Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu
Jika Engkau Jujur kepada Allah, Allah Tidak Akan Menyia-nyiakan Langkahmu
Oleh: Abdullah Madura
Seorang arab badui. Tidak ada yang mengenalnya. Kitab-kitab sejarah tidak satu pun yang menyebutkan namanya. Bahkan seluruh sahabat Nabi ﷺ tidak ada yang mengenal identitasnya.
Orang Takwa yang Tersembunyi
Ada tipe manusia yang ketika hadir tidak ada yang menyapa, ketika pergi tidak ada yang menanyakan keberadaannya. Orang Jawa berkata: "Yen ono ora nambah jumlah, yen ora ono ora ngurangi jumlah."
Ketika hilang tidak ada yang mencari. Bahkan ketika wafat pun tidak banyak yang mengetahui.
Namun ia adalah orang shaleh yang tersembunyi. Datang tidak dikenal, pergi tidak dicari. Namun namanya harum di hadapan penduduk langit — atqiyaul akhfiya. Ia ibarat lentera yang menerangi gelapnya fitnah kehidupan dunia. Itulah gambaran arab badui dalam kisah ini.
Ibnu Athaillah Al-Iskandari berkata: "Awal perjalanan menuju Allah adalah benarnya niat." Artinya, segala perubahan besar dimulai dari hati yang benar.
Kisah Arab Badui
Al-kisah, seorang arab badui suatu ketika datang menghadap Nabi ﷺ, mengikrarkan syahadat tanda masuk Islam. Setelah itu ia berbaiat kepada beliau ﷺ untuk berhijrah dan berjihad.
Janji itu ia buktikan. Ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, ia pun ikut hijrah. Ketika Nabi ﷺ dan para sahabat berjihad, ia pun ikut berjihad bersama mereka.
Ketika Allah memberi kemenangan kepada kaum muslimin, Nabi ﷺ membagi ghanimah kepada para sahabat yang ikut berperang, termasuk kepada arab badui ini. Namun karena ia tidak ada saat pembagian, bagiannya dititipkan kepada salah satu sahabat.
Di luar dugaan, ternyata arab badui itu tidak mau menerima ghanimah tersebut. Ia datang menghadap Nabi ﷺ sambil membawa kembali bagiannya dan berkata:
مَا هَذَا؟ قَالَ: قِسْمٌ قَسَمْتُهُ لَكَ
"Apa ini, wahai Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab: "Ini jatah ghanimah yang aku bagikan untukmu."
مَا عَلَى هَذَا اتَّبَعْتُكَ، وَلَكِنِّي اتَّبَعْتُكَ عَلَى أَنْ أُرْمَى هَاهُنَا — وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ — بِسَهْمٍ فَأَمُوتَ فَأَدْخُلَ الْجَنَّةَ
"Aku beriman kepadamu dan berhijrah bukan untuk mendapatkan ini. Tapi aku ikut bersamamu agar aku bisa memerangi musuh Allah, lalu aku terkena anak panah mereka — sambil menunjuk tenggorokannya — lalu aku mati syahid dan masuk surga."
Inti dari Segala Inti
إِنْ تَصْدُقِ اللَّهَ يَصْدُقْكَ
Nabi ﷺ bersabda: "Kalau kamu jujur kepada Allah, Allah akan membenarkanmu." HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim.
Tidak berapa lama kemudian, dalam peperangan berikutnya, arab badui itu didatangkan kepada Nabi ﷺ dalam keadaan telah gugur sebagai syahid — dengan anak panah yang menancap tepat di tenggorokannya, persis sebagaimana yang ia tunjukkan sebelumnya.
Nabi ﷺ bersabda: "Ia telah jujur kepada Allah, maka Allah membenarkannya." HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim.
Landasan maknanya sangat kokoh dalam Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang menepati janjinya kepada-Nya:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
"Di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." QS. Al-Ahzab: 23.
Apa Makna Jujur kepada Allah?
Para ulama tazkiyatun nufus menjelaskan bahwa jujur kepada Allah bukan sekadar kata-kata di lisan. Ia adalah tiga perkara yang saling menopang.
Pertama, jujur dalam niat. Bahwa tujuannya semata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dilihat. Sufyan ats-Tsauri — imam besar zuhud dan hadis — berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku, karena ia selalu berbolak-balik atasku." (Hilyat Al-Awliya', Abu Nu'aim Al-Ashbahani, pada biografi Sufyan ats-Tsauri). Jika imam yang sekaliber beliau masih berjuang meluruskan niat, bagaimana dengan kita?
Kedua, jujur dalam usaha. Kejujuran niat bukan berarti pasif menunggu keajaiban turun dari langit. Orang yang jujur kepada Allah akan mengetuk pintu-pintu sebab: bangun lebih awal untuk tahajud, menabung untuk haji, menyisihkan rezeki untuk kurban, mengulang hafalan Al-Qur'an setiap hari. Manhaj salaf tentang hal ini sangat jelas: ṣidqu an-niyyah (kejujuran niat) harus beriringan dengan badzlu as-sabab (mengerahkan usaha). Allah Ta'ala berfirman: "Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." QS. An-Najm: 39. Nabi ﷺ pun bersabda kepada seorang yang bertanya tentang untanya: "Ikatlah ia, lalu bertawakallah." HR. At-Tirmidzi.
