyak nikmat Allah yang kita sia-siakan. Menangis mengingat betapa sering kita durhaka, sementara Dia tetap memberi kita nafas, kesehatan, rezeki. Menangis karena takut mati dalam keadaan buruk, jauh dari rahmat-Nya.

Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa air mata karena Allah adalah obat bagi hati yang keras. Hati yang sudah begitu lama terbiasa dengan dosa, dengan kelalaian, dengan kesombongan—ia butuh dicairkan kembali. Dan tidak ada yang bisa melunakkannya kecuali air mata taubat yang tulus.

Tapi jangan salah. Menangis karena Allah bukan berarti kita lemah. Justru sebaliknya—ini adalah tanda kekuatan spiritual. Butuh keberanian luar biasa untuk melepas semua topeng, mengakui semua kesalahan, dan berdiri telanjang jiwa di hadapan Sang Pencipta. Butuh kerendahan hati yang dalam untuk mengakui: "Ya Allah, aku tidak ada apa-apanya tanpa-Mu."

Dan tahukah apa yang istimewa dari air mata karena Allah? Ia tidak pernah sia-sia. Setiap tetes adalah doa yang dikabulkan. Setiap cucuran adalah penghapus dosa. Rasulullah ﷺ bersabda,

لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ

"Laa yaliju an-naara rajulun bakaa min khasyatillahi hattaa ya'uuda al-labanu fii adh-dhar'i"
(Imam At-Tirmidzi
dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitab Fadha'il Al-Jihad, Hadits No. 1633)

"Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah, hingga susu kembali ke dalam ambingnya."

Mungkin kita sudah lama tidak merasakan mata ini basah dalam sujud. Mungkin hati ini sudah terlalu keras, sudah terlalu sibuk dengan dunia yang fana. Tapi tidak ada kata terlambat untuk kembali. Pintu taubat selalu terbuka, selama nafas masih berhembus.

Cobalah malam ini. Ketika semua orang tertidur, bangunlah. Ambil wudhu perlahan, rasakan air dinginnya menyentuh kulit. Dirikan shalat tahajud, meski hanya dua rakaat. Lalu sujudlah lebih lama. Dalam sujud itu, bisikkanlah semua yang selama ini terpendam. Minta ampun atas semua dosa. Menangislah jika bisa. Dan jika air mata tidak kunjung turun, mintalah kepada Allah untuk melunakkan hati ini.

"Ya Allah, beri aku air mata yang membersihkan. Beri aku qalbu yang lembut yang mudah menangis karena rindu kepada-Mu. Jangan Engkau biarkan aku mati dengan hati yang keras dan mata yang kering dari mengingat-Mu."

Karena pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya. Dan yang paling bahagia adalah mereka yang pulang dengan hati yang bersih, yang pernah menangis dalam rindu kepada Tuhannya, yang tidak malu mengakui dosa dan kelemahan di hadapan-Nya.

Menangislah karena Allah, maka Dia akan membuat Syurga menangis merindukan kedatanganmu.


Wallahu a'lam bishawab.

Artikel Populer

Kasus Jeffrey Epstein: Antara Kejahatan Kemanusiaan dan Intrik Kekuasaan

GENERASI RABBANI (Seri 3)

GENERASI RABBANI (Seri 2)

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...