Ketiga, jujur dalam pengorbanan. Bahwa ia siap membayar harga dari apa yang ia niatkan, seperti arab badui yang tidak hanya berkata ingin syahid, tetapi ia betul-betul turun ke medan perang.
Ketika Niat Benar, Allah Menuntun Jalan
Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah — dalam pembahasannya tentang maqam ash-shidq di Madarij As-Salikin — meletakkan kaidah yang sangat berkesan:
عَلَى قَدْرِ صِدْقِ الْعَبْدِ تَكُونُ مَعُونَةُ اللَّهِ لَهُ
"Sejauh kadar kejujuran seorang hamba, sejauh itu pula pertolongan Allah kepadanya."
Kaidah ini membukakan cakrawala pemahaman yang sangat luas. Kalau niatmu jujur ingin qiyamul lail dan engkau bersungguh-sungguh menempuh sebabnya — tidur lebih awal, tidak larut dalam layar, meminta kepada Allah agar dibangunkan — Allah akan membimbingmu menuju kemudahannya.
Kalau niatmu jujur menghafal Al-Qur'an 30 juz dan engkau mengerahkan usaha nyata setiap hari, Allah akan memudahkan ayat-ayat-Nya mengalir dari lisanmu sebagaimana air mengalir dari mata air yang jernih.
Kalau niatmu jujur menuju Baitullah dan engkau mulai menabung hari ini, Allah akan menulis namamu di antara tamu-tamu-Nya dan membukakan jalan menuju ke sana.
Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." QS. Al-Ankabut: 69.
Penyeimbang Teologis yang Perlu Kita Pegang
Namun ada perkara penting yang harus kita pahami dengan jujur pula.
Kejujuran niat kepada Allah bukan jaminan bahwa semua keinginan dunia akan terwujud persis sebagaimana kita bayangkan. Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Allah memberikan yang terbaik menurut hikmah-Nya yang tidak selalu sejalan dengan harapan kita.
Ada yang sangat jujur ingin sembuh, namun Allah memanggilnya. Ada yang sangat jujur ingin punya keturunan, namun rahimnya tidak dilapangkan. Ada yang sangat jujur ingin berhaji, namun wafat sebelum sempat berangkat. Padahal mereka adalah orang-orang shaleh.
Maka yang lebih tepat dipahami adalah: kalau niatmu jujur menuju Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan langkahmu. Bisa jadi Allah mewujudkannya sekarang. Bisa jadi ditunda karena ada hikmah yang kita belum tahu. Bisa jadi diganti dengan yang lebih baik. Atau disimpan sebagai pahala akhirat yang jauh lebih berharga.
Niat yang Jujur: Kekayaan yang Tak Ternilai
Niat yang jujur untuk beramal kebaikan, kendati belum terlaksana karena suatu halangan, sudah dicatat pahalanya di sisi Allah Ta'ala.
Ketika pulang dari Perang Tabuk, Nabi ﷺ bersabda: "Di Madinah ada orang-orang yang tidak ikut bersama kalian menempuh lembah dan berjalan. Namun mereka mendapat pahala seperti kalian. Mereka adalah orang-orang yang ingin berangkat tapi terhalang oleh sakit yang mereka derita." HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.
Betapa agungnya Allah dalam menghargai kejujuran hati hamba-Nya.
Antara Hati dan Kenyataan
Kita melihat banyak orang yang ekonominya pas-pasan, namun sudah menunaikan ibadah haji. Namun tidak sedikit orang yang hartanya berlimpah, usianya sudah senja, belum juga berangkat ke Baitullah.
Ada orang yang penghasilannya sangat terbatas — dimakan hanya cukup untuk hari itu saja — namun setiap tahun mampu berkurban seekor kambing. Sementara ada yang rezekinya lapang, namun kurban seekor kambing pun terasa berat.
Terkadang problemnya bukan semata kemampuan, tetapi prioritas hati. Sebab ada orang yang terbatas rezekinya namun Allah mudahkan, sementara yang lapang justru terus tertunda. Bukan kita yang menghakimi siapa-siapa — karena bisa jadi ada hutang, ada tanggungan, ada ujian keluarga yang tidak kita ketahui. Namun ini adalah undangan untuk merenung: di mana sesungguhnya hati kita berpihak?
Renungan Penutup
Para salaf tidak menggantungkan hidup mereka pada kekuatan diri sendiri. Mereka menggantungkan segalanya atas kejujuran hati kepada Allah.
Karena mereka yakin: siapa yang benar niatnya, Allah akan membimbing langkahnya. Dan siapa yang jujur mencari Allah, tidak akan pulang dengan tangan yang kosong.
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Amal terbaik adalah yang diwajibkan Allah, menjauhi yang diharamkan, dan niat yang jujur terhadap apa yang ada di sisi-Nya."
Kejujuran niat adalah inti perjalanan seorang mukmin. Bukan sekadar perasaan optimis, bukan sekadar doa tanpa usaha. Ia adalah benih yang ditanam di tanah hati yang bersih — dan Allah-lah yang menumbuhkannya, pada waktu dan dengan cara yang paling tepat menurut hikmah-Nya.
Semoga Allah Ta'ala menganugerahkan kepada kita hati yang jujur, niat yang lurus, dan usaha yang sungguh-sungguh. Dan semoga Allah tidak menyia-nyiakan satu langkah pun yang kita tapaki demi mencari ridha-Nya.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Wallahu A'lam bish Shawaab.
